Balada Souji Seta
Genre : Drama / humor / romance
Disclaimer: Persona milik ATLUS. Beberapa dialog adalah milik Shina Suzuki dan Miyashita Kuroka yang tersebar pada beberapa topik di PLI. Sisanya kembali pada pemilik masing-masing.
Rating : T
Synopsis : DLDR, Prekuel dr fic You Will Never Know. Apa yang akan kau lakukan saat mimpi burukmu jadi kenyataan? RyoNao, RnR?
Author Notes : Mungkin ini adalah fic dgn bahasa terlebay yg pernah saya buat^^.
.
BAB 1
PEDANG TETESAN AIR MATA
(Senandung Jiwa yang Teraniaya)
.
Kala pementasan di depan mata
Gelora sutradara makin membara
Meski mulut katakan rela
Benarkah hati bermakna sama?
.
Sepasang speaker radio berbunyi kencang. Nyanyikan senandung lama drama mafia semampu ia bisa memperdengarkan. Memecah kesunyian ruang dengan untaian nada suara meminta pemaknaan ketika seorang pria berambut putih berjalan tegap menyusuri aula.
.
Rushing waves, flowing waves
Thousand miles of the torrential river flows ceaselessly forever
Washed away the worldly affairs
Torrential mixing of the tidal currents
Is it happiness? Is it sorrow?
.
Gagah perkasa, tangguh menawan.
Berkimono hitam, tato tak cukup selengan.
Konon kata orang wajahnya rupawan.
Tapi siapa sangka laksaan lawan telah ditewaskan.
Kenji, itulah namanya. Pendekar Pemandian Panas julukannya. Ia adalah seorang penyoreng pedang. Penghuni rimba hijau telaga persilatan yang senantiasa mencari pertarungan sebagai cara mencapai kesempurnaan. Namun tiada pernah dicapainya sebab belum pernah sekalipun ia terkalahkan dalam pertarungan, sedangkan kalah itu sendiri sama dengan kematian. Mati semati-matinya mati tanpa pernah hidup kembali menyambut sinar mentari.
Layaknya pendekar pada umumnya, Kenji hidup mengembara dari suatu tempat ke tempat lain. Dari perguruan satu ke perguruan lain. Mencari lawan tetapi tak pernah menemukan kawan. Mendapat kekuatan bukan berarti kekuasaan. Punya kemampuan pantaskah digunakan 'tuk menindas kecuali melawan yang jahat. Sekalipun adalah benar ia memiliki sebilah pedang mustika bercahaya buas berulirkan air mata pada bilah tebalnya. Yang terkenal sanggup membelah kutung manusia tanpa menumpahkan darah.
Musikpun terus bergulir.
Lanjut mengalir...
Suara penyanyi makin memekik
Entah kenapa seseorang jadi ingin mencekik.
.
Hard to differentiate between happiness and sorrow in the waves
Success? Failure?
Hard to see in the waves
Love you? hate you?
Asked you if you know
.
Adapun suatu ketika, dalam pengembaraannya menuju Perguruan Mangkuk Putih di kaki Gunung Huakow tempat Sun Go Kong tinggal. Sampailah Kenji pada sebuah desa bernama Dusun Hakuma Matata Mina Mina, dimana rupa-rupanya tengah terjadi perselisihan antara juragan bakpao bernama Lu Xun, melawan juragan jagung bakar bernama Reno karena disinyalir anak perempuan sang juragan bakpao bernama Eng Tay telah dibawa kabur oleh putra si juragan jagung bakar bernama Romeo seusai makan-makan di depan rumah juragan sate ayam bernama Naruto akibat ditentangnya hubungan mereka oleh orang tua kedua belah pihak.
Tiba-tiba alunan lagu terhenti.
Suasana jadi sepi.
Kemudian muncullah dua orang berpakaian petani lusuh bernama Yosaku dan Chiehi yang hendak pergi membajak sawah akan tetapi secara kebetulan bertemu sua dengan sang pendekar.
Ujar mereka.
"Look! It's Kenji! The Serpent Son!"
"Umm...So that's really him! The Dragon Clan finally comes to end these conflict... Prepare for the worst!"
Hening...
Dan...
"CUT!CUT!CUT!"
Mendadak suara teriakan seorang wanita berbando merah membahana, membelah suasana sarat nuansa. Buyarkan segenap percakapan merangkap jalan cerita dengan penuh gelora amarah, sembari diiringi derap langkah kaki yang berjalan cepat menginjak latar. Ganti segenap keadaan dari gambaran pedesaan abad pertengahan jadi panggung sandiwara semata. Dimana tim drama arahannya tengah bersiap mati-matian menghadapi sebuah pementasan 'tuk festival kebudayaan beberapa minggu ke depan.
Penuh kesungguhan.
Namun apa daya hasil masih jauh dari harapan.
Padahal kesabaran sudah di tapal batas.
Ia lalu memandangi semua pemeran drama lekat-lekat. Lalu mendengus keras pertanda kekesalan. Sebelum ditumpahkannya rasa sebal pada si pelengkap penderita bernama Yosuke Hanamura, pemeran Yosaku si petani miskin dalam naskah drama berjudul "Pedang Tetesan Air Mata" sambil menggerakkan kepalan kedua tangan ke depan bak encim pemilik kontrakan pemilik jurus raungan singa dalam salah satu adegan film Kung Fu Hustle via sebuah seruan.
"MANA EKSPRESINYA!"
Yang kontan membuat segenap orang terdiam.
Bungkam dalam keterkuncian seribu bahasa.
Miskin kata namun sarat akan makna.
Sekalipun aksara kosong tindakan bagai makam.
"Err...T-tapi Yukiko-san...apa kamu yakin kita akan maju memakai naskah ini?"
"Tentu saja!" Jawab Yukiko, "Apa kau keberatan dengan itu?"
"T-tidak... A-" Ingin rasanya Yosuke 'tuk memberikan jawaban akan tetapi pada saat ia hendak melanjutkan, tahu-tahu saja perkataan sang sutradara telah berkelebat lantang memotong ucapannya. Babat seluruh keberanian jiwa melalui sepasang tatapan nyalang. Laksana macan yang hendak menerkam jikalau pertanyaan terus digulirkan.
"Baguslah kalau begitu! Tapi, kenapa sekarang suaramu serupa ayam sayur dimasak kuah! Siapa pula kiranya yang telah mengajarimu gaya bicara 'Udyah Hutjhyan, Betchyek, Ngga' Adda Ouwjyek' seperti itu? Apakah aku? Ataukah Rise? Chie? Atau Kanji?"
Yosuke tidak menjawab.
"JAWAB!"
Geram... Juga kesal... Lagi memuncak. Amarah telah menutup sukma. Ubah segumpal salju jadi lautan lahar panas. Akibat jawaban tak kunjung didapat. Sang sutradara, pengarah peran sekaligus penulis naskah akhirnya tenggelam dalam kemurkaan. Dengan kasar ditariknya kerah baju Yosuke sembari berteriak kencang sampai-sampai seorang bocah bagian peralatan bernama Teddie ketakutan dan lari tunggang langgang penuh linangan air mata bersama gema ucapan, "Yuki-chan seram-Kumaaa!" terdengar di mana-mana.
"Heeehhh...kau gila, Yukiko..." ucap Yosuke lemah. Ingin ajukan keluhan bernada sopan sebisa mungkin hindarkan ketersinggugan perasaan. Niat hati wakili segala pendapat untuk sadarkan sang nona dari angkara penyebab kedurjanaan. Pembuat kegilaan berupa cerita tabrakan novel silat besar karangan pujangga terkenal dengan unsur-unsur minim kejelasan nan penuh ketersesatan. Akibat 'dicampakkan' sang pacar ke dasar jurang keputusasaan.
"Apa kau bilang?"
"Kau gila, Yukiko..."
Mendengar hal tersebut tak ayal membuat sang gadis merah menggelengkan kepala. Tersenyum sekalipun ia sadari betul bahwa sesungguhnya tiada sesuatu hal yang dapat dikatakan lucu kecuali serangkaian kalimat pemancing keributan berkepanjangan.
"Kau gila, Yukiko..." ujarnya pelan menirukan segenap ucapan perlahan, "BILANG YANG KERAS: KAU GILA, YUKIKO! Paham!"
"Pa-paham..."
Gentar, terpaksa si korban menuruti kehendak 'atasan'.
Entah kenapa mendengar teriakan tersebut, Yosuke jadi paham akan alasan mengapa Chie belakangan ini lebih suka keluar ke pusat kota bersama Rise atau Hanako. Sekaligus menyayangkan kenapa pula salah seorang temannya, Yumi Ozawa harus masuk rumah sakit akibat keracunan makanan. Padahal jika ia masih ada sekarang, sudah tentu seluruh kegilaan ini tinggal angan-angan belaka. Aih... Yukiko... Yukiko... Masihkah engkau sedemikian marah bertabur dendam kepada kami semua karena lupa memberitahumu kenyataan perihal hubungan sensei dengan Naoto dulu?
.
Walau kejadiannya telah lama berlalu.
Meski dirimu berucap setuju memberi restu.
Tapi apa hasil kelakuanmu tuan putriku?
Sebab aku-pun kini tak tahu.
Benarkah engkau masih sama dengan yang dulu?
.
Kutahu engkau penyuka warna merah membara
Terlepas dirimu adalah salju yang menyejukkan.
Namun salju tersebut akan selalu ada
Karna kutahu salju dalam hatimu mustahil terhapuskan
Sekalipun kemarau panjang senantiasa mendera
.
Hanya saja itu dulu, tuan putriku
Kini lihatlah betapa salju itu telah mencair
Sekaligus musnah tandas digantikan lahar
Yang panas membara membakar
Semua orang termasuk diriku
.
Engkau sekarang bagai sepuluh matahari
Dengan sosok jauh dari mentari
Bukan lagi putri melainkan maharani
Dengan sifat dominan sebuah tirani
Kejam, beringas, bengis tanpa nurani
.
Chie ditamparnya
Teddie dianiayanya
Rise-pun dipalaknya
Sedang aku dihajarnya
Selagi Kanji ditinjunya
.
Padahal tiada kesalahan kami perbuat
Kecuali kelalaian pemberitahuan semata
Soal asmara Naoto Shirogane dengan Souji Seta
Yang meski sudah terkenal
Tapi tak kau pahami jua
.
Sensei, sadarkah kau 'kan apa yang kau perbuat?
.
"Oke! Kalau begitu kita ulangi lagi adegannya!"
Puas mendapat jawaban sesuai harapan. Wanita berambut panjang itu lalu menepukkan tangannya lantas mulai berjalan mundur dengan penuh semangat disusul ucapan:
"Siap! Dan... Action!"
Hanya untuk kembali disela oleh seorang pelakon lain, yakni pemeran tokoh Kenji yang sejatinya bernama asli Kanji Tatsumi via ucapan, "Tunggu sebentar!". Dimana maksud awalnya adalah guna memberitahukan adanya suatu ketidakberesan (baca: keanehan) sosial di muka. Cuma bisa apa kalau sebuah tatapan buas lagi haus darah justru dijadikan jawaban terhadap sanggahan. Seolah gerakan pencabut nyawa siap diberikan andai ujaran tertahan gagal puaskan kehendak perihal ungkapan sepadan.
"Ada apa lagi?"
"I-itu... Souji-senpai... Entah kenapa kok..."
"Hah!"
Penasaran, Yukiko-pun mengalihkan pandangannya pada sang 'pacar'.
.
"I enjoy crushing bastards"
-Julian Assange-
.
TBC
.
Sedikit Komentaar :
Special thx as always saia berikan pada PLI dan segenap usernya, iklan obsesi, film Shanghai Bund (OST-nya), Wikileaks, Tolololpedia (cerbung dan isinya), Battle Realms, drama kampus saia dulu^^, cersil Pedang Tetesan Air Mata oleh Khu Lung, Syair Jiwa-jiwa pemberontak oleh Kahlil Gibran, Mara Army buat reviewnya, semua pembaca dan semua yang sekedar mampir ke fic ini untuk lihat2 semata. Tanpa kalian semua ini tidak akan bisa terwujud. 'Till the next chapt and GOOD LUCK!
.
.
.
V
