Halo readers semuaa!

Makasih banget feedback dan response nya untuk fic ini!

Selamat membaca kelanjutan dari fic ini!


Heartbreak

Chapter 1 : Rain

-a Naruto Fanfiction-

All chars by Masashi Kishimoto

Mistakes all on me


Hujan turun terus-menerus tiga hari belakangan, namun tidak untuk hari ini. Sekarang hari Minggu dan masih pukul enam pagi, namun aku sudah bersemangat untuk beraktivitas kembali. Ku buka jendela kamarku dan aku bisa merasakan udara sejuk yang masuk. Burung-burung yang bertengger pada pohon di taman rumahku—or should I say 'rumah Paman Kakashi dan Bibi Rin'—seakan-akan menyapaku dengan kicauan 'Selamat Pagi, Sakura cantik!'

Ew. Sejak kapan aku menjadi narsis seperti ini?

Mungkin sejak aku bertemu orang itu. Iya, dia yang sedang menggunakan baju lengan panjang, lengkap dengan sarung tangan dan masker. Sepatu bootnya terlihat kotor, tetapi menurutku wajar saja karena ia sedang memberi pupuk pada tanaman-tanaman.

Tatapanku tidak beranjak dari orang itu, orang yang membuatku ingin bertahan di tempat ini. Sudah sebulan lebih aku tinggal di sini. Aku hafal kebiasaannya, aku tahu apa channel tv favoritnya, namun tetap saja, aku tidak tahu segalanya tentangnya. Mungkin suatu saat nanti?

"Hey!"

"Whoaa!" Aku tersentak kaget dan refleks mundur menjauhi jendela. Ia yang ku pandangi sejak tadi ternyata sudah ada di dekat jendela kamarku. Aku tidak menyadari kapan ia datang atau bahkan aku tidak melihat ia berpindah!

"Kenapa kau memandangi tumbuhan itu terus? Sudah dua jam, 'lho, kau tidak berhenti memandangi tumbuhan itu." katanya sambil memandang aneh padaku.

"Eh…? Dua jam?" perasaan aku baru saja bangun dan membuka jendela.

"Hehe, bercanda," kekehnya, "Cuma 2 menit, kok. Kau suka tanaman itu?"

"Eh, tid—" percuma saja aku melanjutkan kata-kataku. Paman Kakashi sudah melangkah pergi bahkan sebelum aku menjawabnya. Padahal, ku harap kami bisa mengobrol sebentar lagi.

Kami sangat jarang berbicara. Aku tidak tahu kenapa, mungkin ia tidak menganggapku seseorang yang penting. Ia seorang wirausahawan. Ia sering berada di rumah, namun ketika di rumah, ia selalu bekerja. Aku tidak tahu apa yang dikerjakannya. Yang jelas, ia jarang berkomunikasi denganku. Tapi sekalinya kami berbicara, pasti akan menjadi momen yang tidak terlupakan bagiku.

Mungkin aku ini berlebihan atau apa, yang jelas aku hanya mengutarakan perasaanku. Di satu sisi aku merasa perasaan ini mungkin salah karena paman Kakashi itu milik bibi Rin. Namun di sisi yang lain mengatakan apa salahnya, toh mereka belum menikah. Umur kami juga tidak terpaut jauh, aku tiga belas tahun, ia 24 tahun. Hanya terpaut sebelas tahun, kok. Tapi, setelah dipikir-pikir, sebelas tahun jauh juga ya?

Paman Kakashi berjalan mendekati jendela kamarku dengan membawa sebuah pot kecil. Pot itu berisi tanaman kecil. Itu adalah tanaman yang sedang diberinya pupuk tadi. Ia menghampiriku, "Sakura," panggilnya.

Aku menatapnya lalu kemudian menatap tanaman itu juga.

"Ini tanaman favoritku," kata paman Kakashi.

"Aku mungkin tidak memiliki cukup waktu untuk mengurusnya tiap hari. Tapi kau bisa, kan?" tanyanya sambil menyodorkan pot itu padaku. Aku mengambilnya dan hanya terdiam. Siapa bilang aku punya banyak waktu untuk mengurus tanaman ini?

"Lagipula, kau menyukainya juga, 'kan? Buktinya kau memandanginya lama sekali," ujarnya. Hei, Paman. Siapa bilang aku menyukai tanaman ini? Aku memandangimu tahu, bukan tanaman ini!

Entah kenapa, aku tidak bisa berkata-kata. Ini tanaman favoritnya dan ia memberikannya padaku? Wow. Entah aku harus menolak atau menerima, aku juga bingung. Tapi, aku mau lakukan yang terbaik untuk Paman tersayangku ini!

"Sakura! Nama tanamannya Mr. Ukki," ujarnya dari kejauhan. Paman Kakashi berjalan menuju pintu depan rumah sambil melepas atribut berkebunnya. Ia terlihat sangat berkeringat sehingga ia mengusap peluhnya dengan sapu tangan yang ia ambil dari saku celananya.

Aku meletakkan Mr. Ukki di sudut jendela dan aku berjanji akan menjaga tanaman itu setiap harinya.

"Sakura! Ayo bersiap-siap!" teriak Bibi Rin. Buru-buru aku keluar dari kamarku dan menyahut, "Memangnya mau ke mana, Bi?"

"Mau mengantar Bibi ke airport. Ada panggilan untuk rapat mendadak di Jerman," kata Bibi. Ia terlihat sedang buru-buru menyusun pakaiannya di koper.

"Perlukah ku bantu, Bi?" tanyaku.

"Tidak usah, mandi saja sana," jawabnya.

"Oke," sambil menutup pintu, aku segera bersiap-siap. Aku mandi lalu berganti pakaian, setelah itu aku juga merapikan tempat tidurku. Setelah selesai, aku hendak keluar dari kamarku.

"Bye, Mr. Ukki!" bisikku sambil menyentuh sehelai daunnya, kemudian aku keluar dari kamarku.

Perjalanan ke airport tidak secerah keadaan di rumah. Awan mendung dan menggumpal tebal terlihat di langit. Hujan pun mulai berjatuhan perlahan-lahan. Alam ini memang sangat hebat. Baru saja setengah jam kami berangkat, keadaan langit bisa berbeda sedrastis itu. Semoga saja hariku tidak berubah sedrastis itu.

Aku mulai mengantuk dan memutuskan untuk menutup mataku untuk tidur. Lagipula, tidak ada hal menarik yang bisa di lihat di jalan.

Aku menutup mataku, membayangkan aku hanya akan bersama paman di rumah dalam seminggu ke depan. Kemudian aku teringat, aku tidak bisa memasak! Apa yang akan kami makan nanti? Bagaimana kami akan bertahan seminggu ke depan? Bahkan memasak nasi saja aku tidak bisa. Oh tidak, aku pikir akan menyenangkan bersamanya untuk beberapa hari. Namun nampaknya tidak akan terlalu menyenangkan seperti yang aku kira. Semoga saja Paman Kakashi bisa memasak.

Kami sudah dekat dengan airport, tapi aku mengurungkan niatku untuk membuka mataku. Asal kalian tahu, berpura-pura tidur adalah keahlianku. Padahal aku belum tertidur sepanjang jalan, aku hanya malas membuka mataku. Biar saja mereka mengira aku sedang tidur.

Aku bisa merasakan kami telah berhenti. Aku membuka mataku perlahan hendak mengintip untuk memastikan di mana kami berada sekarang. Benar saja, kami sudah sampai di airport.

"See you, hon." Aku mendengar bisikkan Bibi Rin pada Paman Kakashi. Refleks aku melihat (mengintip, sih) ke depan dan aku melihat Bibi Rin mencium singkat bibir Paman Kakashi. Ini pertama kalinya aku melihat ciuman secara live dan itu terjadi pada orang pertama yang ku sukai juga. Mungkin benar dugaanku. Perasaanku padanya adalah sesuatu yang salah. Aku tidak bisa menyukai ayah angkatku sendiri. Mereka melempar senyuman satu sama lain. Senyuman yang terbaik dari mereka dan aku bisa merasakan bahwa mereka memang benar-benar saling mencintai. Paman Kakashi pun memegang tangan Bibi Rin dan membisikkan, "Jangan lupa telepon setiap hari, I love you."

Aku pun kembali menutup mataku dan berpura-pura tidur. Tangan lembut seseorang kemudian menyentuh tanganku dan mengguncangnya sedikit. Aku mulai gemetar, perlahan aku membuka mataku dan melihat Bibi Rin hendak membangunkanku. "Sakura..." panggilnya lembut, "Bibi pergi dulu, ya. Kamu baik-baik dan jangan melawan, ya?" pesan Bibi Rin. Aku pikir tadi aku ketahuan berpura-pura tidur.

Aku hanya mengangguk. Pikiranku masih bergejolak. Aku masih bingung dengan perasaanku sendiri. Hujan yang makin deras membuatku menyadari bahwa hari ini tidak seindah yang ku kira. Bagaimana ya, apa aku harus melupakan perasaan ini? Tapi tidak semudah itu. Aku tidak bisa melupakannya begitu saja.

To Be Continue

Note :

Halo again, readers semua :)

Aku seneng banget deh liat kalian yang masih mau baca n review n fav n follow fic ini. Makasih banget, ya. Kalian bikin aku semangat buat bikin kelanjutan dari fic ini.

Tapi aku mau nanya pendapat kalian nih, kalo someday aku ganti ratingnya jadi M, gak papa kan? Hehehe...

Yang jelas makasih dehh buat dukungannya!