Author : Lee Soo Won
Cast : EXO member and other cast
Genre : Romance, hurt/comfort, humor
DISC : Tokoh dalam cerita milik orang tua mereka, SM Ent, dan Tuhan YME. Saya hanya pemilik alur/plot cerita
Summary : Di bawah naungan sang 'dewi malam' dengan diselimuti permadani malam indah lukisan Tuhan, keduanya saling memberi kehangatan. Mencari ketenangan dan mengikrarkan janji nyata. Tak peduli sebuah hati tergores luka, membuat seseorang kerap kali menitikkan air mata. Malam itu menjadi saksi menguapnya perasaan tersakiti, indahnya pengkhianatan, dan mengikhlaskannya perasaan suci titipan Sang Maha Kuasa. EXO ─GS for uke!
"Jadi kita mau belanja apa dulu, jie? Baju kah atau sepatu, apa mungkin tas terlebih dahulu?"
"Sepertinya aku lebih memilih tas, Baekki. Kudengar tadi pagi Gucci mengeluarkan produk terbarunya"
"Jeongmalyo? Kajja Lay-jie! Kita tidak boleh sampai kehabisan" Baekhyun langsung menarik lengan Lay menuju store Gucci.
"Setidaknya berbelanja dapat sedikit melupakan masalah yang sedang dihadapinya. Setidaknya" batin Lay sambil tersenyum.
.
.
.
Sacrifice (희생)
Rated : T
Chapter : 2/?
Shinji Mori-da Present
.
.
.
.
.
"Chagi, apakah kau siap kalah melawanku?" Sehun menaikkan kedua alisnya sambil menunjukkan sebuah dvd game yang baru saja ia beli. Dan reaksi Luhan...
"Omo! Need for Speed: Most Wanted" ujar Luhan terkejut. Ternyata pekikannya mampu menandingi Baekhyun juga.
"Aku tidak akan kalah darimu Oh Sehun. Lihat saja kemampuanku nanti"
"Geuraeyo. Akan kutunggu perlawanan darimu, chagi" ujar Sehun sambil mencubit hidung sang yeoja.
"YA! Sehunnie lepaskan!" Luhan berusaha melepaskan kedua jari Sehun yang masih bertengger manis di hidungnya. Karna kasihan melihat rusa kesayangannya tersakiti, maka dari itu dia melepaskan cubitannya. Hey lihatlah! Hidung Luhan sudah semerah tomat, pasti itu sakit ─sangat sakit mungkin.
Luhan hanya mendengus sebal mendapat cubitan dari Sehun. Dengan mengusap hidungnya, dia meninggalkan namjacingunya itu sendirian. Berjalan menuju ke arah pintu keluar mall.
Sehun yang menyadari Luhan marah langsung mengejar dan menarik lengannya. Mau tidak mau Luhan tertarik kebelakang dan menghadap wajah ─tanpa dosa─ Sehun.
"Jangan marah, chagi" CHU! ucapan maaf tulus dari Sehun diiringi kecupan manis di hidungnya berhasil membuat rona merah yang dengan percayadirinya muncul di kedua pipi chubby milik Luhan.
Kejadian yang sangat singkat nan romantic tersebut membuat pasangan ini menjadi pusat perhatian oleh pengunjung mall. Luhan hanya menunduk malu sedangkan Sehun dengan polosnya malah memberikan senyuman kepada setiap pengunjung yang memperhatikan mereka.
"Aigo! Jinjja utjinda, Oh Sehun. Lebih cepat kita pergi dari sini itu lebih baik"
"Ah ne! Kajja, chagi" sambil memeluk sang kekasih, Sehun menuju ke pintu keluar mall.
─Sacrifice─
"Semua barang yang kau cari sudah kau dapatkan, Baekki?" tanya Lay pada yeoja mungil di sampingnya.
"Tas, dress, sepatu, t-shirt, parfum, jeans. Hmm sepertinya sudah semua. Kau beli apa saja, jie?" dengan secepat kilat Baekhyun merebut tas belanja yang ada di tangan Lay.
Pandangan keduanya sekarang malah focus ke arah tas belanja bukan melihat ke arah kaki mereka menuju. Sehingga kedua yeoja ini tidak menyadari seorang namja dengan angkuhnya berdiri menghadang mereka. Kesengajaan menghadang memang sudah rencananya.
BRUUK! pantat Lay dan Baekhyun sukses dengan manisnya mencium lantai mall. Tas belanja yang mereka bawa jatuh berserakan beserta isinya. Bukannya membantu, namja ─yang dengan sengaja menghadang─ itu malah mengeluarkan seringai tipis di bibirnya.
"YA! Apa kau tak punya mat-" bentakan Lay terputus dengan mudahnya setelah dia tau siapa yang menabraknya. Tubuhnya seketika melemas dan menegang secara bersamaan. Dalam sekejap, dia berharap semua ini hanyalah mimpi. Tapi apa di dunia mimpi, kau merasakan sakit di pantatmu saat terjatuh?
"Annyeong Yixing-ie" senyuman terpatri di wajah tampan sang namja.
"YA! Bukannya membantu, kau malah tersenyum dengan bangganya, tuan tiang!" karna Lay tak kunjung mengomelinya, akhirnya Baekhyun memutuskan untuk memberi namja ini sedikit 'ceramah' gratis di siang bolong.
Ocehan dari Baekhyun hanya ditanggapi dengan senyuman manis oleh namja tersebut.
"Oraemaniyeyo, Xing-ie"
"Kau mengenalnya, jie?"
"Aku tak mengenalnya, Baekki. Lebih baik kita pergi dari sini, Sehunnie dan Luhan-jie pasti sudah menunggu kita" dengan kekuatan tidak biasa, yeoja berdimple ini menarik lengan dongsaengnya. Langkahnya terlihat tergesa, entah karna apa.
Tanpa disadari, sebuah tatapan tajam mengikuti mereka. Seringai terlukis jelas di raut wajahnya.
─Sacrifice─
Book Café Toy. Café yang berlokasi di Hongdae, Seoul ini terbilang unik karna pengunjung dapat membaca beragam buku yang tersedia dengan rapi di rak-rak buku dan juga dapat melihat beragam mainan menarik yang dipajang di café tersebut. Bukan hanya interior bangunan saja yang unik, tetapi menu makanan yang disediakan juga unik.
Book Café Toy.
"Kau tau, Baekkie? Tadi di mall Sehunnie benar-benar membuatku malu"
"Ye? Waeyo, Luhan-jie?"
"Dia mencium hidungku di depan pengunjung mall yang sedang berlalu lalang"
"Mwo! Kau gila Oh Sehun" Baekhyun menggelengkan kepala. Sedangkan namja yang dibicarakan hanya menampakkan wajah poker facenya.
"Tadi di mall ada namja yang setinggi Menara Eiffel menabrakku dan Lay-jie, tas belanja kita jatuh dan isinya berserakan. Tapi namja itu bukannya meminta maaf, dia malah tersenyum tidak jelas. Aish! Dia itu benar-benar! Awas saja jika dia bertemu denganku lagi!" jelas yeoja bersurai merah itu panjang lebar, kedua tangannya mengepal. Luhan yang melihatnya tersenyum gemas.
"Lay-jie kenapa kau hanya mengaduk-ngaduk makananmu saja eoh?" pertanyaan Sehun mengagetkan Lay yang sejak tadi melamun.
"Oh-ah! A-aku hanya tidak lapar, Sehunnie"
"Tapi, tadi jiejie yang paling bersemangat mengajak kita makan siang"
"Lay-ie, gwaenchanayo?" suara Luhan melembut, nada bicaranya tersirat kekhawatiran.
"Gwaenchana, jie" senyum yang dipaksakan terlihat jelas. Lay mengarahkan sumpit ke mulutnya, mulai melahap Yangnyeom Tongdak yang telah dipesannya tadi.
"Tuan tiang tadi.. Apakah kau mengenalnya, jie?" ucap Baekhyun menoleh ke arah Lay.
"Uhuuk! Uhuuk!" entah apa yang membuat yeoja berdimple ini tersedak. Pertanyan dari Baekhyun ataukah memang karna cara makannya yang terlampaui semangat. Entahlah.
Sehun yang berada tepat di samping kiri Lay, reflex memberikan segelas Soju milik Lay. Baekhyun membantu menepuk pundaknya.
"Gomamo, Sehunnie, Baekkie"
"Tadi kan aku sudah bilang kepadamu, Bekkie. Aku tidak mengenalnya"
"Tapi dia terlihat sangat mengenalmu, jie. Bahkan dia berani memanggilmu dengan panggilan masa kecilmu" ucap Baekhyun sembari menyuapkan Gimbap ke dalam mulutnya.
"A-aniyo! A-aku tidak mengenalnya"
"Sudahlah, noona. Kau terlalu mencampuri urusannya" ujar Sehun melerai.
"Sehunnie benar, Baekki. Mungkin saja 'tuan tiang' itu salah orang"
Baekhyun membalas pernyataan Luhan dengan mengangguk. Setelah itu, hanya suara sumpit yang berpadu dengan piring yang terdengar. Mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing. Terlebih Lay, dia terlihat sangat gelisah.
'Dia kembali' batin salah satu dari keempat remaja tersebut.
─Sacrifice─
2 Floor Flower Café. Café unik yang bertemakan bunga dan berlokasi di Myeondong. Benar-benar memberikan kesan nyaman dan sangat cocok dikunjungi bagi pecinta tanaman. Setiap sudut ruangan café ini menyuguhkan aneka ragam bunga dan tumbuhan hijau.
2 Floor Flower Café.
"Kau mau pesan apa, jie?"
"Aku pesan Tteok saja, Baekkie. Aku sedang tidak ingin makan makanan yang terlalu berat"
"Aku pesan Pat-Bing-Soo"
"Ne. Mohon ditunggu sebentar" setelah membungkuk ─memberi hormat─ seorang yeoja berpakaian waiters menuju dapur café dengan membawa kertas pesanan.
Tanpa menunggu terlalu lama, pesanan kedua yeoja tersebut sudah berada di depan mata. Mereka menyantapnya sambil berbincang, sesekali tertawa karna ulah sang lawan bicara. Tiba-tiba `benda persegi´ milik Baekhyun berbunyi, mengganggu acara makan siang mereka.
"Yeoboseyo?"
"..."
"Hehehe mianhamnida"
"..."
"Geuraeyo. Aku kesana sekarang"
Setelah beberapa saat berbincang dengan seseorang di seberang sana, akhirnya Baekhyun memutuskan hubungannya dan menatap Lay dengan wajah memelas.
"Waeyo, Baekki? Pergilah" seakan tau apa yang akan dikatakan oleh dongsaengnya, Lay berhasil menebaknya.
"Hwaksilhaeyo, jie?"
"Aku yakin, Baekkie. Sudahlah, cepat pergi sana! Kasihan jika temanmu menunggu terlalu lama"
"Jeongmal Gamsahamnida. Momjosimhaseyo, Lay-jie" ucap Baekhyun sambil mengecup kedua pipi Lay.
"Kau berlebihan, Baekkie" Lay hanya membalas dengan mengusap kepala Baekhyun.
"Ddo bwayo" Baekhyun melambaikan tangannya dan langsung menuju pintu keluar café. Setelah itu, Lay kembali melanjutkan makan siangnya yang sempat tertunda.
"Annyeong, Xing-ie"
"Suara ini" detak jantung Lay berpacu tak menentu, batinnya bergejolak. Membuatnya susah untuk bergerak.
Tanpa ada suruhan, seorang namja berparas tampan duduk tepat di depan Lay ─kursi yang tadi ditempati oleh Baekhyun─ dengan senyum yang tak pernah pudar dari bibir plumnya. Senyuman licik.
"Jal jinaesyeosseoyo?"
"Aku dalam keadaan baik ataupun tidak, itu bukan urusanmu, Li Jiaheng"
Lay yang hendak pergi dari tempatnya seketika membatalkannya saat sebuah pertanyaan keluar dari bibir namja bernama `Li Jiaheng´ ini.
"Kenapa kau tak pernah memberitauku kalau kau mempunyai teman yeoja secantik dia?"
"Kau jangan macam-macam, Li Jiaheng! Apa kau belum puas setelah menghancurkanku?" jawab yeoja tersebut dengan sedikit membentak.
"Awas saja jika kau berani mendekatinya!"
Setelah mengancam dengan intonasi garang, Lay meninggalkan namja tersebut.
"Tidak ada jaminan untukku jika aku berani mendekatinya" gumam sang namja.
Oh tidak! Lihatlah! Seringai tipis itu muncul lagi.
─Sacrifice─
"Baekkie! Baekkie!" teriakan seorang yeoja paruh baya menggema di kediaman keluarga Byun.
"Ne halmeoni!" balas seorang yeoja yang berada di lantai kedua. Sepertinya keluarga Byun gemar berteriak. Ckckck.
"Di bawah ada Yeollie. Turunlah! Cepat!"
"Suruh dia ke kamarku saja, halmeoni"
"Kau sudah dengar sendiri kan, Park Chanyeol? Jadi segeralah kesana"
"Ne halmeoni, gamsahamnida" setelah membungkuk kepada sang halmoeni, Chanyeol segera menuju ke kamar Baekhyun.
Bukan hanya Baekhyun dan Chanyeol saja yang bersahabat tetapi keluarga merekapun juga sangat dekat. Kedekatan keluarga terjalin karna appa Baekhyun dan appa Chanyeol adalah rekan bisnis.
CKLEEK!
"YA! Park Chanyeol! Bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke kamarku" bentak seorang yeoja pemilik kamar sambil melemparkan sebuah bantal ke arah Chanyeol.
"YA! Noona! Kenapa kau hobi sekali berteriak eoh? Bukan hanya kau saja, tapi halmeoni juga" ucap Chanyeol sambil menangkap bantal yang sengaja dilempar ke arahnya.
"Ada apa kau kemari?" tanya Baekhyun `to the point´.
"Naneun nareul bogoshipda" tiba-tiba saja Chanyeol menerjang Baekhyun yang sedang duduk manis di kasurnya. Memeluknya erat ─sangat erat─ hingga Baekhyun susah untuk bernafas.
'Nae Seongjil geondeurijima' batin sang yeoja sambil menetralkan detak jantungnya yang berpacu tak karuan.
"YA! Lepaskan babo! Aku tidak bisa bernafas"
"Hehe mianhae, noona" ucap Chanyeol sambil mengusap tengkuk kepalanya yang tidak gatal.
"Jadi angin apa yang membawamu kemari? Tidak mungkin kau kemari tanpa alasan, tiba-tiba kau mengatakan sangat merindukanku padahal setiap hari di sekolah kita bertemu" ujar Baekhyun panjang lebar.
"Aku bosan di rumah, noona" ucapnya jujur sambil merebahkan diri di samping Baekhyun.
"Kau tidak kencan bersama Hyejin?"
"Aniyo. Dia sedang tidak mau diajak jalan"
Chanyeol mulai memejamkan matanya. Sedangkan Baekhyun hanya mampu melihat.
'Wajahmu sangat damai ketika kau menutup mata, itulah sebabnya aku senang memperhatikanmu saat kau tertidur disini' batin Baekhyun diiringi dengan senyuman tulusnya.
"Kau memandangiku, noona? Aku tau aku sangat tampan, tapi jangan memandangiku terus. Nanti kau bisa menyukaiku" kekeh Chanyeol sambil terus memejamkan mata.
Baekhyun yang sadar jika Chanyeol mempergokinya langsung memalingkan wajahnya ke lain arah. Sebisa mungkin tidak menatap Chanyeol.
'Aku memang sudah menyukaimu, Park Chanyeol' batin sang yeoja.
"A-aniyo. Aku tidak memandangimu, Yeollie. Kau terlalu narsis"
Tiba-tiba saja sebuah guling mendarat mulus di wajah Chanyeol. Dengan terpaksa dia membuka matanya dan mendapatkan Baekhyun sedang tertawa mengejek ke arahnya. Oh ayolah, Baekkie! Apa kau tidak tau, tadi Chanyeol sudah dalam perjalanan menuju planet mimpi?
Karna kesal mendapat perlakuan seperti itu, akhirnya Chanyeol membalas kejahilan Baekhyun. Dan `perang guling´ pun tak terelakkan.
Disaat seru-serunya memukul satu sama lain dengan guling, tiba-tiba saja Baekhyun tersandung bed cover yang tergeletak di lantai. Reflex sang yeoja menarik kerah kemeja lawan mainnya.
Baekhyun terjatuh mulus diatas kasur sedangkan Chanyeol berada tepat diatasnya. Saat ini, Baekhyun terpenjara di antara lengan kokoh milik Chanyeol. Dengan keadaan seperti itu, keduanya dapat melihat secara jelas bentuk wajah sang sahabat.
'Aku berharap waktu berhenti sampai disini'
'Apa yang terjadi padaku? Kenapa jantungku berdetak layaknya pacuan kuda, eoh?'
Entahlah. Dapat dorongan dari mana, Chanyeol berani memajukan wajahnya lebih dekat lagi dengan Baekhyun. Sedangkan Baekhyun yang menyadarinya hanya mampu menutup mata dan menteralkan detak jantungnya.
Ketika jarak kedua insan tersebut sudah melebihi batas ambang wajar, tiba-tiba saja sebuah suara mengusik kegiatan mereka. `benda persegi´ milik sang namja berbunyi nyaring.
"Oh-ah! Mianhae, noona. Jeongmal mianhae" Chanyeol langsung beranjak dari atas Baekhyun dan meraih benda yang sejak tadi `berkicau´ tanpa henti.
Hei! Sejak kapan Chanyeol menjadi namja yang gugup saat berada di dekat Baekhyun?
"G-gwaenchana" bukan hanya Chanyeol, Baekhyunpun juga menjadi gugup.
"Yeoboseyo?"
"..."
"Aku sedang berada di rumah Baekhyun noona, chagi"
"..."
"Geuraeyo. Aku akan menjemputmu sekarang"
"..."
"Nado saranghae"
Setelah puas berbincang, akhirnya Chanyeol memutuskan sambungan telepon bersama yeojacingunya.
"Hyejin?"
"Ne. Hmm aku pamit pulang dulu, noona mungkin nanti malam aku akan kembali lagi kesini"
"Terserah kau saja. Yang penting kau tidak lupa caranya mengetuk pintu kamarku. Arrachi?"
"Ye, arraseo" perbincangan terakhir yang membawa Chanyeol keluar dari kamar sang sahabat.
Setelah sosok Chanyeol hilang dari pandangannya, Baekhyun hanya mampu menghela napas.
"Semakin dalam aku mencintaimu, semakin dalam pula aku tersakiti"
─Sacrifice─
Juknokwon. Berlokasi di Damyang, Jeollanam merupakan suatu hutan bamboo yang sangat populer untuk menghilangkan letih dan menenangkan hati dari hiruk pikuk kota. Selain bamboo-bamboo, pengunjung juga dapat menikmati pemandangan di taman bunga, air terjun, dan pemandangan alam lainnya disini.
Juknokwon.
"Biasanya aku datang kemari bersamamu, Yeollie"
"Tapi sekarang kau lebih banyak menghabiskan waktu bersama yeojacingumu daripada aku"
"Hmm aku memang sadar diri, aku hanya sebatas seorang noona dimatamu"
Baekhyun berkata pada dirinya sendiri. Mengikuti langkah kakinya melewati jalan setapak Juknokwon. Menikmati setiap hembusan angin yang menerpa surai merahnya yang memang sengaja digerai. Sesekali menghembuskan nafas, berharap beban yang ditanggungnya sedikit demi sedikit menghilang.
Air terjun adalah tempat favoritnya dan Chanyeol di Juknokwon. Chanyeol selalu membawa gitar bila kemari. Memetikkan gitar dan Baekhyun akan menampilkan suara emasnya sambil bermain air.
Dengan sangat hati-hati Baekhyun duduk di salah satu batu yang ada di sekitar air terjun. Pandangannya lurus ke depan, menatap kosong air terjun yang ada dihadapannya.
"Aku menyerah, Yeollie. Mulai sekarang aku akan benar-benar melepaskanmu"
"Aku lelah jika terus tersakiti"
"Terima kasih untuk perhatianmu, terima kasih untuk rasa sayangmu padaku walaupun hanya sebatas rasa sayang terhadap sahabat, terima kasih untuk segalanya yang telah kau berikan kepadaku selama ini"
Helaan nafas panjang dari Baekhyun mengakhiri kalimatnya, setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Disaat dalam keadaan menangis seperti ini, tiba-tiba saja rintik air hujan turun dengan cepatnya. Seakan langit ikut merasakan rasa sakit yang dirasakan oleh yeoja ini.
"Aku berjanji ini terakhir kalinya aku menangis karnamu, Yeollie"
Tak ada niatan darinya untuk beranjak dari tempat ini. Dia membiarkan tubuhnya basah kuyup terguyur air hujan. Hingga tiba-tiba dia tidak merasakan air hujan membasahi tubuhnya lagi.
"Eh?" sontak Baekhyun menatap ke atas. Sebuah payung berwarna pelangi melindungi dirinya dari derasnya hujan.
"Babo! Jika kau ingin bertapa jangan saat turun hujan, noona" suara berat dari arah belakangnya membuat Baekhyun menoleh dan mendapati seorang namja tinggi sedang melindunginya ─menggunakan payung.
"YA! Tuan tiang! Apa yang kau lakukan disini? Kau membuntutiku, eoh?"
"Apa untungnya untukku jika aku membuntutimu? Kau terlalu narsis, noona. Sudahlah lebih baik kita cepat pergi dari sini, hujan semakin deras"
Sang namja membantu Baekhyun berdiri, merangkul pundaknya dan membawanya menuju parkiran mobil.
"Sebaiknya kau pakai jaketku saja, mungkin akan sedikit membuatmu lebih hangat" namja tersebut memberikan jaket tebalnya kepada Baekhyun.
"Gomapseumnida"
"Cheonmaneyo"
"Jadi apa tujuanmu membuntutiku, tuan tiang?"
"Aku kan sudah bilang, aku tidak membuntutimu. Dan satu lagi, jangan panggil aku tuan tiang. Aku juga mempunyai nama"
"Geuraeyo. Kalau begitu siapa namamu?"
"Wu Yi Fan. Kau Byun Baekhyun kan? Kau siswi Anyang Art High School"
"YA! Kau sudah tau namaku bahkan kau juga tau dimana aku sekolah. Sudah berapa lama kau membuntutiku, eoh? Kau pasti orang jahat. Aku akan menelepon polisi dan mengatakan bahwa selama ini aku dibuntuti oleh seorang namja jahat"
"YA! Dengarkan dulu penjelasanku"
"Tak ada pencuri yang mengaku, Tuan Wu Yi Fan. Jikalau ada pasti penjara sudah penuh, polisi tidak akan bekerja, dan mau diberi makan apa anak mereka?" Baekhyun langsung mengeluarkan handphone miliknya dan menekan nomor telepon polisi.
"Aish! Kenapa tak ada jaringan, eoh? Tak taukah mereka, aku disini terjebak di tengah derasnya hujan bersama seorang namja jahat. Aku dalam keadaan bahaya. Aku butuh bantuan. Aku tak mau mati muda. Huwaa"
.
.
.
To be continued...
Mohon maaf atas hiatus saya yang terlalu lama. And the last, give me a riview please ^^
Sign,
Lee Soo Won
Sacrifice (희생) © Mori-da House Production ® 2013
