CHAPTER 2
YOU'RE MY IDOL AND I'M YOUR PARTNER
Pairing : Levi x Eren
Rate : T
Warning : AU, OOC, OOT, GaJe hahaha :P, Alur ga beraturan [lompat-lompat], Typo & Typo(s) bertebaran dimana-mana
Disclaimer : Shingeki no Kyojin © Hajime Isyama
Pukul lima tepat smartphone yang selalu diletakan asal oleh Eren berdering dengan keras pertanda ada pesan masuk. Eren yang mencoba mengumpulkan nyawanya mencari-cari dimana smartphone kesayangannya itu. Setelah menemukannya, dilihatnya pesan yang masuk kedalam smatphonenya tersebut.
From : 08xxxxxxxxx
"Bangun bocah! Kau pikir sudah jam berapa ini. Ku tunggu kau di lobby. Dalam waktu 20 menit kau harus sudah ada di lobby."
Eren yang belum sadar sepenuhnya langsung melempar handphonenya dan berniat untuk tidur lagi sampai Eren kembali melihat pesan di handphonenya dan terkejut. Dia membaca sekali lagi isi dari pesan tersebut. Setelah sadar akan siapa yang mengiriminya pesan, Eren langsung bangun dan melesat untuk pergi ke kamar mandi. Selesai mandi dan berpakaian rapi, Eren langsung turun ke lobby dari lantai 8.
Sesampainya di lobby, Eren mencari Levi (sang pengirim pesan). Dan tak lama setelah Eren mencari, dia menemukan orang yang dicari. Eren ingin langsung menemuinya, namun hal itu diurungkan olehnya. Eren ingin mengerjai Levi untuk sekali ini saja. Eren sengaja duduk dibelakangnya dan tidak menemui Levi.
Setelah menunggu 20 menit, Levi yang tergolong sebagai orang minim ekspresi dan pendek sabar itu langsung menelpon sang calon anggota kelima Wings of Freedom tersebut. Levi yang mendengar suara telpon berbunyi langsung mencarinya. Eren yang sedang asik bercengkrama dengan tetangganya tidak menyadari Levi sudah tepat dibelakangnya dengan aura siap menerkam.
"Oi.. Bocah.. Jadi kau sudah disini tapi kau tidak menemuiku, Huh?"
"E-etto.. Levi bukan maksudku-" Jawab Eren terbata-bata saat menoleh kebelakang dan mendapati Levi dengan Death glare.
"Jalan kemobil sekarang atau ku seret kau." Perintah Levi. Eren mengangguk dan berjalan mengikuti Levi. Tidak lupa dia pamit kepada tetangganya itu.
Sesampainya dimobil milik Levi, Eren terperangah melihat bersihnya keadaan mobil Levi. Tidak ada sampah bahkan debu sedikitpun. Levi yang melihat Eren terus mengitari matanya hanya mendengus geli. Keadaan sekarang sangat hening.
Setelah menempuh perjalanan kurang dari 10 menit, mobil Levi sudah terparkir rapi didepan sebuah restoran cepat saji. Levi dan Eren turun dari mobil dan memasuki restoran tersebut. Levi mengambil tempat duduk dipaling ujung dekat jendela. Eren mengikutinya dan duduk diseberangnya.
Pelayanpun datang dan membawakan menu untuk mereka berdua. Levi yang sudah hapal dengan menu direstoran ini langsung memesan omelet untuk 2 orang, segelas kopi hitam untuk Levi, dan untuk Eren segelas susu coklat hangat.
"Ano.. Kenapa aku dibawa kesini?" Tanya Eren polos.
"Hanya bosan makan sendiri."
Baru saja Eren ingin bertanya lagi, pelayan yang tadi mencatat menu mereka sudah datang dengan segelas kopi hitam dan segelas susu coklat hangat. Levi meminum kopinya dan melihat Eren yang terus berkutat dengan ponselnya.
"Sedang apa kau? Memberitahukan para fansku bahwa aku ada disini?" Tanya Levi sedikit curiga.
"Apa? Bukan ini Marco dia bertanya mengapa aku belum sampai disekolah." Jawab Eren yang terlalu jujur. Bahkan Eren sampai memperlihatkan pesan kiriman dari Marco dan pesan balasan dari Eren kepada Levi.
"Ku pikir kau anak yang suka menyendiri." Kata Levi sambil terus meminum kopinya. "Kau tidak meminum susumu? Bukannya kau sangat menyukai coklat?"
"B-bagaimana kau bisa tau?" Tanya Eren yang memicingkan matanya. "Kau benar-benar penguntit ya." Tuduh Eren yang menghasilkan dengusan geli dari Levi.
Baru saja Levi ingin menjawab, pelayan yang tadi datang lagi dengan 2 porsi omelet. Pelayan tersebut undur diri saat melihat pesanan mereka berdua sudah datang semua. Eren menatap Levi curiga dengan pengetahuan tentangnya.
"Mencari informasi itu mudah."
"Haahh.. Ya sudah terserah kau saja."
Mereka memakan makanan mereka dengan diam. Dan setelahnya, mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju sekolah. Dan siapa sangka, ternyata anggota Wings of Freedom yang lain sudah menunggu kedatangan Eren dan Levi dipintu gerbang.
Levi memarkirkan mobilnya di tempat biasa dia parkir (ada tempat parkir khusus mereka). Baru saja Eren turun dari mobil, Seluruh sekolah sudah mengerubungi Eren dan bertanya banyak hal. Dan yang pasti ada 1 pertanyaan yang terdengar oleh Eren 'Eren-kun apa benar kau akan menjadi anggota kelima Wings of Freedom?' Dan saat itu juga suasana sekolah menjadi ramai.
Levi langsung menarik *menyeret* Eren agar menjauh dari para fans Wings of Freedom. Eren berhasil keluar dari kerubungan para fans itu. Armin juga membantunya. Sesampai dikelas, Eren langsung meninggalkan Levi dan yang lainnya. Eren langsung saja datang ke Marco.
"Ada apa kau mengirimiku pesan tadi pagi?"
"Aa.. Itu.. Ku dengar dari anak-anak kau akan masuk kedalam Wings of Freedom, makanya aku ingin bertanya langsung padamu."
"Oh itu.. Hahaha Aku masih ragu atas pilihanku. Tapi sepertinya aku akan masuk." Jawab Eren kecil seperti berbisik. Marco hanya mengangguk dan duduk di depan Eren. Marco membalik kursinya jadi Marco menghadap Eren sekarang. Mereka berbincang tentang kejadian di cafe kemarin. Hal tersebut sukses membuat Eren tertawa.
Levi yang melihat Eren tersenyum secara tidak sadar mengangkat bibirnya sedikit menjadi sebuah senyum tipis. Eren menyadari Levi memperhatikan Eren terus menerus. Eren menoleh kearah Levi dan mendapati Levi tersenyum dan hal itu membuat wajah Eren memerah. Marco memandangi Eren dan Levi bergantian dan tersenyum melihat Eren malu seperti itu.
Bel tanda masuk sekolah berbunyi. Seluruh siswa yang tadinya berada diluar kelas berhamburan masuk kedalam kelas. Para guru yang bertugas untuk mengajar pun sudah berjalan dilorong untuk menuju kelasnya. Kelas Eren yang merupakan kelas 2-A sudah kedatangan guru killer kedua dari Mikasa. Guru tersebut bernama Miss Rico. Miss Rico mengajar Bahasa Inggris disekolah ini. Dan nilai rata-ratanya tidak boleh kurang dari 75.
Saat pelajaran Miss Rico berlangsung, Eren tidak ada henti-hentinya menulis sebuah lirik lagu. Entah mengapa lagu tersebut terlintas diotak Eren saat ini. Baru saja Eren ingin menyelesaikan karyanya, Miss Rico datang ke tempat Eren dan memperhatikan apa yang dilakukan oleh Eren. Sebelumnya, Armin dan Marco sudah mencoba menyadarkan Eren yang asik dengan buku puisinya tersebut. Tanpa aba-aba, Miss Rico mengambil buku puisi tersebut.
"Apa yang kau tulis, hmm?" Tanya Rico sambil menyeringai.
"A.. Etto.. I-itu" Jawab Eren terbata.
"Puisi ya? Bacakan didepan kelas." Perintah sang guru. Eren terdiam. "Ayo bacakan puisimu itu."
"Ano Miss Rico itu lagu bukan puisi." Jawab Eren polos. Semua orang tercengang. Hanya dalam beberapa jam Eren sudah membuat satu lagu.
'Apa-apaan dia? Baru saja pelajaran pertama sudah bisa membuat satu lagu.' Batin Jean.
"Ya sudah nyanyikan didepan." Perintah Sang guru killer untuk kedua kalinya.
"A-apa? Aku tidak mau Miss. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Rico hanya menggeleng dan meletakan buku puisi tersebut dimeja terdepan. "Kau mau menyanyikannya atau ku edarkan buku ini ke satu sekolah. Kulihat disini bukan hanya terdapat satu lagu atau satu puisi saja." Mendengarnya, Eren hanya pasrah maju kedepan dan menyanyikan lagunya.
na mo nai jidai no shuuraku no
na mo nai osanai shounen no
dare mo shiranai otogi banashi
umare tsuita toki kara
imigo oni no ko toshite
sono mini amaru
batsu wo uketa
kanashii koto wa
nani mo nai kedo
yuuyake koyake
te wo hikarete sa
shiranai shiranai boku wa nani mo shiranai
shikarareta ato no yasashisa mo
ame agari no te no nukumori mo
demo hontou wa hontou wa hontou wa hontou ni samui nda
shinanai shinanai boku wa nande shinanai?
yume no hitotsu mo mirenai kuse ni
dare mo shiranai otogi banashi wa
yuuyake no naka ni sui komarete
kietetta
Levi terkejut untuk kedua kalinya atas penampilan Eren. Suara Eren lebih merdu dari para mermaid dan siren dilaut yang mencoba menarik perhatian para perompak. Seluruh murid di kelas 2-A terdiam menyaksikan Eren.
hakidasu youna bouryoku to
sagesunda me no mainichi ni
kimi wa itsu shika
soko ni tatteta
hanashi kakecha dame nano ni
「kimi no namae ga shiritai na」
gomen ne namae mo
shita mo nainda
boku no ibasho wa
doko nimo nai noni
「isshoni kaerou」
te wo hika retesa
shiranai shiranai boku wa nani mo shiranai
kimi wa mou kodomo janai koto mo
narenai hito no te no nukumori wa
tada hontou ni hontou ni hontou ni hontou no koto nanda
yamenai yamenai kimi wa nande yamenai?
mitsu kareba korosare chau kuse ni
ameagari ni imigo ga futari
yuuyake no naka ni sui komarete
kietetta
hi ga kurete yo ga akete
asobi tsukarete tsukamatte
konna sekai boku to kimi igai
minna inaku nare ba iino ni na
minna inaku nare ba iino ni na
shira nai shira nai koe ga kikoete sa
boku to kimi igai no zenjinrui
aragau mamo naku te wo hikarete sa
yuuyake no naka ni sui komarete
kietetta
shiranai shiranai boku wa nani mo shiranai
kore kara no koto mo kimi no na mo
ima wa ima wa kore de iin dato
tada hontou ni hontou ni hontou ni hontou ni omounda
shiranai shiranai ano mimi nari wa
yuuyake no naka ni sui komarete kietetta
"S-sudah Miss." Jawab Eren setelah menarik napas dalam-dalam dan menyadarkan Rico dari mimpinya.
"Jeager. Kau punya bakat bernyanyi mengapa tidak ikut lomba menyanyi yang diadakan tiap tahun disekolah ini?"
"Hahaha Miss saya tidak percaya diri untuk tampil jika diperhatikan oleh banyak orang." Jawab Eren sambil tertawa canggung. Miss Rico hanya mengangguk dan menyuruh Eren untuk duduk kembali dan melanjutkan pelajarannya.
"Jaeger aku akan bilang ke kepala sekolah untuk mendaftarkanmu dalam lomba yang diadakan setiap tahun itu. Jika tidak saat festival kebudayaan nanti kau harus mengisi salah satu acaranya."
"Hahaha maaf Miss saya tidak bisa." Setelahnya Miss Rico membereskan barang bawaannya dan keluar dari kelas.
.
.
.
YOU'RE MY IDOL AND I'M YOUR PARTNER
.
.
.
Bel istirahat berbunyi. Seperti biasa Eren berjalan menuju tangga dan bersenandung menuju atap dan menghabiskan waktu istirahatnya di atap gedung. Bagi Eren disinilah tempat paling sepi dan tempat paling cocok untuk menyendiri.
Eren mengambil tempat teduh untuk duduk. Hari ini Eren membawa bekalnya tetapi hari ini Eren sedang tidak ingin makan. Dia ingin melepaskan semua bebannya selama ini. Eren mengeluarkan buku lagu dan puisinya tersebut. Dan Eren 3juga mengeluarkan gitarnya. Eren mencari lagu yang akhir-akhir ini baru dibuat olehnya.
Setelah mendapatkan lagu yang dicari, Eren menyanyikan lagu tersebut. Bagi Eren ini adalah lagu saat Eren terpisah dari cinta pertamanya. Ya, saat Eren membuat lagu ini, Eren putus dengan kekasihnya. Sebenarnya Eren sudah melupakan perempuan itu saat ini. Tapi Eren ingin sekali menyanyikan lagu tersebut.
Machiawase wa ni-jikan mae de
Koko ni hitori sore ga kotae desho
Machiyuku hito nagareru kumo
Boku no koto wo azawaratteta
Sore wa kantan de totemo konnan de
Mitomeru koto de mae ni susumeru noni
Shinjirarenakute shinjitakunakute
Kimi no naka de kitto boku wa
Doukeshi nan desho
Ah mawatte mawatte mawari tsukarete
Ah iki ga iki ga kireta no
Sou kore ga kanashii boku no matsuro da
Kimi ni tadoritsukenai mama de
"Suara ini." Gumam Levi yang membuka pintu atap sekolah.
Levi menyukai suara tersebut. Hanya satu orang yang Levi tahu yang memiliki suara tersebut. Hanya Eren orangnya. Levi mengikuti suara tersebut dan menemukan Eren sedang menyanyi sendu. Eren tidak menyadari ada Levi yang selama ini memperhatikannya. Levi berjalan tanpa suara dan duduk tidak jauh dari tempat Eren berada.
'Aku tidak salah memilih kali ini.' Batin Levi sambil terus melihat Eren yang bernyanyi dan memainkan gitarnya.
Boku wo nosete chikyuu wa mawaru
Nani mo shiranai kao shite mawaru
Ichi-byou dake kokyuu wo tomete
Nani mo iezu tachisukumu boku
Sore wa guuzen de soshite unmei de
Shiranai hou ga ii to shitteta noni
Furete shimatta no kimi no nukumori ni
Sono egao de sono shigusa de
Boku ga kowarete shimau kara
Ah mawatte mawatte mawari tsukarete
Ah mawatte mawatte mawari tsukarete
Ah iki ga iki ga iki ga tomaru no
Ah iki ga iki ga iki ga tomaru no
Ah kawatte kawatte kawatte yuku no ga
Ah kowai kowai dake nano
Mou yameta koko de kimi wo matsu no wa
Boku ga kowarete shimau dake da
Ah mawatte mawatte mawari tsukarete
Ah iki ga iki ga tomaru no
Sou boku wa kimi ga nozomu piero da
Kimi ga omou mama ni ayatsutte yo
Eren menyelesaikan lagunya. Dan saat membuka matanya, Eren terlonjak melihat sang Levi Ackerman sudah duduk tidak jauh di depan Eren. Levi terus memperhatikan Eren sampai Eren gelagapan sendiri karena kelakuan Levi. Siapa yang tidak salah tingkah melihat orang yang kau idolakan, orang yang kau sayangi, dan orang yang kau cintai memperhatikan dirimu terus menerus.
"A-ano. Levi? K-kapan kau di s-sini?" Tanya Eren yang tidak dijawab oleh Levi. Levi berjalan mendekati Eren dan duduk disebelahnya.
"Baru saja. Aku tidak percaya suaramu bisa seindah itu." Puji Levi sambil menatap langit. Eren hanya menunduk dia tidak berani melihat Levi sekarang ini. Dia sangat malu ada orang yang mendengarnya bernyanyi.
"Hmm.. Levi-" Levi yang merasa terpanggil menoleh untuk melihat Eren. "-tentang anggota kelima Wings of Freedoms."
"Ada apa?"
"Etto.. Sepertinya-" Kata-kata Eren terputus karena Levi mencium pipi Eren. Wajah Eren memanas dan bersemu merah sekarang. "Aaaaaa... Apa-apaan tadi itu!" Teriak Eren yang membuat Levi menahan tawanya.
Levi membelai pipi tembem Eren dan mencubitnya. Eren meringis atas kelakuan Levi terhadapnya. Tapi Eren juga bingung akan kelakukan Levi yang tiba-tiba menciumnya seperti itu. Eren hanya menunduk menerima perkaluan dari Levi sekarang.
"Jadi.. Apa kau mau menjadi anggota kelima Wings of Freedom?" Eren mengangguk tanda dia setuju dan mengiyakan pertanyaan dari Levi. Melihatnya Levi tersenyum dan mengacak-acak surai coklat tersebut. Sebenarnya Levi sedang menahan diri agar tidak hilang kendali dan melakukan hal yang tidak diinginkan.
"Kau tidak makan, Levi?" Levi menggeleng dan menatap Eren. Eren membawa 2 buah kotak bekal hari ini. Eren memberikan satu kepada Levi. Levi menerimanya dan membuka tempat makan tersebut. Dan isinya adalah sushi yang tersusun rapi.
'Benar-benar istri idaman.' Batin Levi.
Mereka makan bersama diatap sekolah tanpa ada yang mengganggu. Levi mencicipi masakan Eren. Dan dia menyukainya. Masakan Eren adalah masakan terenak yang pernah Levi coba. Bahkan melebihi keahlian memasak Levi.
Setelah selesai makan, Eren menanyakan apakah masakannya enak atau tidak. Levi mengangguk. Eren menganggapnya sebagai jawaban 'enak'. Eren senang jika ada orang yang menyukai masakannya. Levi mengembalikan kotak makan Eren dan berdiri dari tempatnya. Dilihatnya kebelakang Eren masih sibuk dengan kotak bekalnya dan kotak gitarnya.
Levi yang melihat Eren kesulitan untuk membawa semua perlengkapannya, mengambil gitar Eren dan membawanya menuju ruang musik. Levi tahu itu gitar dari ruang musik. Bagaimana dia bisa tahu jawabannya karena itu gitar milik Levi yang sengaja diletakan disana agar dia tidak perlu repot-repot lagi membawa peralatan musik saat pelajaran seni musik.
Levi masuk ke ruang musik dan meletakkan gitar itu disebelah lemari penyimpanan biola. Dan benar saja perkiraannya. Gitar miliknya tidak ada. Eren yang mengikutinya diam disamping piano sekolah. Eren memperhatikan tumpukan kertas formulir pendaftaran lomba menyanyi. Levi yang melihat Eren memperhatikan lembaran itu mendekatinya dan mengambil satu lembar formulir itu.
"Eh? Kau mau ikut?" Tanya Eren polos. Levi menggeleng dan mengeluarkan pulpen dari kantung seragamnya. Levi mulai mengisi formulir tersebut dan diberikan kepada Eren untuk dibaca.
"Eh? Apa? Aku tidak mau! Jadi anggota kelima Wings of Freedoms saja jika tidak membutuhkan uang juga aku tidak mau!" Jawab Eren setengah kesal. Levi hanya menghela napas mendengar Eren berteriak seperti itu. Untung saja ruang musik ini dilengkapi dengan peredam suara jadi mau berteriak sekeras apapun tidak akan terdengar sampai keluar.
"Hah.." Levi menghela napas lagi. "Baiklah kalau kau tidak mau. Tapi kau harus tetap menjadi anggota kelima Wings of Freedom."
Mendengarnya Eren mengangguk kecil. Levi tersenyum tipis dan menarik Eren untuk keluar dari ruang musik dan berjalan ke kelasnya. Eren yang tangannya tidak dilepaskan oleh Levi hanya menunduk dan mengikuti apa yang diinginkan oleh ketua dari grup yang akan dia masuki itu.
Sesampainya mereka di depan kelas, Eren masuk terlebih dahulu di ikuti oleh Levi yang langsung duduk di belakang Eren. Marco yang sedari tadi mencari Eren langsung menemui Eren.
"Eren kau darimana saja? Kepala sekolah mencarimu." Kata Marco yang senang menemukan sahabatnya ini.
"Ah? Ada apa?" Tanya Eren. Marco hanya mengangkat bahunya dan berjalan menuju meja seseorang Connie.
Eren langsung berjalan keluar kelas menuju ruang kepala sekolah. Tanpa disadari, Levi mengekori dari belakang. Entahlah Levi hanya ingin mengikuti kemana anak bernama Eren ini pergi.
.
.
.
YOU'RE MY IDOL AND I'M YOUR PARTNER
.
.
.
Sesampai di depan ruang kepala sekolah, Eren mengetuk pintu dan menunggu ada yang membalas dari balik pintu tersebut. Stelah mendapat balasan barulah Eren membuka pintu tersebut dan tertampanglah sang kepala sekolah Erwin Smith.
"Hai Eren. Kau pasti bingung mengapa aku memanggilmu kesini, benar?" Eren hanya mengangguk. "Duduklah dulu. Dan Levi jika kau penasaran masuklah jangan menjadi penguping seperti itu."
Eren tercengang mendengar perkataan Erwin. Selama berjalan ke arah sini dia tidak merasakan ada orang yang mengikutinya bahkan saat menoleh kebelakang pun dia tidak menemukan ada tanda-tanda orang yang mengikutinya.
Pintu ruangan itu terbuka dan menampilkan seseorang dengan surai hitam kelam dengan tinggi 160 cm sedang berdiri tegap dengan tatapan tajam bahkan jika tatapan seseorang bisa membunuh mungkin orang yang satu ini dapat melakukannya.
Pria itu, Levi duduk disamping Eren dan menyilangkan kakinya dengan tangan bersandar pada sandaran kursi. Levi memperhatikan baik-baik apa maksud dari manager grup bandnya ini.
"Nah berhubung ada kau jadi kau bisa saja menjadi saksi. Eren bagaimana dengan keputusanmu? Aku tahu ini baru 2 hari tapi seminggu nanti Wings of Freedom akan mengadakan konser dengan group-group ternama lainnya."
Levi menunggu jawaban dari sang calon anggota kelima Wings of Freedom ini. Eren memperhatikan Erwin dan Levi secara bergantian.
"Oi, bocah. Jika ada yang bertanya dijawab jangan hanya melongo saja seperti melihat pacarmu digandeng oleh pria busuk lain." Jawab Levi ketus.
"E-eh? Iya aku mau jadi anggota kelima Wings of Freedom. Dengan syarat-" Eren sengaja menggantungkan kalimatnya. Erwin dan Levi bertukar pandang. "Dengan syarat jangan mengurusi kehidupan pribadiku. Dan apa aku masih boleh bekerja di Braus Cafe?" Levi baru saja ingin protes atas pertanyaan Eren jika saja Erwin tidak menahannya.
"Jadi kau mau menjadi anggota Wings of Freedom? Tapi untuk masalah bekerja di Braus Cafe akan kupikirkan lagi nanti." Eren hanya mengangguk sebagai pernyataan bahwa dia setuju. "Dan kalau untuk kehidupanmu karena akan kutanggung, kau akan tinggal ditempat ya kupilihkan, Eren."
"Tidak perlu Erwin. Eren akan tinggal denganku. Rumahku masih banyak kamar kosong."
"Hmm.."
"Daripula dengan begitu kau tidak perlu mengeluarkan uang lagi untuk membeli rumah atau menyewa apartemen." Sambung Levi. Erwin mengangguk setuju dan melihat Eren yang sudah pucat pasi.
"Eren ada apa? Kau pucat." Tanya Erwin. Eren menggeleng.
"Kenapa? Kau tidak mau?" Tanya Levi ketus.
"B-bukan begitu. H-hanya saja-"
"Aku tidak menerima penolakan." Potong Levi. Eren semakin pucat mendengarnya.
"Baiklah kalau begitu. Kalian bisa kembali dan menikmati waktu istirahat kalian. Dan Eren kau akan pindah kerumah Levi 3 hari lagi jadi pastikan kau berkemas dan tidak ada barang yang tertinggal. Semakin cepat semakin bagus." Eren mengangguk untuk kesekian kalinya. Dan keluar dari ruangan itu.
"Tenang saja Eren, rumah Levi bukan rumah yang aku beli tapi itu benar-benar rumah miliknya." Jelas Erwin yang dijawab dengan anggukan kepala Eren dan juga decihan dari sang empunya rumah.
Setelah Levi dan Eren menghilang dibalik pintu, Erwin bergumam sendiri. "Tumben sekali Levi menawarkan orang lain tempat tinggal."
Levi berjalan didepan dan diikuti oleh Eren. Terlihat para siswa-siswi yang sedang berlalu lalang, Ada yang bercanda dengan temannya, ada yang makan bersama, dan ada juga yang sedang bercerita riang. Tanpa sadar Eren tersenyum sendu melihat pemandangan itu. Dia teringat akan kedua orang tuanya yang selalu mendengarkan cerita lucu Eren sehabis pulang sekolah atau bahkan saat makan malam berlangsung.
Levi yang melihat paras Eren berubah menjadi sendu langsung menegurnya. Dan tanpa disangka kristal bening yang tidak tahu sejak kapan berada di sudut mata Eren terjatuh membasahi pipinya. Levi terkisap saat melihat cairan bening itu membanjiri pipi anggota barunya itu. Ditariknya tangan Eren agar menjauhi tempat itu dan menuju atap sekolah.
"Kau kenapa?" Tanya Levi sambil menghapus sisa air mata Eren dengan ibu jarinya. Eren menjawabnya dengan gelengan kepala.
"Aku hanya teringat akan kedua orangtuaku saja." Jawab Eren sambil menyingkirkan tangan Levi yang bertengger dipipinya.
Levi hanya diam dan memperhatikan Eren yang memanjat tangga menuju tempat tangki air yang mengaliri air di kolam renang. Eren berbaring sehingga tidak terlihat wujudnya dari bawah. Levi yang melihatnya berjalan menuju pintu keluar dan turun kebawah menuju ruang yang sudah tak asing lagi bagi Levi. Levi membuka ruang music dan mengambil gitar kesayangannya itu dan membawanya ke atap. Levi menaiki tangga dan duduk disebelah Eren.
Eren yang tertidur pulas tidak mengetahui bahwa disebelahnya kini ada seseorang yang sangat dikaguminya. Levi mulai memetik gitar itu dan bersenandung kecil. Lagu yang mewakili hatinya. Lagu yang membicarakan tentang perasaannya yang salah saat ini. Levi bersenandung dengan asiknya tanpa mengetahui Eren mendengarkan senandungan Levi tersebut.
Eren bangun dari posisi tidurnya dan menggeser tubuhnya agar sejajar dengan tubuh Levi. Dan tanpa sadar Eren ikut bersenandung bersama Levi. Levi yang mendengarnya langsung menghentikan permainan gitarnya dan menoleh kepada Eren yang sedang terbingung mengapa Levi menghentikan permainan gitarnya.
"Darimana kau tahu lagu itu?" Tanya Levi.
"A-ah.. Dulu ada seorang kakak laki-laki dia mirip denganmu hanya saja dia mudah senyum. Dan bisa dibilang dia cinta pertamaku-" Levi meletakan gitarnnya dan melihat Eren yang tertunduk. "-Dia sudah kuanggap kakakku sendiri. Sampai-"
"Sampai lelaki itu pindah ke perancis untuk melanjutkan studinya disana saat SMP." Potong Levi.
Eren hanya terbengong mendengar Levi mengatakannya. Sekali lagi Eren terkejut. Mata Eren membulat saat melihat Levi tersenyum bahkan tertawa lepas dihadapan Eren. Orang yang terkenal minim ekspresi ini bisa tertawa seperti itu.
"Ba-bagaimana kau bisa tahu, Le-. Tunggu. Jangan bilang-"
"Jangan bilang apa?" Tanya Levi acuh.
"Aku mulai curiga padamu. Kau bisa tahu segala hal tentangku. Padahal aku tidak mengenalmu sama sekali."
"Bukan apa-apa." Jawab Levi sambil mengacak surai coklat Eren. "Sana balik kekelas. 5 menit lagi bel masuk."
Eren yang melihat ponselnya langsung bangkit dan turun mengikuti Levi yang sudah terlebih dahulu turun. Eren mengikuti Levi yang berjalan menuju ruang musik dan meletakkan gitarnya itu. Sesampainya dikelas, seluruh siswa menatap Levi dan Eren bergantian.
"Apa?"
"T-tidak ada.. Ha-hanya saja..." Jawab salah satu siswa dikelas itu.
"Apa? Jangan bertele-tele. Kau membuang waktuku."
"Ti-tidak jadi Levi."
Setelah mendengar perkataan itu, Levi langsung duduk di tempatnya. Sedangkan Eren berjalan menuju meja Marco dan bertanya ada apa. Dan Marco hanya mengangkat bahu dan menggeleng tanda dia tidak tahu apa-apa tentang hal tadi.
Tak lama bel tanda istirahat berakhirpun berbunyi. Guru yang mengajar pun sudah masuk. Pelajaran Fisika, Pelajaran yang paling Eren tidak sukai. Eren pun mengedarkan pandangannya kearah keluar jendela dan tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh guru yang mengajar itu. Berbeda dengan Levi yang mencatat apa yang dikatakan dan ditulis oleh guru itu.
Sudah cukup puas dengan memandangi langit yang perlahan mulai menjingga, Eren mengeluarkan buku puisinya dan menuliskan sesuatu dibuku itu. Dirobeknya kertas itu dan melipatnya menjadi sebuah bagau kertas. Diletakkannya bagau tersebut tepat di kaca sebelahnya. Levi yang melihat kelakuan Eren hanya menarik sebelah alisnya keatas. Hal ini dilakukan oleh Eren sampai dia membuat 5 ekor bangau kertas.
Tak terasa bel pulang sekolah sudah berbunyi. Seluruh siswa sudah berhamburan keluar kelas. Ada yang bercengkrama satu sama lain ada juga yang langsung ngacir ke ruang club yang ditujunya. Eren pulang dengan berjalan kaki. Mengapa? Ya tentu karena tadi pagi dia di culik oleh Levi dan sekarang Levi hilang entah kemana dan jadilah Eren pulang sendiri dengan berjalan kaki.
Disisi lain. Levi yang dikira meninggalkan Eren hanya pergi ke toilet dan berniat untuk mengajak Eren pulang bersama. Dan siapa sangka Eren sudah tidak ada di kelasnya lagi. Levi yang berniat meninggalkan kelas berbalik arah dan menghampiri tumpukan bangau kertas buatan Eren.
== LEVI POV START ==
'Akhirnya bel berbunyi juga.' Batinku kesal.
Aku memberesi buku di mejaku dan memasukkan kedalam tasku. Aku keluar kelas, bukan untuk pulang melainkan untuk pergi ke toilet untuk membasuh wajahku yang sedikit mengantuk akibat pelajaran fisika tadi.
Selama perjalanan kembali ke kelasku, aku berfikir apa si jaeger itu sudah pulang apa belum. Karena aku berniat untuk mengajaknya pulang bersama. Terlebih lagi dia tidak membawa motornya karena pagi tadi aku menjemputnya. Kubuka pintu kelas itu dan tidak menemukan siapa-siapa termasuk bocah penyandang nama keluarga Jaeger itu.
"Hah.. Bocah itu sudah pulang rupanya."
Aku berniat menutup pintu itu lagi. Tapi aku teringat sesuatu.
"Burung bangau itu."
Origami burung bangau yang dibuat oleh bocah yang kusukai. 'Tunggu. Aku tidak menyukainya. Aku hanya tertarik dengannya.'
Kuambil origami itu dan kulihat dengan membalik-balikan bangau tersebut. Ku temukan banyak sekali tulisan dibagian perutnya yang kufikir itu adalah karya bocah itu. Aku mencoba membaca tulisan itu. Tapi karena lipatan-lipatan pada bangau ini, tulisan itu menjadi sulit untuk dibaca. Akhirnya ku bongkar bangau itu dan benar saja ini sebuah puisi atau bisa ku katakan itu adalah lirik lagu yang biasa di buat oleh Eren.
Moshi ano hi no ame
Ga yande ita nara
Kitto surechigatte ita dake kamo
Itsumo toori no jikan ni
BASU ga kiteta nara
Kimi to wa deau koto ga nakattanda ne
Moshimo sukoshi demo
Ano shunkan ga zurete tara
Futari wa chigatta unmei o tadotte
Shimatteta
Kimi to onaji mirai o
Zutto issho ni mite itai
Onaji hoshi o onaji basho de
Mitsumete iyou yo
Kimi no egaku mirai ni
Watashi wa iru no kana
Onaji sora o onaji omoi de
Miagete itai yo
Aku terpaku melihat tulisannya yang sedikit berantakan. Mungkin itu juga yang membuatnya untuk merobek dan melipat kertas itu menjadi burung bangau ini. Tapi selain itu yang membuatku terpaku adalah arti dari puisi yang dibuat oleh anak ini. Siapa yang ingin ditemuinya. Dan kenapa dia menjadi murung seperti itu.
Kulipat lagi kertas itu dan kumasukan kedalam saku celanaku dan kulihat masih ada 4 bangau lagi. Kulihat baik-baik dan aku berniat membawa semua bangau itu pulang dan membacanya saat sedang bosan.
Aku meninggalkan kelas itu dengan cepat dan langsung menuju dimana mobil Mercedes-Benz SLR McLaren 722 Ephocal hitam metalicnya terparkir. Ku kendari mobilku dan kulihat Eren yang baru saja keluar dari supermarket dekat sekolah. Kuparkirkan mobilku dan membuka kacaku berharap Eren melihat. Ya sesuai dugaanku, Eren melihat mobilku yang terparkir dipinggir jalan itu. Kulihat dari kaca spionku Eren seperti kebingungan, mungkin bertanya-tanya apa yang sedang kulakukan disini.
Masih kuperhatikan bocah itu yang terus mematung melihat kearah mobilku dari belakang. Habis sudah kesabaranku dengan sifat dungunya. Kukeluarkan kepalaku dan memanggil anak itu untuk menghampiriku. Dan sesuai dengan apa yang kuharapkan dia menurutinya dan berjalan mendekati pintu mobilku.
"Ada apa Levi?" Tanyanya bingung.
"Kau menghilang dan saat kutemukan kau bertanya ada apa. Masuk."
Ya, kuintip lagi dari kaca spionku dan Eren tetap tidak bergeming malah semakin mematung saat kusuruh dia masuk kedalam mobilku. Kesabaranku semakin menipis dan kutarik tangannya agar masuk kedalam mobil Mercedes-Benz hitamku.
== LEVI POV END ==
Didalam mobil yang dikendarai oleh Levi sendiri menjadi hening. Tidak ada satu orang pun yang membuka suara. Mobil hitam itu berjalan kencang melewati jalan-jalan pertokoan. Selang beberapa menit, mobil hitam metalic itu sudah parkir di basement.
"Baiklah Levi, aku pamit dulu. Terima kasih sudah mengantarku." Kata Eren dengan senyum sendunya. Rivaille tidak bergeming dan menatap Eren dengan pandangan bingung.
"Hah..." Rivaille menghela napas lelah. "Eren... Apa kau terpaksa masuk Wings of Freedom?" Tanya Rivaille datar.
"Apa? Tidak. Aku tidak terpaksa Levi." Jawab Eren terkejut dengan pertanyaan Levi.
"Sikapmu mengatakan bahwa kau tidak suka masuk Wings Of Freedom, Eren."
"Aku hanya berpikir bagaimana kau bisa tahu kalau aku pernah kehilagan seseorang yang pergi ke prancis, Levi." Jawab Eren bingung.
"Aku hanya mencari informasi." Jawab Levi pelan.
"Begitu. Baiklah, aku masuk dulu Levi. Hati-hati dijalan." Dan Eren pun hilang dibalik pintu lift.
Didalam mobil, Levi mengeluarkan origami itu dan membukanya. Dibacanya tulisan di semua origami itu. Dan seluruh isinya adalah potongan puisi dari Eren yang menyatakan perasaannya. Levi membaca bait per bait tulisan itu. Didalam mobilnya pun, Levi masih berpikir apakah dia harus meemberitahukan Eren tentang dirinya selama ini atau tidak.
Setelah berdebat dengan batinnya, Levi memilih kembali ke rumahnya. Dan siapa sangka, Eren yang dikira sudah masuk kedalam lift tadi kembali lagi dan memperhatikan Levi dari jauh. Setelah mobil Levi menjauh, barulah Eren kembali masuk kedalam lift dan kembali ke kamarnya.
.
.
.
.
.
Continue~~~~
Note Chapter 1:
Lagu piano Levi adalah Motto – Kida Masaomi (Cover from Kana Nishino)
Lagu piano Eren adalah Senbonzakura – Amatsuki (Piano version)
Note Chapter 2:
Lagu yang dinyanyikan oleh Eren itu adalah A Tale of Six Trillion Years and One Night – IA
Lagu yang saat Istirahat yang Eren nyayiin itu Karakuri Pierrot - Hatsune Miku
Yang ada di burung bangau Eren yang ditemukan Levi adalah potongan lirik dari If – Kana Nisino
