Dua bocah laki–laki itu terlihat begitu bahagia. Mereka berdua terlihat sedang berlari–lari mengeliling padang rumput. Dua bocah beda warna rambut itu tertawa bersama, setelah menjatuhkan diri mereka keatas rumput yang hijau.

"Ne, Sasuke–nii. Terimakasih sudah membuat Naru bahagia hari ini"ucap bocah itu–Naruto.

Sasuke kecil yang diajak bicara hanya menolehkan kepalanya memandang sang pirang yang sedang memejamkan matanya, dengan angin yang membuat rambutnya terusik.

'Cantik sekali' batinnya. Ia tersenyum kecil sebelum meraih telapak tangan yang lebih kecil dari miliknya itu, membuat sang pirang tersipu malu.

'Ya, Naruto. Aku berjanji akan selalu membuatmu tersenyum. Aku berjanji, dan itu adalah janji seumur hidupku'

"Jangan sedih lagi Dobe–chan. Kalau kau sedih, cantikmu akan berkurang loh"

Tangan berbalut kulit kecoklatan itu mencubit kecil pinggang Sasuke. Menimbulkan pekikan dari sang raven.

"Dasar Sasu–Teme"

002; The numerous feelings

Word count; 2,433

School of Konoha. Sekolah ter–elit yang ada di Konoha. Sekolah ini memuat dua tingkatan, yanitu Kelas Menengah Bawah dan Kelas Menengah Atas. Bagi kelas menengah bawah akan diberi gedung sekolah yang berada dibagian barat dan selatan, sedang kelas menengah atas sisanya. Sekolah ini memiliki fasilitas empat gedung sekolah dengan masing–masing empat lantai. Parkiran dibagian Timur Laut untuk kelas menengah atas, dan bagian barat daya untuk kelas menengah bawah. Di bagian barat laut ada sebuah gedung olahraga; lapangan basket, futsal, jalur lari, dan bahkan kolam renang. Di bagian tenggara adalah gedung serbaguna, dan gedung ekstrakulikuler.

Pukul delapan pagi. Di kelas X–F.

Suasana dalam kelas tersebut terkesan kondusif, seorang guru dengan rambut panjang gelombang berwarna kecoklatan terlihat sedang menerangkan tentang berbagai rumus Matematika. Semua murid terlihat memperhatikan dengan seksama, terkecuali bagi seorang pemuda yang duduk dipojok ruangan, matanya terlihat lebih tertarik dengan pemandangan luar jendelanya.

Tok! Tok! Tok!

"Permisi, Kurenai–sensei. Ada yang perlu saya bicarakan dengan semua murid baru kelas menengah atas"ucap seorang pemuda dengan rambut dark blue–Uchiha Sasuke.

"Tentu Sasuke, silakan"ucap guru tersebut.

Seorang pemuda memasuki ruang kelas tersebut, membuat suasana kelas yang sebelumnya kondusif kini menjadi lebih ramai. Seluruh siswa perempuan memandang Sasuke dengan wajah kagum dan jeritan tertahan sambil menggigit bibir mereka. Terkecuali pemuda itu lagi, iris safirnya menatap wajah alabaster itu malas, rambut keemasannya bergerak pelan seiring dengan angin yang berhembus dari jendela.

"Berhubung kalian adalah siswa baru di kelas menengah atas, kalian harus memilih kembali ekstrakulikuler yang akan kalian ambil. Ada lebih banyak pilihan dari pada yang ada di kelas menengah bawah, misal vokal, musik, musikal, dance, dan band. Sekarang adalah jadwal untuk kelas sepuluh F. Diharap kalian sekarang menuju ruang osis untuk mengisi formulir ekstrakulikuler."ucap seorang pemuda dengan tato kanji didahi kirinya.

"Saya minta izin untuk membawa murid anda sebentar Kurenai–sensei"ucap pemuda dengan rambut panjang dan ber–iris lavender.

"Tentu saja Hyuuga–san"jawab Kurenai sambil tersenyum.

XXXX

"Jaa, Naruto. Ekstra apa yang akan kau ambil?"tanya Kiba pada Naruto. Mereka sudah pada barisan antrean untuk mengambil formulir diruang osis.

"Ehmm… Mungkin, dance, vokal, dan musik"jawab Naruto lalu diakhiri dengan 'endikan' dibahu.

"Ehh… kenapa kau memilih musik semua?"tanya Kiba kaget, iris coklat kiba menatap Naruto yang terlihat sangat berbeda pagi ini.

"Tidak apa–apa. Bagaimana dengan dirimu?"tanya Naruto dengan senyum yang dibuat–buat.

"Aku akan ambil renang, seperti biasa. Aku juga mau coba band, kedengarannya itu menarik, benarkan?"ucap Kiba dengan antusias. Naruto tersenyum sambil mengangguk, temannya yang satu ini memang seorang atlet renang sejak sekolah dasar, jadi tak bisa dipungkiri kalau dia sekarang masuk kedalam ekstra renang.

"Kau tahu, kudengar Sasuke senpai dan Kyuubi senpai ikut ekstra basket, ughh… aku jadi ingin ikut cheerleader. Jadi kenapa kalian tak masuk basket, ne Naruto? Kiba?"tanya Sakura Haruno. Seorang gadis dengan kulit pale dan rambut merahmuda.

"Kau tahu Naru sangat menolak jika ikut ekstra fisik seperti itu'kan?"tanya Kiba sebaliknya. Naruto yang menjadi bahan pembicaraan Sakura dan Kiba hanya bisa mengerutkan dahinya.

"Tentu saja. Dia completely uke style."jawab sakura disambung dengan kekehan.

Naruto semakin mengerutkan dahi dan memicingkan matanya, pipinya juga dengan reflek menggembung dibarengi dengan rona yang muncul dikedua pipinya.

"Ya Tuhan. Kau itu manis sekali, Naruto"ucap Sakura sambil mencubit kedua pipi Naruto gemas. Disusul dengan kekehan Sakura dan Kiba.

"Aku tak manis sakura–chan. Aku itu tampan, ingat"ucap Naruto dengan nada merajuk.

XXXX

Istirahat pertama. 10.45

Naruto membuka kotak bekalnya, ia menyenderkan punggungnya di dinding beton. Tangan kanannya memegang sumpit semetara tangan kirinya memegangi kotak bekalnya.

"Ekhm… boleh aku duduk disini?"tanya seorang pemuda membuat Naruto terlonjak. Iris safirnya memandang resah sekeliling sebelum mengangguk pertanda setuju.

"Terimakasih"ucap pemuda itu. Naruto hanya mengangguk kecil sambil menggenggam erat sumpitnya. Jantungnya berdetak cepat tak karuan, secara tiba–tiba nafsu makannya hilang, berubah menjadi rasa resah yang besar.

Pemuda dengan rambut jingga itu menatap Naruto dengan kekehan kecil yang keluar dari mulutnya.

"Ehh… kenapa kau tak memakan bekalmu?"tanyanya, iris ruby–nya menatap wajah Naruto yang terlihat sendu.

"kau tahu, aku punya masalah yang sangat besar, maukah kau mendengarkanku?"tanya Kyuubi. Naruto tak menjawab, hanya diam, mengabaikan kotak bekalnya yang tergeletak manis didepannya.

"Aku punya seseorang yang kusukai"ucap Kyuubi mengawali.

'Siapa lagi kali ini?'

"Tapi dia membenciku, untuk sebuah alasan. Tidak, mungkin banyak alasan yang membuatnya membenciku, benar–benar membenciku"ucap Kyuubi seraya melihat perubahan ekspresi pada wajah Naruto yang mulai menegang.

'kenapa dia mengatakan hal seperti ini?'

"Aku hanya ingin dia tahu, bahwa alasan yang membuatnya membenciku tidaklah benar. Aku tidak benar–benar berniat meninggalkannya, aku hanya pergi sebentar, untuk meyakinkan diriku."nada suara Kyuubi mulai berubah, terlihat dengan jelas guratan lelah di wajah tampan pemuda dengan kulit putih itu.

'Sebenarnya apa yang ingin dia katakan?'

"Aku hanya pergi sebentar, untuk meyakinkan diriku kalau aku benar–benar pantas untuknya. Dia sangatlah sempurna, membuatku sempat merasa tak percaya diri. Dia bisa saja pergi, karena menemukan pemuda ataupun gadis lain yang lebih sempurna dariku. Aku hanya ingin membuat diriku benar–benar percaya, kalau aku sangatlah pantas untuk bersanding dengannya, bahwa diriku sangatlah pantas untuk meminangnya suatu saat nanti… membuatnya menjadi bagian yang terpenting dalam hidupku."ucapnya lagi, suaranya yang lirih sangat menusuk diteliga Naruto bahkan angin yang berhembus pun tak bisa meningkahi suara pemuda itu.

'Cukup'

"Aku ingin dia tahu, kalau aku kembali. Kalau satu–satunya alasan untukku kembali hanyalah dirinya. Aku ingin Tuhan membisikkan padanya, sebuah kebenaran, sebuah kebenaran kalau aku mencintainya, lebih lebih lebih dari yang ia tahu. Aku ingin bisa memeluknya lagi. Lagi, lagi, lagi, masih banyak lagi hal yang ingin kukatakan padanya. Andai aku punya kesempatan kedua–"

'Sudah cukup!'

"Hentikan senpai, aku harus kembali ke kelas sekarang."ucap Naruto sambil beranjak dari pergi meninggalkan Kyuubi yang hanya duduk dalam diam di sana.

"Jadi benarnya? Tak ada kesempatan lain untukku?"

XXXX

Lorong–lorong terlihat masih ramai saat kaki–kaki Naruto menyusurinya. Matanya menatap kosong kedepan, bahkan tak jarang ia menabrak seseorang dan pergi begitu saja tanpa meminta maaf.

'Aku ingin Tuhan membisikkan padanya sebuah kebenaran, sebuah kebenaran kalau aku mencintainya, lebih lebih lebih dari yang ia tahu'

'Kenapa dia harus berkata seperti itu? Kenapa ia selalu membuatku bimbang seperti ini? Kenapa dia membuatku seolah–olah aku yang bersalah? Kenapa? Kenapa?'

Brukk…

"Perhatikan jalanmu, dobe"sebuah suara datar menyadarkan Naruto dari lamunannya. Iris safirnya menatap dalam iris onyx pemuda yang berdiri didepannya.

Secara tiba–tiba Sasuke menarik pergelangan tangan Naruto dan membawanya ke sebuah tempat.

"Kenapa kau membawaku kesini?"Naruto bertanya lirih. Matanya memerah, tak kuat lagi menahan sesuatu yang dari tadi telah berkumpul dipelupuk matanya.

Tes.

Setitik air mata itu turun, membasahi pipi tan mulus dengan tiga garis samar itu. Matanya manutup rapat, hingga isakan–isakan lirih mulai lahir dari belah bibir sewarna persik itu.

Grep.

Tangan alabaster milik Sasuke mengelus pelan punggung mungil yang tengah bergetar itu. Hatinya terasa tertusuk ribuan jarum kala mendengar isakan–isakan lirih yang keluar dari mulut Naruto. Sasuke mengeratkan pelukannya, seakan ia juga merasakan bagaimana rasa sakit yang dirasakan pemuda dengan rambut pirang itu.

"Jangan menangis, oke?"bisik Sasuke. Ibu jarinya menghapus jejak air mata dipipi Naruto, membuat semburat merahmuda lahir di kedua pipi gembul milik Naruto.

Isakan itu berhenti tergantikan dengan Naruto yang terus menggigit bibirnya, ia tak tahu perasaan apa yang sedang ia rasakan. Ia merasa ada ribuan kupu–kupu diperutnya saat Sasuke membisikkan kata–kata penenang padanya. Dan seperti sebuah keajaiban, tangisannya terhenti.

Waktu sepuluh menit hanya dipenuhi dengan rasa canggung diantara keduanya, Sasuke merasa lega saat mendengar kalau nafas Naruto sudah mulai stabil, dan tenang. Mata onyx–nya menatap pemuda bersurai pirang itu lekat.

"Ayo kuantar kau ke kelasmu"ucap Sasuke sambil menggandengan telapak tangan mungil Naruto. Naruto hanya bisa terdiam dan mengikuti Sasuke.

'Uchiha, ya?'

XXXX

Tok. Tok. Tok.

Seluruh mata menaruh perhatian pada dua orang pemuda yang berdiri diambang pintu. Para gadis dan pemuda yang berstatus 'seme' menatap simpul tangan Naruto dan Sasuke dengan pandangan tajam. Sasuke yang menyadarinya hanya diam, dan segera memasuki kelas Naruto itu.

"Maafkan aku mengganggu kelasmu, Itachi–sensei. Aku kemari hanya untuk mengantarkan anak muridmu yang tersesat di danau belakang."ucap Sasuke sambil mengangkat simpul tangannya kedepan pandangan kakaknya sendiri. Uchiha Itachi.

"Hn. Naruto kau bisa kembali ke tempat dudukmu. Dan kau Sasuke cepat kembali ke kelasmu"ucap Itachi datar dan dingin. Para siswa disana–minus Naruto–bisa menyadari bagaimana tatapan antar dua saudara kandung itu. Pandangan dingin dan saling membunuh.

XXXX

Pukul lima sore. Uchiha Mansion.

Sasuke baru saja kembali dari sekolah, ia memakirkan mobil sedan hitamnya disamping sebuah mobil porche hitam yang terparkir manis disana, dengan sebuah seringai yang bertengger diwajahnya.

Sasuke mendorong pintu besar nan megah itu, hingga menimbulkan suara yang menggema hingga kepenjuru ruangan.

"Okaeri, Otouto."suara dingin itu membuat Sasuke lantas makin melebarkan seringainya. Iris hitam kelamnya bertatapan dengan iris yang sama dengan miliknya. Saling mengedarkan aura membunuh yang kental.

"Apa yang kau lakukan disini, Itachi?"ucap Sasuke lirih. Itachi yang mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Sasuke hanya terkekeh lirih.

"Apa itu perlu ditanyakan padaku? Aku hanya merindukan rumahku? Apa itu salah?"tanya Itachi. Sasuke berdecih, mata onyx–nya menatap iris serupa milik Itachi dengan pandangan tajam.

"Jadi dia ya? Namikaze bungsu yang kau ceritakan dua tahun lalu, Sasuke?"tanya Itachi, disertai dengan seringaian yang terlukis diwajah datarnya.

Sasuke yang dilempari pertanyaan semacam itu hanya menggertakan giginya, dan juga mengepalkan tangannya. Matanya tak henti menatap Itachi dengan nafsu membunuh diubun–ubun.

"Jangan. Kau. Berani. Menyentuhnya. Seujung. Jari pun."ucap Sasuke dengan penekanan di setiap kata–katanya. Itachi mendengus setelah mendengar perkataan Sasuke, kaki–kaki jenjangnya berjalan pelan menuruni anak tangga.

"Kenapa? Apa sekarang kau sudah berani menyebutnya dengan ….–jatuh cinta?"ucap Itachi. Suaranya rendah–terdengar mengejek. Ia sudah berdiri, lima meter didepan Sasuke yang memandangnya tajam.

"Kau benar. Aku memang sudah benar–benar–jatuh cinta padanya? Jadi sekarang apa yang akan kau lakukan?"ucap Sasuke, nada suaranya terdengar lelah, matanya mulai melunak, ia memandang lantai keramik cream juga sepatu hitamnya.

"Apa yang akan aku lakukan? Kau akan tahu, adikku tersayang"jawab Itachi lalu ia berjalan keluar, setelah sebelumnya dengan sengaja menatapkan bahu tegapnya dengan bahu tegap Sasuke.

XXXX

"Okaa–san, apa yang harus Naru lakukan?"lirihnya. Iris safirnya menatap langit malam dengan kosong, bertanya kepada sang ibu yang sudah ada dilangit sana.

Satu air mata mengalir pelan di pipi tan–nya. Ia bahkan tak punya niatan untuk menghapusnya, hanya membiarkannya jatuh lagi dan lagi. Dengan pikirannya yang jatuh kedalam ingatan masa lalunya bersama Kyuubi.

Flashback ON

22 Mei

Seorang pemuda dengan rambut merah ke-oranye-an berdiri didepan seorang pemuda yang lebih pendek darinya, yang mempunyai rambut spike berwarna pirang. Iris ruby–nya tak henti menatap iris safir milik pemuda didepannya yang masih memerah dan mengeluarkan air mata.

Ingin sekali. Ingin sekali Kyuubi menerjang tubuh yang lebih mungil darinya itu dan memeluknya. Membisikkan kata–kata penenang agar air mata itu berhenti mengalir dari kelopak pemuda itu. Yah, pemuda itu–Naruto.

"Kenapa –hikss– kenapa…? Kyuu–nii…? Apa Kyuu–nii sudah punya orang lain yang Kyuu–nii cintai?"isak pemuda itu. Bahu sempitnya bergetar, membuat sesuatu didalam dada Kyuubi terasa terkena benda tajam. Perih. Sangat.

'Jangan pernah berpikir seperti itu, Naruto'

"Aku hanya ingin mengakhirinya. Tanpa sebuah alasan apapun, Naruto."ucap Kyuubi, matanya menajam, menatap dalam iris safir milik Naruto seolah meminta untuk Naruto mengerti.

Naruto menggigit bibirnya, kedua telapak yang ada disamping tubuhnya menggenggam dengan erat ujung jaket yang ia kenakan. Seakan menyalurkan bagaimana sakitanya ia sekarang.

"Kyuu–nii"panggil Naruto lirih. Kyuubi menatap Naruto yang masih menundukkan kepalanya, menerka–nerka apa yang akan diucapkannya.

"Aku hanya ingin bertanya. Apa Kyuu–nii masih mencintaiku?"tanyanya. Iris matanya memaku iris ruby Kyuubi, menuntut sebuah jawaban.

Lama Naruto bahkan tak mendengar jawaban ataupun sanggahan dari Kyuubi, akhirnya dengan berat hati, ia menghela nafasnya, menetapkan pilihannya pada suatu keputusan, yang membuat hubungannya dengan Kyuubi semakin diujung tanduk.

"Souka…? Baiklah, Kyuu–nii. Naruto mengerti, mungkin Kyuu–nii mengambil keputusan ini karena Kyuu–nii tak mencintaiku lagi. Naru tidak apa–apa, Naru tahu kalau Naru akan selalu baik–baik saja."ucapnya dengan mata yang memandang kosong kedepan, mengabaikan tatapan Kyuubi yang terkejut dengan pilihan Naruto.

"Tapi Naru hanya ingin Kyuu–nii tahu, "ucapnya memberi jeda. Ia menghela nafas berat sebelum mengatakan apa yang ingin ia utarakan lagi.

"Kalau aku akan selalu mencintamu. Bahkan jika tak ada kesempatan lagi untukku bersamamu, aku harap akan ada orang yang bisa menepati janjinya padaku. Aku harap orang selanjutnya yang bisa mengambil hatiku darimu, adalah orang yang bisa memegang statement yang telah ia ucapkan. Itu bukan berarti aku mengatakan kalau dirimu tak pernah menepati janjimu. Itu salah, sangat salah. Tapi, ada satu janji yang kau lupakan. Janji, janji yang selalu kupegang dan kupercaya."ucap Naruto panjang lebar. Matanya mulai memerah, pandangannya mulai kabur karena air mata yang telah berkumpul dipelupuk matanya.

Kyuubi hanya menatap nanar saat punggung orang yang amat ia cintai itu mulai menjauh dan menghilang dari pengelihatannya.

"Maafkan aku, Naruto"

Flashback OFF

Naruto meneggelamkan kepalanya diantara tekukan kaki–kakinya. Menyembunyikan isak tangis dan rasa sakit yang selama ini ia simpan untuk dirinya sendiri, dengan ditemani cahaya bulan yang jatuh mengenai tubuhnya, juga angin malam yang menyamarkan suara isakan Naruto. Malam ini, adalah malam penuh kelelahan untuknya.

XXXX

Seorang pemuda dengan rambut jingga duduk termenung dibalik pagar balkon kamarnya. Rambutnya menari terkena angin, dengan kaus putih dan juga jins selutut. Korden berwarna peach yang terpasang di depan pintu balkon terbang tertiup angin yang berhembus, menambah kesan 'sunyi' dikamar sang pemuda bernama Kyuubi itu.

Iris ruby–nya menyapu pemandangan halaman belakang rumahnya yang dipenuhi oleh pohon cemara dan semak–semak bunga mawar merah. Ia tersenyum kecil saat sekelebat ingatan menyergap pikirannya saat melihat sebuah ayunan kayu yang terlihat sedikit tua disudut kolam renang.

Ingatan tentang dua tahun lalu, masa–masa paling indah, memori–memori paling berharga untuknya. Saat dirinya, masih bisa bersama dengan orang yang dicintainya, masih bisa bergandengan tangan, masih bisa saling memeluk, masih bisa saling menyumbui, dan masih bisa mengelus halusnya kulit tan itu saat bersinggungan dengan kulitnya. Ya, pemuda itu. Naruto.

Hingga sampai batas dimana ibu Naruto memintanya untuk menjauhi Naruto, mengatakan kalau dirinya tidaklah pantas untuk bersanding dengan putra semata wayangnya, sang pewaris Namikaze. Siapa lagi kalau bukan Namikaze Naruto.

Tak ada yang tahu tentang itu, alasan sebenarnya kenapa Kyuubi memutuskan hubungannya dengan Naruto. Bahkan ibunya. Ia hanya mengatakan kepada ibunya kalau ia merasa belum pantas untuk nantinya bisa meminang sang Namikaze, dan ia melakukannya untuk mengubah dirinya menjadi orang yang paling layak untuk Naruto.

"Apa setiap cerita cinta harus ada pengorbanan, Naruto? Apa ini yang kau rasakan saat aku bahkan tak memperdulikanmu? Kau memang sudah terlalu banyak mengorbankan perasaanmu, dan saat ini'lah giliranku untuk melakukannya."ucapnya lirih. Bahkan dengan angin yang bisa meningkahi bisikannya, bisikannya itu akan tetap terbawa terbang dan tersampaikan kepada sosok pirang yang saat ini telah tertidur dengan kepala yang jatuh ditumpukan lengan diatas kakinya yang tertekuk. Pemuda itu tertidur dalam tangisnya.

To be continue…

Makasih buat semua yang komen di chapter sebelumnya. Maaf kalau ada banyak banget typos.

Sebenarnya yang jadi teman sekolah itu Ino bukan Karin. Dan sebenarnya Karin itu ibunya Kyuubi.

Dicerita ini Sasuke dan Kyuubi sama–sama kelas sebelas jadi maaf kalau di chapter sebelumnya saya nulis kelas sepuluh. Gomennasai.

Minna–san, saya terima setiap macam tanggapan, entah saran, komantar, atau kritik.

Channie10