Luhan tak pernah menyangka hal ini akan terjadi pada dirinya. Ia berusaha menyangkal semua runtutan kejadian yang menimpanya semalam –kemarin. Tapi ia tak bisa menolak kenyataan itu sama sekali. Ini benar-benar nyata terjadi. Hal ini memang benar-benar terjadi. Sesuatu yang ditakutkannya selama ini, terjadi.

Masih belum begitu percaya dengan kejadian yang dialaminya, pagi-pagi sekali Luhan mendatangi kantor pusat apartemennya. Ia harus melihat siapa yang membawanya pulang kemarin. Namun ketika ia sudah mendapatkan rekaman CCTV pada hari itu, Luhan tidak menemukan apapun. Luhan harus berbohong kepada petugas bahwa ia kehilangan barang, tapi ia tak bisa menemukan gambaran dirinya memasuki kamar apartemennya.

Semua begitu janggal.

Luhan masih menggenggam tulisan tangan pada sebuah kertas yang ditinggalkan oleh seseorang di pintunya kemarin. Ia memandangi tulisan itu berulang kali, mengamati setiap goresan tinta berwarna hitam yang terlukis disana. Satu-satunya bukti yang membuat Luhan yakin ini bukan sekedar mimpi buruk.

Dan tulisan itu cukup membuat Luhan resah sepanjang malam.

Seseorang menuliskan bahwa ia akan melindungi Luhan, namun kejadian kemarin membuat Luhan merasa ia dalam masalah. Sebuah masalah yang bahkan ia tak tahu dari mana asalnya, mengapa itu terjadi padanya.

Dengan sebuah tanda tanya besar yang masih menempel kuat di kepalanya, Luhan melangkah keluar, menunggu waktu yang tepat dengan orang-orang yang hendak berangkat kerja. Ia harus tetap menghindari tempat yang sepi terlebih setelah hal yang dialaminya kemarin.

Luhan sedikit tersenyum kepada orang-orang yang terakhir ia kenal sebagai tetangganya. Tubuh mungilnya tenggelam dikerumunan orang yang berjalan menuju tempat parkir. Seperti sudah terbiasa, Luhan mengamati sekitar, mencari bayangan hitamnya. Tapi seperti yang sudah Luhan duga, bayangan itu tidak ada disana. Masih terlalu banyak orang ia rasa.

Dengan langkah cepat –nyaris berlari- Luhan menuju mobilnya, menekan tombol dan mobilnya menyala dengan sempurna. Sejenak Luhan bingung, kemarin tombolnya tidak berfungsi dengan baik. Tapi ini hal yang bagus.

Seperti sudah terlatih pula, ia memeriksa seluruh kendaraannya. Dari kursi penumpang hingga bagasi, Luhan bahkan memeriksa tekanan udara bannya. Ia sudah sering melihat film mata-mata, ia sudah hapal biasanya penjahat menyekap korbannya dari kursi penumpang atau membuat mobil melayang karena ban kempes. Tapi Luhan tak menemukan apapun. Mobilnya kosong dan tekanan udara pada bannya masih bagus.

Luhan menyalakan mobilnya, semua masih normal. Dengan hati-hati gadis itu menekan pedal gas, kemudian menekan rem, dan semuanya berjalan seperti biasa.

Oke.

Luhan menyimpulkan ia paranoid, tapi ia tidak mau kejadian yang sama terjadi lagi. Luhan tidak terlalu bodoh untuk jatuh di lubang yang sama dua kali.

Akhirnya dengan mata masih mengawasi sekitar, Luhan melajukan mobilnya perlahan menuju jalan raya. Ia harus ke Panti Asuhan. Janjinya kemarin harus dibatalkan sepihak dan ia tak ingin orang-orang yang menunggunya disana khawatir padanya.

Luhan merasakan ponselnya bergetar dan nama Baekhyun tertera disana. Ia ragu untuk mengangkatnya. Tapi panggilan kedua Baekhyun membuatnya menyerah.

Ia menerima panggilan itu –menghindari omelan panjang dari sepupunya.

"Luhaaaaan," suara Baekhyun yang berteriak menggema di seluruh mobil Luhan, ia harus mengernyit sedikit. Suara tinggi gadis itu menyakiti bagian dalam telinganya.

"Ada apa, Baekhyun?" tanya Luhan, berusaha tidak terdengar malas, tapi ia tak bisa memaksakan dirinya.

Baekhyun terdengar mendengus. "Kau dimana? Kau baik-baik saja? Aku menghubungimu semalam,"

Luhan mendesah ringan. Ia tahu Baekhyun menghubunginya lebih dari 34 kali semalam dan ia masih butuh banyak waktu untuk berpikir sendirian.

"Aku baik-baik saja. Sekarang aku akan ke Panti Asuhan," ucap Luhan singkat.

"Benarkah?" Baekhyun terdengar antusias, sedangkan Luhan hanya menjawab dengan dehaman. "Kalau kau pulang nanti, bisa tidak kau menjemputku?"

"Kau dimana?" tanya Luhan langsung.

Baekhyun diam beberapa saat. "Uhm, aku sedang perjalanan menuju apartemen Chanyeol," bisiknya pelan.

"Apa yang kau lakukan disana, Baekhyun?" Luhan nyaris berteriak.

Luhan tak akan sepanik ini jika Chanyeol ada di apartemennya sekarang, tapi pria kelewat tinggi itu sedang berada di Jepang untuk bekerja. Dan Chanyeol memiliki teman satu kamar bernama Kim Jongin yang kelewat nakal. Untuk apa Baekhyun disana, itulah pertanyaan Luhan.

Baekhyun tidak menjawab.

"Baekhyun, apa yang kau lakukan disana?" ulang Luhan dengan nada yang sedikit tinggi.

Baekhyun bergumam sebentar. "Jongin ingin bicara sesuatu yang penting. Dia bilang butuh bantuanku,"

Luhan menghela napas berat. "Kau hanya menemaninya mengobrol kan, Baekhyun?"

"Tentu saja, kau pikir apa yang kulakukan disana?" balas Baekhyun.

Lagi-lagi Luhan menghela napas. "Kujemput kau jam 3 sore. Kumohon jangan lakukan apapun. Kau akan menghancurkan persahabatan Chanyeol dan Jongin,"

Baekhyun terkekeh. "Kau pikir apa yang akan aku lakukan dengan Jongin?"

Luhan mendengus. "Kau tidak pernah tahu apa yang dipikirkan Kim Jongin itu. Demi Tuhan dia seorang playboy, Baek,"

"Percayalah padaku, aku tak akan melakukan apapun," Baekhyun mengerang.

Luhan terkekeh ringan. "Baiklah sampai jumpa nanti sore," Baekhyun menggumamkan kata terima kasih dan menutup telepon. Selanjutnya, pikiran Luhan kembali melayang kemana-mana.

Terlepas dari pikirannya tentang Baekhyun, Luhan kembali memikirkan bayangan hitamnya. Luhan yakin bayangan itu adalah seorang pria yang jauh lebih tinggi darinya. Dengan mata berwarna coklat terang dan rambut berwarna hitam pekat. Kulit wajahnya berwarna putih pucat dengan hidung yang tercetak sempurna. Bibirnya berwarna merah muda pucat, terpahat sempurna melengkapi wajahnya yang tampak kuat dan kokoh. Mata dan alisnya memancarkan sesuatu yang tak Luhan pahami.

Luhan memejamkan matanya sejenak, menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk menghilangkan bayangan itu dari kepalanya. Ia baru sekali bertemu dengan wajah itu dalam keadaan setengah sadar, tapi Luhan bisa menyimpulkan bahwa pria itu tampan.

Luar biasa tampan.

Katakan Luhan bodoh, tapi ia tetap seorang wanita biasa yang tertarik dengan pesona seorang pria.

Dan yang lebih bodoh lagi, Luhan sudah tertarik dengan bayangan hitamnya sebelum ia sendiri menyadari siapa pria itu dan apa tujuannya mengikuti Luhan.

Yang Luhan tahu, pria itu tidak menyakitinya –belum, setidaknya.

Tanpa Luhan sadari, ia sudah menepikan mobilnya di halaman Panti Asuhan yang luas. Beberapa anak bermain bola di halaman, lari menghampiri Luhan yang sedang membawa banyak kantung plastik di tangannya.

Ia menebarkan senyum, menyapa setiap anak yang berada disana. Siap mendengarkan cerita-cerita mereka yang menurut Luhan menenangkan. Ia dengan senang hati mendengarkan cerita anak-anak sepanjang hari –meskipun menurutnya tidak penting, tapi Luhan menikmati itu semua.

"Kau datang Luhan?" tanya seorang wanita yang biasa Luhan panggil Ibu. Ibu paruh baya itu tersenyum ramah, memeluk Luhan sekilas.

Luhan tersenyum. "Aku butuh hiburan, Bu. Anak-anak ini selalu membantuku melepaskan penat," ucapnya riang.

"Kupikir kau akan datang kemarin. Mereka menunggumu sepanjang sore," ucap wanita itu, Luhan hanya terkekeh ringan. "Kau menginap?" tanyanya lagi.

Luhan menggeleng ringan. "Aku harus kuliah besok. Kupikir aku akan kemari setiap akhir minggu,"

Wanita itu menepuk pundak Luhan ringan. "Luhan, kami senang kau membantu kami secara finansial, tapi apakah yang kau berikan tidak terlalu banyak?"

Luhan tertawa ringan, kemudian menggeleng. "Aku senang melakukannya. Kumohon jangan melarangku datang," Luhan memasang ekspresi memohon, membuat wanita di depannya terkekeh geli.

"Tentu saja tidak. Mereka senang kau datang. Begitupula denganku. Kau boleh kemari kapan saja," balasnya.

Luhan tersenyum ringan. "Terimakasih," bisiknya ringan, wanita itu hanya tersenyum, menepuk punggung Luhan sekilas dan pergi menuju dapur. Luhan melirik jam tangannya sekilas, sudah waktunya makan siang.

Ia mendesah ringan, memandang halaman luas dimana banyak anak berlarian memperebutkan sebuah bola dengan tawa riang dan kekehan khas bocah. Beberapa di antara mereka mengajak Luhan untuk bergabung dan Luhan hanya membalasnya dengan senyuman ringan serta gelengan kepala.

Ia terlalu lelah untuk bermain hari ini –setelah hal yang telah terjadi padanya semalam.

Luhan memandangi anak-anak itu dengan pandangan menerawang –melamun. Jujur saja, ia iri. Ia ingin merasakan kebahagiaan seperti itu, tapi ia tak bisa –tak akan pernah bisa. Luhan lupa kapan terakhir kali ia terlihat bahagia seperti itu –setidaknya mirip seperti itu, tanpa beban, tanpa pikiran. Hidupnya terlalu banyak tekanan sejak muda. Memang ia berlimpah uang, tapi uang itu bukan sumber kebahagiaannya.

Jika Luhan terlihat bahagia, maka itu hanyalah topeng.

Sebuah topeng yang selalu Luhan gunakan saat ia bertemu dengan orang lain. Namun saat Luhan sudah sendiri, ia melepaskan topeng itu. Ia sering melamun, memikirkan hidupnya, memikirkan tujuan hidupnya, untuk apa ia dilahirkan. Pernah sesekali ia menyalahkan Tuhan yang memberikan hidup seperti ini.

Namun seiring berjalannya waktu, ia menyadari bahwa ia jauh lebih beruntung daripada orang-orang di luar sana. Ia hanya manusia kecil yang tak pantas dan tak akan pernah pantas menyalahkan Tuhan.

Seiring waktu berlalu ia bisa bersyukur dengan hidupnya.

Sedikit demi sedikit.

.

.

Jam sudah menunjukkan angka tiga saat Luhan mengendarai mobilnya keluar dari area panti asuhan. Ia harus menjemput Baekhyun sebelum gadis itu disentuh oleh Jongin. Luhan yakin Jongin memiliki keinginan yang besar untuk sekedar meniduri Baekhyun sekali atau dua kali.

Dan itu bukan pilihan yang tepat untuk membiarkan Baekhyun ditiduri pria lain –terlebih sahabat pacarnya sendiri. Luhan memang terkadang menganggap Baekhyun menyebalkan, tapi bagaimanapun Baekhyun tetap saudaranya. Ia tetap menginginkan keselamatan gadis itu.

Teleponnya bergetar saat memasuki jalan tol menuju kota. Nama Baekhyun tertera disana, tanpa pikir panjang ia mengangkat panggilan itu.

"Kau dimana?" tanya Luhan langsung sebelum Baekhyun sempat bersuara.

Suara Baekhyun terkekeh. "Aku di apartemen Chanyeol. Kau tak perlu sepanik itu,"

Luhan mendengus. "Bagaimana bisa aku tidak panik. Apa yang sudah kau lakukan dengan Jongin?" tanya Luhan, melirik jam tangannya sekilas untuk memastikan ia tak akan terjebak macet di jam sibuk disore hari.

"Kami hanya mengobrol, Luhan. Seperti biasa," Baekhyun terdengar menahan tawa.

"Baiklah aku mengerti. Aku akan sampai seperempat jam lagi,"

Baekhyun tertawa. "Aku menunggumu,"

Luhan hanya tersenyum ringan dan memutuskan sambungan telepon. Luhan sendiri tak tahu sihir apa yang Baekhyun lakukan hingga semua orang yang berbicara atau melihatnya bisa tersenyum –meskipun Baekhyun sangat menyebalkan- dan hal itu selalu terjadi pada Luhan.

Sekali lagi gadis itu hanya bisa tersenyum saat mengingat kelakuan konyol sepupunya.

Luhan tetap mengikuti jalur GPS menuju apartemen Chanyeol di tengah kota meskpun ia sudah beberapa kali mengantarkan Baekhyun ke sana. Luhan sedikit mengerang saat melihat jalanan yang macet di sekitar apartemen Chanyeol, ia melirik jam tangannya sekilas dan baru menyadari ia terlambat menghindari jam sibuk.

Setengah kesal karena suara klakson yang memekakkan telinga, Luhan menepikan mobilnya di seberang sebuah kedai kopi yang tampak agak padat. Sepertinya segelas kopi sebelum badai akan jauh lebih baik –ia pasti akan mendengar cerita Baekhyun seharian ini.

Setelah keluar dari mobilnya –seperti biasa- Luhan memperhatikan sekitar, ia melihat sekelilingnya, mencari bayangan hitamnya yang seharian ini tak muncul dan sekarangpun, bayangan hitamnya masih belum tampak. Tapi ia tak ambil pusing dengan hal itu, sebaliknya, Luhan bersyukur.

Luhan berdiri di pinggir jalan, menunggu lampu berubah warna hijau. Jalanan tampak padat meskipun hanya ada beberapa orang yang menyebrang bersamanya. Saat lampu berubah menjadi hijau, ia menoleh ke kiri sekilas untuk memastikan semua kendaraan telah berhenti, kemudian melangkahkan kakinya dengan cepat.

Bersamaan dengan itu, sebuah suara bising terdengar dari kejauhan –suara motor yang berisik. Luhan menoleh ke kiri untuk melihat –dan menghindar jika bisa. Ia memperlambat langkah kakinya, sedangkan sebuah motor dengan kecepatan tinggi melesat ke arahnya.

Untuk beberapa saat, Luhan membeku. Ia tak bisa harus melakukan apa. Apakah ia harus berjalan terus atau mundur, Luhan tak bisa menentukan. Butuh sepersekian detik bagi Luhan untuk memejamkan matanya.

Lalu saat motor itu hanya berjarak beberapa meter darinya, –diiringi suara bising dan teriakan orang-orang disekitar, Luhan merasakan tubuhnya ditarik dengan cepat. Ia membentur sesuatu yang tidak keras, kemudian berguling-guling beberapa kali. Luhan bisa merasakan sekarang tubuhnya membentur sesuatu yang keras berkali-kali, dan suara-suara klakson mobil yang bising memenuhi pendengarannya.

Luhan masih tak bisa mengerti apa yang terjadi. Ia hanya bisa memejamkan mata sementara tubuhnya masih terus berputar-putar atau berguling-guling, Luhan sendiri tak yakin. Luhan rasa lima sampai enam kali hal itu terjadi, ia tak bisa menghitung dengan pasti.

Tubuhnya berhenti berputar, kemudian ia merasakan sesuatu yang hangat dan lembut di bawah tubuhnya. Luhan yakin ia menimpa seseorang. Dengan takut, Luhan membuka mata, mencoba menangkap semua gambaran yang buram pada awalnya. Kepalanya benar-benar sakit sekarang, Luhan rasa ia terbentur benda keras.

Luhan tak tahu apakah ia bermimpi dan bertemu dengan malaikat di surga. Satu yang Luhan tahu saat ini, saat ia membuka matanya, ia menemukan sesosok pria sempurna bak malaikat. Bentuk wajahnya sempurna. Sebuah maha karya Tuhan yang terpahat sempurna. Pria itu memandanginya dengan kaget –dan seluruh dunianya terasa hening.

Tanpa sadar jantungnya berdetak lebih cepat.

Luhan pikir ia pernah melihat wajah ini sebelumnya, wajahnya tidak asing. Dengan segala kemampuan –dan denyutan kuat di kepalanya, Luhan berusaha menggali ingatannya yang buruk. Sepersekian detik berlalu, ia menyadari satu hal.

Pria ini adalah pria yang menyelamatkannya kemarin. Tatapan pria itu sama, Luhan masih dapat mengingat itu dengan jelas.

Kenapa ini terjadi lagi –pikirnya.

Luhan tidak boleh kehilangan pria ini lagi, ia harus bisa tahu siapa pria yang kemarin dan sekarang menyelamatkannya. Dengan ragu, Luhan mencengkeram jaket tebal pria itu dengan tangannya yang pucat, ia menggenggamnya kuat-kuat. Kemudian ia merapatkan tubuhnya ke tubuh pria di bawahnya, bagaimanapun, ia harus mencari tahu siapa pria itu.

Pria asing itu menyentuh tangan Luhan, sementara beberapa orang mulai berkerumun di sekitar Luhan.

Bibir pria itu bergerak, bersamaan dengan itu suara yang tak asing bagi Luhan terdengar. "Maafkan aku," bisiknya.

Pandangan Luhan yang awalnya memandang mata pria itu beralih memandang tangan pria itu di atas tangannya saat ia merasakan sengatan di tangannya. Pria asing itu menusukkan sebuah jarum ke tangan Luhan, beberapa detik selanjutnya, pandangan Luhan mengabur. Kepalanya semakin terasa berat dan matanya sulit untuk dibuka.

Sekuat apapun Luhan melawan, tubuhnya seperti melayang. Ia sudah tidak bisa merasakan tubuhnya lagi. Terakhir yang Luhan ingat ia menyebutkan kata tidak, sebelum akhirnya tubuhnya kehilangan kendali. Ia jatuh menimpa pria yang berada di bawahnya.

Ia masih bisa merasakan saat tubuhnya terguncang-guncang, suara berisik disekitarnya perlahan memudar, digantikan oleh desingan aneh yang asing. Luhan masih bisa melihat pemandangan yang kabur pada awalnya, tapi kelamaan, hitam menyelimuti Luhan sepenuhnya.

Lagi-lagi ia tak tahu apa yang terjadi.

Semuanya terjadi begitu saja.

.

.

Luhan merasakan tubuhnya ditarik kuat-kuat, menyadarkan dirinya untuk sadar dari sebuah mimpi aneh yang pernah ia alami sebelumnya. Mimpi aneh yang menghantuinya beberapa saat terakhir. Ada gambaran sosok hitam yang terus menerus mengikutinya, membuatnya sama sekali tak bisa lepas, mencekik lehernya hingga ia kesulitan bernapas.

Kemudian Luhan membuka matanya lebar-lebar, jantungnya berpacu dengan cepat tanpa ia tahu kenapa. Hal pertama yang Luhan lihat adalah wajah Baekhyun dan Jongin, tepat di atas tubuhnya. Pandangan kedua orang itu tak bisa Luhan pahami.

Perasaan aneh ini pernah Luhan rasakan, ia yakin seratus persen.

De javu.

Mengapa lagi-lagi ini terjadi padanya.

"Luhan-ah, kau bisa mendengarku?" itu suara Baekhyun.

Luhan menggeleng ringan, kemudian merasakan serangan kuat di kepalanya. "Baekhyun-ah," suaranya terdengar parau.

"Kau bisa mendengarku? Kau baik-baik saja?" tanya Baekhyun lagi.

Luhan berusaha bangkit dengan susah payah, membuat Jongin harus meletakkan lengannya di bawah tubuh Luhan –menyangga tubuh gadis itu agar tidak jatuh. Luhan masih mengerang, berusaha memegangi kepalanya yang berdenyut.

"Apa yang terjadi?" bisiknya.

"Kau pingsan," balas Jongin.

Luhan mencoba berpikir, tapi otaknya masih tak bisa bekerja dengan baik. Terakhir yang Luhan ingat, ia mengendari mobilnya untuk menjemput Baekhyun, kemudian–

"Kau pingsan di tempat parkir, Luhan. Mengapa kau tak bilang padaku jika kau sakit?" omel Baekhyun.

Luhan masih mengernyit bingung. "Tempat parkir?" ulang Luhan, memandangi Jongin dan Baekhyun bergantian.

"Petugas keamanan membawamu kemari, mereka bilang kau pingsan di sebelah mobilmu," tambah Jongin.

Luhan memejamkan mata untuk berpikir sejenak. Ini tidak benar, ia tak pernah mengingat hal itu pernah terjadi padanya. Ia ingat terakhir kali ia memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, dekat kedai kopi, beberapa ratus meter dari apartemen Chanyeol. Luhan tidak masuk ke dalam karena jalanan yang padat.

Ia pikir bisa menenangkan pikirannya dengan segelas kopi, kemudian ia menunggu di pinggir jalan untuk menyebrang. Kemudian sebuah motor melaju dengan kecepatan tinggi ke arahnya tapi Luhan tidak tertabrak, ia diselamatkan oleh seseorang yang tak asing. Lalu semuanya menjadi gelap.

"Luhan, kau baik-baik saja?" tanya Baekhyun lagi, raut wajahnya penuh kecemasan.

Luhan mengangguk ringan, tapi masih belum sepenuhnya bisa berpikir jernih. "Aku memarkir mobilku di dalam apartemen ini?" tanya Luhan lagi.

Jongin dan Baekhyun mengangguk bersamaan. "Kau tak ingat?"

Luhan menggeleng. Pasti ada yang salah dengan hal ini, pria itu –bayangan hitamnya- pasti yang membawanya kemari. "Siapa yang menyelamatkanku, Baekhyun?"

Baekhyun dan Jongin saling berpandangan bingung. "Petugas keamanan," ucap Jongin sama bingungnya.

Sekali lagi, Luhan mengerang, bukan karena sakit, tapi kali ini karena kesal. Ia ingat, dirinya bukan pingsan karena hampir tertabrak motor, ia dibius oleh seorang pria yang kemarin menyelamatkannya. Kenapa pria itu melakukan ini, Luhan masih tak habis pikir.

"Kau baik-baik saja?" tanya Baekhyun lagi, menyadarkan Luhan dari lamunan panjang. Gadis itu menyentuh dahi Luhan, kemudian beralih menuju lehernya.

Luhan tersenyum. "Aku baik-baik saja, Baekhyun,"

Baekhyun menggenggam tangan Luhan, masih memasang ekspresi cemasnya yang berlebihan. "Maafkan aku, Luhan. Kalau saja aku tak memintamu menjemputku hari ini. Aku benar-benar menyesal,"

Luhan terkekeh. "Tidak apa, Baekhyun. Aku bersyukur kalian menemukanku,"

"Kau bisa istirahat disini dulu," ucap Jongin, melepaskan tangannya dari belakang tubuh Luhan, membaringkan gadis itu perlahan.

"Terima kasih," ucap Luhan singkat, kembali memejamkan mata.

Luhan merogoh kantung jeansnya untuk mencari ponsel. Dan saat yang sama, Luhan menemukan sebuah kertas di kantung celananya, ia tak pernah ingat meletakkan struk belanja disana sebelumnya. Luhan meraih kertas kecil itu, membuka lipatannya, dan lagi-lagi terkejut dengan kertas itu.

Sebuah tulisan yang sama seperti kemarin, ditulis dengan jenis tulisan yang sama namun kali ini tidak menggunakan bahasa Mandarin seperti kemarin.

"Maafkan aku untuk hari ini, Luhan. Kau akan jauh lebih baik. Percaya padaku, aku akan tetap melindungimu"

Luhan mendesah ringan, pikirannya melayang-layang mencari berbagai alasan di kepalanya yang masih berdenyut-denyut. Siapapun pria ini, ia tak pernah mencelakai Luhan. Apa sebenarnya maksud pria yang selalu mengatakan ia ingin melindunginya. Lalu siapa orang-orang yang ingin mencelakainya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan hidup Luhan disini, apa memang ia dibuang untuk orang-orang itu. Apa semua ini berhubungan dengan kehidupannya di masa lalu, atau murni pekerjaan orang asing.

Luhan masih tak bisa menentukan itu semua.

Baginya, semuanya masih buram.

.

.

Malam hari menjemput, Luhan keluar dari kamar Jongin. Ia mendapati Baekhyun dan Jongin sedang menunggunya di meja makan. Dengan canggung, Luhan tersenyum ringan. Ia yakin sekarang dirinya terlihat bodoh.

"Kau sudah lebih baik?" tanya Jongin.

Luhan mengangguk, kemudian duduk di kursi sebelah Baekhyun. "Aku sudah lebih baik. Terima kasih, Jongin,"

Baekhyun meletakkan makanan di depan Luhan, menyuruh gadis itu makan. Luhan hanya mengangguk patuh dan mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya meskipun sebenarnya ia tak ingin.

"Oh ya, tadi aku memeriksa mobilmu untuk mencari baju ganti. Dan aku menemukan ini," Baekhyun menyerahkan sebuah ponsel. "Kau ganti ponsel lagi?"

Luhan berpikir sejenak. Ia tak ingat pernah meletakkan ponsel di mobil sebelumnya. Dan ponselnya ada disakunya sekarang. Mungkin ini milik bayangan hitamnya dan Luhan tak ingin Baekhyun mengetahuinya.

Luhan mengangguk kaku. "Aku membelinya beberapa hari yang lalu," ucapnya ringan, menerima ponsel itu dari Baekhyun.

"Makanlah, setelah itu kita pulang," lanjut Baekhyun.

"Baekhyun-ah," Luhan menarik Baekhyun untuk mendekat.

"Ya? Kau butuh sesuatu?" balas Baekhyun.

Luhan menoleh ke arah Jongin yang sedang makan dihadapannya. "Jongin-ah, apa kau keberatan jika malam ini aku dan Baekhyun menginap?"

Jongin tampak terkejut, kemudian memandangi Baekhyun yang sama terkejutnya. Sebenarnya Luhan masih sedikit takut hal-hal aneh terjadi padanya, terlebih lagi ini malam hari. Sepertinya memang menginap disini akan lebih aman.

Jongin tampak bingung.

"Kau bilang Jongin berbahaya?" tanya Baekhyun polos, Luhan hanya meremas tangan Baekhyun untuk menyuruhnya diam.

"Jongin-ah?" tanya Luhan lagi.

Jongin berdeham. "Sebenarnya tidak masalah. Kamar Chanyeol kosong. Tapi apa–"

"Bukan masalah. Terima kasih," potong Luhan cepat, kemudian berjalan menuju kamar mandi, meninggalkan Jongin dan Baekhyun yang saling bertukar pandang dengan bingung.

Setelah mengunci pintu kamar mandi, Luhan memeriksa ponsel yang Baekhyun berikan padanya. Beruntungnya ponsel itu tidak terkunci tapi ponsel itu benar-benar kosong. Tampak seperti baru.

Luhan menemukan sebuah pesan dalam ponsel itu, sebuah pesan yang membuatnya lagi-lagi terkejut dan merinding saat membacanya. Sekarang Luhan yakin bayangan hitamnya memberinya ponsel ini.

Ia membaca tulisan itu berkali-kali untuk memahami artinya.

Aku sengaja meninggalkan ponsel ini untuk memantau keadaanmu. Seperti yang kau tahu, bahaya mungkin bisa kapan saja menyerangmu. Bawa selalu ponsel ini bersamamu, aku telah memasanginya pelacak. Aku mungkin saja tak berada dekat denganmu atau mungkin kehilangan jejakmu, jika kau dalam bahaya kau bisa menghubungiku melalui ponsel ini. Tepat dipanggilan cepat. Kau harus percaya padaku, Luhan. Aku akan melindungimu.

Dan Luhan mematung saat membacanya.

Tidak bisa berpikir lebih jauh lagi.

Kini potongan puzzle di kepalanya semakin banyak dan semakin sulit untuk diselesaikan. Demi apapun, ia belum menemukan satu titik terang sama sekali. Luhan hanya ingin mengetahui siapa pria itu dan apa yang diinginkannya.

Termasuk, bahaya apa yang akan menimpanya.

Luhan masih tak tahu.

Dan mungkin ia tak akan pernah tahu.

.

.

TBC

.

.

Yuhuuuuuuu~ chapter 2 is up!

Terima kasih tela membaca fanfiction ini. Author sangat menerima kritik, saran, dan komentar dari pembaca sekalin. Termasuk untuk melihat apakah fanfic ini ada peminatnya /hihi/

Oh ya, Author lagi semangat nulis tapi kehilangan ide, jadi untuk readers yang punya ide, bisa diberikan kepada Author karena Author akan sangat menghargai dan mengapresiasinya. Silahkan jika memiliki ide cerita, bisa menghubungi Author lewat e-mail /ingat ya lewat e-mail, jangan lewat PM di FFN, karena Author jarang buka FFN/

Sekian dari Author, lebih kurangnya mohon maaf. Silahkan review yaaaa~

Terima kasih.

Sampai jumpa chapter depan~