Promise Between Us
Disclaimer:
Vocaloid bukan milik saya. Tapi fic ini milik saya.
Rating: T
Genre: Romance, Tragedy, Hurt/Comfort.
Warning: Typo, OOC, alur kecepatan, death character pada akhirnya.
Note: Menerima flame yang wajar. Terima kasih bagi yang mau RnR~
Summary:
"Sebuah janji kecil yang mempersatukan kita. Akankah harapanku terkabul?"
A/N
Nah, Minna, gomenasai kalau aku update-nya mungkin lama dan ending di chapter ini ngegantung. Sesuai janji, ini chapter terakhir, oke? Khususnya maaf buat Arisu di twitter yang udah menunggu fic ini lama banget, tapi belum aku update. DX
Nah, enjoy~
Miku POV
Aku hanya membeku di tempat begitu Kaito-nii mengajakku untuk ngobrol-ngobrol dengannya dan juga pacarnya yang bernama Meiko.
"Kenapa, Miku? Ayo," ujar Kaito-nii sambil menarik tanganku. Aku pasrah saja ditarik olehnya ke ruang tamu. Di sana pacarnya Kaito-nii sudah menunggu dengan senyum manisnya. Kuakui ia lumayan cantik. Rambutnya yang berwarna cokelat itu cocok dengan pakaian yang ia kenakan, juga pstur tubuhnya. Pantas saja Kaito-nii menyukainya.
Sebisa mungkin aku menurut dan bergabung dengan mereka. Aku mati-matian berbaur. Mereka juga tampak mengajakku ngobrol dan mendukungku. Tapi aku merasa semua itu sia-sia. Aku tak bisa bergabung dengan mereka.
Selain itu, aku juga berusaha sebisa mungkin menahan air mataku yang sebentar lagi akan jatuh.
"Ano... Aku mau ambilkan minum dulu," ujarku sambil bangkit berdiri. Aku menatap ke arah lain, menyembunyikan air mata yang sudah menggenang di mataku.
"Tidak usah repot-repot," ujar Meiko-nee lembut. Aku memanggilnya begitu.
"Ara... Tidak apa-apa," jawabku tergagap. Aku berlari ke dapur sebelum Meiko-nee atau Kaito-nii membalas perkataanku. Sebelum aku masuk ke dapur, aku masih dapat mendengar Kaito-nii dan Meiko-nee yang berbicara pelan dengan nada heran. Mungkin heran akan sifatku.
Aku menutup pintu dapur perlahan kemudian duduk di baliknya. Aku menumpahkan semua air mata yang sudah kubendung selama ini.
Aku menekuk lutut dan menyembunyikan wajahku di antara dua lututku. Sambil menangis, aku berusaha mengatur napasku yang sudah tak beraturan ini.
Kenapa semua ini harus terjadi padaku? Kenapa? Apa aku harus terus seperti ini?
Aku mengelap air mataku pelan. Bisa kupastikan mataku bengkak dan seluruh wajahku merah. Napasku juga sudah tak beraturan. Aku bangkit dari dudukku sambil terus mengelap air mataku.
Akhirnya aku berjalan menuju meja untuk membuatkan minuman. Aku membuka kulkas dan mengambil sebuah botol besar berisi sirup yang berwarna merah. Aku menaruhnya pelan di meja.
Setelah itu aku mengambil tiga gelas berukuran sedang. Dengan hati-hati aku menuangkan sirup itu dari botolnya menuju gelas yang tadi kuambil. Aku terbatuk pelan. Sirup yang sedang kutuang tumpah sedikit. Tanpa memedulikannya, aku menuang air ke dalam gelas juga.
Akhirnya aku mengaduknya dengan sendok perlahan. Setelah itu aku menaruhnya di sebuah nampan dan membawanya keluar.
"Si-Silakan," ujarku berusaha agar tidak terlihat gugup. Aku menaruh nampan itu di meja. Bunyi benturan antara meja dan nampan pun terdengar agak nyaring.
Kaito-nii dan Meiko-nee mengambil minuman yang telah kusediakan. Mereka mencicipinya pelan. Sedangkan aku masih berdiri.
"Arigatou," kata mereka berdua. Aku hanya mengangguk sambil mencoba untuk tersenyum ikhlas. Tak lama kemudian aku terbatuk lagi.
"Daijoubu, Miku-chan?" tanya Meiko-nee cemas. Aku hanya mengangguk.
"Aku... Maaf, aku tak bisa bergabung dengan kalian dulu. Aku... agak sibuk," ujarku beralasan. Setelah itu aku meninggalkan mereka yang tak berkomentar apa pun. Aku masuk ke kamarku dan mengunci pintunya. Aku ingin sendiri.
Biarlah rasa sakit ini terus ada di dalam hatiku. Biarlah rasa ini terus menancap di hatiku. Yang perlu kulakukan adalah mendiamkannya. Dengan begitu, rasa sakit ini akan mati dengan sendirinya.
Kaito POV
Hari ini Miku agak aneh. Biasanya ia tidak seperti ini. Apa ada masalah? Kenapa dia tidak mau bercerita? Kenapa ia sangat gugup antara aku dan Meiko? Apa ia tidak suka dengan Meiko?
"Ada apa dengannya?" tanya Meiko.
"Apa?" Aku menoleh dan balas bertanya padanya. Meiko hanya mengangkat bahu tanpa menoleh padaku. Sepertinya aku mengerti apa yang dimaksud olehnya. Mungkin ia bingung dengan sikap Miku yang agak aneh. Berarti memang bukan aku yang merasakannya saja.
"Kaito, ada yang ingin kukatakan..." Meiko tiba-tiba berkata, membuatku kembali dari lamunanku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku pelan, mencoba agar aku tersadar sepenuhnya. Kemudian ketika aku menoleh ke arahnya, aku tertegun. Raut wajahnya sangat serius.
"Ada apa?" tanyaku padanya.
"Etto... itu..." Meiko berusaha mengatakannya. Ia menunduk pelan. "Tidak apa-apa," jawabnya. Aku menghela napas sebentar, kemudian menepuk-nepuk bahunya sambil tersenyum tipis.
Miku POV (Maaf pergantian POV terlalu cepat)
Aku tidak sanggup melihat mereka berduaan lagi di ruang tamu. Aku dapat melihat mereka yang sedang berbicara, tertawa, dan bahkan saling menunjukkan rasa sayang. Apa mereka tidak menyadari perasaanku? Khususnya Kaito-nii?
Namun aku dapat melihat ekspresi yang tidak jelas di raut wajah Meiko-nee. Ada apa yang terjadi?
Aku membuka pintu kamarku dan berjalan keluar kamar dengan langkah yang agak diseret.
"Miku-chan? Mau ke mana?" tanya Meiko-nee ketika aku membuka pintu rumah.
"Etto... Aku mau ke taman sebentar," jawabku dengan senyuman yang kupaksakan. Sebuah senyuman samar.
Meiko-nee hanya mengangguk, disusul anggukkan Kaito-nii. Aku bersyukur karena mereka tidak menanyai yang macam-macam lagi. Pasti sulit untukku membalas semuanya.
Aku menaiki sepedaku dan mengayuhnya dengan irama santai ke arah taman. Ketika sudah mencapai depan taman, aku melihat ada kedai es krim, tempat aku dan Kaito-nii bertemu lagi kemarin itu.
Kemarin rasanya indah melihat tempat itu dan mengenang semua memori yang ada di dalamnya. Sekarang? Rasanya sakit sekali.
Aku hampir saja ingin mengakhiri hidup ini, sebelum aku terbatuk pelan. Aku melihat ada bercak darah di telapak tangan kanan yang tadi kugunakan untuk menutup mulutku. Aku menghela napas.
Sudahlah, aku tidak perlu berpikir bagaimana caranya untuk mengakhiri hidup ini. Semua manusia juga akan meninggal dunia, tapi aku berbeda. Aku hanya menunggu hingga saat "itu" tiba.
.
.
Aku menduduki kursi yang ada di taman ditemani matahari yang bersinar sangat terik. Aku mengatur napasku yang tidak karuan akibat mengayuh sepeda cepat-cepat tadi.
Duduk dengan posisi santai memang membuat beberapa orang merasa nyaman, apalagi di hari yang panas ini. Khususnya tempat yang aku duduki ini berada di bawah pohon. Namun entah kenapa rasanya tenggorokanku gatal dan dadaku sesak, aku tidak dapat bernapas dengan baik.
"Miku...?" Aku mendengar namaku disebut oleh seseorang. Dengan cepat aku menoleh ke samping untuk melihat siapa yang berbaik hati mau memanggil namaku itu.
Namun sebelum aku menyadari siapa orang tersebut, tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Pendengaranku semakin tidak jelas dan pandanganku memudar. Hingga akhirnya sebelum aku jatuh ke tanah dan sempat mendengar orang itu berteriak memanggil namaku lagi dengan hiteris.
Normal POV
Miku terjatuh ke tanah sebelum orang yang meneriaki namanya, yang tak lain dari sahabatnya itu menangkapnya.
"Miku! Miku!" seru Gumi panik ketika ia sudah memangku kepala Miku yang kini tak bertenaga itu. Wajah Miku begitu pucat. Rambutnya terlihat berantakan dan tak karuan. Bibirnya pun memutih, seperti tak ada darah di dalamnya.
Gumi yang begitu panik tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Sampai seseorang tiba-tiba menghampirinya.
"Ada apa, Dik?" tanya orang itu sopan sekaligus kebingungan ketika melihat Gumi yang memangku kepala Miku dengan wajah yang bingung.
"A-Ah! To-Tolong saya. Sahabat saya..." Ucapan Gumi terhenti ketika orang itu secara tiba-tiba menggendong Miku ala bridal style dan membantunya berdiri.
"Aku mengerti. Ayo, kita ke rumah sakit," jawabnya.
.
.
Butuh waktu untuk Gumi agar bisa menyesuaikan dirinya di ruangan serba putih yang berbau obat-obatan itu. Jujur saja, ia merasa tidak enak berada di tempat tertutup yang menurutnya menyeramkan itu.
Gadis berambut hijau itu menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya lagi. Biar bagaimana pun, ia harus tetap menunggu di sini. Sahabatnya itu pasti akan bingung ketika sadar nanti.
"Dik, kalian sendirian?" tanya orang yang tadi membantu mereka. Gumi langsung berdiri dari duduknya begitu menyadari bahwa orang itu sudah berdiri di hadapannya.
"Um... Iya. Tadi aku melihatnya duduk di taman sendirian. Aku memanggilnya dan ia menoleh. Tapi tiba-tiba saja ia kehilangan kesadaran diri," jelas Gumi sesingkat mungkin.
"Souka... Oh ya, siapa nama kalian?" tanya orang itu lagi. Gumi merasa was-was untuk sejenak. Apa tidak masalah memberikan info pada orang yang baru saja dikenalnya? Meskipun orang ini orang yang membantunya, sih.
"Namaku... Gumi. Sahabatku itu Miku," jawab Gumi pendek. Orang itu mengangguk-angguk.
"Namaku Kiyoteru. Salam kenal," ujar orang yang ternyata bernama Kiyoteru itu sambil mengulurkan tangannya pada Gumi. Gumi menyambutnya dengan agak ragu, meskipun keraguannya itu sudah agak berkurang.
"Anda dokter?" tanya Gumi. Kiyoteru mengangguk.
"Sahabatmu sepertinya memiliki penyakit dari dalam tubuhnya sejak dulu. Apa dia tidak pernah memberitahukannya?" balas Kiyoteru. Kening Gumi mengerut ketika mendengar hal itu. Miku memiliki penyakit? Ia malah tidak pernah dengar hal itu.
Gumi menggeleng pelan sebagai jawaban. Kiyoteru hanya mengangguk tanda mengerti lalu bangun dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam kamar Miku, mungkin hendak memeriksanya lagi.
Gumi hanya menghela napas untuk menenangkan diri. Ia tidak pernah mendengar Miku bercerita bahwa ia memiliki penyakit. Apa Miku tidak tahu bahwa ada penyakit di dalam dirinya itu?
Begitu ada seorang perawat keluar dari dalam kamar Miku, Gumi mencegahnya sebentar, menanyakan apakah ia boleh masuk untuk melihat keadaan sahabatnya atau tidak. Ketika perawat itu mengangguk sebagai jawaban, Gumi membuka pintu kamar dengan pelan.
Ia melihat sahabatnya terbaring di ranjang putih tanpa kesadaran. Di sampingnya Kiyoteru sedang meneliti data yang tidak ia ketahui.
"Ah, Gumi-san." Kiyoteru menyadari kehadiran Gumi di dalam kamar itu. Gumi hanya diam.
"Saya keluar dulu. Kau bisa menjaganya, kan?" ujar Kiyoteru sambil bangkit berdiri. Gumi hanya mengangguk. Setelah Kiyoteru meninggalkan ruangan, Gumi berjalan dan duduk di sisi ranjang Miku.
Miku tampak begitu lemah. Rambutnya yang panjang berwarna tosca kini menjadi lebih terawat, meskipun tidak memancarkan sinar seperti biasanya. Wajahnya pucat seperti kertas, putih sekali seakan tidak ada darah yang mengalir di dalamnya. Di tangan kanannya terdapat selang infus menancap.
Melihat sahabatnya seperti itu, entah kenapa Gumi merasakan hatinya sakit sekali. Pasti ada sebabnya Miku tidak mau menceritakan tentang penyakit ini padanya, pasti ada sebabnya.
Gumi menyeka air matanya yang sudah turun sebutir dua butir dengan punggung tangannya. Ia berpikir siapa yang bisa ia hubungi mengenai keadaan Miku ini. Sesaat di kepalanya terbayang sebuah nama. Sebuah nama yang sering Miku ucapkan, Kaito-nii.
Meiko POV
Aku berbincang dengan Kaito sebentar, walau kadang-kadang kami sibuk dengan aktivitas tersendiri. Aku sibuk membaca buku sedangkan Kaito sibuk dengan handphone-nya.
"Meiko, kau..." Kaito baru saja akan memulai percakapan dan aku baru saja menengok, ketika terdengar suara telepon rumah yang berbunyi dengan nyaring.
Kaito bangkit dari duduknya dan berjalan menuju telepon rumah itu.
"Tunggu sebentar, ya," katanya padaku. Aku hanya membalasnya dengan senyuman.
"Halo? ... Iya, ini saya sendiri ... Gumi? Sahabat Miku? ... Miku? ... Rumah... sakit?" Aku dapat mendengar Kaito yang sedang berbicara di telepon. Aku segera menajamkan pendengaranku ketika mendengar nama Miku-chan disebut dan rumah sakit. Ada apa dengannya?
"... Wakatta. Terima kasih atas info-nya, saya akan segera ke sana," jawab Kaito sebelum ia menutup telepon itu dan kembali ke ruang tamu dengan terburu-buru.
"Ada apa?" tanyaku begitu Kaito dengan buru-buru merapikan gelas-gelas bekas minuman tadi.
"Ada sesuatu dengan Miku," ia bercerita sambil terus merapikan gelas-gelas itu. "Ia masuk rumah sakit," jawab Kaito melanjutkan.
Aku menjatuhkan buku yang sedang kupegang karena kaget. Miku masuk rumah sakit? Ada apa dengannya? Dengan segera aku mengambil bukuku yang jatuh itu dan menyimpannya, lalu merapikan tasku.
"Kau akan ke rumah sakit, bukan? Aku ikut," ujarku meminta padanya. Kaito hanya mengangguk tanpa menoleh ke arahku.
.
.
Kini aku berada di dalam gedung serba putih. Baik luar maupun dalam semuanya putih. Mulai dari lantai, dinding, hingga langit-langitnya. Bau obat-obatan dan antiseptik pun menyerang hidungku. Tentu saja hal seperti ini akan terjadi. Ini adalah rumah sakit.
"Meiko, aku akan membeli beberapa botol minuman dan snack sebentar. Kau bisa ke kamar Miku sendirian, kan?" ujar Kaito dengan tergesa-gesa. Aku hanya mengangguk. Setelah Kaito berlalu, aku menaiki tangga, menuju kamar yang sudah ditunjukkan oleh perawat di bagian administrasi.
Sebelum aku membuka pintu kamar yang dikatakan adalah kamar rawat inap Miku, aku mendengar suara dua orang perempuan yang sedang bercakap-cakap. Satu di antaranya seperti sedang menangis karena aku dapat mendengar suaranya yang parau. Ragu aku akan mengganggu atau mengejutkan sepasang sahabat yang ada di dalam ruangan itu, aku menunggu di luar sambil menajamkan pendengaran.
"Gumi, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku... aku... apa selamanya aku akan memendam perasaanku ini? Ia sama sekali tidak ingat padaku, lagipula..." Aku menahan napas untuk menunggu kelanjutannya.
"Ia sudah memiliki Meiko-nee." Aku mendengar tangis Miku-chan meledak dari dalam. Sepertinya sahabatnya yang bernama Gumi itu hanya menenangkannya.
"Memang sulit kalau kita menyimpan perasaan pada orang yang sudah dimiliki dan memiliki, tapi bukankah kau tidak bisa membutakan perasaanmu itu? Mau sampai kapan kau berbohong, Miku? Berbohong padanya dan pacarnya, juga berbohong pada dirimu sendiri," aku mendengar suara perempuan lain yang berbicara.
Aku menahan napas. Lututku terasa lemas. Apa Miku-chan menyukai Kaito? Apa yang dimaksud dengan tidak ingat itu?
"Aku... Aku... Dia sudah berjanji beberapa tahun yang lalu. Ia bilang bahwa ia akan menjemputku dan aku menunggunya. Kenapa ia tidak dapat memenuhi janji tersebut? Apakah ia menganggap janji itu tidak berarti apa-apa? Yang menghubungkan kami adalah janji itu..." Miku-chan berbicara di sela-sela tangisannya.
"Kau harus terus berusaha, Miku. Kalau memang tidak ada harapan lain, kau harus berusaha untuk mencari laki-laki yang lebih baik darinya. Memangnya hanya dia saja yang ditakdirkan untukmu? Kau..." Aku mendengar Gumi yang belum selesai bicara sudah dipotong dengan tegas oleh Miku-chan yang terdengar emosi.
"Tidak! Lupakan saja! Aku tidak ingin memiliki hati dan aku berharap hatiku ini menjadi mati! Aku tidak ingin merasakan sedih dan senang, canda tawa, suka duka, menangis dan tertawa! Biarkan saja aku seperti boneka tanpa perasaan! Hidup namun tidak memiliki perasaan! Hanya hati yang mati!" jerit Miku-chan. Aku dapat mengintip dari sela jendela bahwa Gumi mengguncangkan pundak Miku-chan dengan keras, dengan wajah yang memerah karena marah.
"Kau tidak mensyukuri apa yang sudah diberikan?! Kenapa kau tidak sadar bahwa banyak sekali orang yang masih sayang padamu?! Kenapa..."
"Aku tidak perlu tahu akan hal itu! Biarkan saja semuanya lewat! Sebentar lagi toh aku akan mati, kan?! Biarkan semuanya berjalan!" teriak Miku-chan lagi diiringi tangis yang keluar dari mulutnya.
Aku tidak mendengar ada perdebatan di antara mereka berdua lagi. Hanya ada Miku-chan yang menangis dengan suara keras. Sepertinya Gumi sedang memeluk dan menenangkan sahabatnya itu, diiringi kata-kata permintaan maaf dari mulutnya.
Aku terduduk di kursi tunggu yang berada di luar ruangan itu. Aku merasakan kakiku terasa lemas, tanganku juga. Bagaimana bisa Miku-chan menyimpan perasaan sedalam itu pada Kaito? Dari awal aku sudah menduga ada yang tidak beres dengannya.
"Meiko? Sedang apa di sini? Kenapa tidak mau masuk saja?" Aku menoleh ketika mendengar seseorang berbicara padaku. Aku hanya melempar senyum lemah padanya.
"Maaf tiba-tiba, Kaito. Tapi aku rasa lebih baik kita putus saja," ujarku dengan perasaan yang bercampur aduk, antara sedih dan lega. Sedih karena aku harus melepasnya, lega karena ia akan bahagia bersama Miku. Kening Kaito mengerut.
"Kenapa? Ada yang salah denganku?" tanyanya penasaran. Aku hanya menggeleng sambil tetap mengulum senyum sedih.
"Tidak. Hanya saja... Ada yang lebih baik untukmu. Mungkin aku tidak ditakdirkan untukmu. Ada yang lebih membutuhkanmu daripada aku," jawabku pelan. Kaito menggeleng.
"Aku hanya sayang padamu saja!" seru Kaito membantah.
"Jujur sendiri pada perasaanmu, Kaito! Kau harus tahu apa rasa sayang itu dari hatimu yang terdalam! Ketahuilah bahwa ada yang lebih membutuhkanmu daripada aku!" seruku sebelum ia meluncurkan protes yang lebih dalam. Kaito tertegun.
"Jadi... kita sampai di sini saja. Nah, baik-baik dengannya, ya," ujarku pasrah. Aku melemparkan senyum selamat tinggal pada Kaito. Aku merasa air mata berada di sudut-sudut mataku dan kini mulai turun. Dengan cepat aku berlari meninggalkannya sambil berusaha mencegah air mata yang terus turun membasahi wajah ini.
Normal POV
Kaito menatap punggung pacar... maksudnya mantan pacarnya itu yang kini berlari meninggalkannya. Tadi ia melihat wanita itu menangis, hal yang sangat langka ia temukan dalam penglihatannya.
Kaito menarik napas. Mungkin Meiko sudah bosan dengannya? Tapi ia bilang bahwa ada yang lebih cocok dengan dirinya, dan itu bukanlah Meiko. Kaito terus mencerna omongan Meiko itu.
"Permisi..." Kaito membuka pintu kamar Miku perlahan. Ia mendapati dua gadis sedang duduk berdampingan, seorang dengan rambut hijau tosca di atas ranjang dan seorang lagi berambut hijau di sisi ranjang.
"Ka-Kaito-nii..." Miku menyadari kehadirannya lebih dulu. Kaito hanya melempar senyum kecil pada gadis itu.
"A-Arigatou, Kaito-nii, sudah mau datang setelah kutelepon tadi," ujar Gumi sambil berdiri dengan agak tergagap. Kaito hanya mengangguk dan tersenyum.
"Bagaimana keadaanmu, Miku? Kenapa bisa masuk rumah sakit seperti ini?" tanya Kaito sambil meraih kursi untuk duduk di samping ranjang Miku.
Miku hanya menggigit bibir, bingung apa yang akan dijawabnya pada Kaito. Ia tidak ingin berbohong pada pemuda itu, namun tidak ingin juga agar ia mengetahuinya.
"Kau habis menangis, ya?" Kaito melontarkan pertanyaan yang berbeda tapi malah membuat Miku makin bingung.
Miku membuka mulutnya dengan tergagap, sepatah dua kata yang terdengar tidak jelas keluar dari mulutnya.
"Tadi mata Miku kemasukan debu jadi ia... yah..." Gumi membantu Miku memberikan alasan yang cukup masuk akal, meskipun tidak jelas. Kaito hanya mengangguk saja, tidak curiga akan kebohongan kecil Gumi itu.
"Sakit apa, Miku?" Kaito bertanya pada Miku lagi.
"Tuberkulosis..." Miku menjawab pelan. Kaito terperanjat mendengar jawaban Miku itu.
"Kenapa... Sejak kapan... Kok, bisa..." Kaito tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Miku yang mendengar Kaito khawatir seperti itu tidak sadar bahwa air mata sudah meleleh di kedua matanya dan kemudian jatuh ke pipinya.
"Eh? Jangan nangis," Kaito tampak panik ketika melihat air mata terus turun dari mata gadis itu. Miku terus menangis sesenggukan dengan napas tidak beraturan. Kaito menghapus air mata Miku itu dengan jarinya.
Gumi merasa bahwa lebih baik mereka berdua saja, mereka membutuhkan privasi. Maka Gumi melangkah diam-diam menuju pintu keluar sambil tersenyum kecil pada Miku.
Kaito terus menghapus air mata Miku dengan jarinya sementara Miku berusaha menghentikan air matanya dan juga mengelapnya dengan punggung tangannya.
"Miku, kenapa kau bisa seperti ini?" tanya Kaito dengan nada suara iba. Namun matanya memancarkan perhatian dan kekhawatiran. Miku hanya diam ketika Kaito sudah melepaskan tangannya dari wajahnya yang kini basah itu.
"Aku... tidak tahu. Sepertinya penyakit ini sudah lama ada di tubuhku. Aku... baru menyadarinya sekarang," jawab Miku pelan. Sebetulnya ia tidak sepenuhnya jujur. Ia menyadari bahwa penyakitnya itu sudah ada di dalam tubuhnya dan juga gejala-gejala yang ditimbulkannya. Seperti batuk berdarah maksudnya.
Kaito membelai rambut Miku dengan lembut.
"Jangan putus asa, kau pasti bisa sembuh," ujar Kaito dengan senyum terulas di wajahnya. Sesaat terjadi perubahan di wajah Miku. Keningnya berkerut dan ia menatap Kaito dengan pandangan menusuk.
"Aku tidak ingin sembuh dan aku tidak pernah berharap akan sembuh." Gadis itu mulai berbicara dengan suaranya yang dingin dan tajam, membuat Kaito kaget mendengarnya. "Aku tidak ingin berada di dunia ini lagi. Aku ingin cepat mati saja," lanjut Miku masih dengan suaranya yang dingin.
Sama seperti Gumi, Kaito tidak setuju atas perkataan Miku itu. Ia balas menatap Miku dengan dingin.
"Kau tidak boleh berkata seperti itu..." Baru saja Kaito memulai, Miku sudah mencapai batasnya.
"Kenapa?! Aku tidak ingin berada di dunia ini bila sia-sia saja! Untuk apa aku berada di dunia ini?! Tak ada yang membutuhkanku! Aku tak punya lagi harapan dan aku merasa tidak berguna! Aku..." Miku menahan napasnya. "Untuk apa aku hidup jika aku tidak dapat bersama dengan orang yang aku sayangi?!" teriak Miku kemudian. Ia menahan air mata yang sebentar lagi akan turun untuk kesekian kalinya.
Kaito terhenyak mendengar ucapan tajam dari gadis yang berada di sampingnya.
"Aku... sejak dulu menyukai Kaito-nii," Miku berbicara lagi, kini dengan suara yang lebih pelan dan tenang. Napasnya tidak karuan dan ia menunduk. "Namun ketika melihat Kaito-nii sudah memiliki Meiko-nee, aku merasa putus asa. Aku merasa dunia ini tak adil. Aku sudah mencintai Kaito-nii dari dulu, dari dulu sekali."
Miku menarik napasnya, sedangkan Kaito masih mendengarnya dan menatap gadis itu dengan pandangan tidak percaya.
"Aku sudah mencintai Kaito-nii sejak sembilan tahun yang lalu. Aku masih menunggu janji Kaito-nii waktu itu..."
"Janji apa?"
Dua kata yang dilontarkan Kaito itu terasa sangat menyakitkan bagi Miku.
"Janji... kau akan menjemputku nanti," jawab Miku dengan wajah bersemu merah. Kaito menyandarkan punggungnya kepada kursi yang berada di belakangnya. Ia berusaha memutar kembali ingatannya. Mengingat semua yang terjadi di masa lalu, masa yang dikatakan indah bagi Miku karena ia berada di sampingnya.
"Aku memang tidak ingat segala hal yang terjadi di masa lalu," Kaito mulai membalas omongan panjang lebar Miku tadi. Miku menengok ke arahnya, meski pandangannya kabur karena air mata, ia masih bisa melihat orang yang dicintainya itu.
"Aku menyukaimu. Jadi ingat atau tidak ingat, sebenarnya tidak ada yang berubah," lanjut Kaito dengan senyum di wajahnya. Miku menatapnya dengan pandangan tidak percaya.
"Tapi... Meiko-nee..." Ucapannya terputus karena ia tidak dapat melanjutkannya.
"Aku sudah putus dengan Meiko," jawab Kaito.
"Dan dengan begitu kau beralih padaku? Rendah sekali." Ego menahan Miku untuk jujur akan perasaannya sendiri.
Tanpa menjawab perkataan Miku yang menusuk itu, Kaito langsung menarik gadis berambut tosca itu ke dalam pelukannya dan memeluknya dengan erat. Miku dapat merasakan kehangatan menjalari seluruh tubuhnya, meskipun kini ia merasa susah untuk bernapas.
"Sejak awal aku memang merasa ada yang berbeda denganmu. Aku tertarik padamu. Sejak awal kau menabrakku dan es krimku jatuh dan menodai rambutmu," jawabku memberi penjelasan. Miku hanya diam dalam pelukanku.
Aku melepas pelukanku dan menatap wajahnya yang manis itu kini memerah. Aku mencium puncak kepalanya, dahinya, mengecup kedua matanya yang basah karena air mata, dan kini aku berhenti di bibirnya.
Miku menahan napas. Setelah beberapa detik kemudian, aku melepaskan ciuman singkat kami itu.
"Aku sayang padamu, Miku. Aku mencintaimu," Aku mengutarakan perasaanku dengan jelas. Air mata kembali meleleh di mata Miku. Ia mengusapnya dengan punggung tangannya sambil tertawa kecil.
"Aku... juga sayang padamu. Aku cinta padamu lebih dari perasaanmu sekarang..." Miku membalas. Volume suaranya makin lama makin mengecil. Dan tiba-tiba saja ia ambruk dan jatuh tertidur di atas ranjangnya. Entah apa yang kupikiran, aku merasa ada sesuatu yang tidak beres. Dan ini pasti suatu pertanda buruk.
.
.
"Dokter, ada apa dengannya?" Kaito bertanya dengan raut wajah khawatir pada Kiyoteru yang kini memeriksa Miku dengan terburu-buru juga panik. Kiyoteru mengabaikan pertanyaannya dan terus memeriksa Miku.
"Tolong tunggu sebentar. Sepertinya keadaannya makin parah," ujar Kiyoteru pasrah. Kaito menahan napasnya, ia merasa bahwa jantungnya berhenti berdetak selama satu detik.
"Ia pasti akan selamat, kan?" Kaito mencoba meyakinkan Kiyoteru.
Kiyoteru hanya menggeleng, bukan memberikan tanda tidak, tapi tanda tidak tahu. Kaito diam saja, ia berharap gadis yang terbaring di ranjang dengan wajah pucat seputih kertas itu segera sadar dan mereka dapat menjalani kehidupan baru.
"Dokter, sepertinya ada yang salah dengannya!" Tiba-tiba salah seorang perawat berseru memanggil Kiyoteru yang kini berdiri membelakangi Miku. Kiyoteru langsung berbalik badan dengan panik dan memerintahkan pada perawat lain untuk menyiapkan alat pijat jantung.
"Dokter, Dok, dia pasti selamat, kan?" Kini Kaito merasa ragu akan jawaban Kiyoteru tadi. Ia menarik jas Kiyoteru yang berwarna putih. Kiyoteru menepis tangan Kaito pelan.
"Maaf. Bisakah Anda tunggu di luar? Kami sedang berusaha agar ia bisa terus berada di sini," ujar Kiyoteru dingin, mungkin kesal karena diganggu terus menerus daritadi.
"Tapi, Dokter..." Kaito berusaha menyangkal. Seorang perawat mendorong Kaito keluar dari ruangan itu dan menutup pintu dari dalam. Sesaat terdengar suara pintu dipukul. Tapi itu tidaklah menimbulkan hasil.
Kini Kiyoteru berfokus pada alat pijat jantung yang ia harap dapat membantu. Selama beberapa kali ia melakukan pijat jantung itu pada Miku. Namun hasilnya tetap saja nihil. Kini garis lurus tertampang di layar monitor. Ketika menyadari bahwa semuanya sudah terlambat, Kiyoteru hanya terduduk dengan ekspresi lelah dan menyuruh agar perawat lain berhenti berusaha.
Miku POV
Tidak ada bunga yang tidak layu, tidak ada dedaunan yang tidak kering, tidak ada pohon yang tidak tumbang.
Tidak ada hewan yang hidup secara abadi, tidak meninggal selamanya. Tidak ada manusia yang terus hidup sampai tua, sampai berabad-abad lamanya. Tidak ada yang abadi di dunia ini.
Aku mengetahui akan hal itu, maka sebelumnya aku sudah berkata pada Kaito-nii bahwa lebih baik aku mati saja. Namun kini kutarik ucapanku.
Tidak apa-apa aku hidup sekarat, tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa berbaring di kamar saja. Asalkan ada Kaito-nii di sampingku, ada orang yang kusayangi di sampingku. Asalkan aku mengetahui bahwa ia berada di sampingku. Asalkan aku bisa bersamanya, itu saja.
Namun adakah hal yang abadi di dunia ini? Mungkin itu terdengar mustahil. Tak ada yang abadi. Semua akan mengalami kematian, beberapa ada yang percaya mereka akan mengalami kehidupan baru, entah dilahirkan kembali atau kehidupan di atas sana.
Aku hanya akan mengikuti takdir yang sudah ditentukan. Hidup adalah takdir dan pilihan. Aku sudah menjalankan hidup sebagai pilihanku dan kini aku mengikuti takdir. Kematian adalah segala sesuatu yang tak dapat kita lawan. Biarlah takdir yang membawa kita.
Aku sempat berpikir, apa dengan seperti ini aku tidak dapat bertemu dengan Kaito-nii lagi? Apa aku tidak dapat menemuinya lagi? Apa aku tidak dapat merasakan belaian kasih sayangnya lagi?
Namun biarlah takdir yang menentukan semuanya. Takdir yang membawa kita ke kehidupan baru yang lebih baik. Biarlah takdir yang mempersatukan kita.
Sayonara, Kaito-nii...
.
.
End
A/N
Mungkin untuk saat ini begitu saja. Gomenasai ending nggak jelas. Mind to RnR?
