Siang yang tenang dan dengan semilir angin yang lembut membelai wajah Astraea. Mengibarkan rambutnya dengan lembut. Beserta dengan kicauan merdu dari burung gereja, menemani gadis berambut coklat muda ini membaca. Namun, semuanya ketenangan itu sirna begitu saja, ketika musik favoritnya melantun dari handphone yang empunya.

"Milo?", gumamnya seraya melihat nama yang terpampang di layar handphone-nya. "Tumben dia telpon".

Kemudian diangkatnya panggilan tersebut.

"Halo?"

"RRREEEAAA!"

Dengan segera Astraea menjauhkan handphone-nya dari telinga.

"Nggak usah pake teriak-teriak napa sih?"

"He-eh.. Sori.. Sori.."

"Rea, kami butuh kamu. SEKARANG!", terdengar suara Saga diseberang sana.

"Ini EMERGENCY!", sambung Aiolia.

"Tapi-"

"Nggak ada tapi-tapian., Rea. Pokoknya kamu harus datang!", teriak Shaka.

Seketika itu juga, sambungannya diputus.

"Emergency sih emergency.. Tapi nggak usah pake teriak-teriak. Aku kan nggak budek. Lagipula ada apa sih? Kok kelihatannya heboh banget?"

Rea pun beranjak dari tempat duduknya, lalu ia pergi ke taman yang berada di belakang rumahnya.

"Leto", panggilnya.

Kemudian muncullah Pegasus dengan surai yang berwarna kuning lemon dan kuku kaki yang berwarna emas.

"Leto. Kita pergi ke Sanctuary sekarang. Para Goldies membutuhkan kita", sahut Rea sambil membelai kepala Leto dengan lembut.

Leto meringkik ria, mengembangkan sayapnya, lalu membungkuk membiarkan Rea menungganginya.

"Ayo berangkat".

Sang pegasus mengambil ancang-ancang. Kemudian mengepakkan sayapnya, membawa Rea menuju Sanctuary.

~+o+~

Perjalanan dari Paris menuju Sanctuary hanya menempuh waktu sekitar 1 jam. Ketika sampai di Sanctuary, Leto langsung terbang menuju kuil Libra. Rea turun dari punggung Leto dan berjalan masuk menuju kuil Libra. Kuil Libra selalu dipakai Goldies untuk rapat. Karena sang empunya sedang berada di Rozan dan setiap 5 tahun sekali, sang empunya kembali ke Sanctuary sekadar mengecek kuilnya. Rea masuk ke dalam kuil Libra. Dan kemudian, ia hanya bisa berdiri mematung di depan pintu masuk kuil Libra. Terlihat para Goldies sedang duduk melingkar di tengah-tengah kuil. Dengan tangan yang menopang kepala mereka. Mereka terlihat sangat bingung dan kacau. Dalam kesunyian yang terbilang aneh itu, para Goldies menyadari kedatangan Rea, yang masih diam mematung di depan pintu kuil.

"Rea? RREEAA!"

Aiolia, Shaka, dan Milo berlari menuju Rea layaknya orang yang sedang dikejar banteng Kreta dan Harpi. Kemudian, mereka bertiga memeluk Rea bagaikan boneka teddy bear. Sedangkan para Goldies yang lain hanya tersenyum lega.

"Kenapa kalian menyuruhku untuk datang ke sini?", tanya Rea setelah tersadar dari lamunannya.

"Hanya ada satu. Atau mungkin dua alasan", kata Mu mengawali.

"Kita pingin curhat", sambung Aphrodite dengan suara lelakinya.

"Tumben Aphro nggak kayak biasanya?..", bisik Shura.

"Karena dia takut dengan Rea", jawab DM.

"Hah? Kok bisa?"

"Sekilas cerita. Waktu aku sedang ngobrol sama Rea, Aphro dateng ke kuilku. Dan dia 'nyapa kami dengan suara lebay nan bancinya. Si Rea nyindir Aphro dengan bilang 'Aphro, kamu itu laki-laki atau perempuan sih?'. Aphro langsung bungkam dan nggak pernah ngomong pake suara lebay nan bancinya itu lagi dihadapan Rea..."

"Oalah..."

"Itulah Rea. Tegas, cuek, dan kalau bicara kadang-kadang blak-blakan. Namun sebenarnya, dia sangat penyayang dan perhatian", timpal Camus dengan suaranya yang dingin.

Shura dan DM tersentak, kaget.

"Tajam juga pendengarannya. Kayak anjing".

"Apa katamu?"

"Bukan apa-apa kok.."

"Curhat?", tanya Rea bingung. "Kalian manggil aku ke sini, hanya untuk curhat?"

Para Goldies mengangguk lesu.

"Habis.. Kami sudah muak dan stres dengan tingkah laku Athena".

"Nah.. Itu baru cerita.."

"Gini lho.., Athena pergi jalan-jalan entah kemana sejak kemarin. Dia pergi selama kurang lebih 1 ½ minggu".

"Dan si malaikat jadi-jadian itu nyuruh kami untuk menyelesaikan semua berkas-berkas yang penting dan nggak penting", cerita Aldebaran dan Kanon secara bergantian.

"Maksud dari tugas yang penting dan nggak penting, itu apa?"

"Berkas-berkas yang pentingnya itu berkas-berkas keuangan. Berkas-berkas yang nggak pentingnya itu berkas-berkas georafi, pengawasan kabin-kabin, sosial, antropologi, kinerja, dll.", terang Aiolos panjang lebar tanpa titik koma.

"Saking stresnya, kami nggak tau harus konsultasi dan curhat ke siapa. Maka dari itu, kami memanggilmu".

"Kenapa harus aku? Kan bisa kalian curhat ke bronzies atau ke female saints?"

"Alasannya karena mereka semua cuek bebek", jawab Aiolia.

"Bukannya kalian juga menge-capku sebagai orang yang cuek?"

Mendengar pertanyaan dari Rea, para Goldies membungkam. Tak ada satu pun dari mereka yang mau menjawab. Mereka tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Angin musim dingin berhembus memasuki kuil. Membuat suasana di kuil Libra terasa cukup menegangkan.

"Kenapa kalian tidak bicara langsung ke Athena?", tanya Rea, memecahkan kesunyian.

"Percuma. Nggak bakalan didengarkan", jawab Saga putus asa.

"Pingin rasanya aku mbejek-bejek saos tiram itu!", teriak DM.

"Bener juga. Sekali-kali, kita kasih dia pelajaran", timpal Shaka.

"Pelajaran?"

"Iya. Aku pingin dia merasakan sengatan dari kalajengking peliharaanku".

"Aku pingin dia tersiksa seumur hidup!"

"Ingin rasanya memenjarakan dia dengan es-ku..!"

Sementara para Goldies berkoar-koar, Rea tenggelam dalam pikirannya sendiri.

"Rea", suara Mu membuyarkan lamunan Rea.

"Kamu.. nggak seneng ya dengan apa yang kami bicarakan tadi?", tanya Aldebaran.

"Hah.. Ok.. ok.. Kita coba buat bicara baik-baik ke Athena sewaktu dia pulang.."

"Kalian ngomong apa'an sih? Aku setuju kok, dengan kata 'pelajaran' yang kalian maksud itu".

"Hah?"

"Ng-nggak salah?"

"Apanya yang salah DM? Aku serius. 12-rius malah. Dan aku sudah menyiapkan sebuah rencana", sahut Rea seraya berdiri.

Para Goldies hanya bisa bengong mendengarkan perkataan gadis yang berpakaian serba hijau muda itu.

"Aku akan tinggal di sini selama 2 bulan. Hitung-hitung liburan dan aku akan bantu kalian untuk memberikan 'pelajaran' ke Athena. Sekarang kalian kerjakan saja apa yang disuruh oleh Athena. Kalian nggak usah terlalu serius untuk mengerjakan berkas-berkas itu. Pukul 6 sore, kalian berkumpul di sini lagi untuk tea time".

Rea menatap para Goldies dengan mata coklatnya yang lembut. Senyum khas nan misterius terlukis diwajahnya. Kemudian, ia pergi keluar kuil. Meninggalkan para Goldies yang masih bingung nan bengong dengan apa yang dikatakannya.


Di chapter berikutnya, cerita yang sesungguhnya baru dimulai. Alias penyiksaan terhadap Athena akan dimulai pada chapter berikutnya. So, ditunggu ya... ^^