Hai... Berjumpa lagi dengan Meiru

Meiru beratus kali meminta maaf pada para reader dan reviewer sekalian

Karena baru bisa update sekarang

Hamba sudah berusaha sekuat tenaga untuk update secepatnya

Tapi apa boleh buat, bisanya update adalah sekarang

Terima kasih beribu kali Meiru ucapkan kepada para reviewer yang telah memberi nasehat dan dukungan kepada hamba

Balasan review untuk chapter 1 :

Lonelyclover, Nene Zura' no Uchikaze, Dhens, Lollyta-chan, Youichi Hikari, Hyuga Hime, Hyuuchiha Prinka : terima kasih atas dukungannya, ini ficnya sudah aku update ^_^. Haruno Aoi, Saruwatari Yumi : saran2 dari kalian sangat berarti bagiku, arigatou ^_^ MarMoet Hime Chan : aku juga suka banget sama karakter Sasuke yang stay cool, trimz atas dukungannya ^_^

Sekali lagi maaf kalau di dalam chapter ini masih terdapat banyak kesalahan-kesalahan

Baiklah, hamba persembahkan...

SASUHINA

Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto

MOONLIGHT IN ONYX

"Kau harus bertanggung jawab", ucap Sasuke.

"Be-bertanggung jawab ? Apa maksudmu?", tanya Hinata.

Hinata sungguh terkejut akan apa yang barusan dikatakan oleh Sasuke. Memangnya apa dia telah melakukan suatu hal yang macam-macam pada Sasuke, sehingga dia harus bertanggung jawab.

Seingat Hinata, dia tadi hanya memandang wajah Sasuke. Yaa, walaupun dengan jarak yang bisa dibilang cukup dekat. Namun, tetap saja kan itu hanya memandang. Bukan menampar ataupun mencakar wajah yang dianugerahi dengan ketampanan di atas rata-rata itu.

Kelihatannya pernyataan yang telah dilontarkan Sasuke padanya, telah membuat setengah dari kesadaran Hinata melayang ke alam bawah sadarnya. Jadi, Hinata hanya bisa diam membatu di tempatnya. Namun, hal itu tidak akan berlangsung lama. Karena ada sebuah suara yang telah memanggil jiwanya untuk segera kembali ke alam nyata.

"Jangan memasang wajah bodoh (maksudnya terkejut) seperti itu. Memangnya kau benar-benar tidak tahu apa kesalahanmu?", ucap Sasuke dengan sinisnya.

"I-iya. Memangnya apa kesalahanku?", tanya Hinata dengan polosnya.

"Kau ini. Sudah mengganggu waktu tidurku dan tidak menyadarinya lagi. Kau tidak tahu karena perbuatanmu ini telah mengganggu privasi seseorang", jelas Sasuke dengan pandangan yang tajam.

"Ma-maaf, aku benar-benar tidak tahu ka-kalau perbuatanku itu mengganggumu", ucap Hinata sambil menundukkan kepalanya.

Keadaan Hinata yang sedang terpuruk terlihat lucu di mata Sasuke, makanya dia tersenyum licik. Sepertinya dia telah berhasil melakukan serangan jahilnya. Entah pikiran jahil apa yang sedang menghinggapi otak Sasuke sekarang. Sehingga dia bisa tersenyum puas karena telah membuat Hinata jadi merasa bersalah seperti ini.

Sebenarnya cowok Uchiha yang satu ini memang suka menjahili orang lain. Apalagi orang itu adalah orang yang kelihatan bodoh dan lemah. Orang yang baru pertama kali bertemu dengan Hinata pun akan tahu kalau Hinata adalah seorang gadis polos dan naif yang mudah untuk dikerjain. (kalau menurut Sasuke polos dan naif itu berarti bodoh dan lemah).

"Memangnya dengan meminta maaf, waktu tidurku akan kembali seperti semula. Bagiku waktu tidur adalah waktu yang paling berharga", ucap Sasuke.

Sasuke memang sangat kesal, kalau ia sedang tidur ada yang membangunkannya. Kalau di pagi hari, Sasuke selalu bangun tepat jam 6 pagi. Jadi, dia tidak butuh jasa pelayan untuk membangunkannya dari alam mimpi. Makanya kalau dia ingin tidur, Sasuke pasti mencari tempat yang jarang terjamah oleh orang lain. Sehingga waktu tidurnya, tidak akan terganggu oleh suatu hal apapun.

"Ka-kalau begitu aku ha-harus bagaimana?", tanya Hinata dengan wajah yang sedikit cemas dan khawatir.

Bagaimana tidak cemas ? Hinata kan seorang gadis, sedangkan Sasuke adalah seorang pemuda asing yang tiba-tiba muncul dan mengusik kehidupannya. Bagaimana kalau Sasuke berbuat macam-macam padanya ? Sekarang kan mereka hanya berdua di atap sekolah. Apalagi waktu sangat mendukung Sasuke untuk melakukan hal-hal yang tidak terpuji pada Hinata (bahasa kasarnya adalah melakukan suatu tindakan pelecehan). Karena pada kenyataanya yang sekarang ini ada di sekolah, hanya mereka berdua. Seperti yang kita ketahui, para siswa lain sudah berada di kediamannya masing-masing.

Hinata berdoa dalam hatinya, semoga iblis yang ada di hadapannya ini (di dalam pandangan Hinata, Sasuke itu seperti iblis bertanduk merah yang membawa tongkat bercula tiga dan siap untuk menghunuskan tongkatnya ke dalam tubuh Hinata), mendapat pencerahan dari Tuhan dan mengurungkan niat buruknya pada Hinata.

Tuhan memang selalu mendengarkan doa hamba-Nya yang berkelakuan baik dan sabar seperti Hinata ini. Buktinya...

"Hm, untuk yang pertama. Ini...", ucap Sasuke sambil melemparkan tasnya pada Hinata.

Hinata menangkap tas itu dengan susah payah. Karena dia terkejut dilempar tas Sasuke secara tiba-tiba.

"Untuk selanjutnya akan aku beritahu besok", lanjut Sasuke, tentu saja sambil tersenyum licik pada Hinata.

Hinata hanya bisa berbengong ria, kemudian dia menghela nafas lega dengan perlakuan Sasuke padanya yang tidak seburuk seperti dugaannya.

Sasuke menyadari dengan tidak adanya tanda-tanda pergerakan seseorang, yang seharusnya sedang berjalan di belakangnya. Dia menoleh dan mendapati Hinata yang tidak bergerak sedikit pun dari posisi semula.

"Kenapa masih diam di situ ? Jangan-jangan kau berpikiran kalau aku akan melakukan hal yang macam-macam padamu", selidik Sasuke dengan tatapan lurus mengarah ke sepasang mata lavender yang ada di hadapannya ini.

Sepasang mata onyx itu lagi-lagi mengeluarkan sinar yang dapat menembus pertahanan yang ada di dalam hati Hinata. Sehingga membuat Sasuke dapat sekali lagi membaca dengan jelas apa yang ada di dalam benak Hinata.

"Ti-tidak. Aku tidak berpikiran se-seperti itu", ucap Hinata dengan mengalihkan pandangannya dari Sasuke.

Hinata tidak mau melihat sepasang mata onyx yang ada di hadapannya ini. Dia takut apabila dia melihat mata itu, maka Sasuke akan menyadari akan kebohongan yang telah diciptakannya yang akan terlihat jelas di mata levendernya. Karena Hinata memang orang yang sulit untuk berbohong.

"Atau mungkin kau kecewa karena aku tidak melakukan sesuatu seperti yang ada di pikiranmu itu"

Setelah berkata itu, Sasuke melangkahkan kakinya menuju Hinata. Pandangannya terus mengintimidasi gadis yang ada di hadapannya ini. Tatapan Sasuke seolah-olah seperti mencari kebenaran kata-kata yang telah diucapkan oleh Hinata.

Ditatap seperti itu, membuat Hinata berjalan mundur ke belakang. Dia sebenarnya ingin lari saja dari situasi seperti ini. Tapi sepertinya kedua kakinya tidak mendukung keinginan Hinata. Kaki Hinata terasa seperti diberi beban seberat 10 kg, jadi sulit baginya untuk pergi dari tempat itu. Usaha Hinata untuk membuat jarak dengan Sasuke akhirnya gagal juga. Itu terbukti dengan tertabraknya punggung Hinata pada tembok yang ada di belakangnya.

Sasuke meletakkan tangan kanannya pada tembok dan persis di samping kiri kepala Hinata. Sepertinya, dia hendak mengurung Hinata dalam daerah perlindungannya. Sasuke mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata. Sampai-sampai hembusan nafas Hinata dapat menerpa wajahnya.

"Apa kau ingin aku melakukan sesuatu yang istimewa padamu, hah ?", goda Sasuke dengan senyum jahilnya.

Diperlakukan seperti ini, membuat rona merah dengan leluasanya menjalar di wajah Hinata. Begitu melihat sepasang mata onyx itu, entah kenapa perasaan takut yang semula merayap di hati Hinata menghilang seketika. Berganti dengan perasaan aneh yang seakan-akan membuatnya melayang entah kemana. Dan ajaibnya lagi, perasaan aneh ini seperti mempunyai kekuatan untuk membuat jantungnya berdetak dengan cepat. Berdetak cepat bukan karena takut tetapi lebih mengarah ke perasaan malu. Entah malu karena apa.

Sasuke berpikir dengan melakukan ini akan membuat gadis lemah ini bertambah takut padanya dan lari dari tempat ini dengan berurai air mata. Dengan itu, maka perbuatan jahilnya akan berhasil. Tetapi untuk kali ini, sepertinya rencana Sasuke tidak berjalan dengan baik sesuai harapannya.

Bukannya takut dan menangis, gadis ini malah menatap lurus ke arah sepasanga mata onyx itu dengan wajah yang tersipu malu. Sungguh di luar perkiraannya.

'Apa-apaan gadis ini! Kenapa dia malah menatapku seperti itu? Bukannya takut dan lari, tapi malah seenaknya memberikan tatapan seperti itu kepadaku. Ahh, kenapa malah aku yang dibuat bingung seperti ini', pikir Sasuke.

"Tcih, kau ini!", umpat Sasuke.

Sasuke menarik tangannya dari tembok dan melangkahkan kakinya pergi menjauh dari Hinata. Seumur hidupnya dia tidak pernah dibuat malu seperti sekarang ini. Kenapa harus malu ? Apa karena rencananya untuk menjahili gadis itu gagal ? Atau karena ditatap gadis itu seperti tadi ?

Ditatap oleh para gadis adalah makanan sehari-hari bagi Sasuke. Seperti yang kita ketahui, Sasuke adalah salah satu siswa yang populer di sekolahnya. Karena telah dianugerahi wajah yang tampan dan kejeniusan otak yang melebihi anak-anak seumurannya. Jadi, seharusnya dia biasa-biasa saja ketika dipandang seperti itu oleh Hinata.

Tetapi kenapa dia merasakan sesuatu yang berbeda saat ditatap oleh Hinata ? Untuk sekarang ini, kejeniusan otak yang dimilikinya tidak dapat membantu menjawab pertanyaan yang terngiang di pikirannya.

Back to Hinata...

Sebenarnya Hinata ingin menolaknya tetapi ketika melihat mata Sasuke, Hinata seperti tersihir dan mematuhi segala yang dikatakan oleh Sasuke. (ya iyalah sorot mata Sasuke seperti berkata 'patuhi perintahku! Atau kau akan mati!'). Sinar sepasang mata onyx itu telah mampu mengalahkan sinar sepasang mata lavender milik Hinata.

Hinata masih shock dengan perlakuan Sasuke kepadanya. Dia menatap ke depan dengan pandangan yang kosong. Bagaimana kalau tadi Sasuke berbuat yang macam-macam padanya? Siapa yang akan bisa menolongnya ? Sedangkan saat ini hampir bisa dipastikan kalau di sekolah hanya ada mereka berdua saja.

"Apa kau mau di sini terus sampai malam ?", tanya Sasuke dengan menoleh ke arah Hinata.

"Te-tentu saja tidak", jawab Hinata.

"Aku tidak mau pulang telat hari ini hanya gara-gara kamu"

"Kenapa gara-gara aku ?"

"Tentu saja gara-gara kamu. Kau tidak lupa kan ? kalau sekarang kau sedang membawa tasku. Mana bisa aku pulang tanpa tasku itu" (kalau segitu sukanya sama tas, kenapa menyuruh Hinata untuk membawanya. Dasar kuplak!* Blummm...* Author tepar, di-sharinggan sama Sasuke).

"Ah, iya. Gomenasai"

Sasuke melangkahkan kakinya untuk meninggalkan atap sekolah. Dibelakangnya, Hinata berlari-lari kecil untuk mengejar langkah Sasuke yang lebih panjang daripada langkah kakinya. Apalagi dengan membawa dua tas, semakin membuat Hinata tertinggal di belakang.

Sebenarnya Hinata enggan untuk berbicara dengan Sasuke. Tetapi SIKON alias situasi dan kondisi seperti sekarang ini, yang mendorongnya untuk melakukan hal yang sebenarnya tidak ingin Hinata lakukan. Maksudnya situasi sekolah yang sepi dan agak gelap karena hari telah menjelang sore, telah membuat perasaan takut muncul dalam hati Hinata.

"U-uchiha-kun", panggil Hinata.

Sasuke menghentikan langkah kakinya. Dia menoleh ke belakang, tampak olehnya seorang gadis yang kepayahan menenteng dua tas yang kelihatannya cukup berat untuk dibawanya. Itu bisa dilihat, karena peluh yang menetes di wajahnya.

"Ada apa?", tanya Sasuke.

"Jalannya ja-jangan terlalu cepat"

"Jalanku memang begini. Memangnya ada masalah ?"

"Ti-tidak. Hanya saja aku jadi tertinggal jauh di belakang"

"Itu karena jalanmu saja yang terlalu lamban. Gara-gara kamu aku bisa terlambat pulang ke rumah. Baiklah, bawa kemari tasku", perintah Sasuke sambil menjulurkan tangannya ke arah Hinata.

Setelah mendapatkan kembali tasnya, Sasuke berbalik dan meneruskan kembali melangkahkan kakinya untuk meninggalkan sekolah ini. Begitu juga dengan Hinata, dia melanjutkan jalannya mengikuti Sasuke. Hinata berjalan dengan terus menjaga jarak dengan Sasuke agar jarak diantara mereka berdua tidak terlalu jauh. Karena di saat begini, suasana di sekolah menjadi menyeramkan. Makanya Hinata tidak mau jauh-jauh dari Sasuke. Entah kenyakinan itu muncul darimana, tetapi Hinata yakin dengan berada di dekat Sasuke maka dia akan merasa aman. Walaupun seringkali keberadaan Sasuke membuatnya dalam keadaan yang menakutkan.

Mereka berdua berjalan dengan keadaan hening yang menyelimuti. Salah satu mereka tidak ada yang berinisiatif untuk memecahkan keheningan tersebut. Hinata terlalu takut untuk mengajak berbicara Sasuke. Sedangkan Sasuke terlalu malas untuk melakukan suatu pembicaraan. Sungguh dua hal yang mempunyai proses yang berbeda, namun mempunyai hasil yang sama.

Tidak lama kemudian, mereka berdua telah sampai di depan gerbang sekolah. Di hadapan mereka berhenti sebuah mobil sedan hitam. Dari mobil itu, keluarlah seorang pria dewasa memakai setelan jas berwarna hitam yang Hinata yakin adalah pengemudi dari mobil itu. Karena selain pria itu, tidak terdapat orang lain lagi di dalam mobil tersebut.

Setelah pintu belakang mobil dibuka oleh sopir tadi, Sasuke segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam mobil itu. Ternyata mobil mewah itu adalah mobil pribadi millik tuan muda Uchiha ini. Sebelum mobil itu meninggalkan gerbang sekolah, Sasuke membuka jendela mobil dan menoleh pada Hinata.

"Jangan lupa, kau masih berhutang padaku", ucapnya dingin.

Hinata hanya bisa melongo mendengar perkataan cowok Uchiha ini. Setelah itu, mobil Sasuke melaju pergi dan meninggalkan Hinata seorang diri di sekolah.

"Apa-apaan cowok itu", ucap Hinata dengan sedikit memberi jeda kata.

Tak berapa lama kemudian, mobil jemputan Hinata juga datang. Membawa Hinata pulang ke kediaman Hyuuga.

Sungguh hari pertama masuk sekolah yang sangat buruk bagi Hinata. Sudah bertemu dengan cowok yang menyebalkan dan berurusan lagi dengan dia. Bukan hidup namanya kalau selalu berlangsung tanpa ada hambatan.

Sesampainya di rumah, Hinata tidak menceritakan hal-hal menyebalkan yang telah dialaminya di sekolah pada ibunya. Selama berada di meja makan, Hinata hanya diam saja dan kelihatan kalau dia sedang tidak menikmati hidangan yang tersaji di depannya.

Hinata tidak terlalu berselera untuk makan, membayangkan apa yang akan ia alami besok. Hal menyebalkan apalagi yang akan ia terima dari cowok Uchiha yang kurang kerjaan itu. Kalau cowok itu punya suatu hal yang harus dikerjakannya, kenapa dia harus mengerjai Hinata seperti ini.

Keadaan Hinata yang tidak seperti biasanya, membuat salah satu orang yang ada di sekitarnya merasa khawatir dan curiga.

" Ada apa Hinata? Kenapa kamu makannya seperti itu. Apa masakan Okaa-san tidak enak?", tanya ibunya Hinata, Hikari Hyuuga.

"E-enak kok", jawab Hinata.

"Kalau begitu makannya jangan dibolak-balik seperti itu. Habiskan dong makanannya"

"Baik, Okaa-san"

Selesai makan malam, Hinata langsung masuk ke dalam kamarnya. Setelah membaca beberapa lembar novelnya, Hinata menyiapkan buku pelajarannya untuk besok dan memasukkan ke dalam tasnya.

Ketika hendak memejamkan mata, Hinata berdoa semoga saja besok menjadi hari yang lebih baik daripada hari ini. Karena sepertinya Hinata mempunyai perasaan yang tidak enak untuk besok. Tapi semoga saja hal ini bukan merupakan suatu pertanda buruk bagi Hinata.

Sinar mentari mulai masuk ke dalam kamar sang Heiress Hyuuga, ini merupakan pertanda bahwa pagi telah tiba. Sambil mengucek-ngucek matanya Hinata turun dari ranjangnya dan mengambil handuk. Hinata meangkahkan kedua kakinya menuju ke kamar mandi. Setelah selesai dengan segala persiapan sekolahnya, Hinata turun ke bawah, menuju ke meja makan.

Di sana nampak Neji, Hanabi, Hiashi dan Hikari yang tengah menghidangkan sarapan pagi. Hinata menuju ke kursinya dan segera mendudukinya.

"Kenapa hari ini Nee-chan bangunnya agak terlambat?", tanya Hanabi yang penasaran kenapa hari ini kakaknya menjadi urutan paling akhir yang datang ke meja makan. Padahal biasanya Hinata datang paling awal setelah ibunya.

"Gomen, semalam Nee-chan agak sulit untuk tidur", jawab Hinata.

Mendengar perkataan dari Hinata, Neji segera memalingkan wajahnya ke arah Hinata dengan pandangan yang tajam.

"Apa ada masalah di sekolah barumu, Hinata?", tanya Neji dengan suara yang sedikit menyelidik.

"Ti-tidak ada apa-apa kok, Neji-nii", jawab Hinata.

"Kalau ada yang berani mengganggumu, jangan sungkan-sungkan untuk bilang kepadaku"

"Baik, arigatou Neji-nii"

Setelah menyelesaikan sarapannya, Hinata berangkat ke sekolah bersama saudara-saudaranya.

Sebuah mobil berwarna biru berhenti di depan gerbang Konoha Gakuen. Keluarlah seorang gadis berambut indigo. Sebelum menutup pintu mobilnya, Hinata diam sejenak.

"Ingat kataku tadi pagi. Jangan pernah sungkan untuk mengatakannya padaku", ucap Neji.

"Ba-baik, Neji-nii" jawab Hinata,

Hinata sedikit menghela nafas lega, mengetahui bahwa mobilnya telah meninggalkan gerbang sekolah. Sungguh menyesakkan kalau harus berbohong dengan saudara kita sendiri. Tapi apa boleh buat, Hinata kan memang gadis yang tidak suka membuat orang lain khawatir. Jadi, dia menyimpan peristiwa menyebalkan yang dialaminya di dalam lubuk hatinya.

Sepertinya kelegaan yang dialami oleh Hinata tidak akan berlangsung lama. Itu terbukti dengan terdengarnya teriakan para gadis yang membahana di halaman depan Konoha Gakuen.

"Aaaa...Sasuke-kuuuunn..."

"Haahh...", desah Hinata dengan sedikit menekuk tulang lehernya.

Waktu memang berjalan cepat. Dimulailah penderitaan Hinata Hyuuga, seorang gadis yang polos, baik hati dan tidak sombong yang sialnya bertemu dengan seorang pemuda yang angkuh, dingin, dan tentunya menyebalkan.

Hinata berencana mengambil langkah seribu untuk segera meninggalkan tempat itu. Tetapi rencana Hinata itu hasilnya NOL BESAR atau gagal. Karena begitu Hinata akan melangkahkan kakinya, dia merasa tangannya ditarik oleh seseorang. Bersamaan dengan itu, suasana di sekitar gerbang sekolah yang semula riuh karena teriakan para fans girl Sasuke, sekarang tidak terdengar lagi alias lenyap seketika.

Dengan perlahan, Hinata menoleh ke belakang. Mata lavendernya membulat sempurna setelah mengetahui siapa gerangan yang telah memegang tangannya.

Jawabannya ada dua kata. UCHIHA SASUKE.

"Ka-kau", ucap Hinata dengan terbata-bata.

"Ya, ini aku. Sebegitu terkejutkah kau melihat diriku. Memangnya ada yang aneh di wajahku ini, hah ?", tanya Sasuke dengan sorot mata yang menakutkan.

Menakutkan itu bagi Hinata, tetapi bagi para fans Sasuke sorotan tajam sepasang mata onyx itu bisa menembus jantung mereka. Sampai bisa membuat mereka klepek-klepek tak berdaya.

"Ti-tidak. Kenapa kau berbuat se-seperti ini ? A-apa maumu sebenarnya", tanya Hinata dengan sembuat merah di kedua pipinya.

Berada di keadaan seperti ini, bagaimana tidak merasa malu ? Menjadi pusat perhatian seluruh siawa-siswi sekolah, karena salah satu siswa yang terkenal akan wajah tampannya di sekolah sedang memegang tanganmu. Dan ditambah lagi, mendapatkan sorotan benci dan iri dari para siswi yang mengagumi Sasuke. Itu membuat posisi Hinata menjadi semakin terhimpit saja.

"Mauku...", setelah berkata demikian Sasuke menarik Hinata agar lebih dekat dengannya. Sekarang wajah Sasuke berada tepat di samping wajah Hinata. Setelah dirasa cukup dekat, Sasuke membisikkan sesuatu hal di telinga Hinata.

"...Istirahat nanti, aku tunggu kau di atap sekolah. Jangan sampai terlambat!", bisik Sasuke dengan menekankan kata TERLAMBAT.

Dan tentu saja, perbuatan Sasuke tersebut telah sukses membuat warna merah menghiasi seluruh wajah Hinata. Kemudian, Sasuke melepaskan tangan Hinata dan melenggang pergi begitu saja untuk menuju ke kelasnya. Tanpa memperdulikan akibat dari perbuatannya itu. Bila dilihat lebih seksama lagi, akan terlihat senyum yang tipis dan sangat tipis sekali terpampang di wajah Sasuke.

Setelah kehadiran Sasuke tidak nampak lagi oleh mata. Terdengar...

"Aaaaaaaaaaaaaaaaaa..."

Teriakan para fans girl Sasuke yang terkejut dan tidak percaya dengan adegan yang baru saja terjadi di depan mata kepala mereka sendiri. Sepertinya dalam sekejap, Hinata akan menjadi sorotan utama para siswi Konoha Gakuen.

^TBC^

Hikari Hyuuga adalah nama karangan hamba sendiri untuk nama ibunya Hinata

Sebab Meiru tidak tahu siapa nama dari ibunya Hinata, kalau ada yang mengetahuinya tolong beritahu hamba

Menurut para reader sekalian, apakah chapter ini sudah ada unsur romance-nya?

Hamba sangat100x menanti kritik dan saran dari para reader

Mohon review-nya

R

E

V

I

E

W

^ Arigatou ^