©kaioppaya a.k.a Sheila Ervian.
Proudly present.
.
Felicitas.
.
Byun Baekhyun . Park Chanyeol
.
Sad . Fluff . Romance
PG-15
T
.
"I'll just choose you as the only one mine."
.
.
.
((a/n: HAAAALOOOOOOOOOOOOOO ^o^)/ NEW CHAP UP!
Buat yang penasaran Chanbaek kenapa, JAWABANNYA ADA DI CHAPTER INI NIH :D
So, pantengin ok?
Thanks for reviewing this weirdo fanfic /cries han river/ I love you guys!
And thanks to hunhanforever for the suggest! Saran ada akan saya koreksi nanti! ^^
/halah. /kelamaan
Happy reading! :D))
.
.
Felicitas
.
.
Perempuan hina itu kembali ke dalam hidupku.
.
"Aku pulang!"
Sapa Chanyeol girang ketika memasuki kediamannya itu. Ia menjinjing dua kantong plastic besar berisi belanjaannya barusan bersama Baekhyun di sebuah mall. Dan, Baekhyun dibelakangnya pun terlihat membawa satu kantong plastic besar di tangan kanannya. Ketika mereka berdua masuk ke rumah, empat pasang mata yang menatap mereka berdua dari ruang tamu langsung membuat suasana jadi hening lagi.
Disitu terlihat ibu, ayah, dan kakak perempuan Chanyeol, sedang duduk di sofa dengan seorang perempuan asing yang sama sekali tak Baekhyun kenali. Mereka berempat menatap kedua pasangan itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Seolah-olah langsung mengirimkan sinyal kedalam otak Baekhyun kalau keadaan saat ini sedang tidak baik-baik saja.
Sedangkan Chanyeol? Ya. Tentu saja ia mengenal dengan baik perempuan asing itu.
Lee Hojung.
"Apa yang-"
Ayah Chanyeol langsung memotong kalimat anaknya cepat. "Ingat Hojung? Kita harus bicara dengan serius, Chanyeol-ah."
Chanyeol menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia menggenggam sebelah tangan Baekhyun yang bebas dengan erat. Baekhyun kebingungan, sekaligus ketakutan melihat ekspresi kekasihnya itu.
"Chanyeol…?"
"Tidak! Ayah, Jangan bilang…"
Sang ibu kini yang memotong kalimatnya berkata, "Maaf nak, tapi perjodohan ini tetap harus berlanjut."
Rasanya sebuah petir besar menyambar hati dan jiwa Baekhyun saat itu. Ia tidak punya waktu untuk terkejut karena kini tubuhnya sudah limbung hampir jatuh. Kaki-kaki kecilnya kini terasa seperti jelly, untuk sepersekian detik Baekhyun hampir saja jatuh pingsan jika kedua tangan Chanyeol tidak menahan tubuhnya agar tidak merosot kebawah. Baekhyun ingin menangis, tentu saja. Bisakah kalian bayangkan, kedua orang tua dari kekasihmu bilang bahwa kekasihmu akan dijodohkan, dan ia berkata seperti itu tepat dihadapanmu?
Ya, seperti itu rasanya.
Chanyeol meringkih tubuh lemas Baekhyun kedalam pelukannya. Membiarkan kekasihnya itu tenang dalam pelukannya. Lagi-lagi Chanyeol menggeleng cepat.
"Jangan gila. Kalian menyakiti Baekhyun!" erang Chanyeol frustasi. Dan Chanyeol bisa mendengar samar-samar suara isakan Baekhyun dalam pelukannya. Oh ya Tuhan. Chanyeol benci ini. Kenapa hidup terasa sulit sekali, Tuhan?!
"Dan soal anak itu," ayah Chanyeol menggantungkan kalimatnya. Kemudian menatap Chanyeol lamat-lamat. "Ayah berikan kalian waktu 24 jam untuk membicarakannya baik-baik."
"Ayah…" kini sang kakak membuka suaranya. Jujur saja, ia menyayangi Baekhyun seperti adik kandungnya sendiri. Dan melihat kedua adik kesayangannya seperti itu membuatnya meringis. Ingin sekali rasanya ia memeluk kedua tubuh adik tersayangnya itu kemudian menangis bersama-sama.
"Semua akan baik-baik saja kalau perempuan licik itu tak ada disini!"
"Chanyeol!" satu kata yang sama namun keluar dari 2 mulut berbeda. Mulut ibunya dan mulut seseorang yang sedang ia peluk saat ini; Baekhyun. Chanyeol menunduk, menatap wajah Baekhyun yang kini mendongak menatapnya. Dan Chanyeol dapat melihat dengan jelas air mata yang perlahan-lahan turun dari mata jernih nan polos milik Baekhyun. Hidung dan matanya juga sudah memerah. Ia mencoba menahan tangis, sepertinya. Dan Chanyeol tidak suka itu. Bagaimanapun, Chanyeol tidak suka melihat orang kesayangannya menangis –apalagi menahan tangis.
"Bicaralah padanya. Kami akan menunggu." Ucap si perempuan asing –Hojung dengan nada memuakkan di telinga Chanyeol. Demi Tuhan, Chanyeol sangat membenci perempuan itu jauh sebelum ini. Bayangan masa lalu kelam yang tersirat akan kebencian kembali menyadarkan Chanyeol secara penuh bagaimana upaya gadis itu ketika mencampakkinya dulu. Chanyeol berdecih sarkatis, ia beralih menatap mata Hojung yang kini menatapnya dengan keramahan yang dibuat-buat –berusaha terlihat baik didepan calon mertua. Sayangnya, Chanyeol mengetahui itu dengan jelas.
Chanyeol pergi meninggalkan keempat manusia itu dan membopong tubuh lemas Baekhyun ke kamarnya yang berada di lantai atas dengan menggendong ala bridal. Dan meninggalkan kantong-kantong plastic itu berantakan di depan pintu masuk. Benar, mau bagaimanapun juga Chanyeol harus menjelaskannya baik-baik. Tetapi tetap saja. Ia akan menolak perjodohan sinting dengan perempuan brengsek itu. Meski harus dibuang dari keluarga besar Park, jika ia bisa hidup dengan tenang dengan Baekhyun kelak, apapun akan ia lakukan.
.
.
Aku hanya mencintaimu. Bukan perempuan itu.
.
.
ChanBaek
.
.
Chan, maaf…
.
Seorang laki-laki manis bernama Byun Baekhyun kini sedang termenung di dalam kamarnya. Termenung menatap langit-langit malam daerah Myeongdong dengan tatapan sendu. Entah sudah berapa jam ia duduk sambil memeluk kedua kakinya dan terus menangis. Menangis menyesali perbuatannya semalam yang membuat kekasihnya marah. Demi apapun, Baekhyun tidak pernah melihat Chanyeol semarah itu padanya. Dia salah apa? Kenapa Chanyeol membentaknya? Kenapa Chanyeol malah menyiksanya? Bukankah apa yang diputuskannya semalam pada permasalahan ini adalah solusi yang terbaik? Kenapa Chanyeol begitu bodoh karena tidak mau menerima keputusannya? Ataukah memang ia yang terlalu bodoh Karena membuat Chanyeol marah besar?
"Aku tidak bisa, Baek."
Liquid bening kembali menghiasi pipi lembutnya yang sebelumnya tercipta bekas liquid bening yang sama dari mata sipitnya yang telah mengering. Pipinya mulai basah lagi mengingat 4 kata yang diucapkan Chanyeol saat itu. Hati kecilnya meraung-raung kesakitan. Seolah sesuatu yang bergejolak dari dalam hatinya minta dikeluarkan. Tapi sialnya Baekhyun tidak bisa berbuat apa-apa hanya sekedar untuk melampiaskan apapun yang secara perlahan mengoyak hatinya.
"Hentikan! Bisakah kau berpikir?! Aku tidak mau melakukannya! Aku tidak bisa menjalani hidupku bersama perempuan sialan itu jika hatiku masih utuh bersamamu!"
"Chan…" Baekhyun meringis. Air matanya kembali tumpah tanpa bisa ia kehendaki. Ia lelah, sangat. Tetapi air mata ini mengkhianati tubuhnya. Baekhyun menggigit bibir bawahnya keras, yang mungkin saja sudah berdarah karena sedari tadi ia gigit demi menahan tangisannya. Meskipun berakhir dengan rasa perih yang bercampur air mata yang ia rasakan di bibirnya, tapi ini demi Chanyeol.
Demi Chanyeol, ia tidak ingin membuat pria itu dicambuk seratus kali meskipun hanya dengan setetes air mata yang tumpah dari sepasang mata jernih Baekhyun. Demi apapun, Baekhyun tidak mau itu terjadi. Ia sungguh akan melakukan apapun pada Chanyeol agar pria itu tidak terjerat masuk dalam lubang dosa hanya karena manusia lemah tak berguna seperti dirinya. Baekhyun merasa payah, ia merasa tidak seharusnya mendampingi Chanyeol. Ia hanya merusak hidup orang lain saja.
"Aku sungguh mencintaimu, Baek. Kumohon, jangan memintaku untuk melakukan itu…"
"—Hentikan. Aku mohon—ini menyakitkanku." Lirih Baekhyun berucap —entah kepada siapa. Kepada bayang-bayang Chanyeol yang sialnya sedari tadi menghantuinya, atau kepada pikirannya yang terus saja mengulang-ulang percakapan menyakitkan tadi di otaknya bak kaset rusak. Baekhyun ingin marah, tapi ia tidak tahu harus marah ke siapa.
Chanyeol? Tidak mungkin. Baekhyun benar-benar menyayangi pria itu —meski Chanyeol sudah berani membentaknya bahkan mengusirnya tadi. Orang tua Chanyeol? Tidak. Mereka berdua sudah sangat baik padanya. Dan berusaha melupakan fakta bahwa secara tidak langsung perjodohan aneh yang dicetuskan oleh mereka tadi menyakiti hatinya. Kakak perempuannya? Mustahil. Ia menyayangi kakak perempuannya itu seperti kakaknya sendiri. Begitupun sebaliknya. Ia sudah baik karena selama ini mau membantunya dari Chanyeol. Atau haruskah ia marah pada Tuhan? Yang sepertinya memberi cobaan terlalu berat yang bahkan ia sendiri tidak bisa menanganinya?
Mungkinkah… ia harus marah kepada perempuan bernama Hojung tadi itu? Jangan Baek, kau gila. Hojung tidak bersalah. Kau tidak tahu apa masalah mereka. Jangan marah padanya.
Dan Baekhyun terus saja mengucapkan kalimat itu berulang-ulang dalam hatinya. Meyakinkannya bahwa perempuan cantik seperti Hojung memang tidak bersalah.
Jangan salahkan Baekhyun karena dia tidak tahu apa-apa mengenai masa lalu kelam Chanyeol bersama Hojung.
Sebuah ketukan pintu tiba-tiba kembali menyadarkan Baekhyun ke dunia nyata nya. Ia tampak ogah-ogahan untuk bergerak, dan memilih tetap meringkuk di pojok kasur dan tidak bergerak barang se centi-pun. Ia tahu, pasti dibalik sana ada seseorang yang tidak asing. Mengingat yang mengetahui rumahnya hanyalah keluarga Park, Minseok, Sehun, Kyungsoo, dan Luhan—sebagian teman Chanyeol yang kini menjadi kerabat dekatnya. Merasa tidak ada jawaban; seseorang dibalik pintu akhirnya bersuara.
"Baekkie… kau ada di dalam? Bukalah…"
Baekhyun langsung lompat dari kasurnya dan berlari kearah pintu mendengar suara perempuan yang sangat ia kenal dan sayangi itu. Tanpa pikir panjang Baekhyun langsung membuka pintu yang terbuat dari kayu itu dan langsung menerjang perempuan dibalik pintu yang sedari tadi gelisah di luar pintu. Baekhyun terisak, dan kembali menangis di pelukan perempuan itu.
"Hiks.. Noona—"
Perempuan itu memeluk Baekhyun dengan erat, kemudian tersenyum miris. "Ssh, Baekkie… tenanglah. Aku disini."
Baekhyun kembali menangis hebat dalam pelukan perempuan itu. Perempuan yang berstatus menjadi kakak kandung Chanyeol—Yura. Yang sudah ia anggap sebagai kakak sendiri. Yura mengusap punggung Baekhyun sayang, berupaya menenangkan salah satu adik tersayangnya itu. Bagaimanapun juga, Yura tetap memiliki hati dan rasa simpati pada Baekhyun karena perjodohan –yang menurutnya- aneh itu. Meskipun kenyataan pahit bahwa si sulung cantik satu ini tak bisa berbuat apa-apa karena perlakuan anak-anak keluarga Park berada dibawah pengawasan sang ayah.
"Baekkie… ssh, uljima. Jangan sedih, noona disini Baek. Kita perlu bicara."
Baekhyun melepaskan pelukan mereka secara sepihak, kemudian menatap sang kakak dengan tatapan menyakitkannya. Yura dapat merasakan itu. Baekhyun telah berhenti menangis tetapi air mata masih tetap berjatuhan dari mata sipitnya yang kini sudah sepenuhnya memerah. Yura merasa tidak tega. Kenapa cobaan yang menyakitkan ini harus diberikan kepada anak malang seperti Baekhyun? Ya, Tuhan. Batinnya meringis melihat keadaan Baekhyun sekarang. Tak jauh berbeda dengan keadaan adik kandungnya sendiri.
Oh, anak-anak ini. Yura rasanya ingin menangis saja.
"Apakah tentang Chanyeol?" Tanya Baekhyun sedikit berbisik dengan suara parau. Yura menghela nafas, mencoba menghalangi air matanya sendiri yang sudah bersiap-siap meluncur kearah gravitasi bumi hanya dengan sekali berkedip. Yura tidak menjawab, ia masih asik dengan kegiatannya yang menghapus jejak-jejak anak sungai yang terus saja mengaliri pipi putih tak berdosa itu. Jari-jari lentiknya mengusap pipi Baekhyun perlahan, menyalurkan ketenangan yang secara tidak langsung dan tanpa mereka sadari membuat Baekhyun merasa utuh. Baekhyun menutup kedua kelopak matanya, dan secara otomatis membuat air mata tumpah lagi dari obsidian coklatnya. Yura kembali menghapusnya, kini air matanya yang justru meluncur kebawah dengan mulus.
Yura berusaha tersenyum diantara air mata yang masih mengalir. Kemudian menatap Baekhyun lamat-lamat dan kini sebelah tangannya berpindah mengelus surai coklat lelaki manis dihadapannya ini. Kemudian membuka suaranya yang terdengar parau karena berusaha menahan tangis. "Kami berdua mengkhawatirkanmu. Bocah itu terlihat menyedihkan sekali. Kau mau mendengar ceritaku, Baekkie?"
Baekhyun membuka matanya, kemudian sedikit tersentak melihat noona kesayangannya ini menangis. Baekhyun terperangah untuk beberapa saat. "Noona…"
Yura buru-buru menghapus air matanya dengan cepat dan kasar, masa bodoh dengan make up mahalnya itu. Kemudian tersenyum manis semampunya meskipun terlihat terpaksa. Dan ia kembali mengelus pipi berisi Baekhyun sayang. "Kau mau tidak, hm? Atau kau lebih memilih membiarkan bocah itu tersiksa karena selalu dihantui perasaan bersalah?"
Secara spontan Baekhyun langsung memeluk perempuan itu lagi. Ia kembali terisak, tapi berusaha keras agar air mata sialan itu tidak tumpah lagi untuk yang entah keberapa kalinya. Ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya berucap lagi. "Ceritakan padaku semuanya, Noona. Ceritakan semuanya."
.
.
Apa kau baik-baik saja? Maafkan aku, Park.
.
.
Kaioppaya
.
.
Sekeras apapun mereka memaksaku,
Aku akan tetap memilihmu.
Chanyeol berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada, dan bersandar pada dinding kamarnya yang berwarna putih gading tersebut. Manik hazel hitamnya menatap pasrah seorang pria manis yang kini menangis sesegukan di atas kasurnya, dan sesekali juga membuang wajah kearah lain karena merasa tidak kuat melihat orang itu menangis. Hatinya seperti tersayat dan dilumuri oleh cuka. Perih rasanya. Ia ingin sekali berbuat sesuatu pada pria yang sedang menangis itu —alih-alih ingin menenangkannya agar berhenti menangis. Tetapi ia terlalu gengsi –egonya terlalu besar dan mengalahkan rasa kasihannya. Ia juga sudah tersulut emosi sejak kejadian di ruang tamu tadi. Persetan dengan perempuan brengsek itu, pikirnya.
"Baek—" Chanyeol menggantungkan kalimatnya, kemudian menghela nafas –entah sudah yang keberapa kalinya hari ini- sambil menutup matanya. Kemudian menatap orang itu lekat. "—kumohon. Hentikan."
Pria manis —Baekhyun- langsung menatap Chanyeol nanar. Ekspresi kesakitan yang dilingkupi kesedihan mendalam tercetak jelas pada wajah polos Baekhyun yang kini tengah menangis meraung-raung. Ia kembali terisak, kemudian mencoba berkata di sela-sela tangisannya. Sambil terus menatap Chanyeol lamat-lamat.
"Chan— Kau, kenapa—" kemudian kembali menangis hebat lagi. Chanyeol sudah tidak tahan. Ia berjalan kearah Baekhyun dan berjongkok di hadapannya agar menyamai tinggi tubuh mereka dengan tepat. Chanyeol menggenggam kedua tangan Baekhyun erat sambil menatap mata jernih yang kini mengeluarkan cairan bening; mari kita sebut air mata. Chanyeol yang mengerti kemana arah pembicaraan pria mungil satu ini langsung bertindak cepat. Menatap sepasang obsidian coklatnya yang indah. Sebelah tangannya bergerak keatas, mengusap-usap rambut Baekhyun perlahan. Berusaha menyalurkan ketenangan –atau apapun itu yang penting membuat Baekhyun merasa nyaman.
"Kenapa? Baek, aku tidak mungkin berbicara secara gamblang perjodohan ini kepadamu. Tidak, bukan berarti aku menyembunyikannya—" kemudian sebelah tangan itu kembali terulur untuk menggenggam sebelah tangan Baekhyun yang bebas.
"Tapi aku tidak akan sanggup melihat reaksimu nanti. Aku tidak siap. Aku mencintaimu. Bukan perempuan itu."
Chanyeol mengecup kedua punggung tangan Baekhyun yang digenggamnya dengan tenang. Cukup lama, sedikit membuktikan kalau dibalik kecupan ringan itu terdapat cinta yang besar disana. Chanyeol kembali memandang wajah manis pria dihadapannya, berniat menunggu reaksi apa yang akan diberikan oleh Baekhyun.
"Chan— setidaknya, kita- bisa, membicarakannya baik-baik." kemudian kembali terisak lagi. Chanyeol menatap Baekhyun iba. Ingin sekali rasanya ia menangis sekarang. Tapi ia hanya tidak mau menambah kesedihan Baekhyun saat ini.
"Aku tahu, aku menyesal sekarang."
Benar. Chanyeol memang menyesal. Dan Baekhyun benar. Harusnya mereka bisa membicarakannya berdua baik-baik, bukannya menyembunyikannya sendiri. Karena secara tidak langsung Baekhyun pun ikut masuk kedalam masalah ini.
Oh, Chanyeol yang malang.
"Chan? Kau akan menyetujuinya, 'kan?
"Apa?"
Baekhyun menarik nafas dalam-dalam. Menutup kedua matanya untuk beberapa detik kemudian membukanya lagi. Berusaha tegar sekuat mungkin meskipun mustahil. Dan ia menatap Chanyeol dengan mantap. "Park, kau anak baik. Pasti kau akan menyetujui perjodohan ini, bukan?"
"Tidak, Baek. Aku—"
"Chan!" nada bicara Baekhyun meninggi tanpa sadar. Hampir saja ia menjatuhkan air mata lagi kalau saja ia lupa bahwa saat ini ia sedang mati-matian menahannya demi Chanyeol.
"Berjanjilah padaku kau akan menyetujui permintaan ayahmu."
"Tidak."
"Chan, berhentilah memikirkan orang lain. Pikirkanlah dirimu sendiri. Kau butuh kehidupan yang normal, bukannya malah bersama seorang gay sepertiku."
"Baek, hentikan."
"Hiduplah dengan normal. Berbahagialah. Jangan kecewakan ayahmu. Dia tau yang terbaik untuk anak-anaknya…"
"Hentikan. Kumohon, Baek."
"Aku mohon. Maafkan sifat egoisku, Park. Aku memang suka semena-mena yang ingin ini-itu. Tapi tidak untuk kali ini. Ini demi masa depanmu. Kau juga memimpikan keluarga utuh bersama istri dan anak-anakmu kelak, bukan?"
"Baek…"
"Benar. Kalau begitu berjanjilah padaku. Silahkan lupakan tentang kita. Hiduplah bersamanya, bahagiakanlah dia. Berjanjilah padaku kau akan hidup bahagia, Chanyeollie—"
"Tidak. Hentikan." Kali ini kalimat final dari Chanyeol sukses membuat Baekhyun bungkam. Ia geram dengan semua kalimat tadi. Memang ada benarnya, tetapi Chanyeol juga tidak bisa marah pada Baekhyun. Kalimat dengan dua kata terakhir yang dikatakan dengan lembut namun tersirat akan ketegasan membuat Baekhyun kembali menitikkan air matanya lagi. Hati Chanyeol tergerak untuk memeluknya, dan membiarkan pemuda manis itu menghabiskan air matanya sampai kering dalam pelukannya. Dan benar saja, Baekhyun kembali menangis hebat dalam pelukan hangat Chanyeol. Merasa bersalah? Tentu saja. Ia salah tingkah. Semuanya jadi terasa serba salah. Chanyeol rasanya ingin mati saja saat ini.
"Tidak. Maaf tapi aku tidak akan setuju dengan semua permohonanmu itu." Dan Chanyeol dapat merasakan punggung Baekhyun bergetar hebat karena tangisannya, serta dapat merasakan gelengan kepala spontan dari kepala mungil dalam pelukannya itu. Bagaimanapun, Baekhyun juga tidak setuju jika Chanyeol tidak menyetujui sarannya. Tapi mungkin Chanyeol akan menyetujuinya jika ia sudah gila dan kehilangan otaknya kelak.
"Baek- dengar. Aku tidak mungkin meng-iyakan dan menjanjikan hidup bahagia selain bersamamu. Kau bilang aku tidak peduli? Ya, aku memang tidak peduli. Masa bodoh. Terserah apa kata kalian. Kau tahu aku tidak mungkin bahagia bersama orang yang pernah merusak hidupku-"
Baekhyun terperangah, berusaha berbicara didalam dekapan erat Chanyeol. "Dia wanita cantik yang baik, Chan—"
"Baek, dengarkan aku!" ucap Chanyeol sambil sedikit membentak yang lagi-lagi membuat Baekhyun terdiam. Bahkan tangisannya pun terhenti seketika. "Kau hanya tidak tahu apa yang dulu telah terjadi. Aku sungguh mencintaimu, Baek. Kumohon, jangan memintaku untuk melakukan itu…"
"Sampai kapan kau akan bersamaku seperti ini, huh? Orang tuamu mungkin menginginkan keturunan yang bahagia, yang normal. Aku? Chanyeol, bahkan kedua orang tuaku pun telah meninggal. Kakakku entah dimana. Hampir sebagian keluargaku bahkan tidak mengenalku dengan baik. Aku tidak perlu khawatir tentang hidupku karena tak ada seorang pun yang peduli. Kau harus ingat, Chan. Kau lahir dari keluarga Park yang terhormat. Tidak mungkin kau mencemari nama baik keluarga Park hanya dengan kehadiranku disini, bukan? Mengertilah…"
Chanyeol membuang wajahnya ke sembarang arah sambil menghela nafas kasar. Baekhyun benar, ia memang terlahir dalam pengawasan ketat tuan Park yang terhormat. Mereka lahir dalam dunia tinggi penuh cahaya, berbeda dengan dunia Baekhyun yang tidak jelas dan dipenuhi oleh kegelapan. Ya, Baekhyun benar. Bisa saja ia mencemari nama baik keluarganya sendiri. Tapi, Baekhyun bukanlah gelandangan tak berguna yang akan mencemarkan nama baik keluarga Park semudah itu. Ia hanyalah anak polos yang kelewat baik, dan berhasil menjebak Chanyeol dalam dunia kegelapannya yang dingin dan sunyi, apa itu salah? Jika hanya karena ia gay, salahkanlah Tuhan yang memberikannya cobaan se-menyakitkan ini.
"Kau bilang tak perlu khawatir? Bodoh! Aku peduli padamu, Baekhyun. Aku peduli pada orang yang kucintai. Aku khawatir denganmu. Dan aku memiliki hak penuh untuk itu."
Sebelah tangan Baekhyun tergerak untuk mengusap bahu tegap milik Chanyeol, yang kemudian mendarat di rahang tegas milik kekasihnya itu. Mengusap pahatan rahang sekaligus pipi si Park dengan jari-jarinya yang lentik nan indah. "Dan belajarlah untuk peduli pada wanita yang mencintaimu."
Chanyeol bangkit dari tempatnya, berdiri kemudian mengusap wajahnya frustasi. "Aku tidak bisa, Baek."
"Aku akan senang hati membantumu, Chanyeollie."
Chanyeol menarik kembali kedua tangannya dari wajah tampannya dan setelahnya menatap Baekhyun datar dengan tatapan bingung. "Apa lagi yang akan kau lakukan?"
Baekhyun berusaha tersenyum semanis mungkin, meskipun setetes air mata tetap lolos dan meluncur dengan mulus melewati pipi putih lembutnya itu. Menatap Chanyeol lamat-lamat dalam keheningan. "Aku akan pergi. Biarkan aku mundur dalam hidupmu, Chan. Dan kau akan mencintainya dengan mudah tanpa ada gangguan dariku."
Dan dari detik itulah, sisi liar Chanyeol yang sudah mati-matian ia pertahankan dan kubur dalam-dalam di dasar hatinya kembali memberontak keluar. Tidak ada Chanyeol yang lembut lagi setelah detik ini. Mata Chanyeol berkilat marah, dan nafasnya memburu. Ia jelas tidak akan bisa mengontrol emosinya setelah ini.
PLAK!
"Chanyeol!"
"Kau! Bodoh! Kau menyakitiku secara perlahan, Baek!"
"Tapi-"
PLAK!
"Hentikan! Bisakah kau berpikir?! Aku tidak mau melakukannya! Aku tidak bisa menjalani hidupku bersama perempuan sialan itu jika hatiku masih utuh bersamamu!"
"Kumohon! Chan-"
PLAK!
"Kubilang, hentikan!"
Suara berat milik Chanyeol terdengar menggema di kamar itu. Mungkin saja bahkan terdengar keluar ruangan. Chanyeol mulai membabi buta. Ia menampar Baekhyun dengan keras sampai tercipta sedikit darah di sisi bibir mungilnya. Bisa dipastikan rahang Baekhyun memar saat ini juga. Baekhyun ingin menangis, sangat ingin menangis. Tapi air matanya sudah tidak tercipta lagi. Sudah terkuras habis, mungkin. Baekhyun ketakutan melihat Chanyeol seperti itu. Tubuhnya terasa sakit sekali, terlebih pada wajahnya. Dan luka di hatinya kembali terbuka lebar. Luka yang masih setia menyakiti perasaan Baekhyun kembali menyakitinya lebih dalam lagi. Chanyeol terus menamparnya, membentak, menarik rambutnya dengan kasar, memukul bahu serta punggungnya dengan beringas. Mengabaikan pandangan sendu serta wajah memelas Baekhyun yang sudah terlalu lemas. Tatapan sayu itu dihiraukan. Lirihan perih itu tidak diindahkan sama sekali. Erangan menyakitkan itu tetap diacuhkan.
Terus saja begitu sampai Chanyeol pergi meninggalkannya sendiri dalam keadaan setengah sadar dan tubuh yang terasa remuk. Setelahnya, semua terasa gelap.
.
.
Aku satu-satunya yang bersalah disini. Akulah yang seharusnya melindungimu,
Tetapi justru menyakitimu.
.
.
Felicitas
.
.
Maaf…
.
"Maukah kau memaafkan adikku?"
Baekhyun terdiam sambil menunduk, menatap lantai kayu rumahnya dalam diam. Sudah entah yang keberapa kalinya pertanyaan yang sama terlontar dari perempuan bermarga Park yang kini menemaninya di ruang tengah itu. Yura yang sedari tadi mengeluarkan air matanya pun terus memohon kepada Baekhyun dengan pertanyaan yang sama. Baekhyun merasa gusar. Ia tidak berani mendongak dan menatap wajah sedih noona dari kekasihnya itu. Baekhyun tahu, sangat tahu jika sang kakak dilingkupi perasaan bersalah atas kesalahan fatal yang tidak disengaja oleh adiknya yang tampan itu.
Tetapi memaafkannya setelah apa yang pria itu lakukan pada Baekhyun?
Sepertinya Baekhyun harus berfikir dua kali.
Tapi Baekhyun mencintainya. Mereka saling mencintai.
Tidak! Chanyeol sudah menyakitimu, Baek!
Akal dan batinnya kini berkecamuk. Berperang saling membela satu sama lain. Batin dalam hatinya berteriak menyuruhnya luluh dan memaafkan Chanyeol, tetapi sang akal tidak mau kalah dan ikut berteriak memberitahunya bahwa Chanyeol telah melakukan hal yang salah. Kesalahan itu sempat membuat Baekhyun terguncang. Dan lagi-lagi sang akal menyadarkannya bahwa kesalahan itu terlalu dalam untuk dimaafkan.
Sang batin juga tidak mau membiarkan sang akal menguasai jiwanya. Batinnya membentaknya kalau Chanyeol juga tersakiti disini. Dan membayangkan Chanyeol seperti apa sekarang saja mampu membuat Baekhyun menangis lagi. Sang batin meyakinkannya bahwa Chanyeol yang sebenarnya tersakiti. Batinnya kembali mengingatkannya akan keputusan Chanyeol yang mengatakan bahwa ia memiliki masa lalu kelam bersama perempuan tadi- Hojung. Dan itu sempat membuat Baekhyun haus akan rasa penasaran yang melingkupi hati kecilnya.
"Apa yang terjadi— dengan mereka berdua?"
Yura menatap Baekhyun dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya dan bersiap-siap meluncur kebawah; namun tertahan oleh tatapan bingungnya yang ia berikan pada sang penanya.
"Maksudmu?"
"Masa lalu mereka. Ia bilang, ia memiliki masa lalu yang buruk bersama— siapa?"
"Hojung. Lee Hojung, maksudmu?"
"Y-ya, ceritakan padaku– Noona."
Air mata yang tadi sempat tertahan akhirnya meluncur dengan mulus melewati pipi tirus yang sebelumnya sudah basah itu. Yura memainkan jari-jari lentiknya yang menggenggam erat tas tangan khas perempuan bisnis dengan merk Marie Claire berwarna peach yang senada dengan rok katun selututnya itu; demi menghilangka gugup sekaligus kesedihan yang kembali menguasainya ketika mengingat masa lalu-sialan-itu.
"Ini bukan saat yang tepat, Baekkie… tidak sekarang."
Hanya itu yang keluar dari bibir sang kakak perempuan. Baekhyun menghela nafas; antara pasrah dan kesal—yang entah sudah keberapa kalinya malam itu. Tak tahukah Yura bahwa itu bukanlah jawaban yang ia harapkan disaat seperti ini?
"Aku tahu, noona. Kau pasti mengetahui sesuatu." Ujar Baekhyun dengan hati-hati. Berusaha sebisa mungkin agar tak menyakiti perasaan si sulung keluarga Park yang cantik ini. Karena Baekhyun tahu betul perasaan wanita lebih rapuh dibanding dirinya. Benar, bukan?
"Aku akan menjelaskannya, Baek. Noona janji," Yura menatap Baekhyun lamat-lamat, pandangan mereka bertabrakan dan sempat tertahan untuk beberapa detik sampai Yura kembali melanjutkan kalimatnya.
"Tapi tidak sekarang, kumohon. Aku terlalu mengkhawatirkan kalian. Aku mendengar perdebatan kalian sore itu. Kau tidak tahu 'kan kalau aku menangis di kamar sebelah mendengar pertengkaran hebat kalian? Aku mengkhawatirkanmu, Baekkie. Maafkan Chanyeol, jika ia sudah seperti itu berarti ia memang tidak bisa mengendalikan emosinya lagi. Aku berani bersumpah terakhir kali melihat Chanyeol yang seperti itu sudah 3 tahun yang lalu. Bahkan aku dan kedua orangtua kami pun kewalahan menghadapinya."
Baekhyun terkejut dalam diam. Dihadapannya kini terlihat seorang Park Yura yang benar-benar terlihat menyedihkan. Ia menjelaskan semua itu dengan deraian air mata yang berlomba-lomba menyeruak keluar dari sepasang mata indahnya. Mata yang terlihat persis sekali seperti milik Chanyeol. Sepasang mata yang menangis membuat Baekhyun sedikit meringis melihatnya.
Ia teringat akan Chanyeol.
"Noona, aku-"
"Baek," potong Yura cepat. Baekhyun tahu kalimat tadi belum selesai dan Baekhyun hanya ingin mencegahnya. Ia takut akan sakit saat mendengar lebih jauh lagi. Tapi lidah Baekhyun mendadak kelu saat Yura kembali melanjutkan kalimatnya.
"Aku mohon, demi keturunan keluarga Park yang terhormat. Byun Baekhyun, aku mohon… bujuklah Chanyeol kembali. Aku sangat mengkhawatirkan bocah itu. Aku sangat mengkhawatirkanmu. Mengkhawatirkan kalian. Aku tahu ini pasti terlalu sulit bagimu. Baekkie, Chanyeol belum kembali kerumah sejak pertengkaran kalian. Aku melihatnya terakhir kali saat ia tergesa-gesa keluar rumah dengan wajah penuh emosi. Kami tidak tahu dimana ia sekarang. Ibu sudah berkali-kali pingsan hari ini dan itu membuat ayah panic. Aku… aku merasa payah. Baekhyun, aku tahu hanya kau yang bisa membawanya kembali. Hanya kau yang bisa. Kau tahu betul betapa cerobohnya anak itu jika diluar pengawasan kami. Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padanya? Kita tidak ingin kehilangannya, bukan? Demi Tuhan, Baek. Aku mohon."
Baekhyun mendadak bungkam. Rentetan kalimat tadi seolah mengejeknya, menertawakannya. Mengejeknya kalau ia bukanlah siapa-siapa yang tidak pantas membantu keluarga Park mencari anak bungsunya. Menertawakannya seolah ia telah melakukan hal hina hingga membuat keluarga yang terhormat itu kesusahan karena ulahnya. Baekhyun mengusap wajahnya lemah. Kemudian menangis lagi. Ia lelah dengan semua ini. Ia lelah dengan hidupnya. Ia terus merutuki kebodohannya dalam hati sambil berderaian air mata. Perasaan bersalah sekaligus menyesal dengan sempurna menyelimuti hati kecilnya. Chanyeol… sesakit itukah dia hingga melibatkan emosi separah itu?
Baekhyun menyerah. Ia akhirnya membiarkan akal dan batinnya berdamai kemudian membiarkan keduanya menyepakati kalau disini Baekhyun dan Chanyeol memang sama-sama tersakiti.
.
.
Bagaimana kabarmu, Chan?
/yawning/
segini udah panjang belum kak? '3'
kalo belum, ya... sorry T-T
gimana gimana? jelek kah? kepanjangan kah? gadapet feel kah?
i want to know how's ur reaction chingu!
semua ide, kritik, saran, masukan, komentar akan saya terima dengan senang hati :D
so... mind to review?
