L.O.V.E

Disclaimer : Vocaloid bukan milik saya, saya hanya meminjam beberapa character untuk dinistakan di fic saya.


Summary : Ini mungkin bukan sebuah kisah yang sempurna, hanya tentang seorang gadis penyuka jeruk yang bingung akan 'rasa' yang menyapa hatinya. "Gak akan ada yang ngerti perasaan seseorang selain dirinya sendiri, Rin."


1. Len

"Ring… bisa gak kita tukaran kelas aja…?"

Rin kembali membenamkan kepalanya pada meja—setelah pria paruh baya atau Kepala sekolah lebih—tepatnya meninggalkan ruang kelasnya menyisakan kegalauan pada gadis dua belas tahun ini.

"Stupid Question," sahut Ring. "Udah… jalanin aja. Lagian bukannya semester satu kemarin kamu niat banget ngincar kelas 8-5 jika berhasil 'loncat kelas'. Kenapa tiba-tiba sekarang gak niat gitu?"

Rin menghela nafas, "Itu dulu… sebelum aku benci setengah mati sama dia!"

"Benci? Kenapa?"

Rin mengangkat kepalanya menatap Ring dengan kesal. "Memangnya aku belum cerita ya?"

Ring mengangkat bahunya. "Sepertinya sih belum…."

"Well, alasannya sebenarnya simple aja kok. Aku kesal lihat dia selalu stay cool setiap berpapasan denganku," ujar Rin sambil membetulkan pita putih yang selalu dikenakannya.

"Stay Cool? Perasaan dia biasa aja deh."

"Hah?!" Rin tidak terima. "Ingat sebulan yang lalu? Saat dia dengan santainya duduk ditangga menghalangi jalanku?"

Ring berpikir sejenak, sebelum akhirnya mengangguk. "Saat dia langsung pergi ketika kamu sudah keatas itu ya?"

"Yeah…" sahut Rin malas.

"Itu kan bukan alasan untuk menganggap dia selalu stay cool denganmu, Rin!"

"Tapi…." Rin berniat untuk membantah.

"Rin… kalau kamu benci dia… kenapa pita pemberiannya masih terus saja kamu pakai?" Ring menatap sahabatnya heran, gadis berambut pirang ini memang sedikit sulit untuk ditebak.

Jleb!

Panah tak kasat mata meluncur tepat ke hati Rin, membuat gadis itu sontak kembali menenggelamkan wajahnya pada meja. Untuk sedikit informasi tak penting—kelas sedang sepi sekarang—yah.., bel istirahat memang telah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu.

"Itu…, yah… karena… gimana… ya..?" Rin tampak gugup menjawab pertanyaan Ring yang sukses menusuk ke-ulu hatinya.

"Bilang aja kamu suka sama dia… mudah kan?" ujar Ring melipat kedua tangannya tanda puas. "Ah, sudahlah aku mau ke perpustakaan dulu. Ikut?"

Dan sukses membuat Rin menggeleng. "Aku di kelas saja." Sambungnya.

Ring terkekeh, "Tenang… nanti kalau ada Lui-senpai aku cuma akan bilang 'Rin titip salam' aja kok!"

"RING! Kamu tahu kan aku benar-benar takut dengan anak kelas 9 yang niat banget nyari tahu semua hal tentang aku itu!" Rin mendongakkan kepalanya dan menatap Ring frustasi.

"Bercanda~!" Ring berlalu.

Rin menatap punggung Ring yang perlahan menghilang itu, lalu menghela nafas.

"Len-senpai…"

.

.


.

.

Pemuda berambut pirang dengan kunciran kecil itu meregangkan tubuhnya setelah lelah berkutat dengan PR Matematika yang akan dikumpulkan usai jam istirahat berakhir.

"Hoi Len!" sesuatu yang dingin menyapa pipinya. Membuatnya menatap kesal sosok pemuda berambut biru yang memegang dua kaleng soda dingin—benda dingin yang ia rasakan—tadi.

"Aish jangan tiba-tiba kesal dong!" pemuda berambut biru itu nyengir menyodorkan kaleng soda itu kearahnya. "Nih pesananmu!"

Len, pemuda berambut pirang dengan kunciran kecil itu—dengan malas menerima soda yang disodorkannya padanya.

"Kau sudah tahu pengumuman itu?" tanya pemuda berambut biru itu—memulai percakapan.

Len mengernyit. "Pengumuman apa?"

Pemuda berambut biru dengan nama Kaito itu menepuk jidatnya. "Gila Len! Darimana aja kamu sampai gak tahu pengumuman menghebohkan yang baru ditempel di mading tadi!"

"Di kelas…" jawab Len. Singkat dan jelas.

"Ah… sudahlah yang pasti kelas kita akan dapat penghuni baru lagi!" ujar Kaito semangat.

"Murid baru?"

Kaito menghela nafas, merasa bodoh berbicara dengan Len. "Bukan! Ada anak kelas 7 yang akan loncat kelas!"

"Oh."

Singkat, padat dan sukses membuat gunung merapi meledak dari kepala Kaito.

"OH AJA?!" tanyanya kesal.

Len menautkan kedua alisnya. "Memangnya apa lagi?"

"Kau pasti akan kaget mendengar siapa yang akan masuk ke kelas kita!"

Len membuka kaleng soda miliknya dan meneguk isinya setengah sebelum kembali menyahut. "Siapa?"

"Rin Kagamine kelas 7-1."

Byurr!

Soda yang baru saja diteguknya menyembur keluar dengan tidak elitnya, dan meninggalkan bercak bewarna cokelat di baju Kaito.

"Len! Minum soda hati-hati napa?" Kaito menggerutu kesal berusaha menghilangkan bekas cokelat dari baju putihnya, walaupun hal itu tentu saja sia-sia.

Len tidak peduli dengan perkataan Kaito, yang ia pedulikan sekarang adalah nama seseorang yang sejak SMP berniat untuk dihindarinya.

"Bagaimana ini...?" gumamnya kalut.

.

.


.

.

Waktu terus berputar dan tanpa disadari bel yang merupakan 'surga' kedua bagi setiap murid itu berbunyi.

Rin buru-buru memasukkan semua bukunya kedalam tas dengan asal. Termasuk formulir yang baru saja diberikan kepadanya dan juga mereka yang menjadi 'korban' dari sistem loncat kelas konyol itu.

Ia masih bingung antara memohon kepada kepala sekolah untuk membatalkan dirinya menjadi salah satu 'korban' atau justru memungut kembali secercah harapan yang sudah ia buang.

"Baiknya gimana ya?" ia duduk mematung sambil memeluk tas ransel miliknya, teman-temannya sudah lebih dahulu berlalu meninggalkanny—menyisakan ruang kelas yang kosong dengan gadis berambut pirang yang tengah bimbang itu.

Bilang aja kamu suka sama dia… mudah kan?

Perkataan Ring saat istirahat tadi terbayang dibenaknya.

"Yang benar aja!" Rin membenamkan kepalanya pada tas yang tengah ia peluk. "Mana mungkin aku suka dengan Len-kun." Tunggu sejak kapan Rin menyebut nama Rin dengan akhiran –kun...? Bukankah dia memanggil pemuda itu dengan akhiran senpai?

Sepertinya tokoh utama kita ini memang sedikit 'labil'.

"Rin, kau sedang apa disini?"

"Hanya sedang memikirkan sesuatu," jawab Rin, tidak berniat untuk mendongak dan melihat siapa pemilik suara itu. Dia sudah terlalu hafal suara menyebalkan ini, siapa lagi kalau bukan Rinto.

"Tumben…" cibir Rinto, mengambil posisi duduk disamping Rin. "By the way, selamat berhasil loncat kelas."

"Hmm…"

Rinto mengernyit, "Kenapa? Tumben kamu gak terlalu cerewet kayak biasanya."

"Berisik ah!" Rin mendongak menatap pemuda dengan jepit putih itu kesal.

"Ah, kamu pasti pengen masuk 8-1 kan? Biar sekelas denganku," Rinto menyahut asal, kedua tangannya kini telah berpindah ke kepala Rin. Mengacak rambut gadis itu.

"Percaya dirimu itu terlalu tinggi Rinto!" Rin menghela nafas. "Tapi kayaknya lebih baik aku sekelas denganmu daripada dengan dia ya…"

Rinto mengernyit, "Dia?" pikirannya melayang berusaha mengingat jelas satu persatu nama murid di kelas 8-5 yang setidaknya masuk akal untuk dijadikan 'tersangka'.

"Yeah… masa kamu gak tahu?"

"Len maksudmu?" dan untungnya Rinto teringat satu nama itu, seseorang yang sebenarnya merupakan pemilik asli posisinya ini—mantan lebih tepatnya.

Rin mengangguk malas. "Umm… yeah! Entah kenapa aku kesal sekelas dengannya."

"Kesal? Kesal kenapa?" kedua alis Rinto tertaut, bingung dengan maksud perkataan Rin.

"Kamu merasa gak sejak aku kelas lima, Len ngehindar terus dari aku…?"

"Sepertinya…"

Rin menghela nafas, "Yah… karena itu. Awalnya aku berharap bisa satu kelas sama dia, tapi sejak SMP sifat cuek dan sok cool nya itu semakin menjadi-jadi. Lama-lama aku malah kesal lihatnya!"

Rinto kembali mengacak rambut Rin. "Kamu itu kekanakan banget tahu gak?"

"Eh?" Rin menatap Rinto tak terima. "Kekanakan?"

"Ya… masa CUMA karena hal itu kamu jadi kesal sama Len… gak logis banget tahu gak?" Rinto menggeleng.

Rin memainkan rambutnya yang kini telah berantakan karena tangan Rinto. "Yeah… aku memang kekanakan. Tapi kamu bayangin deh, masa... dia cuma bersikap seperti itu denganku?!"

Rinto menghela nafas, "Tahu deh… aku gak ngerti sama pikiran kamu… by the way, tumben kamu curhat sama aku?"

Rin nyengir. "Iya juga ya? Tapi kamu gak bakal ceritain hal ini ke yang lain kan?"

"Palingan nanti cuma nempelin berita ini ke Mading." Rinto mencibir.

"Yah… Rinto! Kok gitu!" Rin memanyunkan bibirnya kesal.

"Haha… bercanda bodoh!" Rinto kembali mengacak rambut Rin. "Ah… Rin ngomong-ngomong kapan kamu akan masuk ke kelas barumu?"

"Besok… setelah formulir itu selesai kuisi!" ujar Rin menunjuk tasnya.

"Ah… sudahlah ayo pulang! Kurasa hanya kita saja yang tersisa disekolah!" ujar Rinto yang sontak dijawab oleh anggukan Rin.

Kurasa kau salah Rinto buktinya ada seorang pemuda yang mengintip dari balik jendela hingga punggung kedua orang itu menghilang dari pandangannya.

Pemuda itu menyandarkan tubuhnya pada dinding…, "Rin… maaf… aku bukan bermaksud meninggalkan kesan seperti itu…"

To Be Continued


Akhirnya chapter keduanya kelar juga! #Tebarconfeti/Salah. Rainna gak tahu mau ngomong apa lagi ; w ; #Ditendang. Disini Rainna berusaha menambah dekripsi sesuai saran Kyoura-san, terima kasih Kyoura-san. Dan juga terima kasih untuk Yuka Namikaze dan Sae Hinata (disclaimernya sudah Rainna tambahkan ^^)

Akhir kata selamat membaca ^^!