Cui dan Afuri : gomen kalo gak nyaman pake bahasa lo-gue. Tapi karena uda dari awal make lo-gue jadi mau gak mau harus tetep konsisten. Tapi insya Allah kalo bikin fic lain nanti pake bahasa aku-kamu
Lady Spain : hehe, tu bawaan Sai yang suka bashing orang kali, ya.
Andromeda no Rei, yola-chan, acchan lawliet, Aiko Kurosaki Uchiha : sa-saya telat update, hwaaaaa, maafkaaaan *gulung-gulung gak jelas*
Uchiha vee-chan : gomen, gaasaku gak ada. Gaara kan pacarnya author *author dicekik readers rame-rame*
Zoroute : hehehe, saya suka banget waktu Sasuke masih kecil,jadi saya 'pinjem' deh.
Makacih buat support, saran dan reviewnya minna-san. Author terharu sekali T_T
Yosh! It's time for update. Semoga tidak mengecewakan dan bisa menghibur. Amin...
Disclaimer : Masashi Kishimoto T_T
Oh, punya saya...
Warning : OOC, garing, semi-AU, miss typo, gaya bahasa gak konsisten *mewek lagi*
Please Enjoy...
Pukul satu pagi waktu Konoha setempat, Sai masih belum bisa memejamkan mata. Dia masih di dalam kamarnya yang 'didekorasi paksa' oleh Itachi, Deidara dan Sasuke. Sai masih belum terbiasa dengan kondisi kamar barunya. Lebih tepatnya, rumah barunya.
Sudah dua minggu sejak kepulangan Fugaku sekeluarga ke kediaman keluarga besar Uchiha. Disebut kepulangan karena Fugaku mengajak keluarga kecilnya kembali ke Konoha setelah sekian lama bertempat tinggal di Iwa. Entah apa yang menyebabkan ayahnya tiba-tiba memutuskan pulang ke tempat kelahirannya itu. Semuanya serba mendadak dan terburu-buru. Akibatnya Sai harus pindah sekolah di tahun terakhir masa SMU-nya.
Alasan ayahnya yang pernah ia dengar adalah, ayahnya ingin agar keturunan Uchiha lebih mengenal leluhur dan lebih dekat dengan kerabatnya. "Usotsuki.." desah Sai geram. Alasan ayahnya yang tidak masuk akal itu hanya untuk menutupi alasan sebenarnya yang lebih tidak masuk akal lagi.
'Gadis itu..' Tentu saja gadis itu yang menjadi alasan kepulangan keluarga mereka. Gadis non-Uchiha. Semua keturunan Uchiha, menurut tradisi harus dinikahkan dengan orang yang semarga, termasuk ayah dan ibunya yang notabene sepupu. Dan sekarang saat ibunya membuat perjanjian untuk menikahkannya dengan gadis bermarga selain Uchiha, kakeknya ingin menilainya dengan parameter yang Sai sendiri sangsikan kelogisan dan keobjektifannya. Jadi intinya, kepulangan pecahan keluarga Uchiha itu adalah untuk mengawasi sekaligus sebagai hukuman karena telah memilih gadis diluar marga Uchiha.
'Cih! Uchiha atau bukan ternyata sama saja menyusahkannya. Liat aja ntar, apa lo bisa tahan ngadepin gue.'pikir Sai kesal.
.
.
.
"Perkenalkan, namaku Uchiha Sai, salam kenal." Sepertinya Sakura merasa deja vu dengan kalimat barusan. Dia tidak sedang berada di kediaman keluarga besar Uchiha, kan? Dia tidak sedang mengulang acara pertemuan tempo hari, kan? Lalu kenapa sekarang Sai berdiri di depan kelasnya? Bukannya seharusnya dia ada di Iwa? Jangan bilang dia pindah sekolah di sini...
"Aku pindahan dari Iwa. Mohon bantuan teman-teman semua." Sai membungkuk dalam-dalam.
Murid-murid kelas dua belas Utakata Gakuen mulai berbisik-bisik. Mungkin sebagian merasa aneh kenapa anak baru itu baru pindah saat ujian kelulusan akan dilaksanakan beberapa bulan lagi.
"Semuanya tenang! Jangan berisik atau nilai ujian kalian aku diskon lima puluh persen dari nilai semula!" semua langsung diam mendengar ancaman Orochimaru.
"Kau, murid baru! Cepat pilih tempat dudukmu!" perintah otoriter Orochimaru terdengar lagi. Sai mengedarkan pandang ke sekeliling kelas.
"Boleh saya duduk di sebelah anak jelek itu, sensei?" tanya Sai sambil menunjuk Sakura.
.
.
.
Sakura berusaha mengingat kesimpulan percakapannya dengan kakeknya tentang perjodohannya dengan Sai. Dia mengiyakannya dengan relatif mudah alias tanpa perlawanan. Sekarang yang Sakura inginkan hanyalah menjadikan pemuda bermuka datar itu sebagai sansak hidup setelah Sai mempermalukannya di kelas pagi tadi. Sakura mengacak-acak rambutnya sendiri dengan gemas. Untung saat ini waktunya istirahat, jadi tidak ada yang melihatnya melakukan hal yang aneh itu.
"Sudah selesai melamunnya, Sakura-san?" sebuah suara mengagetkan Sakura. Bosan rasanya Sakura melihat Sai dengan senyumnya yang seolah mengejek itu, tapi Sakura memilih tetap mempertahankan sopan santunnya.
"Ada apa, Sai-kun? Kau ada perlu denganku?" tanya Sakura berusaha tenang. Sebenarnya dalam hati ia berharap pemuda berwajah mulus ini tidak mencari gara-gara dengannya lagi.
"Forget the manner, miss cherry blossom. Disini gak ada orang laen, lo boleh maki gue sesuka lo kalo mau." Waow,rupanya Sai tidak ragu-ragu memperlihatkan warna aslinya kepada Sakura. Gadis yang menjadi lawan bicaranya itu hanya mengernyitkan dahi. 'Mau apa lagi dia.'pikir Sakura was-was.
"Gue cuma pengen ngasih tau ke lo, kalo gue gak minat jadi suami elo. Jadi gue harap, jangan pernah dateng lagi ke kediaman Uchiha, dan jangan lagi berurusan sama gue." Dengan wajah tenang dan dingin yang hanya dimiliki oleh setan, Sai meninggalkan ruang kelas dan Sakura yang termangu.
"Sai!" suara Sakura yang baru tersadar menggelegar di ruang kelas kosong itu. Dia langsung berlari dan meraih kerah baju Sai. Sai yang tidak siap hanya bisa bengong saat pipinya benar-benar dihantam kepalan tangan Sakura.
"Gue juga cuma pengen ngasih tau lo, kalo gue udah trima perjodohan itu. Gue gak akan mundur." Sakura mengatakannya dengan yakin setelah berhasil menguasai dirinya. Baginya Sai sudah menabuh genderang perang dengan menguji kesabarannya seperti ini. Dan dia akan memberi pelajaran yang menyakitkan untuk pemuda itu.
Sai yang baru sadar dengan apa yang terjadi hanya tersenyum mencemooh. "Pukulan lo gak sakit." Setelah mengatakannya, sang Uchiha itupun melenggang pergi.
Hari ini adalah hari yang panjang untuk Sakura. Gadis bermata hijau itu merasa tidak nyaman dengan Sai yang duduk di sampingnya dan bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa. Apa dia punya kelainan jiwa? Apa dia tidak capek memasang senyum palsu seperti itu? Besok Sakura mau pindah tempat duduk saja. Sakura melirik ke pemuda di sebelahnya. Tampak pipi Sai agak membiru akibat pukulannya, pasti sakit walaupun Sai mengatakan sebaliknya. Diam-diam Sakura merasa bersalah, harusnya dia tidak secepat itu menghajar Sai. Bagaimanapun menjadi istri yang abusif bukanlah cita-cita Sakura.
"Pipi lo sakit gak?" tanya Sakura. Sai menoleh pada Sakura, kemudian menunduk untuk menyembunyikan memar di pipinya. "Menurut lo?" kali ini Sai menatap Sakura penuh arti. Artinya kira-kira adalah 'lo kira-kira dong kalau mukul.' Sakura menggigit bibirnya, secara refleks tangannya terangkat untuk menyentuh memar di pipi Sai.
"Gue gak nyangka lo agresif juga ya, Sakura." sontak seisi kelas menoleh akibat suara Sai yang cukup keras itu. Sementara tangan Sakura masih tertahan pada posisinya yang seolah ingin membelai pipi Sai.
Pink, ah bukan, merah adalah warna wajah seorang Haruno Sakura sekarang. Hinata yang melihat adegan itu hanya tersenyum senang. 'Ah, ternyata ada teman.' pikir Hinata polos.
Pelajaran pertama dalam perang, Sakura : jangan –jangan pernah- mengasihani musuhmu.
.
.
.
Setelah melewati serangkaian kejadian memalukan, akhirnya sekolah berakhir juga. *Sakura tobat*
Para murid Utakata Gakuen berhamburan keluar dari kelas masing-masing dengan hati senang. Tapi Sakura melangkahkan kaki dengan lesu mengingat dia harus kerja sampingan di cafe milik Kiba sore nanti. Berarti dia hanya punya waktu satu jam untuk membereskan rumah. Memasak untuk makan pagi, siang, sekaligus malam sudah dilakukannya pukul empat pagi tadi. *mana bisa begitu?*
Sakura sengaja memasak makanan yang kering agar bisa dimakan untuk tiga waktu sekaligus, karena dia tidak akan sempat memasak untuk makan malam. Biasanya ibunyalah yang membuat sarapan sekaligus makan siang untuk Sakura dan Jiraiya dengan bangun pagi-pagi sekali, lalu barulah dia pergi bekerja. Sedangkan tugas Sakura adalah membersihkan rumah, mencuci baju, dan memasak makan malam setelah dia pulang sekolah. Sekarang setelah dia diterima bekerja sambilan di cafe Kiba mana bisa dia melakukan pekerjaan rumah tangga seperti dulu?
Sakura tahu bahwa sebenarnya dia bisa saja menolak tawaran Kiba dan menggantungkan masalah finansialnya pada Jiraiya. Kalau hanya untuk menghidupi dirinya dan Sakura, Jiraiya yang bekerja sebagai guru pasti akan kesulitan. Tapi setelah kematian Satsuki, Sakura tidak mau merepotkan kakeknya. Kematian Satsuki telah membuat Sakura berpikir, yang dimilikinya sekarang hanya Jiraiya. Kalau terjadi apa-apa pada Jiraiya, mau jadi apa dia? Untuk itulah Sakura bertekad kalau dia harus bisa berdiri sendiri. Dia ingin sebisa mungkin membantu kakeknya bekerja walaupun kegiatan ekstrakulikuler dan waktu luangnya terpakai untuk bekerja.
"Yosh! Ganbatte, Saku-chan!" Sakura menyemangati dirinya sendiri.
"Imouto, yuhuuu!" seorang lelaki muda kira-kira berusia awal dua puluh tahunan melambaikan tangannya pada Sakura. Gadis pink itu menoleh ke belakangnya. Tidak ada anak perempuan yang merespon panggilan pemuda itu, dan jelas-jelas pemuda itu melambai ke arah dirinya. Sakura mununjuk dirinya sendiri, 'Gue?'. Pemuda itu mengangguk, kemudian berjalan mendekati gadis itu.
"Kau yang bernama Haruno Sakura, kan?" tanya pemuda itu. Sakura mengangguk.
"Aku Uchiha Itachi, kakak Sai."
Sakura langsung membungkuk hormat pada Itachi dan tersenyum manis. "Apakah Itachi-san datang untuk menjemput Sai?"
"Bukan, tapi aku datang untuk menjemputmu. Ayah dan ibu merasa bersalah karena 'insiden' saat kau dan kakekmu datang berkunjung tempo hari. Anggap saja sekarang aku datang sebagai perwakilan untuk meminta maaf padamu dan membelikanmu hadiah, Saku-chan. Boleh aku panggil Saku-chan, kan?" lagi-lagi Itachi memamerkan senyum malaikatnya. Terus terang Sakura bukanlah termasuk gadis yang imun terhadap pesona senyum Itachi, jadi dia sempat bengong sejenak sebelum bisa mencerna kata-kata calon kakak iparnya itu.
"Eh...ano...aku rasa Itachi-san tidak perlu repot-repot. Insiden itu juga adalah salahku. Lagipula sebentar lagi aku harus bekerja, Itachi-san."
Itachi menepuk pundak Sakura dengan mantap. "Aku tidak menerima jawaban tidak."
.
.
.
"Apa?" Kiba bertanya untuk memastikan kupingnya tidak salah dengar.
"Udah gue bilang tadi, un. Gue dateng buat ngegantikan Haruno Sakura kerja hari ini, un." Sebenarnya Deidara malas berurusan dengan bocah bertato segitiga merah pemilik cafe ini. Tapi mau bagaimana lagi? Ini rencana Itachi untuk bisa mendekati Sakura dan menjalankan tahap awal rencana mereka.
"Lo yakin?" Kiba memastikan lagi.
"Yakin seratus persen, un!" Dan persentase keyakinan Deidara langsung drop menjadi nol koma nol nol nol tujuh persen begitu melihat seragam maid yang disodorkan Kiba.
"Pake ini."
Sore itu, Blossom cafe, tempat dimana Sakura seharusnya bekerja hari ini, menjadi lebih ramai dari biasanya berkat maid ber-apron renda-renda kuning yang cantik. Sesekali maid itu tersenyum kikuk saat menghadapi beberapa pelanggan cafe yang kebanyakan adalah remaja laki-laki.
'Pulang dari sini, gue bakal bunuh elo, Itachiiiii!' batin Deidara sambil menggigiti apronnya.
.
.
.
Sinar matahari yang cerah menerobos jendela kamar Sakura. Sayup-sayup terdengar suara burung-burung mewarnai udara pagi. Jalan-jalan terlihat lebih hidup dengan orang yang berlalu-lalang maupun bersepeda bersama di Sabtu yang cerah ini. Sementara orang-orang sibuk memulai harinya dengan santai, Sakura malah tetap bangun sebelum matahari terbit dan melakukan pekerjaan rumah.
Menyapu dan mengepel, beres. Mencuci, sudah. Memasak dan membersihkan kamar mandi, mengambil koran pagi, menyiram bunga, memberi makanan kodok-kodok kesayangan Jiraiya, me- ah, sudahlah. Kesimpulannya Sakura telah melakukan pekerjaan rumah dengan sempurna, perfect, dan super sekali. *nyontek kata-katanya pak Mario Teguh*
Sekarang Sakura malah terpaku di depan cermin, termenung memikirkan kata-kata Itachi saat dia datang ke Utakata Gakuen beberapa hari yang lalu.
'Dandanlah yang manis hari Sabtu nanti, aku akan mengatur kencan untukmu dan adikku. Dengan sifat Sai yang tidak kooperatif itu, aku ragu hubungan kalian akan mengalami kemajuan. Sebagai kakak yang baik, aku pasti dengan senang hati membantu kalian. Kau mau kan?' Itachi tersenyum manis.
Sakura menarik nafas panjang. 'Berdandan yang manis tu kaya gimana?' tanyanya dalam hati. Selama ini Sakura termasuk gadis yang jarang berdandan atau 'memanipulasi' penampilannya. Jadi dia menyerahkan urusan berdandan pada ibu atau Ino.
Akhirnya setelah berkutat dengan baju-baju di lemari dan dengan pikirannya sendiri, Sakura memutuskan memakai sebuah baju terusan selutut berwarna peach dan menguncir miring rambutnya. Terakhir, Sakura yang clueless menterjemahkan frase 'berdandan yang manis' dari Itachi, hanya menyambar sepasang sepatu flat berwarna sama dengan baju terusan yang ia pakai ketika ia akan turun.
"Kau mau kemana, Saku-chan? Pagi-pagi begini sudah terburu-buru?" tanya Jiraiya yang sedang menimang salah satu kodoknya.
"Aku mau pergi..errr..kencan, kek. Dengan Sai." Sakura merasa janggal saat mengatakannya. Bukan karena dia tidak pernah berkencan sebelumnya. Tentu saja dia pernah berkencan. Tapi yang membuatnya aneh adalah dengan siapa dia akan kencan sekarang.
Jiraiya menangkupkan kedua telapak tangannya. "Benarkah, Saku-chan?" tanyanya dengan gembira. "Aku senang kau melaksanakan janjimu dengan serius. Oh, Tsunade, ternyata cucu kita sudah dewasa. Dia tumbuh menjadi bunga sakura yang cantik dan bla bla bla..." Jiraiya yang sudah tertular virus yang dibawa ayah Ichigo Kurosaki mulai melantur dan tidak menyadari kalau Sakura sudah pergi dari hadapannya.
Sebuah mobil sport dengan plat nomor Iwa *Itachi males ngurus plat baru di kepolisian Konoha* menghampiri Sakura yang berdiri di depan rumahnya. Satu per satu penumpang mobil itu keluar menemui Sakura.
"Oi, Itachi, ngapain kita ke sini? Lo bilang kita mau ke rumah sakit jenguk kakek Madara?" tanya Sai. Matanya langsung men-death glare Itachi dan Deidara.
"Lo jangan ngomong sembarangan, un. Kakek Madara tu sehat-sehat aja, un. Kualat lo nanti, un." Deidara cengar-cengir saat mengatakan hal ini. Mulut Sai yang terbuka untuk menyemburkan protes langsung tertutup lagi saat dia sadar dia telah ditipu mentah-mentah oleh Itachi dan teman blondenya. Alis Sai bertaut, dahinya berkerut dan mukanya cemberut saat matanya beralih kepada Sakura. 'Pasti gara-gara mau nyomblangin gue sama cewek ini lagi...'
"Udah, lo gak usah marah ke Sakura. Gue yang ngajak dia buat pergi sama kita." Kata Itachi kepada Sai yang mulai marah. Heran, kenapa adiknya itu anti sekali kepada gadis ini?
"Iya, un. Lo jangan kaya anak kecil gitu di depan cewek cakep, malu-maluin aja, un." kata Deidara sambil memasang tampang sok dewasanya demi memarahi Sai.
"Ngomong-ngomong kita belum kenalan. Nama gue Deidara, salam kenal, un." kata Deidara sambil memasang senyum bad boy-nya. Tanpa disadari, pipi Sakura langsung berubah pink karena senyum Deidara tadi menurutnya super kawaiiiiiiiii. Kemarin Itachi, sekarang Deidara. Ah, indahnya dunia yang dipenuhi cowok-cowok cakep.
"Kayanya ada yang terpesona sama lo, Dei." Sai langsung berkata sinis. "Kalo lo suka, kencan aja sama si blonde ini."
Hampir saja emosi Sakura terpancing dengan provokasi Sai. Tapi dia memutuskan akan menyimpan energinya karena hari ini masih panjang. Dan pergi kencan dengan Sai pasti akan membuat hari ini terasa lebih panjang lagi. Jadi Sakura mengalihkan perhatiannya pada Itachi.
"Itachi-san, hari ini kita akan pergi kemana?" tanyanya lembut. Pertanyaan yang cukup aneh mengingat yang pergi kencan adalah Sakura dan Sai.
"Kita akan pergi ke Konoha Land." Jawab Itachi bersemangat.
"Eh? Kenapa Konoha Land?" tanya Sakura heran.
"Karena kita belum pernah ke sana, un!" jawab Deidara bersemangat.
Sebenarnya ini acara kencan Sai dan Sakura, apa menemani Deidara bermain sih?
.
.
.
Selamat datang di Konoha Land. Kalimat itulah yang dilihat oleh Sai saat pertama kali masuk ke area wahana bermain itu. *standar amat yak*
Sai masih tidak percaya dirinya bisa diperdayai semudah itu oleh Aniki dan barbie versi laki-laki itu *Deidara nyiapin C4-nya*. Sejak masih di dalam mobil dia sudah berpikir bagaimana dia bisa lepas dari ketiga orang itu. Mau pura-pura pipis lalu kabur? Ini bukan Sasuke yang mau dibohongi. Mau loncat dari mobil? Makasih deh.
Jadi disinilah dia, terjebak bersama makhluk biru, pink, dan kuning. Tinggal mencari makhluk berwarna merah saja dan, eureka! Mereka bisa jadi power rangers. Sai menghela nafas saat mereka membayar di loket untuk mendapatkan kartu prepaid studio pass.
And the adventure begins...
Konoha Land adalah wahana bermain terbesar di Konoha, karena cuma ada satu wahana bermain di Konoha *ditendang pemkot Konoha*. Walaupun begitu, warga Konoha boleh berbangga dengan wahana bermain milik mereka ini, karena Konoha Land juga wahana bermain terbesar dan terlengkap di lima negara. Sayangnya hanya Itachi, Deidara, dan Sakura saja yang antusias dan berniat mencoba semua permainan yang ada di sana –which means cuma Sai yang gak minat.
Sakura sebagai penduduk asli Konoha dengan senang hati menempatkan diri sebagai guide. Dia menjelaskan mana permainan yang asyik yang ada di peta. Sementara Itachi dan Deidara –yang seharusnya menyusun skenario kencan pertamanya dengan Sai- malah hampir melupakan Sai.
Sudah hampir tiga jam mereka mencoba permainan-permainan di Konoha Land, dan urat-urat kesabaran Sai hampir putus dibuatnya.
"Gue mau naik Sky Bike, un!" Deidara berseru norak.
"Lo gak asik, ah. Cari yang lebih menantang, kek. Gue mau naik twister aja."jawab Itachi sambil meminum minuman kalengnya.
"Gak mau, un. Dari tadi tuh elo yang milih permainannya, un. Pokoknya gue mau Sky Bike, un un un!" Deidara maksa, sikapnya yang seperti anak kecil membuat Itachi berpikir jangan-jangan Deidara kerasukan Sasuke.
"Oei, Dei! Sky Bike di Iwa sih ada, gak usah jauh-jauh ke Konoha. Lebih menantang naik Twister."
"Ogah, un."
"Gue yang ogah naik Sky Bike."
"Ya udah lo pergi sono sendiri, un."
"Penakut lo."
"Bilang penakut sekali lagi gue cium lo." Deidara setengah berteriak. Itachi langsung menyemburkan coke yang akan masuk ke tenggorokannya, sementara Sakura cuma cekikikan melihat reaksi Itachi.
Sai yang sudah putus urat sabarnya dan yang masih utuh urat malunya langsung menarik tangan Sakura menjauh dari kedua orang itu.
"Eh, kita mau ke mana?" tanya Sakura yang terkejut pada sikap Sai. Deidara dan Itachi yang lupa tujuan semula datang ke sini langsung ingat bahwa ini adalah kencan Sai dan Sakura.
"Ini kencan kita kan?" tegas Sai. Matanya melirik tajam kedua orang pria yang sekarang bengong. "Dan kita gak perlu mereka buat nemenin kita kencan. Ayo pergi, Sakura." Setelah mengatakannya, Sai kembali menarik Sakura dan setengah memaksanya pergi.
Deidara yang tersadar duluan dari bengongnya lansung berlari dan memeluk Sai.
"Akhirnya lo dewasa juga, uuuun!" seru Deidara sambil memeluk-meluk Sai.
"Oi! Lep-lepasin gue!" seru Sai sambil susah payah melepaskan diri dari pelukan Deidara. Kenapa sih, orang ini sering bersikap berlebihan? Diam-diam Sai berdoa agar Itachi segera memulangkan Deidara ke Iwa.
Setelah lepas dari pelukan Deidara, akhirnya Sai benar-benar berhasil membawa Sakura pergi dengan menarik paksa salah satu tangan Sakura. Sebenarnya Sai agak menyesal karena telah bersikap kasar seperti ini kepada seorang gadis. Tapi Sai hanya bisa tertawa dalam hati. 'Lo udah bersikap kasar sejak pertama kali kalian bertemu. Sejak kapan lo peduli, Sai?'tanyanya sinis pada dirinya sendiri.
"Kita mau maen apa?" tanya Sakura. Diam-diam dia melirik tangannya yang tetap digenggam oleh Sai. Mungkin dia tidak sadar tangannya masih menggenggam tangan Sakura.
"Siapa bilang kita mau main? Kita pulang, tau." Kata Sai dengan lebih kalem kali ini.
"Apa? Gue gak mau pulang. Gue mau main." Serta-merta Sakura berhenti berjalan.
"Lo nggak punya pilihan. Kita pulang sekarang." Waduh, belum jadi suami saja Sai sudah otoriter seperti ini, apalagi nanti. Tapi bukan Sakura namanya kalau menyerah pada Sai.
"Lo yang nggak punya pilihan. Gue mau main." Kali ini giliran Sakura yang menarik tangan Sai tanpa mempedulikan pendapat pemuda itu.
Ternyata Sakura memiliki kesamaaan yang mendasar dengan Itachi dan Deidara : sama-sama gilanya! Sakura benar-benar berniat mencoba setiap permainan di Konoha Land. Sai tidak habis pikir, calon istrinya itu kan tinggal di Konoha, seharusnya dia tidak usah se-excited ini kan?
Satu hal yang tidak diketahui Sai, sebenarnya alasan Sakura bersikeras bermain bukanlah karena permainan di Konoha Land, tapi ekspresi di muka Sai yang benar-benar kusut itulah yang membuat Sakura bertahan. Diam-diam Sakura mencatat tingkat kekesalan Sai di papan skor imajinernya. 'Fufufufufu..' tawa (setan) Sakura dalam hati.
"Saaaaiiiii! Ayo kita naik iniiii." Seru Sakura sambil melambai dengan riangnya kepada Sai yang tertinggal beberapa langkah darinya. Sementara pemuda yang dia panggil memasang wajah 'elo-pasti-bercanda' tatkala melihat pemandangan di belakang Sakura.
Di belakang Sakura berdiri menjulang roller coaster terpanjang dan tertinggi yang seumur-umur baru dilihatnya. Roller coaster itu memiliki tiga track bayangan, sembilan belokan tajam , luncuran vertikal delapan puluh derajat dan berkecepatan seratus mil perjamnya. *author bener-bener ngarang*
Kalkulator di otak Sai menghitung dengan cepat kemungkinan apa yang akan terjadi padanya saat menaiki roller coaster itu : muntah, pingsan atau mati di tempat. Yup, Sai tahu jawabannya. Mati.
Sakura mengira bahwa Sai akan menolaknya mati-matian saat Sakura mengajaknya naik roller coaster mengerikan ini. Itachi kan bilang kalau Sai paling benci dengan roller coaster. Kalau begitu apakah Sakura akan mengurungkan naik roller coaster in? Tentu saja Sakura akan semakin memaksa Sai untuk naik. * teehee :p *
Antrean mereka semakin lama semakin dekat. Di luar perkiraan Sakura, Sai malah bersikap manis dengan memasangkan sabuk pengaman milik Sakura, ditambah dengan ekstra senyum yang menjadi trade marknya. Tiba-tiba Sai seperti teringat sesuatu. Dia mundur dan mengatakan sesuatu ke petugas roller coaster. Dan hal terakhir yang dilihat Sakura sebelum roller coaster meluncur adalah Sai yang lari ke pintu keluar.
.
.
.
"KYAAAAAAAAAAA!" teriakan-teriakan para penumpang roller coaster (?) yang merasa takut sekaligus senang terdengar mengerikan di telinga Sai. Pasti saat ini Sakura juga sedang menikmati permainan gila yang katanya menantang adrenalin atau apalah itu. Atau mungkin dia sedang berteriak-teriak melampiaskan kekesalannya karena Sai secara pengecut kabur saat menemaninya. Masa bodoh. Yang penting Sai sudah terbebas dari aniki dan sahabatnya yang autis, dan paling penting dia bebas dari Sakura.
Langkah kaki Sai terasa sangat ringan. Sekarang tidak ada lagi alasan baginya untuk tinggal di wahana bermain ini. Tujuan utamanya tidak lain dan tidak bukan adalah pintu keluar Konoha Land. Dengan kondisinya sebagai orang baru di kota ini, Sai masih belum hapal jalan-jalan di Konoha. Ditambah lagi Itachi-lah yang menguasai mobil. Gampang, tinggal minta Shisui-nii san menjemputnya saja. Beres kan?
Tangan Sai merogoh saku celananya untuk mengambil handphone. Kantong yang kiri, kantong yang kanan...kok gak ada? Terus, dompetnya kok ikut-ikutan hilang? Keringat mengucur di dahi Sai. Dirogohnya lagi kantong celananya, bajunya, sepatunya (?), dilihatnya sekeliling siapa tahu dompet dan handphonenya jatuh. Hasilnya nihil. Barang-barangnya positif hilang. "Aaaarrgh, pada kemana barang-barang gue?" teriaknya frustasi.
.
.
.
"Woooo, adik lo parah, Itachi. Dompet ama handphonenya ngebosenin abis, un. Katanya seniman, un." kata Deidara sambil membuka-buka barang-barang pribadi milik Sai dengan lancangnya. Untuk kedua kalinya dalam hari ini Itachi menyemburkan minuman yang hampir ditelannya. Dasar Uchiha jorok. *ditendang*
"Kenapa barang-barang adik gue ada di lo? Elo nyopet, Dei?" semprot Itachi. Tangannya menyambar handphone dan dompet yang masih diobok-obok Deidara. Deidara manyun.
"Gue gak nyopet, un. Ini cuma sebagai jaminan aja biar Sai gak ninggalin Sakura setelah dia pisah sama kita, un."
Kata-kata Itachi menyadarkan Itachi, adiknya itu kan sama liciknya dengan dia. *digampar* "Lo pinter juga ya, Dei. Tapi kapan lo ngambil barang-barang otouto gue?"
"Tadi waktu gue peluk dia, un." kata Deidara cuek. Sementara Itachi yang mendengarnya langsung bergidik. Dia baru tahu kalau sahabatnya jago copet.
Itachi kembali menekuni *ceilah* minumannya saat sebuah pemikiran mengusiknya "Dei. gimana kalo dia baru nyadar barang-barangnya ilang setelah dia keluar dari sini?"
Checkmate. Kemungkinan itu baru terpikir oleh Deidara sekarang. Kalau Sai sudah di luar Konoha Land, Sai yang tanpa apa-apa tidak bisa kemana-mana. Kalau dia diculik seniman gila pembuat boneka manusia bagaimana? *dicekik Sasori*
"Etto..." gumam Deidara tidak jelas.
.
.
.
Semuanya berputar, dan mulut Sakura terasa asin akibat isi perutnya yang masih belum stabil. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya sebagai warga Konoha yang baik, Sakura merasa dikerjai habis-habisan oleh wahana andalan Konoha Land, dan dia merasa marah. Langkah kaki Sakura agak terhuyung sampai-sampai dia harus berpegangan pada tiang lampu untuk menopang tubuhnya. Rambutnya masih terkuncir tapi anak rambutnya kemana-mana, awut-awutan seperti emosi yang dia rasakan.
"Did you have fun, miss cherry blossom?" suara bass yang mulai dihapal otak Sakura terdengar dari arah belakang. Anggap saja Sai masih beruntung karena sadar barang-barangnya hilang sebelum dia keluar Konoha Land.
Sakura menoleh dengan cepat, hanya untuk melihat Sai yang bersandar santai pada tiang lampu dengan senyum sinisnya.
"You-are-so-dead!" desis Sakura. Dia berusaha memberikan death glare terbaiknya. Tapi siapa yang akan terintimidasi dengan tatapan seorang gadis dengan berwajah seperti orang sakit?
Sai men-death glare Sakura, Sakura men-death glare Sai. Siapa yang akan berkedip terlebih dulu? *ditampol berjamaah*
Tapi ternyata Sakura-lah yang pertama kalinya mengalah. Gadis itu menyembunyikan wajahnya dengan menunduk. Bahunya tampak bergetar menahan emosi. Mulanya Sai mengira kalau gadis itu akan kembali berteriak-teriak meluapkan kekesalannya pada Sai, tapi Sai salah. Bulir-bulir air mata mulai berjatuhan di pipi Sakura, sedangkan mata Sakura tetap tersembunyi karena wajahnya terus menunduk. O-ow, bukan pertanda baik.
"Oi, Sakura..." panggil Sai cemas. Orang-orang mulai melirik dan sebagian ada yang berbisik-bisik. Dari sudut pandang mereka, Sakura tampak sebagai gadis yang sedang dikecewakan oleh kekasihnya. *emang*
"Oi, lo beneran nangis?" pertanyaan Sai terdengar bodoh. Orang-orang yang lewat berbisik-bisik dan memasang wajah tidak suka melihat Sai. Sementara Sakura tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti menangis. Sai mulai panik. Disentuhnya tangan Sakura dan diguncangnya pelan. "Lo jangan nangis dong. Oi, Sakura..." Sai menelan ludah dengan gugup. Menghadapi gadis yang sedang menangis bukanlah bidangnya. Selama ini dia tidak pernah menghadapi gadis yang sedang menangis, lebih tepatnya dia tidak pernah menghadapi seorang gadis pun. Oh, masa muda yang sia-sia...
Bahu Sakura malah berguncang makin keras, dengan susah payah tangannya berusaha menghapus air mata yang semakin deras mengalir. "Lo jahat...ninggalin gue sendirian..."bisiknya. "Kalo lo gak mau kencan sama gue...lo bilang aja...gak usah bikin kesel gue kaya gini..." sambungnya lagi. Oke. Adegan tadi mirip sekali dengan drama-drama picisan yang sering ditonton ibu-ibu di rumah. Tapi Sai yang menghadapi kejadian ini malah gelagapan. Secara refleks diraihnya tangan Sakura lalu ditariknya mendekat. Dihapusnya air mata di pipi Sakura. "Gue gak ada maksud bikin lo nangis, gue minta-" ucapan Sai berhenti. Dibuangnya tangan Sakura dan Sai langsung mundur.
Sakura tidak dapat menahan tawanya. Air matanya masih mengalir, tapi kali ini karena dia menertawakan kebodohan Sai.
.
.
.
Langit sore yang berwarna jingga tampak cantik saat bianglala yang dinaiki Sai dan Sakura mulai berputar. Lampu-lampu di Konoha Land mulai dinyalakan, begitu juga dengan lampu-lampu di segala penjuru kota. Cahayanya memantul di permukaan air danau yang ada di dekat wahana bermain itu. Bintang-bintang bermunculan. Kelip cahaya terlihat di mana-mana. Malam yang sempurna dan romantis bagi orang-orang yang ingin menikmati week end bersama kekasihnya.
"Gue gak nyangka elo percaya gue nangis beneran tadi. Lo catet ya, gue jarang nangis. Apalagi cuma buat cowok yang ninggalin gue secara pengecut gara-gara dia takut naik roller coaster." kata Sakura dengan pedas.
Sai mengangkat bahu. "Lo gak perlu ngasih tau hal gak penting kaya gitu ke gue."
"Harus. Gue akan nikah sama elo. Kita harus saling kenal satu sama lain, suka atau nggak."kata Sakura keras kepala.
Lawan bicaranya hanya mendecih tanpa membuat kontak mata dengannya. Pemuda itu malah sibuk bertopang dagu dan memandang lampu-lampu kota di bawah langit yang mulai menghitam.
"Kenapa lo terima perjodohan bodoh ini?" tanya Sai tetap tanpa menatap Sakura. Dia mendengar gadis itu menarik napas panjang sebelum menjawab. "Ibu gue yang nyuruh."
Sai tergelak mendengar jawaban itu. "Dasar cewek aneh. Kenapa lo mau? Kita gak saling kenal. Terlalu naif kalau lo pikir pernikahan macam ini akan sukses."
"Jadi konsep pernikahan macam apa yang menurut lo akan sukses?"tantang Sakura.
Lagi-lagi Sai cuma mengangkat bahu. "Gue bukan orang yang tepat buat ngasih jawaban ke elo. Tapi liat aja, pernikahan yang didasari cinta dan pilihan sendiri aja banyak yang bubar jalan. Apalagi pernikahan atas dasar paksaan."
"Jadi itu yang membuat elo gak mau nerima gue?"
"Bukan."
Sakura mengernyitkan dahinya. "Kalau gitu, alasan elo apa?"
Kali ini Sai menatap Sakura dengan tajam. "Alasannya adalah : gara-gara elo keluarga gue dipaksa pindah kesini, gara-gara elo gue dipindahin dari sekolah lama gue di tahun terakhir. Dan yang paling utama, gara-gara elo hidup gue diatur-atur." Sai mengatakan jawabannya tanpa basa-basi.
"Hidup gue adalah milik gue, gak boleh ada yang ikut campur dan seenaknya nentuin apa yang harus gue lakukan, termasuk masalah dengan siapa gue hidup nantinya." Oh, really, Sai?
"Termasuk buat ibu yang elo cintai?"tanya Sakura lirih.
Sai hanya tersenyum masam.
Bianglala terus berputar hingga putaran terakhirnya. Percakapan Sai dan Sakura sudah sejak lama berakhir. Dua-duanya sama-sama tenggelam dalam pikirannya masing-masing dan mengabaikan keberadaan yang lainnya.
Konoha Land masih akan tetap buka sampai tengah malam nanti, tapi Itachi dan rombongannya menganggap ini sudah saatnya memulangkan Sakura ke rumahnya.
Sepanjang jalan menuju rumah Haruno, tidak seperti pagi tadi, suasana di dalam mobil Itachi sangat sunyi. Sakura memikirkan kata-kata Sai saat di bianglala. Deidara yang melihat raut wajah Sakura dan Sai tahu kalau rencana kencan ini sudah gagal. Itachi berpikiran sama dengan Deidara. Dan Sai berpikir kalau...yah...siapa yang tahu apa yang dia pikirkan? *untuk kesekian kalinya author digaplok*
Akhirnya setelah perjalanan pulang yang sesunyi kuburan, mereka tiba juga di rumah Sakura. Sakura memaksakan senyum ke arah Itachi, Deidara dan Sai yang mengantarkannya sampai ke depan rumah.
"Terima kasih minna-san. Hari ini menyenangkan sekali." Sakura mengatakannya sambil tertawa kecil. Kalau ada orang lain yang mendengar kalimat Sakura barusan, bisa-bisa orang itu mengira Sakura berkencan dengan tiga orang sekaligus.
Itachi dan Deidara hanya tersenyum kikuk, mereka agak merasa bersalah pada Sakura. Itachi menjabat tangan Sakura sambil berbisik 'Gomen ne.'
Sakura menggeleng. Setidaknya dengan keberadaan Itachi dan Deidara, hari ini sedikit lebih menyenangkan. Itu lebih dari cukup. Mengingat keberadaan Sai yang setengah hati berkencan dengannya, apa yang dia harapkan, iya, kan, Sakura?
Sakura memandang punggung Sai yang berjalan menjauh darinya setelah mereka semua berpamitan.
'Kenapa lo terima perjodohan bodoh ini?' tanya Sai.
'Kalau kau dan putra Mikoto-Nee menikah, kita semua benar-benar akan menjadi keluarga yang bahagia kan, Sakura?'
Dan kata-kata ibunya membuat Sakura tersentak.
"Sai!" panggil Sakura tiba-tiba. Sai menghentikan gerakannya yang akan membuka pintu mobil. Dilihatnya gadis itu berlari ke arahnya. Dan tanpa dia sangka, Sakura meraih pergelangan tangannya. Dahi Sai berkerut. Ekspresi gadis yang sejak semula dikenalnya suka marah-marah itu mendadak priceless di matanya. Dia seperti menghadapi seorang gadis kecil yang ingin menyampaikan sesuatu.
"Ka-kalau kita menikah, kita semua benar-benar akan menjadi keluarga yang bahagia kan, Sai? Ibumu dan ibuku juga akan menjadi keluarga yang sebenarnya kan?" Sai sedang berpikir apakah ini salah satu trik Sakura lagi. Entah metode akting macam apa yang dia pakai. Tapi yang pasti, di mata Sai, Sakura tampak benar-benar tulus. Matanya benar-benar terlihat sedih saat mengatakan kalimatnya barusan. Tapi siang tadi dia tidak melihat Sai, dia tidak menatap mata Sai dengan penuh determinasi seperti ini. Jadi...apa benar dia sedang berakting?
.
.
.
Semua lampu kamar dan ruangan di kediaman besar Uchiha telah dimatikan di malam itu, kecuali satu. Seperti malam beberapa hari sebelumnya, Sai masih belum bisa memejamkan matanya. Kalau ini dibiarkan terus-terusan bisa-bisa mata Sai punya lingkar hitam seperti mata Gaara.
Tangan Sai masih asyik mencoret-coret sketsa wajah seorang gadis. Dengan mata hijau jernih yang besar, gadis itu menatapnya dengan determinasi sekaligus ketulusan. Sai sudah mencoba mencopy ekspresi gadis itu sejak dia tiba di rumahnya tadi. Tapi selalu saja ada yang kurang. Apa ya? Apakah karena jidatnya kurang lebar? *digantung terbalik sama Sakura* Apa pipinya kurang bulat? Apa bibirnya kurang tipis? Tapi bibirnya sudah pas, kok. Bibirnya sudah cukup sensu- PLAK! Tangan Sai tanpa sadar menampar pipinya sendiri. 'Kenapa gue jadi mesum gini?'pikirnya kesal. Dicoretnya sketsa yang sudah susah payah dibuatnya itu kemudian diremasnya tanpa ampun.
Dengan rasa penasaran, Sai mencoba membuat sketsa gadis yang sama. Sejurus kemudian dia kembali asyik tenggelam dalam konsentrasinya mencopy ekspresi wajah sang gadis. Lagi-lagi Sai merasa ada yang kurang. Dahinya berkerut saat mata gelapnya menyapu lukisan miss cherry blossom yang sering diejeknya itu.
'Kalau dipikir-pikir, dandanannya tadi lumayan. Dibanding waktu dia pake kimono gak jelas waktu itu, dia lebih lucu di sini.'batinnya tanpa sadar. Sai kembali mencorat-coret lukisan yang ia buat, berharap dia dapat menyempurnakannya. Sai merasa dia kembali ke masa lalu lagi, saat dia dengan susah payah berusaha memindahkan objek dan ekspresinya ke dalam lukisannya. Tapi tetap, masih, dan selalu saja ada yang kurang dari lukisan yang ia buat kali ini. Tapi apa? Apa rona di pipinya kurang terang? Apa matanya kurang ekspresif? Apa bibirnya yang menggoda itu kurang-PLAKK! Lagi-lagi tangan Sai dengan lancang menampar pipi majikannya sendiri.
"Cukup, Sai! Lo tidur sekarang." serunya kesal pada dirinya sendiri.
.
.
.
~To Be Continued~
Grell sutcliff : *nodongin gergajinya*
Author : G-Grell-kun...tu-turunin death scythe-nya donx...
Grell sutcliff : nggak bisa! Kenapa chapter dua bisa hancur seperti iniiiiii? *guncang-guncang bahu author ampe author tepar*
Author : go-gomen neeeeee *mewek lagi*
Grell sutcliff : gak mau tau! Pokoknya perbaikiiiii!
Author : i-iya deh, tapi death scythe-nya singkirin dulu dong
Grell sutcliff : oke deh, tolong review ya, minna-chaaaaan *kiss bye*
Author : onegaiiiiii
