oiya, buat yg gk bisa bayangin gimana zombi nya bisa nonton film yg ada zombi nya tuh :v soalnya saya terinspirasi dari film itu :v saya rekomendasiin yg judulnya train to busan, i am a hero, world war z dan lainnya bisa search aja di gugel oke.
tapi klo yg udh pernah nonton malah bagus :v
dan judul ff ini agak ngasal karna saya emng gk bisa bikin judul :v harap maklumi :v
oke sekian bacotan saya.
warning: typo betebaran, kata2 kelewat alay, gaje, ooc, dll
Destiny is Above Your Head
Chapter 2
"Sousuke!" Rin yang melihat wanita itu akan menyerang Sousuke dengan segera berlari kearah wanita tersebut. Sambil membawa sebuah nampan yang sedari tadi ia pegang. Dengan sekuat tenaga ia memukul wajah wanita itu dengan nampan. Lumayan keras sampai wanita itu mundur beberapa langkah dan terjatuh.
Kembali wanita itu berdiri dengan susah payah. Ia melirik kearah samping yang terdapat banyak orang yang menghindarinya. Sedetik kemudian ia menyerang kerumunan orang-orang tersebut dan mulai menggigit orang yang ada disana.
Sousuke mulai lengah karena aksi wanita tersebut sampai ia lupa bahwa ia sedang menahan orang yang sama dengan wanita tersebut. Cengkraman kuat Sousuke terlepas dan pria tersebut mulai menyerang orang yang ada didekat pintu kaca. Orang yang diserang tersebut tidak dapat menghindari dan pria itu menggigit salah seorang disana. Teriakan kesakitan menggema diseluruh penjuru restoran ditambah teriakan histeris orang-orang yang mencobamenghindari pria tersebut.
Sousuke menarik tangan Rin mencoba menghindari serangan itu. Kemudian ia melihat orang-orang yang beberapa detik yang lalu digigit oleh wanita tadi. Beberapa orang mulai mengalami kejang-kejang yang tidak wajar. Sousuke dan Rin mulai meneguk ludah. Keringat dingin bercucuran di pelipis mereka.
Segera Sousuke berlari kearah dapur sambil menarik tangan Rin. Sekaligus mereka berdua memberi isyarat pada pengunjung restoran yang masih selamat untuk mengikutinya. Langsung semua orang berlari ke arah dapur, namun ada beberapa orang yang tidak beruntung dan akhirnya tergigit oleh orang yang terkena virus aneh ini. Jeritan kesakitan pun tak dapat dihindari.
Kurang lebih sepuluh orang masuk ke dalam dapur. Kemudian Sousuke segera mengunci pintu dapur tersebut. Namun setengah bagian atas dinding dapur yang terbuat dari kaca membuat mereka terlihat dan orang-orang yang tergigit tadi mulai berjalan kearah dapur dengan wajah seram.
Sousuke menarik meja yang ada dibelakangnya dan mendorongnya ke arah pintu agar pintu tidak dapat dibuka dengan mudah.
"Pa-paman!" mata Rin terbelalak saat ia melihat kepala restoran itu berteriak kesakitan di luar dapur. Lalu matanya melihat ke arah Rin dan tersenyum simpul kepadanya. Tak lama matanya tertutup.
"Rin, jangan!" Rin hendak berlari keluar namun lengannya ditahan oleh Sousuke.
Tangannya meremas mantel hangat Sousuke yang berwarna kecoklatan.
"Sudahlah aku yakin kita akan baik-baik saja." Terus mengusap lembut rambut Rin.
"Tapi paman tidak baik-baik saja... bagaimana ini?" Gumam Rin agak gemetar.
BRAK BRAK BRUK
Pintu dapur terus didobrak oleh para Zero Human tersebut. Walaupun mereka tidak sadar mendorong pintu itu namun lama kelamaan knop pintu dapur itu rusak dan meja yang tadi Sousuke pakai untuk mengganjal pintu tersebut mulai terbuka.
Mereka melihat kaca dapur yang sedikit retak. "Kita keluar lewat pintu belakang" Gumam Rin kepada Sousukesambil menarik lengan bajunya. Sousuke mengangguk dan kemudian melihat lihat isi dapur mencari pintu belakang dapur. Tak lama ia melihat pintu itu berada di dekat lemari besar beberapa meter didepannya.
Sousuke melangkahkan kakinya kearah pintu dapur. Kemudian memegang knop pintu. Sedikit meremasnya karena ragu, takut tiba-tiba muncul Zero Human dibelakang pintu ini. Dibelakang restoran ini terdapat gedung lain yang membelakangi restoran. Menjadikan belakang dapur ini gelap dan sempit. Membuka pintu perlahan dan kepalanya ia keluarkan.
Matanya melihat-lihat kanan kiri. Sebelah kanannya hanya tempat gelap yang menjadi bagian belakang gedung-gedung tinggi dan disebelah kirinya jalan raya yang terlihat sepi dari lalu lalang pengguna jalan.
Melihat keadaan yang aman ia segera mengisyaratkan orang orang untuk keluar lewat pintu ini. Satu persatu orang mulai keluar. Sousuke dan Rin menjadi orang yang terakhir keluar. Mereka melihat kearah dapur bagian depan yang setengahnya terbuat dari kaca tersebut. Kaca itu mulai retak dan meja berat yang menyangga pintu depan mulai menggeser kedalam. Segera mereka menutup pintu belakang.
"Semuanya berjalanlah pelan-pelan dan jangan bersuara." Sousuke sedikit berbisik agar suaranya tidak terdengar terlalu keras. Semua orang membelalakan mata saat melihat ke dalam dapur. Mereka menjerit ketakutan kemudian lari terbirit-birit tanpa arah yang jelas.
Rin dan Sousuke yang tetap tenang walaupun juga ada rasa takut di hati mereka mencoba meminta orang orang itu untuk tenang dan tidak bersuara. Namun percuma, semua orang panik dan lari ketakutan ke arah jalan raya.
Mereka berdua tidak ada pilihan selain ikut lari kearah jalan raya. Tetapi yang ada hanya sekumpulan Zero Human dibalik gedung tinggi ini. Tak dapat dihindari orang orang yang berlari itu menjadi mangsa para Zero Human itu.
Sousuke yang menyadari keadaan segera menarik tangan Rin mencoba membalik arah kearah tempat gelap yang ada dibelakangnya untuk bersembunyi. Namun percuma, Zero Human yang ada didalam dapur telah menerobos pintu depan dapur dan keluar dari pintu belakang. Segerombolanorang tersebut berjalan kearah mereka berdua. Sousuke kembali membalik arah sambil terus menarik lengan Rin. Yang ditarik tangannya hanya bisa terus mengikuti dari belakang.
Berlari menembus para Zero Human yang sibuk menggigit orang orang yang tadi bersama mereka. Sousuke yang melihat itu hanya bisa menggertakan giginya kesal karena tidak bisa menyelamatkan mereka. Begitupun dengan Rin.
Di depan mereka berdua masih ada beberapa orang yang masih selamat. Beberapa dari mereka sulit untuk berlari karena rasa takut yang menguasai diri mereka.
Dari arah depan terdengar tangisan bayi. Terlihat seorang perempuan paruh baya yang sedang menggendong bayinya dan terus berlari menghindari serangan. Ia beruntung karena ada beberapa orang di belakangnya. Alhasil ia masih bisa meloloskan dirinya dari gigitan.
Disebelahnya juga ada seorang pria yang mungkin suaminya ikut lari bersama perempuan tersebut.
Perempuan itu pun akhirnya tidak kuat berlari dan terjatuh juga dengan nafas terengah-engah. Pria disebelahnya mencoba memapahnya agar ia bisa terus berjalan. Tangisan bayi itu membuat para Zero Human terpancing. Sousuke yang melihat itu langsung mencari sesuatu disekitarnya. Benda seperti kayu yang keras yang bisa ia pakai untuk memukul. Sebuah gagang bisbol tergeletak tak jauh dari dirinya. Segera ia ambil dan menyerang para Zero Human yang akan menyerang mereka berdua. Pasangan suami istri yang ada di depan mereka kembali berlari dengan susah payah memanfaatkan keadaan untuk menyelamatkan diri.
Perhatian para Zero Human teralihkan pada Sousuke dan Rin. Berjalan terburu-buru ke arah mereka berdua mencoba menyerang. Rin pun mencari sesuatu disekitarnya yang bisa ia pakai untuk menyerang. Sebuah tongkat besi tipis yang ada di sebelah kakinya ia ambil. Kemudian menghantamkan ujungnya ke arah dada -tepat di jantung- salah satu Zero Human. Darah segar bercucuran keluar dari dadanya. Wajah Rin meringis melihatnya sekaligus ngilu. Sousuke ikut menyerang dengan menghantamkan tongkat bisbol itu tepat di kepala. Rin mendorong tongkat besi itu dan kemudian menariknya keluar dari dada orang tersebut.
Sousuke memukul Zero Human yang lain agar mereka berdua bisa lewat. Kembali menarik lengan Rin dan berlari melewati para Zero Human. Sepasang suami istri yang ada di depan mereka masih terus berlari. Namun tiba-tiba saja seorang Zero Human yang sedang terlentang menyerang pria tersebut dengan agresif. Menggigit pria itu di bagian kaki. Pria itu pun terjatuh. Ia berteriak histeris sambil menendang-nendangkan kakinya mencoba melepaskan gigitan itu. Sang istri ikut histeris melihatnya sambil terus menggendong bayinya yang terus saja menangis.
Sousuke dan Rin menghentikan langkah kaki mereka. Mereka tak bisa lagi menolong pria itu. Kemudian mereka kembali berlari kearah perempuan itu dan menarik perempuan itu untuk segera lari menjauh. Namun perempuan tersebut terus menangis histeris melihat suaminya yang hampir tidak sadarkan diri.
"Per-... pergilah... selamatkan... dirimu..." lirih pria itu sambil terus melihat ke arah istrinya dengan susah payah. Nafasnya memburu dan tidak teratur. Wajahnya mulai menampakan urat urat tebal menandakan bahwa ia akan segera berubah dan mulutnya memuntahkan darah segar yang begitu banyak.
"Tidak! Suamiku!" Tangisannya makin kencang saja tatkala Rin menarik perempuan itu menjauh.
"Ayo nyonya, kita pergi! Suamimu tidak bisa diselamatkan lagi." Ujar Rin dengan berat hati. Ia tau bagaimana rasanya kehilangan orang terkasih. Sousuke membantu memapah perempuan tersebut.
Mereka terus berlari dengan susah payah menjauhi area belakang dapur. Sousuke berlari memutari restoran mencoba kembali kearah depan restoran. Melihat keadaan depan restoran sepi, ia terus berlari ke arah parkiran sambil terus menuntun Rin dan perempuan tersebut. Bayi yang digendong perempuan itu sudah tenang sekarang. Isak tangis sang ibu pun mulai mereda.
"Kita akan kemana Sousuke?" Rin bertanya sambil terus berlari mengikuti langkah Sousuke. Pelipis mereka terus berkeringat walaupun malam ini dingin.
"Aku membawa mobil saat kesini. Kita akan pergi menggunakan mobil" jawab Sousuke. Mereka hampir sampai ditempat parkir. Tiba-tiba Sousuke menghentikan langkahnya yang diikuti Rin dan perempuan itu. Nafas mereka terengah-engah disertai mulut yang mengeluarkan uap dingin.
Segera mereka bersembunyi dibalik tembok yang menjadi pembatas parkiran dengan restoran saat mereka melihat para Zero Human berkeliaran di tempat parkir. Tembok yang hanya memiliki tinggi kurang lebih satu meter membuat mereka terduduk dan menundukan kepala mereka.
.
.
.
To be continue~
leh ugha panjang bet padahal niatnya mau bikin pendek :"v
lagian jg yg baca kagak ada njir sad sangad.. yah mungkin ini bukan waktunya gw femes/plak/ :v
