Lima menit terpanjang dari hidupku akhirnya berakhir juga.
Dua bibir yang saling bertautan akhirnya terpisah, menyisakan seutas benang saliva yang terputus saat jarak keduanya semakin jauh. Suara tarikan nafas dan hembusan nafas terdengar keras memenuhi gym yang tiba-tiba hening. Tangan dan kakiku gemetar, bahkan hampir tak mampu menopang berat badanku sendiri.
Sialnya, pemuda di hadapanku ini berada dalam kondisi bertolak belakang denganku.
.
.
Feather Two
Disguse Never fAil to mess my life
.
.
D. N. Angel © Yukiru Sugisaki
Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
DNA © Aoiyuki-Bluesnow
Rate : T
Pair : Kisedai x Reader and Dark x Reader
Warn : OOC (Can't help it. Altought originally I want to make it so close to the real character), AU (It's a crossover between D. N. Angel and Kurobasu, and I add some fact that not even in the manga or anime), Insert Reader (You'll be Niwa Daisuke big sis), Typo (Just in case I didn't see it), First POV (Reader POV), maybe you'll find it to be a Boring Story (Since people have their own favorite story), Change of time without warn.
Hope you like it.
Well, HAPPY READING ALL
.
.
Seorang gadis terpahat indah dalam kerasnya marmer putih. Kecantikannya tak berkurang sedikitpun, bahkan bisa dikatakan kecantikannya bertambah 60% dari yang asli. Meski sebenarnya, keberadaan gadis yang kecantikannya terpahat abadi itu masih dipertanyakan. Tak ada yang tahu pasti apakah gadis itu nyata atau hanya kayalan semata sang seniman yang mendambakan bidadari dalam hidupnya. Semua itu masih menjadi misteri, dan yang tahu jawaban pastinya adalah seniman itu sendiri. Hikari.
Seniman berbakat itu adalah Hikari. Tak pernah ada yang tahu pasti namanya. Mereka hanya mengenalnya sebagai Hikari.
Dan sudah menjadi rahasia umum bila karya Hikari merupakan kesukaan 'dia'. The Phantom Thief Dark. Karena itulah aku ada di sini. Mengamati dengan detail panggung yang menjadi singgasana Saint Tears. Sang gadis beruntung tadi.
Hm… tidak ada yang istimewa, kecuali
Tanganku terentang, mencoba menggapai bagian tepi kotak tempat diletakannya patung.
Grep.
Sebuah tangan milik seorang penjaga menggenggam tanganku, mencegahnya menyentuh kotak tadi. Tak lupa seruan peringatan tentunya.
"Maaf nona, dilarang menyentuh barang-barang seni."
Aku memasang wajah terkejut yang lalu berubah menjadi merasa bersalah dan tanpa menunggu lama membungkukan badan meminta maaf sebesar-besarnya.
"Maafkan saya. Saya sama sekali tak tahu kalau hal itu dilarang. Sekali lagi maafkan saya.", nada penuh rasa penyesalan dan kebingungan menyertai segala kalimat yang kuucapkan.
Aku masih membungkukan badan, membuat helaian merah berjatuhan membentuk tirai untuk menyembunyikan wajahku.
"Maafkan saya.", lagi kuulang kalimat permintaan maaf tadi.
Petugas yang menggenggam tanganku bergerak tak nyaman. Sepertinya umpanku sudah termakan.
"Ya sudah. Lain kali jangan diulangi lagi. Maaf juga atas ketidaknyamanan yang saya timbulkan.", ucapnya akhirnya.
Aku mengangkat wajahku cepat, lalu tersenyum semanis mungkin dan mengucapkan, "Ya, saya akan lebih berhati-hati. Terima kasih.", dengan nada paling polos yang bisa kugunakan.
"Baiklah. Selamat bersenang-senang.", balas petugas tadi sambil melepas genggamannya.
Aku hanya tersenyum memandang kepergian petugas tadi. Lalu mataku bergulir, berpindah pada kotak tempat Saint Tears berada.
Yang tadi itu pasti sensor gerak. Mungkin juga ada sensor beratnya. Hm, tidak buruk juga.
Setelah memotret tempat-tempat kamera pengawas berada akhirnya kuakhiri kunjunganku pada museum ini. Aku melangkah dengan pasti menuju pintu keluar. Selangkah, dua langkah, masih enam belas langkah lagi menuju pintu putar.
Seorang lelaki bertuxedo berjalan mendahuluiku di langkah ke lima belasku. Seorang wanita berbaju orange menubruk bahuku pelan di langkahkah berikutnya. Tak ada ucapan maaf yang keluar membuatku enggan melakukannya juga. Aku harus cepat. Dua orang pemuda berjalan tepat di belakangku tepat di langkah ke delapan belasku. Dan di luar pintu putar, berdiri seorang butler tua yang membungkuk saat matanya bertemu pandang denganku.
Sial.
Bukannya aku tak sadar ada yang mengikutiku, tapi aku hanya merasa aku bisa menghindari mereka. Siapa yang tahu, ada seseorang yang menunggu di pintu keluar seperti ini.
Aoiyuki—[ D.N.A ]—Bluesnow
Asap mengepul di udara. Merayap keluar dari dua cangkir putih berhias tinta emas yang merangkai diri, dalam bentuk hisan bunga. Suara music klasik dari daerah Scotland memenuhi ruangan yang lumayan ramai oleh pengunjung. Sayang, semua itu tak dapat mengalihkanku dari apa yang kulakukan sekarang.
Mataku memandang penuh minat pada dua bola yang memiliki warna yang sama denganku. Aku tak pernah menyangka akan bertemu dengan orang yang begitu mirip dengan keluargaku. Maksudku, aku tak pernah menyangka akan datang hari dimana aku bertemu dengan orang yang juga memiliki rambut dan iris merah darah sepertiku. Seperti keluargaku. Seperti seorang Niwa.
Jadi, meski aku sudah terkejut saat pertama dia menunjukan dirinya di depan museum, sampai saat ini—di dalam sebuah café mahal berhiaskan ornament-ornamen dari scotlandia—aku masih dalam mode terkejut.
Aku masih memperhatikannya dengan detail. Seperti halnya saat aku memperhatikan barang seni. Seperti itu jugalah caraku memperhatikannya. Mendetail, dan disaat bersamaan menilai keindahannya.
Orang ini, meski berbagi warna yang sama dengan keluargaku, aura yang dikeluarkannya sangat berbeda. Sejak pertama bertemu hingga sekarang, tubuhnya memancarkan aura kebangsawanan. Seperti tembok tak kasat mata yang memisahkan dirinya dengan dunia luar. Aura yang begitu mengintimidasi sekaligus membuatmu memandang kagum padanya. Sebuah persepsi awal yang tak bisa didapatkan dengan cuma-cuma. Bila harus menebak, pastilah pemuda di hadapanku ini sudah mengalami banyak hal. Mempelajari banyak hal. Menguasai banyak hal.
Dan itu sangat bertolak belakang dengan keluargaku yang selalu memancarkan aura biasa. Membuat kami berbaur dengan alami pada kerumunan. Meski tak bisa dipungkiri, kadang kala ada saatnya kecakapan dalam memanipulasi pandangan orang lain membuat aura misterius menyelimutimu. Seperti yang kulihat pada kakek dan juga ibu pada saat kami melarikan diri dari petugas patroli di sekitar museum yang tidak terduga.
Lamunanku buyar, saat kusadari sepasang mata memandang balik tatapan kosong yang sempat kuberikan padanya.
"Ya?", tanyaku reflek.
Pemilik sepasang mata tadi hanya diam dan terus melanjutkan acara menatapnya. Detik berlalu hingga akhirnya kata-kata ini meluncur terlalu lancar dari mulut yang sejak tadi terkatup rapat, "Aku belum berbicara sepatah katapun."
Oke. Lalu?
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik, dan akhirnya aku sadar. Mataku membulat menyadari hal memalukan yang baru saja kulakukan. Darahku rasanya sudah naik ke kepala, membuat semburat merah menghiasi pipi, membuatnya terasa panas.
Aku berdeham untuk mengurangi kecanggungan yang tiba-tiba melanda. Sayangnya, yang merasa canggung hanya aku seorang.
Sekuat tenaga kukumpulkan lagi keberanian untuk menatap mata pemuda tadi. Kontak mata adalah kunci dari sebuah negosiasi. Sayangnya, lawanku sepertinya orang yang sulit dikalahkan.
"Ehem", aku berdeham sekali lagi. Membersihkan kerongkongan agar kata demi kata dapat terucap dengan benar. "Jadi, ada apa anda memanggil saya ke sini?", yang sebenarnya lebih seperti menyeret paksa—walau tanpa kontak fisik—dibandingkan memanggil.
"Tanaka.", ucap pemuda itu masih dengan pandangan lurus ke arah mataku.
Mendengar ucapan pemuda tadi, butler tua yang sejak tadi berdiri di sebelahnya membungkuk sedikit. Lalu tanpa membuang waktu, begitu badannya tegap berdiri dia menepukkan tangannya dua kali tak terlalu keras. Tepat di tepukkan kedua, orang-orang meninggalkan kursi mereka. Berbondong-bondong berjalan menuju pintu keluar.
Kewaspadaanku meningkat seiring berlalunya orang. Hingga akhirnya tersisa kami bertiga di ruangan yang tidak bisa dikatakan kecil ini. Setelah dirasa tak ada lagi nyawa selain kami, butler tadi—Tanaka-san—mengeluarkan sebuah amplop coklat besar.
Pemuda merah di depanku menerima amplop tadi dan mengeluarkan beberapa lembar foto. Tanpa berkata apa-apa diletakannya foto-foto tadi di meja. Mendorongnya hingga berada di depanku.
Aku memandang foto di hadapanku sedetik. Lalu beralih menatap pemuda di hadapanku untuk memastikan kalau memang dia menyuruhku memperhatikan foto tadi.
Pemuda tadi hanya membalas tatapanku dalam diam. Itu artinya iya kan?
Jadi kuambil foto-foto tadi. Dan jantungku rasanya berhenti berdetak sejenak. Karena dalam lambaran berwarna-warni itu tertangkap figur bermacam-macam orang. Di lembar pertama, seorang gadis pirang dengan dress putih menggenggam kamera. Lembar kedua menampakan laki-laki berambut coklat pendek dengan earphone tersambung di handphone yang menghadap langit-langit. Lembar berikutnya menampakan seorang wanita tua beruban yang digelung sedang menggenggam walkie talkie dari penjaga yang membantunya berdiri.
Ini tidak mungkin kan? Tidak mungkin kan?
Tanganku bergerak cepat memindahkan lembaran demi lembaran foto, hingga akhirnya foto terakhir terlihat. Seorang gadis berambut merah sedang mengamati sebuah lukisan dan tangan kanannya terulur memasangkan sebuah kamera kecil.
Dia benar-benar mendapatkanku.
Aku memasang topeng pertahanan terakhirku. Wajah tenang tetapi tatapan tajam sedingin es. Jangan tunjukan kalau kau ketakutan. Jangan pernah.
"Jadi, apa yang anda mau tuan?", tanyaku dengan penekanan di kata tuan.
Sejenak pandangan pemuda di hadapanku berubah menjadi pandangan menilai. Lalu kalimat yang kutakutkan keluar dari mulutnya, "Cepat tanggap juga. Sepertinya aku tak perlu lagi memberitahu resiko yang bisa kau dapat."
Aku sedikit meneguk ludah saat pandangannya tak kunjung lepas dari mataku. Sial, inikah rasanya berada dibawah ancaman? Yah, secara teknis kan dia memang sedang mengancamku.
"Lalu?", tanyaku dengan suara yang mati-matian kujaga agar tetap datar.
Sebuah seringai muncul di wajah datar yang tiba-tiba menjadi terlihat licik. Sial, tatapannya sekarang lebih menyeramkan, dan mengintimidasi. Suara berat yang sejak tadi menjadi satu-satunya suara lain selain suaraku kembali mengalun, "Kulihat kau sangat suka menyamar, nona. Karena itu kuberi keleluasan untukmu melakukan apa yang kau suka. Pura-pura menjadi tunangan bukanlah hal buruk bukan. Dan kulihat kau berpengalaman menyamar sebagai lawan jenis."
Tunggu sebentar. Sepertinya aku sudah salah dengar. Atau mungkin otakku menyimpulkan hal yang salah? Karena, kalau aku tak salah tangkap, orang ini ingin aku berpura-pura menjadi lelaki sekaligus tunangannya. Lelaki dan tunangannya? LELAKI DAN TUNANGANNYA?!
"Kau benar sekali. Tetapi aku lebih menghargai bila selanjutnya tak ada teriakan lagi."
Mendengarnya membuatku sadar. Tadi itu aku benar-benar meneriakan pikiranku dengan sangat keras. Oh uh, gawat. Tenangkan dirimu kembali.
Setelah berdeham berkali-kali, aku kembali menemukan ketenangan dalam suaraku, "Ano, apakah itu benar-benar apa yang harus kulakukan?"
"Apa ada masalah?", tanya pemuda itu kalem.
Apa ada masalah katanya? Apa ada masalah? APA ADA MASALAH?
"Tentu saja tidak. Kalau begitu apakah pembicaraan kali ini sudah selesai?", kataku semanis mungkin. Berbanding terbalik dengan inner yang menjerit minta penjelasan.
"Hm, kau boleh pergi. Tapi ingat untuk bertemu kembali besok di tempat ini di jam yang sama.", ucapnya santai sambil menyesap teh yang terabaikan sejak tadi. Dari caranya mengucapkannya entah kenapa malah terasa seperti janji biasa. Bukan janji dengan embel-embel bernama ancaman. Yang malah membuatku takut. Apa mungkin orang ini sudah tahu seluruh hal tentangku, hingga dia bisa melepas tawanan tanpa meminta jaminan darinya?
Aoiyuki—[ D.N.A ]—Bluesnow
Pada akhirnya aku benar-benar datang. Dua jam lebih cepat dari janji malah. Pada akhirnya dua jam itu kulalui dengan merenung. Memikirkan bagaimana cara bernegoisasi agar bisa lepas dari jerat ancaman tak kasat mata berdasar pada foto. Hah, pada akhirnya tak satupun ide terpikirkan. Bahkan saat pemuda kemarin datang 10 menit lebih lama dari janjinya. Siapa ya yang kemarin bilang agar tepat waktu?
"Pakai ini.", itu kalimat pertama yang diucapkannya saat jarak kami sudah dekat. Ho, sesi memerintahnya sudah dimulai ya?
"Tunggu sebentar.", itu jawabanku untuk perintahnya barusan. Dengan setengah hati, kubawa tas kertas yang dilemparnya tadi menuju toilet terdekat.
Butuh waktu selama 30 menit untukku keluar dari bilik toilet. 10 menit pertama kugunakan untuk tercengang mendapati pakaian laki-laki yang terlihat mahal beserta wig hitam dan juga contact lens hitam. 15 menit berikutnya kugunakan untuk berganti dan juga menggunakan wig serta membereskan pakaianku. 5 menit terakhir kuhabiskan untuk bergelut dengan contact lens. Seberapapun sering aku menggunakannya, tetap saja saat sebuah jari—meski jariku sendiri—mendekat menuju mataku, ketakutan tak bisa dibendung.
Karena itu saat aku melangkah keluar dengan penampilan baru, pemuda itu sudah menghabiskan secangkir teh. Terlihat dari cangkir kosong di hadapannya.
Pemuda itu tak memberikan respon apapun atas perubahanku. Dengan gerakan yang tidak tampak tergesa-gesa, dia bangkit lalu merapikan pakaiannya. Dia sudah berjalan beberapa langkah lalu menoleh. Memandang bingung padaku yang masih mematung dengan tas dalam genggaman.
"Kenapa tidak jalan?", tanyanya dengan raut wajah datar. Meski ada sedikit kerut kebingungan di sana.
Aku sendiri hanya mengerjap bingung dengan pertanyaannya barusan. Kau kan sama sekali tak menyuruh atau bahkan mengajakku. Oh, baiklah. Mungkin mulai sekarang aku harus mengartikan sendiri segala tindakan tanpa kata penjelas darinya. Dan berlatih memberi respon yang dapat diterimanya.
"Ehem, maafkan aku. Ayo.", kataku akhirnya.
Pemuda itu hanya memandangku sekilas, lalu berbalik kembali berjalan. "Ubah suaramu. Yang tadi masih terdengar seperti perempuan.", bahkan kata-kata itu diucapkan tanpa memandang padaku. Ho, mungkin aku harus mulai membiasakan dengan perlakuan seperti ini juga, heh?
Aku mengikutinya keluar dari café. Lalu mengekor masuk ke dalam mobil limo hitam. Dari situ dapat kuperkirakan seberapa kaya pemuda yang terlihat nyaman duduk di dalam mobil semewah ini.
Mobil melaju perlahan, sedikit demi sedikit menambah kecepatan. Bunyi deru mesin yang begitu halus bercampur deru angin seiring bertambahnya kecepatan serta gesekan roda dengan aspal, menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar dalam limo. Sedangkan kami sendiri hanya diam tanpa minat untuk membangun percakapan.
Aoiyuki—[ D.N.A ]—Bluesnow
Butuh waktu 2 jam untuk kami sampai di mansion besar milik keluarga pemuda di sampingku. Mansion yang terletak di pinggiran kota Tokyo ini memiliki halaman yang begitu luas. Jarak dari gerbang menuju bangunannya saja memakan waktu 10 menit dengan mobil. Selama 10 menit itu, kami melewati hamparan rumput hijau dan juga jajaran pohon sakura yang menghiasi jalan dengan hujan kelopaknya.
Sekarang ini aku sedang berdiri di antara air mancur yang bergemericik riang dan pintu kokoh sunyi yang terlihat menjulang di atas belasan anak tangga di depan sana.
Aku melirik menyelidik pada pemuda di sampingku. Wajahnya begitu tenang dan senyaman ekspresinya di limo tadi. He, tentu saja, kan ini rumahnya sendiri. Hah. Aku menghembuskan nafas terlalu keras sepertinya, karena sekarang pemuda itu malah jadi memandangku dengan raut wajah bertanya.
"Bukan apa-apa.", jawabku sebelum kalimat tanya benar-benar keluar.
"Kalau begitu ayo masuk.", ucapnya kemudian. Sepertinya pilihanku untuk menjawab tanpa ditanya itu sudah benar. Hah, mungkin aku juga harus membiasakan diri dengan yang satu itu.
Kami menaiki anak tangga satu per satu hingga akhirnya sampai tepat di hadapan pintu ganda putih. Jari lentik pemuda itu menekan intercom, lalu tak sampai semenit pintu terbuka dan seorang butler lain—bukan Tanaka-san—muncul untuk menyambut kedatangan tuan rumahnya.
"Selamat datang tuan muda.", ucap butler tadi begitu kami berdua menginjakan kaki ke dalam bangunan.
"Hm.", jawabnya singkat disertai anggukan samar. "Di mana otou-san?", lanjutnya.
"Tuan besar ada di halaman belakang. Nona Alexandra juga ada di sana."
"Terima kasih."
Setelahnya butler itu pergi, sedang kami melanjutkan perjalanan menuju halaman belakang. Kami tetap berjalan dalam diam, meski sebenarnya aku ingin bertanya tentang Alexandra. Karena saat mendengar namanya entah kenapa ada sedikit jeda yang mengganggu pada reaksinya.
Jadi begitulah, kami sampai di halaman belakang yang terlihat sama luasnya bahkan mungkin lebih luas dari halaman depan mereka. Berbagai macam pohon tumbuh di hamparan rumput hijau. Bahkan ada kolam ikan besar dengan jembatan terbentang di tengahnya. Dan ada kerumunan kecil di gazebo dekat kolam ikan tadi. Ke sanalah kalau boleh kutebak akhir tujuan kami.
Benar saja, aku mengikuti pemuda tadi hingga masuk ke dalam gazebo. Namun sayang, kedatangan kami sepertinya tidak direstui. Ralat. Kedatanganku yang tidak direstui.
"Wa, Sei kapan kau pulang?", sapa gadis pirang yang lalu beranjak berdiri untuk menghampiri pemuda tadi. Matanya memancarkan binar kebahagiaan yang langsung redup begitu menyadari keberadaanku. "Siapa dia Sei?"
"Aku ingin bicara dengan otou-san.", pinta—kalau tak mau dikatakan perintah—pemuda tadi. Kentara sekali dia mengabaikan pertanyaan sang gadis.
"Kalian keluarlah.", ucap pria yang memiliki penampilan mirip dengan pemuda yang membawaku ke dalam mansion ini. Bahkan nada perintah dalam ucapannya sama persis. Sudah pasti mereka ayah dan anak.
Setelah semua butler dan maid pergi dari gazebo, yang tersisa hanya kami berempat. Aku, pemuda itu, ayahnya, dan juga gadis pirang tadi.
Aku sebenarnya ingin bertanya kenapa gadis itu tidak ikut keluar, tapi kalau pemuda itu tidak merasa terganggu kenapa aku harus? Bahkan keberadaanku sendirilah yang seharusnya dipertanyakan oleh mereka. Siapa aku?
"Jadi begini," pemuda itu mulai berbicara, "aku ingin memperkenalkan tunanganku. Ini Takeuchi Yoru. Putra tunggal pemilik farmasi Takeuchi."
Apa dia bilang? Oh, mungkin itu identitas samaranku. Jadi aku harus mengikuti ini tanpa penjelasan terlebih dahulu nih? Ho ho.
"Perkenalkan, saya Takeuchi Yoru. Senang bertemu dengan anda.", ucapku dengan suara berat seperti yang diminta olehnya tadi.
"Senang bertemu denganmu Takeuchi-san. Tapi ada yang harus kuluruskan di sini. Tunangan Seijuuro itu adalah aku. Alexandra Garcia. Putri tungal pemilik Garcia corporation.", ucap gadis pirang tadi. Seorang ojou-sama ternyata.
"Bukankah otou-san sudah berjanji akan membiarkanku memilih tunanganku sendiri. Dan akan membatalkan pertunanganku dengan Alex bila orang itu sudah kutemukan.", pemuda itu—Seijuuro—membela diri dengan cara memaparkan fakta. Setidaknya itu yang kudengar.
"Memang benar adanya.", kali ini pria bersurai merahlah yang menjawab. "Tetapi aku tak pernah menyangka kau akan membawa seorang laki-laki sebagai tunanganmu."
"Otou-san pernah berkata, seorang Akashi tak akan menjilat ludah mereka sendiri kan. Jadi janji tetaplah janji.", balas pemuda itu dengan tenang.
Hm, tunggu. Akashi?
"Sei, kau tak bisa seegois itu.", protes Alexandra—gadis pirang tadi dengan emosi meledak-ledak.
"Biarkan saja Alex. Aku ingin tahu, seberapa jauh dia bisa bertahan dengan keputusannya ini.", ujar pria tadi—Akashi-san dengan seringai di wajahnya. Mirip sekali dengan putranya.
"Kalau begitu sudah sepakat kan. Tak ada lagi keluhan juga, jadi kami permisi dulu.", begitulah negosiasi ditutup. Namun pria itu tak akan melepaskan kami begitu saja.
"Tunggu. Aku ingin bertanya satu hal pada Takeuchi-san. Bagaimana cara kalian bertemu dan berakhir dengan keputusan menjalin hubungan ini?"
Datang. Akhirnya pertanyaan itu datang juga. Waktunya karang cerita serealistis mungkin.
"Itu, kami bertemu pada sebuah pesta perayaan ulang tahun perusahaan Akashi di Kyoto. Saat itu, meski hanya dengan sekali pandang, aku merasa dialah pusat duniaku. Tanpanya, duniaku tak akan berputar dan mati. Yah, puisi bukanlah nilai lebih saya. Jadi dapat dikatakan saya sudah jatuh padanya dalam sekali pandang. Kira-kira seperti itulah. Dan Seijuuro dapat membalas perasaan saya juga merupakan keajaiban tersendiri."
Apa yang kukatakan? Benar-benar apa yang kukatakan? Oke, mungkin aku sudah mulai gila. Ini semua karena satu-satunya hal yang kutahu tentang Akashi baru-baru ini hanyalah perayaan ulang tahun perusahaannya yang ada di Kyoto. Duh, semoga pemuda ini memang ada di pesta perayaan itu.
"Hahahaha, sepertinya kau memilih pendamping yang menarik Sei.", suara tawa khas pria tua di awal benar-benar mengejutkan. Semoga itu pertanda baik. Pria itu tidak tertawa karena mengetahui kebohonganku kan?
Aoiyuki—[ D.N.A ]—Bluesnow
"Beruntung, pada pesta di Kyoto ayahku tak bisa hadir dan menjadikanku penggantinya."
Seperti sudah kuduga. Cerita karangan yang cukup riskan untuk dipakai. Tapi jangan salahkan aku, otakku sudah tak bisa memikirkan skenario pertemuan lainnya.
"Maafkan aku. Tapi kenapa kau menjadikan seorang lelaki sebagai tunanganmu? Dan kalau boleh kukatakan, tunanganmu yang sekarang tak ada buruknya. Cantik sekali malah."
"Karena itu, kalau aku membawa perempuan lain maka yang ada dia akan dibanding-bandingkan dengannya. Karena seorang Akashi berhak mendapatkan yang terbaik dari yang terbaik. Sedangkan bila aku membawa seorang laki-laki, maka tak ada yang bisa dibandingkan dengannya. Dan aku bisa memutuskan hubungan dengan dalih kesulitan dalam bersosialisasi. Yah meski itu akan mencoreng reputasiku di hadapan ayah.", kali ini ada nada menerawan di sana. Seakan ada hal lain yang dipikirkannya selain apa yang akan dikatakannya.
Bisa ditebak. Ada gadis yang disukainya tetapi tak dapat diajaknya. Hah, romansa masa muda, bercampur dengan aturan dalam dunia orang kaya. Dan dia seorang Akashi. Oh, bagaimana bisa aku tak menyadarinya. Pemilik rambut dan iris merah tentu saja keluarga Akashi. Pemilik perusahaan multifungsi, mulai dari penerbangan, pangan, hingga hotel dan mall. Dan aku harus berurusan dengan putra tunggalnya. Akashi Seijuuro.
"Ano, bukannya aku meragukanmu. Tapi apa tak apa menggunakan nama samaran Takeuchi Yoru? Dia bukan hanya identitas buatanmu belaka kan?", aku menanyakan hal lain yang begitu mengusik pikiranku.
"Tenang saja. Tidak akan ada yang tahu. Farmasi Takeuchi hanyalah perusahaan fiktif buatanku. Jadi meski mereka melacaknya tak akan ada jejak. Percaya saja, aku cukup hebat dalam hal itu.", ucapnya dengan nada datar. Seakan apa yang diungkapkannya barusan semacam dengan fakta kalau bumi itu bulat. Hah, aku tak akan pernah bisa terbiasa dengan orang seperti ini.
"Tuan, sudah sampai."
Suara supir pribadi Akashi, terdengar dari depan. Ini artinya, kami sudah sampai di tempat tujuan. Rumahku. Atau setidaknya jalan masuk kompleks rumahku. Aku tak akan pernah berani memberi tahunya alamat pasti rumahku. Bisa-bisa bukan hanya sekali, tapi berkali-kali dimanfaatkan. Huh.
"Terima kasih Akasi-san.", ucapku begitu keluar dari limo. Tidak mempedulikan reaksinya saat namanya kusebut. Well, mungkin ini tak ada artinya. Mungkin baginya justru aneh bila orang tak tahu namanya. Yah, yang manapun sama saja. Yang penting ini terakhir kalinya aku berurusan dengan pemuda seperti api ini. Mulai sekarang aku bebas.
"Ya, sama-sama.", ucapnya yang terdengar sebagai salam perpisahan terakhir pada telingaku. Sampai tiba-tiba tepat sebelum limo melaju pergi, dia berkata, "Ah, dan mulai besok kau akan pindah ke asrama SMA Teiko. Jadi, persiapkan dirimu Niwa [name]"
Bagaimana dia? Argh, sial. Tentu saja. Dia itu kan Akashi.
Tapi tunggu. Dia bilang apa tadi? Pindah?
Aoiyuki—[ D.N.A ]—Bluesnow
"Dasar laki-laki menyebalkan.", gerutuku yang lebih menyerupai gumaman.
Bagaimana pun aku tak akan berani mengatainya secara terang-terangan. Setidaknya belum. Ha, bagaimana bisa hidupku berakhir seperti ini.
Aku berjalan sambil mengingat apa yang baru saja kuingat barusan. Kenangan buruk tentang alasanku terdampar di SMA Teiko, tepatnya di asrama siswa laki-laki seperti sekarang.
Laki-laki itu memang suka seenaknya. Apa mungkin itu karena dia seorang Akashi? Huh, tapi tetap saja, tak akan ada orang yang seenaknya menjadikan seseorang 'tunangan'nya. Harus menyamar pula, dan merebut… uh. Lupakan. Aku tak ingin ingat kejadian tadi.
Dengan tubuh lunglai, kulanjutkan perjalanan untuk kembali mencari perlindungan dibalik pintu kamar milikku.
Lagi-lagi hal itu gagal dan sensasi melayang diudara menyergapku. Jangan lupa aroma vanilla yang masih menyertainya.
"Atsushi.", ucapku depresi. Oh jangan bilang orang itu masih mencariku.
"Yoruchin, aku lapar.", ucap Atsushi dengan nada polos.
Aku berkedip, lalu menengok ke belakang. Yang kudapati di sana adalah wajah malas dan tatapan mata tanpa semangat hidup.
"Aku tidak punya makanan.", aku mencoba menjelaskan hal yang sebenarnya sudah kukatakan sejak awal. Hah, tapi untunglah. Ini bukan karena dia mencariku.
"Kalau begitu buatkan saja.", jawab Atsushi masih dengan nada kelewat polos. Terlalu polos hingga rasanya aku ingin memukulnya karena emosi.
Ho, setelah jadi tukang samar, sekarang aku harus menjadi juru masak juga?
Try to find the next feather
A/N : Halo, terima kasih sudah membaca. Waaaa, happy. Ternyata ada yang baca fic gaje buatanku ini. Nggak nyangka ada yang review juga. Terima kasih ya. Chapter 2 ini akhirnya bisa selesai, meskipun romancenya nggak ada dan sebagian besar malah isinya flashback. Yah, walaupun ada juga mungkin romancenya nggak akan berasa. Tadinya mau kubuat lebih panjang, tapi karena udah terlanjur yang ini aku publish dulu. Kalau misalnya ada ide tambahan maka chapter 2 ini aku tambahin. Oh ya, kalau ada yang merasa familiar dengan kata sensor gerak dan sensor berat, itu aku dapet dari Heist Society, novelnya Ally Carter. Dan ada sedikit pengaruh dari Hana Kimi, bagian nyamar jadi cowoknya aja sih. Sisanya murni hasil kayalanku sendiri. Jadi kalau berasa familiar dengan apa yang kutulis mungkin itu karena pengaruh dari berbagai tontonan dan bacaan semata. Oke terakhir seperti biasa, Happy Reading Reader.
Untuk yang review chapter kemarin, sherrysakura99 : Semoga kamu lagi baca ini, sudah dilanjut kan ya. Makasih sudah review.
A/N tambahan : Chapter ini nggak jadi ditambahin. Ternyata ide lanjut ke chapter tiga. Dan untuk chapter dua ini typonya sudah kubetulkan. Kalau masih ada yang kelewat, mohon di maafkan. Terima kasih.
