.
BUDDING ROMANCE
Chapter 2 - [7,3k words]
0o0-0o0
Hyukjae bukannya tidak tahu kalau sedang diperhatikan. Hyukjae tahu, hanya ia memilih untuk tak menghiraukannya. Dari sudut matanya, Hyukjae juga bisa melihat Seungkwan, Hoshi, dan DK yang sedang duduk bersama dan menikmati makan malam konsumsi yang disediakan oleh Heechul mencuri-curi pandang ke arahnya, ingin tahu.
"Anak-anak usil itu…," batin Hyukjae.
Saat ini Hyukjae sedang melihat foto-foto hasil jepretannya. Semua foto memperlihatkan dekorasi lokasi pernikahan yang diambil dari segala sudut. Hyukjae selalu berpikir nantinya foto ini bisa digunakan untuk referensi proyek pernikahan yang lainnya. Yang menjadi perhatian atau yang membuatnya menjadi pusat perhatian adalah pria yang sedang duduk bersamanya. Mata pria tersebut seolah tak pernah berhenti memandangnya.
"Serius. Bila seseorang memandangiku seperti itu, aku akan meleleh," kata Seungkwan.
"Ahh, Hyukjae hyung sangat dingin. Wajah hyung bahkan tidak memerah," komentar Hoshi.
"Hyung juga sama sekali tidak terlihat gugup. Hei, aku setuju. Pria ini adalah yang terbaik dari semua kandidat," tambah DK.
"Yah! Aku bisa mendengar semua itu!" batin Hyukjae. Ia hampir saja melempar sesuatu ke arah ketiganya jika tidak mendengar Donghae tertawa.
"Kandidat kekasih, hmm?" kata Donghae.
Hyukjae menghela nafas. "Jangan dengarkan mereka, Donghae."
Donghae tertawa lagi setelah itu ia menyeruput kopinya dan kembali memandangi Hyukjae.
"Ugh! Bisakah kau menghentikan itu?" kata Hyukjae.
"Menghentikan apa?" tanya Donghae.
Hyukjae meletakkan kamera dan menatap Donghae.
"Itu!" Hyukjae menunjuk mata Donghae yang begitu fokus padanya.
Donghae tertawa kecil.
"Sudah berapa tahun kita tak bertemu, Hyuk. Aku tak menyangka, kau jadi secantik ini," kata Donghae.
"Donghae, kata cantik itu untuk wanita," koreksi Hyukjae.
"Kau juga mewarnai rambutmu menjadi blonde. Sangat cocok. Itu membuatmu bertambah manis."
Donghae sengaja menggunakan kata manis. Karena ia tahu itu akan membuat Hyukjae kesal. "Apa aku ini kucing?" reaksi Hyukjae, dulu, ketika Donghae mencoba memanggilnya dengan panggilan sayang, manis. Hyukjae itu selalu berpikir bahwa kata manis hanya cocok digunakan untuk kucing.
"Donghae…"
"Hmm…"
Keduanya saling pandang.
"Apa kau selalu menggunakan trik ini untuk menggoda seseorang?" tanya Hyukjae.
"Hanya kau," jawab Donghae.
"Apa itu jawaban yang sama untuk semua orang?" tanya Hyukjae lagi.
"Kau cemburu?" tanya balik Donghae.
Hyukjae tertawa lalu menggelengkan kepala. Cemburu? Itu sama sekali tidak logis. Hyukjae mengambil kameranya dari meja berikut mengangkat semua barang-barangnya.
"Selamat malam, Donghae," kata Hyukjae sebelum beranjak pergi.
0o0-0o0
Donghae membuka pintu kamar hotelnya karena seseorang mengetuk.
"Apa yang dilakukan di kamarku selarut ini?" tanya heran Donghae pada sosok berkacamata di hadapannya.
"Aish. Biarkan aku masuk." Sosok itu melesat masuk ke dalam kamar tidur Donghae dengan laptop di tangan.
"Yah, Kyuhyun! Ini tinggal beberapa jam lagi kau seharusnya beristirahat," kata Donghae.
"Terima kasih padamu, Donghae! Karena kau memberiku pekerjaan setan ini!" timpal Kyuhyun sarkastik sambil menghempaskan diri ke sofa yang di sebelah ranjang. Ia lalu membuka laptopnya.
"Kau tahu apa yang salah dari sistem ini? Fuck! Itu hanya karena satu koma! KOMA!" kata Kyuhyun berapi-api.
"Kau menemukannya?" Donghae mendekat pada Kyuhyun.
"Lihat ini," Kyuhyun menunjukkan baris coding dan menghapus tanda koma. Setelah itu secara luar biasa sistem yang mereka buat berjalan sebagaimana mestinya.
"Genius! Sekarang aku bisa mengerjakan kolomku. Berapa lama lagi deadline nya?" tanya Donghae.
"Lima hari Donghae! Dan aku tak bisa berbulan madu!" pekik kesal Kyuhyun.
Donghae menepuk bahu rekan kerja sekaligus kekasih hati Sungmin, teman baiknya sejak menimba ilmu di universitas itu.
"Setelah lima hari ini, kau bisa pergi dan bercinta dengan Minnie sepuasmu," kata Donghae tanpa dosa, dan itu membuat Kyuhyun menghujaninya dengan berbagai caci maki.
Donghae tahu seharusnya ia memberi Kyuhyun hari libur. Tapi deadline pekerjaan mereka sangat ketat. Kalau tak menyelesaikan pekerjaan tersebut tepat waktu, mereka bisa kehilangan klien. Terburuknya, mereka tak kan memperoleh uang satu won pun.
"Hei Donghae."
"Anak setan. Aku lebih tua. Panggil aku hyung!" kata Donghae.
"Aku dengar dari Minnie kau tebar pesona dengan seorang kru wedding organizer-ku," Kyuhyun tak menghiraukan perkataan sahabatnya itu.
"Hmm. Hyukjae," kata Donghae. Mata dan tangannya tetap bekerja dengan laptop.
"Aha! Tak heran kau sudah mengetahui namanya," sindir Kyuhyun.
"Aku sudah tahu apapun tentangnya, Kyuhyun," timpal Donghae.
"Termasuk apa yang ada di dalam celananya?" tanya Kyuhyun.
Donghae memberi jawaban dengan anggukan kepala.
"WOW! Itu sangat cepat!"
Mendengar itu, Donghae menghela nafas dan mengistirahatkan kepalanya ke sandaran sofa.
"Ini tidak seperti apa yang kau pikirkan, Kyuhyun…," kata Donghae pelan. Ingatannya pun menerawang ke beberapa tahun silam.
.
"Ayo kita putus," kata Donghae.
Ia bisa melihat keterkejutan diekspresi Hyukjae.
"Putus?" tanya Hyukjae seakan menegaskan ia tidak salah mendengar.
"Hyuk, kita masih muda. Aku pikir, aku ingin merasakan banyak hal. Mencoba banyak pengalaman…"
"Dengan orang lain?" potong Hyukjae.
"Hyuk, kau kekasih pertamaku. Begitu pun aku bagimu. Aku benar-benar jatuh cinta padamu saat aku mengutarakan keinginanku untuk menjalin hubungan denganmu. Tapi… setelah beberapa lama… aku berpikir, 'berpetualang' itu bagus. Kau mengerti maksudku?" tanya Donghae.
Hyukjae mengangguk.
"Kau ingin 'berpetualang'," kata Hyukjae.
Donghae memegang tangan Hyukjae. "Aku pikir hal ini juga baik untukmu, Hyukjae."
Hyukjae terdiam dan Donghae membiarkannya.
"Oke," kata Hyukjae setelah beberapa saat.
Donghae mengamati wajah Hyukjae.
"Kau…," perkataan Donghae terpotong ketika Hyukjae menyebut nama seseorang.
"Kibum. Kau sedang dekat dengan Kim Kibum, anak klub drama SMA Sakura kan?" kata Hyukjae.
Mata Donghae terbuka lebar.
"Kau ketahuan, idiot!" ujar Hyukjae saraya tertawa kecil. "Aku tahu kau tak setia sejak delapan bulan kita pacaran."
Donghae membuka mulutnya tapi tak sepatahkatapun keluar karena semua yang dikatakan Hyukjae benar.
"Hei. Temani aku ya? Hari ini saja," pinta Hyukjae.
Donghae pun menemani mantan kekasihnya itu kemanapun. Mereka makan di restoran kesukaan Hyukjae. Ia membelikan Hyukjae es krim stoberi dan menemaninya bermain di game station. Kalau saja Donghae tak mengatakan ia sudah janji bertemu Kibum, mungkin Hyukjae masih meminta dirinya untuk terus menemani hingga pagi hari.
"Jadi, kau akan ke rumah Kibum?" tanya Hyukjae.
"Sebenarnya aku sudah berjanji sejak tadi sore, Hyukjae," kata Donghae.
Hyukjae memegang ujung kemejanya.
"K-kau benar-benar harus pergi?" tanya Hyukjae. Ia merajuk. Ekspresi itu jarang dilihat Donghae.
"Hyuk, aku senang kau tak membenciku. Aku janji kita akan terus berteman. Kalau kau membutuhkanku katakan saja. Tapi sekarang aku harus pergi," jelas Donghae.
Hyukjae membuka mulutnya seperti ingin mengatakan sesuatu namun urung. Detik berikutnya Hyukjae melepaskan ujung kemeja Donghae.
"Aku mengerti, pergilah," kata Hyukjae.
"Yah! Jangan membuat wajah seperti kita takkan bertemu. Besok aku akan membelikanmu jus stroberi saat istirahat."
"Aku mau lima!" kata Hyukjae.
"Apa perutmu tidak akan kembung?" Donghae tertawa dan mengusap rambut Hyukjae. "Aku pergi ya…"
"Hmm…" sahut Hyukjae pelan.
Donghae mulai berjalan mundur. "Aku juga akan membelikanmu strawberry cake," kata Donghae.
Hyukjae tersenyum dan mengangguk.
"Bye… Donghae…"
Saat itu Donghae tak pernah menyangka bahwa itu adalah senyuman dan kata-kata terakhir Hyukjae padanya. Esok hari dan esok harinya lagi hingga waktu berlalu, ia tak pernah melihat Hyukjae. Awalnya Donghae berpikir mungkin Hyukjae hanya memerlukan waktu untuk memulihkan perasaan setelah putus dengannya, tapi ternyata tidak. Hyukjae tak pernah muncul. Dan satu hal yang membuatnya merasa sebagai orang yang benar-benar brengsek adalah ketika ia mengetahui tentang kondisi Hyukjae yang sebenarnya.
Suatu malam ketika ia sedang makan malam bersama ayah dan ibunya. Ayahnya berkata, "Kalian tahu, Pengacara Lee sedang dalam perbincangan hangat dikalangan kolegaku."
Donghae berhenti menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Semua itu karena ia memiliki seorang putra gay. Dan kalian tahu apa yang dilakukannya? Mengusir anak itu dari rumah dan memutuskan hubungan darah."
Donghae merasa sesuatu seperti menghantam dadanya dengan keras. Tentu, ia tahu siapa yang dimaksudkan ayahnya. Hyukjae….
"Kasihan anak itu. Saat kau mengatakan kau menyukai pria, aku memang sangat kaget, Donghae. Tapi aku tak pernah berpikir untuk membuangmu. Bagiku itu sangat kejam. Bagaimanapun kau darah dagingku. Aku mencintaimu, nak."
Donghae tertegun dan tahu harus berkomentar apa. Sekarang jika ia mengingat-ingat dengan baik, malam itu… Hyukjae sedikit lebih manja dan terlihat seperti ingin menangis.
0o0-0o0
Donghae melihat papan nama bertuliskan "Budding Romance" yang dicarinya. Tak sulit mencari tempat tersebut. Semua orang di Busan seperti mengenal tempat itu. Setelah memakir kendaraannya, Donghae berjalan menuju kafe.
Begitu memasuki kafe tersebut, donghae di sambut pelayan manis berambut gondrong. "Jeonghan", nama yang tertera di identitasnya. Donghae memilih meja dengan pemandangan yang mengarah pada kebun bunga.
"Silahkan menunya," kata pelayan tersebut sambil menyedorkan buku menu.
"Tolong beri aku kopi best seller kafe ini," kata Donghae tanpa melihat menu.
Jeonghan tersenyum ramah dan meminta Donghae untuk menunggu. Tak beberapa lama, Jeonghan kembali dengan secangkir kopi. Saat Jeonghan hendak meninggalkan mejanya, Donghae menghentikan pemuda tersebut dan tersenyum manis membuat Joenghan terkejut sekaligus tersipu.
"Ah maaf. Apa kau tahu di mana aku bisa bertemu Hyukjae?" tanya Donghae.
"H-hyukjae hyung?"
"Hyukjae," ulang Donghae.
"Ah, h-hmm… Anda bisa ke kebun. Sore hari seperti ini Hyukjae hyung sedang memupuki tanaman," kata Jeonghan.
Donghae mengucapkan terima kasih.
.
"Apa dia berlaku kurang ajar padamu, Jeonghan?" tanya Seung Cheol yang bisa melihat pipi merah Jeonghan.
"Dia hanya bertanya tentang Hyukjae hyung," jawab Jeonghan.
"Ehh? Kandidat lainnya?" tanya Wonwoo dan Mingyu bersamaan. Mereka memanjangkan leher untuk mengawasi Donghae secara sembunyi-sembunyi dari balik pantry.
"Woah. Serius, yang ini seksi," komentar Wonwoo.
"Kau juga berpikir begitu? Menurutku ia sangat hot," timpal Jeonghan.
Mingyu berdehem berat. "Kalian membuatku kesal," gumam Mingyu mendengar pujian Wonwoo dan Jeonghan pada pria tak dikenal dengan mata berbinar-binar.
"Aku lebih kesal lagi," sahut Seung Cheol.
.
Kebun bunga Budding Romance ternyata cukup luas. Setelah berjalan ke sana dan kemari, Donghae belum juga menemukan Hyukjae. Beruntung ia berpapasan dengan seorang kru yang memberinya informasi bahwa Hyukjae berada di zona G. Donghae mengikuti tanda petunjuk hingga akhirnya ia melihat rambut blonde yang kontras di antara bunga-bunga berwarna ungu.
Donghae tersenyum.
"Walaupun terpapar sinar matahari seperti ini kulitmu tetap saja seputih susu."
Mendengar suara itu, Hyukjae mengangkat wajahnya dan ia melihat Donghae sedang menyeringai ke arahnya.
"Kenapa aku tak heran melihatmu di sini, Donghae," kata Hyukjae.
Donghae tertawa.
"Rasanya sangat refresing menikmati kebun bunga ini. Aku tak pernah dapat melakukannya saat di Seoul," kata Donghae.
"Kami juga punya jogging track di Zona D. Kau bisa pergi ke sana," kata Hyukjae seraya kembali bekerja.
"Aku butuh pemandu," kata Donghae.
"Aku akan menelepon seseorang."
"Sebagai pengunjung, aku memilihmu menjadi pemanduku, Hyukjae."
Hyukjae menghela nafas.
"Kau tak berubah, Donghae," komentar Hyukjae dan ia melihat Donghae tersenyum lebar. Donghae yang Hyukjae kenal memang seperti ini. Selalu mengejar apa yang menarik perhatiannya sampai dapat.
.
"Tadi pagi, aku tak melihatmu di acara pernikahan itu," kata Donghae. Sekarang ini mereka sedang berkeliling kebun Budding Romance. Donghae baru tahu kalau secara keseluruhan kebun itu terdiri dari tiga belas zona kebun dan 10 greenhouse. Masing-masing zona dan greenhouse ditumbuhi tanaman dan bunga yang berbeda. Penataan dan perawatannya pun sangat apik. Hyukjae menjelaskan keunikan masing-masing zona tapi Donghae tak bisa menangkapnya. Nama-nama tanaman itu susah dicerna oleh otaknya terlebih ketika matanya dan pikirannya disibukkan oleh hal lain.
"Kehadiranku sudah tak dibutuhkan di sana," ujar Hyukjae.
"Hmm, jadi kau tidak benar-benar kru wedding organizer itu?" tanya Donghae.
"Donghae… kau bilang ingin menikmati kebun bunga ini," sela Hyukjae.
"Aku menikmatinya."
"Tapi yang aku lihat, pandanganmu selalu ke sini," Hyukjae menunjuk wajahnya.
"Aku menikmati ini (Donghae menunjuk kebun bunga) dan ini (Donghae menunjuk wajah Hyukjae) bersamaan."
Hyukjae mengigit bibirnya. Menghadapi Donghae itu terkadang menghabiskan kesabaran.
"Kau lanjutkan sendiri saja berkelilingnya."
"Yah! Bagaimana kalau aku tersesat," Donghae kembali mengikuti Hyukjae dari belakang.
"Aku akan mengirim bantuan."
"AHA!" Dengan cepat Donghae memotong langkah Hyukjae dan berdiri dihadapannya.
"Berikan nomor ponselmu. Dengan begitu aku akan mudah meminta pertolongan," kata Donghae sambil menyeringai dan menggerak-gerakkan alisnya. Senyuman Donghae semakin melebar saat Hyukjae menyambar ponselnya untuk menuliskan serangkaian angka.
"Kebun tutup untuk umum pukul 18, pastikan kau mengingatnya," kata Hyukjae.
"Oke… manis," kata Donghae.
Ekspresi Hyukjae berubah masam mendengar kata itu, tapi Donghae pura-pura tak mengetahuinya. Setelah mengembalikan ponsel Donghae, Hyukjae mengangkat perlengkapan kebunnya dan meninggalkan Donghae.
"Hyukjae! Sekarang pantatmu lebih berisi," teriak Donghae, usil.
Hyukjae langsung bereraksi mengacungkan jari tengahnya dan itu membuat Donghae tertawa terpingkal-pingkal.
Dan…
Hyukjae tetap Hyukjae. Malam hari di kamar hotel tempat Donghae menginap, tawa Donghae meledak lagi. Itu karena nomor ponsel yang Hyukjae berikan tersambung ke operator servis elektronik.
"Ah, Hyukjae…," Donghae berbaring dengan lengan menyilang menutupi matanya.
Grade 10 sekolah menangah atas…
Guru Shin saat itu sedang menuliskan rumus matematika rumit dan contoh soal di papan tulis. Para siswa yang rajin menyalin tulisan Guru Shin ke buku catatan mereka. Hyukjae bersama siswa lainnya yang tak menyukai matematika, berusaha tetap fokus memperhatikan agar bisa memahami pelajaran yang didominasi angka tersebut walau sedikit.
"Aku menyukaimu."
Hyujae memalingkan kepala dan melihat rekan sebangkunya sedang tersenyum-senyum.
"Apa kau baru saja merapal rumus?" tanya Hyukae tak nyambung.
Donghae tertawa kecil lalu mengulangi lagi perkataannya.
"Aku menyukaimu."
Hyukjae mengedip-ngedipkan matanya.
"Biasanya orang menyatakan cinta disituasi yang romantis bukan disaat pelajaran matematika sedang berlangsung, Donghae," komentar Hyukjae.
"Itu terlalu umum," timpal Donghae. "Apa yang aneh? Aku suka matematika dan aku menyukaimu."
"Idiot!" Hyukjae kembali melihat papan tulis dan mulai menyalin.
"Hyuk…. Jadi apa jawabannya?" tanya Donghae.
Asddafhakfadkjfa.
"Memangnya aku harus menjawab apa?" batin Hyukjae.
"Hyuk…" panggil Donghae.
"X sama dengan 24," Hyukjae menjawab sekenanya sambil menuliskan hasil akhir contoh soal dari Guru Shin.
Donghae tertawa.
"Yah!" Hyukjae menyikut lengan Donghae dan melirik Guru Shin. Ia khawatir sang guru akan memanggil mereka ke depan untuk mengerjakan soal sebagai hukuman karena telah berisik di kelas.
0o0-0o0
Hyukjae dengan mata mengantuk memasuki kafe "Budding Romance". Sudah menjadi tradisi setiap pagi semua kru sarapan bersama sebelum memulai bisnis. Terkadang waktu seperti ini juga digunakan Leeteuk dan Kangin untuk memberi pengarahan tentang sesuatu. Tetapi pagi ini semua orang berkumpul dengan berisik dan duduk berkerumun di pojok.
"Pagi," sapa Hyukjae pada semua orang.
"Oh! Hyung 'manis' sudah di sini!" kata Seungkwan.
Hyukjae mengerutkan alisnya mendengar julukan itu. Orang yang paling tahu membuatnya kesal dengan sebutan itu hanya….
"Pagi, hyuk…," sapa Donghae yang memunculkan kepala dari tengah kerumanan kru "Budding Romance."
"…,"
Hyukjae mematung sesaat sebelum dengan acuh berjalan menuju pantry untuk mengambil sarapannya.
"Woaah. Bukankah itu sangat dingin?" kata Donghae sambil tersenyum.
"Apa yang kau lakukan di sini, Donghae?" tanya Hyukjae saat Donghae mengikutinya duduk di salah satu meja .
Donghae membuka tangannya dan menunjukkan kunci bernomor 089. "Aku mengingap di sini," kata Donghae.
"Untuk apa?"
"Untuk apa? Untuk… untuk menikmati kebun."
"Hmm…. Berapa lama?" Hyukjae bertanya sambil melahap makanannya.
"Yah! Mengapa aku merasa seperti tak diinginkan di sini," komentar Donghae.
Hyukjae memutar bola matanya.
"Seung Cheol! Sekarang giliranku!"
"Bukan. Aku dulu."
"Aku!"
"Yah! Yah! Ayo lakukan gunting batu kertas."
Hyukjae mendengar suara ribut Mingyu dan kru lainnya. Mereka berebut bermain sesuatu seperti game dari sebuah laptop.
"Apa itu hasil perbuatanmu?" tuduh Hyukjae.
"Ah itu?" kata Donghae. "Aku hanya menunjukkan pada mereka seri game terbaru yang belum keluar di pasaran."
Donghae menopang dagunya, memandangi Hyukjae sambil tersenyum-senyum. Hyukjae ikut menopang dagu dan balas memandang Donghae.
"Apa kau benar-benar ke sini untuk menikmati kebun?" selidik Hyukjae.
"Hmm…. Apa kau ingin aku ke sini untuk melakukan yang lain-lain?" timpal Donghae memberi penekanan pada kata lain. Bibirnya pun menunjukkan seringai menggoda.
"Apa maksudmu lain-lain, Donghae?" kata Hyukjae.
Tiba-tiba suasana berubah hening. Hyukjae tahu beberapa pasang mata memperhatikan mereka.
"Yang lain-lain? Hmmm…bersamamu? Di suatu tempat?" Donghae memelankan suaranya dan memberi penekanan disetiap kata-katanya. Entah mengapa Hyukjae dibuat merinding karenanya.
"Mengapa kau memelankan suara, idiot," Hyukjae mengkerutkan alis tapi tanpa sadar juga memelankan volume suaranya.
Donghae tertawa kecil. "Kenapa? Apa suaraku masih memberi efek tertentu padamu, hyukie?"
Hyukjae merapikan peralatan makannya. Donghae tersenyum dan menarik tangan Hyukjae sebelum mantan kekasihnya itu meninggalkan meja.
"Aku hanya ingin mengajakmu ke bioskop," kata Donghae.
Hyukjae tak menjawab. Ia menarik tangannya dari cengkeraman Donghae dan berlalu secepat kilat ke dalam pantry. Saat itu Hyukjae benar-benar berusaha tak menghiraukan semua pandangan yang mengarah pada dirinya.
"Waaaa….Ini… pertama kalinya aku melihat wajah Hyukjae hyung memerah…," komentar Hoshi dan kru lainnya menganggukan kepala.
0o0-0o0
"Hyukjae… apa kita harus memindahkan semua tanaman ini?" tanya Donghae.
"Mereka akan menulari tanaman sehat jika tidak dipindahkan Donghae…"jawab Hyukjae.
Keduanya sedang berada di greenhouse. Hyukjae memberi catatan-catatan kecil pada setiap tag pot atau polibag seperti umur tanaman, ukuran tanaman, terakhir pemupukan dan level kesehatan tanaman. Hyukjae juga mengambil beberapa tanaman yang berkondisi buruk untuk dikarantina agar mendapat perhatian lebih. Donghae ada bersamanya karena beralasan ingin mengetahui lebih banyak tentang bunga. Alasan yang Hyukjae ragukan kebenarannya. Bagaimanapun ia pernah mengenal baik Donghae.
"Kalau kau bosan kembali saja ke kamarmu, Donghae. Lagi pula apa kau ini tak memiliki pekerjaan?" kata Hyukjae.
"Yah! Aku bukan pengangguran." Donghae membela diri.
"Uhum…," komentar Hyukjae.
"Aku serius. Aku ini Konsultan IT, programmer. Aku bisa mengerjakan pekerjaanku dari mana saja," jelas Donghae.
Hyukjae melihat Donghae dari ujung kepala hingga kaki seakan tak percaya.
"Kau tidak memiliki potongan seorang programmer seperti yang aku tahu."
"Memangnya menurutmu seorang programmer itu seperti apa?" tanya Donghae.
Hyukjae menggigit ujung pena sambil berpikir.
"Satu. Biasanya programmer itu memakai kaca mata tebal. Dua. Antisosial atau lebih suka menyendiri dengan komputernya. Mereka bahkan tak berkencan karena katanya sulit mendapat kekasih. Kalaupun mendapatkan kekasih, rata-rata sering dibuat patah hati karena mereka dianggap tidak perhatian. Tiga. Programmer sering tidak connect kalau diajak mengobrol karena pikirannya seperti terlalu sibuk. Atau…tidak menyahut kalau dipanggil dan diajak bicara. Empat. Terkadang aneh. Di depan komputer tiba-tiba bisa tertawa-tawa sendiri, entah apa yang lucu. Satu lagi, ada yang mengatakan mereka itu mesum."
Mendengar itu, Donghae tertawa sampai perutnya terasa sakit. Ia baru kali itu mendengar tentang imej seorang programmer.
"Hyuk… kuberi tahu. Itu tidak valid. Aku tak memakai kacamata, Aku tidak antisosial. Aku menjawab jika diajak mengobrol. Aku ini keren dan aku berkencan dengan orang yang kusukai. Masalah mesum, itu…."
"Stop! Aku tak ingin mendengar lanjutannya," kata Hyukjae.
Donghae tertawa dan mendekati Hyukjae. Sangat dekat.
"Kau harus coba berkencan dengan seorang programmer, Hyuk," kata Donghae.
"Kenapa harus?"
"Ck, kau tahu… titik dan koma saja menjadi perhatian, apalagi…"
"Apalagi apa?" alis Hyukjae mulai berkerut dan ia menyilangkan tangan di dada untuk mencegah Donghae condong terlalu dekat dengannya.
"Apalagi…kekasih," jawab Donghae tersenyum-senyum.
Hyukjae mengangkat papan alas tulis yang dipegangnya dan mendorong benda itu ke wajah Donghae.
"Terlalu dekat!" kata Hyukjae.
0o0-0o0
Malam hari, kru Budding Romance bermain kembang api di taman mereka. Tidak ada acara khusus, hanya malam itu cuaca sedang bagus, cerah dan berbintang. Seungkwan yang memulai semuanya. Sepulang dari belanja di pasar tradisional ia membawa sejumlah kembang api dan mengajak kru lainnya untuk menggila. Dalam waktu singkat taman pun berubah menjadi tempat pesta. Makanan, snacks, minuman, dan bir ringan terletak begitu saja di tikar tatami yang digelar di atas rumput. Suara gitar, suara Seungkwan yang tinggi, lalu tarian aneh Hoshi dan DK menjadi faktor kegilaan di pesta itu. Sementara Hyukjae yang juga bergabung hanya tertawa melihat tingkah ketiganya sambil memegang kembang api.
Donghae memperhatikan semuanya dari balkon kafe. Walaupun begitu, hal yang paling menarik perhatiannya adalah senyum Hyukjae. Sudah lama ia tak melihat senyuman itu.
"Aku memang idiot," gumam Donghae pada dirinya sendiri.
Di kepalanya Donghae mulai membandingkan semua orang yang pernah ia kencani dengan Hyukjae. Dan apa yang mengejutkannya, tak satu pun seperti Hyukjae. Mereka penuntut, beberapa diantaranya hanya menyukai aktivitas ranjangnya saja, atau uangnya. Ada juga yang suka membesar-besarkan masalah dan terlalu melankolis dan manja. Ia bahkan pernah berkencan dengan orang yang secara penampilan sebenarnya sangat manis dan imut tapi pada kenyataannya sangat menyukai kekerasan. Itu adalah hal terburuk sepanjang kisah percintaannya. Donghae akui ia memang brengsek karena sulit setia pada seseorang tapi ia tak pernah sepakat dengan kekerasan, apapun bentuknya. Mungkin kalau ia seorang penyuka BDSM, cerita akan lain.
Hyukjae… Hyukjae itu berbeda. Jarang sekali menuntut dan tidak terlalu emosi. Ketika mengetahui ia tak setia, Hyukjae bahkan tak menamparnya. Hyukjae tetap tersenyum dan sikapnya sama sekali tak berubah. Taraf melankolis dan kemanjaan Hyukjae juga normal, pas, tidak berlebih. Namun itu justru membuat Hyukjae terlihat menggemaskan saat ber-aegyo. Apa yang membedakan Hyukjae sekarang dan dulu hanyalah postur tubuh. Hyukjae yang ini jauh lebih seksi karena totot-ototnya sudah terbentuk.
Pertamakali Donghae melihat Hyukjae lagi di lokasi pernikahan Sungmin dan Kyuhyun, hatinya langsung berdebar-debar aneh. Bermacam perasaan berkecamuk di dadanya. Ada rasa rindu, ada rasa bersalah dan ada perasaan kuat untuk mendekati Hyukjae lagi. Beruntung Hyukjae tak menghindarinya meskipun Donghae menyadari kali ini ia harus berusaha lebih ekstra untuk mendapatkan perhatiannya. Satu hal yang membuat Donghae kagum pada Hyukjae adalah ketegarannya. Melewati masa berat, Hyukjae masih bisa menunjukkan senyum itu. Apa yang membentuk Hyukjae seperti ini, bagaimana Hyukjae menjalani hari-harinya selama ini, Donghae ingin tahu.
"Kau Lee Donghae?"
Seseorang yang berdiri di dekat meja Donghae, bertanya padanya.
"Ah, aku Lee Donghae," jawabnya.
"Aku Leeteuk. Dan ini… Kangin."
Mereka bertiga berjabat tangan.
"Boleh kami mengobrol denganmu?" tanya Leeteuk.
Donghae mempersilahkan keduanya bergabung di mejanya.
.
"Hyukjae hyung, menurutmu hal apa yang dibicarakan Leeteuk hyung dan Kangin hyung dengan hyung 089?" tanya Seungkwan.
Hyukjae mendongakkan kepalanya untuk melihat ke arah balkon kafe.
"Hmmm… aku tak tahu…," kata Hyukjae. Tapi Hoshi dan DK yang duduk berhadapan dengannya dapat menangkap raut wajah Hyukjae dengan jelas.
Ada ekspresi seperti muram di sana.
0o0-0o0
Malam kian larut, para pengunjung sudah satu persatu meninggalkan tempat itu sejak 30 menit yang lalu. Kini kru kafe sibuk membersihkan semua peralatan dan meja-meja. Donghae berjalan ke arah taman. Dilihatnya Hyukjae sedang berdiri memunggunginya dan melipat tikar tatami. Perlahan Donghae mendekatinya dan tanpa peringatan memeluk Hyukjae dari belakang membuat tubuh Hyukjae terlonjak kaget.
"Donghae? Kau mengagetkanku!" kata Hyukjae.
Donghae mempererat pelukannya.
"Yah! Lepaskan aku. Aku…," Hyukje melihat ke sana dan kemari kalau-kalau ada yang melihat mereka berdua.
"Aku tak bisa bergerak," kata Hyukjae lagi. Hyukje berusaha melepaskan diri.
"Maaf."
Mendengar kata itu keluar dari mulut Donghae, Hyukjae berhenti bergerak.
"Maafkan aku, Hyuk," bisik Donghae.
Hyukjae tertegun. Untuk beberapa saat mereka berdiri mematung.
"Apa yang kau dengar dari Leeteuk hyung dan Kangin hyung, Donghae?"
Donghae tak menjawab. Ia menaruh dagunya di bahu Hyukjae dan terus mendekap tubuh tak kekar itu.
"Donghae…"
"Hyuk…, ayo kita kembali bersama," kata Donghae.
Hyukjae terkejut dan terdiam.
Donghae membalik tubuh Hyukjae agar menghadapnya. "Hyuk…, Aku serius. Kembali padaku." Donghae menatap Hyukjae dalam-dalam dan dengan lembut membelai pipi Hyukjae.
"Donghae…," Hyukjae mendorong dada pria tampan itu. Tapi Donghae justru melingkarkan tangan di pinggangnya.
"Hyukie…"
DigDug DigDug DigDug DigDug
Donghae menurunkan matanya ke bibir Hyukjae. Membuat Hyukjae mengikuti gerakan matanya.
Hyukjae tahu apa yang akan terjadi selanjutnya jika ia tak menghindar tapi ia menemukan dirinya tak bisa bergerak. Semakin Donghae condong ke arahnya, perlahan ia menutup mata dan menahan nafas.
Hyukjae seperti tersihir. Bahkan saat bibir Donghae bertemu miliknya, menghisap bibirnya yang kenyal, Hyukjae tak kuasa menolak. Bulu-bulu halus di kulitnya serasa berdiri akibat sentuhan Donghae.
"D-donghae," Hyukjae melepaskan ciuman mereka.
"Kembalilah padaku, please," kata Donghae.
Hyukjae menggeleng. "Apapun yang kau dengar dari hyung, kau tak perlu mengasihaniku," kata Hyukjae.
"Aku tidak sedang mengasihanimu, Hyuk."
"Donghae…aku…aku tak tahu. Aku… ini terlalu cepat, Donghae," Hyukjae mendorong tubuh yang mendekapnya itu hingga Donghae melepaskannya.
"Aku…," Hyukjae tak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia tiba-tiba merasa panik dan takut. Tak tahu apa yang harus dilakukan, Hyukjae memutuskan melarikan diri dari Donghae dan secepat kilat kembali ke kamarnya, mengabaikan semua panggilan Donghae.
Hyukjae menyandarkan kepala pada daun pintu kamarnya dan merosotkan diri ke bawah dengan memegangi dada. Jantungnya berdebar cepat. Ada rasa sakit yang sangat dirasakannya disana.
Juga…
Perasaan yang lainnya.
Dekapan, ciuman, dan sentuhan Donghae yang selama tujuh tahun ini berusaha dilupakannya dengan susah payah terasa kembali, menyusupi, menjalari tubuhnya. Dan bagian terburuknya adalah ia… masih menginginkannya.
0o0-0o0
Suasana menjadi sedikit kikuk pasca kejadian semalam. Pagi ini walau Donghae dan Hyukjae duduk bersama untuk menyantap sarapan, keduanya tak banyak bicara juga tak ada kalimat-kalimat godaan yang keluar dari mulut Donghae. Pemandangan ini tak lepas dari perhatian kru Budding Romance. Mereka tahu apa yang telah terjadi, terima kasih pada mulut besar Seungkwan yang tak sengaja melihat versi lengkap kejadian.
"Hyukjae hyung tak pernah bilang, mantan kekasihnya punya badan seperti itu? Bagaimana aku akan meninjunya?" kata DK yang tak punya kepercayaan diri untuk bisa menghajar Donghae karena pernah menyakiti Hyukjae.
"Sudah kubilang kau harus banyak menghabiskan waktu di gym bukan dengan Seungkwan di depan mesin karaoke," sindir Hoshi.
"Kau tak perlu cemburu, Hoshi hyung," sahut Seungkwan sambil menyeringai.
"H-hei… sup daging ini lezat. Sangat lezat, ayo kita lanjutkan makan," kata DK yang merasa menemukan dirinya berada di tengah-tengah perang pandangan tajam kedua sahabatnya.
.
"Matamu sedikit bengkak, apa aku membuatmu menangis?" tanya Donghae.
Hyukjae memainkan sendoknya. Ia tak berselera makan.
"Kau selalu membuatku menangis," kata Hyukjae.
Perkataan Hyukjae membuat hati Donghae menciut.
"Aku tahu, aku brengsek."
"Bagus kalau kau menyadarinya," timpal Hyukjae sambil tersenyum tipis.
"Jadi…maafkan aku. Please… manis…," pinta Donghae dengan pandangan memohon.
"Ekspresi itu tak kan berhasil dan berhenti memanggilku seperti kucing, idiot!"
Donghae tersenyum. Ia kemudian meminggirkan piring dan gelasnya agar dapat menyandarkan tubuh bagian atasnya ke meja. Dengan mata yang berat karena masih mengantuk Donghae memandangi Hyukjae. Hari ini adalah hari terakhirnya di tempat tersebut. Dini hari Kyuhyun meneleponnya lengkap dengan serentetan umpatan.
"Aku tidak mendapatkan libur bulan madu karena pekerjaan ini dan kau…! KAU justru sibuk mengajar Bonjae?!"
"Hyukjae! Namanya Hyukjae, Kyuhyun!"
"Fuck you. Cepat kembali ke Seoul, Donghae! Atau aku akan memutilasi penismu dan mengobralnya di pasar!"
Donghae mendengar tanda tut tut tut dari ponselnya dan secara otomatis memegang juniornya, seolah itu akan menyelamatkannya dari penjagalan brutal Kyuhyun.
"Aku tak dapat tidur semalaman," kata Donghae. "Anak setan itu membuatku terjaga semalaman dan mengcoding. Mutilasi penis itu sangat kejam…"
Hyukjae tersedak minuman yang sedang diseruputnya. "Mutilasi penis…"
Donghae menepuk-nepuk tangan Hyukjae walaupun sebenarnya yang Hyukjae butuhkan adalah tepukan di punggung.
"Aku tak ingin kembali ke Seoul. Tidak sebelum kau memberiku jawaban."
Hyukjae menghela nafas mendengar itu.
"Donghae…"
Donghae menegakkan kembali posisi duduknya.
"Hyuk, apa yang kukatakan semalam benar-benar serius. Ini bukan karena perasaan simpati. Aku, saat melihatmu di persiapan pesta pernikahan itu… jantungku seperti ini…"
Donghae membuka jari-jari tangannya lebar-lebar lalu mengepalkannya. Ia melakukan itu berulang kali.
"Sangat cepat….Aku pikir, aku jatuh cinta lagi padamu, Hyuk."
Hyukjae menatap mata Donghae seakan mencari kebenaran di sana.
"Ayo kita mulai dari awal," kata Donghae setengah memohon.
Hyukjae menggigit bibirnya, mengalihkan pandangannya ke arah bunga-bunga cantik yang bermekaran di pagi hari. "Apa Donghae bisa setia kali ini?" Hyukjae meremas kaos yang melekat di dadanya. Ia sungguh tak kan bisa membayangkan Donghae menduakannya dengan orang lain kali ini. Benar-benar tak bisa. Hatinya terasa amat sakit.
Donghae menghela nafas. Keraguan Hyukjae terhadapnya terlihat dengan jelas.
"Jika kau membutuhkan waktu, aku akan menunggu," kata Donghae lembut.
0o0-0o0
Seminggu sejak Donghae kembali ke Seoul, hari-hari Hyukjae kembali seperti sedia kala. Bangun pagi hari, sarapan bersama kru, menata bunga yang akan didistributorkan ke toko-toko, merawat bibit dan tanaman sakit juga memberi pupuk tanaman. Tak ada yang mengikutinya ke sana kemari seperti yang Donghae lakukan. Semua orang memiliki tanggungjawab masing-masing. Terkadang tanpa sadar Hyukjae menolehkan kepala ke arah balkon kafe, ke tempat duduk dimana Donghae biasa mengamatinya. Jika Donghae masih duduk di meja itu saat ini, Hyukjae yakin ia sudah mendapatkan lambaian tangan, atau heart sign, atau mungkin juga sebuah flaying kiss.
Hyukjae menggelengkan kepalanya dan berusaha kembali fokus dengan apa yang sedang dikerjakannya.
.
"Kau akan pergi sekarang? Bukankah ini terlalu pagi?"
Hyukjae tersenyum pada Leeteuk. Hari ini tanggal 5, setiap bulan pada tanggal tersebut Hyukjae selalu bangun lebih awal untuk merangkai bunga-bunga segar yang akan dibawanya sendiri ke Seoul. Hyukjae sudah memiliki kebiasaan ini selama tujuh tahun, sejak ia meninggalkan rumah.
"Cuaca akan panas pada siang hari, aku harus berangkat pagi agar bunga-bunga ini tetap segar," jelas Hyukjae. "Aku berangkat, hyung."
Leeteuk mengangguk. "Hubungi aku kalau sesuatu terjadi."
"Aku mengerti," kata Hyukjae sebelum melangkah meningkalkan Budding Romance.
"Apa semua akan berjalan lancar?" gumam Leeteuk.
Kangin memeluknya dari belakang. "Kau terlalu khawatir. Walaupun aku tak menyukai pria keras kepala itu, entah mengapa aku yakin dia bisa diandalkan."
.
Pukul 7 pagi kurang 15 menit, Hyukjae sudah berada di Seoul, berdiri di sebuah pojok blok perumahan. Matanya memandang penuh kenangan pada kediaman Lee, rumah yang menjadi tempatnya menikmati masa kanak-kanak dan tumbuh sebagai remaja penuh energi. Saat ini jendala-jendela rumah itu sudah terbuka, membiarkan udara segar masuk. Terkadang, mengamati seperti ini Hyukjae beruntung dapat melihat sekelebatan ibunya atau ayahnya. Tetapi lebih sering hanya melihat asisten rumah tangga yang hilir mudik membersihkan rumah.
"Oppa? Kau sudah datang!" seru seorang gadis kecil.
"Haru!" Hyukjae memeluk gadis itu. "Apa tinggimu bertambah? Sepertinya kau tak setinggi ini bulan lalu."
"Tentu saja. Ayah menyuruhku banyak minum susu. Kau harus berhati-hati, aku akan lebih tinggi dan cantik darimu."
"Yah! Aku ini tampan bukan cantik," protes Hyukjae.
"Hmm?" Haru memiringkan kepalanya. "Tapi seseorang mengatakan kau cantik."
"Hah?" Hyukjae mengedip-ngedipkan matanya. Selama ini, satu-satunya orang yang selalu menganggapnya cantik hanya Donghae. Itu pun karena Donghae sengaja ingin membuatnya kesal.
"Waahh… kau selalu membawa bunga yang cantik," kata Haru melihat rangkaian bunga di tangan Hyukjae.
"Menurutmu begitu?"
Haru menganggukkan kepalanya. "Bibi Lee pasti akan sangat senang."
Hyukjae tersenyum lebar.
"Jadi, kau mau menolong oppa untuk mengantarkan bunga ini seperti biasanya?" tanya Hyukjae.
"Serahkan saja padaku." Haru membusungkan dadanya, meyakinkan Hyukjae bahwa ia bisa dipercaya.
Hyukjae meyerahkan raingkaian bunga pada Haru dan mengusap rambutnya. "Terima kasih." Haru tersenyum dan langsung berlari menuju kediaman Lee. Sementara itu Hyukjae bersembunyi di balik tembok sambil mengintip. Tak beberapa lama setelah Haru membunyikan bel, dilihatnya seorang asisten rumah tangga membukakan pagar rumah. Kemudian Haru dan asisten tersebut terlibat percakapan.
"Kira-kira apa yang mereka bicarakan?" Hyukjae mendengar seseorang berkomentar di sebelahnya.
"Aku tak tahu," sahut Hyukjae.
Detik berikutnya, mata Hyukjae melebar dan ia membalikkan tubuhnya dengan cepat hanya untuk melihat Donghae berdiri di sampingnya. Ikut mengintip ke arah kediaman Lee.
"K-K-KAU?!" Hyukjae terbata-bata.
"Ah, gadis kecil itu masuk," kata Donghae.
Hyukjae menoleh untuk melihat Haru yang memang diajak masuk ke dalam rumah. Tapi ia kemudian cepat-cepat berpaling kembali melihat Donghae.
"A-apa yang kau lakukan?" tanya Hyukjae.
"Aku?" Donghae melihat dirinya sendiri dari dada sampai unjung kaki. "Bukankah aku terlihat jelas sedang jogging?" jawab Donghae yang memang sedang memakai setelan jogging lengkap dengan earphones yang menggantung di telinganya.
"Ck, bukan itu. Maksudku, apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku tak melihat ada peraturan yang melarang jogging di sini," kata Donghae.
"Aku tahu, tapi…," Hyukjae menengok ke arah kediaman Lee dan tiba-tiba langsung panik. "Aku harus pergi," kata Hyukjae. Pemuda berambut blonde itu berancang-ancang lari tapi Donghae menahannya.
"Yah! jangan terburu-buru."
"Donghae, lepaskan aku. Aku harus pergi secepatnya," kata Hyukjae sambil meronta-ronta, mencoba melepaskan diri dari Donghae.
"Hyukjae…"
Mendengar namanya disebut dengan suara yang sudah tujuh tahun tak didengarnya, Hyukjae mematung.
Donghae menepuk punggung Hyukjae beberapa kali sebelum membalik tubuh Hyukjae untuk berhadapan dengan ibunya yang kini sedang digandeng oleh Haru.
"Oppa, kali ini aku memberikan langsung bungamu pada bibi Lee dan bibi bilang, bibi sangat menyukainya," kata Haru, lugu.
Hyukjae tak bisa berkata apa-apa dan tak berani menatap langsung sang ibu.
.
"Kau terlihat sehat dan rambutmu sekarang blonde," Nyonya Lee memainkan rambut anaknya. Keduanya kini sedang berada di sebuah kafe. Donghae mengantar mereka ke tempat tersebut agar dapat mengobrol dengan leluasa.
Wajah Hyukjae merona karena sudah lama ia tak sedekat ini dengan orang terkasihnya itu. "Heechul hyung, emm, teman Leeteuk hyung yang mewarnai rambutku," kata Hyukjae.
"Sangat cocok untukmu, kau bertambah manis," puji Nyonya Lee.
"Manis…" pikiran Hyukjae seketika dipenuhi oleh Donghae yang sedang tersenyum penuh kemenangan.
Nyonya Lee menggenggam tangannya.
"Maafkan ibu nak…"
Suasana kembali kikuk seperti saat keduanya baru duduk bersama lagi untuk pertama kali setelah tujuh tahun beberapa menit yang lalu.
"Seharusnya… aku berani membelamu di depan ayah. Tapi aku hanya diam seperti orang…orang yang bodoh. Sebagai ibu, aku tahu aku adalah ibu yang buruk."
Hyukjae terdiam.
"Apakah terlambat bila aku ingin mendapat kesempatan lagi untuk mencoba menjadi ibu yang baik untukmu?"
Hyukjae melihat air mata membasahi pipi wanita paruh baya itu. Jika ia perhatikan, ibunya kini jauh lebih kurus, wajahnya tak segar dengan mata yang cekung. Bila tak menggunakan riasan, mungkin Hyukjae bisa melihat keriput dan bayangan hitam di bagian mata ibunya. Kondisi ibunya seperti ini, semua pasti karenanya.
Hyukjae memberanikan diri menyentuh pipi itu.
"O-orang yang harus minta maaf adalah aku bu…," kata Hyukjae. Dengan susah payah ia menahan air mata agar tak jatuh dari pelupuk matanya. "Aku… anak yang tak tahu balas budi. Anak yang tak bisa menjaga martabat orangtua."
Nyonya Lee menutup mulut Hyukjae.
"Ssst. Jangan berkata seperti itu. Tujuh tahun ini aku berpikir. Orang tua terkadang terlalu arogan untuk menjaga harga dirinya, terlalu arogan untuk mengaku salah. Sebagai sosok yang seharusnya hangat dan berperan melindungi, aku... telah gagal. Sebagai orang dewasa, kami sendiri yang sebenarnya telah mencederai kepercayaan anak-anak. Maafkan aku, H-Hyukjae, anakku."
Airmata Hyukjae tumpah tak tertahankan. Tanpa memperdulikan orang-orang di dalam kafe yang melihat ke arah mereka, Hyukjae menundukkan kepala ke pangkuan sang ibu dan menangis sejadi-jadinya. Nyonya Lee pun demikian. Ia memeluk erat Hyukjae, seperti tak ingin melepaskannya.
.
"Aku akan baik-baik saja, Hyukjae. Ibu sudah terbiasa kemana-mana dengan taxi," kata Nyonya Lee saat malam yang semakin larut harus memisahkan mereka. Seharian ibu banyak mendengar cerita Hyukjae tentang kehidupannya. Mulai dari masa-masa di jalanan sampai kisahnya di Budding Romance. Ibu bersyukur Hyukjae bertemu Leeteuk. Ia tak bisa membayangkan bagaimana nasib Hyukjae jika bertemu orang jahat. Selama ini pikiran buruk lain juga selalu menghantuinya. Ibu khawatir jika Hyukjae menjual diri untuk bertahan hidup seperti cerita kebanyakan anak di jalanan.
Tiga hari yang lalu, saat ayah Hyukjae di Jepang, ibu terkejut ketika asisten rumah tangganya berkata ada seorang anak muda datang dan ingin menemuinya. Ibu menjadi lebih terkejut lagi karena pemuda tersebut membawa foto terbaru Hyukjae.
"Jika Nyonya masih memiliki hati dan ingin menemuinya. Nyonya bisa menghubungiku," kata pemuda tersebut.
"B-bagaimana keadaannya?"
Nyonya Lee melihat pemuda itu tersenyum.
"Kau akan terpesona melihatnya."
"Bagaimana aku bisa menghubungimu?"
Nyonya Lee menerima kartu nama pemuda tersebut. –Lee Donghae, Konsultan Sistem Informasi dan Teknologi Komunikasi-.
Sehari setelahnya, Nyonya Lee menghubungi Donghae dan pria tampan itu mengatur semua hal untuk tanggal 5, hari khusus yang Donghae ketahui dari Leeteuk bhawa Hyukjae selalu ke Seoul untuk memberi bunga pada ibunya secara diam-diam.
Hyukjae memeluk ibunya erat-erat.
"Ibu berjanji akan mencari cara agar kau bisa bertemu ayah, Hyukjae."
Hyukjae tersenyum satir. "Jika ayah masih membenciku, tak perlu dipaksakan bu."
Nyonya Lee mengusap rambut Hyukjae. "Aku mengerti. Ah, dia datang."
Hyukjae menoleh ke arah pandangan Nyonya Lee. Ia melihat Donghae membungkuk memberi hormat.
"Aku akan pulang. Ku serahkan Hyukjae padamu," kata Nyonya Lee membuat mulut Hyukjae terbuka. "Apa Ibu baru saja menyerahkan aku padanya? Donghae? batin Hyukjae.
Donghae tersenyum. "Tak perlu khawatir, Nyonya Lee." Dan Hyukjae dibuat melongo saat ibunya memeluk Donghae sambil mengucapkan terima kasih.
.
"Jadi, apa aku berhak mendapat ciuman?" Donghae menunjuk-nunjuk bibirnya. Setelah taxi yang ditumpangi Nyonya Lee jauh tak terlihat.
"Apa?" kata Hyukjae. Alisnya berkerut.
"Aku telah melakukan sesuatu yang baik. Jadi, aku berhak mendapatkan ciuman."
"Ahahaha. Tidak akan."
"Bagaimana kalau di pipi? Cuma pipi…," kata Donghae, pantang menyerah.
Hyukjae menggeleng sambil berlalu meninggalkan Donghae. Sekarang ini Ia harus mencari hotel tempat menginap karena jadwal bus dan kereta terakhir kemungkinan sudah lewat.
"Cis. Pelit," gerutu Donghae yang hanya bisa memandangi punggung Hyukjae. "Btw, Hyuk. Aku bilang pada Leeteuk hyung kau menginap di Seoul," teriak Donghae.
Mendengar itu seketika Hyukjae berhenti berjalan. Ia berbalik ke arah Donghae dengan tangan terlipat di dada. "Lebih baik kau ceritakan semua tentang ini, Donghae!"
Donghae kembali menunjuk-nunjuk bibirnya. "Apa aku akan mendapat ciuman?"
Saat itu, Hyukjae merasa ingin melepas sepatunya dan melemparnya ke arah Donghae.
0o0-0o0
Hyukjae terpaksa menginap di apartemen Donghae. Hyukjae meminta penjelasan Donghae mengenai apa yang terjadi hari ini. Hyukjae curiga dibalik pertemuannya dengan ibu, ada persengkongkolan antara Donghae dan hyung-hyung nya.
Kini keduanya sedang duduk berdua di sofa living room apartemen Donghae.
"Karena kau membutuhkan waktu untuk berpikir mengenai hubungan kita, aku harus membuat rencana untuk mempercepat keputusanmu. Ehe…," kata Donghae setelah ia menjelaskan tentang semuanya.
"Apa aku berhasil membuatmu terharu?" tanya Donghae dengan nada candaan.
Wajah Hyukjae memerah. Ia tak tahu, Donghae berbuat sejauh itu. Tapi tak dapat Hyukjae pungkiri, saat ini ia merasa bahagia. Penerimaan Ibu terhadap dirinya sangat berarti. Masalah ayah, Hyukjae tak mau terlalu berharap.
Hyukjae berdehem. "Terima kasih."
Hening sejenak.
"Itu saja?" Donghae mengangkat alisnya.
"Apa?"
"Tidak ada sesuatu yang lain? Sesuatu…seperti…sesuatu…sesuatu… yang lebih hot?" tanya Donghae memastikan.
"Ini sudah larut malam, sebaiknya kita tidur," kata Hyukjae, menghindar.
"Tidur bersama ya?" Donghae mengikuti Hyukjae ke kamarnya.
"Yah! Kau bilang aku tidur di kamarmu dan kau di sofa!" Hyukjae mengingatkan kesepakatan mereka sebelum ia setuju menginap di apartemen Donghae. Hyukjae menutup pintu kamar.
"Tapi aku tidak mungkin tidur dengan pakaian lengkap seperti ini. Biarkan aku masuk." Donghae mengetuk-ngetuk pintu.
Sesaat kemudian pintu terbuka. Donghae tersenyum, tapi itu tidak lama karena berikutnya ia melihat kaosnya, celana pendeknya juga celana dalamnya tebang dari dalam kamar, lalu pintu tertutup kembali.
Donghae menutup mata dengan tangannya. Ia pun tertawa.
"Kau tahu Hyuk, aku punya kunci cadangan," goda Donghae sambil memunguti pakaiannya.
Pintu terbuka lagi. "Lee Donghae! Kau benar-benar celaka kalau berani masuk kamar ini. Apa kau dengar itu?!" kata Hyukjae dengan wajah super galak.
"Baiklah, aku akan tidur di sofa," kata Donghae. Kedua tangannya terangkat tanda menyerah.
Meskipun begitu…
Ketika matahari hampir terbit, Hyukjae merasakan ada berat badan lainnya di ranjang.
"KAU!" pekik Hyukjae sambil memukuli Donghae dengan bantal. "AH!" Tubuh Hyukjae tertindih ke kasur.
"Ini masih terlalu pagi. Jangan berisik, Hyuk."
"Yang menjadi sumber keributan itu kau! Idiot! Cepat pindah!"
"Tidak Mau! Tidur di sofa membuat badaku sakit!" Donghae merebahkan kepalanya ke dada Hyukjae.
"Y-YAH!" Hyukjae mendorongi tubuh Donghae namun tak ada hasil. Badan dan kekuatannya kalah besar.
"Hyuk, jantungmu berdebar-debar."
"Tentu saja. Apa kau pikir aku vampire?"
Donghae tertawa. Ia menggerakkan sedikit badanny agar dapat melihat Hyukjae yang berada di bawahnya.
"Apa!"
DigDugDigDugDigDug DigDugDigDugDigDug
Hyukjae berusaha galak tapi ia tak yakin bisa menyembunyikan rona merah di wajahnya ataupun menormalkan detak jantungnya yang cepat. Diposisi seperti ini ia bisa melihat dada dan otot perut Donghae yang seksi karena pria itu tak mengenakan kaos. Donghae yang dikenal Hyukjae memang selalu topless saat tidur.
"Hyuk, aku tak bisa tidur."
Hyukjae melipat tangan di dada.
"Itu bukan masalahku. Cepat pindah, Donghae!"
"Itu harus menjadi masalahmu. Karena kau di sini. Di tempat tidurku… aku jadi susah tidur."
"Mesum!"
Donghae mengangguk. "Aku ingin melakukan hal-hal mesum denganmu!"
Hyukjae langsung kembali memukuli Donghae dengan bantal.
Donghae menangkap tangan Hyukjae dan menindihnya ke ranjang. Donghae tersenyum.
"Aku cium ya?" kata Donghae.
Mata Hyukjae terbuka lebar dan belum sempat Hyukjae menyahut, Donghae sudah menempelkan bibirnya pada bibir kenyal Hyukjae.
Beberapa detik kemudian, Donghae menarik sedikit badannya untuk melihat reaksi Hyukjae.
DigDugDigDugDigDug DigDugDigDugDigDug
"Kau ini memang suka mencium tanpa ijin kan, Donghae."
"Karena ini trik paling ampuh untuk meluluhkan hati," alibi Donghae.
Hyukjae tertawa kecil lalu keduanya saling menatap dalam hening.
Perlahan Donghae mendekatkan wajahnya ke Hyukjae, membuat Hyukjae menutup matanya.
"Sekali saja. Mungkin tidak mengapa," batin Hyukjae.
DigDugDigDugDigDug DigDugDigDugDigDug
Donghae bisa merasakan jantungnya sendiri berdetak dengan cepat. Saat bibirnya bertemu lagi dengan milik Hyukjae, Donghae mengeluarkan suara lenguhan pelan.
"Ah, Hyukjae…" desah Donghae.
Donghae menjulurkan lidahnya untuk menjilat bibir Hyukjae lalu menghisap bibir itu berulang kali. Ketika Hyukjae membalas ciuman Donghae dengan ragu dan malu-malu, Donghae menjadi lebih percaya diri untuk mengigit lembut bibir Hyukjae dan memperdalam ciuman mereka.
Hyukjae mendesah pelan.
Donghae melepaskan tangan Hyukjae dan entah sadar atau tidak Hyukjae memindahkan tangannya ke rambut Donghae dan menarik-nariknya dengan lembut. Membuat Donghae melenguh lagi.
Donghae menggigiti bibir Hyukjae, Hyukjae membalasnya.
Donghae menghisap dan melumat bibir Hyukjae dengan agresif, Hyukjae mengimbanginya.
Suasanapun dengan cepat berubah lebih sensual.
"Ahh…," desahan Hyukjae semakin vokal dan Donghae tak membiarkan Hyukjae berlama-lama mengambil nafas. Setiap tiga tarikan nafas, Donghae kembali menciumnya.
"D-don-ngh-hae…" dengan susah payah Hyukjae mengatur nafas dan menaruh jarinya di mulut Donghae.
Donghae berusaha mengontrol diri. "Tamatlah aku jika kau menggantungku lebih lama lagi, Hyuk…"
0o0-0o0
Semenjak Hyukjae kembali dari Seoul, semua kru bisa melihat senyuman ceria Hyukjae setiap hari. Dari Leeteuk, mereka mengetahui hubungan Hyukjae dan ibunya sudah membaik. Kru pun ikut senang karenanya. Walau begitu, Leeteuk dan kru dibuat bingung dengan apa kira-kira penyebab pipi Hyukjae tiba-tiba memerah sendiri baik itu pada saat sedang makan, memupuki tanaman atau saat sedang merawat bibit tanaman yang terkena penyakit.
"Ah, pipi hyung memerah lagi," bisik Seungkwan pada DK.
"Aku bersumpah. Kemarin aku melihat hyung, tersenyum sendiri sambil memegangi bibirnya," kata Hoshi, pelan agar tak terdengar Hyukjae.
"Apa menurut kalian ini berhubungan dengan hyung 089?" tanya DK.
Seungkwan dan Hoshi menganggukkan kepala. "Tidak salah lagi…." kata mereka bersamaan.
.
Waktu berlalu dengan cepat. Sekarang sudah weekend. Hyukjae tak sabar menunggu tanggal 5 bulan depan untuk bertemu ibunya. Pagi ini melalui SMS ibunya mengatakan akan memasakan makanan kesukaan Hyukjae jika mereka bertemu lagi. Tentu itu membuat Hyukjae bahagia bukan kepalang. Menurut Hyukjae, masakan ibunya adalah yang terenak di dunia.
"Hyung! Hyukjae hyung!"
Hyukjae melihat Seungkwan berlari ke arahnya sambil memanggil-manggil namanya.
"Apa gunanya KakaoTalk jika dia masih berlari-lari seperti itu?" batin Hyukjae.
"Hyung!"
"Ada apa, Seungkwan?"
"Hyung 089 di sini." Seungkwan memberi informasi.
Hyukjae berdehem. Entah siapa yang memulai, Hyukjae baru menyadari kru Budding Romance selalu menggunakan kode 'Hyung 089' untuk menyebut Donghae. "Biarkan saja," kata Hyukjae.
"Tapi hyung 089, dia tidak sendiri."
"Apa maksudmu?" Hyukjae mulai menaruh perhatian lebih pada perkataan Seungkwan.
Seungkwan tak menjelaskan tapi justru menarik Hyukjae ke kafe. Dari kejauhan, Hyukjae bisa melihat pemandang tak biasa. Kafe mereka penuh sesak dengan pengunjung.
"Permisi-permisi!" Seungkwan meminta orang-orang untuk minggir.
Begitu Seungkwan dan Hyukjae bisa memasuki kafe, Hyukjae baru tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mulutnya terbuka dan matanya berkedip-kedip tak percaya.
"Hyung, kau tak bilang kalau punya teman seorang penyanyi dan pembawa acara radio terkenal," protes Seungkwan.
Hyukjae melihat Donghae melambaikan tangan ke arahnya. Di sebelahnya, ada Junsu yang sedang sibuk memberi tanda tangan pada para fansnya sementara Shindong asyik menggoda fans Junsu.
"HYUKJAE!" pekik keduanya begitu menyadari keberadaannya.
Dalam waktu singkat ia menjadi sandwich. Reuni kecil pun itu pindah ke ruangan yang lebih privat. Junsu dan Shindong tak henti-hentinya membombardirnya dengan pertanyaan. Tapi Hyukjae tak keberatan. Hyukjae justru merasakan kehangatan dan senang bisa bertemu keduanya. Ketika Junsu dan Shindong memarahinya habis-habisan karena telah meragukan persahabatan mereka, Hyukjae merasa bersalah. Ia meminta maaf dan menjelaskan kondisinya. Ketiganya menitikkan airmata haru.
Sementara itu, Donghae hanya tersenyum-senyum saja.
"Apa kau tahu aku memukulnya?" kata Junsu sambil menunjuk Donghae.
Donghae langsung mengeluarkan suara protes. Ia tak ingin mengingat peristiwa itu.
"Huh?" Hyukjae tak paham.
"Aku juga memukul si brengsek ini. Kau tahu…. Hahaha. Seminggu lebih ia pergi ke sekolah dengan muka lebam." tambah Shindong.
"Yah! Hentikan itu!" Protes Donghae lagi.
Hyukjae tertawa.
Usut punya usut, Junsu dan Shindong mengira Hyukjae tak masuk sekolah karena patah hati akibat Donghae berkencan dengan Kibum. Keduanya yang sudah lama juga mengetahui Donghae tak setia langsung menghajarnya. Tapi setelah beberapa hari Hyukjae tak kunjung muncul di sekolah Junsu dan Shindong mulai bingung. Hyukjae tak bisa dihubungi, tak bisa ditemui. Saat mereka ke kediaman Lee, asisten rumah tangga hanya mengatakan "tidak tahu" dan menolak memberi informasi. Setelah tiga bulan kemudian barulah Junsu dan Shindong mendapat informasi dari Donghae kalau Hyukjae diusir oleh orangtuanya sendiri.
Sejak saat itu, ketiganya mencari Hyukjae tapi tak berhasil menemukannya. Info terakhir yang mereka peroleh hanyalah info dari petugas administrasi sekolah yang mengatakan bahwa Hyukjae telah mengajukan pindah sekolah ke Busan.
Setelah Hyukjae, satu persatu, Junsu dan Shindong menceritakan tentang kehidupan mereka. Mendengar cerita yang seru, hati Hyukjae sedikit ciut. Kalau saja Hyukjae terus mengasah kemampuan dance nya mungkin saat ini ia berada di dunia yang sama dengan kedua sahabatnya itu. Memang sejak dulu, cita-cita Hyukjae adalah berkarir di dunia entertainment. Tapi kenyataan berbeda. Selain ayahnya menentang, kondisinya kini juga tak memungkinkan. Setelah menyelesaikan SMA Hyukjae memutuskan untuk hanya bekerja di kebun Leeteuk.
"Aku suka dirimu yang sekarang," bisik Donghae ke telinga Hyukjae, seakan tahu Hyukjae sedang merasa berkecil hati.
Hyukjae mengkerutkan alisnya.
"Apa ini termasuk trik lainnya?" tanya Hyukjae.
"Apa aku sudah bisa mendapat jawaban?" tanya balik Donghae sambil tersenyum dan mengusap-usap rambut Hyukjae.
Hyukjae mengalihkan pembicaraan dengan menawari kedua sahabatnya makan siang, membuat Donghae mengacak-ngacak rambutnya sendiri dengan frustrasi. Sepertinya… ia harus menunggu lebih lama lagi.
.
Weekend berikutnya. Hyukjae dibuat terkejut lagi. Donghae datang bersama ibunya di sabtu pagi. Membawa semua makanan kesukaan Hyukjae dalam jumlah yang banyak, berikut makanan lainnya untuk semua kru Budding Romance. Menjelang siang hari, Junsu dan Shindong menyusul. Kali ini mereka semua menginap. Budding Romance kembali menjadi tempat reuni. Leeteuk pun memutuskan untuk menutup kafe lebih awal. Ia ingin semua kru juga ikut bersenang-senang di hari itu.
"Apa aku sudah bisa mendapatkan jawaban?" tanya Donghae lagi.
"Apa kau baru saja mengatakan sesuatu?" Hyukjae yang berdiri di sebelahnya dan sedang melihat tarian aneh Seungkwan, Hoshi dan DK pura-pura tak mendengar.
"Hyuk…," Donghae menarik pinggang Hyukjae. Membuat tubuh mereka saling menempel.
"Hmm?" Hyukjae membuat raut wajah lugu.
"Ah, permisi. Hyukjae ayo kita lakukan dance kita waktu SMA." Junsu mendorong tubuh Donghae lalu menarik Hyukjae ke tengah kerumunan kru Budding Romance yang sedang menari-nari.
"YAH! JUNSU!" pekik kesal Donghae.
Junsu berbalik ke arah Donghae dan menjulurkan lidah.
"Aisssh!" decis Donghae.
.
Weekend berikutnya, Hyukjae mengantisipasi kejutan. Tapi…Donghae tak datang. Donghae tak pernah muncul lagi dihadapannya hingga waktu kini sudah memasuki bulan baru.
0o0-0o0
Tbc
