"He-heichou?" Petra blushing seketika karena sangat tumben kaptennya tersebut menggandeng tangannya dihadapan orang lain. Petra yang terlalu malu tidak sadar saat kaptennya menoleh ke belakang kembali dan memberikan pandangan paling mengerikannya pada orang bernama George tersebut. George sendiri? Dia hampir pingsan saking ketakutannya. Pertama kalinya dia diberi tatapan seperti itu oleh Prajurit Terkuat Umat Manusia. Sungguh mengerikan.
.
.
.
Chapter 2
.
.
.
Second Chance
Shingeki No Kyojin © Hajime Isayama
Rated : T
Genre : Romance
Warning: '…' = baca dalam hati / Typo(s) / OOC / EYD? Maaf saya masih belajar / Semi-Canon / Pairing = Rivaille X Petra
DLDR
.
.
.
"Heichou, ada apa?"
"Hn?"
"Heichou hari ini tidak seperti biasanya," kata Petra sambil memperhatikan tangannya yang masih saja digenggam erat oleh Rivaille.
"Tidak apa-apa, apa kau tidak suka aku memegang tanganmu?"
"Bu-bukan begitu, hanya saja Heichou tidak seperti biasanya."
"Aku tidak mau kehilanganmu lagi," Rivaille mengatakannya hampir setengah berbisik.
"A-apa?"
"Hn," dan Rivaille mengeratkan pegangannya di tangan Petra. Petra hanya bisa merona karena sepanjang jalan dia dan Rivaille selalu diperhatikan orang-orang.
.
.
.
Suasana jalan yang dilewati kedua insan itu terlihat ramai. Waktu menunjukkan tengah hari dimana orang-orang masih sibuk mengerjakan pekerjaannya masing-masing. Panas matahari tidak mengurangi semangat orang-orang itu dalam mengerjakan pekerjaannya. Tidak bekerja akan mengakibatkan mereka tidak mendapatkan uang, lalu mereka akan makan apa? Hal itulah yang selalu ditanamkan setiap orang dalam otaknya, pemikiran itu selalu menjadi motivasi mereka dalam mendapatkan uang bagaimanapun caranya.
Hawa panas yang menyerang tidak dihiraukan kedua orang itu. Mereka tidak menggunakan kuda, berjalan kaki adalah hal yang mereka lakukan saat ini. Tapi toh mereka menikmatinya.
"Kita harus beli sesuatu."
"Beli? Apa?"
"Cincin?"
"A-apa?" Petra blushing. Rivaille yang melihat hal itu ingin sekali tertawa, gadisnya benar-benar menggemaskan saat merona seperti itu.
"Aku akan meminta si mata empat untuk mengurus pernikahan kita, tapi aku tetap ingin membeli cincin pernikahan kita sendiri."
"Heichou ini benar-benar mendadak. Aku…"
"Kau masih meragukanku?"
"Ini membuatku sangat terkejut. Katakan padaku, sebenarnya ada apa?" Petra benar-benar sudah tidak tahan. Kelakuan kaptennya hari ini benar-benar membuatnya bingung. Rivaille terlihat sangat OOC—eh? Bukan… bukannya dia tidak mau menikah dengan Rivaille tapi mendadak seperti ini jelas aneh. Terjadi sesuatu dengan kaptennya dan Petra sangat yakin akan hal itu.
"Petra… kumohon menikahlah denganku…" Petra terkejut bukan main. Rivaille yang dihadapannya sekarang sangat berbeda. Sorot matanya terlihat sangat menyedihkan, jelas ini pertama kalinya Petra dihadapkan dengan wajah Rivaille yang begitu memohon padanya. Sebegitunya kah Rivaille ingin menikahinya?
"Heichou… tentu saja aku mau," balas Petra dengan seulas senyuman tulus. Sungguh, dia memang ingin menikah dengan Rivaille. Bisa dibilang itu adalah impiannya. Mendapati pujaan hatinya memohon untuk menikahinya seperti ini tentu saja Petra sangat tersentuh. Peduli titan dengan ke-OOC-an kaptennya!
Rivaille tersenyum tipis dan mengajak Petra ke sebuah toko di ujung jalan. Dan yah benar, itu adalah toko perhiasaan. Mereka berdua masuk dan disambut ramah oleh dua orang penjaga toko tersebut.
"Selamat datang Tuan dan Nyonya. Ada yang bisa kami bantu?"
"Aku ingin membeli cincin pernikahan," kata Rivaille. Penjaga toko yang paling depan tersenyum dan mengajak Rivaille dan Petra mendekati counter yang menyajikan banyak jenis perhiasaan. Petra berbinar melihat semua yang tersaji di depannya. Bertahun-tahun menjadi prajurit membuatnya tidak bisa menikmati kehidupan gadis normal biasa, seperti halnya membeli perhiasaan.
"Ini indah sekali."
"Pilih yang kau mau."
"Ta-tapi—"
"—pilih saja."
Petra berpikir sejenak dan kembali memandangi beberapa pasang cincin di depannya. Nampak sepasang cincin yang menarik perhatiannya. Cincin dengan ukiran meliuk-liuk untuk cincin laki-lakinya dan cincin dengan ukiran meliuk juga tapi ada permata hijau ditengahnya untuk cincin wanita. Rivaille yang melihat hal itu langsung paham kalau Petra sudah menentukan pilihannya.
"Ini?" tanya Rivaille sambil menunjuk sepasang cincin yang memang sedang diperhatikan Petra.
"Hmm… Iya…"
"Yang ini," kata Rivaille pada penjaga toko tersebut. Kini, kedua cincin yang itu sudah keluar dari tempatnya. Nampak Rivaille sedang memasangkan cincin tersebut ke jari manis Petra—hanya untuk mengetes ukurannya. Dan dia memasangkannya pada jarinya sendiri—pas. "Kami ambil kedua cincin ini." Setelah mengatakan hal itu Rivaille segera membayar cincin tersebut.
.
"Seleramu bagus juga," kata Rivaille saat mereka sudah kembali ke jalan.
"Cincin itu terlihat mewah walaupun ukirannya sederhana."
"Hn." Mereka kembali berjalan, menuju rumah calon mertua Rivaille Ackerman.
.
Tok… Tok…
Krieet…
Nampak pria paruh baya yang sudah berdiri di depan pintu rumah Petra. "Petra!" teriak pria tersebut dan langsung memeluk Petra.
"Ayah…"
"Kenapa baru pulang?"
"Maaf aku benar-benar sibuk… ah ayah kenalkan ini Rivaille-heichou," kata Petra sambil melepaskan kembali pelukan ayahnya. Rivaille melakukan ojigi pada ayah Petra.
"Wah anda tidak usah sampai seperti itu heichou, harusnya saya yang melakukan hal itu. Oh iya mari masuk."
Rivaille, Petra dan Ayah Petra sudah berada di ruang depan rumah Petra. "Jadi, ada apa kau pulang Petra? Ini tidak seperti biasanya," tanya Ayah Petra.
"Anoo—"
"—saya ingin meminta izin anda," potong Rivaille cepat.
"Izin?" nampak Ayah Petra mengangkat sebelah alisnya bingung.
"Saya ingin menikahi putrid anda."
"A-apa? Menikah?" Ayah Petra langsung memandang Petra yang sedang tersipu malu.
"Hn… dan pernikahannya akan dilaksanakan besok lusa."
"A-apa? Apa ini tidak terlalu mendadak?"
'Nah tuh kan apa kataku?' batin Petra mencelos. Ayahnya mungkin akan menolak hal ini, ini benar-benar terlalu mendadak.
"Semuanya sudah saya persiapkan dengan baik. Tidak ada yang perlu anda khawatirkan. Dan saya benar-benar mencintai putri anda," Rivaille berkata dengan sangat mantap. Petra hanya bisa merona kembali atas perkataan Rivaille tadi.
Ayah Petra nampak sedang berpikir dan memperhatikan Rivaille dan Petra secara bergantian. Dia tahu bahwa anaknya memang menyukai kaptennya tersebut tapi tetap saja ini terlalu mendadak.
"Heichou, bukannya saya tidak mengijinkan tapi saya rasa pernikahan ini terlalu mendadak jadi saya pikir lebih baik—"
"—saya akan menjaga anak anda! Apapun yang terjadi tidak akan saya biarkan seorangpun menyentuh Petra," Rivaille mengatakannya dengan lantang. Ayah Petra cukup terkejut dengan perkataan kapten chibi itu. "Saya menyukai putri anda, maka saya akan melakukan hal yang terbaik yang bisa saya lakukan untuk bisa membahagikan Petra."
Ayah Petra lagi-lagi terlihat berpikir. Beliau memandangi Petra yang hanya terdiam dengan wajah merona. Anaknya memang menyukai kapten tersebut dan seharusnya dia sebagai Ayah bisa membahagiakan anaknya. Kenapa dia malah ingin menghancurkan impian anaknya? Lagipula tidak ada yang perlu dikhawatirkan, anaknya akan dipinang oleh manusia paling kuat di muka bumi.
"Baiklah…"
"Terima kasih, saya berjanji akan melindungi putri anda!"
.
.
.
Matahari sudah mulai berwarna oranye, tanda bahwa sebentar lagi hari yang cerah ini akan segera digantikan oleh langit berbintang. Kedua orang berbeda gender itu berjalan kembali pulang ke HQ mereka. Setelah hampir empat jam mereka berada di kediaman Tuan Rall untuk makan siang, menikmati kopi sambil membicarakan hal-hal yang akan dilakukan saat upacara pernikahan nanti.
Wajah sang wanita terlihat sangat bahagia, menampilkan senyuman yang tidak pernah pudar dari kulit putih wajahnya. Impiannya akan segera terwujud. Menjadi istri Rivaille Ackerman.
Sedangkan wajah sang pria nampak datar seperti biasanya namun tidak henti-hentinya dia mengeluarkan helaan nafas lega. Dia tersenyum tipis menatap langit oranye yang sangat mirip dengan warna rambut kekasihnya saat ini. Rivaille mengeratkan pegangan tangannya pada Petra seakan-akan takut kalau kekasihnya itu akan pergi—lagi.
.
.
.
Tuhan telah memberinya "Kesempatan Kedua"
Kesempatan untuk bisa memperbaiki keputusannya yang salah di masa depan.
Membawa kembali apa yang seharusnya belum boleh pergi...
Dan… menyentuh kembali dia…
.
.
.
TBC
.
.
.
# Balasan Review #
Kikiva-no : Gomen nasai! Baru bisa update /ditimpukin sandal/ Ini idenya juga dari salah satu doujinshi RiveTra lo hehehe Heichou itu memang paling asyik di bikin jadi orang yang cemburuan :3 /evil smirk/
White Malachite: Sangkyu koreksinya :D Lah kok jadi heichou yg mati? O.o
É : Ini masih bersambung say :D
Yukiryuu Acchan: Gomen nasai lama yak :( Aku gak ngehh kalo yg dikasih heichou itu lambang Petra, kirain teh disimpannya.. hahaha Setelah aku nanya sama teman ternyata itu memang lambang Petra yang dikasihin ke orang itu.. Jadi ini udah aku ganti jadi semi-canon… Gomen lagi ya (_ _)
AlayChildren: Yup saya juga suka banget Levi X Petra *^*
Shileedaelee99: Ini udah lanjut :)
Erisaren: Ini udah lanjut ^_^
.
.
.
a/n: Gomen banget kelamaan updatenya (_ _)
Buat semua fans RiveTra (Rivaille X Petra) bisa gabung di grup FB: RIVETRA INDONESIA
Ayo kita ramaikan pairing ini ^_^
.
.
.
Nah mind to review this chapter? :D
