Akhirnya Meiru bisa update juga
Gomenasai karena telah mempublish fic ini dalam kurun waktu yang bisa dibilang cukup lama
Semoga para reader sekalian tidak merasa bosan dengan kelanjutan dari fic ini
Meiru sangat senang ketika melihat fic ini ada yang me-review
Makanya ...
Balasan review chapter 1 :
Koizumi Nanaho : terima kasih atas dukungan dan nasehatnya, itu sangat berarti bagiku. Hana Jenibelle Chrysanthemum : sekarang tulisannya sudah ada di pinggir, dan trimz atas dukungannya. Ayano646cweety, Himemiaw : ini sudah aku update. Arigatou
Hamba persembahkan...
ULQUIHIME ^
Slight Grimmhime
۞
۞
۞
Disclaimer Bleach belongs to Tite Kubo
۞
۞
۞
STAR IN THE NIGHT
Ulquiorra sedang mengendarkan pandangannya ke segala arah. Tetapi pandangannya terhenti pada dua sejoli yang ada di pinggir lapangan sekolah. Ulquiorra terkejut dengan pemandangan yang tersaji di hadapannya.
Orihime sedang bersama dengan seorang pemuda. Dan parahnya, pemuda itu adalah Grimmjow Jeagerjacques, salah satu preman sekolah yang paling ditakuti di Hueco Gakuen ini. Walaupun dia seorang preman sekolah, perlu diketahui kalau prestasinya di sekolah tidak perlu diragukan lagi. Dia dijuluki bintangnya basket Hueco Gakuen ini. Berkat prestasinya di bidang olahraga itulah, hingga sampai sekarang dia tidak dikeluarkan dari Hueco Gakuen ini.
Setiap harinya pasti ada saja ulah yang dilakukan oleh Grimmjow. Dari berkelahi, menjahili siswa lain, merusak sarana sekolah, bahkan yang terakhir dia kepergok sedang membolos di tengah jam pelajaran.
Ulquiorra berjalan mendekati Orihime. Kedatangan Ulquiorra ini sepertinya dirasakan oleh Orihime. Hal itu terbukti, dengan berbaliknya Orihime lalu menghadap ke arah Ulquiorra. Orihime tersenyum lembut, menyambut kedatangan Ulquiorra.
Orihime terkejut melihat penampilan Ulquiorra yang seperti sekarang ini. Sepertinya Orihime masih belum sadar akan apa yang telah dia perbuat, sehingga membuat nafas pemuda yang satu ini jadi terengah-engah.
"Ulquiorra, kamu kenapa ? wajahmu berkeringat. Ah, ini pasti gara-gara aku meninggalkan atap tanpa memberitahumu ya? Maafkan aku...", ucap Orihime sambil menyatukan kedua telapak tangan di depan wajahnya.
"Hah...k-kau tidak apa-apa ?", ucap Ulquiorra dengan sedikit terengah-engah. (Tentu saja, dia kan baru saja mengelilingi sekolah sambil berlari).
"Tidak apa-apa"
"Hm, baiklah. Ayo kita pergi dari sini"
Ulquiorra segera menarik tangan Orihime untuk mengajaknya pergi dari situ. Dia tidak mau kalau dia dan Orihime berurusan dengan Grimmjow yang terkenal tukang pembawa masalah. Tapi sebelum Ulquiorra melangkahkan kakinya...
"Tu-tunggu, jangan pergi dulu. Aku kenalkan sama temanku, ya?", ucap Orihime.
Ulquiorra terkejut akan apa yang dikatakan oleh Orihime. Teman? siapa? Mana? Sepertinya di sekitar itu tidak ada orang lain lagi selain mereka bertiga. Muncul tanda tanya besar dalam pikiran Ulquiorra. Tapi tentu saja dia tidak akan mau memasang muka terkejut. (Seorang Ulquiorra gitu loh masa terkejut cuma karena ini. JAIM geto looh...)
"Ulquiorra perkenalkan ini temanku, Grimmjow Jeagerjacques. Grimm-kun ini Ulquiorra Schiffer", ucap Orihime sambil memandang ke arah Grimmjow dan kembali menatap Ulquiorra.
"Hm, jadi ini pelayan pribadimu. Aku sudah mengenalnya. Aku yakin dia juga pasti sudah mengenalku", ucap Grimmjow dengan tersenyum sinis.
"Benarkah? Iya juga ya, kalian pasti sudah saling mengenal. Kalian kan satu sekolah"
Grimmjow bangun dari duduknya. Dan sepertinya dia ingin melangkahkan kainya untuk pergi dari lapangan sekolah.
"Terima kasih, kau telah menolongku, Hime-chan. Kita bisa bicara berdua lain kali"
Setelah mengucapkan hal itu, Grimmjow berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Ulquiorra dan Orihime.
"Tentu saja. Dengan senang hati", ucap Orihime sambil tersenyum melihat kepergian temannya.
Ulquiorra merasa aneh dengan apa yang terjadi di depan matanya. Orihime bisa berteman dengan siswa yang bermasalah macam Grimmjow. Dan lagi, kalau tidak ada kesalahan dalam pendengaran Ulquiorra, sepertinya Grimmjow tadi memanggil Orihime dengan nama kecilnya. Jadi, sejak kapan dan sampai mana hubungan mereka terjalin ?
"Darimana kau mengenalnya? Sebaiknya jangan berurusan dengan anak seperti dia", ucap Ulquiorra.
Muncul sedikit rasa khawatir dan penasaran di dalam hati Ulquiorra. Maklumlah, dia tidak mau sesuatu terjadi pada nona-nya. Seperti bergaul dengan anak yang bermasalah macam Grimmjow. Bisa-bisa Orihime terjerumus ke dalam pergaulan yang tidak sehat.
"Tidak apa-apa. Dia itu temanku waktu SMP. Anaknya memang kelihatan menyeramkan tapi kalau mengenalnya kau pasti akan menyukainya. Tapi waktu kenaikan kelas 3, dia pindah sekolah karena keluarganya pindah rumah ke kota lain. Sejak saat itu kami kehilangan komunikasi antar satu sama lain. Aku tidak tahu kalau sekarang dia sudah kambali ke sini dan sekolah di sini juga. Oh ya, kamu tadi pasti mencariku kemana-mana. Maaf, yaa... aku terkejut sekali waktu melihat Grimm-kun bermain basket dari atap. Jadi, tanpa pikir panjang aku langsung menemuinya. Maklumlah, kan sudah 1,5 tahun aku tidak bertemu dengannya", jelas Orihime panjang lebar.
Orihime terus bercerita tentang Grimmjow sampai suara bel tanda masuk kelas berbunyi.
"Sebaiknya kita harus segera masuk ke dalam kelas. Ini adalah hari pertamamu di sekolah ini. Jangan sampai membuat masalah", ucap Ulquiorra sambil berbalik dan hendak melangkahkan kakinya.
"Tunggu sebentar, Ulquiorra", cegah Orihime.
Ulquiorra menoleh ke arah Orihime dengan tatapan sinisnya yang seolah-olah berbicara ' ada apa lagi !'
.Orihime berjalan mendekati Ulquiorra, dia mengambil sesuatu dari dalam sakunya. Selembar sapu tangan berwarna hijau emerald dan di bagian pojoknya terdapat motif bunga yang berwarna orange. Dengan lembut, Orihime mengelap keringat yang ada di wajah Ulquiorra. Orihime tahu, Ulquiorra jadi begini adalah hasil dari perbuatannya yang tiba-tiba saja menghilang dari atap sekolah. Akibatnya, Ulquiorra harus berlarian mengelilingi sekolah demi mencarinya. Dia tahu kalau Ulquiorra itu orang yang gampang sekali khawatir, yah.. walau tidak terlihat dari wajahnya.
Ulquiorra hanya diam dan menerima perlakuan Orihime begitu saja. Walau awalnya dia agak kesal dengan perbuatan Orihime, yang tidak menuruti nasehatnya dan pergi dari atap sekolah tanpa terlebih dahulu memberi tahunya. Tetapi dengan perlakuan Orihime kepadanya seperti sekarang ini, dapat menghilangkan segala rasa kesal yang tadi telah hinggap di hatinya.
"Nah, sudah selesai", ucap Orihime sambil mengeluarkan senyum khasnya yang sepertinya mempunyai kekuatan yang dapat menentramkan hati orang yang melihatnya.
"Ayo, katamu kita segera menuju ke kelas"
Setelah mengatakan itu, Orihime menarik tangan Ulquiorra dan segera mengajaknya pergi meninggalkan lapangan sekolah tersebut.
Tanpa ada seorang pun yang tahu (tentunya kecuali dirinya sendiri), Ulquiorra tersenyum dengan perlakuan Orihime tadi.
(Ooohh... Ulquiorra-kun tersenyum. Sepertinya dunia akan terbalik. *di-cero Ulquiorra*)
Orihime sedikit kesulitan menghadapi pelajaran di Hueco Gakuen ini. Tentu saja karena di sekolah ini kebanyakan siswanya merupakan siswa yang cerdas dan berkompeten. Tapi itu tidak jadi masalah buat Orihime, karena di rumah nanti pasti akan ada yang mengajarinya dengan sabar. Siapa lagi kalau bukan seseorang yang selalu ada di sampingnya, Ulquiorra Schiffer.
Ini tentu membuat Orihime semakin bersemangat, sebab dia akan terus-menerus dapat berdekatan dengan Ulquiorra. Karena biasanya kalau soal pelajaran, Orihime akan diajari sama Ichigo. Ichigo kan termasuk salah satu mahasiswa yang pandai di universitasnya. Tapi kalau dia satu sekolah dengan Ulquiorra, ini bisa jadi alasan baginya menolak ajakan Ichigo untuk belajar bersama. Dan memilih untuk tetap bersama dengan sang sahabat.
Tanpa terasa bel berbunyi, tanda bahwa para siswa Hueco Gakuen harus meninggalkan sekolahnya dan harus kembali pulang ke tempat peristirahatan mereka masing-masing. Itu juga sebuah pertanda bahwa Orihime harus dapat membuat berbagai alasan untuk menghadapi Ichigo yang tentu saja akan mempertanyakan perihal dia pindah sekolah. Dan hal ini, pasti akan menjadi sebuah pertengkaran yang akan memakan waktu yang lama. Karena sebab itulah, Orihime tidak ingin cepat-cepat pulang ke rumah.
Semua siswa telah meninggalkan kelas dan sekarang tinggal mereka berdua yang ada di situ. Orihime berjalan menuju ke bangku Ulquiorra.
"Ulquiorra, aku ingin pergi ke suatu tempat dulu", ucap Orihime.
Orihime menatap Ulquiorra dengan tatapan tegas namun mengandung permintaan yang sungguh-sungguh. Mereka saling menatap dan akhirnya...
"Hm, terserah kau saja", jawab Ulquiorra.
Karena di sekolah sudah tidak ada orang lain lagi selain mereka berdua, jadi suara langkah kaki mereka memenuhi koridor sekolah. Di saat seperti inilah, Orihime berinisiatif untuk memegang tangan Ulquiorra dan menggenggamnya.
Sepasang mata emerald Ulquiorra agak sedikit melebar, terkejut dengan perlakuan Orihime kepadanya. Tapi kalau dipikir-pikir, Orihime memang selalu dapat membuatnya terkejut. Jadi, ini bukanlah hal asing yang pernah diterima Ulquiorra selama ini. Sekarang mereka berjalan berdua dengan bergandengan tangan.
"Sudah lama ya, kita tidak seperti ini. Kalau bisa memutar waktu aku tetap ingin jadi anak kecil yang bisa bersamamu tanpa ada yang bisa menganggu", ucap Orihime sambil sedikit tersenyum mengingat masa kecil mereka.
"Tetapi kenyataannya, kita sudah dewasa dan saling mengetahui batas-batas di antara hubungan ini", jawab Ulquiorra tegas.
"Tetapi aku menganggap hubungan kita tetap seperti dulu. Kenapa sih kamu jadi berubah seperti ini? Bahkan memanggil nama asliku saja sekarang tidak pernah. Aku mengerti bahwa posisimu yang mengharuskanmu memanggil namaku dengan embel-embel '-sama', tapi kalau kita cuma berdua panggil aku dengan namaku saja"
"Memang sudah seharusnya aku memanggilmu seperti itu. Dulu aku masih kecil, jadi tidak tahu bagaimana seharusnya aku bersikap kepadamu. Tapi sekarang aku sudah mengetahui bagaimana seharusnya aku bersikap kepadamu"
"Jadi sekarang kau menganggapku bukan sebagai temanmu lagi!"
"Teman atau bukan, tetapi kenyataannya hubungan kita tetap adalah seorang majikan dengan pelayannya", jawab Ulquiorra dengan dinginnya tanpa sedikit pun memandang Orihime yang sekarang tengah memandangnya.
"Kau tega sekali berkata begitu padaku!", bentak Orihime dengan mata yang berkaca-kaca.
Orihime berlari meninggalkan Ulquiorra yang diam terpaku melihatnya pergi. Sakit, itulah yang dirasakan Orihime sekarang. Sahabat yang senantiasa melindunginya, tega berkata dingin seperti itu. Seperti tidak ada hubungan yang khusus di antara mereka berdua.
"Gomen, Orihime", ucap Ulquiorra lirih, hanya dia yang dapat mendengarnya.
Ulquiorra hanya bisa menatap kepergian Orihime dengan tatapan sedih dan menyesal yang selama ini tidak pernah ditunjukkan pada siapapun termasuk pada Orihime.
Orihime menangis tersedu-sedu, dia tidak menghiraukan apapun yang ada di sekitarnya. Termasuk kedatangan seorang pemuda berambut jabrik biru. (Tentu kalian tahukan siapa dia?...)
"Wahh, sepertinya kota Karakura akan kebanjiran di siang bolong begini", ucap pemuda itu pada Orihime.
"Hikz...Grimm-kun...hikz...Ke-kenapa ka-kamu ada di sini...hikz...", jawab Orihime dengan terisak-isak.
"Ini kan taman kota. Siapa saja boleh datang kemari, termasuk aku. Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau ada di situ?"
"Me-mangnya..hikz.. kamu ti-tidak melihatnya? A-aku sedang a-apa...hikz..."
"Dasar! Ditanya malah balik nanya. Cepat turun! Kau bisa jatuh nanti!"
Setelah mencerna kembali kata-kata yang dilontarkan Grimmjow kepadanya. Akhirnya dapat membuat kesadaran Orihime kembali 100%. Dia melihat ke sekeliling, di depan matanya yang terlihat hanya dedaunan hijau.
Ternyata posisi Orihime sekarang ini adalah di atas pohon. Jadi selama menangis, Orihime tidak menyadari kalau ternyata dia sedang duduk di salah satu ranting pohon besar yang ada di taman.
"Kyaa...kenapa aku bisa ada di sinii ?", teriak Orihime.
"Gadis aneh", ucap Grimmjow sambil menutup kedua telinganya, karena dia tidak mau gendang telinganya pecah akibat teriakan Orihime tadi.
Orihime memang mempunyai kebiasaan yang aneh. Kalau menangis, dia pasti mencari tempat yang tinggi dan menangis sepuasnya di tempat itu. Karena dengan menangis di tempat itulah, tidak akan ada orang yang melihatnya. Orihime tidak mau orang lain melihatnya yang sedang menangis, karena hal itu akan membuat mereka jadi merasa khawatir. Dia tidak mau kalau orang-orang yang disayanginya merasa khawatir karenanya.
Dulu bahkan pernah ketika ibunya meninggal dunia, Orihime menangis di atap rumah. Setelah dia selesai menangis, barulah Orihime sadar dimana keberadaanya sekarang. Dia berteriak memanggil-manggil ayahnya. Pada saat itu seisi rumah dibuat heboh karenanya. Bisa naik tapi tidak bisa turun, itulah letak keanehan yang terjadi pada Orihime.
Back to story...
"Grimm-kuuun...tolong aku. Aku tidak bisa turun", rengek Orihime.
"Kau kan bisa naik, masa' tidak bisa turun?", ucap Grimmjow yang sedikit menggoda Orihime.
"Su-sudah jangan banyak bertanya..hikz...tolong aku...hikz..."
"Tcih, kau ini! Ya sudah, cepat lompat"
"Lo-lompat? Bagaimana nanti kalau aku jatuh?"
"Tidak akan. Kau nanti akan aku tangkap"
"Kalau kau meleset, nanti bagimana ?"
"kau itu cerewet sekali! ya sudah kalau kamu tidak mau. Aku pergi saja dari sini"
"Eeh, jangan pergii..."
"Ya sudah kalau begitu, cepat lompat!"
"I-iya aku akan lom-lompat. Oh, Kami-sama tolong lindungi hambamu ini..."
Setelah berdoa dan menguatkan hatinya, Orihime melakukan sesuatu yang telah dianjurkan oleh Grimmjow sebelumnya. Yaitu melompat dari atas pohon yang bisa dibilang lumayan cukup tinggi.
Bluk... Orihime berhasil mendarat di gendongan Grimmjow dengan sehat wal-afiat tanpa kekurangan suatu apapun, alhamdulillah...
Grimmjow menurunkan Orihime dari tangannya. Orihime kelihatan masih kaget dengan peristiwa yang baru dialaminya.
"Nah, kau tidak apa-apa kan?", tanya Grimmjow.
"Hm, tidak apa-apa. Terima kasih, Grimm-kun, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku kalau kau tidak ada di sini", jawab Orihime dengan bernafas lega..
"Ngomong-ngomong, dimana pelayanmu itu? Kenapa dia tidak ada di saat kau membutuhkannya seperti ini. Biasanya kan dia selalu ada di dekatmu"
"..."
"Kenapa? Kau bertengkar dengannya?"
"Ti-tidak. Kami baik-baik saja kok"
"Aneh saja. Biasanya dia kan selalu mengikutimu, tetapi sekarang dia tidak ada di sini. Oh iya, ngomong-ngomong siapa yang sudah membuatmu menangis seperti ini? Kau mau aku memukulnya"
"Ja-jangan, lagipula tidak ada yang membuatku menangis. Aku teringat pada Okaa-san. Jadinya aku menangis sendiri seperti ini"
"Benar alasanmu menangis adalah karena hal itu?"
"Be-benar kok. Oh ya, bagaimana kabarnya Nelliel-san?"
"Tidak tahu"
"Kok begitu, sih? Dia kan kekasihmu?"
"Kau saja yang bilang dia itu kekasihku. Padahal aku sendiri tidak menganggapnya seperti itu"
"Tetapi sepertinya kamu menyukainya, Grimm-kun"
"Itu kan menurutmu"
Plek...Mata Grimmjow terbelalak kaget, dia merasa ada sesuatu yang menempel di bahunya. Dia menoleh, dan ternyata Orihime sedang menyandarkan kepala di bahunya.
"Grimm-kun, ternyata sudah satu setengah tahun yaa... terasa begitu cepat. Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi. Memangnya kamu berada di sini sudah berapa lama?"
"Baru 2 bulan yang lalu"
"2 bulan. Selama itu kamu tidak pernah menghubungiku"
"Tanpa menghubungimu pun, sekarang kau sudah ada di sampingku"
"Kau itu tega sekali, sejak kepergianmu kelas tidak ramai lagi. Jadi membosankan deh. Hahh..aku ngantuk sekali"
"Kau itu menangis di tempat yang seenakmu saja. Tidur juga di..."
Belum sempat Grimmjow meneruskan kata-katanya, dia melihat Orihime sudah terbuai di alam mimpinya,
"Dasar, gadis aneh! Tetap saja tidak berubah. Kalau kau tetap begini mana mungin perasaanku bisa berubah", ucap Grimmjow lirih, dia tidak mau kalau karena ucapannya akan membangunkan seorang putri yang ada di sampingnya sekarang ini.
Grimmmjow tersenyum lembut melihat wajah seorang gadis yang tengah tertidur di bahunya. Wajah yang selama satu setengah tahun ini selalu dirindukannya. Grimmjow terhanyut melihat wajah manis Orihime yang sedang tertidur sampai dia merasakan ada seseorang yang sedang berjalan menuju ke arahnya. Dia menoleh, sepasang mata Grimmjow mendapati seorang pemuda bermata hijau yang baru ditemuinya tadi siang, sekarang tengah menatapnya dengan tatapan yang tajam.
"Sekarang waktunya dia untuk pulang", ucap Ulquiorra sambil berjalan mendekati Grimmjow.
"Aku tahu, aku juga baru akan mengantarnya pulang", jawab Grimmjow.
"Terima kasih telah menjaganya. Tapi cukup sampai di sini saja, selanjutnya adalah tugasku"
"Tugas katamu. Lalu dimana kau tadi ketika dia membuthkanmu. Bukankah tugasmu adalah menjaga dan melindunginya?"
"Aku tidak mau berdebat denganmu untuk sekarang ini, karena hal itu hanya akan membuatnya terbangun"
Ulquiorra membungkukkan badannya dan mengangkat Orihime secara perlahan-lahan, agar seseorang yang sekarang ada di gendongannya tidak terbangun. (Wow... bridal style gitu loh... hehehehe...)
"Jangan anggap dengan menjadi pelayan pribadinya, kau bisa melakukan apa saja padanya. Kalau kau membuatnya menangis sekali lagi, aku pastikan kau tidak akan masuk sekolah selama seminggu", ancam Grimmjow.
"..."
Ulquiorra tidak menjawab ancaman Grimmjow, dia melenggang pergi meninggalkan Grimmjow yang kesal melihat kelakuannya. Setelah mereka ada di gerbang taman, tibalah sebuah mobil sedan hitam di depan mereka berdua. Ulquiorra memasukkan Orihime ke dalam mobil, selanjutnya dia juga masuk ke dalam mobil tersebut. Mobil itu melesat pergi meninggalkan taman itu.
Sesampainya di rumah, Ulquiorra menggendong Orihime menuju kamarnya. Untung saja Ichigo belum pulang andai saja dia sudah pulang pasti akan memarahi mereka berdua habis-habisan. Ulquiorra segera menuju ke kamar Orihime yang terletak di lantai 2 rumah ini.
Sesampainya di dalam kamar, dengan perlahan Ulquiorra meletakkan Orihime di ranjangnya. Menyelimuti Orihime dengan selimut yang ada di ranjang itu. Ulquiorra duduk di tepi ranjang dan memperhatikan wajah tenang Orihime yang sedang tertidur. Entah sekarang apa yang tengah dipikirkan oleh Ulquiorra, tidak ada yang mengetahuinya selain dirinya sendiri dan Tuhan. Ulquiorra menghela nafas dan beranjak dari ranjang hendak pergi meninggalkan kamar tersebut. Namun, setelah sebuah suara yang familiar tertangkap oleh telinganya. Ulquiorra mengurungkan niatnya untuk meninggalkan kamar tersebut.
"Ulqui-chan...jahat...", bisik Orihime di tengah tidurnya.
Mata emerald Ulquiorra melebar, tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya. Apa sebegitu bencinya Orihime kepadanya? hingga pada saat gadis itu tertidur masih bisa menggumamkan namanya dan mengejeknya.
Terlihat ada rasa kekecewaan dan kesedihan yang terpampang jelas di mata Ulquiorra. Suatu ekspresi yang sangat jarang ia perlihatkan di wajahnya yang selalu jaim tersebut. Ulquiorra berjalan mendekati ranjang Orihime. Setelah sampai di samping ranjang Orihime, Ulquiorra menunduk dan memegang tangan kiri Orihime. Sekarang hanya ada satu hal yang dapat dia lakukan.
Mengangkat tangan Orihime dan...
CUP
"Gomenasai"
TBC
Sekali lagi Meiru minta maaf, kalau di chapter ini masih terdapat banyak kesalahan
Hamba tidak tahu apakah chapter ini sudah memuat unsur romance dan drama-nya?
Meiru sangat membutuhkan kritik, saran dan dukungan dari para reader sekalian.
Hamba sangat menampung segala inspirasi kalian tentang fic ini
Oleh karena itu...
Mohon review-nya
R
E
V
I
E
W
Arigatou
