"Hwanhee-yaa"

"Oh, Wooshin hyung. Ada apa?"

"kau lihat Xiao? Sejak kemarin malam ia tidak pulang kerumah"

"hah? Bagaimana bisa? Ia selalu masuk sekolah kok hyung"

"dia masuk? Syukur lah. Apa kau tau dia dimana sekarang?"

"biasanya jam segini, ia sedang berada di atap sekolah bersama Kogyeol hyung" Hwanhee menatap sebentar jam tangannya lalu kembali menatap Wooshin yang khawatir tentang adiknya.

"arraseo, gomawo Hwanhee-ya" Wooshin menepuk pundak Hwanhee ramah sambil berlari ke arah atap sekolah.

"nde hyung! Hati-hati!" teriak Hwanhee yang dijawab acungan jempol oleh Wooshin.

Wooshin melangkahkan kakinya cepat ke arah atap sekolah untuk menemui adiknya yang tidak pulang ke rumah setelah insiden amukan ayahnya waktu itu.

Flashback

"Xiao... siapa dia?" tanya tuan Kim pada anaknya yang sedang bergandengan mesra dengan namja lain. Dengan cepat Xiao melepas genggamannya pada tangan namja disampingnya. "D-dia..."

"JAWAB AYAH DENGAN JUJUR!"

Xiao menunduk saat ayahnya membentaknya kasar, "aku pacarnya Xiao, samcheon" jawab namja disamping Xiao dengan lantang tanpa takut sedikitpun. Tuan Kim menatap namja tinggi itu dengan pandangan mata menyalang. "Dasar anak kurang ajar! Beraninya kau membuat anakku menjadi tidak normal hah?!" geram Tuan Kim langsung menampar wajah namja tinggi itu kasar.

"K-kogyeol-hyung!" teriak Xiao panik melihat darah keluar dari sela bibir Kogyeol. Kogyeol mengusap bibirnya dan melihat darah di jarinya, kemudian dia hanya berdecak pelan "wae samcheon? aku mencintainya dan dia juga mencintaiku. Apa kah salah?"

Tuan Kim makin geram dibuatnya, "Tentu saja salah! Kalian berdua sesama namja. Apa tidak malu?!" Kogyeol menggenggam tangan Xiao yang sedang ketakutan dengan erat "Samcheon, bukankah samcheon juga mencintai Kim ahjumma. Bayangkan saja bagaimana jika Kim ahjumma adalah namja. Tetapi samcheon sudah sangat mencintainya. Apa samcheon akan melepaskan Kim ahjumma yang juga mencintai samcheon, HANYA KARENA MASALAH SESAMA JENIS?" Kogyeol menekankan suaranya diakhir kalimatnya.

"terserah kau, sebaiknya kalian berdua pergi dari rumah ini." Tuan Kim mengurut dahinya pening sambil berjalan memasuki rumahnya dengan pelan.

"a-appa" panggil Xiao dengan suara bergetarnya. "Kita bicarakan nanti, biarkan aku beristirahat" jawab Tuan Kim sebelum menutup pintu rumah dan menguncinya.

Wooshin menatap adiknya yang menangis dipelukan sang kekasih dari balkon rumahnya. Dan selanjutnya ia tak tau kemana adiknya pergi saat Xiao dan Kogyeol memasuki mobil Kogyeol dan melaju pergi dari pekarangan rumahnya.

Flashback End.

Wooshin membuka pintu atap sekolah sambil terengah-engah dan mendapatkan pemandangan yang membuatnya lega.

"Wooshin-hyung" namja mungil berwajah manis itu menatap wajah hyungnya kaget. "d-dasar anak bandel! Kau tega membuatku menjadi korban kekesalan appa hah?" tanya Wooshin ketus.

Namja mungil berwajah manis—Xiao berdiri dari duduknya dan berlari ke arah hyungnya. "M-mian hyung, aku h-hanya takut appa akan memukul Kogyeol hyung lebih parah lagi"

Wooshin terkekeh sebentar lalu mengusak rambut adiknya sayang "Gwenchana, setidaknya aku merasa lega karena kau masih masuk sekolah dan sedang dalam keadaan sehat" jawab Wooshin disambut pelukan hangat dari adiknya.

"Gomawo hyung, aku akan membantumu mengungkapkan statusmu dengan Jinh—phhh"

"YA! Darimana kau tau itu?!" tanya Wooshin sambil membekap mulut adiknya dan melirik ke arah Kogyeol yang sedang menatap kegiatan adik-kakak mereka.

"Sunyoul hyung yang memberitahuku" jawab Xiao polos, sedangkan Sunyoul langsung memikirkan hukuman apa yang pantas untuk sahabatnya yang kelebihan gigi itu.

"aish.. jinjja. Dan terimakasih untuk bantuanmu nanti. Hyung kembali kekelas dulu" pamit Wooshin sambil mengelus kepala adiknya sayang, Xiao menganggukkan kepalanya cepat "ya.. sama-sama hyung, hati-hati ya" jawab Xiao melambaikan tangannya.

.

.

Sesampainya dikelas Sunyoul, Wooshin langsung menghampiri Sunyoul yang sedang asik mendengarkan Mp3 dibangkunya sambil memejamkan matanya. Wooshin menarik kursi disampingnya mendekat pada kursi Sunyoul yang masih tidak sadar akan kehadirannya.

Wooshin mendekatkan wajahnya pada wajah sunyoul sangat dekat dengan usil, merasa ada yang memperhatikannya. Sunyoul membuka matanya dan "WAAAA!"

jatuh terjungkang dari kursinya karena terlalu kaget dengan wajah polos Wooshin yang sangat dekat dengannya. Sedangkan si pelaku hanya menatap Sunyoul datar berusaha menahan tawanya yang akan meledak.

"Jika ingin tertawa, tertawa saja tak usah ditahan" sindir Sunyoul

"HAHAHAHAHA!" Wooshin tertawa dengan kerasnya sambil memukul pahanya. Sunyoul hanya meringis kecil memperhatikan betapa bahagiannya sahabatnya saat ia terjatuh dengan tidak elitnya.

"ada apa hah? Tidak biasanya kau mengerjaiku seperti ini" tanya Sunyoul saat Wooshin sudah meredakan tawanya dan sekarang malah sedang sibuk mengusap air matanya yang keluar.

"itu semua salahmu."

"Hah? Salahku? Aku salah apa?" tanya Sunyoul sambil menunjuk dirinya sendiri. Wooshin hanya kembali menatap Sunyoul datar "Kau!" tunjuk Wooshin pada wajah Sunyoul.

"Darimana kau tau aku bahwa aku sedang berpacaran dengan Jinhoo dan memberitahukannya pada Xiao" tanya Wooshin sedikit berbisik saat mengucapkan nama Jinhoo. Sunyoul melongo sebentar, lalu tertawa sambil memegangi perutnya.

"Hahahaha! Jadi karena itu kau mengerjaiku hah?" Sunyoul masih tertawa sedangkan Wooshin mencibir kesal pada Sunyoul.

"tentu saja! Kalau saja ku beritahukan satu sekolah bahwa kau berpacaran dengan We—mphhhh!" Sunyoul dengan sigap membekap mulut Wooshin seperti saat Wooshin membekap mulut Xiao saat di atap.

"arraseo! Arraseo!" Sunyoul mengalah sambil menatap sekeliling kelas yang –untungnya- sedang sepi "3 hari yang lalu saat kau mengikuti perlombaan bersama Kim seongsaenim, aku dan teman-teman Jinhoo sedang berkumpul bersama diruang latihan menari. Kami bermain TOD. Lalu Jinhoo hyung yang kena dan kau pasti tau kelanjutannya"jelas Sunyoul, Wooshin menyerucutkan bibirnya kesal "Jadi... teman-teman Jinhoo hyung sudah tau?"

Sunyoul mengangguk sebagai jawaban, ia menoleh ke arah pintu kelas.

"itu Jinhoo hyung, kenapa tak kau tanya saja ke dia?" tunjuk Sunyoul pada pintu kelasnya, Wooshin menoleh ke arah pintu kelas Sunyoul dan mendapati Jinhoo sedang melambai sambil tersenyum ke arahnya "Wooshin-ah, kajja kelas akan dimulai sebentar lagi" ajak Jinhoo dan dijawab dengan anggukan oleh Wooshin.

"Sunyoul-ah, aku kembali kekelas dulu. Annyeong!" pamit Wooshin sambil tersenyum pada sahabatnya. "annyeong" jawab Sunyoul sambil melambaikan tangannya lalu kembali pada Mp3nya yang terbengkalai sejak ia terjatuh dengan tidak elitnya karena Wooshin.

.

.

"Hyung.."panggil Wooshin sambil menunduk menatap lantai dibawahnya. Jinhoo menoleh pada Wooshin dan menjawab panggilan Wooshin dengan dehaman lembut. Wooshin menghela nafasnya berat lalu memberanikan diri bertanya pada Jinhoo "kenapa hyung memberi tahu mereka tentang hubungan kita?" tanya Wooshin.

Jinhoo tertawa pelan lalu merangkul pundak Wooshin gemas, "Gwenchana.. setidaknya mereka tau bahwa kau hanya milikku seorang" jawab Jinhoo lalu mengecup pipi Wooshin sekilas.

BLUSH

"h-hyunggg!" Wooshin menundukkan wajahnya malu, "astaga. Manisnya" gombal Jinhoo.

Wooshin menatap Jinhoo kesal lalu mencubit perut Jinhoo sayang "astaga. Kasihannya" Wooshin menirukan nada suara Jinhoo saat menggombalnya tadi.

"tega sekali padaku" Jinhoo mengelus perutnya yang panas, "salah hyung sendiri mengataiku manis" cibir Wooshin kesal.

"kau memang manis" Jinhoo mencubit pipi Wooshin gemas. "aaahh! Hyungg" Wooshin mengelus pipinya yang dicubit Jinhoo.

"Kita impas sayang" Jinhoo mengusak sayang rambut Wooshin.

Sedangkan Wooshin hanya menunduk menutupi semburat merah tipis dipipinya.

.

.

.

"Aku pulang..." Wooshin melepaskan sepatunya dan meletakkannya pada rak disebelahnya.

"Wooshin-ah. Appa ingin berbicara denganmu" Tuan Kim menunjuk map coklat didepannya datar. "apa ini?" tanya Wooshin sambil membuka map coklat yang tadi ditunjuk ayahnya.

DEG!

"a-appa" Wooshin mengeluarkan kertas-kertas yang ada didalam map itu dan melihatnya satu persatu. "ada hubungan apa kau dengannya? Apa kau berhasil mengambil hatinya?" tanya Tuan Kim datar.

Wooshin hanya menunduk dalam, Tuan Kim menghela nafasnya kasar. "terserah padamu Wooshin-ah. Appa lelah, appa beri kau kesempatan untuk melepasnya atau keluar dari rumah ini" Tuan Kim mengurut dahinya sebentar lalu menyandarkan tubuhnya pada sofa yang kini tengah didudukinya.

"a-appa.. berikan aku kesempatan, aku akan meyakinkan appa kalau ia orang yang berarti bagiku" jawab Wooshin berani lalu beranjak dari duduknya dan segera memasuki kamarnya.

.

.

.

Sinar matahari di hari minggu siang sudah datang sedaritadi untuk menyapa Wooshin yang tengah bergelung dialam mimpinya. "Wooshin-ah!" panggil Nyonya Kim sambil memasuki kamar Wooshin. "Sunyoul datang menjemputmu!" Nyonya Kim menggoyang-goyangkan tubuh Wooshin.

"5 menit lagi eomma" jawab Wooshin sambil mengeratkan genggamannya pada selimutnya. "YA! Sunyoul menunggumu dibawah dan kau masih bergelung dengan selimut ini hah? Cepat bangun!" kesal Nyonya Kim.

Wooshin membuka matanya lebar "Aiyah! Aku lupa hari ini aku sudah janji" teriak Wooshin langsung berlari memasuki kamar mandinya. Nyonya Kim hanya menggeleng-geleng malas melihat kelakuan putra sulungnya.

.

.

.

"27 menit 15 detik, kau terlambat Wooshin-ah" sindir Sunyoul memperhatikan jam tangannya di depan Wooshin. "mian.. semalam aku sedang sibuk memikirkan sesuatu" jawab Wooshin.

Sunyoul hanya berdecak kesal. "Yasudah ayo, Xiao sudah didalam mobil"

.

"Kita akan kemana?" tanya Wooshin pada Jinhoo disebelahnya. "entah, aku juga ditarik Wei untuk segera bersiap-siap dan ikut bersamanya." Jawab Jinhoo sambil mengidikkan kedua bahunya.

"kau juga baru bangun hyung?" tanya Wooshin memperhatikan wajah Jinhoo yang masih mengantuk. Yang ditanya hanya mengangguk mengiyakan.

Tiba-tiba tangan kanan Jinhoo terangkat ke bagian belakang bahu Wooshin dan langsung merangkul Wooshin sayang.

.

"Hwanhee-ya! Apa kau membawa sepeda?" tanya Xiao pada Hwanhee yang duduk dikursi penumpang di samping pengemudi—Gyujin.

"Tentu saja! Aku membawa sepeda lipat, kenapa?"

"ani.. pantas saja aku tidak melihat ada sepeda" jawab Xiao sambil menyenderkan kepala pada Kogyeol yang berada disebelahnya.

Hwanhee hanya mengangguk, tanda ia mengerti.

.

.

"Wooshin-ah bangun, chagi" Jinhoo mengelus pipi Wooshin untuk membangunkannya.

"Gendong saja, lagian ini sudah sore. Mungkin ia kelelahan saat perjalanan jauh, Xiao juga sudah tertidur" saran Kogyeol.

Jinhoo mengangguk mengerti lalu menggendong Wooshin ala bridal style, "Eunghh.." lenguh Wooshin menyurukkan wajahnya pada perpotongan leher Jinhoo manja. "dasar, manis sekali" Jinhoo tersenyum gemas karena Wooshin.

.

.

Wooshin menggeliatkan tubuhnya saat matahari pagi menyapa wajahnya yang sedang tertidur. Perlahan ia membuka matanya untuk membiasakan matanya pada cahaya yang masuk melalui jendela kamar.

'eh? Kamar?

Pemuda bersurai merah itu dengan polosnya mengerjabkan matanya polos dan mendapati wajah Jinhoo yang berada dihadapannya dengan sangat dekat. Wooshin dapat merasakan hembusan nafas teratur Jinhoo, dengan teliti Wooshin memperhatikan wajah kekasihnya.

"aku tahu aku tampan, tak usah memperhatikanku seperti itu"

Wooshin terkesiap kaget , "K-kau sudah bangun hyung?" tanya Wooshin gelagapan. "aku bahkan sudah memperhatikan wajahmu saat tertidur dari satu jam yang lalu" jawab Jinhoo.

Jinhoo mendekatkan wajahnya. CUP "pagi chagi" sapanya setelah mencium dahi Wooshin dan tersenyum lembut.

Wooshin tersenyum hingga matanya terpejam "selamat pagi juga hyung"

-tolong ingatkan Jinhoo untuk tidak memakan makhluk didepannya, ia masih terlalu polos-

.

.

"kau sudah bangun hyung?" tanya Xiao saat melihat Wooshin dan Jinhoo berjalan memasuki ruang makan di Villa milik Hwanhee. Jinhoo dan Wooshin hanya mengangguk sambil tersenyum dan duduk dikursi mereka masing-masing untuk mendapatkan sarapan.

Saat ini mereka sedang berlibur di Busan untuk melepas penat. Kebetulan juga Ayah Hwanhee membuka cabang Villanya di Busan dan memperbolehkan Hwanhee dan teman-temannya untuk memakainya sementara.

"Hwanhee-ya" panggil Wooshin disela-sela kegiatan sarapan mereka, yang dipanggil menoleh dan menatap Wooshin bingung.

"bisa aku meminjam sepedamu?" tanya Wooshin yang membuat seluruh namja yang tadinya memakan dengan hikmat menatap Wooshin heran.

"untuk apa?" tanya Hwanhee. "aku ingin mengerjakan sketsaku didekat sungai dibelakang Villa ini. Setidaknya untuk menyegarkan pikirkan juga" jawab Wooshin.

"sudah pinjamkan saja, kita bersepedanya saat sore saja. Lagian kalau pagi menjelang siang seperti ini, kau sama saja akan menghitamkan kulitku" Bitto mengelus kulitnya sambil membayangkan kulitnya menghitam karena paparan sinar matahari.

"dasar.. arraseo hyung,pakai saja itu ada didepan pintu" Hwanhee terkekeh pelan melihat kelakuan Bitto lalu menujuk lipatan sepeda yang berada di depan pintu.

"gomawo hwanhee-ya" jawab Wooshin sambil tersenyum dan melanjutkan sarapannya yang tertunda.

.

.

Wooshin mengendarai sepedanya ke arah sungai yang tidak terlalu jauh dari Villa Hwanhee. Seperti yang dikatakan oleh Hwanhee saat diperjalanan menuju Villa, sungai disana sangatlah indah, dengan jembatan kayu kecil yang terlihat agak tua dan aliran sungai yang tidak terlalu deras menambah kesan nyaman disana.

Wooshin melangkahkan kakinya ke jembatan kayu tua yang ada disana.

CKREK!
Wooshin menoleh kebelakang saat mendengar suara jepretan kamera tak jauh darinya, ia menatap sekelilingnya teliti untuk menemukan darimana suara jepretan itu berasal.

Miaw! Miaw! Miaw!

Saat sedang telitinya mencari Wooshin mendengar rintihan kucing didekat jembatan, ia mendapati anak kucing yang tengah bergantung di pinggiran jembatan. Kucing itu mengeong lalu mencakar-cakar kayu kecil dipelukkannya seolah menentukan hidup atau matinya. Dengan cepat Wooshin meletakkan buku sketsanya disebelah sepedanya lalu mendekati kucing itu.

"ah.. jauh sekali, bagaimana ini?" Wooshin menatap sekitarnya mencari benda yang mungkin bisa membantunya menyelamatkan kucing itu.

Dengan nekat Wooshin mengeluarkan tubuhnya dari pembatas jembatan dan menggapai kucing itu. "chaa! Dapat kau" seru Wooshin girang, ia meletakkan kucing itu keatas dengan segera kucing itu berjalan menjauhi jembatan.

Saat Wooshin akan naik, tiba-tiba saja—

KRAKK! BRAKK!

Kayu yang menopang Wooshin tadi patah "WAAA!" teriak Wooshin panik, ia memegang kayu disebelahnya dan berusaha naik. "Akhh!" rintihnya, ia menoleh pada kakinya yang terjepit kayu.

Wooshin meringis saat merasakan jepitan kayu itu melukai kakinya. Dengan sekuat tenaga ia berpegangan pada kayu yang menyakiti tangannya.

"HYUNG! JINHOO HYUNG! Hiks.." Wooshin berteriak berharap Jinhoo atau siapapun itu menolongnya.

"H-hyung! Hiks" Wooshin merasa peganganya pada kayu mulai mengendor, ia menatap aliran sungai dibawahnya. Ia memejamkan matanya takut saat dirasa pegangannya benar-benar akan terlepas.

BETS!

"bertahanlah sebentar" Jinhoo mengapai jemari Wooshin erat, "H-hyung.. aku takut" Wooshin menangis ketakutan, Jinhoo berusaha mengeluarkan tubuhnya dari pembatas jembatan tetapi patahan kayu itu menahannya. Jinhoo tetap menggenggam erat jemari Wooshin sambil berusaha mengeluarkan tubuhnya.

"H-hyung! Hyung!" tiba-tiba saja tangan Wooshin terlepas dari genggaman Jinhoo.

BYUR!

Jinhoo menatap kaget Wooshin yang terjatuh dari jembatan dengan cepat ia melompat dari jembatan dan menggapai Wooshin yang terbawa arus.

"Hyung! Tolong!" Wooshin berusaha menimbulkan kepalanya diatas air, Jinhoo segera berenang ke arah Wooshin.

Jinhoo memeluk Wooshin saat berhasil meraih lengan Wooshin, dengan sekuat tenaga Jinhoo berenang ke pinggir sungai.

"W-wooshin-ah!" panggil Jinhoo panik saat melihat Wooshin yang pucat, perlahan Jinhoo melepaskan jepitan kayu yang ada di pada betis Wooshin.

"Wooshin-ah! YA! Kim Wooshin!" bentak Jinhoo sambil menepuk-nepuk pipi Wooshin berharap namja mungil dihadapannya akan sadar. Jinhoo menyatukan kedua lengannya dan membuat gerakan menekan pada daerah dada Wooshin.

"Kumohon bangunlah" mohon Jinhoo, merasa tidak ada pergerakan. Jinhoo mengarahkan bibirnya pada bibir Wooshin.

UHUKK! UHUKK!

Wooshin terbatuk mengeluarkan air, Jinhoo menepuk-nepuk pipi Wooshin. "Wooshin-ah.. Wooshin!" panggil Jinhoo khawatir, Wooshin membuka perlahan matanya dan menatap Jinhoo yang berada diatasnya. "H-hyung" panggil Wooshin lemah.

Jinhoo meraih leher dan punggung Wooshin dan memeluknya erat. "Kukira aku akan kehilanganmu" Jinhoo menangis sambil mengelus kepala Wooshin.

"M-mian hyung" Wooshin menyurukkan kepalanya pada leher Jinhoo. "Gwenchana, ayo kita kembali ke Villa. Biar hyung obati kakimu" ajak Jinhoo lalu menggendong Wooshin bridal style, Wooshin mengalungkan lengannya pada leher Jinhoo.

.

.

.

"Hyung! Wooshin-hyung kenapa?" Xiao langsung berlari begitu melihat hyungnya yang basah kuyup sedang digendong oleh Jinhoo yang juga sama basahnya dengan hyungnya.

"nanti akan ku ceritakan, biarkan aku mengobati luka Wooshin terlebih dahulu" pinta Jinhoo melangkahkan kakinya ke kamarnya.

Xiao menatap kepergian Jinhoo khawatir "ada apa dengan hyung?" tanyanya cemas. Kogyeol menatap Xiao sambil tersenyum menenangkan, "Gwenchana. Kau dengarkan tadi kata Jinhoo? Kalau ia akan mengobati luka Wooshin saja. Doakan saja ia hanya terluka kecil" ujar Kogyeol sambil memeluk kekasihnya.

.

.

Jinhoo meniup luka Wooshin yang telah ia berikan obat, Wooshin meringis pelan "ish.."

"gwenchana? Apa sakit sekali? Kita ke dokter ya?" Jinhoo memperhatikan Wooshin yang meringis, pemuda bersurai merah itu menggeleng cepat.

"Aniyo! Shiroo! Aku hanya lecet seperti ini, untuk apa dibawa kerumah sakit" tolak Wooshin.

Jinhoo menghela nafasnya berat, "arraseo.. jika sakit lagi, katakan padaku. Ne?"

Wooshin mengangguk sambil tersenyum manis "Ne!"

.

.

.

"kami akan kepantai Heundae, lalu pergi makan dwaeji gukbap, lalu pergi ke kuil, apa kau mau ikut?" tawar Gyujin pada Jinhoo dan Wooshin yang tengah duduk berdua di ruang TV.

Jinhoo menatap Wooshin dengan tatapan kau-ingin-ikut-atau-tidak?, sedangkan yang ditatap menganggukkan kepalanya cepat lalu balik menatap Gyujin yang sedang menunggu jawaban mereka. "Tentu saja! Masa kita kemari hanya untuk tidur dan menonton TV?" jawab Wooshin excited.

Jinhoo megusak gemas surai kemerahan Wooshin, "Arraseo, kajja biar ku gendong" Jinhoo meraih lengan Wooshin tetapi di tolak oleh sang empunya.

"Wae?" tanya Jinhoo heran.

Wooshin hanya menatap Gyujin canggung. Jinhoo ikut menatap Gyujin. "Kau malu pada Gyujin?" tanya Jinhoo.

SRET!

"Huahh!"

Jinhoo menarik Wooshin secara tiba-tiba membuat namja bersurai merah itu mengaitkan kedua lengannya pada leher Jinhoo, takut terjatuh. "Ya! Hyung! Untung aku tak mempunyai penyakit jantung hah!" kesal Wooshin sambil mendeathglare Jinhoo yang terkekeh.

"nanti saja marahnya, ayo kita kemobil. Semua sudah menunggu" Gyujin melerai mereka sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

.

.

"Wuahh! Lihat pantainya!" Xiao tertawa melihat tingkah Wooshin yang seperti anak kecil. "Hyung! Kau seperti tak pernah melihat pantai saja" Wooshin menatap Xiao tajam. "saat eomma dan appa mengajakmu ke pantai, aku sedang mengikuti perlombaan, dan ini kali pertamanya aku melihat pantai setelah 13 tahun lamanya" Wooshin mendesah kecil mengingat terakhir kalinya ia pergi kepantai bersama kedua orang tuanya saat ia masih kecil.

"Mian hyung, aku tak tau"

"Gwenchana! Ayo kita bermain!" ajak Wooshin sambil tersenyum lebar hingga matanya terpejam.

Xiao mengangguk lalu berlari untuk bermain air, diikuti sang kekasih—Kogyeol, Bitto berdecak kesal saat melihat Wei, Sunyoul, Hwanhee dan Gyujin pergi menyusul Xiao dan Kogyeol tanpa mengajaknya.

"YA! Aku ikut!" teriaknya sambil berlari menyusul teman-temannya. Wooshin tersenyum kecil melihat teman-temannya bermain air dengan senang.

Wooshin menatap Jinhoo yang berada disebelahnya "kenapa tak ikut bermain?" tanyanya heran. Jinhoo hanya menjawab pertanyaan Wooshin dengan rangkulan di bahu kecil kekasihnya.

Wooshin menundukkan wajahnya lalu melepas rangkulan Jinhoo di bahunya lalu berjalan ke salah satu kursi berpayung yang disediakan oleh pihak pantai. Jinhoo menatap kekasihnya heran, ia mengikuti kekasihnya lalu berjongkok dihadapan kekasihnya untuk melihat wajah kekasihnya yang tengah menunduk itu.

"wae? Ada kau tak suka aku menemani mu disini?" tanya Jinhoo khawatir, ia menyingkirkan rambut-rambut kecil yang menutupi wajah kekasih mungilnya. Wooshin hanya menggeleng-geleng kecil lalu menatap Jinhoo dengan mata yang mulai memerah.

Jinhoo menatap Wooshin panik, "Waeyo? Apa kakimu sakit lagi? Kau ingin ku bawa ke rumah sakit? Ada apa chagi?" tanya Jinhoo dengan pertanyaan beruntun yang membuat Wooshin meneteskan air matanya.

CUP

Dengan wajah yang masih dihiasi air mata Wooshin mengecup bibir Jinhoo lembut, Jinhoo yang kaget dengan perbuatan Wooshin membelalakan matanya kaget. Tak lama kemudian Wooshin menjauhkan bibirnya dari bibir kekasihnya perlahan.

"mian hyung, hiks... a-aku—" Jinhoo memeluk kekasihnya yang menangis, "tenang, perlahan saja.. aku akan mendengarkanmu" Jinhoo menenangkan kekasihnya dengan mengelus surai kemerahannya lembut.

"a-aku takut pada appa" Wooshin mengeratkan pelukkannya pada Jinhoo, Jinhoo tersenyum kecil mendengar jawaban jujur Wooshin. "Gwenchana chagi, aku akan bersamamu apapun yang terjadi" jawab Jinhoo.

Wooshin melepaskan pelukkannya dan menatap Jinhoo "Jeongmal?" tanyanya memastikan, Jinhoo mengusap wajah Wooshin yang tadi menangis dan mengangguk. Wooshin tersenyum senang lalu memeluk Jinhoo erat. "Gomawo hyung! Saranghae"

"Nado saranghae, chagi" jawab Jinhoo balas memeluk Wooshin sayang.

Tanpa disadari Xiao dan Kogyeol sedari tadi memperhatikan kegiatan hyungnya dan kekasihnya itu.

Tes

"Chagi, mengapa kau menangis?" Kogyeol mengusap air mata kekasihnya, Xiao menggeleng "Ani.. hanya saja aku bisa merasakan kekhawatiran hyung pada appa tentang hubungannya, sama seperti kita"

Kogyeol menganggukkan kepalanya tanda mengerti, CUP ia mengecup bibir Xiao sayang. "Gwenchana, akan kita buktikan pada appa-mu kalau kita memang pantas untuk bersama"

Xiao menatap kekasihnya kaget sedetik kemudian ia tersenyum manis "Gomawo hyung" ia memeluk Kogyeol erat.

.

.

"kami pesan masing-masing 9 porsi dwaeji gukbap, naengchae jokbal, ssiat hoddeok dan dongnae pajeon ukuran sedang" pesan Wei pada ahjumma yang tengah mencatat pesanan mereka, "baiklah.. tunggu sebentar ya" jawab ahjumma itu sambil berjalan meninggalkan mereka untuk membuat pesanan mereka.

"ahh.. laparnyaa" Sunyoul mengelus perutnya yang lapar dengan nada imutnya, Wei terkekeh melihat kelakuan kekasihnya.

"ah-ya! Hyung! Kau tadi siang kenapa? ku lihat kau dan Jinhoo hyung basah kuyup dan kakimu terluka" Hwanhee menatap Wooshin dengan penasaran.

"a-ah itu, aku menyelamatkan kucing yang terjebak di antara kayu-kayu jembatan dan kucing itu hampir terjatuh. Tanpa berpikir panjang aku berjalan ke luar pembatas jembatan untuk menyelamatkan kucing itu. Naasnya kayu tua yang menopangku patah begitu saja dan menjepit kakiku. Sehingga aku tak bisa hanya untuk sekedar menggerakan kakiku. Untung saja Jinhoo hyung menyelamatkanku walaupun aku sempat terjatuh ke sungai" jelas Wooshin panjang lebar.

Xiao yang mendengarkan apa saja yang dikatakan hyungnya membelalakan matanya. "p-parah sekali" lirihnya pelan.

"lalu sekarang kau tak apa kan?" tanya Bitto yang duduk bersebrangan dengan Wooshin, Wooshin mengangguk sambil tersenyum. "Gwenchana, tak perlu khawatir. Jinhoo hyung sudah mengobatiku"

"ini pesanannya" ahjumma tadi datang membawa pesanan mereka. "Gomawo ahjumma. Chalmeokkeseumnida" Gyujin memakan dwaeji gukbapnya lahap sesekali menyuapkan Hwanhee.

Sunyoul menatap kemesraan Hwanhee dan Gyujin "soo~ kalian pacaran?" tanya Sunyoul usil, yang ditanya terbatuk karena tersedak makanan mereka. Hwanhee meminum air putihnya dengan wajah memerah karena ditawakan teman-temannya. "aih..jinjja Sunyoul hyung!"

"Wooshin-ah, buka mulutmu" perintah Jinhoo lembut pada Wooshin yang sedang sibuk dengan ssiat hoddeoknya. Wooshin menoleh pada Jinhoo heran lalu membuka mulutnya.

Jinhoo menyuapkan dongnae pajeonnya kemulut Wooshin, Wooshin menerimanya dengan senang hati, ia mengunyah pajeonnya sambil tersenyum. "Gomawo hyung, ini aaaa" Wooshin balas menyuapkan hoddeoknya pada kekasihnya, Jinhoo membuka mulutnya. Wooshin mengarahkan sumpitnya ke mulut Jinhoo tetapi dengan usilnya ia membalikkan arah sumpitnya menuju mulutnya dengan cepat.

"yah! Jinjja.." Jinhoo menggelitiki perut Wooshin pelan. "Yah! Hyung aku hanya bercanda hahaha!"

Semua teman-teman Jinhoo tertawa melihat tingkah usil Wooshin. "poor Jinhoo hyung" Bitto tertawa sambil memegangi perutnya karena ekspresi abstrak Jinhoo tadi.

.

.

.

Setelah makan, Kogyeol mengusulkan Gyujin untuk pergi ke Kuil Haedong Yonggunsa. Gyujin menyetujui usul Kogyeol dan mengendarai mobilnya menuju Kuil Haedong Yonggunsa.

"wah kuilnya bagus sekali~" Sunyoul memperhatikan kuil Haedong Yonggunsa yang terletak di pinggir pantai disalah satu pantai yang dimiliki kota Busan.

Wei merangkul pundak kekasihnya, "ayo berdoa, memohon agar kita selalu bersama selamanya" gombal Wei pada kekasihnya yang kini sibuk menyembunyikan semburat diwajahnya.

Wooshin memperhatikan kuil dihadapannya, lalu membungkuk sebentar dan memejamkan matanya sambil menyatukan kedua tangannnya.

'Semoga appa menerima hubungan kami berdua dan juga hubungan Xiao dan Kogyeol, amin' mohonnya.

Jinhoo, Xiao dan Kogyeol tersenyum melihat kekusyuk-kan Wooshin saat berdoa. Mereka pun mengikuti apa yang dilakukan Wooshin.

.

.

Setelah berdoa dan berfoto bersama didepan kuil, Xiao dan Hwanhee merengek hendak pulang ke villa karena terlalu lelah. "sebaiknya kita pulang, ini sudah jam 08.30 sedangkan jarak dari Villa kesini sudah hampir memakan 1 jam. Kasihan Hwanhee dan Xiao yang kelelahan" saran Wooshin sambil mengusak surai kecoklatan milik adiknya.

"aku juga sudah lelah, kau juga kan baby?" timpal Wei sambil mengeratkan rangkulannya pada Sunyoul.

Melihat Sunyoul mengangguk dan Bitto yang menguap, "arraseo, kulihat kalian semua mulai kelelehan, ayo kita pulang" ajak Gyujin lalu berjalan menuju mobilnya sambil menggandeng tangan Hwanhee.

.

.

"apa sudah tidak ada barang yang tertinggal?" tanya Hwanhee

"aku, tidak ada" jawab Wei sambil memperhatikan tas dan bawaannya, "aku juga" timpal Bitto, "Kami juga tidak ada yang tertinggal" sahut Xiao dan Kogyeol. "Wooshin hyung, apa tidak ada yang tertinggal?" tanya Hwanhee lagi pada Wooshin yang melamun, "a-ah? Iya aku juga tidak membawa banyak barang hanya ini saja. Jadi.. tidak ada yang tertinggal" jawab Wooshin sambil tersenyum kecil.

"arraseo, ayo kemobil, besok sudah masuk sekolah aih" ajak Hwanhee sambil menyerucutkan bibirnya kesal karena besok sudah masuk sekolah.

"hari libur sudah selesai, setidaknya kita sudah bersenang-senang" Sunyoul mengangkat kedua tangannya dengan wajah senang. Wei mencubit pelan pipi Sunyoul "kajja ke mobil, kasihan Gyujin menunggu"

.

.

"Hyung... saat dikuil, apa yang kau doakan?" tanya Xiao menoleh kebelakang-tempat Wooshin, Jinhoo dan Bitto duduk- "rahasia~ bagaimana denganmu?" tanya Wooshin balik, Xiao mengembungkan pipinya "sama denganku, rahasia blehh" jawab Xiao menjulurkan lidahnya dan berbalik menghadap depan.

Wooshin tersenyum gemas melihat Xiao lalu menolehkan pandangannya pada Jinhoo "bagaimana denganmu hyung?"tanyanya penasaran. Jinhoo meletakkan telunjuknya di dagu memasang pose berpikir "aku...rahasia" jawab Jinhoo usil.

Wooshin menatap Jinhoo tak percaya dan lebih memilih menjauhkan dirinya dari Jinhoo. Jinhoo terkekeh kecil lalu merangkul pundak Wooshin erat. "Kau akan tau nanti"

.

.

"aku pulang" Wooshin berjalan masuk ke rumahnya dengan lemas.

"Wooshin-ah.. appa ingin bicara" panggil Tuan Kim dari ruang tamu, Wooshin melangkahkan kakinya ke ruang tamu dan duduk di depan ayahnya.

Tuan Kim menghela nafasnya kasar, "entah.. apa yang harus appa katakan, bawalah adikmu pulang dan katakan ayah mengijinkannya bersama namja aneh itu" Wooshin melebarkan matanya kaget, "B-benarkah?"

"Iya... appa telah memikirkan perkataan namja itu, dan ayah tau mereka saling mencintai, appa tak bisa berbuat apa-apa selain mengijinkan mereka berdua"

Wooshin mengangguk senang, ia berpikir bahwa salah satu doanya saat dikuil terkabulkan.

"dan satu lagi" Tuan Kim mengeluarkan map coklat dari laci meja dan menyodorkannya ke arah Wooshin. "appa berhutang budi pada Jinhoo, bawa ia kesini supaya appa bisa menyetujui kalian setelah appa berterimakasih padanya"

Wooshin menatap ayahnya bingung 'appa, berhutang budi pada Jinhoo? Sejak kapan?' batin Wooshin heran, ia mengambil map coklat dihadapannya dan membukanya.

"a-appa"

"mian, appa menyuruh anak buah appa untuk mengikutimu kemarin, dan setelah mendapatkan video dan foto-foto ini, appa harus berterimakasih karena Jinhoo telah menyelamatkan anak appa dari bahaya"

Wooshin menangis sambil meremat foto-foto tentang dirinya dan Jinhoo saat di jembatan, dipantai dan dikegiatan mereka saat di busan. Wooshin beranjak dari kursinya dan mendekati ayahnya.

"a-appa, gomawo!" Wooshin menangis bahagia dan langsung memeluk ayahnya erat, "appa minta maaf sudah menentang kalian berdua" Tuan Kim mengelus punggung putranya lembut. "Gwenchana appa.. gomawo hiks, gomawo"

Wooshin merasa kini doanya telah terkabulkan.

.

.

.

Wooshin memperhatikan Xiao yang kini menangis bahagia dipelukan Kogyeol, "Huks.. appa memperbolehkan kita hyung, huks..."

"shh... tenanglah sayang, sudah kubilang bukan appa-mu akan memperbolehkan kita suatu saat nanti" Kogyeol menenangkan Xiao didekapannya.

Xiao melepaskan pelukkannya pada Kogyeol dan menatap Wooshin cemas "l-lalu bagaimana dengan hyung dan Jinhoo hyung", Wooshin menundukkan wajahnya dan memasang wajah sedih.

Xiao berlari mendekati Wooshin, "H-hyung ada apa?"

Wooshin tetap menunduk sedih, "Hyung" panggil Xiao khawatir.

"Aku dibolehkan!" jawab Wooshin cepat sambil tertawa melihat ekspresi Xiao, Xiao menatap hyungnya tidak percaya lalu dengan cepat menarik hyungnya ke pelukkannya "syukurlah~ doaku terkabulkan!" Xiao berteriak senang dan sambil memeluk hyungnya erat.

"jadi kau mendoakan ku?"

Xiao mengangguk cepat "aku mendoakan hubunganmu dan hubunganku agar di perbolehkan oleh appa"

Wooshin mengusak gemas surai coklat milik adiknya "Gomawo baby Xiao~"

Xiao mengangguk kecil sambil tersenyum senang.

.

.

"wajahmu terlihat senang sekali hari ini, ada apa?"

"tidak ada apa-apa, ah ya.. hari ini hyung mau kerumahku tidak? Hari ini ibu memasak banyak makanan dan menyuruhku mengundang temanku" bohong Wooshin. Jinhoo menatap heran Wooshin "apa kau tidak salah mengundangku?"

Wooshin menggeleng cepat, "tidak.. jadi hyung mau atau tidak?"

"yasudah, aku ikut" pasrahnya, Wooshin tersenyum senang lalu mengecup pipi Jinhoo "Gomawo hyung!"

.

.

"ayo masuk hyung" Wooshin mempersilahkan Jinhoo masuk kerumahnya, dengan perlahan Jinhoo masuk kerumah Wooshin. "Jinhoo-ah"

DEG!

Itu suara yang Jinhoo hindari saat ini, tubuh Jinhoo membatu saat melihat Tuan Kim datang menghampirinya, beberapa detik kemudian dengan sigap Jinhoo berdiri didepan Wooshin, takut jika Wooshin diperlakukan kasar lagi karena kehadirannya.

Melihat tingkah waspada Jinhoo, Tuan Kim terkekeh geli. Jinhoo menatap heran Tuan Kim dihadapannnya "Jinhoo-ah, hari ini aku tidak akan memukul Wooshin atau apapun itu"

Jinhoo mengerutkan dahinya heran, lalu menatap Wooshin cemas. Wooshin terkekeh kecil "appa yang mengundangmu kemari hyung, maaf aku berbohong tadi pagi"

Jinhoo menolehkan pandangannya menatap Tuan Kim, "aku hendak berterimakasih padamu, karena sudah menyelamatkan Wooshin saat kalian berlibur kemarin, maafkan aku juga sudah menyuruh salah satu anakbuahku untuk mengikuti kalian. Aku sudah melihat semuanya. Terimakasih sudah menyelamatkan anakku" Tuan Kim mendekati Jinhoo dan merangkulnya.

Jinhoo yang terkejut hanya mengangguk, "ayo kita makan, eomma sudah menyiapkan makanan" ajak Xiao yang sedari tadi berdiri di belakang Tuan Kim bersama Kogyeol.

Jinhoo menatap Kogyeol terkejut, Kogyeol hanya mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk V, 'aku juga diperbolehkan' Kogyeol berbicara tanpa mengeluarkan suaranya dan merangkul Xiao. Wooshin tersenyum haru melihat apa yang ada dihadapannya.

"gomawo appa" ucap Wooshin dan Xiao bersamaan, Tuan Kim mengangguk sambill tersenyum lalu merangkul kedua anaknya, "jaga kepercayaan appa ini"

Ke empat namja yang dimabuk cinta itu mengangguk sebelum mengikuti Tuan Kim menuju ruang makan.

END

AKHIRNYA END

AKHIRNYAAA/?

Ada yang bilang aku pada ngikutin cerita di Love Sick Season 2 yaaa? Aku aja belom nnton habis== Cuma tau kalo si Per sama Win itu ditentang papanya Win itu aja== selanjutnya Lio ga tau ceritanya.

Ini ceritanya terinspirasi sama salah satu novel belanda keluaran tahun 1992 judulnya Holland in Loves. Novel ini salah satu novel kesukaan Lio, soalnya waktu dulu kakeknya Lio sering bacain Novel ini (jaman waktu Lio ga bisa baca==)

Thanks for Review yaa

LulluBee : iyaa nanti aku bikinin~ soalnya lagi fokus sama WolfBoy-Black Prince. Cek IG :LouieKlees aja untuk Info ff apa yang aku publish~ iya waktu di rising Wooshin manly banget gatau kenapa tiba-tiba jadi nyabe gitu.. tfr yaa3

Guest : iyaaa Wooshin sama Jinhoo udah OTP fav bgt 3 iya ntar kapan-kapan aku bikinin Hwanhee yaa :3 TFR3

Sriyani1616 : aku belom nnton Love Sick sampe habis, aku aja baru nnton sampe episode 3== ini ff aku terinspirasi sama salah satu Novel Belanda yang judulnya Holland in Loves. Keluaran tahun 1992. Tfr yaaa

: Wooshin emang keren3/? Hahaha! Makasih yaaa, tfr3