ONE DAY AT HORRORLAND
Diambil dari Serial Goosebumps
by R.L. STINE
Kuminosuki's Talk:
Pernah membaca serial Goosebumps karya R.L Stine?
Pasti donk!
Ini adalah cerita dari salah satu serial Goosebumps dengan judul yang sama, dan yang pasti seluruh pemeran yang terlibat telah diganti dan mungkin—atau mungkin juga tidak—akan ada sedikit perbedaan penulisan, namun tetap merujuk pada buku aslinya.
Bagi yang belum pernah membaca serial Goosebumps, tidak ada salahnya untuk mencoba serial horror tersebut, karena setiap petualangan yang tertulis disana benar-benar akan membuatmu…
Ber-GOOSEBUMPS-ria!
Warning:
Cerita ini adalah karya R.L. Stine walau dikemas dengan penceritaan yang berbeda. Ada beberapa perubahan atau penambahan dalam cerita untuk penyesuaian.
Bacalah cerita ini 30 centimeter dari layar Anda dan disarankan untuk membaca di ruangan yang terang.
Terima kasih dan Selamat membaca.
-Kuminosuki-
CHAPTER 02
SELAMAT DATANG DAN SELAMAT MENIKMATI
.
.
.
Changmin membuka mulut, hendak berteriak, namun tidak ada suara yang keluar. Monster itu melotot padanya dari atas atap mobil. Setinggi bangunan kira-kira, mata merahnya berkilat jahat dan mulutnya menyeringai lapar.
"Hy-hyung!" akhirnya Changmin bisa bersuara. Yunho sedang menunduk, mengotak-atik ponsel mahalnya.
"Wow!" Changmin mendengar Junsu berteriak. Kepala maknae TVXQ itu kembali masuk ke dalam mobil dan melihat Junsu yang juga sama-sama telah menatap sang monster. Matanya melotot memandangi monster itu.
"Yunho hyung! Jae Hyung!" jantung Changmin berdebar-debar kencang, dadanya seperti mau pecah sangking kagetnya.
"Changmin, ada apa, sih?" Tanya Jaejoong tidak sabaran.
Monster itu merundukkan kepalanya di atas mobil mereka. Mulutnya terbuka lebar, siap menelan mobil mereka bulat-bulat.
Junsu mulai tertawa, "Wow! Daebak!" teriaknya.
Dan pada saat yang bersamaan, mereka sadar jika monster itu tidak sungguh-sungguh hidup. Itu Cuma mesin, bagian dari papan iklan raksasa.
Changmin kembali menjulurkan kepalanya keluar agar bisa melihat lebih jelas. Ternyata Yunho tadi menepikan mobilnya di samping papan iklan itu. Yunho asik berdebat dengan Jaejoong soal peta sampai tidak melihatnya. Changmin kembali memandangi monster bermata merah itu. Di rundukkannya kepalanya dan dibukanya moncongnya. Lalu moncong itu tertutup, dan kepala yang sangat besar itu naik lagi.
"Mirip sekali dengan monster betulan!" seru Yoochun sambil memandanginya.
"Tapi aku tidak tertipu!" bohong Changmin. Maknae itu tidak mau mengakui bahwa tadi dia nyaris terlompat keluar melalui jendela mobil. Lagipula, dia yang paling terkenal evil di antara yang lain.
Changmin mendengus kecil mengingat itu, dia lalu kembali menatap papan iklan itu dan membaca tulisan yang tertulis di sana. Iklan itu tertulis dengan huruf-huruf merah besar, bunyinya: SELAMAT DATANG DI HORRORLAND DIMANA MIMPI BURUK JADI KENYATAAN!
Di sebelah kiri atas ada panah merah tua, tulisannya: 1,5 KILOMETER.
"Kita ke sana, ya?" desak Junsu penuh semangat. Ia membungkuk ke depan dan mencengkram punggung kursi Jaejoong dengan kedua tangannya. "Bisa ya, Hyung? Bagaimana?"
"Kelihatannya menakutkan, Su-ie." Kata Yoochun pelan.
Yunho membanting ponselnya ke dashboard sambil menghela nafas. Ia menyerah, tidak mau lagi melihat peta.
"Junsu, jangan menarik-narik kursi Jaejoong." Bentaknya. "Duduk."
"Kita ke HorrorLand ya?" desak Junsu lagi.
"HorrorLand? HorrorLand apa?" Tanya Jaejoong.
"Tidak pernah dengar." Gumam Yunho.
"Hanya satu setengah kilometer dari sini." Rengek Junsu. "Kelihatannya asik!"
Monster itu merundukkan kepalanya ke atas mobil sambil melotot. Lalu diangkatnya lagi kepalanya.
"Kurasa tidak." Kata Jaejoong sambil memandangi papan iklan raksasa itu.. "Zoo Gardens taman yang indah sekali. Kelihatannya HorrorLand tidak terlalu bagus."
"Kelihatannya hebat!" kata Junsu ngotot, kali ini dia beralih menarik-narik bagian belakang kursi Yunho. "Kelihatannya sangat mengasyikkan!"
"Junsu—duduk." Kata Yunho.
"Ayolah." Sahut Changmin. "Kita tidak akan menemukan Zoo Gardens."
Jaejoong ragu, digigit-gigitnya bibir bawahnya. "Entahlah." Katanya kesal. "Tempat-tempat seperti ini ada yang tidak aman."
"Pasti aman!" seru Junsu. "Pasti aman sekali!"
"Junsu—duduk!" geram Yunho.
"Bisa, ya?" desak Junsu, tidak dipedulikannya perkataan Yunho. "Bisa, ya?"
"Em, mungkin mengasyikkan." Kata Yoochun pelan.
"Ayo kita coba saja." Kata Changmin. "Kalau tidak suka kan bisa kita tinggalkan."
Yunho menggaruk-garuk dagunya. Ia menghela nafas. "Yah, kurasa memang lebih baik daripada duduk bertengkar seharian di tempat tidak jelas ini."
"YEAAAAHHH!" jerit Junsu dengan suaranya yang nyaring.
Junsu dan Changmin bertepuk tangan tinggi-tinggi di atas kepala Yoochun. Sepertinya HorrorLand kedengaran asyik juga. Dan Junsu mau pun Changmin suka sekali permainan-permainan menakutkan.
"Kalau permainan-permainannya sama mengerikannya dengan monster itu," kata Changmin sambil menunjuk papan iklan, "taman hiburan ini pasti hebat!"
"Menurutmu tidak 'terlalu' menakutkan, kan?" Tanya Yoochun. Terlihat tangannya mengepal di atas pangkuannya dan wajahnya tampak ketakutan lagi.
"Tidak, tidak akan 'terlalu' menakutkan," jawab Changmin.
Ya, seandainya saja Changmin tahu jika jawabannya itu salah.
.
.
.
.
.
"Aku tidak percaya ada orang yang mau membangun taman hiburan di alam liar begini." Kata Yunho.
Mereka sedang melalui daerah yang tampak seperti hutan tanpa batas. Pepohonan tinggi dan bisa dipastikan tua memagar sisi-sisi dari jalan dua jalur itu, matahari pagi jadi hampir tidak kelihatan. Dan sekali lagi pikiran yang sama terbersit di otak kelima pemuda itu.
Korea bagian mana ini?
"Mungkin mereka belum membangun tamannya," kata Jaejoong. "Mungkin mereka akan menebangi pepohonan ini dan membangun tamannya disini."
Changmin, Yoochun dan juga Junsu yang duduk di bangku belakang berharap apa yang dikatakan oleh Hyung tertua mereka itu salah, dan yah, memang pemuda androgini itu salah. Jalanan berbelok tajam. Dan setelah belokan, mereka melihat ada gerbang tinggi menuju taman tepat di depan mereka. Di balik pagar tinggi berwarna ungu tersebut, tampak HorrorLand terhampar seluas berkilo-kilometer. Changmin mencondongkan badannya ke depan dan melihat puncak-puncak tempat permainan dan bangunan-bangunan aneh berwarna-warni. Ketika mereka melintasi pelataran parkir yang luas, terdengar suara organ yang menyeramkan sekali.
"YEAAAAH! Ini pasti asyik!" seru Junsu.
Changmin dan Yoochun mengangguk menyetujui. Ketiga orang yang duduk di bangku belakang itu sudah tidak sabar ingin cepat-cepat keluar dari mobil dan melihat semua permainan yang ada di sana.
"Wah, tempat parkirnya nyaris kosong." Kata Yunho sambil gelisah melirik Jaejoong.
"Artinya kita tidak perlu mengantri lama!" seru Changmin dengan semangat.
"Aku rasa Changmin senang dengan tempat ini." Kata Jaejoong sambil tersenyum.
"Aku juga, hyung!" teriak Junsu. Dengan semangat ditinjunya bahu Yoochun. Junsu selalu harus meninju atau mencubit orang lain, tapi dia tidak akan pernah berani melakukannya kepada Yunho atau pun Jaejoong.
Mereka melintasi tempat parkir yang luas, bisa mereka lihat beberapa mobil diparkir di dekat gerbang depan. Di ujung tempat parkir sana ada sederet bus berwarna ungu dengan tulisan HorrorLand di bagian sampingnya. Ketika mereka mendekat, gerbang pun semakin terlihat jelas. Monster yang sebelumnya mereka lihat di papan iklan di jalan sana, kini ada lagi, berada di balik papan iklan lain berwarna ungu-hijau di atas gerbang. Papan tanda itu bertuliskan: HOROR HORRORLAND MENGUCAPKAN SELAMAT DATANG DI HORRORLAND.
"Aku sedikit tidak paham dengan tulisan itu." Ujar Jaejoong. "Apa itu Horor HorrorLand?"
"Kita cari tahu Hyung!" seru Changmin girang.
Suara organ yang menyeramkan kembali terdengar di parkiran. Yunho membelokkan mobil ke tempat kosong di sebelah kanan gerbang depan. Setelah mobil berhenti, Changmin, Junsu dan Yoochun segera keluar dan berlari ke depan gerbang dengan semangat.
"Ayo!" seru mereka hampir bersamaan.
Decak kagum keluar dari mulut ketiga orang itu. Monster yang ada di papan tanda di gerbang itu tidak bergerak seperti di papan iklan di jalan sebelumnya, namun yang ini tampak lebih asli.
Changmin menoleh kepada Yunho dan Jaejoong yang baru saja menyusul mereka. Jaejoong membawa keranjang piknik yang cukup besar, bisa ditebak jika isi dari keranjang itu adalah makanan, sedangkan Yunho membawa ransel yang berisi barang-barang penting mereka.
"Ini pasti asyik sekali!" seru Changmin.
Yunho dan Jaejoong hanya bisa tersenyum melihat tingkah ketiga adik mereka itu. Yunho menoleh pada Jaejoong.
"Aku harap petugas disini mau memberitahu kita dimana letak pompa bensin, dan semoga saja tidak terlalu jauh. Aku harus mengisi tangki mobil." Katanya.
"Ya, semoga saja ada."
DHUAAAAARRR!
Kelima orang yang baru sampai di depan gerbang taman hiburan itu tersentak kaget saat terdengar suara ledakan yang cukup memekakkan telinga hingga menggetarkan tanah yang mereka pijak. Kelimanya membelalakkan mata, ketakutan, melihat mobil mereka yang tiba-tiba meledak dan pecah berkeping-keping.
.
.
.
.
.
.
.
Kelimanya masih terpaku di tempat mereka masing-masing. Mata mereka masih membelalak lebar melihat kobaran api dan serpihan dari kendaraan yang beberapa detik lalu masih menemani perjalanan mereka.
"Ba-bagaimana…?" gumam Yunho.
"Ya Tuhan…. Aku tidak percaya ini…" Jaejoong pun sampai lemas melihatnya. Changmin , Junsu dan Yoochun belum mengeluarkan suara mereka sedikitpun.
Ya ampun, jika dipikir-pikir, bisa saja mereka masih duduk nyaman di dalam mobil itu dan beberapa detik kemudian potongan tubuh mereka sudah berpencar kemana-mana. Memikirkan itu membuat mereka merinding.
"Mobilku!" bisik Yunho tertahan. "Mobilku… bagaimana? Kenapa bisa?"
"Ya Tuhan, syukurlah kita semua selamat!" pekik Jaejoong. "Ledakan itu mengerikan sekali. Suaranya masih terngiang di telingaku."
"A-aku harus menelpon polisi!" seru Yunho. Tangannya beralih membuka ransel yang dia bawa dan mengambil ponselnya, namun sedetik kemudian keningnya mengeryit bingung.
"Hah? Tidak ada sinyal? Bagaimana bisa?" kata Yunho.
Jaejoong membelalak, ketiga dongsaeng mereka—Changmin, Junsu dan Yoochun ikut mendekat dan melihat ponsel Yunho. Tak lama, yang lain pun ikut mengecek ponsel mereka masing-masing dan hasilnya sama.
Tidak ada sinyal.
"Sial! Aku harus mencari telepon sekarang juga!" Yunho segera berlari menuju gerbang, sambil bergumam-gumam sendiri.
Jaejoong menyusul, "Bagaimana bisa mobil itu meledak begitu saja, Yun?" Tanya Jaejoong. "Apa penyebabnya?"
"Aku tidak tahu, Joongie. Aku tidak mengerti! Benar-benar tidak mengerti! Dan yang pasti sekarang kita harus menghubungi polisi." Kata Yunho sedikit panic.
Changmin, Junsu dan Yoochun saling pandang dan tak lama mereka pun ikut menyusul Yunho dan Jaejoong. Mereka berlari menuju tempat penjualan tiket di pintu masuk. Ada monster hijau berdiri di dalamnya. Mata monster itu menonjol dan berwarna kuning, di kepalanya melingkar tanduk berwarna hitam. Kostum yang menyeramkan dan tampak hebat sekaligus.
"Selamat datang di HorrorLand." Kata monster itu dengan suara berat dan parau. Terdengar suara keras organ dari dalam tempat pemesanan tiket itu. "Saya Horor HorrorLand. Saya dan semua Horor di sini berharap hari ini Anda mengalami hari yang mengerikan."
Yunho menggeram, "Mobil saya!" nada bicaranya meninggi. "Mobil saya meledak dan saya butuh telepon sekarang juga!"
"Maaf, Tuan. Tidak ada telepon di sini." Jawab orang yang mengenakan kostum monster itu.
"Hah?" wajah Yunho kembali merah padam. Lehernya berkeringat. "Tapi saya perlu telepon! Sekarang juga!" Yunho memelototkan matanya pada monster itu. "Mobil ku meledak dan kami tidak bisa kemana-mana!"
"Kami akan mengurus Anda." Jawab si monster sambil memelankan suaranya, seperti berbisik.
"Kau apa?" teriak Yunho. "Kami perlu mobil dan telepon! Apa kau tidak mengerti?"
"Tidak ada telepon." Ulang monster itu lagi. "Tapi tolong, Tuan. Izinkan kami mengurus Anda. Saya berjanji kami akan mengurus segalanya. Jangan biarkan hal ini mengacaukan kunjungan Anda ke HorrorLand."
"Mengacaukan kunjungan?" teriak Yunho lagi. "Tapi mobil saya…"
Suara keras organ membuat Yunho dan keempat lainnya terlonjak. Suara mengerikan itu benar-benar membuat mereka seperti ada di film horror. Suara yang sangat menakutkan.
"Kami akan mengurus Anda. Saya berjanji." Kata si Horor. Ia tersenyum aneh. Matanya yang berwarna kuning itu berkilat-kilat. "Nikmatilah kunjungan Anda, dan jangan pikirkan masalah transportasi. Saya dan horor-horor lain akan memastikan kenyamanan Anda."
"Tap—tapi…tapi…" Yunho terbata-bata.
Monster itu lalu menunjuk ke arah taman hiburan. "Silahkan masuk sebagai tamu kami. Gratis. Saya minta maaf atas kejadian yang menimpa mobil Anda. Saya berjanji Anda tidak perlu lagi mengkhawatirkan mobil Anda."
Yunho berbalik, menatap kekasih dan dongsaengnya, bisa dilihat kerutan ragu dan kesal dari wajahnya.
"Aku tidak bisa menikmati taman hiburan sekarang," katanya. "Aku tidak percaya hal ini terjadi. Betul-betul tidak bisa. Bagaimana pun kita harus mendapatkan mobil dan…"
"Yah, Hyung!" jerit Junsu. "Please! Kita masuk ke dalam saja, ya? Horor itu bilang dia akan mengurus kita."
"Sebentaaaaarrr saja, Appa…" Changmin pun ikut memelas dihadapan Yunho.
Yunho menoleh pada Jaejoong, menatap pemuda androgini itu untuk mengatakan pendapatnya.
"Kita sudah berjalan jauh." Kata Jaejoong pada Yunho. "Ayo masuk sebentar. Biarkan mereka bermain-main."
Yunho menimbang-nimbang, dahinya berkerut. "Baiklah, tapi hanya sebentar saja." Katanya pada akhirnya.
Suara organ yang menyeramkan itu kembali terdengar ketika mereka melewati gerbang.
"Wow! Lihat tempat ini!" teriak Changmin kagum. "Benar-benar seperti di dalam film horror!"
Mereka melewati jalan berbatu berwarna coklat, di sisi kiri dan kanan mereka berdiri pondok-pondok gelap dengan bentuk yang aneh. Pohon-pohon tinggi di sepanjang jalan nyaris menyembunyikan sinar matahari, udara disana pun cukup dingin.
Lolongan pelan terdengar dari jauh, seperti lolongan serigala. Tak jauh dari mereka, ada papan petunjuk bertuliskan: SELAMAT DATANG DI DESA MANUSIA SERIGALA. JANGAN BERI MAKAN MANUSIA-MANUSIA SERIGALANYA. KALAU BISA.
Changmin dan Junsu tertawa saat membaca tulisan di papan itu. Lolongan mengerikan itu terdengar lagi. Jaejoong merapatkan tubuhnya kepada Yunho, sedangkan Changmin, Junsu dan Yoochun berjalan dua langkah di depan.
Beberapa horror menatap mereka dari balik gelapnya pondok di seberang jalan, Changmin bisa melihatnya dengan jelas. Dan ada horror lain yang berlalu melewati mereka sambil membawa kepala manusia yang nampak sangat mirip dengan kepala asli. Kepala itu di cengkram, helaian rambut pirang dari kepala itu tampak kusut dan si horror memain-mainkan kepala itu seperti bola. Yoochun merinding karenanya.
"Hebat!" seru Junsu.
Mereka terus berjalan. Suara sepatu mahal mereka memantul di dinding pondok-pondok.
"Hwah!" anggota TVXQ dan JYJ itu memekik terkejut ketika seekor serigala dengan bulu kelabu yang panjang belari di depan mereka. Serigala itu kemudian menghilang di samping sebuah pondok sebelum semuanya sempat melihat dengan jelas.
"Apa yang tadi itu serigala sungguhan?" Yoochun bertanya, suaranya bergetar.
"Tentu saja tidak." Kata Changmin. "Mungkin saja itu anjing atau…ya…mesin."
"Ya, mereka sangat menjaga kebersihan tempat ini." Kata Jaejoong, berusaha terdengar riang. "Sama sekali tidak ada sampah atau kotoran. Tentu saja, taman ini tidak banyak pengunjungnya."
Yunho merangkul pinggang Jaejoong, menariknya mendekat. "Aku harus menemukan telepon. Aku tidak bisa menikmati taman ini sampai aku tahu kita punya cara untuk pulang."
"Tapi, Yun…"
"Pasti ada telepon di sekitar sini," potong Yunho. "Kalian pergi saja, teruskanlah tanpa aku."
"Tidak. Aku ikut denganmu." Kata Jaejoong. "Kau kacau sekali. Kau memelukan aku untuk mencari telepon. Mereka pun pasti lebih senang kalau kita tidak ikut."
"Meninggalkan mereka?" pekik Yunho. "Maksudmu, biarkan mereka meneruskan perjalanan sendiri?"
"Tentu." Kata Jaejoong sambil menyentuh pelan telapak tangan Yunho yang merangkul pinggangnya. "Mereka pasti tidak apa-apa. Mereka sudah dewasa, dan lagi pula tempat ini kelihatannya aman. Apa sih yang bisa terjadi?"
Apa yang bisa terjadi?
Setelah berkata seperti itu, Yunho dan Jaejoong pun bergegas mencari telepon, sedangkan Chagmin, Junsu dan Yoochun dibiarkan meneruskan petualangan mereka sendiri.
"Kita bertemu lagi di sini, okey!" seru Jaejoong pada Changmin, Junsu dan Yoochun yang hanya bisa diam dan menatap kepergian kedua hyung mereka yang dalam sekejap sudah tak terlihat mata.
Mereka tiba-tiba merasa sendirian. Dan saat mereka memutuskan untuk pergi, mereka hanya bisa tertegun, saat seekor serigala kelabu keluar dari samping pondok. Kepalanya merunduk dan geraman mengerikan keluar dari mulutnya yang bergigi tajam. Changmin, Junsu dan Yoochun berdiri kaku ketika menyadari mata serigala itu tertuju kepada mereka, nampak lapar dan buas.
.
.
.
.
.
.
TBC-SAMPAI JUMPA DI CHAPTER DEPAN…
