That Night, Chapter 2.
.
.
Han Geng as Han Geng
Kim Heechul as Jin Xiche
Choi Siwon as Cui Shiyuan
"Hng.."
Xiche terbangun dari tidur nyenyaknya, tepat disaat cahaya matahari mulai merambat masuk lewat lubang-lubang besar yang ada di sisi atas gudang. Dengan disambut oleh aroma khas yang terasa menenangkan, gadis itu mulai membuka kedua matanya dan mengerjap pelan. Butuh beberapa detik lamanya untuk menyesuaikan retinanya dengan intensitas cahaya yang masuk.
Hal pertama yang dilihat Xiche setelah ia sepenuhnya bangun adalah punggung lebar milik Hangeng. Lelaki tampan itu kini terlihat tengah sibuk merapikan barang-barang pribadinya dan memasukannya ke dalam sebuah tas ransel kecil.
Xiche beranjak menyingkap selimut tipis yang melapisi tubuhnya dan bangkit duduk. Pergerakannya tersebut berhasil membuat Hangeng menyadari bahwa ia sudah bangun. Lelaki itu segera menolehkan wajahnya ke belakang, memberikan sebuah senyuman manis sebagai sapaan awal.
"Selamat pagi. Bagaimana istirahatmu semalam?" Tanya lelaki ramah itu kemudian, sembari beranjak menutup tas ranselnya.
Xiche tersenyum manis. "Cukup nyenyak." Respon gadis itu sembari beranjak merapikan rambut pendeknya yang acak-acakan menggunakan jemarinya sendiri, kemudian beralih melemparkan pandangannya ke sekeliling. Suasana di sekitarnya masih sama seperti tadi malam.
"Ayo, ikut aku pulang ke rumahku." Ajak Hangeng yang tiba-tiba saja beranjak berdiri dengan membawa tas ransel kecilnya. Lelaki itu masih mengenakan pakaian yang sama seperti kemarin. Yang membedakan hanyalah karena ia memakai sebuah topi berwarna putih sebagai tambahan.
Xiche terlihat bingung. Ia bahkan baru saja bangun beberapa menit tadi. "Eh? Sekarang?" Gadis itu ikut bangkit dari atas kasur, masih dengan mengenakan dress hitam ketat dan stocking jaringnya.
Hangeng tersenyum tipis. "Iya, kita harus pergi sekarang. Ini sudah jam enam pagi. Para pegawai pabrik akan tiba di sini satu jam lagi, jadi aku harus sudah mengosongkan tempat ini sebelum mereka datang." Jelasnya sembari beranjak merapikan kasur kecil yang semalam ditempati oleh Xiche itu, kemudian menyandarkannya pada sisi ujung gudang.
"Ah, begitu.." Xiche mengangguk paham sembari memperhatikan Hangeng yang tengah sibuk merapikan kasur kecil dan barang-barang lainnya yang ada di sana. Sesaat, gadis itu tertegun. Hangeng bekerja dengan sangat giat, bahkan untuk hal-hal kecil seperti ini saja. Ia yakin, lelaki itu pasti tidak tidur semalaman. Kantung mata hitamnya mengatakan semuanya.
"Kenapa kau memperhatikanku seperti itu? Apa ada yang salah?" Tanya Hangeng yang entah sudah sejak kapan menyelesaikan kegiatan beres-beresnya dan menangkap basah Xiche sedang memperhatikannya dari belakang.
Gadis cantik itu jadi gelagapan. "Ah, t-tidak." Ia berusaha untuk mengalihkan pandangannya dari Hangeng dan mencoba untuk sibuk merapikan rambutnya. "Ayo pergi." Ajaknya kemudian, tidak ingin berlama-lama lagi.
Hangeng tersenyum penuh arti. "Ayo." Balas lelaki itu sembari tanpa basa-basi mengenggam erat tangan kanan Xiche, seakan takut kehilangan gadis itu. Mereka berdua segera keluar dari dalam gudang dan mendekati sebuah sepeda onthel tua yang terparkir tepat di sebelah pintu gudang.
Xiche mengerutkan keningnya saat melihat sepeda onthel itu. "Sepeda siapa?" Tanyanya kemudian sembari melirik ke arah Hangeng yang kini sudah melepaskan genggaman tangannya dan beranjak naik ke atas sepeda tua ber-merk Gazelle itu.
"Ini sepedaku." Hangeng melirik Xiche dari balik punggungnya, kemudian mengisyaratkan pada gadis itu untuk segera naik dan duduk di kursi belakang. "Naiklah."
Xiche meneguk ludahnya dengan susah payah. Seumur hidupnya ia belum pernah merasakan bagaimana rasanya naik sepeda onthel, apalagi jika dibonceng oleh orang lain. Tapi walaupun merasa ragu dan sedikit takut, gadis itu tetap naik. Ia duduk menyamping di kursi belakang sembari meremas kuat ujung pakaian Hangeng, takut terjatuh.
Hangeng terkekeh pelan saat merasakan remasan dan tarikan kecil pada pakaiannya. Ia tahu, ini pasti yang pertama kalinya Xiche naik sepeda. "Kau takut?" Tanya lelaki tampan itu sembari mulai mengayuh sepedanya perlahan meninggalkan area sekitar gudang dan menuju jalan kecil yang akan membawanya menuju rumahnya.
Xiche mengangguk ketakutan. Kedua tangannya semakin kuat meremas ujung pakaian Hangeng disaat sepeda tua itu mulai melaju di atas rerumputan liar. "Pelan-pelan..." cicitnya pelan dari balik punggung lebar Hangeng.
Hangeng mengerti. Ia segera beranjak meraih tangan Xiche yang sedari tadi meremas ujung pakaian dan memindahkannya ke area pinggangnya. "Jangan takut. Peluk aku erat-erat. Aku tidak akan mengayuh terlalu cepat." Ujarnya, berusaha untuk menenangkan gadis manis yang sekarang tengah duduk di belakangnya itu.
Xiche menurut. Dengan cepat, ia melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Hangeng. Ia mempercayakan semua nyawanya pada lelaki yang tengah memboncengnya itu. Tanpa berani mengatakan sepatah kata pun karena takut menganggu konsentrasi Hangeng dalam mengendarai sepeda, Xiche akhirnya lebih memilih untuk memperhatikan jalan-jalan yang ia lewati selama menuju ke rumah Hangeng.
Sesaat kemudian, perhatian gadis cantik itu terhenti pada sisi kiri jalan yang dilewatinya. Di ujung jalan itu, tumbuh banyak sekali bunga-bunga kecil berwarna kuning. Xiche tidak tahu jenis bunga apa itu, tapi ia menyukainya. Bunga itu terlihat sangat anggun walaupun ukurannya kecil.
"Itu bunga Aster. Kau menyukainya?" Hangeng tiba-tiba berucap, seakan ia bisa membaca apa yang Xiche pikirkan sekarang. "Jika kau suka, aku bisa memetikkan beberapa untukmu." Tambahnya lagi.
Xiche sontak tersadar. Ia kemudian menepuk bahu Hangeng dari belakang, mengisyaratkan agar lelaki itu kembali fokus mengayuh sepedanya. "Tidak perlu. Fokuslah ke depan!" Tegurnya, takut jika lelaki itu tiba-tiba kehilangan keseimbangan atau menabrak sesuatu di depannya.
Hangeng tertawa jahil, merespon teguran Xiche dengan mempercepat kayuhan pada sepedanya. "Tenanglah, kita sudah hampir sampai." Ucapnya kemudian. Tak lama, mereka pun sungguh berhenti di depan sebuah rumah sederhana yang di dominasi oleh warna putih pudar. Rumah itu kecil, namun memanjang dan rapi sehingga menimbulkan kesan hangat yang sangat kuat.
Xiche turun dari atas sepeda sembari menyelipkan sebagian rambutnya ke belakang telinga. Gadis itu tidak bisa melepaskan pandangannya dari rumah Hangeng yang kini telah berada tepat di hadapannya. Ia terpukau. Entah mengapa, rumah sederhana itu nampak sangat menarik perhatiannya.
"Ayo masuk." Ajakan Hangeng dan genggaman lelaki itu pada tangannya membuat Xiche tersadar dari lamunan singkatnya. Gadis itu segera mengangguk dan mengikuti Hangeng masuk ke dalam rumah.
Disaat Hangeng membuka pintu, seorang wanita paruh baya dengan rambut pendeknya yang agak berantakan muncul dari dalam dengan membawa sebuah bak besar berisi udang. Wajah wanita itu langsung cerah saat melihat siapa yang tengah berdiri di ambang pintu rumahnya sekarang.
"Han, kau sudah pulang?" Wanita tua itu, Ibu Hangeng. Ia berjalan cepat menuju pintu masuk rumahnya, lalu sedikit terkejut saat melihat Xiche muncul di belakang anaknya. "Ah, siapa ini yang kau bawa bersamamu?" Tanyanya sembari memasang wajah penasaran.
Hangeng tersenyum pada Ibunya, lalu menarik lengan Xiche perlahan agar gadis itu berdiri tepat di sampingnya. "Ma, ini Xiche. Semalam, ia dikejar oleh segerombolan preman, lalu aku menyelamatkannya." Lelaki itu memperkenalkan Xiche pada Ibunya.
"Mama." Xiche menundukkan kepalanya untuk memberikan hormat pada Ibu Hangeng. Sesaat, gadis itu merasa sedikit canggung. Baru kali ini ia memanggil seorang dengan sebutan 'Mama'. Ia belum terbiasa.
Ibu Hangeng tersenyum lembut, menggapai tangan kiri Xiche dan mengusapnya penuh kasih sayang. "Kau sangat cantik." Puji wanita paruh baya itu yang sontak membuat Xiche sedikit salah tingkah.
"Ma, apa Mama keberatan jika Xiche tinggal bersama kita disini selama beberapa hari kedepan?" Tanya Hangeng tiba-tiba, meminta izin pada Ibunya. "Ia belum bisa kembali ke rumahnya untuk sementara waktu ini. Ada seseorang yang mengincarnya."
"Tentu saja, Mama tidak keberatan. Tinggalah disini selama yang kau mau." Jawab ibu Hangeng sembari menepuk pelan bahu Xiche. Ia sepertinya mulai menyukai gadis itu.
Xiche jadi merasa sungkan. "Terimakasih, Mama." Ucapnya sembari memasang senyum manis dan menggenggam tangan hangat milik ibu Hangeng. ibu Hangeng benar-benar baik. Seumur hidup, baru kali ini Xiche merasa diperhatikan oleh sosok yang disebut 'orang tua'. Sejak kecil, Xiche bahkan tidak pernah tahu siapa orang tuanya. Ia tumbuh besar di panti asuhan, sebelum akhirnya seseorang mengambilnya dari sana dan memberikannya pada Shiyuan.
"Sama-sama. Kalau begitu, Mama pergi ke pasar dulu, ya? Han, jangan lupa buatkan makanan untuk Xiche. Jaga dia baik-baik." Ibu berucap sembari menepuk bahu Hangeng.
Hangeng mengangguk. "Baiklah. Hati-hati di jalan, Ma." Ucapnya, mengiri langkah kaki Ibunya yang kini sudah beranjak keluar dari rumah dan pergi dengan membawa bak besar berisi udang yang akan dijual di pasar nanti.
Setelah ibunya benar-benar pergi, Hangeng kembali melemparkan pandangannya ke arah Xiche yang kini tengah berdiri di sampingnya. "Sepertinya Mamaku sangat menyukaimu. Tidak biasanya ia tersenyum dan memuji orang yang baru ia kenal seperti itu." Ucapnya sembari mengisyaratkan Xiche untuk mengikutinya masuk ke dalam rumah.
Rumah Hangeng mungkin tidak terlalu besar dan belum modern, tapi rumah itu terasa sangat nyaman dan hangat untuk ditinggali. Walaupun udara di luar dingin, tapi setelah masuk ke dalam rasanya seperti diselimuti oleh sesuatu yang entah apa itu. Terdengar seperti sebuah sugesti mungkin, tapi Xiche sungguh merasakannya. Ia sangat menyukai rumah Hangeng, terutama aromanya yang khas itu. Entahlah, sulit untuk dijelaskan.
Hangeng membawa Xiche masuk ke salah satu kamar yang letaknya dekat dengan dapur. Kamar tersebut kecil tapi rapi. Dindingnya yang dipenuhi oleh tempelan poster-poster teater china itu membawa kesan dan nuansa yang unik. Xiche yakin, kamar ini pasti kamar Hangeng.
"Ini kamarku. Kau bisa menempatinya. Maaf, agak sedikit berantakan." Ujar Hangeng sungkan sembari bergegas merapikan mejanya yang penuh dengan buku-buku dan kertas berserakan di atasnya.
Xiche menarik nafas dalam-dalam, menghirup aroma kamar Hangeng yang sangat khas dan sulit untuk dideskripsikan. Gadis cantik itu beranjak duduk di tepi ranjang kecil yang ada di kamar itu, kemudian kembali memperhatikan sekitar. "Aku suka kamarmu." Komentarnya.
Hangeng melirik Xiche sejenak dari ujung matanya, kemudian tersenyum senang. "Begitukah?" Respon lelaki itu sembari beranjak membuka lemari pakaian yang ada di pojok kiri ruangan kemudian mengeluarkan sebuah handuk dan pakaian berbahan rajut berwarna merah hati. "Ini, jika kau ingin mandi dan mengganti pakaianmu. Kamar mandinya ada di sebelah sana." Ia menunjuk ke arah sebuah pintu yang ada di sisi pinggir sebelah ranjang.
Xiche tersenyum, memandangi handuk dan pakaian yang Hangeng tumpuk dan letakkan tepat di sampingnya. "Aku akan mandi sehabis ini. Terima kasih, Han." Ucapnya sembari menatap kedua mata sipit milik Hangeng.
Hangeng tersenyum, ikut menatap mata Xiche dalam diam. Selama beberapa menit, pandangan mereka bertemu dan beradu, sebelum akhirnya Hangeng menyadari sesuatu. Bukankah seharusnya ia membiarkan Xiche beristirahat dan mandi sekarang?
"Ah-Maaf." Lelaki berkulit kecokelatan itu menyadari kekonyolannya sendiri, kemudian bergegas melangkah menuju pintu eboni berwarna putih yang menjadi akses keluar masuk kamar itu, lalu membukanya perlahan. "Kalau begitu, aku akan mengganti pakaianku, lalu memasakkanmu sesuatu. Keluarlah untuk sarapan jika kau sudah selesai mandi." Ucap Hangeng kikuk, sesaat sebelum ia benar-benar melangkah keluar dari kamarnya sendiri, meninggalkan Xiche yang masih memperhatikannya dari tepi ranjang.
Xiche terkekeh kecil, memperhatikan pintu berwarna putih di depannya itu yang kini sudah kembali tertutup rapat. "Dasar." Gumamnya pelan sembari mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjang milik Hangeng.
Dalam keheningan, gadis cantik berambut pendek itu mulai memejamkan matanya dan kembali menghirup aroma khas yang memenuhi ruangan sederhana tersebut. Kamar Hangeng sungguh memikat hatinya. Suasananya sungguh berbanding jauh bagaikan langit dan bumi dengan kamarnya yang ada di rumah pelacur sana.
Xiche jadi bertanya-tanya, sampai kapan ia bisa tinggal disini? Kalau bisa, ia ingin tinggal dan menatap untuk waktu yang sangat lama, setidaknya sampai aroma khas yang ada di rumah dan kamar ini menempel dan bersatu di dalam tubuhnya, mungkin? Tapi, bagaimana dia bisa? Itu nyaris tidak mungkin. Ia saja masih belum sepenuhnya yakin kalau Shiyuan tidak akan menemukannya walaupun ia bersembunyi disini.
Terlalu banyak bergulat dengan pikirannya sendiri, Xiche lama-lama menjadi pusing. "Ah, sudahlah. Apa 'sih yang kupikirkan ini? Konyol sekali." Gerutu gadis itu, mengomentari dirinya sendiri.
Setelah berbaring cukup lama, Xiche akhirnya kembali bangkit berdiri dan meraih handuk serta pakaian rajut berwarna merah hati yang disediakan Hangeng untuknya. Gadis itu akhirnya lebih memutuskan untuk mandi, daripada ia harus berbaring dan kembali memikirkan hal-hal yang pada ujungnya akan membuat kepalanya pening sendiri. setidaknya, dengan mandi ia dapat menyegarkan tubuh dan pikirannya. Yah, semoga saja begitu.
Hangeng melangkah pelan memasuki area dapur di rumahnya. Sembari terus mengarahkan pandangannya pada halaman belakang rumah yang tersorot jelas dari balik jendela besar, lelaki yang rambut hitam pekatnya disisir ke belakang itu nampak berjaga-jaga, takut jika ada sesuatu atau seseorang yang tengah mengintai dan mencoba untuk masuk ke rumahnya.
Selama Xiche tinggal disini, Hangeng harus lebih berhati-hati dan waspada dengan situasi yang janggal di sekitarnya. Siapa tahu, Shiyuan dan anak buahnya berhasil menemukan mereka disini. Mau tidak mau, Hangeng harus mempersiapkan dirinya. Firasatnya mengatakan bahwa posisi mereka sekarang tidak sepenuhnya aman, tapi lelaki itu tidak berani mengatakan tentang hal ini kepada Xiche. Ia tidak ingin membuat gadis itu menjadi terlalu khawatir dan takut, seperti semalam.
Sembari menarik nafas dalam-dalam dan melirik ke arah sekitar untuk memastikan bahwa suasana di sekitarnya cukup aman, Hangeng beranjak menarik salah satu gagang dari laci kecil yang ada di lemari dapur, bagian paling bawah. Laci kecil tersebut terbuka setengah bagian, menampakkan isinya yang dipenuhi oleh serbet-serbet dan karpet berukuran kecil yang biasanya diletakkan di depan pintu masuk rumah dan kamar.
Dengan raut wajah yang sedikit ragu, Hangeng meneguk ludahnya dan mulai memasukkan tangan kanannya ke dalam laci tersebut, merogoh bagian paling bawahnya. Sedetik kemudian, gerakan tangan lelaki itu terhenti disaat ia sudah berhasil menggengam sesuatu di tangannya. Perlahan, Hangeng mulai menarik keluar benda seukuran remote televisi itu.
Sebuah pistol jenis glock sembilan belas dengan peluru kaliber sembilan kali sembilan belas milimeter muncul dari balik tumpukan kain-kain tersebut. Hangeng menggenggam ujungnya dengan erat. Lelaki itu kini nampak berdiam diri, memperhatikan pistol itu selama beberapa menit dalam keadaan hening, entah memikirkan apa saja.
Setelah cukup lama diam di posisinya, Hangeng menghela nafas berat dan menyimpan kembali pistol itu dengan hati-hati di dalam laci. Lelaki itu kemudian bangkit berdiri dan berkacak pinggang. Berlagak seakan tidak habis melakukan apapun, ia mulai berjalan ke arah kulkas dan mencari bahan-bahan yang bisa dimasaknya untuk sarapan.
Kulkas besar itu nyaris kosong. Hanya tersisa beberapa butir telur, sosis, dan daging cincang di dalamnya sana. "Hum.." Hangeng mengerutkan dahinya, berpikir apa yang harus ia masak untuk sarapan pagi ini. Lalu tiba-tiba, lelaki itu mendapatkan sebuah ide.
Dengan cepat, Hangeng mengeluarkan semua bahan-bahan yang tersisa dari dalam kulkasnya, kemudian beranjak meletakkannya di atas meja dapur. Ia juga mengeluarkan nasi sisa semalam dari dalam penanak nasi, kemudian meletakkannya di atas piring kosong. Lelaki itu sudah memutuskan. Ia akan memasak nasi goreng beijing, satu-satunya menu yang ia merasa sangat handal dalam memasaknya.
Tanpa banyak bicara lagi, Hangeng segera memotong-motong bawang putih, cabai merah, dan daun bawang, kemudian menumisnya hingga harum. Setelah itu, ia mulai memasukkan bahan-bahan lain ke dalam wajan, seperti nasi putih, telur, dan juga sosis.
Aroma harum yang khas mulai tercium dan memenuhi area dapur disaat Hangeng mulai mengaduk rata nasi goreng buatannya dan menambahkan bumbu-bumbu ke dalamnya.
Bersamaan dengan itu, Xiche keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur. Gadis itu nampak lebih segar dengan mengenakan pakaian berbahan rajut berwarna merah hati yang panjangnya sampai sebatas lutut. Dan, jangan lupakan juga rambut pendeknya yang dibiarkan setengah basah itu.
"Wah, Harumnya~" Komentar Xiche sembari melangkah riang memasuki dapur dan menghampiri Hangeng yang kini tengah sibuk memasak nasi goreng beijing untuk sarapan mereka yang sudah sedikit lewat dari waktu yang seharusnya. Sesaat, ia tertegun. Hangeng nampak sangat berbeda ketika ia sedang memasak. Lelaki itu jadi semakin terlihat tampan dan.. berkarisma?
Hangeng melirik Xiche dari balik punggungnya, memperhatikan gadis itu yang terlihat sangat cantik dengan mengenakan sweter rajut buatan ibunya. "Ah, kau sudah selesai mandi? Sweter itu terlihat cocok di tubuhmu." Pujinya kemudian sembari beranjak mematikan kompor dan mengambil piring dari rak dapur.
"Benarkah? Aku juga menyukainya. Bahannya sangat lembut dan dingin." Xiche merespon dengan nada suara tenang. Ia kemudian beranjak memperhatikan Hangeng yang baru saja akan menyajikan nasi goreng beijing buatannya di atas sebuah piring kaca. "Perlu bantuan?" Tawarnya kemudian.
"Aku senang jika kau menyukainya. Mamaku yang merajutnya sendiri. Awalnya, ia berniat untuk menjualnya. Tapi, orang-orang disini tidak terlalu menyukai model pakaian yang seperti itu. Jadi, akhirnya ia hanya menyimpan pakaian-pakaian itu di lemari." Cerita Hangeng sembari sibuk menyajikan makanannya. "Duduklah. Aku sudah hampir selesai." Suruhnya kemudian pada Xiche.
"Mamamu yang merajutnya? Wah..." Ucap Xiche sembari segera beranjak duduk menempati salah satu kursi yang ada di meja makan kecil di dekat dapur tersebut. Gadis itu terlihat sangat bersemangat, mengingat perutnya yang belum mendapat asupan sama sekali sejak tadi malam itu sudah mulai berteriak minta diisi.
Hangeng tersenyum puas. Nasi goreng beijing andalannya sudah siap untuk disajikan. Dengan segera, ia membawa hasil masakannya itu dan meletakkannya di atas meja makan, tepat di hadapan Xiche. "Sarapan sudah siap. Nah, ayo cobalah."
"Wah.." Xiche terlihat sangat senang. Tanpa menunggu lama lagi, gadis itu segera menyendok nasi goreng buatan Hangeng tersebut, kemudian melahapnya selagi masih hangat.
Raut wajah Xiche menampakkan bahwa gadis itu sangat menikmati nasi goreng beijing buatan Hangeng. saking enaknya, ia sampai tidak bisa berkomentar lagi dan lebih memilih untuk menyantap sarapannya dengan gembira. Seumur hidupnya, baru kali ini ia menyantap nasi goreng beijing seenak ini. Rasanya sungguh sangat berbeda, lain dari yang lain.
Ah, entahlah. Semenjak bertemu dengan Hangeng, Xiche jadi merasa bahwa ia telah masuk ke dimensi lain dalam hidupnya. Segala sesuatu yang Hangeng miliki dan tunjukkan padanya itu, sungguh berbeda dari apa yang pernah ia rasakan selama ini.
Hangeng seakan membawanya untuk merasakan sisi lain dari dunia yang belum pernah ia sentuh dengan ujung kelingkingnya sekalipun, dan Xiche merasa sangat bersyukur karena ia bisa bertemu dengan lelaki yang kini tengah memandangnya dengan lembut itu. Tuhan, apa ini yang namanya jelmaan malaikat?
"Xiche? Kenapa melamun? Apa masakanku tidak enak?"
Lagi-lagi, Xiche tersadar dari lamunannya setelah Hangeng mengguncangkan lengan kirinya beberapa kali. Gadis itu jadi merasa kikuk. "A-Ah, Tidak. Masakanmu enak,'kok, sungguh. Aku menyukainya. Rasanya sangat pas."
Hangeng memandangi Xiche lekat-lekat. "Benarkah?" Tanyanya, terdengar sangat meragukan jawaban lawan bicaranya tersebut.
"Iya, sungguhan!" Xiche langsung merespon dengan cepat. Ia kemudian beranjak kembali mengambil se-sendok nasi goreng dan mengangkatnya, mengarahkannya pada mulut Hangeng. "Cobalah. Kau juga harus memakan masakanmu sendiri."
Hangeng awalnya menolak. Bila harus jujur, ia sedang tidak nafsu makan karena memikirkan banyak hal terkait keselamatan Xiche sekarang. Perasaan lelaki itu tidak enak, tapi ia berusaha untuk menyembunyikannya. "T-Tidak perlu. Kau makan saja."
Sayangnya, Xiche tidak menyerah untuk mencoba membujuknya agar ia mau menyantap masakannya sendiri, walaupun hanya se-sendok. Gadis itu terus memaksanya dengan imut. "Ayolah, hanya satu suap~" Xiche merajuk di depannya, menampilkan pout perdananya yang berhasil membuat Hangeng salah tingkah dan tidak bisa menolak lagi.
Dengan susah payah, lelaki china itu meneguk ludahnya. Baru pertama kalinya ia melihat Xiche melakukan pout seperti itu, dan ia langsung kehilangan kontrolnya. Tanpa sadar, Hangeng mulai membuka mulutnya, membiarkan Xiche memasukan sesuap penuh nasi goreng beijing ke dalam sana.
Glup. Hangeng sungguh tidak bisa menahan dirinya disaat kedua matanya kembali bertemu pandang dengan sepasang mata cantik milik Xiche tersebut. Jantungnya berdegup dengan kencang, seakan-akan ingin lepas dan jatuh merosot ke tanah. Astaga, perasaan apa lagi ini?
"Bagaimana? Enak,'kan?" Pertanyaan Xiche berhasil menyadarkan Hangeng dari lamunan singkatnya, membuat lelaki itu jadi sedikit gelagapan. Lihatlah, siapa sekarang yang mempunyai hobi melamun? Bukan hanya Xiche yang melakukannya, tapi dia juga.
"Ah, Iya. Tumben. Biasanya pasti kurang asin." Hangeng mulai merespon, mengomentari masakannya sendiri sembari menegakkan duduknya. Ia menelan habis nasi goreng yang disuapkan oleh Xiche barusan. Ah, ia jadi ingin lagi. Xiche membuat rasa nasi goreng buatannya yang tadinya biasa-biasa saja kini menjadi luar biasa.
Xiche tersenyum memandang Hangeng. "Ah, begitukah? Tapi sungguh, ini nasi goreng beijing terbaik yang pernah kucicipi seumur hidupku." Gadis itu kembali memuji masakan Hangeng, membuatnya jadi tersipu malu dan senang sampai ingin meledak rasanya.
Hangeng tersenyum lebar. "Aku merasa lega jika kau memang menyukainya." Ucap lelaki yang kini tengah mengenakan sweter biru tua yang dipadu dengan celana panjang berbahan kain tersebut. Ia kemudian beranjak melipat kedua tangannya di atas meja, memperhatikan Xiche yang kembali asyik menyantap sarapan buatannya.
Gadis itu kembali memasukkan sesuap nasi goreng beijing ke dalam mulutnya sembari bersenandung kecil dan memperhatikan suasana di sekitarnya. Rumah Hangeng masih belum bisa berhenti membuatnya terpesona.
Sembari mengunyah habis makanannya, kedua mata lebar milik Xiche terfokus pada sebuah bingkai foto berwarna silver yang terletak di salah satu sisi dinding yang ada di dapur tersebut. Di dalam bingkai tersebut, tercetak sebuah foto hitam putih yang memperlihatkan sepasang suami istri dengan anak laki-lakinya yang kira-kira berusia sepuluh tahun.
Itu pasti foto Hangeng dan keluarganya. Ah, Xiche jadi iri sendiri melihatnya. Gadis cantik itu juga ingin punya keluarga dan sebuah foto yang bisa untuk dipajang. Tapi, apa daya? Nasib baik tidak berpihak padanya. Jangankan punya keluarga, satu-satunya yang Xiche ingat dari masa kecilnya pun hanya wajah-wajah suster yang mengurusnya di panti asuhan. Ia tidak pernah tahu siapa dan bagaimana wajah orang tuanya.
"Aku terlihat tampan disitu. Iya,'kan?" Hangeng tiba-tiba membuka suaranya. Ia menggengam erat tangan kiri Xiche yang tadinya tengah fokus memperhatikan foto keluarganya, membuat gadis itu menengok ke arahnya kemudian tertawa kecil.
"Kau terlalu percaya diri." Responnya kemudian dengan nada suara lirih. Gadis itu tidak bisa menahan rasa sedihnya. Ia terluka, menyadari seberapa pahit cerita kehidupannya selama ini. Terlalu berat, tapi kenapa ia masih bertahan sampai sekarang?
Hangeng membelai punggung tangan Xiche dengan lembut, kemudian ikut memperhatikan foto keluarganya yang dipajang oleh Ibunya di dinding dekat meja makan itu. "Itu foto keluarga terakhir kami sebelum Papa pergi bertugas sebagai tentara. Ia tidak pernah kembali ke rumah lagi setelahnya, sampai hari ini." Ucapnya kemudian yang sontak membuat Xiche diam seribu bahasa.
"Mama bilang, Papa sudah meninggal. Tapi, Entahlah. Kami bahkan tidak pernah melihat seseorang membawa jasadnya pulang kemari." Hangeng melanjutkan. Lelaki itu kini menundukkan kepalanya dalam, memasang senyum hambar yang berhasil membuat Xiche merasa seperti ditampar habis-habisan.
"Hangeng.." Panggil gadis itu pelan sembari beralih menggengam erat tangan kanan kanan Hangeng, memandanginya dengan sorot wajah khawatir. "Maaf, aku tidak bermaksud...aku tidak tahu.." Xiche merasa sangat bersalah. Ia harusnya tidak memperhatikan foto itu sejak awal.
Hangeng kembali mengangkat wajahnya, balas memandangi lawan bicaranya itu sembari berusaha keras untuk tetap tersenyum. "Ini bukan salahmu." Ucapnya pelan sembari beranjak membelai lembut surai kecokelatan milik Xiche. "Sudahlah, kenapa kita jadi seperti ini? Ayo, habiskan sarapanmu."
Xiche memejamkan matanya sesaat, menikmati belaian tangan Hangeng pada pucuk kepalanya yang seakan membuatnya terbang melayang. Ia menyukainya. Hangeng lagi-lagi membuatnya merasa nyaman. "Kau baik-baik saja? Maafkaan aku.." Gadis itu kembali meminta maaf, masih sembari menggengam tangan kiri lelaki yang duduk di hadapannya itu.
Hangeng mengangguk mantap. "Kau tidak perlu minta maaf, Xiche. Ini hanya aku yang terlalu terbawa suasana." Ujarnya sembari tersenyum lembut, membuat Xiche akhirnya menghela nafas lega.
Gadis itu jadi merasa nyaman. Ia sangat menyukai semua perlakuan Hangeng pada dirinya. Seumur hidup, baru kali ini Xiche merasa begitu pada lelaki yang ia temui. Ia jadi bertanya-tanya, apa ini yang namanya jatuh cinta? Kalau memang benar, Xiche rasa ia tidak jatuh cinta pada orang yang salah. Hangeng, lelaki itu sungguh sempurna menurutnya. Ia bagaikan hadiah dari Tuhan yang jatuh di malam tahun baru.
"Xiche, kau melamun lagi."
Hangeng kembali melayangkan protesnya, membuat Xiche tersenyum dan memandangi lelaki berwajah tampan itu lekat-lekat. Ia tidak bisa berpaling. Gadis itu sudah jatuh cinta, dan ia tidak ingin semuanya berakhir terlalu cepat. Bisakah ia tinggal dengan Hangeng selamanya? Ia harap ia bisa.
.
.
TBC
.
.
halo, saya kembali lagi dengan chapter baru! sebelumnya, saya ingin berterimakasih untuk semua yang sudah membaca that night chapter satu. jujur, beberapa hari setelah chapter satu saya publish, saya sempat kehilangan mood untuk menulis cerita. berkali-kali muncul ide, tapi waktu mau ditulis langsung hilang semua dari otak. alhasil, sampai detik ini saya masih belum menulis fanfiction baru lagi, tapi untungnya saya sudah menamatkan That night ini sebelum lebaran, hanya tinggal di publish saja. Intinya, selamat membaca! mohon maaf jika ceritanya tidak memuaskan, ya. bagi yang ingin memberikan saran dan kritik bisa dituliskan lewat review. saya pasti akan baca dan mencoba untuk memperbaiki jika ada sesuatu yang salah heuheu. akhir kata, see you in the next chapter! -regards, kimheynim.
