Naruto Fanfic © Masashi Kishimoto
Pelangi Impian
By Orange Girls
"Huh, huh…," peluh berkejar-kejaran saling mendahului untuk turun dari tubuh gadis yang berlarian mengejar senja di sore itu. Berlari pun tidak akan menghilangkan wajah cantik dan manis yang dimilikinya. Tingginya yang semampai dan perawakannya yang selalu ceria membuat banyak orang di desanya sangat menyukainya, meskipun baru pindah tahun ajaran baru ini tapi Kushina telah diterima dengan baik di Desa itu karena sifat Kushina yang ringan tangan.
"Kushina senpai~," teriak seorang anak yang melihat Kushina melintas di depan rumahnya dan melambaikan tangannya.
"Konbawa Lee-chan," jawab Kushina sembari melambaikan tangannya sambil berlalu.
"Kaa san, kak Kushina cantik ya. Pokoknya nanti kalau Lee sudah besar, Lee mau menikahi Kak Kushina," ucap anak 5 tahun itu. Ibunya hanya menjawab dengan senyum. Lee adalah tetangga Kushina yang ditinggal mati ayahnya saat membela Negara dan desa. Dengan kondisi seperti itu, Kushina sering membantu dalam menjaga Lee ketika Ibunya sedang repot dengan toko makanan daerah yang dibuka tak jauh dari kediamannya. Tak heran jika Lee sangat dekat degannya.
"Tadaima."
"Selamat datang." Ucap seorang ibu berwajah penuh kasih sayang ini.
"Ibu masih disini? Sudah makan?"
"Sudah, Ibu sudah makan. Kamu cepat makan sana, nanti supnya keburu dingin."
"Wakatta kaa-san, tapi Kushina mau mandi dulu, badan sudah lengket seperti permen, hehehe," jawab Kushina sambil berlalu meninggalkan Ibunya di ruang tamu. Ibunya hanya tersenyum melihat kelakuan anaknya. Dia bangga dengan anak gadisnya ini, ia tidak canggung dan cepat beradaptasi dengan warga desa itu. meskipun Kushina baru pulang dari Tokyo. Saat umur 3 tahun Kushina dibawa karena ayahnya dipindah tugaskan di Tokyo. Namun ketika Kushina beranjak dewasa, orang tua Kushina takut akan pergaulan di Tokyo, sehingga Kushina dan Ibunya pindah ke sebuah Desa kecil yang jauh dari keramaian. Jika ingin ke Kota, mereka harus menempuh perjalanan 1 jam naik sepeda motor. Mereka semula khawatir jika Kushina tidak bisa menerima keputusan ini, tapi kini ibunya sangat bangga padanyan karena sering mendapat ucapan terimakasih dan bantuan dari tetangga dengan cuma-cuma karena kebaikan Kushina yang ringan tangan dan selalu mendahulukan orang lain.
Kushina lalu masuk ke kamarnya, mengutak-atik handphone sebentar sebelum mandi. Ia masih memandangi foto seseorang yang sedang berdiri membelakangi kamera dan sedang memandang lukisan Tuhan pada malam itu.
Malam itu, malam pertama kedatangannya ke desa itu setelah sekian lama. Dari dalam mobil Kushina memandangi jutaan Bintang yang seakan seperti di hamburkan begitu saja pada sehelai kain hitam nan panjang. Saat itu dia sedang asik membuat rasi bintang kalajengking miliknya dalam imajinasi ketika itu ia menangkap ada seseorang yang berada di atas bukit sedang duduk dengan melipat kakinya. Wajahnya menengadah ke atas. 'Tampaknya ia juga sedang menikmati lukisan ini.' Bulan purnama, keadaan sang bulan yang sempurna, didampingi dengan jutaan permata disampingnya. Bintang yang tak pernah jauh dari sang bulan. Damai sekali, seperti tidak ada beban. Tanpa banyak beetanya lagi, Kushina langsung mengarahkan kamera handphone nya pada pemuda itu. Meskipun wajahnya tidak terlihat, karena memang hari sudah malam, namun Kushina samar-samar ingat perawakannya.
Lamunannya melayang jauh hingga sampai di ubun-ubun langit, membumbung sampai ke seantero jagat, tenggelam bersama birunya air laut, dan melayang bersama tawa angin.
Dak.
"Aduh Kaa-san." Sambil menoleh ke hadapan ibunya yang entah dari kapan sudah ada disampingnya.
"Kamu ini, katanya mau mandi. Kenapa malah senyam-senyum sambil lihat handphone? Ya karena takut kesurupan ibu getok pakek entong."
"Kaa-saaan. Zaman se-modern ini masih percaya begituan?" teriak Kushina yang selalu lebih bersemangat dari lawan bicaranya.
"Gomen gomen. Oiya, tadi Lee-chan kesini, mau ngajak kamu main, tapi kamu belakangan ini pulang sore. Jadi dia sedikit kecewa."
"Oh iya, tadi bertemu di depan rumah. Kaa-san, aku boleh tanya? Apa aku boleh pelihara kucing?"
"Tidak tidak."
"Ne~ kenapa tidak?"
"Sekali tidak tetap tidak." Ibunya lalu berdiri dan beranjak pergi.
"Kenapa tidak Kaa-saaan?" teriak Kushina dari kamarnya yang hanya dihiraukan oleh Ibunya sambil menutup telinga.
*.*.*
"Aku berangkat," Ucap Kushina ketika meninggalkan rumahnya. Sambil berjalan dengan mendendangkan lagu, Kushina membuka handphone-nya lagi. Setelah melihat foto pada malam pertama kedatangannya di Desa itu-yang sekarang menjadi latar belakang di handphonenya, dia tersenyum, 'Andai aku bisa menemukanmu,' gumam Kushina dalam hati lalu memasukkan handphone-nya ke saku baju. Itulah kebiasaan kushina yang dilakukannya setiap pagi sebelum mengawali hari-harinya. Dia merasa seperti ada bensin yang menyambar kobaran api semangatnya ketika memandang foto itu.
"Hei, apa yang dilakukannya disini? Bukankah dia yang tadi malam dengan kucing itu? Apa dia anak baru? Seragamnya pun sama denganku," gumam seorang pemuda yang berada tak begitu jauh di belakang Kushina. 'Apa ya yang dilihat anak itu? Apa itu foto kekasihnya? Ia terlihat lebih bersemangat ketika memandang foto itu. Ya mungkin memang begitu, lalu apa peduli ku?' pemuda yang tadi malam tidak sengaja melihat Kushina sekarang berjalan santai dengan langkah malas beberapa meter dibelakang Kushina.
"Menarik," ucap anak pemuda itu sambil berjalan dibelakang Kushina dengan senyumnya yang khas.
Ditempat semalam Kushina bertemu kecing itu, dia berhenti.
"Ohayo Neko-chan. O genki desuka?" sapa kushina pada kucing itu.
"Meauw." Terdengar jawaban dari kucing itu.
"Sarapan datang. Nih buat kucing baik." Kucing itu lalu memakan roti yang diberikan Kushina. Kushina memandang kucing itu dengan senyum lalu teringat sesuatu.
"Oiya, sudah hampir jam tujuh. Aku berangkat dulu yang Neko-chan. Baik baik. Bye," teriak kushina sambil berlalu.
'Gadis yang langka,' gumam pemuda itu sambil tersenyum. Tanpa disadari ternyata sejak bertemu tadi pemuda itu mengamati gerak gerik Kushina dan sesekali tersenyum. Di jalan yang menanjak diatas pemuda itu sudah tidak melihat Kushina karena Kushina berlari, tak selang berapa lama setelah Kushina menghilang dari pandangannya terdengar bunyi yang membuatnya harus berlari ke tempat sumber bunyi.
Brak.
Terdengar suara sesuatu menabrak tiang. Pemuda yang sedari tadi berlari sambil mengamati Kushina dari jauh langsung mempercepat langkahnya entah apa yang membuatnya begitu khawatir. Ia berlari tunggang langgang menghampiri Kushina yang tergeletak dipinggir jalan. Terlihat darah mengucur dari kepalanya.
"Apa yang terjadi pak?" tanya pemuda itu pada seorang bapak yang mengendarai motor yang jatuh karena menabrak tiang listrik yang tidak jauh dari tempat Kushina pingsan.
"Tadi ada anak kecil yang menyebrang sembarangan, lalu gadis itu datang menyelamatkan anak itu. Untung anaknya tidak apa-apa. Mungkin gadis itu terserempet motor saya ketika itu," jelas bapak tadi.
Pemuda itu memandang Kushina dengan menyesal sekaligus bangga. Di dalam dekapan Kushina tampak seorang anak sedang gugup, kaku, dalam dekapan kushina. Pemuda itu miris melihat kejadian itu.
"Kita bawa ke rumah sakit terdekat pak."
"Uh… uh…." Kushina tersadar di pangkuan pemuda itu.
"Kamu sudah siuman?"
"Ugh… bagaimana keadaan Lee?"
Deg! Gadis ini. Sudah terluka seperti ini malah menanyakan anak kecil yang ditolongnya.
"Pikirkan dirimu sendiri, jangan memikirkan orang lain," jawab pemuda itu sambil meninggikan nada suaranya
"Aku tak apa-apa." Kushina memegang tangan pemuda itu "Tolong pastikan anak itu selamat," pesan Kushina sambil tersenyum.
Deg! Pemuda itu terheran terhadap sikap gadis ini. "Baiklah" jawab pemuda itu pasrah. "Jangan banyak bicara lagi, kau kehilangan cukup banyak darah." Nada suara ini adalah nada suara memerintah dan peduli.
Pemuda itu lalu menggendong Kushina, dan membawa nya ke rumah sakit terdekat. 'Siapa dia?' gumam kushina saat melihat pemuda itu, pemuda yang sekarang berdiri menghadapnya, mentari yang bersinar di belakang pemuda itu membuatnya tak bisa melihat wajah pemuda itu dengan baik, dan lambat laun, Kushina pun tak sadarkan diri.
*.*.*
"Huh, dasar. Kushina kemana sih Hinata-san? Ini sudah hampir upacara penutupan. Apa dia tidak mau diloloskan secara resmi?" omel Sakura.
"Um, mungkin Kushina masih di jalan Sakura. Sabar ya."
"Awas saja kalau dia tidak datang. Apa dia tidak mau melihat penampilan ku dan mendukung ku. Ini kan lomba volley kita dengan kakak tingkat. Teman macam apa dia tidak mau menyemangati temannya yang mau bertanding bahkan untuknya?"
"Jangan begitu Sakura ne~ Kushina pasti datang jika tidak ada halangan."
"Hah, ya sudah lah. Yang penting ada kau." Sakura pun memeluk sahabatnya itu.
"Maaf mengganggu kalian," suara dalam itu berhasil membuat kedua gadis yang memiliki warna rambut berbeda menoleh.
"Ya Itachi senpai," Sakura pun melepas pelukannya pada Hinata.
"Kok kalian Cuma berdua? Mana Kushina?"
"Kami juga tidak tahu senpai. Dia belum terlihat dari pagi."
"Un, mungkin masih di jalan senpai."
"Atau dia sakit? Baiklah, aku titipkan kalian saja ya. Tolong berikan ini pada Kushina." Sambil menyerahkan tas kardus kecil berwarna merah pada Sakura. Mereka berdua saling berpandangan heran.
"Ini…?"
"Oiya, tolong jangan dibuka dan langsung saja berikan pada Kushina, terimakasih ya." Itachi pun beranjak pergi yang masih menyisakan segudang tanda tanya besar pada dua gadis itu.
"Hei Hinata, kira-kira apa isinya?"
"Un, aku tidak tahu. Tapi sebaiknya kita tidak membukanya. Itu bukan hak kita."
"Iya iya Hinata-sama."
"Sakura! Jangan formal begitu, apa kamu sudah tertular Kushina?"
"Hahaha Kalau marah mukamu lucu Hinata."
"Un, terserah kamu lah."
"Silahkan memasuki Aula, Upacara sebentar lagi akan di mulai."
"Hei Itachi." Kiba menyenggol Itanchi dengan sikunya.
"Hn," jawab Itachi malas-malasan sambil sibuk di ruangan sound.
"Kau tadi pergi menemui Sakura ya?"
"Iya."
"Lalu?" Tanya Kiba dengan wajah di imut-imutkan.
"Lalu apanya?"
"Lalu kau mengajaknya jalan ya?" tanya Itachi masih dengan wajah imut.
"Urusai yo. Aku tadi hanya menitipkan sesuatu."
"Apa itu?"
"Hi-Mit-Su."
"Hish, aku sudah pasang telinga tegap, malah begitu. Ayolah Itachi beritahu aku. Beri tahu aku."
"Kiba, kalau kau berisik lagi akan kusuruh kau keluar. Aku tidak bisa mendengar kalau kau berisik."
"Yare~ galak sekali. Udah dingin galak, semut aja ogah deket kamu."
"Kiba."
"Wakatta." jawab Kiba jengkel.
"Upacara Selesai. Setelah ini semua siswa baru diharap tetap di tempat karena acara akan dilanjutkan dengan pertandingan volley. Bagi yang bertugas diharap segera menuju ruang ganti."
"Aku ke ruang ganti dulu ya Hinata."
"Un."
Tiba tiba handphone Hinata berdering. Ringtone nya menandakan bahwa itu adalah sms. Setelah membuka sms nya, Hinata langsung menutup mulutnya, kaget, dan langsung berlari keluar Aula. Di dalam ruang ganti, Sakura mendengar handphone nya berdering, lalu membukanya.
From : Hinata
To : Sakura
Sakura-san. Aku benar benar minta maaf. Aku ada urusan yang sangat mendesak dan aku harus segera kesana. Sekali lagi aku minta maaf. Nanti aku hubungi lagi.
Huh, kenapa sih dengan mereka berdua? Apa enaknya tampil tanpa ada yang mendukung? Awas ya nanti kalau bertemu lagi.
"Sakura chan sudah siap?"
"Siap."
'Baiklah jika kalian memang benar-benar tidak datang, akan kutunjukkan kalau aku bisa tanpa kalian.'
*.*.*
"Aku dimana? Uh uh." Ucap Kushina seketika memegang kepalanya.
'Perban, jadi aku sudah di rumah sakit?'
Seketika Kushina sadar apa yang menimpa dirinya. 'Pemuda yang menolongku…Siapa dia? Aku belum mengucapkan terimakasih dengannya.'
Terdengar suara langkah kaki berlari menuju ruangan Kushina.
Ugh. Tak kurang dari satu menit Kushina telah berada dalam dekapan sahabatnya Hinata.
"Kushina kau tak apa-apa? Ada yang luka?"
"Yare~ kau lihat kepala ku diperban masih bilang ada yang luka? Baka." Kushina memukul ringan sahabatnya itu.
"Hahahaha…." terdengar tawa dua sahabat itu.
'Hei, masih bisa tertawa dengan keadaan seperti ini? Kau memang unik, Kushina.
"Oh, kau sudah sadar." Seorang pemuda yang dari tadi mengamati mereka berdua pun berkomentar. Ya dia adalah pemuda yang menolong Kushina. Kedua sahabat itu langsung menoleh kearah datangnya suara.
Deg!
Melihat pemuda itu darah Kushina berdesir, jantungnya berdetak jauh lebih cepat, yang selanjutnya membuat mukanya memiliki warna yang serupa dengan rambutnya, merah. Rambut kuning, mata sebiru lautan, dan senyumnya sukses membuat Kushina terbang ke awan dan berbincang-bincang dengan Dewi Amor*.
"Arigatou nii-san," ucap Kushina singkat memberanikan diri menatap pemuda itu sambil tersenyum. Pemuda itu terdiam. Dia tidak pernah melihat senyum tulus dan polos seperti itu.
"Un, maaf, apa kakak yang sms aku tadi?" Ah Hinata, kenapa kau mengganggu mereka.
Pertanyaan Hinata dengan sukses menyadarkan pemuda itu dari lamunannya. "Ah iya, aku yang sms. Karena kau sudah ada yang menemani, aku permisi dulu. Aku masih ada sesuatu yang harus kulakukan." Pemuda itu pun berlalu dari ruangan itu. Langkahnya terhenti di depan jendela ruangan Kushina. "Oiya, Kushina, sama-sama," ujar pemuda itu sambil tersenyum, lalu benar benar pergi meninggalkan kamar berkuran 4x3 itu.
'Dari mana dia tahu namaku?' warna muka Kushina sekarang menandakan kalau dia masih memikirkan pemuda itu.
"Un,Kushina, kau mengenal pemuda itu?"
Deg!
'Baka! Kau belum menanyakan nama malaikatmu ~' Kushina menjerit-jerit dalam hatinya.
"Um, Kushina." Tangan Hinata sudah berada di depan wajah Kushina.
"Oh, iya iya. Maaf aku tidak mengenalnya. Aku belum sempat berkenalan dengannya."
"Un, lalu darimana dia tahu namamu, aku, dan nomor handphone ku?"
"Aku juga tidak tahu."
"Un, sepertinya kau punya penggemar rahasia sekarang," Hinata menyenggol sahabat nya itu.
"Apasih. O iya, Hinata, kamu bawa handphone kan? Sekarang telephone kan Ibuku. Bilang kalau aku menginap di rumah mu karena banyak tugas."
"Tapi…"
"Sudah, cepat laksanakan. Ini perintah."
"Hahaha…," mereka tertawa lagi. Tawa yang khas dari sepasang sahabat yang saling menyayangi. Tawa yang kini telah mengubah ruangan yang tadinya berwarna putih, sunyi, sepi, kini menjadi ruangan yang penuh warna. Bahkan jika kau tahu isi dalam hati Kushina pasti kau akan menemukan taman bunga. Ya hatinya berbunga-bunga sekarang. Sejak kehadiran si mata Biru.
*.*.*
Mentari yang sedari tadi mengamati semua gerak gerik para cucu adam ini mulai lelah, ia segera kembali ke peraduannya dan digantikan oleh sinar rembulan yang meneduhkan hati. Rembulan tidak pernah bekerja sendiri. Ia selalu bersama dengan ribuan bintang yang setia menemaninya hingga sang raja siang menempati singgasananya.
'Bulan, jika kau mengizinkan kami bertemu lagi pertemukanlah kami seperti kau dengan bintang, yang selalu bertemu pada saat yang tepat dan selalu bersama. Jangan jadikan kami seperti kau dan mentari, yang tidak pernah sekalipun bertemu. Kami-sama, dia telah mejadi bintang di hatiku, izinkanlah aku menjadi remulan yang selalu bisa bertemu dan menemaninya setiap malam.'
Sepulang Hinata dari ruangannya, gadis itu, Kushina, memandangi langit malam yang penuh dengan bintang, dan bulan yang selalu mengiringinya, mengagumi keindahan malam itu di ruang yang serba putih, dan terlelap dengan membayangkan wajah pemuda yang belum diketahui namanya. Namun, mengingat senyum diwajahnya telah mampu membuat Kushina tersenyum sepanjang hari.
*.*.*
"Hai Neko-chan, senpai mu mungkin tidak akan datang beberapa hari ini. Jadi aku yang menggantikan tugasnya."
Ucap pemuda itu sambil berjongkok di depan kucing itu.
"Meow"
"Mungkin kau tidak mengerti," pemuda itu memberikan seekor ikan yang cukup besar untuk kucing itu. Sejurus kemudian 3 ekor kucing yang serupa dengan ukuran lebih kecil menghampiri ikan itu dan mereka makan bersama. Melihat mereka makan dengan akur, pemuda itu pun berdiri dan akan beranjak pergi ketika ada sebuah suara terdengar memanggilnya.
"Maaf senpai. Apa senpai tahu rumah Kushina?" tanya seorang gadis yang memiliki mata sehijau klorofil, ya, Sakura, Saruno Sakura.
Seketika pemuda itu menoleh. Dan mendapati seorang gadis cantik, memakai jam suit biru dan cardigan hitam sedang menenteng tas kecil berwarna merah.
"Oh, Kushina, 'dia pasti Haruno Sakura, sahabat Kushina yang lain' lebih baik kamu mencarinya di Rumah sakit konoha."
"Ne~ rumah sakit?" tak ada sepatah kata pun keluar,pemuda itu hanya tersenyum.
"Terimakasih senpai"
"Aku pergi dulu." Pemuda itu lalu berpaling dari Sakura.
"Maaf senpai, kalau boleh tau siapa nama mu?"
Pemuda itu berhenti dan menoleh pada Sakura, lalu tersenyum, "Minato, Namikaze Minato."
*.TBC.*
Mind to review please…
arigatou buat yang udah review, gomen kalau yang chapt 2 ni agak terlambat dan tidak sesuai harapan..
(^.^)
