Suho POV
Ini sudah kesekian kalinya aku melihatnya berjalan bermesraan dengan orang lain. Lebih tepatnya ia berjalan dengan wanita yang selalu berbeda-beda. Entah berapa kali pula aku melihatnya nampak lebih bahagia dibanding jika ia berjalan bersamaku.
Terus terang aku merasa sakit hati. Sakit sekali. Tapi kemudian aku tersadar. Mungkinkah ia tak bahagia jika bersamaku?
Semenjak aku terakhir melihatnya bermesraan dengan orang lain, aku mencoba untuk tidak menghubunginya sekalipun. Ini merupakan salah satu jalan buatku untuk bisa melepaskannya kalau itu memang yang terbaik. Bagaimanapun juga, aku akan lebih bahagia jika melihatnya bahagia.
Untungnya dia tinggal di apartemennya sendiri, sementara aku tinggal di asrama kampus. Kami pun berbeda jurusan walaupun masih satu fakultas. Itu sudah cukup membuat sedikit jarak diantara kami.
Lagipula kami pun sudah masuk semester akhir, dimana tugas kuliah yang menumpuk ditambah dengan jadwal bimbingan skripsi yang tidak menentu sudah menjadi bagian dari kehidupan kami.
Awalnya memang berat untuk tidak melihatnya walau hanya sehari saja. Tapi kali ini aku benar-benar bertekat untuk mencoba mengontrol diriku.
Sehari, dua hari, hingga akhirnya satu minggu. Aku sama sekali tak menerima kabar darinya. Sms, telpon, email, bahkan di jejaring sosial pun tidak. Aku pun mulai terbiasa dengan ketidakhadirannya.
Kadang aku berpapasan dengannya di kantin kampus. Tapi aku selalu bisa menyembunyikan diriku. Untung saja badanku tidak terlalu tinggi. Aku jadi mudah tersembunyi oleh teman-temanku yang lebih tinggi.
Aku hanya bisa pasrah. Hubungan kami memang dari awalnya tidak jelas. Walau kami pernah tidur bersama, aku merasa dia melakukannya seperti dengan teman kencannya yang lain. Aku tak pernah merasakan cinta di matanya. Ya, mungkin hanya aku saja yang memiliki rasa yang lebih terhadapnya.
Sebulan kemudian aku selesai sidang skripsi dengan hasil cukup memuaskan. Tak lama setelah itu aku wisuda didampingi kakak laki-lakiku dan istrinya yang tengah hamil. Orangtuaku memang sudah tiada. Yang tersisa hanya aku dan kakak laki-lakiku yang usianya terpaut 5 tahun denganku.
Aku tak melihatnya diantara para wisudawan. Mungkin saja dia tidak bisa menyelesaikan skripsinya tepat waktu. Ia pun tak pernah kelihatan ketika aku mengurus ijazah kelulusanku.
Akhirnya aku pun memutuskan untuk benar-benar melepaskannya. Aku mengganti nomor handphone dan emailku. Aku hanya memberi tahu teman-teman dekatku. Aku pun sudah menon-aktifkan jejaring sosial yang ku punya. Aku memutuskan untuk memulai kehidupan baru. Aku harus menjadi Choi Suho yang tak lagi menengok ke belakang.
Kris POV
Entah mengapa aku memikirkan anak itu. Entah sudah berapa lama aku tak dihubungi olehnya. Aku sendiri memang bukan tipe orang yang menghubungi terlebih dahulu jika tidak benar-benar penting.
Sebenarnya aku hanya bermain-main dengan anak itu. Dia memang manis, baik, perhatian. Tapi dia laki-laki. Sama sepertiku. Kami memang pernah tidur bersama. Waktu itu aku memang sedikit mabuk. Tapi dia tak menolak ketika aku melakukan itu.
Kami pun sempat beberapa kali melakukannya lagi. Bukan karena aku merencanakannya, aku hanya terbawa suasana. Dia pun lagi-lagi tak menolak. Asal kami sama-sama puas tak masalah bukan?
Setelah menimbang-nimbang, akhirnya aku mencoba untuk menghubunginya. Aku coba sms, tapi gagal terkirim. Aku coba telpon, nomor handphone-nya tidak aktif. Aku pun membuka jejaring sosialku dan mencari miliknya, tapi aku tak menemukannya. Ada apa dengan anak itu?
Aku pun kemudian memutuskan untuk mencarinya di asrama kampus. Sekalian aku jalan-jalan ke kampus setelah sekian lama hiatus karena aku pusing dengan skripsiku.
Aku pun segera menuju ke kamarnya. Aku tiba tepat saat rekan sekamarnya baru akan mengunci pintu.
"Kris?" tegur rekan sekamarnya itu.
"Ah, Lay! Apa kabarmu? Ngomong-ngomong Suho kemana?" tanyaku.
Laki-laki yang bernama Lay itu hanya bisa terperangah.
"Suho? Kau mencari Suho?" tanya laki-laki itu memastikan ia tak salah dengar.
"Iya. Aku mencari Suho. Sudah lama aku tak bertemu dengannya. Jadi aku ingin mengajaknya makan siang bersama." balasku sambil berusaha mencari-cari alasan yang lumayan logis.
"Kau benar-benar tidak tahu?" tanya laki-laki itu lagi.
Aku pun semakin bingung. Memangnya kenapa?
"Suho sudah wisuda 3 bulan yang lalu. Dia pun sudah kembali ke Korea. Kau tak diberi tahu?" sambungnya.
Jawaban itu ibarat petir yang tiba-tiba menyambar bumi dengan bunyi yang memekakkan telinga.
Anak itu sudah wisuda? Anak itu sudah kembali ke Korea? Kenapa aku tak diberi tahu?
"Kris?" laki-laki itu kemudian membuyarkan pikiranku.
"Ah, iya." balasku tergagap.
"Maaf aku harus segera pergi. Aku harus bertemu dengan dosen pembimbingku sepuluh menit lagi." ujarnya.
"Ah, ya. Silahkan." jawabku masih tergagap.
Laki-laki itu kemudian melesat pergi setelah mengucapkan selamat tinggal. Aku hanya bisa melihatnya berlari semakin menjauh hingga akhirnya tidak terlihat lagi.
Suho. Choi Suho pergi meninggalkanku?
Sejak saat itu, entah mengapa ada yang hilang dari diriku. Aku jadi semakin tak semangat kuliah. Aku pun mencoba berkencan dan tidur dengan perempuan lain seperti yang biasa ku lakukan. Tapi itu tak juga membuatku merasa lebih baik.
Itu menjadi semakin buruk ketika akhirnya aku tak bisa melakukannya seperti biasa. Ini mimpi buruk semua laki-laki di dunia. Aku tidak bisa ereksi. Bagaimana aku bisa kalau setiap aku akan melakukannya wajahnya selalu muncul di kepalaku?
Aku kemudian menjadi peminum alkohol. Isi kulkasku pun sudah nyaris dipenuhi botol-botol alkohol. Tiap hari aku akan minum sampai aku muntah. Badanku pun semakin kurus karena aku nyaris tak pernah makan.
Ini berlangsung lumayan lama sampai salah seorang sahabatku. Xiumin, menegurku.
"Aku tak tahu apa masalahmu. Tapi kalau masalah itu sampai membuatmu seperti ini, maka itu adalah masalah besar. Kau ini laki-laki. Hadapi masalah itu dengan jantan! Selesaikanlah masalah itu, maka hidupmu akan menjadi tenang." ucapnya.
Kata-kata itu seperti menamparku. Aku pun tak sadar kalau air mataku sampai menetes.
"Aku tahu kau senang berkencan dengan gadis yang berbeda setiap minggu. Itu gaya hidupmu. Aku tak bisa memaksamu untuk berhenti kalau kau menikmatinya dan teman kencanmu pun tak mempermasalahkannya. Tapi yakinlah, ada saat dimana kau harus berhenti dan memilih satu orang sebagai pendamping hidupmu. Seseorang yang akan berbagi suka-duka denganmu. Seseorang yang akan menjadi harta tak ternilai buatmu." sambungnya.
Aku kemudian menundukkan kepalaku. Seisi kepalaku ini hanya dipenuhi bayang-bayang laki-laki yang sudah meninggalkanku.
"Mungkin saat ini kau sudah tiba pada titik itu. Yang bisa ku sarankan sekarang hanya satu. Temukan siapapun orang itu. Minta maaflah kepadanya dan kalau masih bisa, buatlah ia menjadi milikmu." sambungnya sambil menepuk pundakku.
Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku. Mungkin memang itu yang terbaik. Ya, aku harus mencarinya. Aku pasti berhutang banyak permintaan maaf karena aku sudah pasti menyakiti hatinya. Tak peduli dia itu laki-laki. Aku akan menjadikannya milikku seutuhnya.
"Dan satu lagi, kau harus berhenti minum alkohol. Jadilah laki-laki yang lebih baik sebelum kau bertemu dengannya. Buat dia yakin kau sudah berubah menjadi laki-laki yang lebih dewasa dan bertanggung jawab." sambungnya lagi.
Aku pun berjanji akan berubah demi laki-laki itu. Ya, aku harus menjadi laki-laki yang lebih baik kalau aku akan bertemu dengannya nanti.
