Disclaimer © Tite kubo

(Bleach bukan punya saya)

Un amore

by

Ann

Warning : AU, OOC (Sesuai kebutuhan cerita), Typo, Gaje (Mungkin juga…)

Don't like? Don't read please,,,,,

And then…

Enjoy reading!

Chapter 2 : Pertemuan

Awal dari rasa ini adalah keingintahuan. Rasa penasaran yang membuatku ingin mengenalmu.

Kriiing! Kriiing! Kriiiiiing!

Jam weker berwarna oranye itu berbunyi nyaring menandakan waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi.

Rukia melempar selimut yang menutup tubuhnya, meraih jam weker miliknya yang terletak di atas meja di samping tempat tidurnya dan mematikan bunyi jam weker itu. Gadis itu meletakkan kembali jam weker ke tempatnya semula kemudian menuju lemari pakaian untuk mengambil handuk dan pakaian ganti lalu beranjak ke kamar mandi. Meskipun hari ini minggu dan ia tidak bekerja tapi Rukia selalu membiasakan diri untuk bangun seperti hari-hari biasa.

Lima belas menit kemudian gadis berambut hitam sebahu itu keluar dari kamar mandi dengan memakai sebuah gaun tipis berwarna lembayung berlengan pendek sebatas lutut. Rukia beranjak megambil tasnya untuk memeriksa ponselnya yang dari semalam belum ia keluarkan dari dalam tasnya. Rukia tertegun saat menemukan sebuah benda asing di dalam tasnya, benda itu terasa asing karena ia merasa tidak pernah membeli atau memiliki benda itu. Sebuah kotak beledru berwarna biru malam. Rukia mengeluarkan kotak itu dan membukanya. Seketika ingatan kejadian tadi malam kembali pada Rukia, ingatan bagaimana ia mendapatkan kotak berisi cincin itu dan tentu saja pria yang memberikannya. Pria asing berambut oranye yang meski sedang muram tetap saja terlihat sangat tampan.

"Jangan memikirkannya!" Rukia menghalau bayangan pria tak bernama yang ditemuinya tadi malam.

"Cantik sekali," gumam Rukia sambil mengeluarkan cincin dari dalam kotak. "Sayang aku mendapatkannya dengan cara seperti itu." Rukia menyematkan cincin itu di jari manisnya dan mendapati cincin itu terlalu besar untuk ukuran jarinya. "Cincin ini memang bukan untukku," ujarnya. "Aku harus mengembalikannya pada pemiliknya meski dia bilang memberikannya padaku tapi aku tidak bisa menerimanya begitu saja. Yang jadi masalah sekarang dimana aku bisa menemukan pemiliknya?"

"Onii-chan sudah bangun?" seru Yuzu sambil mengetuk pintu kamar kakak sulungnya. Karena tidak kunjung mendapat jawaban Yuzu memutuskan membuka pintu kamar kakaknya yang ternyata tidak dikunci.

"Ichi-nii?" panggil Yuzu sambil melangkah masuk ke kamar kakaknya yang masih gelap karena gorden jendelanya belum dibuka. Yuzu langsung melangkah menuju jendela dan menyingkap gorden sekaligus membuka jendela supaya udara pagi yang segar bisa masuk ke dalam ruangan.

"Ichi-nii ke mana?" Yuzu terlihat bingung saat mendapati tempat tidur kakaknya sudah rapi bahkan terlalu rapi seperti tidak ada yang tidur di tempat tidur itu tadi malam. Yuzu segera berlari keluar dari kamar kakaknya dan menuruni tangga sambil berseru memanggil ibunya.

"Kenapa kau berteriak, Yuzu?" tanya Karin, kakak kembar Yuzu yang baru keluar dari kamar mandi.

"Ichi-nii tidak ada," sahut Yuzu panik.

"Mungkin Ichi-nii pergi ke suatu tempat, hari ini, kan minggu mungkin Ichi-nii pergi kencan," ujar Karin. Bertolak belakang dengan Yuzu gadis berambut hitam sebahu itu sama sekali tidak nampak khawatir apalagi panik.

Yuzu menggeleng. "Tidak mungkin, kalau Ichi-nii pergi pasti kaa-san tidak menyuruhku membangunkannya," jelas Yuzu. "Tapi tempat tidur Ichi-nii terlihat rapi, seperti tidak dipakai tadi malam."

"Kalau begitu Ichi-nii tidak pulang dari tadi malam?" Karin menyimpulkan.

Yuzu menggeleng. Gadis berambut oranye itu nampak bingung juga panik takut terjadi hal buruk pada kakak sulungnya.

"Kenapa Yuzu-chan?" tanya Masaki yang baru keluar dari dapur, wanita itu masih memakai apronnya karena ia belum menyelesaikan masakan untuk makan pagi keluarganya.

"Ichi-nii tidak ada di kamarnya," jawab Yuzu.

"Eh?" Masaki menelengkan kepala. "Sudah kau cari? Mungkin dia sudah keluar dari kamar, di ruang keluarga atau halaman samping."

"Yang pasti tidak di kamar mandi karena aku baru dari sana," ujar Karin.

"Akan kucari," ujar Yuzu bersamaan dengan dering telepon rumah.

Karin segera menjawab telpon karena posisinya yang paling dekat. "Dengan keluarga Kurosaki," ujarnya. "Iya, itu mobil kakak saya." Karin berbincang dengan si penelpon sementara Masaki dan Karin merapat padanya utk ikut mendengarkan. "Di mana?" Karin mencatat sesuatu di kertas memo. "Ya, terima kasih."

"Siapa?" tanya Masaki setelah putri sulungnya itu memutuskan sambungan telepon.

"Polisi," jawab Karin dan ia buru-buru melanjutkan karena melihat wajah ibu dan adikknya yang memucat. "Mereka menelpon untuk memberitahu kalau mobil Ichi-nii diderek ke kantor polisi karena parkir sembarangan."

"Lalu kakakku?" tanya Masaki.

"Tidak di sana karena polisi menyuruh Ichi-nii ke sana untuk mengurus surat tilang," jawab Karin.

"Ke mana dia?" Masaki terlihat khawatir. Masaki segera meraih gagang telpon dan menghubungi ponsel putranya. "Yuzu, bangunkan ayahmu," ujarnya.

"Apa terjadi sesuatu pada Ichi-nii?" tanya Yuzu dengan suara pelan.

"Tidak ada yang terjadi pada Ichi-nii, Yuzu," jawab Karin tegas, berusaha menenangkan adiknya meski sebenarnya ia sama khawatirnya dengan adik kembarnya itu. "Ichi-nii pasti baik-baik saja, sekarang bangunkan ayah," tambahnya.

"Bagaimana?" tanya Karin pada ibunya setelah Yuzu pergi untuk membangunkan ayah mereka.

Masaki menggeleng. "Ponsel kakakmu tidak aktif," jawabnya.

"Sebenarnya Ichi-nii ke mana? Kenapa meninggalkan mobilnya?"

"Sore kemarin kakakmu pamit untuk pergi makan malam bersama pacarnya setelah itu kaa-san tidak bertemu kakakmu lagi. Kaa-san pikir dia pulang semalam… harusnya kaa-san memeriksa apa kakakmu pulang atau tidak semalam," ujar Masaki.

"Kaa-san jangan berpikir yang macam-macam, Ichi-nii akan baik-baik saja, Ichi-nii akan pulang sebentar lagi," kata Karin. Masaki tersenyum. Saat ini bukan saatnya menjadi lemah, ia harus tegar.

"Ada apa?" Isshin, suami Masaki dan ayah dari si kembar Karin dan Yuzu muncul beberapa saat kemudian dengan masih memakai piyama dan dengan wajah yang masih mengantuk. Masaki menceritakan semuanya termasuk telpon dari kantor polisi.

"Aku akan mencarinya," kata Isshin seraya bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya namun ayah tiga anak itu urung masuk ke kamar mandi saat terdengar suara pintu terbuka dan tertutup lagi dari pintu depan rumahnya. Semua anggota keluarga Kurosaki bergegas menuju pintu depan sambil berharap yang datang adalah Ichigo. dan benar saja yang datang memang putra sulung keluarga itu.

"Ichi-nii!" Yuzu segera berlari dan memeluk kakaknya.

"Yuzu?" kening Ichigo berkerut, terlihat bingung kenapa adiknya tiba-tiba memeluknya.

"Ichi-niibahkan tidak sadar membuat orang satu rumah khawatir," ujar Karin, tidak ada nada kesal dalam suaranya malah gadis kelas 1 Sekolah Menengah Atas itu terlihat lega kakaknya pulang dengan selamat.

"Maaf," ucap Ichigo. Ucapan yang ditujukan pada seluruh anggota keluarganya. "Maaf, Yuzu. Aku membuatmu khawatir," ucapnya pada Yuzu.

Yuzu melepas pelukannya dan menyusut air mata dari sudut matanya dengan jari. "Yang penting Ichi-nii pulang dengan selamat," ujarnya.

"Mobilmu ada di kantor polisi," Isshin memberitahu.

"Nanti akan kuurus," ujar Ichigo seraya melangkah masuk ke dalam rumah tanpa memberikan penjelasan lebih.

"Ichi," panggil Masaki.

"Aku capek, kaa-san," sahut Ichigo sambil lalu. Kedua orangtuanya hanya saling pandang, sepakat bahwa sesuatu memang terjadi pada satu-satunya anak lelaki mereka itu.

Rukia baru menyelesaikan makan siangnya saat ponselnya berbunyi dengan nada dering khusus yang dipasangnya untuk panggilan dari orang tuanya yang tinggal di Soul Society yang berjarak tiga jam perjalanan dari Karakura, kota tempat Rukia bekerja. Sebenarnya Rukia bisa dengan mudah mendapatkan pekerjaan di kota kelahirannya bahkan ia bisa saja langsung bekerja di pabrik kain milik ayahnya.

"Ya, kaa-san," sapa Rukia.

"Kau dimana?" tanya sang ibu.

"Di rumah," jawab Rukia meski agak bingung dengan maksud pertanyaan ibunya.

"Hari ini kau sibuk?"

Rukia mendapat firasat kurang enak dengan pertanyaan ibunya berikutnya, jangan-jangan…

"Tidak terlalu, ada apa kaa-san?"

"Bagus kalau begitu, kaa-san sudah mengatur pertemuanmu dengan anak kenalan kaa-san. Dia seorang pengacara, pathner muda di sebuah firma pengacara di Karakura, dia tampan dan dari keluarga yang baik…"

Nah, kan, dugaan Rukia tidak salah. Ibunya lagi-lagi mengatur kencan buta untuknya. Ini memang bukan kali pertama Kuchiki Hisana mengatur kencan buta untuk anaknya, sudah berkali-kali wanita itu mengatur hal tersebut namun akhirnya selalu sama yaitu gagal.

"Kaa-san…," Rukia memohon. Ia sudah bosan menuruti ibunya untuk pergi menemui lelaki yang dipilihkan ibunya sebagai pasangan untuknya karena selama ini tidak ada satupun calon yang dipilihkan ibunya sesuai dengan yang Rukia inginkan. Bukannya karena Rukia terlalu pemilih tapi karena memang gadis itu tidak merasakan getaran saat bersama calon-calon yang disodorkan padanya. Rukia tidak mengharapkan akan jatuh cinta pada pandangan pertama, ia hanya berharap bertemu seseorang yang bisa menggetarkan hatinya.

"Kaa-san sudah mengaturnya, kau harus datang untuk menemuinya. Hanya bertemu lalu berkenalan apa susahnya?" ujar Hisana.

"Kalau saja tidak ada tujuan lain dari perkenalan itu, aku tidak masalah jika harus bertemua dengan seratus lelaki sekalipun. Tapi aku tahu kaa-san punya maksud lain memperkenalkanku dengan mereka," ujar Rukia.

"Kaa-san hanya coba membantumu dengan mengenalkanmu dengan anak kenalan kaa-san, siapa tahu kau merasa cocok dengan salah satu dari mereka dan memutuskan menikah," kilah sang ibu.

"Kaa-san, soal pernikahan aku…"

"Iya, iya, kaa-san tahu kau ingin mencari pasanganmu sendiri tapi tidak masalah, kan jika kaa-san memberi sedikit bantuan," potong Hisana sebelum Rukia sempat menyelesaikan kalimatnya.

"Aku tidak perlu bantuan," gerutu Rukia.

"Ayolah, sayang. Sekali ini saja," bujuk ibunya.

'Sebelum-sebelumnya juga begitu,' batin Rukia.

"Kau harus datang, jangan mengecewakan kaa-san," tegas Hisana.

"Baiklah," Rukia akhirnya menyerah.

"Itu baru anak kaa-san, nanti kaa-san kirim alamat tempat pertemuannya." Rukia tahu kalau ibunya sekarang pasti sangat senang.

"Bersikap baiklah, Rukia-chan," pesan ibunya sebelum hubungan telpon dimatikan.

"Semoga kali ini berhasil," Rukia berdoa.

Tok… tok… tok…!

"Ichigo, kaa-san membawakanmu makanan," panggil Masaki dari luar kamar putranya. "Ichi?" perlahan Masaki membuka pintu kamar Ichigo dan melangkah masuk ke dalam kamar anaknya itu. Masaki menemukan putranya duduk di sofa yang ada di sudut kamarnya. Putranya itu hanya duduk diam tanpa melakukan apa-apa bahkan tidak menyadari kalau ibunya sudah berdiri di depannya dan meletakkan nampan berisi makanan di meja kecil yang ada di samping sofa tempatnya duduk.

"Kaa-san?" Ichigo baru menyadari kehadiran ibunya setelah bermenit-menit ibunya menatanya.

Masaki tersenyum dan duduk disamping putranya.

"Sebenarnya apa yang terjadi semalam?" tanya Masaki hati-hati.

"Tidak ada," kilah Ichigo.

"Pasti ada, tidak mungkin anak kaa-san jadi seperti ini kalau tidak terjadi apapun," ujar ibunya.

Ichigo tersenyum kecil. "Tidak ada yang bisa kusembunyikan dari kaa-san," ujarnya.

"Aku ibumu dan seorang ibu selalu tahu jika terjadi sesuatu pada anaknya," jelas Masaki. "Jadi, ceritakan pada kaa-san apa yang terjadi. Apa Inoue menolakmu?"

Ichigo menggeleng. "Aku dicampakkan bahkan sebelum aku melamarnya," jawab Ichigo.

"Apa?" Masaki tidak sempat menyembunyikan keterkejutannya. "Inoue mencampakkanmu? Kenapa?"

Ichigo menggendikkan bahu. "Terlalu banyak perbedaan dia bilang," jawab Ichigo setengah menerawang.

"Apa-apaan gadis itu, memutuskan putraku karena alasan seperti itu," Masaki mengomel. "Kalau memang mau putus harusnya cari alasan yang lebih baik."

Ichigo tersenyum, omelan ibunya membuatnya kembali bisa tersenyum. "Jadi, kaa-san mendukung dia memutuskanku asal alasannya sesuai?" tanyanya.

Mulut Masaki mengerucut, kadang ibu tiga anak itu terlihat seperti anak-anak. "Bukan begitu maksud kaa-san."

Ichigo menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. "Aku tahu," gumamnya.

Masaki menatap putranya itu, meraih tangannya dan menepuknya pelan. "Putus cinta bukanlah akhir dunia, Ichi. Kau boleh bersedih tapi jangan berlarut-larut, hidupmu masih panjang kau masih akan bertemu banyak gadis lagi dan pastinya jodohmu akan lebih baik dari si Inoue itu," ujarnya. "Kaa-san tahu mengatakan lebih mudah daripada melakukan tapi hanya ini yang bisa kaa-san lakukan saat ini, berusaha menghiburmu sebisa kaa-san meskipun mungkin tidak terlalu membantu," tambah Masaki.

Ichigo menggeleng. "Kaa-san sudah sangat membantu, duduk disini mendengarkanku dan memberiku semangat, itu sudah lebih dari cukup," ucap Ichigo seraya merangkul ibunya. "Terima kasih, kaa-san."

The Coffee sebuah Coffee Shop yang berada di dalam pusat perbelanjaan di Karakura cukup ramai malam ini, kebanyakan tamunya adalah kaum muda. Rukia melangkah masuk ke dalam Coffee Shop itu dan disambut oleh aroma kopi yang berbaur dengan aroma kayu manis, Rukia langsung tergoda untuk memesan segelas cappucinno atau latte atau mungkin segelas kopi arabika. Ia mengatakan kalau ia memiliki janji temu pada pramusaji yang berdiri di dekat pintu masuk dan pramusaji itu mengantarnya ke meja yang berada di sudut Coffee Shop. Meja untuk empat orang yang agak terlindung oleh miniatur pohon jeruk. Di meja itu sudah menunggu seorang laki-laki memakai jas semi-formal berwarna abu-abu. Mata emeraldnya menatap datar Rukia dari ujung kaki hingga puncak kepala.

"Selamat malam, saya Kuchiki Rukia," sapa Rukia.

"Saya tahu, silahkan duduk," sahut lelaki berambut hitam itu sembari memberi isyarat agar Rukia duduk, lelaki itu bahkan tidak repot-repot berdiri untuk menyambut kedatangan Rukia dan hal itu membuat lelaki itu sukses mendapat satu nilai minus dari Rukia.

"Saya Ulquiorra Schiffer," lelaki itu memperkenalkan diri setelah Rukia duduk.

"Sudah lama menunggu?" tanya Rukia. Sebenarnya gadis itu enggan meneruskan perkenalan ini, kalau bisa ia ingin segera pulang dan berbaring di kamarnya tapi ia sudah berjanji untuk bersikap baik jadi ia tetap bertahan dan berbasa-basi dengan dengan teman kencan buta yang dipihkan ibunya. Rukia berjanji dalam hati tidak akan mau disuruh menemui laki-laki itu untuk kedua kalinya.

Sementara itu di tempat berbeda di waktu bersamaan Ichigo memarkirkan mobilnya di depan sebuah pusat perbelanjaan. Ichigo pergi kesana bukan untuk berbelanja melainkan untuk mengantar ibunya menghadiri sebuah fashion show yang diadakan di aula pusat perbelanjaan itu.

"Ayo," ajak Masaki karena Ichigo tidak kunjung keluar dari mobil. Ichigo keluar dari mobil dengan malas lalu mengekor di belakang ibunya dengan langkah lamban sambil merutuk dalam hati kenapa tadi ia mau saja dimintai tolong ibunya untuk mengantar ibunya ke acara fashion show.

"Senyum dong, Ichi. Kalau mukamu ditekuk begitu mana ada yang gadis yang berani mendekat," ujar Masaki karena sedari tadi Ichigo menekuk wajahnya.

"Jadi, sebenarnya tujuan kita kesini untuk membuatku dikelilingi gadis-gadis," tebak Ichigo. "Kupikir kaa-san mau melihat acara fashion show."

"Ini namanya menyelam sambil minum air, melihat fashion show sambil mencarikan jodoh buatmu," Masaki mengedipkan sebelah matanya.

"Kaa-san…" Ichigo mengerang kalau tahu ibunya punya maksud ganda ia tidak akan mau dimintai tolong tadi. "Aku baru dicampakkan kemarin malam dan malam ini sudah disuruh berburu pacar baru," ujarnya sebal.

"Memangnya kau mau terus-menerus menangisi mantan kekasihmu itu, anakku?" tanya sang ibu.

"Kapan aku menangis?" Ichigo balik bertanya.

Masaki hanya menggendikkan bahu menjawab pertanyaan anaknya. "Jangan dibahas lagi. Sekarang pasang wajah terbaikmu dan pikat sebanyak mungkin gadis biar kau punya banyak pilihan," katanya.

Ichigo hanya bisa memutar bola matanya, terkadang ibunya memang bersikap aneh bin ajaib.

Setelah setengah jam berada di acara fashion show dan diperkenalkan dengan sederet gadis cantik, entah itu model atau putri kenalan ibunya, Ichigo mulai merasa bosan. Ia berbisik di telinga ibunya meminta ijin untuk keluar sebentar dan berpesan agar ibunya menelponnya jika sudah ingin pulang nanti, Ichigo segera melesat keluar dari ruangan besar yang didominasi oleh kaum hawa itu. Ia menarik napas lega setelah berada di luar pintu ganda yang terbuat dari kayu jati dengan ukiran rumit. Dengan langkah lebar Ichigo menjauh dari pintu itu berniat mencari sebuah kafe atau toko buku yang bisa ia jadikan tempat untuk menunggu ibunya.

Ichigo menghentikan langkahnya di depan sebuah coffee shop, harum kopi membuatnya membelokkan langkah memasuki coffee shop bernama The Coffee itu. Pramusaji bercelemek berwarna hitam membukakan pintu untuk Ichigo dan ia segera masuk lalu langsung menuju ke counter untuk melakukan pemesanan langsung pada barista yang tengah membuat kopi pesanan pelanggan.

"Espresso Macchiato," Ichigo memberitahu pesanannya pada barista yang berdiri di belakang counter.

"Tunggu sebentar." Barista itu segera membuatkan pesanan Ichigo dan Ichigo menebarkan tatapannya mencari meja kosong. Tatapannya terkunci pada sebuah sofa panjang berwarna kulit kayu tapi bukan karena sofa itu kosong melainkan karena ia mengenali siapa yang duduk disana, tepatnya Ichigo mengenali salah satunya. Mengenali gadis yang tengah mengangkat garpu yang di ujungnya tertusuk entah kue apa -Ichigo tak peduli- dan menyuapkannya ke mulut lelaki yang duduk disamping gadis itu lalu setelahnya gadis itu kembali menyandarkan kepalanya di bahu sang lelaki.

Udara seolah berhenti bergerak. Berkerumun udara itu mengepung Ichigo hingga membuatnya merasa sesak. Sekaligus mengunci kesadarannya.

"Silahkan," pramusaji yang tadi berdiri di dekat pintu kini berdiri di sebelah Ichigo berinisiatif mencarikan tempat duduk untuknya karena lelaki itu tak kunjung beranjak dari tempatnya.

Detik berikutnya Ichigo tersadar. Bimbang menghinggapinya, apakah ia akan memilih duduk disatu-satunya meja yang masih kosong yang berada tepat di seberang pasangan kekasih itu atau memilih meninggalkan tempat itu. Namun, sebelum keputusan sempat ia ambil seruan itu memanggilnya memaksanya mengambil pilihan pertama.

"Kurosaki-kun."

"Hai, Inoue," jawab Ichigo sembari melangkah mendekati meja gadis itu. Entah bagaimana ia berhasil memberikan sebuah senyum tambahan, sebuah senyum yang mungkin sepahit kopi hitam, atau justru terlalu manis karena ditambah bersendok-sendok gula.

"Apa kabar?" tanya Inoue riang, tanpa beban. Seolah lelaki yang berdiri beberapa langkah di depannya hanya seorang teman biasanya bukannya seorang mantan kekasih yang baru dicampakkannya kemarin malam.

"Biasa saja," Ichigo mengangkat bahu. Tak tercegah tatapannya mengarah pada lelaki yang memeluk Inoue. Lelaki berambut hitam yang agak mengikal dengan kacamata berframe tebal membingkai matanya.

"Oh ya, kenalkan ini Aizen-san. Dan ini Kurosaki-kun," dengan luwes Inoue memperkenalkan kedua lelaki itu.

Aizen bangkit dan mengulurkan tangan pada Ichigo yang disambut genggam erat oleh lelaki berambut oranye itu. "Jadi, ini orang yang sering kau ceritakan padaku," ujar Aizen. Tatapannya mengamati Ichigo, seperti sedang menilai.

Alis Ichigo terangkat. "Aku tak tahu kalau sering dijadikan objek pembicaraan diantara kalian," ujarnya. Tatap matanya tepat mengarah pada Inoue. Meminta penjelasan pada gadis berambut karamel itu. Tapi seharusnya ia tak perlu melakukan itu. Untuk apa? Toh, gadis itu bukan lagi kekasihnya.

"Silahkan duduk bersama kami," tawar Aizen ramah tanpa prasangka mungkin lelaki itu tidak tahu-menahu mengenai apa hubungan kekasihnya dengan Ichigo di masa lalu.

Ichigo menggeleng. "Terima kasih, tapi maaf aku tidak bisa lama-lama. Aku sedang menemani ibuku ke acara fashion show tapi karena butuh asupan kafein yang panitia acara itu tidak sediakan makanya aku mampir ke tempat ini," Ichigo bermanuver, menolak dengan halus ajakan bergabung dengan pasangan kekasih itu. "Aku harus segera kembali ke tempat acara mungkin saat ini ibuku sedang mencari-cariku karena tadi aku pergi tanpa ijin," Ichigo berdusta. "Sampai jumpa," pamitnya. Ichigo berbalik, kembali melangkah ke counter untuk meminta pesanannya disajikan dalam gelas plastik saja.

Di bagian sudut kafe yang sama Rukia sedang mencoba membuka obrolan dengan teman kencannya. Lelaki yang dari tadi menjawab pertanyaan Rukia dengan satu atau dua kata pendek, kalau beruntung Rukia akan mendapat tiga kata.

"Jadi, kau bekerja di sebuah firma hukum?" Rukia bertanya lagi. Mencoba bersabar dengan sikap gunung es yang diberikan lelaki di depannya itu kepadanya.

"Ya," jawabnya singkat.

Rukia mendesah. Ia tahu kalau perjodohannya kali ini pun akan berakhir dengan kegagalan. "Aku ke toilet sebentar," pamit Rukia sambil mengambil tas tangannya.

"Kalau kau mau pulang sekalian juga tidak masalah," kata Ulquiorra. Yang langsung membuat mata Rukia melebar. Akhirnya ia mendapat kalimat yang panjangnya lebih dari tiga kata dari teman kencannya tapi sayang kalimat itu bisa dibilangan berisi penolakan.

"Kalau kau tidak mempermasalahkannya, kurasa aku akan pulang saja," ujar Rukia.

"Silahkan, aku juga sudah bosan dan ingin segera pulang," sahut Ulquiorra.

Rukia memberi tatapan tajam pada Ulquiorra. "Maaf, kalau membuatmu merasa bosan, tuan Chiffer," katanya dingin. "Selamat tinggal." Rukia berdiri dan langsung berderap cepat meninggalkan Ulquiorra yang dengan santai menyesap kopinya. Karena begitu sibuk menggerutu tentang teman kencannya yang kurang ajar tanpa sengaja Rukia menabrak seseorang yang membuat isi cangkir yang dibawa orang itu tumpah.

"Panas!" Rukia berseru. Refleks ia menarik-narik bagian depan blus yang dipakainya agar tidak menempel ke kulitnya.

"Kau tidak apa-apa, nona? Maaf aku tadi tidak melihatmu," kata orang yang tadi ditabrak Rukia yang ternyata seorang laki-laki.

"Bukan salah anda, saya yang berjalan terburu-buru," jawab Rukia. Mengabaikan panas yang ia rasakan gadis itu menengadah. Tatapan matanya bertemu sepasang ata berwarna coklat. Terpesona Rukia tak sanggup mengalihkan manik violetnya dari mata berwarna madu itu.

"Apa kita perlu ke rumah sakit untuk memeriksamu? Kau terkena siraman kopi panas mungkin akan meninggalkan luka bakar ringan."

Suara itu menyadarkan Rukia. Buru-buru gadis itu menggeleng. "Tidak perlu, lukanya tidak parah kok," jawabnya.

"Tapi aku tidak bisa membiarkannya begitu saja," lelaki berambut oranye itu berkata.

"Aku baik-baik saja, hanya perlu membersihkan diri," kata Rukia menenangkan lalu gadis itu beralih pada pramusaji yang berdiri di dekat mereka. "Toiletnya dimana ya?" tanyanya.

"Biar saya antar," jawab si pramusaji seraya memandu langkah Rukia.

Rukia sudah memeriksa kulitnya yang terkena siraman kopi dan tidak ada luka serius hanya kulit yang memerah, cukup diobati dengan obat oles dan kompres tidak perlu sampai dibawa ke rumah sakit. Rukia memandangi tampilan dirinya di cermin, tidak terlalu buruk, blusnya memang berhias noda kopi tapi tidak terlalu kentara karena warna blusnya hampir serupa hanya saja ia harus segera mencucinya sesampai di rumah agar nodanya udah hilang.

"Sepertinya aku mengenalnya," gumam Rukia. Berusaha menggali memorinya, mencari sosok yang serupa dengan orang yang ditabraknya tadi. "Dia…"

Rukia bergegas meraih tasnya dan berlari keluar dari toilet. Ternyata takdir begitu baik padanya. Mempertemukannya dengan orang yang sangat ingin ia temui. Ya, orang yang ditabraknya tadi adalah lelaki yang sama dengan yang ia temui kemarin malam. Lelaki yang memberinya cincin. Rukia menemukan lelaki itu duduk di salah satu meja dan langsung melangkah mendekatinya.

"Bagaimana?" tanya lelaki berambut oranye itu.

"Tidak ada yang gawat hanya sedikit merah, bisa diatasi dengan obat oles dan kompres dingin," jawab Rukia.

"Syukurlah kalau begitu," ujar lelaki itu. "Ayo," ajaknya.

"Eh?" Rukia terlihat bingung.

"Ke apotek untuk membeli obat luka bakar," jawab lelaki itu.

"Tidak perlu, aku bisa membelinya sendiri," kata Rukia.

"Jangan menolak, setidaknya bisa melegakan hatiku jika aku sudah membelikanmu obat karena sebenarnya aku ingin membawamu ke rumah sakit."

"Aku ini benar-benar merepotkan padahal aku yang menabrakmu," ujar Rukia. "Aku bahkan belum meminta maaf," tambahnya.

"Bukan sepenuhnya salahmu karena aku tadi juga sedikit melamun," ujar lelaki itu. "Bagaimana kalau pergi sekarang?" tawarnya. Rukia mengangguk dan mereka berdua melangkah keluar.

"Oh ya, namaku Kuchiki Rukia," kata Rukia memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangan kanannya.

"Kurosaki Ichigo," Ichigo menyambut uluran tangan itu.

Bersambung...

Hai, semuanya. Saya kembali. Lama nggak ketemu, apa kabar kalian? Semoga baik-baik saja. Maaf ya, saya updatenya lelet *-*

Bagaimana chapter ini menurut kalian? Kasih pendapat dan masukannya di kotak review ya.

See ya,

Ann *-*