Cast : Luhan, Oh Sehun, Byun Baekhyun, dan segenap member EXO lainnya
Genre : School Life, Romance, NC 17 (?)
Warning : Yaoi, typo, OOC.
.
.
.
.
.
"Namaku Sehun, Oh Sehun. Sudah cukup kan berkenalannya, mulai sekarang jangan pernah menggangguku."
.
.
Luhan menggertakkan giginya kesal, sungguh ia tidak sengaja tadi, tapi namja ini dengan percaya diri mengatakan bahwa dirinya melakukan hal tersebut hanya untuk mendekatinya.
"KAU OH SEHUN! AKU INI TIDAK SENGAJA DAN APA? SIAPA YANG INGIN BERKENALAN DENGAN NAMJA NARSIS SEPERTIMU. CIH."
Sehun kembali menarik napasnya dalam-dalam, kali ini ia sedang menahan amarahnya, karena tidak mungkin ia menghajarnya, Sehun sudah terlalu sering keluar masuk kantor guru hanya karena menyingkirkan –catat dengan kasar, namja aneh yang mendekatinya. Daripada lama-lama berdebat dengan namja yang sering sekali membuatnya basah, Sehun memilih untuk pergi meninggalkannya. Luhan yang merasa tidak ditanggapi hanya mendengus kesal dan menendang rumput yang ada didepannya.
Baekhyun menghampiri Luhan yang raut wajahnya sudah merah karena kesal, dan memberikan tas ransel coklat dengan banyak hiasan stud yang tak lain milik Hyung-nya itu. Kali ini sepertinya Baekhyun telat untuk membela Luhan. Namja dengan wajah imut bak malaikat itu pun menarik Hyung-nya keluar gerbang sambil berjanji diperjalanan akan membeli eskrim untuknya dan seketika wajah Luhan kembali tersenyum.
.
.
.
"Sehun-ah, sebenarnya aku sudah tidak heran dengan wajah kusutmu, tapi sepertinya hari ini kau berkali lipat lebih kusut dari biasanya. Apa aku perlu membawakan setrika uap milik eomma-ku agar wajahmu bersinar?" Tanya namja jangkung yang terkekeh geli melihat penampilan sahabatnya itu, jelas saja dia berkata seperti itu, sahabatnya sedari tadi menekuk mukanya semenjak tiba disini, -Star Billyard.
"Sialan kau. Semua gara-gara sunbae pendek aneh itu. Bayangkan saja aku kena siram dia lagi."
"Sunbae softdrink itu? Hahahaha" Ujarnya lagi, sambil melanjutkan permainan kesukaan mereka.
"Jangan mentertawakanku Chanyeolie, atau kau akan menyesal." Tepat setelah itu Sehun berhasil memasukkan dua bola sekaligus dan menampilkan senyum menawannya.
"Aish..kau pasti curang Sehun!"
.
.
.
Dengan earphone menggantung dilehernya, ia berjalan menghampiri sesosok namja yang kini duduk di meja kantin paling tengah. Diperhatikannya orang yang sudah dikenalnya selama 10 tahun belakangan.
Namja itu.. sosok yang menolongnya ketika tiba-tiba terjatuh dari sepeda dan menggendong dengan susah payah dipunggungnya. Ya, itu adalah pertemuan pertama mereka yang tidak akan terlupakan. Ah, Baekhyun jadi ingat bagaimana dia setiap hari minum susu agar cepat tinggi dan dewasa supaya dapat melindungi Hyung-nya itu, tapi pada kenyataannya bahkan tinggi badan mereka tidak berbeda jauh.
"Hyung, kau makan apa?" tanyanya, dan segera menarik kursi untuk diduduki.
"Kau tidak lihat? Jelas-jelas aku sedang memakan mie."
"Apa kau tidak tahu istilah basa-basi? Ah sini, aku juga mau." Baekhyun dengan senyum jahilnya langsung menyambar mangkuk Luhan dan memakan makanannya. Tampak namja didepannya tengah mengembungkan pipinya sebal. Baekhyun yang melihat pemandangan itu malahan sangat gemas.
"Aish,kau ini. Byun Baekhyun mengapa kau tidak beli saja sendiri! Kembalikan."
"Entahlah, aku merasa semua makanan akan terasa enak jika dicicipi olehmu dulu. Ah, ini aku kembalikan, segera habiskan ne, aku lupa harus ke ruang olahraga. Aku duluan hyung." Luhan yang matanya berbinar melihat mangkuk makanannya dikembalikan oleh Baekhyun sontak kaget saat Baekhyun tiba-tiba mencium pipi kirinya dan langsung kabur sebelum ocehan Luhan didengarnya.
"Memangnya kita masih anak SD. Memalukan sekali dia. Dasar anak kecil" Kini Luhan menangkupkan kedua telapak tangannya dipipinya, seolah menahan pipinya itu untuk tidak berubah warna menjadi merah. Dulu saat masih disekolah dasar mereka memang terkadang saling memberikan kecupan singkat dipipi ataupun kening, itupun hanya sebuah tanda bahwa mereka saling menyayangi sebagai sahabat, ah tidak, tetapi adik kakak.
Sedangkan tepat beberapa meja dari Luhan duduk sepasang masa tajam mengamati semua yang terjadi antara Baekhyun dan Luhan.
"Cih, apa-apaan itu, menjijikan." Ujarnya sebal, dia terlalu sebal sampai-sampai merasa ingin menghampiri namja itu dan menyiramnya seperti yang sudah pernah dilakukan oleh Luhan kepadanya.
.
.
Terpaan angin membuat surai coklatnya berayun-ayun indah dikepala pemiliknya, Luhan kini sedang duduk menemani Baekhyun yang sedang menyiram tanaman sekolah. Celotehan adiknya tersebut sesekali membuatnya tertawa.
"Hyung, bagaimana bisa kau duduk dengan tenang sedangkan aku dihukum menyirami satu halaman sekolah!"
"Haha salahmu sendiri, mengapa bolos pelajaran guru yang sangat galak"
"Hyung...Luhannie-hyung." gumam Baekhyun sambil mengerutkan kening serta mengerucutkan bibirnya, wajahnya benar-benar terlihat memelas saat ini.
"Aish, baiklah baiklah. Normalkan wajahmu, aku tidak kuat melihatnya!" Segera namja tersebut berdiri dari tempat duduknya dan mengambil selang air lainnya. Luhan memang tidak bisa melihat adiknya kesusahan, begitu pula sebaliknya, mereka memang selalu membantu.
"Hehe gomawo, wajahku memang tidak normal hyung,karena aku terlalu tampan. Terima saja hal itu"
"Cih. Sepertinya otakmu perlu aku bersihkan...mmm"
"AAAAAAK HYUNG HENTIKAN!" Teriakan Baekhyun tak dihiraukan sama sekali oleh Luhan, kini posisi mereka sedang berhadapan, dengan selang air -yang dibawa Luhan- menghadap tepat ke wajah Baekhyun. Namja yang sudah basah kuyup tersebut tak mau tinggal diam dan langsung membalasnya.
Mereka sepertinya lupa dengan tujuan awal menyirami tanaman, hingga tanpa sengaja Luhan yang berusaha menghalangi matanya dari siraman air, justru merubah arah selang tersebut yang sebelumnya diarahkan pada Baekhyun namun kini...
"YAK KAU LAGI!"
Seorang namja dengan sweater merah membalut seragamnya sontak berteriak saat tiba-tiba badannya terkena layaknya hujan besar.
"Mi..mianhae. Jeongmal mianhae.." suara Luhan sedikit bergetar, entah sudah berapa kali ia berurusan dengan lelaki ini. Bukan maksudnya memberikannya siraman yang rutin seperti ini, hanya saja Luhan berpendapat keberuntungan lelaki ini memang benar-benar jelek.
"Keberuntungan ku sangat buruk sepertinya. Dan bertemu denganmu benar-benar sangat buruk." Ujar lelaki itu, yang tak lain adalah Sehun. Luhan yang merasa pikirannya bisa dibaca hanya berdiri kikuk dengan wajah menunduk. Baekhyun sendiri langsung mematikan kran air dan menghampiri mereka berdua.
"Maafkan kami. Kali ini kami yang salah." Sikap Baekhyun tak seperti pertama kali insiden kaleng softdrink dulu, mungkin kini ia sadar bahwa tindakannya memang salah. Ia menunduk kembali untuk meminta maaf dan tanpa mendengar balasan dari Sehun ia segera menarik pergelangan tangan Luhan dan pergi dari tempat itu.
"HEI! SAMA SEKALI TAK PUNYA SOPAN SANTUN, SELALU SAJA PERGI!" Teriak Sehun yang tentu sia-sia karena orang yang ia maksud sudah tak ada ditempatnya berdiri.
Wajahnya benar-benar terlihat sangat marah, kebiasaan Sehun saat sedang marah adalah tangannya yang langsung mengepal dan bergetar. Ia butuh melampiaskan kepalan tangannya tersebut, namun sedetik kemudian pikirannya berubah, emosinya sudah normal, Sehun sepertinya telah menemukan cara melampiaskan amarahnya dengan sangat menyenangkan.
Senyuman licik mendominasi muka Sehun saat ini, sesaat kemudian Chanyeol yang melihat dari jauh terheran-heran akan keadaan sahabatnya dan langsung berlari menghampiri Sehun, tepat sebelum ia bertanya apa yang telah terjadi hingga keadaannya basah kuyup, Sehun mendahuluinya.
"Besok, aku butuh bantuanmu."
"He? N..ne ne"
.
.
.
Luhan seharusnya sudah berada didepan kelas Baekhyun dan pergi pulang bersama jika saja tidak ada tiga orang adik kelasnya yang menyeret tubuhnya sesaat setelah ia keluar dari ruangan kelas. Mereka bahkan adik kelas, tapi sama sekali tidak punya sopan santun dengan menyeret paksa sunbaenim-nya ke sebuah ruangan yang bisa dibilang terlampaui sepi.
"Hei mau apa kalian!" bentak Luhan ketika ketiga adik kelasnya melepaskan cengkramannya dan mendorongnya ke dalam gudang. Namun tak ada jawaban, dan salah satu dari mereka yang memiliki tinggi badan diatas rata-rata dengan telinga yang agak aneh nampaknya sedang menelpon seseorang dan memberitahukan bahwa namja softdrink sudah ada digudang. Setelah menutup telponnya mereka pun meninggalkan Luhan yang masih terheran-heran dan menguncinya didalam sana.
"YAK! APA SALAHKU PADA KALIAN! BUKA PINTUNYA!" Luhan berusaha memberontak, namun tetap tak ada jawaban. Sepertinya mereka pintar memilih ruangan, selain gudang ini memang jarang dilewati orang karena letaknya paling belakang gedung sekolah, juga karena tempat ini terlihat mengerikan. Belum lagi tiga orang tadi mengambil handphone dan tas-nya, yang sepertinya tadi diletakkan tepat didepan pintu gudang.
"SIAPAPUN DILUAR SANA, TOLONG BUKAKAN AKU PINTU" Teriaknya lagi. Luhan kini hanya meringkuk memeluk lututnya hingga terdengar suara langkah seseorang mendekati pintu. Wajahnya berubah sumringah saat pintu gudang yang terkunci kini terbuka dan berdiri seseorang dengan wajah tegas disana.
"Ah, goma..." ucapannya terhenti tepat saat seseorang didepannya kembali mengunci pintu, membiarkan mereka, Luhan –dan orang itu terkurung didalam sana. Namja berparas cantik itu menelan salivanya. Bahkan ruangan ini sudah cukup gelap untuk tidak mengenali seseorang didepannya, hingga orang itu menyalakan smartphone-nya dan membiarkan wajah tampannya terkena sinar dari backlight smartphone tersebut.
Kali ini Luhan benar-benar tak dapat berkata apa-apa, ia sangat mengenali namja didepannya yang kini sedang menatapnya. Namja dengan kulit putih, berperawakan tinggi dan rambut pirang tersebut berjalan perlahan mendekati Luhan. Satu langkah maju namja itu, berarti satu langkah mundur dari Luhan, dan ia benar-benar sudah tak dapat berkutik ketika punggungnya telah menempel pada dinding ruangan itu.
"O-Oh Seh-hun.. Mi-mianhae. Aku sung-guh menyesal. To-to-tolong lepaskan aku." Suara Luhan terdengar sangat bergetar ketika telapak tangan Sehun meraih kerah kemejanya. Ya, namja didepannya adalah Oh Sehun, orang yang sudah tiga kali dibuatnya basah, -tentu dengan tidak sengaja.
"Kau pikir, segampang itu aku memaafkanmu? Kau sudah membuatku basah tiga kali, catat TIGA kali." Ujar Sehun dengan penekanan pada kata tiga,
"Dan kali ini, ku pastikan kau akan ku buat basah juga" Lanjutnya dengan seringai menghiasi wajahnya tersebut.
Luhan sangat ingin mengakhiri hal ini, sudah cukup basa-basi Sehun membuatnya gemetaran. Jika ingin balas dendam, cepat lakukan –pikir Luhan. Toh Luhan hanya akan kebasahan karena disiram air, lalu dia pulang dan segera berganti pakaian, selesai bukan? Tanpa harus menyeretnya ke dalam gudang nan gelap ini.
Namun sepertinya Luhan benar-benar salah sangka, Sehun tidak mungkin segampang itu membuatnya jera, dan ternyata memang benar. Kini badan Sehun ia dekatkan pada Luhan, membuat jarak diantara kedua menjadi tidak ada. Bahkan nafas hangat pemuda didepanna pun sangat terasa di telinga Luhan.
"Sunbaenim, dengarkan aku, karena aku tidak akan mengulanginya dua kali" Ucap lelaki itu setengah berbisik, ia menarik nafas dan bermaksud melanjutkan perkataannya, sedangkan Luhan masih dengan raut wajah ketakutan namun tetap berusaha menyimak tiap kalimat yang Sehun ucap.
"Luhan-sunbae, aku akan membuatmu basah –disini." Lanjut Sehun lagi, dengan jari jemarinya mengelus lembut bagian tubuh Luhan dibawah sana yang tertutup rapat oleh celana seragamnya.
"MWO?!" Luhan yang mendengar dan merasakan hal itu sontak membulatkan matanya seakan bola mata itu akan keluar..
.
Luhan yang benar-benar merasa shock dengan perlakuan Sehun hanya bisa menutup matanya, bukan –bukan karena ia menikmati sentuhan Sehun dibawah sana. Luhan hanya tak habis pikir bagaimana bisa ada seorang adik kelas yang berani memperlakukannya seperti ini, ah tidak tapi bagaimana bisa ada orang yang berpikiran seperti Oh Sehun, catat dia benar-benar brengsek menurutnya.
"Bagaimana?" suara dingin itu meminta pendapat orang yang tengah ia sentuh. Posisi Sehun kini berhadapan, dengan dagu sengaja ia tumpu pada bahu kanan milik Luhan, lalu tangan kirinya meraba punggung milik namja itu. Tangan kanannya? Tidak diberi tahu pun, kalian pasti bisa mengira tangan halus nan putih -milik pemuda bernama Oh Sehun- itu mendarat dimana.
"Shh.. Sehun. Tolong hentikan, nhhh" entah itu suara desahan kesal atau desahan nikmat. Meskipun pakaian Luhan masih tetap lengkap, karena namja aneh itu hanya menyentuhnya dari balik celana, namun sensasi saat jari jemari Sehun bergerak lembut membuat wajah Luhan memerah dan agak mendesah. Sehun yang mendengar suara Luhan seperti itu hanya bisa menarik sudut-sudut bibirnya membentuk seringai. Tangannya yang kini bergerak mengelus bahkan menekan kini berhenti dan secepat kilat membuka kancing-kancing seragam milik Luhan. Sedangkan namja dihadapannya hanya bisa sedikit memberontak, karena bisa dipastikan ia benar-benar sangat lemah saat ini.
"Sunbae, kau menikmatinya kan?" Sehun tersenyum saat ini. Luhan merutuki dirinya, mengapa tubuhnya semudah itu menerima perlakuan dari Oh Sehun, apalagi ketika daun telinganya kini telah di jilat dan di gigit perlahan serta jari jemari Sehun menggelitik perutnya. Jika saja tubuhnya tidak ditopang oleh namja didepannya, bisa dipastikan Luhan sudah jatuh saking lemasnya. Tubuhnya benar-benar seperti kosong.
"Oh Seh-hunnh.. Aku moh-hon, ber-henhh-ti."
Sehun nampaknya tidak mendengar perkataan Luhan, tepatnya pura-pura tidak mendengar. Ia masih saja asik dengan perlakuannya pada namja ini. Bibir merahnya bahkan kini ia turunkan melewati leher dan turun menuju bahu Luhan, seolah mencicipi tubuh manis itu.
Tes. Tes. Sehun merasa pipinya basah karena sesuatu. Ini diruangan –pikirnya, gerimis tidak mungkin sampai kesini bukan? Dan ia sedikit tersentak namun tetap dengan wajah sedatar mungkin. Sunbaenya menangis, tak terdengar memang karena namja cantik itu menggigit bibir bawahnya, tapi terlihat jelas matanya mengeluarkan kristal-kristal bening. Sehun berhenti, badannya agak ia jauhkan dari namja itu dan sontak Luhan terjatuh meringkuk.
"YAK SUNBAE! MENGAPA KAU SANGAT LEMAH HAH?" Bentaknya, walaupun tetap saja rasa iba mengalir dalam dirinya. Namun bukan Oh Sehun namanya jika melemah karena tangisan. Diambilnya ember yang sudah ia persiapkan dari awal –tentunya beserta air yang memenuhi wadah itu. Dibanjurnya namja yang kini isakannya sudah mulai terdengar dan kemudian pergi begitu saja meninggalkan Luhan yang basah kuyup -dengan seragam yang sudah terbuka kancing-kancingnya.
.
"Kita impas." Sayup-sayup terdengar suara Oh Sehun dari luar gudang, namun sebelum ia benar-benar meninggalkan namja itu, Sehun melihat sekilas sebuah smartphone yang ada diluar pintu gudang, yang sudah bisa ia kira pasti milik Luhan. Di cek-nya smartphone itu dan muncul dilayarnya,
34 panggilan tak terjawab Byun Baek..
Byun Baek? Pasti namja yang sering dipanggil Baekhyun itu –pikirnya. Dan ia pun mengirim pesan melalui smartphone tersebut 'Luhan digudang' kemudian Sehun benar-benar pergi menjauh dari tempat itu.
.
.
Tak menunggu waktu lama, sekitar 15 menit suara sautan Baekhyun menyadarkan Luhan dari lamunannya, tadi setelah Sehun benar-benar pergi Luhan segera berhenti terisak karena ia sadar tak ada gunanya menangisi hal seperti tadi, dan sebagai gantinya ia tetap berada di gudang itu dengan melamun.
"Hyung.. kau didalam?" Matanya ia edarkan menjelajah ruangan itu dan menemukan seseorang tengah meringkuk diam disudut ruangan.
"HYUNG!" Namja itu berlari, mendekap Hyung yang kini mulai berkaca-kaca kembali karena melihat kehadiran Baekhyun didepannya. Baekhyun sendiri bingung dengan keadaan hyung-nya tersebut. Siapa yang tidak heran jika melihat seseorang basah kuyup dan bagian dadanya terbuka? Namun sebisa mungkin ia tutup keheranan itu, yang terpenting sekarang adalah membawa hyung-nya pulang dan menenangkannya.
Segera Baekhyun membantu Luhan berdiri, mengancing satu persatu kemejanya dan melampirkan jaket miliknya ke bahu hyung tersayangnya itu. Tak lupa memungut smartphone dan tas ransel Luhan yang tergeletak didepan pintu gudang.
.
.
.
Rumah Luhan tampak sepi, hanya ada lalu lalang pembantunya yang membersihkan ataupun menyiapkan ini itu. Baekhyun membawa Luhan kekamarnya dan menyuruh hyung-nya untuk mandi. Luhan hanya membalas anggukan dan meninggalkan Baekhyun yang kini duduk di atas kasurnya.
"Hyung, mianhae. Aku sudah mencarimu kemana mana, aku -sama sekali tidak menyangka kau digudang. Hyung.. aku terlambat menyelamatkanmu ya? Hyung...mi-mianhae" Baekhyun terlihat seperti berbicara pada dirinya sendiri. Ia benar-benar kesal tidak bisa melindungi hyung-nya. Siapa juga yang tega berbuat seperti itu pada Luhan-hyung? Aku harus menghajarnya –pikirnya.
Pikiran melayang Baekhyun terhenti saat Luhan sudah keluar dari kamar mandi. Luhan mendekati Baekhyun, menangkupkan kedua telapak tangannya dan memastikan apa yang terjadi pada wajah Baekhyun.
"Baek, kau menangis?"
"Ani, mana mungkin aku menangis hehehe" Baekhyun mencoba memamerkan deretan giginya, berusaha terlihat baik-baik saja, karena yang ia tahu Hyung-nya lah yang sedang tidak baik.
"Jangan berbohong padaku Baek! Aku tidak suka!" ucapan Luhan kini meninggi.
"Kau yang kenapa Hyung! Bahkan aku sengaja tidak bertanya apapun padamu, karena aku tau kau pasti akan bercerita padaku tanpa aku minta. Tapi sepanjang perjalanan kau mendiamkanku. Kau pikir aku tidak sakit melihatmu seperti itu?" Mata Luhan kembali berair mendengar penuturan namja yang sudah ia anggap adiknya sendiri itu. Dengan cepat ia memeluk Baekhyun, pertahanannya runtuh sekarang, air mata dengan derasnya mengalir begitu saja diwajahnya bercampur dengan tetesan air yang berasal dari rambutnya yang belum kering.
"Hyung..." Baekhyun membalas pelukan Luhan sembari mengelus punggungnya lembut. Semakin kencang hyung-nya menangis semakin erat pula baekhyun memeluknya.
"Seh-seh-hun yang me..melak-kukan ini. Di-dia meng-goda ku. Lalu pad-da.. pada akhirnya, or-orang i..itu menyiramku, Baek." Luhan berusaha menjelaskan apa yang terjadi pada Baekhyun, tentu saja dengan isakannya yang masih belum berhenti.
"Sehun? Menggodamu?" Raut wajah Baekhyun benar-benar marah sekarang. Ia makin paham mengapa seragam hyung-nya terbuka saat itu.
"Apa yang ia lakukan padamu Hyung?" Tanya Baekhyun lagi.
Luhan melepaskan pelukannya dan segera mengelap wajahnya yang basah. Namja cantik itu mengerjapkan matanya imut, kemudian tersenyum.
"Aku tidak apa-apa Baekhyunie sayang" Luhan terkekeh geli, lalu hendak melanjutkan perkataannya.
.
"Umm.. Oh Sehun, di-dia menyentuhku disini, disini, disini... dan disini." Luhan agak ragu saat ia menunjuk bagian terakhir yang disentuh lelaki brengsek itu. Sedangkan Baekhyun hanya melotot tidak percaya.
"Di..dia menyentuh telinga, leher, bahumu dan emm.. itu. Dengan tangan?" Tanya Baekhyun yang masih sangat-sangat shock sekaligus emosi mendengar penuturan hyungnya.
"Bagian terakhir itu iya, tapi... telinga, leher dan bahu dia memakai –em bi-birnya Baek" Mimik muka Baekhyun benar-benar tidak bisa disembunyikan, wajahnya memerah, ia marah. Marah pada Oh Sehun dan yang membuatnya lebih marah adalah dirinya yang tidak bisa menjaga hyung kesayangannya.
Kini Baekhyun yang memeluk Luhan, ia tau pasti saat itu Luhan ketakutan. Ia semakin mengeratkan pelukannya. Sedangkan luhan hanya tersenyum manis karena perhatian adiknya itu.
"Hyung, bolehkah aku menghapus jejak yang dilakukan Oh Sehun?" Perkataan Baekhyun membuat Luhan mengerjapkan matanya berkali-kali, ia tidak paham apa yang dimaksud Baekhyun. Sampai ia merasakan nafas Baekhyun menerpa telinganya. Rasa hangat dan sedikit geli menghampirinya ketika Baekhyun mulai menempelkan bibirnya pada telinga Luhan.
Luhan sekali lagi hanya bisa diam, oh Tuhan apakah jika diperlakukan seperti ini tubuhnya tidak bisa melawan? Ungkapnya dalam hati. Tapi perlakuan Baekhyun benar-benar berbeda dari Sehun, Baekhyun terlampaui lembut bahkan tanpa gigitan, hanya ciuman-ciuman kecil yang sepertinya memang berusaha menghapus jejak Oh Sehun.
Bibir itu turun, melewati leher dan kemudian menuju bahu mulusnya, mencoba tidak melewatkan kulit Luhan semili-pun. Tangan Baekhyun yang tadi memeluknya, kini menurun. Tangan itu bermain melewati punggung, turun menuju pinggang dan Luhan segera mendorong tubuh Baekhyun ketika tangan itu tepat menyentuh bagian sensitifnya.
"Mi-mianhae, Hyung. Aku benar-benar minta maaf. Aku-aku.. aku hanya... Arrrgh" Baekhyun benar-benar tidak tau harus menjelaskan apa pada hyungnya.
"Sekali lagi maafkan aku hyung, jika begini aku sama saja dengan si brengsek itu." Lanjut Baekhyun sembari mengacak-acak rambutnya sendiri. Sedetik kemudian ia langsung berdiri dan hendak pergi, namun disusul Luhan yang langsung memeluknya dari belakang.
"Baek. Kau berbeda dengan maniak itu..." Wajah Baekhyun melunak mendengar penuturan hyung-nya.
.
.
Dikamar yang berbeda, seorang namja dengan tubuh tinggi, kulit seputih salju serta rahang wajah yang tegas sedang melamuni perbuatannya sore tadi. Ia benar-benar keterlaluan, oh tidak bahkan sangat amat keterlaluan. Senakal-nakalnya dia –yang tak lain adalah Sehun- tak mungkin sampai berbuat seperti itu. Apalagi melihat wajah menangis namja itu, matanya benar-benar tidak pantas untuk menangis, mata indah itu.. mengingatkannya pada seseorang.
.
"Mianhae Kai, Mianhae. Aku harus pindah"
"Tidak apa-apa, aku akan terus menunggumu, Sehun"
.
.
.
.
.
TBC. . .
thanks for:
lisnana1, Oh Luhan, ohristi95, IkaIkaHun11, babyluhan20, mitahunhan
yang udah mau ngefollow / ngereview hehe ~^^~
Mian ya update-nya sangat lama. Btw, author masih sangat newbie didunia per-fanfictionan ._.
lisnana1&Oh Luhan: ini udah dilanjut ya^^
ohristi95: Iya dulunya Sehun pacar Kai^^ ntar bakalan ada penjelasannya, tapi mungkin lama.
ikaikahun11: Luhan itu namja, dan cuma ada baeklu sama hunhan.
.
Gomawo^^
