Balasan review:
Rahma94,,, sudah dijawab disini, terima kasih.
jihyunelf,,, disini sudah ada jawabannya, terima kasih.
Desviana407,,, iya itu appa kandung kyu, saya juga suka karena kyuhyun bias utama saya J, terima kasih.
kyuli 99,,, iya kecepetan, memang sengaja, karena bukan multi chapter. Memang jarang kyuhyuk makanya sengaja buat, terima kasih.
mifta cinya,,, sudah dilanjut, terima kasih.
Kuroi Ilna,,, hehe, yg terakhir ini malah sangat panjang, terima kasih.
Shofie Kim,,, hehe, memang kecepetan karena cuma twoshoot. Ya ini udah dilanjut, terima kasih.
Retnoelf,,, iya terima kasih.
ririzhi,,, sudah, terima kasih.
mengkyuwind,,, ini sudah dilanjut, terima kasih banyak ya :D
septianurmalit1,,, sudah, terima kasih.
Guest,,, aish kenapa gak sebut nama? Memang kecepetan, hehe. Ini karena main tebak-tebakan sebelumnya sama kamu. Terima kasih.
kyuna. elf. 9,,, #sodorintisu terima kasih.
hyunnie02,,, sudah, terima kasih.
Title : Pelangi
Genre : Family, Hurt/Comfort, Angst
Cast : Kyuhyun, and Eunhyuk
Disclaimer : Kehidupan mereka milik mereka, saya hanya meminjam nama, dan tulisan ini murni pemikiran saya.
Warning : Many typos, gaje, tulisan berantakan, OOC, cerita pasaran, Don't Like Don't Read
Summary :
"Temui dia kyu" / Tapi seingatku ini bukan rumah yang waktu kecil aku tinggali / Aku merindukanmu anakku, aku ingin sekali memelukmu dengan erat, menemani tidurmu, mengelus rambutmu, dan mengecup keningmu / Pelangi ini menjadi saksi dalam setiap kejadian di hidupku.
. . . . .
Sesampainya di rumah, aku benar-benar tidak bisa berpikir. Pikiranku melayang ke jalan yang tadi siang aku lalui. Aku tidak mungkin salah mngenali orang bukan. Aku yakin, sangat yakin dengan ahjussi yang tidak sengaja tertabrak denganku tadi. Argh, pikiranku benar-benar kacau. Aku bingung harus berbuat apa. Dan tiba-tiba hatiku tidak tenang, aku merasakan sesak yang entah datang dari mana. Apa sesak nafasku kambuh? Aku harus tenang, jangan sampai pikiran kacau ini mempengaruhi tubuhku.
Setelah makan malam, aku mendekati hyung ku, aku terbiasa bermanja dengannya sebelum tidur, setelah eomma meninggal.
"Hyungie~~ dengarkan ceritaku"
"Hmm kyu, ada apa" jawabnya sambil mengerjakan tugas essay kuliahnya.
"Aku bingung hyung."
"…"
"Tadi sore, tidak sengaja aku bertemu dengan seseorang yang tidak ku duga."
"hyungie-ah~~~" aku merajuk sambil menarik-narik lengan baju hyungku.
"Iya kyu, aku mendengarkan tentu."
"Aku bertemu dengan appa kandungku hyung."
Eunhyukie hyung terdiam kaku, tidak merespon dan bergerak. Suasana sepi ini berlangsung selama 10 menit, dan aku mulai risih karena tiba-tiba canggung. Aku takut, takut dengan respon hyukie hyung. Tapi aku selalu jujur. Aku terbiasa jujur dengan keluarga Lee. Apapun yang terjadi padaku pasti aku ceritakan pada keluarga kecil ini. Meski di luar rumah aku terkenal dingin dan tertutup sehingga tidak terlalu banyak orang yang ingin berteman denganku.
"Lalu apa yang ingin kau lakukan kyu?"
Akhirnya hyukie hyung merespon ucapan ku. Aku hanya terdiam dan menggeleng pelan. Tiba-tiba Hyukie hyung memegang kedua pipiku dengan tangannya, agar wajahku dapat berhadapan dengannya.
"Temui dia kyu"
"Untuk apa hyung? Lagipula dia tidak tahu aku masih hidup atau tidak. Dia juga tidak peduli padaku hyung. Aku tidak mau. Dan aku tidak tahu dimana dia tinggal hyung. Kami hanya tidak sengaja bertemu di jalan tadi."
"Maka dari itu, temui dia kyu, sebelum semua terlambat, sebelum kamu menyesal."
"Lalu apa yang harus aku katakan hyung?"
"Ceritakan tentang kehidupanmu selama ini, kau bisa kan hum? Kau dongsaeng kecil kesayangan hyung. Kau magnae keluarga Lee yang punya hati yang lapang, pasti kau bisa memaafkan semua sikapnya dulu. Dan dia hanya ingin kau hidup bahagia kan? Dan sekarang kau sudah hidup bahagia dan tercukupi. Belajarlah menjadi orang yang lapang kyuhyunnie."
Aku terdiam mendengarkan semua perkataan hyungku, dan menikmati usapan lembut tangannya di kepala ku. Apa aku bisa memaafkannya? Apa aku bisa kembali menemuinya?
.
.
.
Dua minggu telah berlalu, dan aku sudah mulai bersiap untuk bertemu appa Cho, appa kandungku. Aku telah pamit kepada appa Lee untuk pergi ke kota kelahiran ku. Aku pergi ditemani Hyukie hyung. Aku tidak mau pergi jika hanya seorang diri dan tidak ditemani hyung kesayanganku. Aku memang manja dan menjadi sangat manja karena keluarga ini benar-benar menjdongsaengan ku magnae di keluarga mereka.
"Appa, apa aku benar-benar harus pergi?" sungguh aku merasa ragu.
"Tentu kyuhyunie, kamu harus menemui dia, karena biar bagaimanapun dia adalah appa kandungmu, dan masih sedarah denganmu."
"Tapi appa, aku takut."
"Kenapa kyu? Bukankah hyung mu yang hebat ini menemanimu? Akan hyung pastikan tidak ada seorang pun yang akan menyakitimu." Ucap Eunhyuk hyung dengan sangat yakin.
"Yak hyung, umurku sudah 17 tahun dan sebentar lagi aku akan masuk training untuk menjadi idola. Aku bisa menjaga diriku sendiri hyungie."
"Kalo kamu bisa menjaga dirimu sendiri, kenapa kamu minta ditemani oleh hyung hum?" Tanya hyung ku di tambah senyumnya yang mengejek itu. Uhhh benar-benar menyebalkan.
"Itu karena aku takut di kurung dan tidak diperbolehkan kembali kesini lagi hyung" jawabku kesal sambil menggembungkan kedua pipiku. Kulihat appa dan hyung ku terdiam setelah mendengar ucapanku tadi. Suasana jadi sedikit berubah canggung, ini karena aku yang salah berbicara, pabbo.
"Kyuhyun-ah, appa mu yang sekarang sudah berubah tidak seperti yang dulu lagi. Jadi kamu tidak perlu takut dan khawatir. Jika kamu tidak pulang dan tidak bisa di hubungi selama dua hari, appa akan datang menjemputmu langsung kesana"
Aku dapat melihat keyakinan di kedua mata appa, dan appa tidak pernah mengingkari janjinya padaku, jadi bukankah lebih bijak jika aku percaya dan menurut sekarang.
"Kenapa dua hari appa? Satu hari. Satu hari itu sudah terlalu lama. Bagaimana kalau aku di bawa kabur ke kota lain?" ucapku sambil merajuk.
"Aish, evil. Kamu ini terlalu banyak berpikiran jelek. Kamu kebanyakan nonton film ya. Kan sudah hyung bilang. Hyung akan menemanimu jadi kamu tenang saja, dan sekarang kamu harus berangkat tanpa protes, kajja."
Akhirnya eunhyuk hyung menarikku untuk mulai masuk menaiki kereta, dan setelah di dalam kami melambaikan tangan kepada appa yang masih berdiri di luar.
"Kyu akan cepat pulang appa, jaga diri baik-baik di rumah dan jangan buat masalah ya appa" teriakku.
"Hey kyu, seharusnya appa yang mengatakan itu kepadamu. Dasar pabbo" dan aku mendapat jitakan mulus di kepalalu.
"Appo hyungie~" rengekku.
Kulihat dari jauh appa hanya tertawa puas sambil melambai-lambaikan tangannya pada kami, memang pertengkaran kami seperti hiburan untuk appa. Dan aku senang dapat membuat appa tertawa.
.
.
.
Setelah perjalanan panjang dengan kereta, kami sampai disini di kota kelahiran ku, Cheonan, bagaimana aku bisa tahu? Karena aku jenius tentu dan aku sangat hapal diluar kepala jika aku dilahirkan di kota ini. Kami memegang selembar kertas alamat yang di berikan appa Lee sebelum kami berangkat. Ternyata setelah satu tahun keluarga Lee mengadopsiku, mereka mencari keberadaan appa ku di kota ini, dan setelah tiga tahun pencarian. Appa Lee dapat bertemu appa Cho, dan sempat membicarakan tentang diriku.
Menurut pengakuan appa Lee, appa Cho, tahu tentang keberadaanku juga kehidupanku. Dia juga tahu tempat tinggal kami dan bagaimana aku tumbuh. Appa Cho sering menanyakan tentangku pada appa Lee, hal ini membuatku terkejut karena aku tidak tahu. Dan membuat ku merubah pikiranku untuk menemui appa Cho, setelah di bujuk oleh appa Lee tentu. Lagipula appa Lee mengatakan jika selama sebulan ini, appa Lee belum mendengar kabar dari appa Cho.
Setelah menaiki bis, dan berjalan beberapa meter, kami sampai di sebuah rumah sederhana, sangat sederhana malah. Tapi seingatku ini bukan rumah yang waktu kecil aku tinggali. Aku mulai mengetuk dan memanggil agar penghuni rumah tahu jika mereka kedatangan tamu. Sepi, itu yang ku dapat, setelah hampir 30 menit kami disana, tidak ada yang membuka pintu. Apa tidak ada seorangpun dirumah. Itu yang ada di benakku.
"Permisi" entah ini sudah teriakanku yang ke berapa, dan aku malas berhitung karena sudah banyak. Rasanya pegal sekali, setelah perjalanan jauh, dan sekarang masih harus berdiri di depan pintu rumah orang.
Eunhyuk hyung sangat mengantuk dan tidak sengaja menyenggol pot tanaman di sebelahnya karena menyandarkan tubuhnya ke dinding sebelah pintu, di bawah pot aku menemukan kunci rumah. Aku sungguh sangat iseng karena sangat penasaran, aku membuka pintu rumah dengan kunci tersebut. Sepi dan bersih. Itu kesan yang ku dapat saat memasuki rumah.
Eunhyuk hyung sempat enggan untuk masuk, namun ku bujuk dia dengan mengatakan ini rumah ku juga karena ini rumah appa ku. Kami berkeliling ruangan, disana hanya ada dua kamar tidur dan satu kamar mandi, juga ruang tamu yang merangkap ruang tengah dan bersambung dengan ruang makan dan dapur.
Dari pengamatanku, aku tahu bahwa appa ku hidup sendiri. Dan aku agak kaget karena di setiap sudut rumah banyak foto-fotoku terpajang dengan rapih. Seperti penghias dinding saja. Foto-foto itu saat aku sudah tinggal dengan keluarga Lee. Aku tidak tahu, tenyata appa Cho sudah menjadi stalker untukku selama empat tahun lebih. Hebat, aku bahkan tidak menyadarinya jika tengah diamati dan di foto oleh appa Cho. Memang tingkat sadar kameraku sangat payah, berbeda dengan hyung ku ini.
"Wah kyuhyunie, sebelum kamu menjadi idola bahkan kamu sudah memiliki penggemar" kata Eunhyuk hyung terpesona dan melihat semua foto itu satu persatu. Aku hanya mengangkat bahu tidak tahu.
"Kyu, kyu, lihat ini foto saat kamu terjatuh karena terpeleset kulit pisang, hahaha. Dulu aku sangat menyesal karena tidak bisa mengabadikannya. Tapi ternyata ada yang memfotonya dengan sangat bagus, hahahaha."
"Mwo? Apa-apaan ini?" Aku sungguh malu, itu adalah kejadian memalukan. Karena aku terjatuh di hadapan semua orang yang sedang menonton turnamen basket sekolah. Dan aku menjadi sorotan karena terjatuh saat akan tampil dan melangkah ke tengah lapangan.
"Hey kyuhyunie lihat, ini foto saat keluarga kita liburan ke pulau Jeju. Wow, apa appa mu selalu mengikuti kemanapun kamu pergi kyu? Daebak."
Aku tinggalkan Eunhyuk hyung di depan yang masih sibuk mengamati semua foto satu persatu. Jika appa Cho pulang nanti, aku harus menanyakan semua ini. Aku sungguh tidak terima jika dia selalu mengikutiku terus. Aku melangkahkan kakiku ke ruangan lain untuk memeriksa, siapa tahu appa Cho sedang tidur lelap di kamar.
Di dalam kamar appa Cho, aku temukan buku diary, disana tertulis semua keseharian appa dalam mengintai anaknya, yaitu aku. Sungguh aku tidak menyangka. Tenyata setelah kepergianku, appa mulai berhenti minum dan berjudi, appa mulai bekerja dengan giat untuk melunasi semua hutang-hutangnya, dua tahun setelah itu appa mulai mencariku. Mencari di tempat appa meninggalkanku. Sulit memang karena aku sudah tidak tinggal disana lagi. Appa terus mencariku sehingga melaporkan berita kehilanganku ke kantor polisi.
Beruntung, setahun setelah itu, appa Lee mencari keberadaan keluargaku di kantor polisi. Setelah di cari dengan tumpukan dokumen lama, akhirnya polisi menemukan berita kehilangan ku yang dilaporkan oleh appa Cho, itulah yang membuat appa Lee bisa bertemu appa Cho.
Appa Cho sebenarnya berniat mengambilku lagi, tapi ketika dilihat aku hidup bahagia dengan keluarga Lee, hidup dengan keluarga yang lengkap dan utuh, appa Cho mengurungkan niatnya dan membiarkanku dengan kebahagiaanku.
Tiba-tiba dari depan rumah terdengar ketukan pintu, aku kaget dan menaruh kembali diary milik appa yang belum aku baca semuanya. Aku menengok keluar melihat Hyukie hyung membukakan pintu. Aku berjalan menghampiri, dan kulihat seorang ahjumma sedang tersenyum manis padaku. Ahjumma tersebut datang kemari karena melihat pagar luar rumah terbuka dan menanyakan apakah aku Kyuhyun? Karena wajahku mirip dengan semua foto di dalam rumah, aku mengangguk mengiyakan, ahjumma tersebut tersenyum kembali dan menyerahkan amplop surat warna putih padaku, dia bilang itu dari appa. Dan jika aku ingin bertanya aku bisa mampir ke rumah sebelah dan bisa memangilnya Kim ahjumma.
Setelah Kim ahjumma pergi, aku mulai membuka surat itu dan membacanya sambil duduk nyaman di sofa bersama Hyukie hyung di sampingku. Aku terkesiap saat membaca surat tersebut, hatiku terasa sesak aku benar-benar tidak menyangka dengan isi surat tersebut. Hyukie hyung merangkulku memberiku kekuatan.
.
.
"Teruntuk Cho Kyuhyun, anakku tersayang."
Maaf, Lee Kyuhyun maksudku. Halo nak, bagaimana kabarmu? Kamu sehat bukan? Makan dengan baik bukan? Tidur dengan cukup bukan?
Aku merindukanmu anakku, aku ingin sekali memelukmu dengan erat, menemani tidurmu, mengelus rambutmu, dan mengecup keningmu. Tapi aku tak bisa, semua karena kebodohanku. Dan aku menerima takdir ini. Karena ini adalah hukuman bagiku yang telah menelantarkan anak kandungku sendiri.
Hidupku sepi tanpa kamu menemaniku, nak. Meski kita hanya diam tak pernah bicara satu sama lain. Tapi hatiku tenang karena kamu berada di tempat yang sama denganku. Tapi aku takut, saat para mafia itu mulai menagih hutang dan memintamu sebagai jaminannya. Aku tidak mau nak, kamu anakku, satu-satunya harta peninggalan istriku. Aku tidak mau memberikanmu pada mereka, meski aku membencimu karena telah membut istriku meninggal. Jadi aku mulai merencanakan untuk menyembunyikanmu. Tapi aku tidak tahu kemana.
Sehingga suatu hari pemikiran bodoh itu muncul. Membuangmu, dengan cara meninggalkan mu di jalanan. Aku merutuki sikapku. Sepanjang perjalanan pulang aku sangat cemas padamu. Bagaimana kehidupanmu tanpaku, tanpa rumah, tanpa penolong. Aku tetap menyalahkan diriku sendiri bahkan sampai detik ini. Tapi hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menjamin hidupmu.
Hingga suatu hari aku bertemu dengan Lee Sunghyun, dia mengatakan kamu bersama mereka. Tinggal dengan mereka selama tiga tahun. Aku senang bukan main, akhirnya setelah pencarianku selama setahun, aku menemukanmu, nak.
Aku memberanikan diri mendatangi alamat rumah yang diberikan Lee Sunghyun padaku. Aku ingin bertemu denganmu. Aku ingin memelukmu dan memohon ampun padamu. Tapi langkahku terhenti, saat aku mendengar tawamu, melihat kebahagiaan mu di teras rumah itu. Kamu sedang bermain sepak bola bersama hyung dan appa barumu, nak. Dan disana kamu memiliki eomma yang cantik dan terlihat menyayangimu sedang tertawa melihat permainan bola kalian.
Aku mulai meneteskan air mataku melihat mu bahagia , nak. Dengan keluarga lengkap, dan kamu mendapat limpahan kasih sayang yang tak pernah kamu dapatkan dariku. Aku bahagia melihatmu bahagia.
Tapi tiba-tiba hatiku merasa sakit dan sesak, saat appa baru mu memeluk mu, memujimu bahkan mencium keningmu. Aku sungguh iri. Karena aku tidak pernah melakukan semua itu kepadamu seumur hidupku. Hukuman dari Tuhan ini sungguh kejam bukan nak?
Aku sempat merasa jantungku terhenti saat aku mendapat telepon dari Lee Sunghyun bahwa kamu kecelakaan mobil saat akan liburan dengan teman-temanmu. Aku panik saat itu, untungnya aku sedang berada di Seoul untuk mengirimkan barang, jadi aku bisa menghampiri Rumah Sakit tempat mu di rawat. Appa barumu bilang kamu membutuhkan tranfusi darah, dan mungkin aku bisa menolongmu.
Saat aku melihatmu terbaring di ICU, hatiku sakit bagai ribuan paku yang menancap disana. Jika bisa, aku ingin sekali mengganti posisimu, nak. Agar kamu tidak merasakan sakit apapun. Dan yang hanya kubisa lakukan hanylah memberikan darahku padamu yang terbring disebelahku.
Kamu tidak sadar selama dua hari, membuat banyak orang khawatir. Eomma barumu menangis tiada henti, nak. Aku tidak tega melihatnya. Hyung kesayanganmu pun hanya terdiam memandangi kaca tempat tidurmu. Dan appa barumu gelisah berjalan mondar-mandir tiada henti.
Dan aku, appa kandungmu, hanya bisa melihat dari jauh memandang keluarga barumu. Aku bersyukur melihat mereka begitu menyayangimu dengan tulus, nak. Aku tidak berani menghampiri tempatmu. Karena aku takut terlihat oleh eomma dan hyungmu, nak. Padahal Tuan Lee sudah membolehkan aku untuk dekat denganmu dan menjengukmu. Tapi lagi-lagi aku tidak siap, nak. Appa mu ini sungguh pengecut.
Akhirnya kamu sadar, nak. Aku sungguh sangat senang dan bersyukur kamu dapat bertahan hidup sejauh ini. Kamu sangat kuat, nak. Kamu sungguh hebat. Tapi aku tidak berani melihat mu juga menjengukmu. Hingga tuan Lee memberikan peluang untukku berada di dekatmu. Setiap malam, setelah kamu tertidur, dan keluarga Lee pulang.
Aku memasuki kamarmu, untuk berada di dekatmu. Aku sadar kamu tidak akan menyadari keberadaan appa mu ini. Aku menjagamu tiap malam di rumah sakit dan aku menenangkan mu saat tidurmu mulai tidak tenang. Mungkin karena mimpi buruk. Apa itu mimpi buruk yang aku tinggalkan padamu, nak? Aku ingin sekali bertanya seperti itu. Jika mulai subuh datang, aku akan bergerak keluar kamarmu, agar kamu tidak tahu tentang keberadaanku.
Setelah sekian tahun lamanya, aku melihat air matamu. Air mata berduka karena kehilangan orang yang kamu sayangi. Sakit rasanya hati ini saat melihat air matamu jatuh saat pemakaman eomma kesayanganmu. Andai aku bisa menukar nyawaku untuk menggantikan nyawa eomma mu yang telah pergi, maka aku bersedia memberikannya nak. Agar aku tidak melihat kamu bersedih dan berduka.
Setelah beberapa bulan lamanya, aku kembali ke kotamu, nak. Karena aku menyerah. Menyerah pada takdirku. Aku ingin sekali bertemu denganmu. Jujur padamu juga meminta maaf darimu sebelum waktuku habis. Tapi sayang, saat tidak sengaja kita bertemu di jalan, dengan pikiran kalutku, aku tidak sengaja menabrakmu. Aku terkejut, kamu pun begitu. Apakah kamu mengenaliku nak? Mungkin saja tidak. Dan betapa bodohnya aku, saat kamu tepat berada di depanku, semua keberanianku menguap entah kemana, dan aku takut hingga aku berlari meninggalkanmu lagi di jalanan.
Oh, bodohnya aku ketika aku pulang, aku meratapi semua kesalahanku. Karena ini kedua kalinya aku meninggalkanmu di jalanan. Kedua kalinya berbuat kesalahan padamu. Maafkan appa nak.
Maafkan kebodohan appa mu ini nak. Karena telah membencimu dan menyalahkanmu atas kematian istriku. Padahal kamu adalah anakku, anak istriku juga.
Maafkan kebodohan appa mu ini nak. Karena aku tidak pernah merawatmu dengan baik dan tidak pernah memberikan kasih sayang padamu.
Maafkan kebodohan appa mu ini nak. Karena selalu mengurungmu di kamar dan tidak membolehkan kamu bermain dan berteman.
Maafkan kebodohan appa mu ini nak. Karena membuatmu ketakutan padaku setiap kali aku mabuk.
Maafkan kebodohan appa mu ini nak. Karena telah meninggalkanmu dan melepaskan tanganmu.
Maafkan kebodohan appa mu ini nak. Karena membuatmu memiliki kehidupan yang buruk saat aku meninggalkanmu.
Maafkan kebodohan appa mu ini nak. Karena telah menghancurkan kehidupan masa kecilmu.
Maafkan kebodohan appa mu ini nak. Karena tidak memiliki keberanian untuk menemuimu dan membawamu pergi.
Maafkan kebodohan appa mu ini nak. Karena tidak bisa menjagamu dengan baik dan tidak bisa menemani tidurmu saat mimpi buruk itu datang.
Maafkan kebodohan appa mu ini nak. Karena aku terus bersembunyi di balik bayang-bayang untuk dapat melihatmu mu dari jauh dan mengambil fotomu.
Maafkan kebodohan appa mu ini nak. Karena tidak bisa banyak menolongmu dan mendampingimu untuk memberimu kekuatan disana saat kamu terbaring lemah karena kecelakaan itu.
Maafkan kebodohan appa mu ini nak. Karena tidak bisa menemanimu berlatih bermain basket hingga larut malam jika kamu akan menghadapi pertandingan besar.
Maafkan kebodohan appa mu ini nak. Karena appa mu ini sangat lancang datang dan melihat dari jauh acara pembagian mendali dan piagam kemenanganmu dalam olimpiade matematika padahal appa tidak di undang olehmu.
Maafkan kebodohan appa mu ini nak. Karena appa tidak bisa menghiburmu saat kamu sedang berkabung karena kehilangan eommamu.
Maafkan kebodohan appa mu ini nak. Karena appa tidak bisa menggantikan air matamu menjadi senyum bahagia.
Maafkan kebodohan appa mu ini nak. Karena tidak berani memberi semangat dan kepercayaan diri padamu saat kamu akan mengikuti berbagai banyak lomba menyanyi.
Maafkan kebodohan appa mu ini nak. Karena tidak bisa menemanimu saat kamu gemetar gugup saat akan mengikuti audisi untuk dapat masuk ke agency besar itu.
Maafkan kebodohan appa mu ini nak. Karena sampai saat terakhir tidak berani mengatakan pada siapapun tentang penyakitku.
Maafkan kebodohan appa mu ini nak. Karena aku sekarang hanya bisa tidur tanpa bisa menemuimu langsung untuk banyak bercerita tentang kehidupanku.
Maafkan kebodohan appa mu ini nak. Karena sampai jantungku berhenti berdetak aku masih takut menemui mu. Dan wajahmu terus membayangi langit kamarku.
Maafkan kebodohan appa mu ini nak. Bahkan sampai tarikan nafas terakhirku aku tidak berani meminta maaf langsung padamu.
Dan terakhir, maafkan kebodohan appa mu ini nak. Karena telah meninggalkanmu untuk selamanya dari dunia ini.
Sungguh appa meminta maafmu, bahkan jika appa bersimpuh padamu pun, belum cukup untuk memperbaiki semua kesalahanku.
Ini hukuman bagi appa mu ini, penyakit kanker hati stadium tiga yang sudah menggerogoti tubuhku selama empat tahun. Sebuah mukjizat aku bisa bertahan selama ini. Dokter bilang ini karena semangat hidupku tinggi. Dan dirimulah Kyuhyun, kamulah semangat hidupku.
Aku ingin sekali melihatmu tumbuh dewasa, dan melihatmu sukses dalam meraih impianmu. Aku tahu kamu ingin menjadi penyanyi terkenal. Dan sekarang aku hanya bisa berdoa dan melihatmu dari tempat yang jauh agar impianmu tercapai.
Belajarlah dengan baik Kyuhyunie. Raihlah impianmu, dan buat bangga appa juga keluarga Lee. Appa, eomma, juga eomma Lee akan terus mendampingimu meski kami sudah tidak di dunia ini dan terlihat.
Janganlah pernah melakukan kesalahan yang pernah appa lakukan. Jangan pernah meniru semua kebodohan appa, nak.
Appa menyayangimu, nak. Appa menyayangimu dengan segenap hati dan jiwa appa. Anak appa satu-satunya. Anak kebanggaan appa. Dan anak appa yang tampan, Lee Kyuhyun. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu.
Semoga kita dapat bertemu di alam sana suatu saat nanti.
Salam cinta dari appa.
Cho Younghwan.
Aku meremas surat itu, berteriak histeris, dan kehilangan kendali. Aku seperti orang bodoh yang tidak tahu harus melakukan apa dan tidak bisa berbuat apapun. Dan aku sangat bodoh karena aku tidak tahu apa-apa selama ini. Hyukie hyung tetap disampingku. Memelukku, menguatkanku dan menenangkanku.
"Andwae… Andwae…. Appa….. Arggghhhh…."
Aku bahkan tidak menyadari jika diluar hujan mulai turun dengan sangat deras, menemaniku menangis. Seakan mengerti semua rasa sakit, pedih dan penyesalan di dalam hatiku.
.
.
.
Setelah hujan reda, kami mendatangi rumah Kim ahjumma di sebelah dan menanyakan dimana makam ayahku. Ternyata dekat dari rumah, kami berjalan kesana ditemani pelangi yang mulai terbentuk dengan indah di atas langit sore.
"Hyung, aku bodoh bukan? Aku sama sekali tidak mengikuti saranmu dulu untuk menemui appaku" kataku dengan sorotan mata kosong sepanjang perjalanan ke makam.
"Tak apa kyu, semua yang telah terjadi bukan kehendak kita. Kita berdoa untuk appa mu ya." Jawab hyukie hyung masih tetap merangkulku.
"Tapi aku sama sekali tidak bisa melihat wajahnya lagi hyungie. Bahkan di rumah tadi hanya penuh dengan fotoku. Tak ada foto appa."
"Tapi kamu masih ingat wajahnya kan saat tidak sengaja bertemu itu? Meski kurang dari lima menit, kamu masih mengingatnya bukan?"
"Ne, aku masih sangat mengingatnya. Tapi aku takut melupakannya suatu saat nanti hyung."
"Baiklah, nanti kita tanya Kim ahjumma, apa dia memiliki foto appa mu sebelumnya. Mungkin ada beberapa foto appa mu bersama teman-temanya dulu karena Kim ahjumma adalah teman sekolahnya dulu bukan."
Aku hanya terdiam, dan aku yakin hyung ku tahu jawabanku tanpa aku harus membalasnya. Hyung ku selalu lebih tahu tentang diriku dan biasanya ku akn selalu menuruti semua peringatannya. Tapi entah kenapa saat ini aku sangat nakal sehingga tidak menurut. Ahh penyesalan tuh seperti api yang akan terus membakar diriku tanpa habis tersisa.
Saat kami telah sampai di lingkungan makam, kami berjalan untuk mencari dimana makam appa Cho. Setelanya aku melihat batu nisan milik appa Cho yang berdiri tegak di samping eomma kandungku. Air mataku tidak bisa kubendung lagi. Aku menangis sampai rasanya air mataku akan kering setelah ini.
"Appa, eomma ini Kyuhyunie. Maafkan kyu yang baru saja datang menejenguk kalian. Maafkan kyu yang belum bisa berbakti pada kalian. Tapi kyu terlambat mengatakan ini. Kyu memaafkan kalian, dan kyu sangat menyayangi kalian."
Ini semua akibat kebodohanku karena sempat ragu dan bimbang untuk menemui appa ku sendiri. Dan aku hanya bisa betemu sekali dengan appa ku dan itu tidak lebih dari lima menit. Apa itu cukup? Bahkan hidupu sekarang di hantui oleh rasa sesal, penyesalan itu bagai lubang di hatiku, yang tidak mungkin tertutup, kosong dan membiarkan angin dingin yang menjadi penghuni disana. Membuatku tidak akan pernah melupakan semua penyesalanku seumur hidupku.
Ku tatap pelangi indah di atas langit. Lagi-lagi pelangi ini menemani hariku, saat bahagia, pertemuan, sedih, duka, dan kehilangan. Pelangi ini menjadi saksi dalam setiap kejadian di hidupku.
"Ku titip appa Cho, eomma Cho, juga eomma Lee padamu pelangi. Dan tolong terus temani dan warnai hariku seperti biasa. Jadilah saksi dalam setiap perjalanan hidupku. Terima kasih."
.
.
.
THE END
Yes,,,akhirnya selesai juga hehehe. Maaf jika terjadi banyak kesalahan dalam penulisan di ff ini. Memang alur ff ini saya buat cepat sebab hanya dibuat twoshoot saja. Karena saya masih baru bergabung disini dan ingin melihat bagaimana respon readers terhadap gaya penulisan yang saya miliki ini. Dan maaf kalo cerita ini pasaran. Karena cerita ini mengalir begitu saja saat sedang mengetik cerita ini. Dan jujur saya bingung jika menempatan ini di genre Angst, sepertinya gak terlalu sedih juga, hehehe. Terima kasih atas dukungan readers, reviewers, juga silent reader yang telah membaca cerita yang terlalu biasa dan banyak kekurangan ini. Sampai jumpa.
