Hallo, Lav's back. Nggak kelamaan, kan, nunggunya? *kalo ada yang nunggu T.T
But thanks buat :
7color, me, Hikari Shinju, Sasusaku Hikaru, gieyoungkyu, 4ntka-chan, Hikari Meiko Eun Jo, Just Ana, vvvv, Ara Jessica Russo, Andromeda no Rei, Just Natha'lia, Nakamura Kumiko-chan.
Kalian penyemangat!
Here you go. . .
I'm Lost In Your Eyes
Naruto is Masashi Kishimoto's
This story is Lav's
Semi-canon, Lil OOC, OC, Typos, etc
.
.
.
Enjoy Reading
.
.
.
Ketiga pemuda itu masih berloncatan dari satu pohon ke pohon lain. Kecepatan mereka tidak bisa dibilang lambat. Namun mereka masih bisa berkonsentrasi dan mata mereka tajam mengawasi sekitar.
"Aku bisa merasakan mereka," dengus salah satu pemuda yang berambut pirang. Ia menatap tajam ke belakang tanpa kehilangan konsentrasi ke depan.
"Semakin dekat," timpal pemuda satu lagi yang berambut nanas. Sementara pemuda berambut raven yang ada di samping Naruto, pemuda pirang tadi, hanya diam dan terus meningkatkan kewaspadaan.
"Kita hajar mereka!" Naruto sudah tak sabar lagi dan mendadak berhenti menunggu kedatangan orang yang mengejar mereka. Kedua temannya juga terpaksa berhenti. Memang lebih baik seperti itu.
Setelah turun ke tanah, mereka melihat sekitar 20 orang yang bertopeng serupa menghadang mereka. Satu di antaranya-pemimpin mereka, tampangnya sangar dengan luka memanjang di pipi kiri dan tubuh terlampau kekar dan tinggi.
"Ck, merepotkan," Shikamaru, pemuda berambut nanas itu, mendesah pelan. Ia bosan dengan tipe lawan seperti ini. Mereka bertampang menyeramkan namun nyatanya bisa dikalahkan sekali libas. Apa mereka tidak tahu siapa lawan mereka?
"Biar aku yang tangani!" Naruto megeluarakan kagebunshin-nya hingga tubuhnya berlipat ganda. Ia segera melawan orang-orang bertopeng itu dengan bayangannya.
"Takkan kubiarkan kalian ke sana!" geram lelaki seram tadi sambil menyerang Shikamaru yang langsung mengeluarkan kagemane-nya. Orang itu langsung terpaku. Tak bisa bergerak. Dengan mudah ia membuat orang itu membanting-banting tubuhnya sendiri.
Sasuke, pemilik rambut raven tadi, menyaksikan kedua temannya bertarung. Ia tahu sebentar lagi saja kedua temannya dapat segera mengalahkan ninja-ninja tingkat rendah itu.
Dan setelah mereka mengalahkan orang-orang itu dengan luka parah di sekujur tubuh, mereka segera melanjutkan perjalanan.
Sakura membereskan map-map yang berserakan di mejanya. Gerak-geriknya gelisah. Ia berkali-kali mendesah khawatir. Mata hijaunya juga berkali-kali menerawang ke kejauhan melalui jendela ruang kerjanya.
Suaminya sedang melakukan misi level S sekarang. Itu memang resiko seorang shinobi. Tapi biasanya ia tak pernah merasakan perasaan khawatir yang terlalu berlebihan seperti ini. Biasanya ia percaya. Tapi sekarang ia seperti mendapat firasat buruk.
"Percayalah aku akan kembali," bujuk pemuda itu saat malam saat pemuda itu akan berangkat misi esok paginya.
"Tapi, Sasuke-kun. Aku seperti mendapat firasat buruk," Sakura mencengkeram kerah baju pemuda itu erat-erat. Ia tak rela.
"Aku akan baik-baik saja," bisik Sasuke lagi sambil mengelus rambut pink halus milik istrinya, meyakinkan. "Karena aku ingin melihat matamu lagi."
Sakura mendongak menatap Sasuke, "Ada apa dengan mataku?" dan ia sengaja mengerjap-erjapkan matanya. Mengerling. Sasuke tersenyum kecil sedikit gemas.
"Matamu menyejukkan."
"Benarkah?" Sakura membelalakan mata hijau emeraldnya indah. Sasuke mengangguk.
"Hijau itu sejuk."
Sakura meringis kecil lalu menutup matanya saat Sasuke akan mencium mata tertutupnya. 'Pantas saja ia menatapku saat hari panas,' batin Sakura.
"Kau mau tahu penilaianku tentang matamu?" tanya Sakura lalu bergerak dari futon-nya untuk beranjak ke jendela. Membukanya, lalu melihat jauh ke bintang-bintang dan langit malam.
"Apa?" tanya Sasuke yang juga sudah menyusulnya dan memeluk Sakura erat dari belakang.
"Seperti itu," Sakura menunjuk langit di kejauhan. "Matamu segelap malam. Menghanyutkan. Dingin. Mempunyai arti yang luas. Dan terkadang aku merasa tersesat dalam matamu. Namun matamu juga bisa menenangkanku dan membuatku percaya jika semuanya akan baik-baik saja."
"Jadi kau percaya aku akan baik-baik saja?"
"Kau harus membuatku percaya," Sakura menghela nafas lalu berbalik dan memandang Sasuke dengan matanya yang tersenyum getir menyipit.
Sasuke menghela nafasnya lalu menunduk memandang mata Sakura. Ia membalikkan kembali tubuh Sakura hingga kembali membelakanginya dan sama-sama memandangi bintang.
Semuanya gelap. Dingin akan angin yang pelan berhembus memasuki kamar mereka. Malam semakin merambat.
"Ayo tidur."
Tsunade-sama menumpukan kedua tangannya ke dagu. Pandangannya tajam menatap Kakashi, Jonin terhebat di Konoha yang mempunyai rambut perak dan mata malas. Namun kali ini lelaki itu memasang wajah seriusnya. Ia sabar menunggu apa yang akan diperintahkan oleh wanita berwibawa berambut pirang itu.
Menghela nafas sebentar, Tsunade-sama lalu berkata dengan mantap. "Aku yakin kau bisa mengalahkan musuh kali ini. Namun kau harus menyusul mereka. Kau bawa Sakura sekalian. Musuh kali ini memiliki racun yang cukup membahayakan. Jadi Sakura harus ikut untuk berjaga-jaga."
Kakashi mengangguk paham. Dia lalu menarik IIP Paradise dari sakunya dan mulai membukanya sambil bergumam, "Ino tidak sekalian?"
"Tidak. Itu hanya akan semakin merepotkan. Konoha juga butuh medic-nin hebat. Tidak bisa semuanya ikut misi."
"Begitu?"
"Lagipula, dia pasti akan senang mendapat misi ini. Karena ia bisa bertemu Sasuke," Tsunade menambahkan sambil tersenyum tipis. Ia, jika boleh jujur, sudah ingin menimang bayi hasil pernikahan mereka. Namun sudah 5 bulan menikah, mereka tidak juga memiliki anak. Mungkin karena mereka jarang bertemu karena sama-sama sibuk.
"Betul juga," Kakashi lalu berdehem. "Sebaiknya aku harus secepatnya menemui Sakura. Jadi, kapan kita berangkat, Tsunade-sama?"
"Sore ini juga. Tapi, Kakashi-" Tsunade buru-buru mencegah saat Kakashi akan menghilang melalui jendela kantor Hokage.
"Apa?"
"Kau langsung saja ke tempat itu. Tunggu sampai Sasuke dan yang lain datang. Musuh juga pasti akan ke sana. Jadi tugasmu menghalau mereka."
"Ha'i" Kakashi mengangguk mantap lalu menghilang. Ia harus segera menemui Sakura. Dia hafal, jam segini, Sakura pasti masih berada di rumah sakit.
Sudah jam 2 siang tepat. Yamanaka Ino meminum air dingin yang ada di meja kasir di toko bunga milik keluarganya. Cuaca sangat panas. Ia tidak heran mengingat Konoha memang negara yang panas walau tidak sepanas Suna. Sekali lagi ia melirik jam. Sekarang sudah jam 2 lebih 1 menit. Dan tentu saja tidak ada yang berubah.
"Ino, maaf aku terlambat," sebuah suara nyaring sudah terlebih dahulu masuk bahkan sebelum pemilik suara itu membuka pintu tokonya. Dilihatnya seorang wanita berambut merah muda mencolok masuk dengan tergesa-gesa.
"Hn, tak apa," gumam Ino sambil mendekati Sakura. Namun dia bingung saat melihat Sakura sudah mengenakan baju yang biasa ia pakai jika ada misi dan sebuah ransel ada di punggungnya.
"Kau ada misi?" tanya Ino sambil menepuk ransel yang Sakura bawa. Sakura mengangguk cepat.
"Kami mau menyusul Sasuke-kun, Shikamaru, dan Naruto. Aku akan pergi dengan Kakashi-sensei," kata Sakura sambil meminum minuman yang sempat diminum Ino tadi.
"Misi level S, kan?" Ino menyipitkan matanya.
"Hehem."
"Shikamaru juga ada di sana," Ino menggumam lirih. Ia lalu menerawang jauh. Sekarang Shikamaru adalah suaminya. Ia tidak pernah menyangka pemuda malas itu akan menjadi suaminya. Dia lebih condong pada Sai yang lebih tampan menurutnya. Namun pemuda berkulit pucat itu sangat tidak peka. Ia, sebagai gadis yang ingin mendapatkan perhatian, jadi sering tidak enak hati. Walaupun sama-sama cuek, setidaknya Mr. Troublesome itu sedikit lebih pengertian dan tahu kebiasaannya, apa yang ia suka dan ia benci, mengingat mereka sudah bersama sejak kecil.
"Dia pasti baik-baik saja. Sama seperti Sasuke-kun dan Naruto," gumam Sakura.
"Ya. Semoga saja. Ah, Sakura, aku iri padamu. Aku ingin ikut menyusul mereka," nada suara Ino merajuk. Sakura menggeleng keras.
"Konoha membutuhkanmu. Aku juga hanya memberitahu ini padamu. Karena jika Hinata tahu, dengan gagap dia pasti ingin ikut juga."
"Iya, aku tahu," Ino menganggu-angguk mengerti sambil tersenyum menepuk bahu Sakura yang terbuka. "Kami hanya merindukan suami kami."
Sakura tersenyum lalu memeluk Ino. Ia segera melepasnya kembali dan menatap Ino tajam, "Ino, maaf. Selama beberapa hari ke depan kau tidak akan mempunyai teman gosip lagi."
"Ya, ya, aku mengerti. Ah, padahal aku mmepunyai gosip baru yang inginaku sampaikan padamu. Tapi sayang kau harus pergi," desah Ino kecewa- atau bisa dibilang, pura-pura kecewa karena ia bangga akan sahabat pinkiya itu. Ya, setiap sora, jika ada waktu senggang, mereka bisa berkumpul bersama untuk membicarakan berbagai hal. Seperti hari ini. Jika tidak ada misi.
Sakura terseyum lalu akan beranjak mendekati pintu untuk membukannya saat Ino berteriak dari dalam, "Sakura, jika kau sudah bertemu dengan mereka, sampaikan salamku untuk Shikamaru. Um… dan salam Hinata untuk Naruto sekalian."
Wanita berambut pink itu tersenyum, mata hijaunya menyipit imut, "Pasti."
TBC
Haha, sejujurnya Lav ini bunuh diri, lho. Niatnya mau bikin two-shots, tapi gak jadi. Lagi kena WB. Pendek banget fic ini. Tugas sekolah banyak banget, swear! *malah curcol. Banyak OC disini. Gak apa-apa, ya? Di sini belum ada konflik dan, 'tempat' apakah itu? Lav sendiri gak tahu. *lho? Lav juga paling gak bisa bikin adegan berantem *duh. jadi maaf kalo adegan berantemya payah. Oiya, Lav butuh
REVIEW!
