Disclaimer : Super Junior isn't Mine

.

.


Special thanks:

The | Park Hyo Ra | oryzasativa | Shin EunSub | ame chocho Shawol

Meong | Kim 'Nyx' Eunjung | kangkyumi | NervaFS | Lee HyoJoon

Kim min ra | winter boy | chole kyumin | Cloud1124 | LabuManis

park soohee | Viivii-ken | Kim Min Lee | Fu


.

.

.

"My Lovely Mochi Student"

Created by Park Young Ha © 2012


Warning:

Alternate Universe

Out of Characters

Miss Typo(s) – Typo(s)

Shounen Ai – Boys Love

Pair 'Zhou Mi x Henry Lau'

Lil. Bite Romance

Alur ngebut!

Don't Like? Don't Read!


"Henry Lau, kelas 2.3, benar?" Zhou Mi membaca arsip di mejanya.

"Sering terlambat dan bermasalah dengan bagian Keamanan OSIS. Berkali-kali bolos dalam pelajaran Matematika."

"Tunggu, Songsaengnim. Bisakah kau loncati saja bagian itu."

"Aku belum selesai, Henry Lau. Kau bahkan juga menendang kaleng yang mengenai mobil songsaengnim-mu-."

"Tu-tunggu! Kaleng?"

"Ya. Kau tidak lupa soal kaleng tadi pagi, 'kan?" Zhou Mi tersenyum mencurigakan menatap namja di depannya, yang kini menatapnya tajam. "Tenang saja, hukumanku tidak akan menyakitkan, Henly-ah."

.

.

.

Dan di sinilah Henry Lau sekarang berada.

Sebuah ruangan yang dibencinya dan dengan setumpuk soal dari mata pelajaran yang sangat, sangat, dan teramat sangat dibencinya. Yaitu, Matematika! Benar sekali, Matematika. Oh ayolah haruskah pelajaran menyebalkan itu ditulis kembali lengkap dengan capslock dan bold?

Dan bukan hanya kedua hal itu saja yang membuat seorang Henry Lau nyaris gila. Sang tersangka*?* penggagas hukuman ini tengah duduk sedekat mungkin dengannya dengan tingkah seduktif yang membuat berdiri bulu kuduk seorang Henry.

"Aku tahu kau menikmati hukumanmu, Henly-ah," kata-kata Zhou Mi yang diucapkan dengan nada rendah tepat di telinganya, sontak membuat Henry bergidik.

"K-kau menakutkan. Menjauhlah dariku!" Henry berdiri seraya menunjuk dengan sangat sopan –versi Henry tentu saja– tepat di depan muka Zhou Mi.

Dan Zhou Mi pun hanya terkekeh melihat tingkah namja mungil itu.

"Kau itu unik sekali, Henly. Menghadapi para regu Keamanan OSIS saja terlihat berani, tapi kenapa sedikit godaanku kau ketakutan begitu, hm?"

"Itu berbeda, Seonsaengnim!" elak Henry keras. Dia duduk kembali setelah dirasanya koala tinggi di sampingnya mulai jinak*?*.

"Hahaha sudahlah aku bosan. Kemasi bukumu. Ayo pulang," ajak Zhou Mi setelah tawanya reda.

"Mwo? Jinjja?" tanya Henry tak percaya. Dalam pandangannya sang koala mendadak menjadi pangeran berambut merah yang mempesona. Tentu saja. Karena Zhou Mi mengajaknya pulang yang itu artinya ia sudah bebas dari tugas Mate-mati-ka ini.

"Dan kerjakan tugasmu di rumah. Kumpulkan besok!"

Senyum mendadak hilang dari wajah Henry, plus berbonus Zhou Mi yang kini menjelma menjadi koala lagi.

"Waeyo?" tanya Zhou Mi heran dengan pandangan kesal Henry. "Aku terlalu ganteng, eoh?"

Henry berlagak muntah mendengar kenarsisan akut sang Seonsaengnim. Diraihnya tasnya dan ia segera pergi meninggalkan Zhou Mi yang masih tersenyum-senyum sendiri.

"Tunggu, Mochi!"

Henry yang merasa 'Mochi' adalah nick name kebanggaannya yang lain selain 'Violin prince' berhenti dan menoleh menatap Zhou Mi. Ia belum sempat bertanya 'ada apa', saat mendadak Zhou Mi berjalan ke arahnya dan mengamit tangannya lembut.

"Ayo kita makan dulu. Aku yang traktir."

.

.

.

"Kenapa kau memandangku seperti itu? Waeyo?" Zhou Mi menghentikan makannya dan menatap hazel namja itu yang kini tertahan padanya.

"Eh? Ngg ti–tidak apa-apa, Seonsaengnim," ucap Henry gugup. Wajah chubby itu menunduk, menyembunyikan roman mukanya yang memerah.

Zhou Mi tersenyum kecil melihat tingkah namja di depannya.

"Apa ada yang aneh?" tanya Zhou Mi lembut. "Henly-ah?"

Henry mengangkat wajahnya, dan hazel itu segera bersiborok dengan onyx Zhou Mi.

"A-aniyo. Hanya saja…"

"Nde…?"

"Warna rambutmu merah."

'Tek'

Zhou Mi meletakkan sumpitnya dan menatap Henry bingung. Zhou Mi merasa heran dengan kata-kata namja tukang bikin onar yang nyatanya kini terlihat malu-malu dan sangaaaatttt innocent di depannya.

"Aniyo. Hanya saja… ahaha lupakan." Henry tertawa seraya mengoyangkan tangannya di depan dada. Dan memilih melanjutkan makannya yang tertunda. Mumpung gratis, pikir namja itu jahil.

.

.

.

"Rambutnya merah dan mobilnya pun merah. Apa ini artinya guru koala itu cinta sejatiku?" Henry yang sedang berhadapan dengan soal Matematika yang belum selesai justru memilih melamun membayangkan guru Matematika berambut merah nan tinggi itu. Tangannya tak bisa diam menggerakkan lampu belajar di atas mejanya ssambil berpikir keras.

"Ah, Henry pabbo! Kenapa aku tidak memastikannya saja. Kelihantannya guru itu juga menyukaiku," pikir Henry yang ternyata mengungkap kenyataan bahwa namja itu tidak kalah narsis dengan gurunya sendiri. Ckck, poor Henry.

"Besok aku harus menyatakan cinta, jangan sampai aku kehilangan cinta sejatiku itu. Henry Lau, hwaiting!" Henry berteriak seraya mengepalkan tangannya ke udara. Memberi semangat pada dirinya sendiri untuk hal bodoh yang akan dilakukannya besok. Tak dihiraukannya Ryeowook yang berteriak-teriak dari bawah menyuruhnya makan.

.

.

.

"Kau kelihatan senang sekali?" Ryeowook mentap adik semata wayangnya itu dengan pandangan bertanya. Tangannya sibuk menata piring di meja makan.

"Tentu saja! Karena hari ini ramalan berkata benar untukku!"

"Ramalan bodoh itu. Semua hanya kebetulan!"

"Yah. Aku benar-benar bertemu dengan calon cinta sejatiku. Kau yang tidak suka hal seperti itu mana mengerti!" Henry menujukkan garpunya ke arah Ryeowook yang segera di tepis namja yang sama-sama bertubuh mungil itu halus.

"Ck, tidak sopan!" Ryeowook kini duduk dan menatap Henry serius. "Aku besok ada urusan dan mungkin pulang agak sore. Kau juga ada les biola, 'kan?"

"Wae?" Henry menelengkan kepalanya tidak mengerti.

Kini giliran Ryeowook yang menampilkan senyum sumringah di wajah imut khas seorang uke*?* itu.

"Tunanganku datang ke Seoul. Dan aku harus menemuinya!"

.

.

.

Hari berikutnya.

Henry menunduk tak berani menatap sosok tinggi di depannya yang kini memandangnya dengan pandangan sulit di tebak. Dan ruang kelas Matematika yang ia pilih untuk menyatakan cinta mendadak menjadi terasa dingin. Ya seorang Henry Lau baru saja menyatakan cinta pada seonsaengnim-nya, pada seorang namja, dan lebh dramatis lagi baru di kenalnya sehari! Oh, mimpi indah apa Ryeowook*?* semalam.

"Kenapa kau menolakku?" tanya Henry lirih. Ya, ia baru saja ditolak oleh Zhou Mi, yang tentu saja hal itu sudah bisa dipastikan.

"…"

"Apa karena aku pendek?"

"…"

"Apa karena pipiku seperti mochi?" pertanyaan Henry mulai melantur.

"…"

"Apa karena aku tukang buat onar?" Kau benar sekali Mochi. Mana mau para yeoja dengan namja tukang bikin onar. Apalagi dengan para namja, jelas mereka akan menolak sosok yang bisa saja menyerang mereka saat tidur. Salahkan wajahmu yang seperti uke namun kelakuan seperti badas seme itu!

"…"

"Lalu, apa? Apa karena aku siswamu?"

"…"

"Jawablah, Songsaengnim!" Henry mulai tak sabar, saat Zhou Mi masih saja terdiam dengan tatapannya yang –di mata Henry – sangat mesum. Walau entah kenapa namja itu sangat menginginkannya. Karena ramalan aneh? Oh mungkin saja!

"Aniyo. Tapi karena aku sudah…" ragu-ragu sekali Zhou Mi mengatakan hal itu.

"Aku tahu." Henry mengangguk mengerti atau lebih tepat dikatakan sok tahu. Bagaimana mungkin ia bisa mengerti apa yang bahkan belum dikatakan Zhou Mi. "Aku pergi dulu…"

Diseretnya kakinya menjauh dari Zhou Mi yang masih bertahan tak beranjak di ruangan.

"Kau marah, Mochi?" tanya Zhou Mi tiba-tiba.

Henry menghentikan langkahnya. Dan menoleh ke arah Zhou Mi seraya tersenyum lembut.

"Aniyo, Seonsaengnim. Aku hanya memastikan kok, apa benar apa yang dikatakan ramalan itu. Aku tidak sungguh-sungguh menembakmu."

"Bagaimana dengan perasaanmu? Apa itu artinya kau tidak sungguh-sungguh…" Zhou Mi menelan ludah, "menyukaiku…?"

Henry terdiam. Satu pertanyaan yang tak pernah terpkir olehnya mendadak melintas di kepalanya. Benarkah ia menyatakan cinta pada Zhou Mi hanya karena ramalan dan bukan karena ia… benar-benar menyukai Zhou Mi? Cinta pada pandangan pertama…?

"Naege mollayo, Seonsaengnim…"

Dilanjutkannya langkah meninggalkan Zhou Mi yang kini menampilkan satu gurat kecewa. Kedatangannya ke sini yang memang untuk menemui sang tunangan kenapa menjadi seperti ini? Dan kenapa ia juga harus merasa kecewa telah menolak 'cinta coba-coba' seorang Henry Lau?

"Hfftt!" Zhou Mi meremas surai merahnya frustasi.

.

.

.

Henry menggesek biolanya dengan sedikit gerakan asal-asalan, yang anehnya tetap terdengar indah. Mau tak mau apa yang terjadi barusan mempengaruhi mood-nya.

"Eh, kau tidak tahu ya, Zhou Mi-songsaengnim 'kan sudah bertunangan…"

Deg.

Terdengar sebuah suara yang tertangkap di telinga namja yang membiarkan pintu di ruangan kedap suara itu terbuka. Mata Henry memicing dan melihat dua orang yeoja yang tengah bersandar di sisi pintu. Mereka seolah mengabaikan Henry yang masih ada di dalam ruangan.

"Hah. Aku heran siapa yeoja yang beruntung mendapatkannya, padahal dia sangat tampan." Respon yeoja kedua.

Henry mendelik tidak suka. Jadi ini alasan Zhou Mi menolaknya. Itu karena Zhou Mi sudah… bertunangan.

Merasa tidak ingin mendengar lebih dari ini. Henry segera meraih tasnya dan keluar dari ruangan. Tak dihiraukannya yeoja yang kini menatap tingkahnya heran. Tujuannya hanya satu. Rumah.

Menahan diri untuk tidak memukul-mukulkan biola kesayangannya sepanjang jalan, membuat namja itu seakin mempercepat langkahnya. Menepis jauh-jauh perasaan aneh yang terus-terusan mendesak dalam hatinya.

'Huh ramalan bodoh!' umpatnya dalam hati.

Wow, ini hal besar. Soerang Henry Lau mengatakan bahwa ramalan itu bodoh! Dan wajah cemberut yang justru membuat pipinya semakin chubby itu berlanjut sampai di rumahnya yang ditinggalinya dengan Ryeowook.

Lampu ruang tengah sudah menyala.

Itu artinya Ryeowook sudah pulang. Tapi bukan itu yang menjadi perhatian utama Henry. Terlihat sebuah mobil sedan merah yang sangat dikenalnya.

Diam-diam Henry mulai memasuki rumah. Dan mata sipitnya memang menemukan sosok Zhou Mi yang kini sedang duduk dengan Ryeowook. Sepertinya mereka tengah membicarakan sesuatu yang serius.

Dan sepenggal percakapan mereka yang tertangkap telinganya membuat Henry terpaku, tak bergerak dari tempatnya berdiri...

"Tolong… jauhi dia. Dan kumohon, jangan sampai dia tahu."

"Aku mengerti, Wookie…"

.

.

.

.

.

.

To be Continued