Huf…,lagi – lagi helaan panjang dilakukan oleh pemuda berwajah melayu ini. Diam, menatap saudaranya yang tidak kunjung sadar. Tentu saja tidak sadar, jarak mereka kan hampir, berkilo – kilo meter. Benar – benar pemuda aneh. Kembali mata itu memandang gadis yang kini memperhatikan pelajaran dengan mata mengantuk. Dapat di pastikan, gadis itu sebentar lagi pasti akan tertidur.

"Lay…, Lay…, MALAY‼‼" Teriak seorang pemuda bermata sipit, membuatnya kaget.

"Ck, apa – apaan kau—." Ucapan itu terhenti, begitu melihat siapa orang di hadapannya.

Senyum jelas terlihat diwajahnya. Memandang Malay, yang secara terang – terangan berani memandang ke arah lain pada saat pelajarannya. Membuatnya tersenyum atas keberanian pemuda melayu ini. Sedangkan yang ditatap, hanya bisa menggaruk tengkuknya. Sepertinya sudah hapal hukuman yang akan di berikan oleh tutornya.

.

Disclaimer : HETALIA © Hidekazu Himaruya

Warning- OOC, Typo(s), gaje

.

IMAGINE.

.

Bagi Malay, mempunyai saudara seperti Nesia itu. Bisa dikatakan berkah sekaligus musibah. Berkah, karena hanya dia yang bisa sedekat ini dengan gadis manis nan menggemaskan ini. Bahkan untuk urusan membangunkan sudah menjadi tugasnya sehari – hari. Seperti saat ini, dilihatnya gadis itu tampak gelisah dengan mata terpejam.

"Nes…, Nesia," guncangnya pelan, berusaha membangunkan gadis di hadapannya ini. "Nes…, Nesia," panggilnya lagi "NES—."

.

DUGH‼‼

.

Bunyi hantaman yang keras, dari dua kepala yang beradu. Membuat keduanya serentak memegang kepala masing – masing. Menahan sakit, akibat benturan yang cukup keras.

"KAU INI, BISA TIDAK BANGUN DENGAN CARA YANG LEBIH NORMAL." Gerutunya sedikit keras, mengelus kepalanya yang sakit.

Sementara, saudara perempuannya hanya diam. Ikut mengelus kepalanya. Dapat dipastikan, rasa sakit sedang dirasakan gadis itu. Memperhatikan saudaranya yang kini menatapnya heran, akan tingkahnya yang diam saja.

"Kau baik – baik saja, Nes?" tanyanya, sedikit heran melihat Nesia yang tidak bereaksi apa pun.

Jeda sesaat, memperhatikan wajah Malay yang kini menatapnya. Jelas kekhawatiran ada di wajahnya, membuat gadis itu menghela nafas. Turun dari tempat tidur, membiarkan Malay sedikit heran.

"Hei, kau baik – baik saja?" tanyanya ulang. Memegang tangan Nesia yang secara halus dilepaskan oleh gadis itu. "Nes…"Panggilnya pelan.

"A-aku," ucap gadis itu ragu – ragu. Memandang Malay yang khawatir menunggu jawaban darinya. "Aku lapar."

.

TWITCH

.

Sudut siku – siku muncul dikepala Malay, menatap Nesia yang memegang perutnya. Benar – benar rugi mengkhwatirkannya, menatap Nesia tajam. Ingin mengeluarkan seuntai kalimat menyebalkan seperti biasa, yang batal dilakukannya begitu dilihatnya Nesia menatapnya.

Membuatnya merinding sendiri melihat tatapan itu. Tatapan yang dia tahu tidak akan pernah bisa dilawannya. Tatapan yang membuatnya merasa hubungan persaudaraan mereka adalah musibah.

.

.

.

.

.

Selain membangunkan Nesia setiap paginya. Tugas Malay selanjutnya adalah menuntun gadis itu ke ruang makan. Gadis ini tidak mungkin dibiarkannya jalan sendirian ke sana. Bagaimana tidak, jarak yang seharusnya bisa ditempuhnya dalam waktu kurang dari tiga menit. Jika dilakukan oleh gadis ini sendirian, bisa memakan waktu lebih dari itu, bahkan mungkin lebih. Entah apa yang dilakukan oleh gadis ini, hingga bisa selama itu.

"Selamat pagi, Nes, Lay." Sapa seorang gadis, begitu melihat kedatangan mereka berdua.

"Hmm, selamat pagi, Viet." Balasnya, kembali dirinya menyuruh gadis itu duduk disalah satu kursi.

Sedangkan dirinya memilih duduk di sebelahnya. Niatnya ingin menawarkan Nesia secangkir minum, terhenti seketika. Ketika melihat keluarganya yang lain, kini sudah memberikan secangkir teh, dan sarapan pada gadis itu. Sedangkan dirinya. Hah, jangan ditanya.

Dari cara mereka memperlakukan Nesia, gadis itu benar – benar sudah seperti tuan putri saja. Membuatnya sedikit iri dengan perlakuan mereka kepadanya. Sepertinya semua keluarganya begitu menyayangi gadis itu, bahkan rambut saja sampai diikatkan oleh Viet. Benar – benar saudara yang dimanja, benar – benar berbeda dengan dirinya yang kini lebih memilih mengambil makan sendiri.

.

.

.

.


Malay kembali menyeruput minumannya. Entah, sudah gelas yang keberapa. Sepertinya dirinya tidak begitu mempedulikannya. Yang ada dipikirannya hanya kejadian yang terjadi akhir – akhir ini. Beberapa waktu lalu pada saat sarapan, dilihatnya Nesia yang tersenyum – senyum sendiri. Sepertinya, ada hal menarik yang membuatnya sesenang itu. Ditambah lagi percakapannya dengan Thai. Sepertinya pemuda itu tahu, alasan dibalik sikap aneh Nesia. Ah, tidak. Bukan saja pemuda, itu tapi juga keluarganya yang lain. Rasanya mereka tahu, alasan kenapa Nesia akhir – akhir ini aneh.

Apalagi, saat Nesia dan si kembar, pergi bertiga dengan terburu – buru waktu itu. Sebenarnya, apa yang terjadi? Apa yang membuat mereka bertiga juga terlihat lebih akrab dari biasanya? Terutama Nesia dan Yong. Niatnya mencari informasi dari Kiku malah berakhir buruk. Kembali dirinya teringat kejadian beberapa hari lalu.

.

.

.

.

.

Flash back

"Kau tau sesuatu Kiku?." Tanyanya, melirik ke arah Kiku yang dengan tenang memakan sarapannya.

"Soal apa?" Tanyanya balik.

"Mereka."

"Tidak," singkat jelas padat. Jawaban dari seorang Kiku.

"Bukannya kau akrab dengan Nesia." Tanpa bisa dikendalikan, nada amarah keluar dari dirinya.

"Akrab, bukan berarti harus selalu tau urusannya kan." Kembali lagi jawaban yang tidak ingin didengarnya keluar.

"Kau..." refleks, dirinya menggebrak meja.

"Aku selesai," sahut Kiku, menaruh sumpitnya di atas mangkuk nasi dan meminum tehnya "Kau juga akrab dengan Nesia bukan, kenapa kau tidak cari tau sendiri saja? Kau seperti orang tua, yang khawatir pada anaknya saja." Geleng Kiku berdiri dari kursinya dan berjalan keluar.

End flash back

.

.

.

.

.

Jujur, saat itu dirinya benar – benar kesal. Bagaimana mungkin, seorang Kiku bisa menjawab seperti itu? Dan bagaimana mungkin, semuanya benar – benar terlihat tidak ambil pusing. Bukankah mereka sudah seperti keluarga. Sebenarnya apa yang membuat mereka seperti itu. Ada apa ini? Apa benar, ini ada hubungannya dengan kejadian itu.

.

.

Sedikit mengurut keningnya dilakukan Malay. Tidak tahu mengapa, kejadian akhir – akhir ini membuatnya harus berpikir keras. Bertanya dengan Kiku lagi, juga tidak mungkin. Sepertinya mood pemuda itu akhir – akhir ini buruk. Apalagi musti bertanya dengan Hong, membuatnya mesti bergidik geli mengingat sikapnya saat itu. Bagaimana tidak, Hong yang biasanya memasang tampang datar, walau tidak separah Hyun. Bisa berubah seperti itu. Benar – benar, membuatnya kembali menghela nafas. Yang pasti tidak bisa diungkapkan dengan kata – kata. Kembali dirinya mengingat kejadian beberapa hari lalu.

.

.

.

.

.

Flash Back

.

Dirinya benar – benar musti berpikir dua, tiga atau mungkin berkali – kali. Jika ingin menantang Kiku yang sedang dalam kondisi emosi yang tidak stabil. Bagaimana tidak, saat ini dia benar – benar mesti bertahan dari serangan katana yang seakan siap memotong tubuhnya menjadi dua. Ditambah dengan pedangnya yang kini meluncur bebas terlepas dari tangannya. Bahkan kini dirinya sudah terpojok membuatnya terpaksa berteriak, guna menyadarkan Kiku yang kini memasang wajah datar. Seakan benar – benar siap membunuhnya. Bagaimana dia tidak berpikir begitu, jika dapat dirasakannya ujung katana pemuda itu sudah mengenai lehernya

.

"AKU MENYERAH…AKU MENYERAH." Teriaknya lebih kencang, berharap Kiku yang memasang wajah dingin dapat menyarungkan pedangnya.

.

Melihat Kiku menyarungkan katananya, barulah membuat pemuda itu lega. Apalagi saat Kiku berbalik pergi tanpa sepatah kata, diikuti oleh Viet. Saat itu terlintas dipikirannya, bahwa Kiku masih dendam soal kejadian beberapa hari lalu. Hingga, Hong datang membuatnya tersadar akan pikiran jeleknya. Tentu saja jelek, mana mungkin seorang Kiku dendam hanya karena hal sepele seperti itu.

.

"Sepertinya mood Kiku, lagi buruk. Kau tidak apa – apa, Lay?" tanya Hong,

"A-aku kira, aku akan mati tadi. Aku masih hidup kan?" sedikit berusaha meyakinkan diri, bahwa lehernya masih terpasang dengan baik ditempatnya, dilakukan olehnya.

"Yah, kau masih hidup, sayang banget." Geleng Hong sedikit bercanda.

.

Yah, candaan yang membuatnya geram setengah mati atas ucapan pemuda itu. Coba saja, dia sendiri yang merasakan. Bagaimana rasanya bertahan hidup, dari serangan seorang Kiku yang benar – benar terlihat serius melakukannya.

.

"Kau ini, benar – benar. " Sedikit menggerutu dilakukannya.

Walau dirinya tidak terima dengan ucapan Hong barusan. Tetap saja, uluran tangan Hong yang ingin membantunya berdiri akan dia terima.

"Sebenarnya apa yang terjadi padanya?" Tanyanya menatap Hong.

"Kenapa kau jadi bertanya padaku?"
"Bukannya, biasa kau lebih tahu dari pada aku?"

"Hah, Jangan memulai, Lay," ucap Hong saat itu.

'Apanya yang jangan memulai, aku kan hanya bertanya,' sedikit membatin dilakukannya.

"Tidak semua orang, mau masalahnya diketahui oleh orang lain, karena itu…," ucapnya memberi jeda. "Sebaiknya kau jangan mau tahu."

.

Jarang, sangat jarang seorang Hong bisa berkata seperti itu. Menatap tajam lawan bicaranya. Membuat perasaan tidak enak saja. Benar – benar tidak disangkanya, Hong akan berkata begitu. Sedikit anggukan kecil dilakukan olehnya, memandang Hong yang kini berbalik dan berjalan pergi.

"Apakah itu juga berlaku dengan Nesia?" tanyanya, berusaha mencari tahu.

Sesuai dugaan, Hong sepertinya kaget. Memilih berhenti untuk berjalan, menoleh ke arahnya. Terlihat jelas tatapan tidak percaya ada dimatanya.

"Maksudmu?"

"Maksudku, kurasa kau tahu maksudku. Jangan kalian kira aku tidak tahu, alasan kalian selama ini diam, membiarkannya berbuat semau hatinya."

Sedikit berbohong terpaksa dilakukannya, menerka – nerka kejadian yang sebenarnya. Semoga saja tebakannya benar.

"Sedikit saran untukku, sebaiknya kalian berhenti, sebelum dia menyadari."

Sepertinya tebakannya memang benar, dilihat bagaimana lamanya Hong diam. Membiarkannya terus berbicara, hingga akhirnya.

"Apa kau cemburu, karena kami lebih peduli pada saudaramu, Lay. Tenang saja, kami juga menyayangimu." Senyumnya, merentangkan tangannya lebar – lebar. "Kemarilah biar kupeluk."

.

Sungguh, demi teman – teman ghaib Nesia. Baru kali ini dia melihat wajah Hong seperti itu. Apalagi kata terakhirnya. Dedemit mana yang kini tengah memasuki pemuda itu, hingga bisa berubah seperti ini. Melihat Hong yang kini makin mendekatinya dengan tangan lebar, seakan siap memeluknya. benar – benar membuat dirinya bergidik ngeri.

.

"Kau gila Hong."

"Ah, jangan ragu – ragu, kemarilah."

Walau dia tahu Hong tidak serius melakukannya. Tetap saja, tidak dapat dibayangkannya dua pemuda saling memeluk. Maaf, maaf saja dia masih normal. Sebelum Hong berhasil mendekatinya, dengan tepaksa dirinya berlari pergi. Meninggalkan Hong yang berteriak memanggil namanya.

.

End flash back

.

.

.

.

.

.

Ah, mengingat itu, membuatnya kembali mual. Bagaimana pun kejadian itu harus cepat dilupakannya.

"…Kau baik – baik saja, Lay?"

Sedikit kaget, dirinya berbalik memandang gadis yang kini tersenyum di depannya.

"Sepertinya kau tidak demam," Ucapnya kembali mendekatkan wajahnya

.

Bruagh‼‼

.

Sumpah, demi dedemit peliharaan Nesia. Gadis ini benar – benar ingin membawanya ke rumah sakit.

"Auchhh," sedikit meringis dilakukannya, menahan rasa sakit yang kini menyerang bokongnya.

Menyerang? Yah, kini dirinya dengan sukses terjengkal dari kursi. Akibat perbuatan gadis ini, yang dengan seenaknya mendekatkan wajah mereka berdua.

"A-APA –APAAN KAU, NES." Teriaknya kesal, berusaha berdiri.

"Apanya yang apa?" dengan wajah polos, tanpa dosa dia bertanya. "Aku kan hanya ingin memeriksa saja, apa kau demam atau gimana. Memangnya salah?"

"Tapi tidak begitu caranya." Gerutunya kesal, membetulkan tempat duduk.

"Salahmu, dari tadi ku panggil – panggil tidak dengar."

"Ck, jadi aku yang salah."

"Iya, memang siapa lagi."

"Memangnya kau tidak"

"Tentu saja tidak. Kau jatuhkan karena salahmu sendiri, dasar bodoh."

"Apa kau bilang?"

"Lah, memang benar kan"

"Jangan seenaknya kau"

"Maksudmu"

Kalimat berikutnya yang ingin keluar dari bibir Malay, tidak pernah berhasil keluar. Begitu melihat tatapan gadis di hadapannya ini, yang memasang wajah polos. Seakan benar – benar tidak paham dengan maksudnya. Apalagi mata hitamnya yang kini menatapnya. Membuatnya ingin menangis dalam hati. Kenapa dia tidak pernah bisa menang melawan gadis ini. Sepertinya ini adalah kutukan seumur hidup baginya.

.

.

.

.


"APA‼ YANG BENAR SAJA" teriakan tidak rela terlontar dari mulutnya.

Tidak rela, tentu saja. Bagaimana mungkin dia bisa rela, mendengar saudaranya kini berpacaran dengan salah satu pemuda yang pernah ingin menyakitinya. Pemuda yang pernah membuatnya lama tidak bertemu dengan gadis ini. Pemuda yang membuat, hari – harinya begitu membosankan karena kehilangan gadis ini. Kembali di pandangnya saudaranya ini yang kini tertunduk dengan rona merah di wajahnya.

Sumpah, jika ini mimpi di siang bolong. Tolong bangunkanlah dirinya dengan cepat. Bagaimana mungkin tidak ada angin, hujan, petir dan segala macam hal yang terjadi. Dia bisa mendengar berita seperti ini sekarang. Tidak mungkin ini pasti ada yang tidak beres. Yah, pasti ada yang tidak beres.

.

"Bagaimana bisa Nesia dan dia berpacaran." Geleng Thai tidak percaya.

Kalimat yang membuatnya kembali ke alam nyata, memandang pemuda itu. Sepertinya Thai dan dirinya mempunyai pendapat yang sama dalam hal ini. Bagaimana mungkin, mereka bisa berpacaran. Dirinya tidak akan pernah rela, melepaskan Nesia untuk pemuda seperti Aussie. Yah, tidak akan pernah rela.

.

Lupakan semua hal, tentang keanehan yang selama ini dilakukan oleh Nesia. Lupakan semua sikap kecuekan saudara – saudaranya akan prilaku aneh gadis itu. Yah, dia tidak akan ambil pusing untuk hal itu lagi. Kini, yang dia benar – benar harus lakukan hanya satu. Benar hanya satu.

Memisahkan mereka berdua. Tidak akan dibiarkannya mereka bersatu. Tidak akan pernah. Karena tidak ada satu orang pun yang pantas untuk memiliki gadis ini. Tidak, ada satu orang pun yang pantas untuk saudaranya ini. Yah, tidak akan ada yang mampu untuk membuat saudaranya benar – benar bahagia. Tidak ada, yah, tidak ada selain dirinya.

.

.

.

End


A/n: Yeahhhh, dengan masih terbengkalainya fict yang lain. Saya kembali datang dengan ending yang…emmm. Ah, semoga saja lebih baik dari sebelumnya… amin,^^. Semoga saja kali ini penulisan saya juga sudah lebih baik dari fict sebelumnya, tidak ada typo yang suka nyelip, Amin ^^

Kali ini entah kenapa, saya jadi ingin menceritakan tentang Malay. Ngebayangin punya saudara kayak Malay gimana rasanya yah. Mungkin berasa kecampur aduk nih hati. Baiklah waktunya ngebalas review. ^^

.

.

Neolavender

Iya nih Kikunya manis kayak lollipop. Maksih, makanya saya suka.^^ hehe

Iya typo dan miss-grammar baru saya sadari banyak beterbaran, memenuhi fict saya :,(

Soal alurnya, Saya membuatnya karena senang alur yang seperti itu. apalagi difict "she's Back" sudah diceritakan. Saya pikir itu tidak perlu dijelaskan lagi. Ternyata saya salah. *nangispundung* Saya baru ngeh kalau itu ternyata bisa mengganggu kenyamanan. Maafkan saya *bungkuk2*. Semoga fict saya kali ini lebih baik lagi dari pada sebelumnya. Terima kasih sudah mengingatkan dan memberi tahu dimana letak kesalahan saya. Membuat saya bisa lebih baik lagi untuk fict saya selanjutnya.^^.

.

.

Hyori Sagi

KYAAAAA, TIDAKKKK *dilemparkarenaberisik*

Iya nih, gantung. Karena difict saya yang lain belum saya selesain. Terpaksa kikunya saya gantungin. Eh, maksud saya endingnya. Kasian juga kalau Kikunya saya gantung. hehehe
Iya benar – benar, saya memang teledor untuk yang satu itu :`( baru nyadar setelah di publish. *diketokNesia* huhu. Maafkan saya.*bungkuk2*

Iya, bener-bener Pair JapNes itu rasanya gimana *mulaingayal yanganeh2* tapi bukan berarti saya tidak suka pair yang lain, hanya saja *mulaingebayang lagi*diketokMalay*. Hehe,Makasih. Saya harap fict saya kali ini dalam penulisan dan semuanya sudah lebih baik dari sebelumnya. Makasih, sudah mengingatkan akan keteledoran saya. ^^

.

.

Sekian balasan review dari semua, terima kasih sudah meluangkan waktu buat mereview.^^ Dan makasih buat para readers yang sudah membaca. Hohoho. Setelah Kiku dan Malay, yang jadi korban. Kira – kira bagusnya siapa lagi yah *poseberpikir* Apa ada yang bisa memberikan saran. Hohoho. Sepertinya siapa pun itu, tidak akan lepas dari fict saya yang satunya. ^^ #plak#DiseretNesia#

Kritik dan saran selalu diharapkan buat kemajuan fict saya yang lainnya.

Read n Review Plizzzzzzzzzzzzz