Hai. Chap 2 is update. Sebenarnya chap ini sudah ready dari kemarin pertama kali aku ngepost chap 1nya. Yang chap satu itu pendek bgt ya? Sebenarnya tadinya mau digabung sama ini, tapi karena aku mau liat dulu ada gak yang tertarik, jadi dipisah deh. Hehe

Enjoy yah! Sorry for typo(s)

.

.

.

Park Chanyeol, kau harus bertanggung jawab!

Kau yang menyebabkan ini semua terjadi!

Aku membencimu.

Aku -mencintaimu.

.

.

Ini bukan salahku, karena memang dari awal ini semua sudah salah. Jangan menyalahkanku, aku tidak salah! Aku korban disini!

.

.

Seseorang yang kau benci jatuh dalam genggamanmu. Harusnya kau bahagia, kan? Mengapa kau malah tak tega? Dia yang telah menghancurkan hidupmu!

.

.

An EXO Fanfiction

REVENGE (IVORGGE)

Cast:

Byun Baekhyun as Baekkie (13 yo)

Park Chanyeol as Chanyeol (20 yo)

*n/b: Park Chanyeol pov is a Chanyeol's diary

Author pov is a story

This story has written by araraaa

Chapter 2/?

.

.

.

Chanyeol membangunkan Baekkie yang tertidur dimeja makan. Baekkie tersenyum samar ketika dilihatnya hyungnya sedang tersenyum padanya. "Maaf hyung, aku mengantuk," ujarnya pelan. Chanyeol mengangguk. "Kapan tugas Baekkie dikumpulkan?" tanya Chanyeol sambil menyodorkan sebuah mangkuk berisi ramen instan. Baekkie tampak berpikir sebentar. "Hmm.. Besok sudah harus dikumpulkan hyung," Chanyeol tersenyum maklum. "Yasudah. Biar tidak mengantuk, nanti cuci muka dulu sebelum mengerjakan tugasnya," Baekkie mengangguk lalu menatap hyungnya yang juga tengah menatapnya. "Hyung tidak makan?" tanyanya. Chanyeol menggeleng, "Baekkie saja,"

Baekkie merengut kesal, sikap kekanakannya belum hilang sepenuhnya. "Baekkie tidak mau makan kalau hyung tidak makan," Chanyeol menggigit bibirnya pelan, ia merasa resah. "Ramennya hanya ada satu. Untuk Baekkie saja, ne," ujar Chanyeol sambil tersenyum menatap Baekkie yang juga tengah menatapnya dalam. Chanyeol seakan memberi pengertian bahwa ia akan baik-baik saja meski ia sebenarnya belum makan sejak siang tadi.

Baekkie mendorong mangkuknya ketengah meja, mendekatkannya pada Chanyeol yang duduk diseberangnya. "Berdua," ujarnya pelan sambil tersenyum.

Chanyeol menatap ramen itu lama, tak tega pada adiknya. Ia tak ingin adiknya itu kelaparan. Bagaimanapun juga, porsi ramen instan itu sangat sedikit, apalagi jika dimakan untuk dua orang. Chanyeol menggeleng lemah. "Baekkie saja,"

Tanpa disangka, Baekkie langsung berdiri dan membawa ramen itu menuju ketempat Chanyeol. Baekkie duduk dikursi sebelah Chanyeol lalu memaksa kakaknya itu untuk menghadap kearahnya. Ia sedikit memaksa Chanyeol untuk membuka mulutnya. "Hyung... Aaaa~" Baekkie menyodorkan sumpitnya kearah Chanyeol. Awalnya namja berusia 24 tahun itu menolak, tapi karena tak kuasa melihat tatapan memelas dari adiknya, juga perutnya yang mulai terasa perih, ia pun akhirnya membuka mulutnya. Mereka pun makan semangkuk rame berdua.

.

.

.

Baekkie tampak menguap berkali-kali ketika Chanyeol sedang menjelaskan beberapa soal yang Baekkie tidak mengerti. Chanyeol menatap adiknya iba. "Baekkie, tidur saja, ne?" ujar Chanyeol khawatir. Ia takut Baekkie bangun terlambat besok. Eomma juga belum pulang. Chanyeol merasa gelisah.

Baekkie menggeleng. "Tapi tugas Baekkie belum selesai, hyung," ujarnya pelan. Chanyeol mengelus pucuk kepalanya sayang, dan itu membuat Baekkie semakin mengantuk.

Ting! Tong!

Suara bel mengalihkan perhatian Chanyeol. Ia tersenyum menatap Baekkie yang tengah meluruskan tangannya dimeja dan menjadikannya bantalan untuk tidur. "Hyung buka pintu dulu, mungkin eomma lupa membawa kunci," Baekkie mengangguk. Chanyeol sempat melirik jam dimeja nakasnya. Pukul 11.23 p.m. Tak biasanya eomma pulang selarut ini. 'Pasti pekerjaannya sulit,' batin Chanyeol.

Chanyeol hampir berlari ketika mendengar suara bel itu makin kencang. Seperti tidak sabaran. Cklek! "Eom- nuguya?"

"APA?!" Baekkie yang hampir tertidur terlonjak kaget mendengar suara teriakan Chanyeol. Namun beberapa saat kemudian, ia kembali tertidur.

Chanyeol baru saja selesai berbincang dengan 'tamu'nya. Ia berniat memberitahu Baekkie apa yang baru saja didengarnya. Ia membuka pintu kamar dan menemukan Baekkie tertidur dalam posisi duduk. Chanyeol menatapnya ragu lalu menghela nafas. "Beritahunya besok saja," gumamnya lalu mengangkat Baekkie ke ranjangnya. Biarkan malam ini Baekkie tidur dengan hyungnya.

.

.

.

Chanyeol terbangun dan menatap Baekkie yang masih tertidur disampingnya. Lalu mengalihkan pandangannya pada meja kecil disisi ranjangnya. Mengambil sebuah buku harian yang sudah hampir berbulan-bulan ia tinggalkan. Ia menatap buku itu lama lalu membukanya. Meraih pensil yang tersimpan ditengah buku lalu mulai mencoretkan beberapa kata.

.

.

.

29 Mei 2008

Semalam aku mendapat kabar buruk dari polisi yang datang ke rumah. Polisi itu bilang eomma berada di kantornya. Aku bingung harus menjawab apa. Akhirnya aku bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Dan dua polisi sialan itu menjawab kalau eomma ditemukan tewas di sebuah gang kosong. Polisi sudah bertanya dan mewawancarai beberapa karyawan eomma dan kebanyakan bilang eomma pergi setelah menerima telepon. Eomma tidak bilang siapa yang menelponnya. Ia hanya pamit pada sekertarisnya dan berkata kalau ia akan secepatnya kembali.

Tak ada satupun petunjuk dijasad eomma. Pembunuhnya benar-benar seperti hantu, pergi meninggalkan eomma tanpa jejak. Aku ingin menangis sejak semalam, namun aku tidak tega pada Baekkie. Ia pasti sangat sedih. Jika aku menangis Baekkie pasti makin sedih. Aku belum memberitahunya. Ia masih tertidur sekarang. Mungkin nanti setelah ia bangun aku akan memberi tahunya secara perlahan.

.

.

.

Baekkie terbangun tepat saat Chanyeol mengembalikan buku itu ditempatnya semula. Chanyeol tidak sengaja menyenggolnya dan itu membuatnya terjaga. "Ada apa hyung?" tanya Baekkie pelan dengan suara khas orang baru bangun tidur, serak. Tangannya pun sibuk mengucek kedua matanya. Chanyeol mengelus rambutnya pelan. "Gwaenchana, Baekkie. Setelah ini kau mandi, ya. Kita harus-"

"Baekkie tahu, hyung. Baekkie akan bersiap," potong Baekkie lalu turun dari ranjang Chanyeol. "Tidak Baekkie, tunggu," Chanyeol menahan Baekkie yang sudah hampir memasuki kamar mandi di kamarnya.

"Ah, iya. Ini kan kamar hyung. Baekkie akan mandi di kamar Baekkie," Baekkie berjalan pelan menuju pintu kamar Chanyeol. Chanyeol bangkit dan kini ia menyeret Baekkie kembali ke ranjang, duduk bersamanya. "Ada yang ingin hyung bicarakan,"

Mata sipit Baekkie mengerjap. "Tugas Baekkie belum selesai! Baekkie ingat sekarang hyung, aku kita kerjakan, sebelum kita terlambat ke-"

"Baekkie, jangan memotong ucapan hyung, sayang," Chanyeol mengelus rambut Baekkie pelan. Sedikit gemas sebenarnya. Tapi ia hanya gemas, tidak merasa kesal sedikitpun. "Kita harus ke pemakaman,"

"Apa? Memang hari ini adalah hari peringatan meninggalnya Park appa?" tanya Baekkie agak kaget. Chanyeol menghela nafas pelan. "Bukan appa, tapi eomma,"

Mata sipit indah itu seakan ingin merangsek keluar. "Eomma? Wae?" tanyanya sedikit bergetar. Ia merasa gelisah. Ia sudah kehilangan keluarganya, okay? Jangan buat ia kehilangan orang yang ia sayangi lagi.

Ya, ia menyayangi Chanyeol dan eomma. Juga appa. Mereka sangat baik pada Baekkie. Andai Chanyeol tak menolongnya waktu itu, akankah Baekkie bisa bertahan hidup?

Lagi, Chanyeol menghela nafas. "Eomma meninggal. Ditemukan di- sebuah gang kosong," Chanyeol memperhatikan Baekkie, hendak melihat bagaimana reaksi adik angkatnya itu. Bahunya bergetar, bibir dan tangannya juga bergetar. Matanya terpejam erat.

"Hyung bercanda kan? Pasti eomma sedang memasak dibawah. Baekkie mau lihat eomma," ujarnya. Sekuat tenaga ia berusaha menyingkirkan segala pikiran buruk yang menghantuinya. Ia bangkit perlahan, hendak berjalan namun Chanyeol menariknya, dan mendudukkannya lagi.

"Hyung serius Baekkie. Sekarang, kau mandi dan hyung akan membeli sarapan. Kau tidak masuk sekolah hari ini, kita harus memberi penghormatan terakhir untuk eomma,"

.

.

.

Baekkie mengetuk-ngetukkan jarinya dimeja makan. Ia menunggu Chanyeol yang sedang mandi. Tak lama, Chanyeol sudah tiba dihadapannya. Baekkie tersenyum samar. Chanyeol dapat melihatnya. Melihat kesedihan Baekkie.

Makanan sudah dihidangkan. Namun Baekkie hanya memainkan sumpitnya. "Makanlah dengan baik, Baekkie. Eomma tidak akan suka melihatmu seperti ini," Chanyeol menegur Baekkie perlahan. Baekkie hanya menatapnya dengan tatapan lemah. Sungguh, Chanyeol tidak tega. Tapi, ia tidak mungkin menyembunyikan fakta, bukan?

Baekkie bangkit dan mendorong piringnya. "Baekkie sudah selesai," gumamnya lalu berjalan menjauhi ruang makan. Chanyeol ikut berdiri. "Jangan begini Baekkie. Eomma menginginkan kita sehat-sehat saja. Eomma pasti sedih melihat anak kesayangannya ini tidak mau makan. Apa kau mau hyung suapi?" tanya Chanyeol pelan. Baekkie menatap Chanyeol penuh harap.

Hanya Chanyeol yang ia punya sekarang.

"Hyung suapi. Ayo kembali kesini Baekkie," dan Baekkie perlahan melangkahkan kakinya mendekati meja makan.

.

.

.

2 Juli 2008

Hidup tanpa eomma benar-benar menyedihkan. Aku tak merasa kerepotan dengan Baekkie, sungguh tidak! Aku menyayanginya. Kami saling menyayangi. Kami saling membantu. Ia tak pernah sekalipun menyusahkanku. Namun tetap saja, aku masih belum terbiasa dengan status baruku -yatim piatu. Tanpa orang tua. Aku hanya hidup berdua, dengan adikku.

Aku yakin Baekkie jauh lebih terpukul lagi. Ia sudah kehilangan orang tuanya sejak umurnya 8 tahun. Usia yang sangat muda. Sedangkan aku? Aku kehilangan orang tuaku disaat aku berusia 24 tahun. Dan aku jauh lebih beruntung, aku ditinggalkan orang tuaku saat aku bersama Baekkie. Sedangkan Baekkie? Ia ditinggalkan orang tuanya sendirian. Tanpa kakak yang bisa menjaganya atau adik yang bisa menjadi alasannya bertahan hidup.

Sampai saat ini aku masih heran, Baekkie sama sekali tidak mengeluarkan air mata sejak ia tinggal bersamaku, 9 tahun yang lal. Terakhir kali aku melihatnya menangis adalah saat dimana aku membawanya masuk kedalam mobil yang kugunakan setelah pesta perayaan ulang tahun perusahaan appa. Saat itu umurku masih 15 tahun.

Aku pernah membaca, mengeluarkan air mata dapat membuat hati kita merasa lega. Apa karena itu aku selalu melihat Baekkie tertekan? Belakangan ini, terutama semenjak eoma meninggal, ia tampak begitu tak bersemangat. Aku sangat prihatin dengan keadaannya. Kadang bahkan ia tak mau makan jika tak kusuapi. Apakah di sekolahnya ia juga seperti itu?

Aku mengkhawatirkannya. Sangat. Ya Tuhan, jagalah adikku...

.

.

.

Baekkie mengintip hyungnya yang sedang mencoretkan kata-kata dalam buku hariannya. Baekkie tersenyum kecil, ia sadar ini salah. Ia menyayangi hyungnya, tapi ini berlebihan. Rasa sayangnya berlebihan.

"Aku sudah bukan anak kecil lagi. Aku harus ingat itu baik-baik," matanya kembali melirik kedalam kamar hyungnya. Tampak hyungnya sedang menutup buku hariannya dan menggantinya dengan buku lain. Baekkie tersenyum miring.

"Dan aku tahu apa yang seharusnya aku lakukan. Yang seharusnya sudah aku lakukan," gumamnya lalu meninggalkan kamar Chanyeol.

TBC

.

.

.

Holaaa~ disini aku mau menjelaskan sesuatu, kalo ada yang bingung. Tidak juga tidak apa-apa-_- jadi gini, latar waktu yang digunakan itu, sesuai dengan diarynya Chanyeol. Misalnya di diary Chanyeol tahun 2008, maka dicerita dibawahnya itu 2008, sampai ketemu diary Chanyeol lagi. Gitu, ngerti gak? Jadi kalo mau tahu mereka umur berapa, liat aja dari diarynya Chanyeol. Gitu maksud aku-_- gak ngerti juga? Tanyain lah di kotak review-_- ternyata setelah kesombonganku dibeberapa ficku sebelumnya. Terungkap juga kan kalo aku sebenarnya cerewet?-_-

oke, last, review please?