Dadaku terasa sakit dan sekuat tenaga aku menahan pekikan tangisku keluar dari mulutku. Menekan mulutku kuat-kuat dengan kedua telapak tanganku agar tak ada isakan yang lolos dari tenggorokanku. Mataku masih membelalak melihatnya dan air mataku keluar dengan deras. Hidungku tersumbat dan aku kesulitan bernafas tanpa menimbulkan suara. Telapak kakiku dingin dan tubuhku bergetar menahan tangis.

Aku merasakan sakit di beberapa bagian tubuhku, dan sayangnya,

aku tak cukup bodoh untuk tahu apa yang telah terjadi padaku.

.

.

.

.

kenapa?...

ini terjadi padaku?

000

Aku hampir memekik ketika tiba-tiba Chanyeol mengeratkan pelukannya, membuatku lebih dekat padanya yang masih tertidur. Matanya terpejam dan rambut hitamnya membingkai wajahnya yang tampak damai.

Kontras denganku yang saat ini menggigil ketakutan, dan terus berdoa agar dia kembali tertidur dengan pulas.

Bau alkohol menguar dari mulutnya.

Aku tidak ingin berhadapan dengannya ketika ia terbangun. Aku tidak akan sanggup. Aku terus merapal doa dalam tangis diamku. Menangisi segala apa yang telah terjadi diantara kami. Menyesal mengapa dengan bodohnya aku memutuskan meminum soju setelah patah hati dan berakhir dengan pria ini.

Seumur hidupku, tidak pernah aku membayangkan hal seperti ini menimpaku.

Dadaku sakit dan sesak, kepalaku begitu pening dan berdenyut-denyut, ujung jari-jari tanganku sakit seolah ribuan jarum kecil tengah menancap disana. Tubuhku remuk redam, hingga aku tak bisa membedakan mana yang lebih sakit.

Air mataku tumpah tak terbendung.

Tangan ku yang masih gemetar ku arahkan pada lengannya yang melingkar dipinggangku, memindahkannya pelan-pelan dengan mataku yang mengawasi wajahnya, sambil berdoa agar dia tetap tidur. Memundurkan tubuhku untuk membuat jarak dengannya, seketika aku meringis merasakan sakit pada pinggangku. Aku menggigit bibirku menahan rintihanku. Membangkitkan tubuhku dengan kedua lenganku menahan kasur, mataku masih mengawasinya. Aku berusaha menggerakkan kakiku yang mati rasa satu persatu menuruni ranjang, meringis ketika gerakannya membangkitkan rasa sakit di bagian bawahku.

Aku menahan sakit sambil mengambil sweaterku yang tergeletak di bawah ranjang, memakainya dengan tergesa-gesa, sesekali aku meliriknya megawasinya. Aku kembali berusaha berdiri dan memunguti pakaianku yang tercecer, hampir terjatuh saat kaki ku yang mati rasa menolak untuk digerakkan. Terseok menuju pintu kamar, meliriknya sekilas untuk memastikan dia masih tertidur, aku membuka engsel pintunya pelan-pelan agar tidak bersuara lalu menyelinap keluar.

Aku langsung menghembuskan nafas yang sedari tadi ku tahan begitu keluar dari kamarnya. Kaki ku yang telanjang langsung diterpa angin dan air mataku kembali keluar.

Lorong asrama gelap dan sepi. Aku kembali menyeret langkahku dengan tangan bersandar pada tembok, terseok menuju kamarku yang berjarak lima pintu dari kamar Chanyeol.

Aku harus bersandar pada pintu kamarku saat berusaha membukanya, tubuhku remuk redam. Aku memasukinya dan begitu aku menutup pintunya, tubuhku langsung merosot jatuh terduduk disana.

Sungyeol belum pulang, air mataku tak terbendung dan aku menangis lagi, kali ini aku tak menahannya, aku terisak dengan keras dan menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku.

.

.

.

000

Aku memandang wajahku yang murung di dalam cermin besar yang tergantung di kamar kami. Sungjong pulang pukul 6 pagi, dia begitu terkejut melihat wajahku yang bengkak dan langsung melepaskan oleh-oleh yang di bawanya untuk menangkupkan kedua tangannya pada wajahku. Dia langsung merasa bersalah telah meninggalkan ku dan langsung memelukku. Dia mengira aku menangis lagi karena Shinhye. Aku membiarkannya dengan ikut memeluknya. Aku tak bisa menceritakkannya pada Sungyeol.

Aku beruntung Chanyeol tidak meninggalkan bekas di sekitar leher dan selangkaku, tapi tidak demikian dengan apa yang ada di balik kemeja seragam ku yang longgar. Aku melirik pahaku yang masih telanjang dan menemukan satu dua bekas merah disana, aku akan menamukan lebih banyak lagi jika menyingkap ujung kemejaku sampai batas pinggul.

Aku melirik tubuhku yang tampak tenggelam dalam seragam peninggalan Baekboom untukku. Semua orang cukup heran kenapa aku bertubuh kecil, tidak seperti Baekboom yang bertubuh tinggi, padahal kami saudara kandung. Seragam yang ku pakai adalah seragam Baekbeom yang dulu kekecilan di tubuhnya, dan dia tidak menyangka seragam itu masih terlalu besar untukku. Dia mengatakan seregam itu akan pas di tubuhku saat aku semakin tumbuh besar. Nyatanya, ini sudah dua tahun aku memakai seragam ini, dan pertumbuhan ku tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Sungjong keluar dari kamar mandi dan aku segera memakai celana yang pas untuk kaki ku. Kami terpaksa membeli celana baru karena celana Baekbeom terlalu besar dan akan melorot kalau ku pakai. Aku memasukkan ujung kemejaku ke dalam celana, takut Sungjong akan menemukan bercak merah di paha ku. Saat dia mengeringkan rambutnya, aku menggulung ujung lengan kemejaku sampai pergelangan tangan dan memakai dasi sekolahku yang berwarna merah marun.

Aku menyambar jas dan tas ku, mengatakan pada Sungjong akan berangkat duluan karena jadwal piketku, aku keluar setelah melihatnya mengaggukkan kepala.

.

.

.

Apa yang telah ku lakukan dengan Chanyeol adalah sebuah kesalahan.

Bagimanapun, aku telah memutuskan untuk melupaannya. Menganggap Chanyeol tak pernah ada dalam bagian hidup ku.

Sekalipun kami sering berpapasan kala lorong telah ramai atau kala riuh suara sendok berdenting di seluruh bagian kantin.

Baik aku maupun Chanyeol memilih untuk mengabaikan keberadaan satu sama lain, seperti biasanya. Seperti sebelum kami menghabiskan malam bersama.

.

.

Dalam hati kadang aku bertanya pada diriku sendiri.

Apakah dia melupakannya?

Apakah dia benar-benar tak memperdulikan hal itu?

Sekalipun aku laki-laki dan tidak akan hamil karena perbuatannya, tidakkah sebaiknya dia minta maaf?

Aku tahu dia penyendiri. Aku tahu dia mengabaikan banyak orang. Tapi entah mengapa ini terasa tak adil bagiku. Aku tak ingin bertemu dengannya tapi tidakkah harusnya dia mencoba untuk berbicara pada ku?

Atau

Apakah dia tahu aku ada?

.

.

.

Ah,

harusnya aku segera sadar.

Aku tak berarti apapun baginya.

.

.

.

Benar kan?

.

.

.

Ooo

Kepala ku pening sekali.

Entah mengapa tadi malam aku tak bisa tidur nyenyak, aku merasa tak nyaman dengan tubuhku. Aku baru bisa tidur jam 3 pagi. Ugh.

Aku melirik kasur Sungjong yang telah kosong dan mendengar percikan air di kamar mandi melambat. Sepertinya dia hampir selesai mandi. Aku memutuskan bagun perlahan dengan dua tanganku yang menyangga tubuhku, tapi kemudian tiba-tiba aku merasa ingin muntah, tubuhku tersentak kecil.

"Huhg" segera kututup mulutku dengan tangan, dan berlari kearah Sungjong yang baru keluar, aku sedikit menabraknya ketika melewatinya dan langsung membuka closet.

"HHOEK" aku memuntahkannya tapi itu segera datang lagi

"HOEK" perutku terasa mual dan tubuhku terasa sangat lemas, jari-jariku bergetar dan aku tidak bisa menahan ketika gejolak itu datang lagi, membuatku memuntahkan isi perutku lagi, tubuhku mendingin dan itu membuatku merinding, air mataku keluar ketika aku merasa tak memiliki jeda untuk bernafas.

Sungjong memijat tengkukku dan bertanya, tapi aku tak bisa menjawabnya karena aku terus saja muntah.

Itu berlangsung selama sekitar 5 menit dan aku berakhir di kasurku dengan obat dari Sungjong setelahnya.

Kepalaku pusing sekali. Dunia menjadi berputar jika aku mencoba bangun, jadi aku mencoba tidur.

Siang hari ketika aku bangun pusing di kepalaku sudah berkurang, dan itu memudahkanku bergerak menuju kantin dormitory dengan jaket tebal dan wajah pucat sore harinya. Mengundang teman-temanku menyentuh keningku satu persatu, aku bilang aku sudah baikan dan mereka memanjakan ku kemudian. Kkk

Tapi setelah itu malam berulang dan pagiku sama dengan pagi sebelumnya. Membuat Sungjong benar-benar khawatir dan berniat mengantarkanku ke dokter. Jadi aku bilang ini cuma tukak lambungku yang kambuh, ia berakhir memarahiku kemudian, mengatakan kenapa aku sulit sekali makan dan lihat apa akibatnya. Ia pergi setelah memberiku wejangan selama 10menit, dan setelah aku mengatakan akan meminum obat tukak lambungku dengan teratur.

Aku berharap pagi hariku yang selanjutnya akan berjalan dengan baik setelah meminum obatku, tapi ternyata tidak, dan itu benar-benar membuat Sungjong kelabakan. Aku tetap muntah bahkan sekarang di ikuti dengan cairan berwarna kuning. Aku kehilangan selera makan ku dan aku langsung muntah jika menciun bau makanan yang tak kuinginkan. Jadi di saat malam aku bilang aku ingin makan bibimbbap, Sungjong langsung mencarikannya untukku agar aku mau tetap makan dan tak kehilangan berat badan. Aku benar-benar berterima kasih pada Sungjong saat dia datang dengan bibimbbap di tangannya, baunya menggoda hidungku dan aku langsung makan dengan lahap, dia langsung bernafas lega begitu aku tidak memuntahkan makananku.

Aku telah menghubungi orang tua ku dan bilang akan segera pergi ke dokter sehingga mereka tak perlu menjengukku kemari, dan itu juga menenangkan Sungjong yang dari kemarin ingin menyeretku pergi ke dokter.

Keesokan harinya setelah aku memaksa Sungjong tak perlu menemaniku, aku pergi dengan sweater tebal dan coat panjang ke tempat praktek dokter dengan naik bis.

Dokter wanita itu bernama Jieun dan dia mengernyit saat menghitung detak jantungku di pergelangan tanganku. Saat ia memeriksa perutku dengan menekankan tangannya disana dia kembali mengernyit. Dia memandangku ragu seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu dalam pikirannya.

Setelah beberapa saat dia memejamkan mata, dia bergerak dan mengambilkan sesuatu untukku.

Ia memberiku test pack.

Aku mengernyit heran.

Aku tahu itu test pack karena aku pernah membelikannya untuk kakak iparku.

Sekalipun aku bingung, aku tetap melakukan apa yang disuruhnya.

Di dalam kamar mandi kecil itu aku membelalakkan mata ketika tahu hasilnya positif.

Tubuhku merinding.

Aku langsung mancari tahu tentang itu lewat ponsel.

Kanker prostat.

.

Haha

.

Hei.

Aku masih 17 tahun.

.

.

Ini tidak lucu.

Tanganku bergetar memegang test pack.

Seberapa parah?

.

.

Aku memberikan test pack ku pada dokter wanita itu dan dia menatapku kemudian.

"Apakah sudah cukup parah?" Aku bertanya padanya, dan dia mengernyit heran

"Itu kanker prostat kan?" Aku bertanya lagi "tadi saya sempat mencari tahu" terangku kemudian.

Dia menatapku lama "kita masih belum bisa menentukan itu" dia tersenyum tipis.

Uh

Okay

Jadi ini kabar bagus atau bukan?

"Baekhyun-ssi saya pikir kita membutuhkan test lanjutan untukmu, tapi saya tidak memiliki alatnya disini" terangnya. "Kalau tidak keberatan, saya ingin mengajak anda ke rumah sakit universitas seoul hari ini"

Tentu dia tak keberatan, tapi "hari ini?"

"Ya, semakin cepat semakin baik"

Pada akhirnya aku diminta menunggu sampai dia selesai. Entah mengapa aku pikir ia agak tergesa-gesa. Hari sudah cukup sore ketika ia menyuruhku duduk di kursi depan di mobilnya. Dia cukup terlihat tenang, tapi jari-jarinya yang ramping mengetuk-ngetuk stir tak sabaran seolah dia ingin segera sampai.

Sesampainya kami di sana, ia mengajakku menemui dokter Zhang keruangannya di bagian kehamilan.

Membuatku mengernyit.

Aku membungkuk dan dia menampilkan senyumnya yang memiliki lesung pipi.

"Saya sudah mendengar tentang anda dari dokter Lee" dia menjulurkan tangannya

Oh, mereka sudah saling menghubungi?

"Ah, ya" aku menjabat tangannya.

"Mari ikut saya" dia menuju ruang yang dibatasi tirai putih-biru muda di pojok lain ruangan. Menyuruhku berbaring disana dan membuka perutku untuk mengoleskan gel bening yang terasa dingin di bagian bawah perutku. Ada alat besar dengan sebuah layar monitor yang menyala di sampingku dan dokter Zhang menyapukan alat sensor kecil ke perutku, membuat layar monitor menampilkan gambar hitam putih bergerak yang tak kumengerti.

Saat itu, aku melihat diamater mata dokter Zhang melebar meskipun mimik wajahnya terlihat tenang, tidak jauh berbeda dengan dokter Lee. Kemudian mereka saling memandang dalam diam, seolah berbagi perasaan yang sama.

Pada saat itu, kemudian mereka memberitahuku tentang sesuatu.

.

.

.

Air mataku keluar.

Dan aku merasa duniaku hancur.

.

.

.

Mereka bilang...

Sesuatu yang seperti itu memang dianggap mustahil,

Tapi bukan berarti tidak ada...

.

.

.

.

Aku...

.

.

.

.

.

tengah mengandung seorang anak

.

.

.

Ooo

Aku terisak keras di salah satu kubikel toilet di rumah sakit, tak memperdulikan apapun di luar sana. Aku menangis sejadi-jadinya, terduduk di lantai memeluk diriku sendiri. Aku tak memperdulikan seberapa keras aku menangis.

Ada beberapa orang yang mengkhawatirkan ku dengan menanyakan apakah aku baik-baik saja, tapi aku mengabaikan mereka.

Aku hanya ingin menangis

Tolong biarkan aku.

.

.

Aku menangis sangat lama.

Aku mengandung anakku,

.

.

.

.

.

.

Anak Chanyeol

.

.

.

.

.

.

.

.

Aku menangis sampai merasa lelah.

Aku masih terisak saat mencoba untuk berdiri membuka pintu kubikel, aku ingin memcuci wajahku di wastafel. Tapi kemudian dunia berputar dan kepalaku terasa sangat pening. Pandanganku memburam perlahan, dan tubuhku ambruk disertai teriakan seseorang.

Ooo

Aku membuka mataku dengan pening yang mendera dan wajah pucat ibuku di depanku.

"Ibu?"

Dia tersenyum dan mengecup keningku. Aku melihat ayah dan Baekbeom di ujung ranjangku.

"Kau sudah baik?" Tanya ibu, tapi aku menggeleng dan bangun dengan menutup mulutku merasa mual. Ibu langsung mengambil kantong plastik dan memberikannya padaku yang langsung membukanya dan muntah begitu saja. Ibu memijat leherku pelan.

"Ayah tadi menghubungimu, tapi yang mejawab dokter Zhang, jadi ibumu panik dan kami langsung kesini" kata ayah saat mual ku sedikit mereda.

Aku mengusap bibirku dangan tisu dan baru menyadari selang infus terpasang di lenganku.

"Maaf membuat kalian khawatir"

Mereka hanya diam dan tersenyum, kecuali kakakku.

"Kau ini menyusahkan, aku sekarang tahu tubuhmu bantet karena kau jarang makan"

seketika aku ingin melemparinya dengan botol. "Aku kadang curiga kau ini kakak ku atau bukan"

"Ssshhh... sudah-sudah" ibu melerai kami "ayah dan ibu membawakanmu stroberi"

"Ada pisang tidak?" Tanyaku spontan, aku ingin pisang.

Dan Mereka langsung terdiam.

"Kau mau pisang?" Tanya ibu

Ah, aku lupa

Aku tak pernah menyukai pisang.

"Akan kucarikan" kata kakakku yang kemudian langsung pergi.

Aku menyadari satu hal.

Mengidam.

Aku sedang mengidam.

Aku melihat ayah dan ibu ku saling memandang dalam diam, membuatku seketika menyadari sesuatu.

"Kalian mengetahuinya?"

mereka menoleh padaku, tapi mereka langsung memalingkan pandangan mereka dariku dengan kikuk.

Keterdiaman mereka memberiku banyak jawaban.

Selanjutnya,

Udara terasa berat di pundakku.

Dan ibu ku mencium puncak kepalaku.

Aku menangis lagi tanpa suara.

.

.

.

.

.

Hari itu,

Aku memutuskan untuk pergi.

.

.

tbc

buat ff lain saya mohon maaf karena saya pikir saya harus meluangkan lebih banyak waktu

terima kasih sudah membaca ^^