Just acting or REAL?

II

By

Arisa Adachi YunJaeShipper

a.k.a

U-Know Boo

Pairing :: YUNJAE!

Casts :: Jung Yunho, Kim –Jung- Jaejoong, Park Yoochun, Kim Junsu and our beloved magnae Shim Changmin ^^

Disclaimer :: They're not mine...T^T

Warning :: YAOI (always), OOC, gaje, typo(s)

xxx

Cahaya matahari menyusup pelan melalui celah-celah kain gordyn yang tersingkap. Seorang pria yang masih terlelap perlahan membuka matanya karena terganggu cahaya tadi. Pria bernama Yunho itu mendudukkan dirinya di atas tempat tidur. Matanya menyapu seluruh pemandangan asing yang terhampar di hadapannya, beberapa detik kemudian barulah Yunho ingat bahwa ia menginap di apartemen Kim Jaejoong.

Yunho menolehkan kepalanya. Didapatinya dia hanya sendiri di tempat tidur itu. Berarti Jaejoong telah bangun sedari tadi. Yunho menguap lalu meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku selama ia tidur tadi.

'Drrt... drrt...'

Perhatiannya kemudian teralih pada ponsel hitam miliknya yang bergetar. Yunho memang sengaja men-silent-kan ponselnya. Pria tampan itu mengernyitkan alisnya ketika mendapati sebuah panggilan masuk ke ponselnya.

Yoochun calling...

Yunho menghela napasnya sebelum mengangkat teleponnya. "Yeobosseyo..."

"YA! JUNG YUNHO! DIMANA KAU SEKARANG!"

Reflek Yunho menjauhkan ponsel dari telinganya. Yoochun pasti marah karena ia tidak bilang menginap di apartemen Jaejoong tadi malam. "Aish, tidak perlu berteriak begitu Yoochun-ah."

"Kau ini sembarangan menghilang! Aku panik sekali waktu tidak mendapatimu di apartemen! Sebenarnya kau berada di mana sih?"

Yunho menghela napasnya, Yoochun memang gampang sekali panik, "Aku menginap di apartemen Jaejoong, aku lupa bilang padamu. Mianhae."

"Mwo? Kau menginap dengan Kim Jaejoong? Tidur dengannya?"

Yunho menganggukkan kepalanya, "Ne, begitulah..."

"Aigoo... tidak kusangka hubungan kalian sudah sejauh ini. Baiklah, silakan lanjutkan yang tadi malam. Aku tidak akan menganggu."

Yunho memiringkan kepalanya bingung, beberapa detik kemudian barulah ia menyadari maksud Yoochun, "Ya! Kami tidak melakukan apa-apa! Jangan berpikir yang aneh-aneh Yoochun-ah!"

"Ah, jadi tidak terjadi apa-apa? Ck, membosankan. Baiklah, sekedar mengingatkan saja nanti jam delapan kau ada jadwal di acara talk show. Jangan terlambat."

"Hm, sampai nanti." Yunho menutup teleponnya. Diliriknya jam yang menggantung di dinding, 07.02. Yunho menguap sekali sebelum kemudian keluar dari kamar itu.

Pria tampan itu memperhatikan keadaan ruang televisi yang masih kosong. Tercium bau harum masakan dari arah dapur. Hm, berarti Jaejoong sedang memasak. Yunho kemudian melangkahkan kakinya menuju dapur.

Kimi wa doko ni ite?

Dare to doko ni ite?

Donna fuku o kite?

Nani shite waratterun darou?

Yunho menghentikan langkahnya. Pria itu sedikit tertegun mendengar Jaejoong yang tengah melantunkan beberapa bait dari sebuah lagu berbahasa Jepang. Yunho menyandarkan tubuhnya di dinding, ia baik-baik mendengarkan Jaejoong. Menurut Yunho, lagu itu terdengar lebih baik jika Jaejoong yang menyanyikannya ketimbang penyanyi aslinya.

"Aku tidak tahu kau bisa bernyanyi."

"Ah!" Jaejoong berseru tertahan. Nyaris saja ia menjatuhkan roti bakar di piringnya karena suara Yunho. Pria cantik itu membalikkan badannya dan terkejut mendapati sosok Yunho disana, "K-kau sudah dari tadi disana, Yunho-ah?"

Yunho menaikkan sebelah alisnya, sedikit heran mendapati nada gugup di suara pria cantik itu, "Ne, dari tadi."

Jaejoong hanya menganggukkan wajahnya dengan canggung, "Err... kau mandi saja dulu selagi aku menyiapkan sarapan. Kau bisa memakai kamar mandi di kamarku."

Yunho mengangguk dengan wajah heran, heran karena raut Jaejoong yang terlihat gugup. Namun ia tidak mengatakan apa-apa dan lebih memilih melangkahkan kakinya menuju kamar mandi di kamar Jaejoong.

Tidak sampai tiga puluh menit Yunho telah selesai mandi. Pria tampan itu melangkahkan kakinya menuju dapur. Dilihatnya Jaejoong sedang menyiapkan sarapan mereka pagi itu, "Hari ini aku masak nasi goreng, tidak apa 'kan?"

Yunho menganggukkan kepalanya singkat. Ia kemudian menarik sebuah kursi dan duduk disana. Ia hanya diam ketika Jaejoong meletakkan telur mata sapi di atas nasi gorengnya, tidak lupa Jaejoong meletakkan segelas teh hangat di samping piringnya. "Tehnya masih lumayan panas," ujar Jaejoong memperingatkan. Sejenak Yunho tertegun, entah kenapa ia terlihat seperti seorang suami dan Jaejoong seperti seorang istri.

Agak lama Yunho memperhatikan Jaejoong yang sedang sibuk membereskan peralatan masaknya. Pagi itu Jaejoong mengenakan kaus V-neck abu-abu dengan lengan sesiku, lalu disambung dengan celana panjang berwarna putih. Yunho baru menyadari kalau Jaejoong itu memiliki pinggang yang sangat ramping. Selesai dengan kesibukannya, Jaejoong kemudian mendudukkan tubuhnya di kursi di depan Yunho. Ia sedikit heran melihat Yunho belum menyentuh sarapannya.

"Aku menunggumu," ujar Yunho singkat mengerti arti tatapan Jaejoong. Jaejoong hanya mengangguk, lalu memulai sarapannya.

"Oh ya, Jaejoong-ah."

"Hm?"

"Tadi aku tidak sengaja mendengarmu bernyanyi, menurutku suaramu bagus sekali. Tidak berniat menjadi penyanyi, huh?"

Jaejoong sedikit gugup ketika Yunho memujinya. Aneh, padahal biasanya ia tidak terlalu menanggapi pujian orang lain mengenai suaranya, "Menyanyi hanya hobiku saja, tidak lebih."

"Sayang sekali. Seharusnya suara sebagus itu tidak disia-siakan begitu saja," gumam Yunho.

Jaejoong tertawa kecil, "Junsu juga bilang begitu sih. Tapi yah... aku tidak ingin menambah kesibukanku."

"Benar juga." Tidak sengaja mata kecil Yunho tertuju pada jam dinding yang tergantung di dapur, 08:10. "Oh, shit," ujarnya pelan.

"Huh? Apa?"

"Tadi Yoochun memberi tahu kalau aku ada job jam delapan. Tapi sepertinya aku akan terlambat."

Jaejoong memutar kepalanya menatap jam dinding, "Kalau begitu selesaikan sarapanmu dan segera kesana."

"Ani, aku harus pulang dulu," ujar Yunho.

"Huh? Waeyo? Kau sudah mandi dan sarapan 'kan?"

"Iya sih, tapi 'kan aku harus ganti baju dulu," ujar Yunho lagi sambil melirik pakaiannya yang dari semalam memang belum diganti. Jaejoong mengangguk tanda mengerti.

"Kau bisa meminjam bajuku kok."

"Tidak usah, aku tidak mau merepotkanmu."

"Gwaenchana." Jaejoong bangkit dari duduknya, "Aku akan menyiapkan baju untuk kau pakai. Kau selesaikan sarapan saja dulu," ujar Jaejoong lagi seraya berjalan menuju kamarnya. Yunho hanya diam menatap punggung Jaejoong yang menjauh. Perasaannya atau memang situasi ini terasa seperti adegan suami istri.

Tak lama kemudian Jaejoong sudah kembali ke ruang makan, "Bajunya sudah kuletakkan di kasur, aku pilihkan warna hitam karena kupikir warna itu cocok untukmu."

"Ya, Jaejoong-ah, kau sudah seperti istriku saja," ujar Yunho dengan nada bercanda. Yah, niatnya hanya bergurau saja. Yunho sendiri terkikik geli karena gurauannya, namun senyuman di wajahnya langsung terhapus ketika melihat wajah Jaejoong yang memerah. Pria cantik itu menatap Yunho sejenak, sebelum kemudian ia menundukkan kepalanya cepat-cepat. Tangannya mengaduk-aduk nasi gorengnya, jelas sekali ia gugup karena ucapan Yunho barusan.

"M-mianhae Jaejoong-ah, aku tidak bermaksud membuatmu merasa tidak nyaman," ujar Yunho canggung. Padahal niatnya bercanda, tapi malah jadi kaku begini. Jaejoong tidak menjawab. Yunho hanya bisa diam sambil mengutuki dirinya dalam hati.

"Err... Hari ini kau tidak ada jadwal?" tanya Yunho. Ia mencoba bertanya dengan nada senormal mungkin untuk menetralisir suasana yang kaku ini.

"Umm, kurasa tidak. Aku meminta Junsu untuk membatasi job sampai syuting film ini selesai."

"Junsu itu..."

"Manajerku."

"Ohh..." Yunho menganggukkan kepalanya. Suasana kembali hening. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Ponsel milik Yunho bergetar, menghancurkan keheningan di ruang makan Jaejoong.

Yoochun calling...

"Ne?" Yunho mengangkat telepon dari Yoochun. Seperti yang ia duga, Yoochun mengomel di telepon karena ia terlambat datang. Tidak lama Yunho mengakhirikan teleponnya. "Ck, manajerku marah-marah karena aku terlambat," gumam Yunho seraya meletakkan ponselnya di meja makan. Yunho kembali menyuap nasi gorengnya cepat-cepat, begitu selesai ia langsung menenggak minumannya dan berdiri. Jaejoong hanya melihatnya dengan pandangan bertanya.

"Yoochun menungguku di depan, aku harus pergi sekarang nanti kalau aku lama dia marah-marah lagi," jelas Yunho terburu-buru sambil berjalan menuju ruang depan dan Jaejoong mengikuti di belakangnya.

"Ne Jaejoong-ah, gomawo untuk makanannya," ujar Yunho begitu sampai di pintu depan. Jaejoong hanya tersenyum tipis. Yunho mengangguk lalu berlari kecil menuju lift. Dia harus cepat atau Yoochun akan marah-marah lagi.

Jaejoong menghela napasnya sebelum kemudian kembali masuk ke apartemennya. Dipandanginya piringnya yang masih berisi setengah nasi goreng, entah kenapa Jaejoong merasa tidak ingin melanjutkan sarapannya lagi. Tak sengaja mata besar Jaejoong tertuju pada benda hitam yang tergeletak di dekat piring Yunho tadi.

"Huh? Dia melupakan ponselnya?" bisik Jaejoong. Jaejoong berpikir apa yang harus ia lakukan, "Kembalikan nanti saja kalau ketemu di lokasi syuting," ujar Jaejoong seraya mengantongi ponsel itu. Jaejoong kemudian memberesi piringnya dan piring Yunho.

Pria cantik itu melirik ke arah jam dinding, masih jam sembilan kurang. Syuting akan dimulai sekitar jam sebelas nanti. Selagi senggang Jaejoong memutuskan untuk tidur-tiduran dulu di kamarnya. Pria cantik itu tertegun sejenak melihat kaus berwarna hitam dan celana berwarna krim yang tergeletak di kasurnya. Kaus yang ingin ia pinjamkan pada Yunho.

Jaejoong kembali memasukkan kaus dan celana itu ke dalam lemarinya. Sekelebat perkataan Yunho terngiang di kepalanya. 'Huh, memang kenapa kalau aku terlihat seperti seorang istri?' batin Jaejoong.

'Brugh'

Jaejoong merebahkan tubuhnya di atas kasur. Pria cantik itu memejamkan mata sambil mengatur napasnya. Entah kenapa Jaejoong merasa ada sesuatu yang berbeda dari dirinya ketika ia berdekatan dengan Yunho. Seperti apa ya? Rasanya seperti ingin membuat segala sesuatu sempurna, ingin membuat Yunho terkesan padanya.

"Haaahh~ kenapa aku jadi seperti ini?" Jaejoong meraih bantalnya dan mendekapnya erat. Pria cantik itu menjauhkan sedikit bantalnya ketika menyadari sesuatu, "Bau Yunho..." bisiknya sebelum kembali mendekap bantal itu erat. Jaejoong baru ingat kalau bantal itu dipakai oleh Yunho tadi malam.

Jaejoong masih asyik dengan bantal itu ketika sesuatu pada kantong bergetar. Pria cantik itu kemudian meraih benda elektronik pada kantongnya, sepertinya ada panggilan di ponsel Yunho.

Yoochun calling...

"Yoochun?" Jaejoong mengingat-ingat sejenak, "Oh iya, manajernya Yunho."

"Ne, yeobosseyo?" Jaejoong mengangkat panggilan itu.

"Jaejoong-ah?"

"Huh? Ini Yunho?" Jaejoong balas tanya.

"Ne, ini aku. Ah, ponselku ada padamu rupanya."

"Iya, tadi kau meninggalkannya di meja makan."

Terdengar Yunho menghela napas lega di seberang sana, "Syukurlah, kukira tadi ketinggalan entah dimana. Ya sudah, kutitipkan ponselku padamu dulu ya?"

"Ne."

"Oke, sampai nanti." Pik. Yunho memutuskan sambungan komunikasi mereka.

Jaejoong menghela napasnya. 'Cepat sekali memutuskannya,' bisik Jaejoong. Pria itu tertegun sejenak melihat layar wallpaper ponsel Yunho. Foto Yunho dengan mengenakan kacamata berbingkai hitam, lalu sebuah singlet hitam terpasang rapi di tubuhnya. Jaejoong tersenyum, sesuai dugaannya, Yunho memang cocok dengan pakaian berwarna gelap.

Terbersit di benak Jaejoong niat untuk mengutak-atik ponsel Yunho. Ia tahu ini tidak sopan, tapi biarlah. Jaejoong mengubah posisi tubuhnya menjadi telungkup. Bantal yang tadi masih didekapnya erat. Yang pertama Jaejoong periksa ada file musik di ponsel itu. Sebagian besar diisi oleh lagu-lagu berbahasa Jepang dan Inggris. Jaejoong mencoba mendengar beberapa lagu, ingin tahu seperti apa selera musik seorang Jung Yunho.

Bosan dengan file musik, Jaejoong beralih membuka foto di ponsel itu. Fotonya tidak terlalu banyak, sebagian besar diisi oleh foto-foto Yunho bersama teman dan keluarganya. Jaejoong tersenyum kecil ketika melihat foto Yunho dengan bando bertelinga kelinci dan berpose aegyo. Lucu juga melihat Yunho yang biasanya terlihat manly berpose seperti itu. Iseng, Jaejoong mengirim gambar itu ke ponselnya.

Petualangan(?) Jaejoong masih berlanjut. Ada foto Yunho dengan seorang pria yang diduga Yoochun. Lalu ada fotonya bersama teman-teman yang lain. Jaejoong sedikit terkejut ketika menemukan gambarnya di galeri foto Yunho. Terlihat dirinya sedang duduk sambil membaca naskah dialog. Dari latar foto itu sepertinya foto itu diambil di lokasi syuting. Diambil secara diam-diam, heh?

"Kenapa Yunho mengambil fotoku diam-diam?" Jaejoong mulai bingung. Kalau memang ingin fotonya bukankah mereka bisa berfoto bersama? Daripada Yunho mengambilnya diam-diam begini. "Apa mungkin Yunho itu..." Jaejoong diam sejenak, namun kemudian pria cantik itu menggelengkan kepalanya, "Ani. Tidak mungkin Yunho menyukaiku. Dia bukan gay 'kan?" Jaejoong menghela napasnya. Entah kenapa fakta kalau Yunho bukan gay itu sedikit membuatnya merasa galau.

Jaejoong memutuskan untuk tidak melihat-lihat isi ponsel Yunho lagi. Yah, niat awalnya sih begitu, tapi ia tidak bisa menahan diri ketika secara tak sengaja membuka aplikasi pesan di ponsel Yunho. 'Yunho tidak akan tahu kalau aku melihat inbox-nya.' Dan Jaejoong hanya membiarkan jarinya menekan keypad untuk membuka kotak masuk di ponsel Yunho.

(Jaejoong PoV)

Yoochun. Yoochun. Yoochun. Yoochun. Siwon. Siwon. Umma. Yoochun. Aish, kenapa isi inbox-nya Yoochun semua sih? Dan isinya juga tentang jadwal dan jadwal. Ck, dia benar-benar tipe pekerja keras. Aku masih asyik menekan keypad ponsel, namun jariku terhenti ketika melihat pesan dari Ara. Entah kenapa aku jadi penasaran dengan isinya.

'From : Ara

Oppa, bagaimana kalau kita dinner malam ini?'

Hanya satu itu pesan dari Ara. Hm, sepertinya Yunho tidak menggubris pesan nenek sihir itu. Hihihi... rasakan itu!

Berikutnya aku menemukan beberapa pesan atas nama Jihye. Huh? Jihye itu nama perempuan 'kan? Siapanya Yunho perempuan ini? Sekali lagi karena penasaran aku membuka pesan dari perempuan bernama Jihye itu.

'From : Jihye

Oppa, hari ini aku pulang terlambat. Aku sedang di rumah teman.'

Siapa Jihye? Aku kemudian kembali membuka pesan lain dari Jihye itu.

'From : Jihye

Oppa, kalau pulang belikan ramen di tempat biasa ya? Aku sedang ingin makan ramen ^^'

Oke, aku mulai merasa penasaran. Atau mungkin khawatir? Entahlah, hanya saja dari pesannya sepertinya Jihye ini sangat akrab dengan Yunho. Kekasihnya kah? Aish...

Aku memutuskan untuk tidak memeriksa ponsel Yunho lagi. Tapi meski begitu tetap saja aku penasaran dengan Jihye itu. Well, aku benar-benar penasaran sekarang. Kuraih ponselku dan membuka aplikasi browsing-nya. Pada kotak pencarian kuketikkan tulisan 'Jihye Yunho'. Karena Yunho seorang entertainer pasti ada berita tentang dia di Internet dan mungkin ada tentang si Jihye ini juga. Tidak perlu menunggu lama hasil pencariannya sudah keluar.

Mwo? Jihye itu adik perempuan Yunho? Ya ampun, bisa-bisanya aku cemburu pada adiknya Yunho.

Eh?

Apa yang kukatakan tadi? Aku cemburu? Yang benar saja...

Huh, daripada aku bingung-bingung lebih baik aku mendengarkan lagu dari ponsel Yunho saja. Aku kemudian mencari headset ponselku di meja samping tempat tidur. Begitu ketemu aku segera mencolokkannya pada port untuk headset di ponsel Yunho. Huft, untunglah ujung headset-ku cocok dengan port di ponsel Yunho.

Aku mengubah posisiku ke telentang lalu menempelkan ujung headset itu ke telingaku. Sebuah lagu berbahasa Jepang mengalun lembut dari ponsel Yunho. Kalau tidak salah ini lagu Wasurenaide-nya Tohoshinki. Aku kemudian mengambil bantal Yunho tadi dan meletakkannya di atas wajahku. Harus kuakui, bau ini membuat pikiranku lebih rileks. Kurasa aku harus sering-sering meminta Yunho menginap disini, hahaha...

Perlahan-lahan mataku mulai terasa berat. Kulirik jam di ponsel Yunho. Jam sepuluh kurang. Aku memutuskan untuk tidur sebentar, toh syuting film juga masih lama.

(Jaejoong PoV End)

.

.

.

Yunho duduk santai sambil membaca-baca naskah dialog. Sebenarnya seluruh isi naskah itu sudah dihapalnya dengan baik, namun tak ada salah 'kan untuk dibaca ulang? Sesekali Yunho menengadahkan kepalanya mencari sosok Jaejoong. Sebentar lagi syuting akan dimulai dan Jaejoong belum terlihat.

Perhatiannya Yunho kini tertuju pada seorang pria berwajah imut yang tidak asing baginya. Kalau ia tidak salah, itu adalah Junsu manajer Jaejoong. Ia sedikit heran ketika dilihatnya Junsu datang seorang diri. Yunho kemudian berjalan menuju orang itu.

"Kau Junsu 'kan?"

"Eh, ya... Ada apa Yunho hyung?"

"Kau sendiri? Tidak bersama Jaejoong?" tanya Yunho to the point.

Bukannya menjawab, Junsu malah memandang Yunho dengan raut bingung, "Jae hyung belum datang?"

"I-"

"Aish, padahal tadi aku sudah memberi tahunya," seru Junsu panik. Cepat-cepat pemuda imut itu menelepon Jaejoong. "Ya! Tidak diangkat!" seru Junsu setelah sekian lama menunggu panggilannya diterima Jaejoong.

"Mungkin Jaejoong sedang dalam perjalanan," ujar Yunho.

"Tidak mungkin. Jaejoong hyung selalu mengangkat telepon dimana pun dia berada, atau jangan-jangan..."

"Jangan-jangan apa?"

"Jangan-jangan Jae hyung diculik! Atau kecelakaan! Atau dibunuh! ANDWAEEE~~~"

Yunho hanya memutar bola matanya melihat Junsu yang tiba-tiba jadi panik begini. Tak ingin berdiam diri, Yunho kemudian menghubungi ke ponselnya sendiri menggunakan ponsel Yoochun yang tadi dipinjamnya. Dan sama seperti Junsu tadi, panggilannya pun tidak diangkat.

"Junsu-sshi." Junsu menoleh ketika merasa ada yang memanggilnya. Ia sedikit terkejut ketika sang sutradara Shim Changmin mendekatinya, "Mana Jaejoong-sshi? Sebentar lagi syuting akan dimulai."

"Hueeee~~~ Changmin-sshi~ Jae hyung dibunuh~~~"

"Mwo? Dibunuh? Lalu bagaimana filmnya? Masa harus ganti pemeran? Siapa yang cocok? Apa Karam saja? Oke, aku akan menghubungi Karam sekarang."

Yunho memutar bola matanya. Kenapa jadi semuanya jadi panik begini? "Sudahlah, aku akan ke apartemen Jaejoong sekarang," ujar Yunho akhirnya menghentikan Changmin yang sedang mengutak-atik ponselnya dan Junsu yang sedang berpanik ria.

"Eh? T-tidak usah. Biar aku saja," gumam Junsu.

"Gwaenchanayo, kau disini saja." Tanpa menunggu persetujuan dari Changmin maupun Junsu, Yunho segera membalikkan badannya menuju parkiran. Tanpa ragu-ragu ia membawa mobilnya menuju apartemen Jaejoong. Yunho hanya berdoa semoga Yoochun tidak heboh lagi karena ia pergi tanpa bilang pada Yoochun.

Tidak lama Yunho sudah sampai di apartemen Jaejoong. Pria tampan itu segera menaiki lift. Begitu sampai di depan apartemen Jaejoong, pria itu sedikit terkejut karena pintu apartemen tidak terkunci.

"Aish, dasar ceroboh. Kalau ada orang masuk bagaimana," batin Yunho. Pria itu segera memasuki apartemen Jaejoong. Kesan yang didapatnya adalah sunyi dan sepi. Seolah tidak ada kehidupan di apartemen itu. "Apa Jaejoong benar-benar dibunuh?" batin Yunho, namun kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya karena pemikiran bodoh itu, "Kenapa aku jadi ikut-ikutan berpikiran seperti itu."

Yunho memasuki apartemen Jaejoong lebih jauh. Matanya tertuju pada pintu kamar Jaejoong yang tertutup rapat. Yunho berpikir bahwa disanalah Jaejoong, karena itu ia mengetuk pintu berwarna coklat itu. Lama Yunho mengetuk pintu itu, namun tidak juga mendapat sahutan dari dalam. Karena penasaran Yunho mendorong pintu berbahan kayu itu. Mata kecilnya mendapati sosok yang diduga Jaejoong tertidur di kasur dengan sangat lelap.

Sebenarnya Yunho tidak ingin mengganggu tidur Jaejoong itu, tapi kalau pemuda ini tidak segera ke lokasi syuting bisa-bisa Changmin dan Junsu berpikir kalau Jaejoong benar-benar sudah dibunuh. Ck~

Yunho sedikit tertegun ketika melihat Jaejoong yang tertidur dari jarak yang cukup dekat. Terlihat pria cantik itu tertidur dengan posisi telentang. Kedua tangannya tergeletak di samping kiri kanan kepalanya. Poni hitamnya terjuntai ke pinggir kepalanya dan kaus abu-abunya tersingkap sehingga menampakkan sedikit perutnya yang putih dan rata. Jujur, pose itu cukup untuk menggoda seorang Jung Yunho.

Yunho kemudian mendudukkan dirinya di tepi kasur Jaejoong. Seharusnya ia membangunkan Jaejoong, namun ia tidak bisa menghentikan tangannya yang tengah mengelus poni Jaejoong. Rambut Jaejoong benar-benar halus, bahkan kehalusan rambutnya bisa disandingkan dengan rambut Jihye adik perempuannya. Padahal Jaejoong laki-laki tapi rambutnya halus seperti perempuan.

Puas memainkan poni Jaejoong kini jari telunjuk Yunho turun menyusuri halusnya pipi Jaejoong. Begitu lembut. Iseng, Yunho menusuk-nusukkan jarinya ke pipi Jaejoong. namun keisengan itu berhenti ketika matanya tertuju pada bibir Jaejoong yang sedikit terbuka.

Entah kegilaan apa yang menggantung pada benak pria berorientasi normal ini. Kini jari telunjuknya menyentuh bibir Jaejoong. Sama seperti pipinya, bibir ini pun sangat lembut dan kenyal. Tidak seperti bibirnya yang keras. Perlahan Yunho menekan lembut bibir Jaejoong, terbersit di benaknya untuk merasakan kekenyalan bibir itu dengan bibirnya sendiri. Keisengan Yunho berlanjut, perlahan ia mendorong ujung jarinya memasuki celah di antara bibir Jaejoong yang terbuka. Pria itu sedikit terkejut ketika tanpa sadar Jaejoong mengemut jarinya.

Agak lama Yunho membiarkannya. Jarinya yang masuk ke mulut Jaejoong tidak begitu dalam. Hanya sampai ruas pertama jarinya. Namun meski begitu Yunho bisa merasakan sensasi yang berbeda di dalam mulut Jaejoong. Hangat dan basah. Yunho segera menarik jarinya begitu ia merasakan benda di antara selangkangannya mulai bereaksi.

"Aish, apa yang kulakukan." Yunho mengalihkan pandangan seraya menghela napas. Menghapus kegilaan yang baru saja menghampirinya. Tak sengaja matanya tertuju pada headset yang menempel di telinga Jaejoong. headset itu tersambung pada ponselnya. Yunho baru sadar kalau ternyata Jaejoong tertidur sambil mendengarkan lagu dari ponselnya.

'Drrt... drrt'

Yunho sedikit terkejut ketika ponsel Yoochun di kantongnya bergetar. Ternyata Junsu mengiriminya pesan. Pria itu menanyakan bagaimana keadaan Jaejoong. Yunho menjawab kalau Jaejoong sedang bersiap supaya Junsu tidak cemas lagi.

Yunho menghela napasnya. Pria itu menoleh ke arah Jaejoong yang masih pulas. Tidak ingin bermain-main lagi, Yunho memutuskan untuk membangunkan Jaejoong sekarang.

"Jae... Jae..." Dengan pelan Yunho mengguncang bahu Jaejoong. Tidak terlalu lama karena kini Jaejoong sedikit mengerutkan dahinya. Menandakan kalau ia mulai terbangun.

"Umm..." Bagai orang linglung, Jaejoong agak lama mengamati wajah Yunho di hadapannya. Beberapa detik kemudian barulah matanya melebar menandakan bahwa pria cantik itu telah sadar sepenuhnya. "Y-Y-Yunho? A-apa yang kau lakukan disini!" serunya sambil langsung mendudukkan tubuhnya,

"Err... kau tidak kunjung datang ke lokasi syuting. Jadi aku mendatangimu kemari. Ternyata kau masih tidur."

"Syuting?" Jaejoong membeo dengan tampang yang begitu polos. Kepalanya menoleh melihat jam dinding di kamarnya, hampir jam dua belas siang, "Ya! Aku lupa!" seru Jaejoong tertahan. Pria cantik itu baru akan meloncat dari kasurnya ketika ia merasakan sesuatu di telinganya. Baru ia sadari kalau ia masih memasang headset.

"E-eh, ini punyamu," gumam Jaejoong canggung sambil menyodorkan ponsel Yunho. Yunho hanya tersenyum tipis sambil mengambil ponselnya, "Aku akan menunggu di depan," ujarnya lalu meninggalkan Jaejoong seorang diri.

Jaejoong menghela napasnya. Entah kenapa tadi ia merasa begitu gugup. Wajahnya memanas tanpa sebab yang ia ketahui . "Aish, tadi pose tidurku bagaimana ya?" bisik Jaejoong khawatir, "Semoga tidak memalukan." Pria cantik itu kemudian melompat dari kasurnya. Ia tidak ingin membuat Yunho menunggu, karena itu ia mengganti pakaiannya cepat-cepat.

.

.

.

"Haaaahh~" Jaejoong menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi ketika syuting untuk hari ini akhirnya selesai juga. Jam menunjukkan hampir tengah malam, tidak heran membuatnya merasa begitu lelah.

"Hyung besok bangun pagi ya?" gumam Junsu sambil menyerahkan sebotol minuman dingin. "Jangan sampai terlambat seperti tadi."

Jaejoong mengangguk tanpa suara. Besok mereka akan syuting lagi, namun syutingnya tidak di Seoul. Melainkan di daerah pegunungan, sesuai dengan skenario film. Jaejoong sedikit mendesah malas. Esok pasti akan menjadi hari yang sangat melelahkan untuknya.

Jaejoong sedikit mengacak poninya. Membuat poni hitamnya sebagian naik ke atas. Setidaknya hal itu bisa membuat dahinya terasa lebih sejuk. Pria cantik itu memejamkan matanya. Masih ada beberapa hal yang harus diurus oleh Junsu dan karena ia pulang bersama Junsu mau tidak mau ia harus menunggu Junsu.

"Kau tidur Jaejoong-ah?"

"Eh!" Jaejoong terkejut ketika sebuah suara berat yang dikenalinya menghampiri indera pendengarnya. Cepat-cepat ia merapikan poninya yang tadi berantakan, "Y-Yunho-ah?"

"Apa aku mengganggumu?" tanya Yunho ketika melihat gelagat Jaejoong yang aneh.

"T-tidak," jawab Jaejoong sekenanya. Tangannya masih sibuk merapikan helai-helai hitamnya yang halus.

"Kau tidak pulang?"

"Emm… aku menunggu Junsu."

Yunho mengangguk paham, "Mau kuantar pulang? Kebetulan aku ingin pulang sekarang."

"Eh, t-tidak usah. Aku menunggu Junsu saja." Ada sedikit penyesalan ketika Jaejoong menolak tawaran Yunho. Tapi mau bagaimana lagi, ia tidak mau kalau harus terus bersama pria itu. Jaejoong akui kalau Yunho membuatnya gila secara perlahan.

"Oh…" Yunho bergumam kecewa. "Oke, aku pulang duluan ya? Besok jangan sampai terlambat bangun." Jaejoong mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat, hal itu rupanya mengundang senyum tipis terulas di wajah tampan Yunho, "Tapi yah, kalau kau terlambat bangun pun aku bersedia ke apartemenmu untuk membangunkanmu."

"Ha?" Sekali lagi Jaejoong terkejut. Namun ia tidak mengatakan apa-apa dan membiarkan sosok Yunho berlalu dari hadapannya. Jaejoong memegang kedua pipinya yang terasa panas.

'Aish, kenapa dia bicara seperti itu? Membuatku gugup saja…' batin Jaejoong.

"Hyung, hyung, maaf membuatmu menunggu," seru Junsu seraya berlari-lari kecil mendekati Jaejoong. Pria imut itu sedikit mengernyit heran ketika melihat Jaejoong menepuk-nepuk pipinya pelan, "Gwaenchanayo hyung?"

"Eh? O-oh, ne, ne gwaenchana…"

"Wajahmu merah. Yakin baik-baik saja?"

Jaejoong terlihat sedikit terkejut ketika Junsu mengatakan wajahnya memerah. Namun sedetik kemudian ia tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. "Ne, it's okay Su-ie."

Junsu mengangguk bingung. Belum pernah ia melihat senyum Jaejoong yang begitu cerah. Pasti telah terjadi sesuatu pada pria cantik itu. Dan apapun itu pasti menyenangkan.

.

.

.

Kim Jaejoong menengadahkan kepalanya. Menatap tetesan air hujan yang jatuh dari atap rumah yang biasa dipakai untuk keperluan syuting film-nya. Pria cantik itu menengadahkan tangannya, membiarkan sejumlah tetes air membasahi telapaknya yang putih.

"Lama sekali ya?" Jaejoong sedikit tersentak. Ia menoleh dan mendapati pria tampan itu berdiri di sampingnya. Hari itu Yunho mengenakan kaus dengan leher tinggi berwarna hitam, dibalut jaket panjang berwarna hijau gelap lalu dipadukan dengan celana hitam dan sepatu boot berwarna hitam pula. Membuatnya terlihat begitu manly dan tampan. Poninya yang biasanya dinaikkan kini diturunkan sehingga menutupi sebagian dahinya. Dan jangan lupakan kacamata berbingkai hitam yang menyangkut manis di batang hidungnya. Yunho memang selalu mengenakan kacamata diluar keperluan syuting maupun acara sehari-hari. "Ung?" Yunho menolehkan wajahnya ke arah Jaejoong, "Kau memperhatikanku?"

"E-eh? Tidak," jawab Jaejoong cepat seraya membalikkan kembali wajahnya. Kini sepasang mata besarnya tertuju pada telapak tangannya yang basah kuyup karena air hujan. Yunho tersenyum tipis melihat tingkah Jaejoong itu. Hari ini pun pria cantik itu terlihat luar biasa. Kaus lengan panjang berwarna biru dongker, dipadankan dengan syal rajut berwarna putih yang melingkar apik di leher jenjangnya. Untuk bawahan Jaejoong mengenakan celana putih hari itu.

Saat ini mereka sedang menunggu van yang akan membawa mereka menuju pegunungan yang menjadi lokasi syuting hari ini. Terlihat di belakang mereka beberapa kru yang sibuk mempersiapkan alat-alat yang dibutuhkan. Sepertinya terlambat karena hujan yang mengguyur sejak pagi tadi.

"Hatchim!" Seketika Jaejoong menoleh dan mendapati Yunho tengah menggosok hidungnya.

"Kau baik-baik saja?" tanya Jaejoong bingung. Baru ia sadari wajah Yunho sedikit pucat hari ini.

"Umm… Tidak juga sih. Tadi malam kepalaku agak sakit," gumam Yunho sambil tersenyum. Ia merasa sedikit senang karena Jaejoong memperhatikan. Huh? Perasaan macam apa itu?

"Apa karena kau makan masakanku semalam?"

Yunho tertawa kecil mendengarnya, "Tidak, tidak. Kurasa karena cuaca buruk ini."

"Kalau begitu jangan berdiri disitu, kau hanya memperparah sakitmu, masuk ke dalam sana." ujar Jaejoong layaknya ibu-ibu yang mengomeli anak mereka.

Kembali Yunho tertawa kecil mendengar cara bicara Jaejoong. Ia baru akan membalikkan badannya ketika mata kecilnya mendapati dua buah van dan sebuah bis besar mendekat. Sepertinya itu kendaraan yang akan membawa mereka menuju lokasi syuting hari ini.

"Yunho-sshi, Jaejoong-sshi, silakan masuk ke dalam van," ujar salah seorang kru.

Jaejoong mengangguk dan segera memasuki van. Namun tidak dengan Yunho, pria itu mendongakkan kepalanya seperti sedang mencari seseorang, "Ara mana?" tanyanya.

"Oh, Ara-sshi sedang ada jadwal di tempat lain. Dia akan menyusul dengan kendaraan pribadinya."

Yunho menganggukkan kepalanya. Ia kemudian memasuki van yang sama dengan Jaejoong. Tak lama beberapa artis lain turut mengisi van itu dan van lainnya. Sedangkan para kru beserta peralatan naik ke bis besar. Jaejoong duduk di bagian paling pinggir tepat di samping jendela dan Yunho berada di sebelahnya.

Untuk beberapa menit pertama suasana dalam van itu masih ramai. Terdengar beberapa kali suara gelak tawa para penghuni van tersebut. Namun hal itu mereda seiring dengan semakin jauhnya perjalanan. Mungkin karena cuaca pegunungan yang sejuk –terlebih beberapa saat yang lalu hujan turun- membuat penghuni van ini banyak yang tertidur.

Kim Jaejoong yang sedari tadi diam hanya memandang keluar jendela. Menatap pepohonan hijau maupun bulir air yang menuruni jendela dengan pelan. Lain halnya dengan Yunho, pria tampan itu kini tengah membaca buku dengan headset menempel di kupingnya.

"Masih lama?"

"Eh?" Yunho terkejut ketika tiba-tiba saja Jaejoong mengajaknya bicara. Ia kira Jaejoong sudah tidur dari tadi. "Apanya yang masih lama?" Yunho balas tanya.

"Masih lama sampai ke lokasi syutingnya?"

"Oh, mungkin sekitar satu jam lagi. Dari Seoul menuju lokasi syuting itu membutuhkan waktu sekitar tiga jam 'kan?"

Jaejoong menghela napasnya. Wajah cantiknya sedikit cemberut. Jujur saja, ia sudah muak dengan perjalanan ini. Van yang tidak terlalu luas dan jalanan daerah pegunungan yang berkelok-kelok sukses membuat mood-nya menjadi jelek.

"Kau baik-baik saja?" tanya Yunho menyadari aura yang keluar dari pria cantik itu.

"Tidak juga," sahut Jaejoong masih dengan wajah cemberut.

Yunho mengangguk paham. Ia kemudian melepas salah satu headset dan menyerahkannya pada Jaejoong. "Mungkin kau akan merasa lebih baik kalau mendengarkan lagu," gumam Yunho.

Jaejoong mengambil headset dari tangan Yunho dan menempelkannya ke telinganya. Sedikit banyak hal itu membuat Jaejoong merasa lebih rileks. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan memejamkan matanya. Yunho tersenyum tipis melihatnya. Ia pun ikut menyandarkan punggung ke sandaran kursi. Untuk beberapa lama konsentrasi Yunho terpusat pada buku yang dibacanya. Namun konsentrasi itu buyar ketia Yunho merasakan sesuatu menimpa bahunya.

Yunho menolehkan kepalanya. Dan betapa terkejutnya ia melihat Jaejoong yang tertidur menumpukan kepalanya ke bahu Yunho. Wajah cantiknya terlihat begitu lelap. Walau sedikit merasa berat pada bahunya, namun Yunho tidak protes. Ia lanjutkan membaca bukunya.

.

.

.

"Hoaaaaahhmm~" Jaejoong menutup mulutnya yang menguap lebar. Setengah jam yang lalu akhirnya mereka sampai di lokasi syuting. Kini terlihat para kru tengah mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan. Tak dipungkiri Jaejoong kalau sebenarnya ia masih sangat mengantuk. Ia merasa baru mendapat tidurnya namun kemudian dibangunkan oleh Yunho.

"Kau masih mengantuk?" Jaejoong yang sedang duduk di teras villa mengangkat wajahnya dan mendapati Yunho tengah berjalan ke arahnya. Disini mereka memang akan menggunakan sebuah villa milik rumah produksi untuk lokasi syuting sekaligus untuk tempat beristirahat para aktor/aktris dan kru film.

"Begitulah," jawab Jaejoong sambil sedikit mendengus.

Yunho hanya tersenyum melihatnya. Pria itu ikut mendudukkan dirinya di samping Jaejoong, "Maaf ya, sebenarnya aku pun tidak berniat membangunkanmu. Tapi aku tidak mungkin menggendongmu 'kan?"

"Oh yeah…" Jaejoong menggaruk bagian belakang kepalanya dengan sedikit canggung. Ia baru ingat kalau tadi ia tidur sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Yunho.

"Cuacanya bagus ya, beda dengan Seoul," gumam Yunho sambil menengadahkan kepalanya menatap pepohonan hijau dan tinggi.

"Benar juga," sahut Jaejoong. Untuk beberapa menit ke depan keduanya diam dalam suasana yang canggung. Beberapa kali Jaejoong ingin mengatakan sesuatu, namun entah kenapa ia merasa kaku dan memilih untuk tidak mengatakan apapun.

"Oppa!" teriak Ara yang tiba-tiba saja datang dan memeluk Yunho dari belakang. Yunho dan Jaejoong sama-sama terkejut melihatnya. "Omonaaa… Aku kangen sekali padamu oppa~"

"Kita 'kan baru bertemu kemarin Ara-ah."

"Ne, ne, tapi tetap saja kangen~" ujar Ara manja. Gadis itu berpindah dari posisinya semula, tanpa sungkan-sungkan ia menyelipkan badannya di antara Yunho dan Jaejoong. "Geser sedikit Jaejoong oppa." Bukannya bergeser Jaejoong malah mendecih pelan dan beranjak pergi dari sana. Entah kenapa Yunho sedikit tersenyum mendengar decihan dan melihat raut kesal Jaejoong itu. Berani bertaruh, Yunho yakin kalau Jaejoong merasa cemburu.

.

.

.

"Cut!" teriak Changmin menyudahi adegan yang baru saja dimainkan oleh artisnya. Beberapa kru segera bertindak cepat dengan memberi air minum atau merapikan riasan para aktor/aktris.

Terlihat Jaejoong duduk di batang pohon sambil meminum minumannya. Mata besarnya tertuju pada Yunho dengan seorang perias yang merapikan rambutnya. Jaejoong menghela napasnya. Ia merasa kalau ia tidak lagi memahami dirinya sekarang.

Sejak Yunho menginap di apartemennya kemarin lusa, Jaejoong merasa bahwa ia tidak bisa melepas pandangannya dari pria berpostur tinggi tegap itu. Apa yang menarik dari seorang Jung Yunho, huh?

Apa karena Yunho itu tampan? Jaejoong berpikir kalau ia juga tampan, bahkan sedikit lebih tampan dari Yunho. Apa karena postur tubuhnya? Hei, postur tubuh Jaejoong juga bagus.

Sekali lagi Kim Jaejoong menghembuskan napasnya.

'Srek, srek"

Jaejoong sontak menolehkan kepalanya ketika mendengar suara mencurigakan dari semak-semak tidak jauh darinya. Bisa ia lihat semak-semak itu bergoyang pelan. Pria cantik itu membulatkan matanya ketika melihat seekor kelinci berwarna hitam keluar dari semak-semak itu.

Kelinci liar itu menatap Jaejoong sambil memiringkan kepalanya. Beberapa saat kemudian ia meloncat-loncat menjauh dari tempat tadi. Entah sadar atau tidak, Jaejoong membiarkan kedua kakinya berjalan mengikuti kelinci hitam itu. Dan Jaejoong tidak mengetahui kalau seseorang memperhatikan tindakannya itu.

Jaejoong berjalan sedikit cepat. Sesekali ia merundukkan kepalanya untuk menghindari ranting pohon. Kedua matanya masih tertuju pada kelinci yang melompat-lompat itu. Kelinci itu kemudian memasuki sebuah lubang, Jaejoong pun mendekat ke arah lubang itu.

Matanya membulat ketika melihat keluarga kecil si kelinci. Terlihat beberapa ekor kelinci kecil –termasuk kelinci hitam tadi- dan seekor kelinci coklat yang berukuran lebih besar. Jaejoong menduga kalau itu adalah induk kelinci. Sang induk kelinci menatap Jaejoong dengan intens. Mungkin ia merasa kalau Jaejoong adalah ancaman untuk anak-anaknya.

"Apa yang kau lakukan disini?"

"Eh?" seru Jaejoong terkejut. Pria itu mengangkat tubuhnya dan melihat Yunho berdiri di sampingnya, "Kau sedang apa disini?"

"Harusnya aku yang berkata begitu," ujar Yunho.

Jaejoong tertawa kecil, "Eh, aku mengikuti kelinci itu," ujarnya sambil menunjuk ke arah lubang kelinci tadi.

Yunho menunduk untuk melihat lubang yang ditunjuk Jaejoong, "Tidak apa-apa tuh," ujar Yunho. "Benarkah?" Jaejoong ikut menunduk. Dan seperti kata Yunho, tidak terlihat seekor kelinci pun di lubang itu. Mungkin para kelinci itu memasuki lubang mereka lebih dalam karena terkejut atas reaksi Jaejoong yang tiba-tiba tadi.

"Ah, sudahlah. Lebih baik kita kembali sekarang," gumam Yunho seraya membalikkan badannya. Ia berniat untuk kembali ke lokasi syuting. Namun kini Yunho membatu melihat pohon-pohon besar dan semak-semak hijau di hadapannya. Semua pohon seolah terlihat sama, "Err… kau ingat jalan pulang 'kan Jaejoong-ah?"

"Ung?" Jaejoong ikut membalikkan badannya. Sepertinya ia sangat konsentrasi mengikuti kelinci tadi sampai-sampai tidak memperhatikan jalannya. Singkatnya, mereka tersesat.

"Err… kurasa lewat sini," ujar Jaejoong menunjuk sebuah arah.

"Kurasa? Bilang saja kau tidak tahu jalan pulang," sahut Yunho.

"Memang kau tahu?"

"Emm, tidak juga sih…"

Jaejoong menghela napasnya. "Sepertinya kita tersesat."

"Bukan sepertinya," timpal Yunho, "Tapi memang tersesat." Yunho kemudian mengambil ponselnya, ia berniat untuk menghubungi Yoochun atau kru untuk meminta bantuan. Dan ia sedikit mendecih kesal ketika melihat icon signal yang hanya satu titik. "Kau dapat sinyal?" tanyanya pada Jaejoong.

"Apanya yang sinyal? Ponselku kutitipkan pada Junsu."

Yunho menghela napasnya, "Jadi sekarang bagaimana?" Jaejoong menatap Yunho, kemudian mengangkat bahunya.

"Kalau tidak cepat-cepat nanti yang lain malah khawatir. Mungkin lewat sini," ujar Yunho. Dan tanpa sungkan-sungkan ia menggenggam tangan Jaejoong. Jaejoong sendiri hanya menahan napas ketika tangan Yunho yang besar dan hangat menggenggam tangannya.

Berdua mereka menyusuri jalanan bersemak dan berumput itu. Sesekali Yunho dan Jaejoong mengedarkan pandangan ke sekeliling mereka untuk mengenali apakah mereka pernah melewati ini sebelumnya.

"Ah." Jaejoong menengadahkan kepalanya ketika merasa sesuatu jatuh ke poninya. Bagus, mereka belum mendapat jalan pulang dan kini tetes-tetes air berjatuhan dari langit. Mungkin ini hukuman Tuhan karena keduanya menghilang begitu saja tanpa sepengetahuan orang lain, atau mungkin ini permainan Tuhan untuk mendekatkan keduanya.

Yunho dan Jaejoong mempercepat lari mereka ketika hujan mulai lebat. Sesekali Jaejoong meringis sakit ketika ranting-ranting menggores kulit tangannya. Jaejoong hanya mengenakan kaus lengan pendek saat itu sedangkan Yunho mengenakan kaus lengan panjang.

"S-sebaiknya kita berteduh disana saja dulu," ujar Yunho menunjuk sebuah pondok kayu tidak jauh dari mereka. Jaejoong yang sudah kedinginan hanya mengiyakan ucapan Yunho.

Pondok kayu itu kosong dan sepertinya sudah lama tidak terpakai. Terlihat dari sarang laba-laba pada sudutnya dan tanaman yang merambati pondok itu. Pondok itu sendiri berukuran kecil. Hanya terdapat lantai dari kayu dan atap dari raun kelapa yang mengering. Tidak ada dinding, antara atap dan lantai disangga oleh kayu di empat sudut. Namun setidaknya bisa dijadikan tempat berteduh. Mungkin dibangun oleh orang yang mengunjungi tempat ini beberapa waktu yang lalu.

Jaejoong mendudukkan tubuhnya di lantai kayu pondok itu. Tangannya bersilang di dada untuk menghalau udara dingin. Ini daerah pegunungan yang sudah pasti suhunya dingin dan hujan memperburuk segalanya. Sementara Yunho duduk di samping Jaejoong.

"Sampai kapan kita akan disini?" tanya Jaejoong sambil menggosok-gosok kedua tangannya.

"Sampai hujan ini berhenti. Kita tidak mungkin mencari jalan pulang dengan cuaca seperti ini," gumam Yunho. Pria itu menengadahkan kepalanya, menatap langit yang menggelap karena mendung. Dan Yunho tahu pasti kalau hujan tidak akan berhenti dalam waktu dekat.

Yunho menolehkan kepalanya, dilihatnya Jaejoong yang menggigil kedinginan. Tidak heran, pria cantik itu mengenakan kaus yang cukup tipis. Yunho sendiri juga merasa kedinginan, walau tidak separah Jaejoong. Mereka harus saling menghangatkan supaya tidak kedinginan. Sebuah ide gila melintas di benak Yunho. Pria tampan itu menggelengkan kepalanya, menghalau ide gila tadi.

"Hatchim!" Jaejoong sudah benar-benar kedinginan. Bibirnya terasa bergetar demikian pula kedua tangannya. Yunho yang melihat itu mau tidak mau terpaksa menjalan ide gilanya itu. Berbekal nekat, ia berpindah ke belakang Jaejoong dan memeluk pria cantik itu dengan kedua lengannya yang panjang.

"Eh?"

"Jangan berpikir yang aneh-aneh. Aku hanya ingin saling menghangatkan," gumam Yunho. Sedingin apapun suhu saat ini, Yunho tetap merasa wajahnya terasa panas.

Jaejoong menganggukkan kepalanya. Sedikit banyak pelukan Yunho berhasil mengusir dingin namun kini membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Sekali lagi hujan memberikan moment berdua untuk mereka. Dengan ragu-ragu, Jaejoong menyandarkan punggungnya ke dada Yunho.

Yunho menumpukan dagunya pada bahu Jaejoong. Bau tubuh pria cantik itu membuatnya merasa lebih rileks. Yunho mengeratkan pelukannya ketika merasakan punggung Jaejoong bersandar padanya. Perlahan Yunho memejamkan matanya seraya menikmati bau tubuh Jaejoong.

Langit masih saja gelap karena mendung. Tetes air juga masih berjatuhan dari langit yang gelap itu. Jaejoong menghela napas. Hujan terlihat seolah tidak ada habisnya. Entah sampai kapan keduanya akan terjebak di tempat ini.

Mulanya Jaejoong hanya diam. Namun seiring waktu ia merasa sesuatu yang panas menerpa lehernya. Ia menolehkan wajahnya dan betapa terkejutnya ia melihat wajah Yunho yang bertumpu pada lehernya terlihat begitu pucat.

"Yun?" bisik Jaejoong sambil sedikit menggoyangkan bahunya. Namun tidak ada reaksi apapun dari pria itu. Jaejoong mengulurkan tangannya dan betapa terkejutnya ia ketika merasakan bahwa dahi Yunho begitu panas. "Yunho-ah!" serunya.

Masih tidak ada reaksi dari Yunho. Jaejoong baru tersadar kalau kondisi kesehatan Yunho memang sedang tidak baik. Dan cuaca dingin ini pasti makin memperburuk kesehatannya. Perlahan Jaejoong menggeser duduknya dan merebahkan Yunho ke lantai kayu. Ia sungguh khawatir ketika melihat Yunho sampai pingsan karena sakitnya.

Karena khawatir Jaejoong memasukkan tangannya ke dalam kantong celana Yunho untuk mengambil ponsel pria itu. Ia sedikit mendecih saat tidak mendapatkan sinyal sama sekali. Namun meski begitu Jaejoong tetap mencoba untuk menghubungi siapapun. Bagaimana juga Yunho butuh pertolongan sekarang juga.

Tetapi sia-sia saja. Sebanyak apapun Jaejoong mencoba tetap saja ia tidak bisa menghubungi siapapun. Kepanikan Jaejoong kian menjadi ketika melihat Yunho seperti kesulitan bernapas. "Yunho-ah! Kumohon bertahanlah!" Jaejoong menarik napasnya berulang-ulang. Matanya terasa panas. Betapa ia khawatir akan kondisi Yunho saat ini.

'Drrt… drrt…'

Jaejoong tersentak ketika ponsel Yunho bergetar. Tanpa melihat siapa penelepon itu, Jaejoong langsung mengangkat panggilan tersebut.

"Yunho?" seru suara dari seberang. Suaranya terdengar agak samar, mungkin karena sinyal yang kurang baik. Dari suara ini Jaejoong bisa mengenali kalau ini adalah Yoochun.

"Ini aku Jae-" Belum sempat berbicara telepon sudah terputus. Jaejoong menggeram kesal. Kembali ia mencoba untuk menghubungi nomor Yoochun. Dua kali mencoba dan akhirnya tersambung.

"Kami berada di pondok kayu! Cepatlah! Yunho sedang sakit!" seru Jaejoong cepat. Ia tidak mau kembali kehilangan sambungan komunikasi lagi. Jaejoong tidak begitu mendengar apa yang Yoochun ucapkan di seberang sana, namun Jaejoong yakin kalau manajer Yunho itu akan membantu. Beberapa detik setelahnya sambungan kembali terputus.

Jaejoong menghela napasnya. Matanya tertuju pada hujan yang sedikit mereda namun tidak menyurutkan hawa dinginnya. Pandangannya kini teralih pada Yunho yang berbaring di depannya. Wajah pria masih sangat pucat. Dadanya pun naik turun dengan cepat.

Perlahan Jaejoong mengulurkan tangannya dan mengusap dahi Yunho lembut. Ia menggigit bibirnya ketika dirasanya dahi Yunho yang terasa semakin panas saja. Namun demikian Jaejoong sedikit berlega hati saat melihat dada Yunho tidak naik turun secepat tadi. Napasnya mulai teratur meski panasnya belum turun.

"Jaejoong-sshi!"

Jaejoong mengangkat kepalanya. Betapa leganya ia ketika melihat beberapa pria mendekat ke arahnya. Pria-pria itu adalah para kru film. Terlihat juga Yoochun dan Junsu disana.

"Yunho!" seru Yoochun ketika melihat Yunho terbaring tidak sadarkan diri.

"Yunho demam, tubuhnya panas sekali," gumam Jaejoong khawatir. Yoochun menghela napasnya. Segera saja pria itu meminta bantuan para kru film untuk mengangkut tubuh Yunho.

"Hyung, gwaenchanayo?" tanya Junsu khawatir sembari menyodorkan sebuah jaket pada Jaejoong. Jaejoong tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya dan meraih jaket yang disodorkan Junsu. Mata besarnya masih menatap cemas pada Yunho yang diangkut oleh para kru film.

.

.

.

Begitu sampai di villa, para kru langsung merebahkan tubuh Yunho di salah satu kamar villa lalu mengganti pakaiannya. Setelah memastikan Yunho baik-baik saja barulah para kru meninggalkannya bersama Ara dan Yoochun. Dikarenakan kondisi Yunho yang seperti itu terpaksa kru film menunda pengambilan adegan. Mereka menunggu hingga kondisi Yunho sudah baik, namun jika sampai 24 jam Yunho tak juga sembuh terpaksa mereka akan kembali ke Seoul.

Jaejoong sedang duduk di sofa sambil menikmati cappucino hangatnya. Sesekali matanya melirik pada pintu kamar Yunho yang tertutup. Sebenarnya Jaejoong ingin sekali kesana, tapi kalau dipikir-pikir ia tidak punya kepentingan apapun untuk menjenguk Yunho. Ah, mungkin bukan tidak punya kepentingan, mungkin lebih tepatnya kalau Jaejoong akan merasa gugup jika melihat Yunho.

"Hyung…" Jaejoong mengangkat kepalanya, dilihatnya Junsu berjalan mendekatinya.

"Ne, ada apa Junsu-ah?"

Junsu mendudukkan dirinya di samping Jaejoong. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu namun merasa ragu. "Err… Ada yang ingin kutanyakan."

Jaejoong meminum cappucino-nya sejenak, "Ne, tanyakan saja…"

"Tapi, emm… Hyung janji tidak boleh marah ya?"

Jaejoong mengerutkan alisnya. Tidak biasanya Junsu yang ceplas-ceplos mengatakan hal itu, "Aku tidak akan marah. Tanyakan saja."

"Itu… emm, apa hyung menyukai Yunho hyung?"

"Hemph!" Nyaris saja Jaejoong tersedak cappucino-nya sendiri, "A-apa maksudmu berkata seperti itu hah?"

"Y-ya, hyung bilang tidak akan marah~"

Jaejoong terdiam sebentar lalu menghela napas panjang, "Kenapa kau berpikir seperti itu?"

"Soalnya aku lihat perlakuan hyung pada Yunho hyung begitu berbeda. Cara hyung menatapnya, berbicara dengannya…"

Jaejoong menatap Junsu intens, sedetik kemudian ia menghela napasnya, "Benarkah sampai seperti itu?"

Junsu menganggukkan kepalanya, "Jadi kau benar-benar menyukai Yunho hyung?"

"Bagaimana ya…" Jaejoong kembali menghela napas sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, "Aku juga tidak mengerti."

"Maksudnya?"

"Pokoknya ada sesuatu yang berbeda jika aku berdekatan dengan Yunho," ujar Jaejoong, "Tapi aku tidak tahu apa yang berbeda itu. Aish~ bagaimana mengatakannya…"

"Ne, aku sudah mengerti." Junsu tersenyum lebar. Begitu lebar hingga membuat Jaejoong merasa heran, "Kau menyukainya hyung. Kau menyukai Yunho hyung."

"Mwo? Tidak mungkin!" kilah Jaejoong.

"Kenapa tidak mungkin? Bukankah hyung merasakan sesuatu yang aneh jika bersama Yunho?"

"Tapi… tapi 'kan… Aku dan Yunho itu sama-sama laki-laki~" Jaejoong sengaja memelankan nada suara pada akhir kalimatnya. Entah kenapa ia merasa malu sekali mengatakannya.

"Terus kenapa kalau sama-sama laki-laki? Menurutku itu tidak masalah selama tidak merugikan orang lain."

Jaejoong menatap Junsu sebentar lalu kembali menghela napas. Berbicara soal Yunho membuatnya sering menghela napas. "Entahlah…" gumam Jaejoong akhirnya.

"Ya, ya, pokoknya hyung memang suka Yunho hyung. Lalu, lalu, apa hyung akan mengatakan perasaan hyung padanya?"

"Ha? Kau bicara apa Junsu-ah? Aku saja belum yakin dengan perasaanku, bagaimana aku bisa mengatakannya pada Yunho? Lagipula…" Nada suara Jaejoong menurun. Mendadak wajahnya yang cantik terlihat muram. Seolah menanggung beban berat.

"Lagipula apa?"

Jaejoong menarik napas dan menghembuskannya perlahan, "Yunho itu bukan gay 'kan?"

Junsu tidak menyahut. Ia hanya menatap Jaejoong dengan pandangan sendu.

.

.

.

"Ummmmhh~" Suara lenguhan pelan itu sontak mengalihkan perhatian dua orang yang sedari tadi hanya berdiam di ruangan yang tidak terlalu besar itu.

"Yunho oppa? Kau sudah sadar?" seru Ara ketika melihat Yunho perlahan membuka matanya.

Yunho hanya mengangguk dengan mata yang terpicing. Silau karena cahaya lampu yang menerpa penglihatannya. Beberapa kali ia mengerjapkan matanya. Begitu merasa lebih baik, barulah Yunho sadar kalau ia berada di tempat yang tidak ia kenali, "Ini…"

"Ini di kamar villa, oppa. Kau tiba-tiba saja pingsan waktu bersama Jaejoong-sshi," jelas Ara, "Kau baik-baik saja 'kan?"

"Umm, yeaah…" gumam Yunho seraya mendudukkan badannya. Pria itu sedikit mengernyit sakit pada kepalanya, "Mana Jaejoong?" tanyanya sambil memandang Ara dan Yoochun bergantian.

"Jaejoong-sshi ada di luar," jawab Ara, "Apa perlu kupanggilkan?"

"Ya, to-"

"Tidak usah," ujar Yoochun tiba-tiba memotong ucapan Yunho. Yunho dan Ara menatapnya dengan pandangan bingung. "Ara-sshi, bisakah kau tinggalkan aku dan Yunho berdua saja?"

"Ung?" Ara memiringkan kepalanya bingung. Namun sedetik kemudian ia mengangguk dan meninggalkan ruangan itu.

"Ada apa?" tanya Yunho ketika Ara sudah pergi.

"Kau suka Jaejoong-sshi 'kan?" tanya Yoochun to the point. Yunho sedikit terkejut karena ucapan Yoochun yang tiba-tiba itu.

"M-mwo? Kau bilang apa?"

"Tidak usah bertele-tele Yunho. Iya atau tidak?"

Bukannya menjawab Yunho malah tertawa kecil. Ia menyandarkan punggungnya ke kepala kasur, "Ketahuan ya…" ujarnya sambil menahan tawa.

"Huft, sudah kuduga kau akan menyukainya."

"Kau sudah menduganya?" Yunho menatap Yoochun dengan pandangan bingung.

"Yup," Yoochun menganggukkan kepalanya, "Sejak dulu kau bilang kau menyukai semua drama Jaejoong dan Jaejoong sendiri. Aku yakin suatu saat kau pasti akan menyukai orang itu dalam arti sebenarnya."

"Entahlah," gumam Yunho pelan, "Perasaan yang hanya sekedar antara fans ke idola, tidak kukira akan jadi seperti ini."

"Cinta itu memang penuh misteri," gumam Yoochun sambil tertawa kecil, "Jadi kapan kau akan menyatakan perasaanmu padanya?"

"Apa? Menyatakan perasaan? Yang benar saja…"

"Memang kenapa?"

Yunho mengubah senyumnya menjadi senyum miris, "Aku berniat memendam perasaan ini saja," ujarnya pelan, "Jaejoong itu penyuka wanita, ingat?"

"Oh ya," Yoochun bergumam canggung, "Aku lupa tentang itu."

=tbc==

a/n :: Padahal niatnya mau bikin jadi twoshoots aja, tapi malah jadi begini~. Mungkin chap depan jadi chap terakhir.

Saia baru sadar kalau di ff MTMH saia terlalu cepat mengubah karakter Jaejoong, jadi di ff ini saia mati-matian mempertahankan karakter Jae yang cuek-cuek gitu. Hahahaha…

Ehem, soal dua ff saia yang sebelumnya (I'm Sorry Babies and Between You and Me) ternyata banyak banget yang minta sekuelnya. Ne, kemungkinan hanya satu di antara dua itu yang mau dibuat sekuel. Kira2 chingu mau yang mana dibuat sekuelnya?

Ne, seperti biasa saia mengharapkan review dari chingu sekalian~ Semoga nggak bosan mereview ff saia~ *lambai2 cd changmin :D*