CHAPTER 2 IS UP, GUYS!

Entah bagaimana jadinya FF ini u,u menurut kalian berhasil atau tidak? Lanjut atau cukup sampai disini?

Yups. Ada yang penasaran sama perannya KAI disini xD sebenernya dia mau dimunculin agak kebelakang. Tapi, author juga bingung dia enaknya masuk dibagian mana. Jadi sabar aja ya, author masih mencari Timing yang pas untuk Jong-in nah, kan..authornya sendiri aja bingung ngatur ceritanyaaa~ huaa .-.

Oke, kita mulai saja perjalanan kita, jika kalian mau mendapatkan feelnya, dimohon untuk mencari tempat yang nyaman agar bisa memahami alur yang amat sangat berantakan ini.

Hoho, LET'S CHECK THIS OUT!

NO CHILDREN! I WARN YOU! PWP, HARD-YAOI, HARD-VIOLENCE, HARD-BDSM!

Author menerima segala bentuk flame, asalkan didasari dengan alasan yang masuk akal. By the way, ini fanfic juga buat senang-senang, kok.

Yeah! ENJOY IT, PLEASE. AND...HAPPY READING^^

KYUNGSOO POV

Baiklah. Hai. Aku Kyungsoo. Si bungsu yang selalu teraniaya. Oh, aku bahkan menjuluki diriku seperti yang terjadi di Sinetron Indonesia #-_- *Abaikanbagianini.

Sebenarnya, apa yang dilakukan Umma dan Chanyeol hyung tadi siang itu..benar-benar membuatku trauma. Kejadian ini tidak terjadi satu kali atau beberapa kali saja, tapi hampir setiap hari. Mereka mengamukiku seakan aku sampah yang tak seharusnya tinggal dirumah manusia. Ya, mungkin mereka menganggap aku bocah pembawa sial. Ugh, aku juga tidak berharap dilahirkan kedunia ini.

Dan kalau saja boleh memilih, aku akan menolak mentah-mentah perintah Tuhan yang hendak menurunkanku ke 'Neraka' ini. Sayangnya, inilah takdirku, atau nasibku. Mutlak. Oh, baiklah. Aku berusaha bertahan, bertahan hidup tepatnya. Kalau dipikir, hidupku untuk siapa? Tidak ada yang menyanyangiku disini, tidak ada yang memedulikan kehadiranku disini. Ya, aku seperti hidup sendirian, aku bersama jiwaku. Tapi, yasudahlah. Tuhan mungkin memiliki rencana lain. Tuhan yang mengutukku untuk hidup menderita seperti ini. Aku tahu itu.

Lalu tentang Appa? Ayahku itu, yang seumuran dengan Ummaku, sebenarnya juga selalu melakukan hal yang sama. Lebih parah malah. Tanpa alasan, tanpa kesalahan, tanpa bukti, dan tanpa mau mendengarkanku, seseorang yang seharusnya melindungi keluarganya itu malah kerap kali memukuliku, menghajarku dengan rotan, dan lain-lain. Dan kalau kau tanya apa alasan mereka melakukan ini? aku sendiri tidak pernah tahu. Mungkin suatu saat nanti, aku akan mengetahuinya. Ya, entah kapan. Yang jelas aku harus tahu alasan keluargaku sendiri membenciku.

Ah ya ampun. Ini sudah jam 6. Appa akan pulang sebentar lagi. Maka, aku buru-buru menghapus aliran air mataku, dan sesekali mengurut dadaku, setidaknya aku masih bisa menyemangati diriku sendiri. Layaknya pembantu rumah tangga, keseharianku hanya diisi dengan membersihkan rumah, bersekolah, lalu kembali membersihkan rumah, tambahannya adalah rutinitas yang menyiksa fisik maupun batinku. Tak urung luka-luka disekujur tubuhku kadang membuatku malu dihadapan teman-teman. Ah, sudahlah. Aku terlalu banyak curhat. Mengasihani diri sendiri? Omong kosong.

Hei, kenapa sepi sekali rumah ini? Tumben sekali, eh? Oke, kutegaskan sekali lagi, orang-orang dirumah ini tidak mungkin meninggalkanku dirumah sendirian, karena mereka sangat menyukaiku. Menyukaiku dalam arti lain. Mereka senang menyiksaku. Mereka akan tertawa saat melihatku menangis kesakitan. Dasar! Jiwa sadomasokis! Aku muak, Ya Tuhan. Harus berapa lama lagi, Kyungsoo menunggu kematian?

Tiin..Tiin! Ah, klakson mobil Appa. 'Monster' itu sudah datang. Mulai kurasakan sebagian tubuhku yang bergetar ketakutan. Deg-degan. Jantung berdegup dua kali lebih cepat, dan pikiranku kalang-kabut. Tanpa membuang waktu aku segera memacu seribu langkah menuju pintu depan. Klakson Appa terdengar berulang kali, memekakan telingaku. Hei, padahal aku sudah membukakan pagar. Kemudian mobil itu melewatiku, wajah pria itu seakan menelanjangiku. Aku menunduk. Oh, tidak. Mobilnya berhenti. Didepanku. "Angkat wajahmu. Dasar! Tidak sopan!" gelegaran suara itu menyentak tubuhku. Sesuai perintahnya, perlahan aku mengangkat wajahku, dan langsung bertemu tatap dengan kedua iris mata bak iblis itu. Dia mendelik kearahku, sementara tatapanku tampak sayu. "Kau sudah makan, hah?" ini bukan pertanyaan yang umum ayah kepada anaknya. Yang seharusnya dilakukan dengan suara lemah lembut. Ini termasuk bentakan.

Aku kaget. Seperti yang kukatakan. Bentakan, sentakan, siapapun yang ada dirumah ini. apalagi Appa, adalah satu-satunya hal yang selalu membuat jantungku melonjak kaget. Aku menggeleng lemah. "Be-belum."

"Jawab yang benar!" dia kembali berteriak. Kencang sekali.

"Maaf, a-aku belum ma-makan." Aku selalu tergagap. Selalu begitu setiap orang-orang ini mengajakku bicara. "Umma menghukumku." Ya, aku baru saja ingat hukuman Umma siang tadi. Dan aku tahu, malam ini akan menjadi malam terberat, seperti yang terjadi sebelum-belumnya.

"Sialan! Sekarang minggir!" dia membuang muka. Menutup kaca jendelanya, dan barulah memarkirkan mobil yang bahkan tak pernah kutumpangi itu dihalaman dengan rapi.

Aku kembali mengurut dada. Mengelusnya, meminta hati ini untuk bersabar. Appa keluar dari mobilnya dengan tas ditangan. Pada saat ia memintaku untuk membawakan bawaannya, aku malah bengong. Dan sontak hal itu menjadi sasaran empuknya untuk kembali mencari-cari kesalahanku. Sungguh, hidupku tidak pernah terasa benar. Dia mengahmpiriku dengan langkah yang menakutkan. Aku sudah siap. Siap sekali. Dan yang terjadi pastilah..PLAK! Dia menamparku. Membuat wajahku terlempar kesamping dengan sadisnya. Dan tebak efeknya, darah merembes dari sudut bibirku.

"Kurang ajar! Kau lupa namamu atau kau memang tidak mau mendengarkanku?!" bahkan dia tidak peduli bahwa ini masih diluar rumah. Dan potensi tetangga melihat ini sangatlah besar.

Aku takut. Kembali merasakan perasaan mencekam ini membuatku hampir kebas. Sejujurnya, aku sudah terbiasa.

Haruskah aku menjawabnya? Baiklah.."Ma-maaf. Appa. Kyungsoo tidak sengaj-AH!" Appa meremas 'barang'ku. Keras sekali. Sungguh, ini sangat sakit. Hingga membuatku terduduk, melemas. "Appo..sakit, Appa." ringisku, sambil memegangi kejantananku dengan kuat. Aku tidak ingin pria itu melakukannya lagi.

"Rasakan itu, Bocah sialan!" dia masuk, melenggang pergi menjauhiku yang masih menahan sakit. Tapi sebelumnya..BRUGH! "AH!" aku kembali memekik. Kali ini Appa menendangku, menendang rusuk yang tadi siang ditendang Umma. "Malam ini, kau akan tahu seberapa menjijikkannya dirimu."

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Tidak kuat menahan sakit dikejantananku. Ya Tuhan apalagi ini? Oh, apa kau pikir, aku lebih baik kabur daripada mati?

Tapi tiba-tiba, pria itu berbalik. Kemudian.."Dan jangan coba-coba kau meninggalkan rumah ini. Rumah ini adalah penjara seumur hidupmu." Boleh aku menanyakan, apakah orang ini cenayang? Kenapa dia seakan bisa membaca pikiranku? Oh, baiklah. Aku memilih mati saja kalau begitu.

~o~

Aku sudah didapur saat ini. Tempat yang seharusnya dikunjungi wanita, bukan laki-laki sepertiku. Menyiapkan makan malam untuk para iblis yang berada dimeja makan itu. Muaknya lagi, aku tidak bisa menikmati sajian hangat didepanku ini. Yeah, hukuman Umma masih jelas terngiang-ngiang dikepala dan pikiranku. Aku..masih tahu diri.

Nampan yang berisi penuh berbagai macam hidangan lezat, yang tentu saja, membuat perutku berbunyi. Rakyat jelata disana, meminta jatahnya. Aku segera meletakkan piring-piring besar itu dihadapan mereka. Bisa kulihat wajah bodoh Chanyeol yang mulai kelaparan. Oh tidak, aku tidak mau mengulang kesalahan lagi. Aku tidak mau disiksa lagi.

"Hah, anak bodoh ini yang memasak?" suara si bodoh Chanyeol, ternyata. Umma dan Appa bersamaan melirikku.

"Kau tidak percaya, Chanyeol? Adikmu ini bagaikan seorang wanita." Kali ini suara bengis Umma, yang selalu merendahkanku, bahkan menginjak harga diriku tanpa ampun. Wanita, katanya. Aku..ah, aku laki-laki. "Lihat saja, wajah dungunya yang memuakkan itu." Sial. Yang ada aku yang muak melihat wajah para iblis ini. Chanyeol tertawa. Appa tertawa datar. Ha-ah.

Aku menutup telingaku, menulikan fungsinya. Begitu juga mataku, aku mengaburkan pandangannya. Seolah aku bosan mendengar ocehan yang itu-itu saja. Dasar! Tidak punya perikemanusiaan, kah, mereka? Terlebih, aku termasuk bagian keluarga ini, kan?

Setelah selesai dengan urusanku. Yaitu meletakkan makanan untuk mereka, aku segera undur diri. Kalau biasanya aku akan duduk didapur, menunggu sisa makanan Chanyeol, yang anehnya walaupun rakus dia tidak pernah menghabiskan makanannya. Oh, atau dia sengaja ingin memberiku sisa makanannya?

"KYUNGSOO!" panggilan menggertak itu sontak membuatku berhenti melangkah. Diam sebentar, baru kemudian berbalik. "Jangan lupa dengan hukumanmu." kata Chanyeol, lengkap dengan seringaian diwajahnya. Rasanya, aku akan selalu ingat tanpa perlu diingatkan. Dan ruang penyiksaan, adalah makanan sehari-hariku. Kalau dipikir, ternyata mereka menyanyangiku juga. Buktinya, mereka sampai repot-repot membuatkan satu ruangan khusus untukku. Aku hanya mengangguk.

~o~

Dan tibalah saat mereka menarikku secara paksa. Menyeretku tanpa belas kasihan, sama sekali tak memedulikan teriakan dan rontaanku. Chanyeol hyung mencengkeram lenganku kuat-kuat, sementara Appa meremas kepalaku sampai rasanya rambutku akan terlepas dari kulitnya. Dan pandanganku menangkap siluet Umma yang berdiri sambil melipat tangannya didepan dada. Dia tersenyum. Senyum iblis.

"Appo, Hy-hyung. Sakit." Aku berusaha melepaskan tangan besar Chanyeol Hyung. "Am-ampun. Jangan lagi, kumohon." Percuma. Ratapanku hanya berarti desiran debu. Telinga mereka seolah tuli, kedua mata mereka seolah buta. Yang mereka tahu aku adalah 'hewan'.

Brakk! Aku terbanting. Tubuhku menabrak dinding dengan tidak elitnya. Tangisanku, entah untuk keberapa ratus kalinya semakin deras. Aku meringkuk sambil memeluk lutut, ketakutan, seluruh badanku bergetar tak terkecuali tengkukku yang merinding hebat.

"Sekarang, buka bajumu!" Appa membentakku kasar. Dan yang ia dapat dariku hanyalah gelengan keras yang menolak perintahnya. "Berani melawan?!"

"Argh! A-ah! Hen-hentikan. Ap-appo, kumohon." Aku menjerit sesaat setelah Appa menginjak kejantananku, lagi. Aku bahkan bisa merasakan sakitnya yang mencapai puncak kepalaku. Berdenyut, pusing. "Sakit, Appa."

Chanyeol hyung tampak senang. Dia melangkah mendekat dengan wajah beringasnya. Ditangannya, ada sebilah pisau. Aku dapat melihat kilauannya yang beraura menyayat itu. Dan sepersekian detik kemudian, kain-kain pakaian lusuhku sudah tercabik-cabik oleh pisau mungil itu. Sekarang, tubuh polosku benar-benar terekspos didepan dua laki-laki ini. Tatapan itu, tatapan kelaparan yang puas setelah mendapatkan mangsanya. Sialan.

"Kau mau membuka celanamu sendiri atau kami yang akan membukanya, dengan cara kami." Chanyeol hyung menyahut tiba-tiba. Aku mendongakkan kepalaku, kilatan kemarahan sudah tampak jelas dikedua iris mata Appa. Ya Tuhan, tolong aku.

Belum sempat aku menjawab, Appa sudah memegangi kedua lenganku, hingga kuku-kuku tajamnya mencakari kulitku. Aku meronta, menggeliat kesana-kemari, masih berusaha melepaskan diri. Chanyeol hyung berada dibawahku, tak peduli aku yang terus menjejak-jejakkan kaki kearah wajahnya. "Ti-daak. Aku tidak mau. Tolong, lep-lepask-Ah..aku." sudah tidak jelas lagi cara bicaraku. Aku tidak mau hal mengerikan itu terulang untuk keberapa ratus kalinya. Atau mungkin ribuan. Mereka..sudah terlalu sering, menyetubuhiku. Aku muak. Sangat muak.

Aku tahu celanaku sudah raib. Tanpa sehelai benangpun sebagai penutup adalah sama saja menyerahkan hidup kepada dua orang gila yang sedang meneguk liurnya ini. Tak kuat lagi menahan nafsu birahi yang sudah memuncak. Aku kewalahan menutupi tubuhku, tubuh penuh lukaku. Appa dan Chanyeol hyung berulang-kali meneriakiku untuk tidak menutupi tubuh telanjangku. Seandainya mereka tahu, aku malu, terhina sekali menjadi seorang Kyungsoo.

"Ku-mohon. Hentikan. Ja-jangan lak-lakukan lagi." Aku memohon. Meminta rasa iba mereka. Lagi-lagi, percuma. Chanyeol segera menyerbu bibirku. Melumatnya ganas, hingga aku megap-megap kehabisan oksigen. "Hosh..hosh..hosh. Cukup, Hyung." Bibir Chanyeol kemudian turun ke leherku, menciuminya kasar hingga membentuk kissmark yang menjijikkan. Lalu ia berhenti lama diceruk leherku, menjilatnya sampai basah sekali. Kumohon, siapapun tolong aku menghentikan binatang buas ini!

Oh tidak. Satu lidah lagi bersarang di kedua nipple-ku. Mengemutnya, menyedotnya kuat-kuat, hingga membuatku menggelinjang kesakitan. Itu lidah Appa. Biadab. Appa lebih ekstrem lagi, dia memutar-mutarkan lidahnya disekitaran pusarku. Menggelitiki seluruh tubuhku. Ahh- ini tidak ada nikmat-nikmatnya sama sekali.

Umma merekam adegan ini. Astaga. Ini semua demi kepuasan mereka belaka, sedang aku? Apa yang kudapat? Umma terus merekm tiap kejadian, berpindah posisi sambil menampakkan seringaia iblisnya.

"Kulum ini! Awas, kalau sampai kau menggigitnya!" Chanyeol menyodorkan kemaluannya kemulutku, dengan terpaksa aku memasukkan benda jahanam itu. Gila. Ini sangat panjang, dan besar. Entah kenapa, aku merasa jika semakin hari benda ini semakin bertambah saja ukurannya. Ujung batang itu mengenai pangkal tenggorokanku, otomatis membuatku tersedak. Tapi, Chanyeol sama sekali tak membiarkanku hanya untuk sekedar menarik nafas. Dia menjambak rambutku, memaju-mundurkan kepalaku. Dia bilang sensasi mulutku adalah yang terbaik.

"Ahhh-teruskan." Erangnya, mulai kehilangan akal. "Ya, yah. Di-sit-situu.."

Ugh, cairan itu kembali menyembur. Chanyeol mencapai orgasme pertamanya dalam ronde ini. Cairan sperma hyungku sendiri. Chanyeol kembali memaksaku menelannya, meskipun ada sedikit yang meluber keluar, dia tidak sedikitpun mau tahu. Sungguh, aku ingin muntah. Memangnya siapa yang akan menyukai cairan ini, sih?

"Telan, Bodoh!" sentakannya, lagi-lagi membuatku kaget setengah mati. "Aku tidak mau tahu, cairan itu harus bersih!"

"Hei, Chanyeol. Kau mau double penetration dengan Appa?" Jangan. Apa katanya? Dou-double? Aku tidak mau anusku robek lagi, terluka sangat parah karena itu. Waktu itu, aku bahkan sampai kesulitan berjalan dan..tidak masuk tiga hari. Kumohon, jangan lagi. Aku menggeleng kuat-kuat, berharap mereka mengerti maksudku. Ayolah, sekali ini saja mereka menuruti permintaanku.

"Ja-jangan. Appa. Ak-aku."

"Tentu saja, aku merindukan hal itu. Biarkan saja anusnya hancur lebur. Toh, siapa peduli. Dasar, pembawa sial!" Chanyeol mendekati posisi Appa. Dan benar, aku tidak pernah didengarkan.

"Kum-Kumohon. Jangaaan-"

Mulutku disumpal, lagi-lagi oleh ciuman panas dari Chanyeol yang membuatku tak berdaya. Hampir kehabisan nafas. Dari penerangan yang minim ini, aku dapat melihat keduanya mengarahkan batang itu ke anusku, bersamaan. Ouch!

"ARGH! HEN-TIKAN! KE-KELUARKAN!" Teriakanku menggema diruangan kedap suara ini. Ketiganya termasuk Umma, tertawa penuh kemenangan. Menertawakan kepedihanku. "SAK-SAKIIT. HYUNG!"

Kedua batang yang ukurannya tak bisa dibilang kecil itu mengoyak anusku, dengan brutal dan sadis. Aku bisa merasakan darah mengalir deras darisana. Dan mereka masih tidak mau berhenti menggenjotku, menggoyangkan pinggul mereka dengan ganasnya.

"A-ahh. Kau yang terbaaaik, Kyungsooo." Jerit Appa, jeritan sarat kenikmatan. Sialan. Aku menangis lagi, terus dan terus. Appa melumat nipple-ku, bergantian kanan dan kiri. Sementra Chanyeol masih setia dengan bibirku yang mulai membengkak. "Kau budak sialan! Anak bodoh nan dungu! Tidak tahu diri!" Appa kembali menghardikku. Menjatuhkan harga diriku terus-menerus. Seakan deretan kalimat penghinaan yang dilontarkannya itu dapat menambah kenikmatannya.

'Aku salah apa, Ya Tuhan?' batinku bersuara. Mulai mempertanyakan kesialanku ini, kemalanganku ini, dan segala hal buruk yang selalu mengikuti kehidupanku.

"Yak! Bersiaplah, Kyung! Aku ham-hampir, sampai!"

"Agh, hentikan, Hyung. Uuh-argh! Sakit. Kumohon, hiks, keluarkan." Lirihku, dengan suara serakku yang benar-benar kering.

"Tidak akan! Mereka sangat menyukai lubangmu, itu!"

Crooot! Bersamaan. Klimaks mereka bersamaan. Cairan putih itu kembali menerjang titik prostatku, daerah tersensitifku. Apa yang mereka pikirkan? Menyetubuhi anak kandung dan saudara kandung mereka sendiri? Dasar, pendosa! Aku menangis lagi, entah terisak atau sekedar tersedu.

Mereka memeluk tubuhku erat-erat, tubuh kami bertiga kembali menyatu. Keringat terus mengucur deras dari tubuh kami. Ada darah, sperma, dan air mataku. Yang seolah menjadi selimut kami. Kejantanan keduanya masih anteng disana, tertanam dilubangku tanpa berniat keluar. Anusku berkedut, perih. Sakit sekali. Aku serasa melayang. Pandanganku mengabur seketika itu, tapi ruangan ini belum terlihat gelap. Itu artinya aku masih belum pingsan. Mereka, ayah dan saudaraku, mendesah-desah tak karuan. Gila. Mereka semua gila. Manusia yang tidak pernah merasa puas!

Chanyeol lebih dulu mencabut kejantanannya. Appa masih menginginkan benda kesayangannya dijepit oleh lubangku. Memuakkan! Chanyeol menghampiri lemari yang berada disudut itu, lemari sextoy? Ah, apa mereka masih belum puas? Aku sudah tidak kuat lagi. Tubuhku remuk, seperti ditimpa beton habis-habisan. Hei, hei, Chanyeol membawa dildo? Tidak. aku tidak mau benda seperti itu bersarang lagi dianusku. Appa malah getol kembali merangsangku, menciumiku selagi aku berusaha mencari oksigen. Dan uh, apalagi yang dibawa Chanyeol itu? Cock ring? Aku sungguh tidak ingin megalami orgasme kering lagi.

" .." desahanku, desahan penuh keterpaksaan. Keluar begitu saja, tanpa kuperintah. Chanyeol datang dengan barang bawaannya. Tidak. jangan lagi. Sudah cukup, Ya Tuhan.

"Ada apa, Kyung? Kau mau lagi?" pria bejat itu kembali meraba-raba tubuhku. Merangsang dadaku. Nippleku menegang. Sial. "Ayolah, katakan. Jangan malu-malu."

"Mmh, aku tid-tidak, mau-hh.." apalagi itu, penjepit nipple beraliran listrik? Aku sudah sangat hafal benda apa saja itu dan apa kegunaannya.

"Kau bilang tidak mau, tapi lihat tubuh sampahmu yang mengatakan, Ya." Suara Appa menggetarkan bulu kudukku. Merasa geli.

Chanyeol mencubit—atau meremas nipple-ku. Hingga membuatku berteriak kencang sekali. "ARGH!" dan bisa ditebak, nipple-ku memerah, bengkak. "Mainan kesukaanmu, Kyung." desisnya, sambil mengelus-elus lubangku. Tak berapa lama, tanpa meminta persetujuanku, Chanyeol segera melesakkan dildo berduri yang bisa bergetar itu, kemana lagi jika bukan kelubangku yang bahkan sudah ludes tak berbentuk itu. Sungguh, mereka semua memang tak punya rasa kasihan. "

"Jangan! AGH! Jang-jangan dis-disituu~ argh! Sakit, hyung. Appo.." aku memberontak ditengah pelukan Appa. Chanyeol terus melesakkan dildo itu hingga membentur dinding terdalamku. Hingga ujungnya tak bersisa, hingga ujungnya tak terlihat matanya, hingga dildo itu masuk keseluruhan. Sempurna. Aku tahu pemikiran kotor mereka. "Ini sudah memasuki sesi hukumanmu." Apa? Ini baru hukuman? Sedang yang tadi, apa? Oh tidak. Wanita sialan itu yang memegang kendali, dia mulai mengatur tempo getaran dildo ini. dan hasilnya...Hard. Sialan.

"Selanjutnya, Yeol. Cock-ring dan penjepit nipple itu." Perintah Umma yang sudah mulai tidak sabar.

Aku meraung keras, lagi dan terus. Cock-ring itu berhasil dipasangkan dijunior malangku. Dilanjut dengan penjepit nipple beraliran listrik itu. Ah, sebentar lagi adalah penutupnya.

"Berdiri!" Appa membentakku, menarik tubuhku secara kasar. Dengan tubuh lemas nan lemah ini, aku berusaha bangkit. Ya, meski dengan tatapan redup dan wajah pucat, dan mengabaikan perutku yang kelaparan. Aku harus segera menyelesaikan hukuman ini. Brengsek! Aku benci diriku yang tidak berdaya ini. aku benci keadaanku. Aku benci dunia ini. aku benci hidupku. Aku benci semuanyaa. Tanpa kusadari, Chanyeol sudah menyiapkan tali tambang yang akan mengikatku ditiang berbentuk X itu. Mereka bergotong-royong memanggulku, dan kemudian bekerja sama menggantungku bagai karung beras diatas sana. Merentangkan tubuhku sekuat mungkin. Semakin melebarkan selangkanganku. Chanyeol terus memutar pengait tali-tali ini, sakit. Sekujur tubuhku terasa nyeri, ngilu, dan lebam dimana-mana. "Ha-ah, tiba saatnya menodai kulit putihmu, merubahnya menjadi warna merah." Aku sudah tidak kuat lagi, tidak sanggup. Bahkan hanya untuk sekedar menarik nafas. Rasanya dadaku sakit sekali.

Aku tidak berucap lagi. Tak peduli lagi dengan kondisi dan situasi yang ada disekelilingku. Konsentrasiku memudar, semua yang terlihat oleh mataku bagaikan bayangan. Ah, aku nyaris pingsan. Kenapa tidak sekalian mati saja? Omong-omong, aku sudah tergantung sekarang. Tubuhku terpentang lebar, tangan dan kakiku ada disetiap sudut tiang ini. Menyedihkan. Appa dan Chanyeol, masing-masingnya membawa cambuk, mereka akan mencambukku bergantian? Baiklah, kuharap aku bisa pindah ke lain waktu dan tempat saat ini juga. Tapi, aku tahu keinginanku benar-benar konyol. Mustahil sekali, meskipun hanya untuk dibayangkan. Aku tak sanggup lagi berteriak, bahkan mengerang. Merintih atau apapun itu. Suaraku hilang. Atau sengaja kuhilangkan. Tak ada gunanya memohon kebaikan mereka. Karena mereka memang tak punya hati dan perasaan. Mereka iblis brengsek! Sayang, aku hanya bisa membatin.

"Kau siap, Yeol?" Salah. Yang seharusnya mendapat pertanyaan itu adalah aku. Apa aku siap mendapat puluhan cambuk itu hanya karena kesalahan tak masuk akalku? Cambuk dengan paku diujungnya. Sial. Sedetik lagi akan merobek kulitku, uh, mungkin bukan hanya merobek. Lebih dari itu. Tapi untuk saat ini, aku tidak bisa menjelaskannya, karena..

"ARGH!" Cambukan pertama. Datang dari ayunan keras tangan kokoh Appa. "Satu."

Kulit punggungku sudah terkoyak. Kepalaku tak sanggup lagi mendongak keatas. Seluruh sistem sarafku melemah..sebelum.."CTARRR!" Cambukan kedua. Berada didepan. Datang dari Chanyeol. Tepat mengenai kedua nipple-ku, yang seketika itu pecah dan mengeluarkan darah. Aku tidak menagis, air mataku sudah kehabisan stoknya. Anggap saja aku sedang mati rasa. "CTARRR!" Ketiga. Cambukan yang lebih keras lagi, dari Appa. Mengenai pantatku, yang kini rasanya teramat panas.

"CTARR!"

"CTARR!"

"CTARR!"

Tak terhitung lagi. Masih banyak cambukan itu akan membunuh kulitku. Benar, sekarang baik punggung maupun bagian depanku sama sekali tak terlihat warna lain selain merah.

"CTARR!"

"CTARR!'

"CTARR!"

Ya, mereka tampak bahagia sekali. Senyum merekah diwajah iblis ketiganya. Tak peduli aku yang berteriak, menjerit, meraung, atau apapun yang bisa kulakukan, sebatas untuk menghentikan ayunan cambuk tak ber-peri-kemanusiaan itu.

"Appo, hiks, Appo. Hyung, hiks, Umma dan Appa. Hen-hentikan." Hening sesaat. Ya Ampun, apa kali ini Tuhan sudah mau melihatku? Tuhan mendengar doaku? Mereka mendengar permintaanku? Astaga. Aku sangat bersyukur dengan ini. Appa dan Chanyeol berhenti. Kelihatannya memang mereka sudah terlalu lelah.

"Hah, berapa cambukan tadi?!" Chanyeol bertanya padaku. Uh, mana kutahu. Memang aku menghitung. Lagipula, aku masih terlalu sibuk dengan rasa sakitku. "JAWAB!"

Oh oke. Dia menyuruhku bersuara. Menjawab pertanyaan bodohnya barusan. "Leb-lebih dari 20 kali."

"Bagus!" Appa bertepuk tangan, melempar cambuk itu kesembarang arah. Begitupula Chanyeol. "Kita selesai." Ahh, boleh aku bernafas lega sekarang? Boleh aku berteriak kegirangan dalam batinku? Boleh? Sungguh, meski mereka merasakan waktu menyiksaku hanya sekitaran empat jam, tapi aku merasakan ini bagai penantian tiada akhir.

Tubuhku. Jangan ditanya. Luka dan lebam disana-sini. Kissmark. Lelehan sperma yang hampir kering. Liur. Darah pekat. Merah sekali. Lecet, bilur, koyakan, gigitan, mengelupas. Tubuhku rusak parah. Dan jangan tanyakan juga jiwaku, batinku, pikiranku. Lebih rusak dari fisikku. Aku melemah, lemas sekali rasanya. Hingga akhirnya aku meberanikan diri, bertanya dengan suara serakku yang melirih.."Ken-kenapa? Kalian membuatku, sep-seperti ini?"

Aku melihat ketiga iblis itu saling berpandangan. Kemudia tergelak bersamaan. Mereka tertawa tak henti. Hei, memangnya ada yang lucu?

"Kami? Begini? Hahaha. Tentu saja karena kau yang tidak pantas dilahirkan! Kau yang menyusahkan, kau yang membawa kesialan! Dasar kutukan!"

Kutu..kan?

Apa mereka baru saja mengataiku kutukan?

Aku jelas tidak salah dengar. Umma, yang bahkan melahirkanku, berteriak tidak serantan.

Mereka bilang aku kutukan? Kau dengar?

"A-atas dasar apa? Ahhh~alasan apa?"

"Nanti saja kalau kau masih bisa bertahan hidup, kau akan tahu alasannya!" bentakan Appa. Lagi-lagi membuatku berjengit kaget. "Harusnya kau bersyukur! Berterimakasihlah kepada kami, bocah sialan!" makinya, menunjuk-nunjuk wajahku. Astaga, pria ini kalap lagi?

"Lal-lalu-hh..kenapa tidak sekaligus kalian bunuh saja aku? Daripada aku membebani, kan, erghh~"

Kali ini Chanyeol yang tertawa paling keras. Disusul tawa kedua orangtua yang sama bejatnya itu. "Tentu saja kami ingin menikmatimu dulu. Tenang saja, kami tidak akan menyia-nyiakan kesempatan..untuk menyiksamu. Dan itu artinya kami akan membuatmu menderita. Membunuhmu secara perlahan.." ucapan Chanyeol inilah yang sejauh ini malah membuatku girang. Ada titik terang. Baiklah, aku tahu aku pasti mati.

"Aku ingin..cep-cepat..hh~ mati saja."

"Kalau kami tidak menghendaki, bagaimana? Itu semua sesuai keinginan kami. Sungguh tidak enak melihat tubuhmu yang tergolek tak bernyawa, menganggur tanpa fungsi. Nah, kalau begini, kan..Kyungsoo bodoh ini punya kesenangan bagi kami." Selanjutnya, yang kudengar hanyalah tawa penuh kemenangan yang saling bersahutan. Sampai aku menutu mataku, dan semuanya berubah gelap. Apa aku sudah mati? Eh, tidak. sepertinya aku hanya pingsan.

Idiot! Psikopat! Mereka gila! Oh Tuhan, bisakah aku memohon padamu satu permintaan saja? Sungguh, aku ingin mati.

Dan jangan lupakan. Sextoy biadab itu masih menempel ditubuhku. Dildo, penjepit nipple beraliran listrik—yang berkali-kali menyengat dadaku—dan cock-ring yang menghambat cairanku.

Siapapun, tolong aku. Kyungsoo.

TO BE CONTINUE

HOSH..HOSH..HOSH. Gemeteran plus merinding bikin ini fanfic. GORE banget xD

Aaaaa~ author nggak kuat! Hiks #pundung

Oke, oke. MIND TO REVIEW?