Love is Like Drama – Chap 2

Original Story by : DL Akevi (AK)

Rate : M

Genre : Romance ft Hurt/Comfort

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Warning : Shounen AI / YAOI / Gay relations / Aneh / Super GaJE / Kriuk-kriuk(?) / Author abal-abal / Typo(s) / pair GAJE / OC / OOC dan kekurangan lainnya.

#Catatan : Dalam chapter ini kemungkinan ada jeruk(?)/lime/semi lemon, mungkin ga sebagus buatan senpai-senpai yang udah ahli ya.. saya kan masih baru hehe.

#R and A (Reader and Author):

Aika Enma : jangan sedih dong Aika, matinya dia ada manfaatnya kok *lho?*

Saya balasnya review untuk yang login langsung di PM masing2 ya. Makasih buat : Mara997, Aika Enma, Arai kazura, Lonely'Strawberry yang udah baik hati ngereview fict Gaje saya. * hug u all * | Nah, ini chap 2 udah keluar. Kilat kan? Hehe. | Selamat membaca ^^.

.

.

Seorang pemuda berkulit pucat, berambut raven yang memiliki mata pualam terlihat berdiri tanpa ekspresi di sebuah bangunan yang ia sendiri tak tahu bangunan apa. Naluri keingintahuannya membuat kedua kakinya melangkah menyusuri lorong-lorong di dalam bangunan yang minim cahaya itu. Ia menemukan beberapa pintu di dalamnya, dan ia dengan asal memasukinya begitu saja.

Telah lama ia berputar-putar di dalam bangunan itu, bangunan yang menurutnya seperti labirin dan ia sadar ia telah tersesat di dalam labirin itu. Ia memukul-mukul tembok itu sebagai pelampiasan kekesalannya. Sesaat kemudian, ia mendengar ada suara seperti langkah kaki yang mendekat. Sekilas ia melihat ada seseorang melintas melalui pintu lorong di sebelah kanannya. Kemudian ia berlari kearah itu berharap menemukan sosok itu.

Nihil. Di lorong itu tak ada siapapun kecuali dirinya sendiri. Namun ia kembali melihat sekelebat sosok yang lewat di pintu lain.

"Siapa kau?" teriak pemuda itu.

Ia pun berlari kearah pintu itu, namun ia tak mendapati apapun. Kembali ia melihat sesosok manusia melewati pintu di belakangnya, ia berlari sekuat tenaga untuk menyusul sosok itu. Kali ini ia sedikit beruntung, karena sosok itu berhenti tepat di ujung lorong yang sepertinya buntu. Pemuda itu berjalan mendekat. Ia berhenti beberapa meter dari sosok itu.

"Siapa kau?" tanyanya lagi.

"Hm" sosok itu kemudian berbalik. Sang pemuda memicingkan matanya untuk melihatnya lebih jelas, namun kondisi cahaya yang kurang sama sekali tidak membantunya.

"Apa kabar Sasuke?" Sasuke sedikit terkejut dengan pertanyaan sosok itu. Dan suara itu. Ia seperti mendengar suara itu.

.

"Sas, Sasuke.. Sas.."

"Ngh.." Sasuke menggeliat di dalam selimutnya ketika sebuah suara membuyarkan pikiran bawah sadarnya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk sedikit memperoleh kesadarannya. Dilihatnya seorang pria berambut pirang sudah berada di samping tempat tidurnya. Ia tidak terkejut, karena ia tahu siapa pria berambut pirang itu. Ia sengaja memberi Naruto kunci duplikat apartemennya agar Naruto lebih mudah melakukan pekerjaannya sebagai manager.

"Apa?" tanyanya dengan nada sedikit tinggi pada Naruto. Semua orang benci jika tidurnya diusik.

"Ma'af, aku harus membangunkanmu. Ini sudah jam 8 pagi. 30 menit lagi kau ada jadwal pemotretan" kata Naruto sabar.

"Hn" jawab Sasuke, kemudian ia beranjak ke kamar mandi.

.

Butir butir air mengalir membasahi tubuh Sasuke. Ia memejamkan matanya. Ia masih mencoba mengingat sosok yang tiba-tiba muncul dalam mimpinya itu. Suara pelan itu, suara yang tidak asing di telinganya.

.

Sasuke melangkah menuju dapur, ia melihat Naruto sedang sibuk dengan handphonenya di sudut ruang. Dilihatnya di meja sudah ada secangkir kopi panas dan setangkup sandwitch. Tanpa perlu bertanya siapa yang membuat dan untuk siapa dibuat, Sasuke mengambil roti isi itu dan memakannya sedikit demi sedikit sampai habis. Ia lalu menyeruput minumannya itu sedikit.

"Kau sudah selesai?" tanya Naruto seusai menutup telephonenya.

"Hn"

"Oh ya, Sasuke. Apa kau harus mengakhiri hubunganmu dengan Sakura?" tanya Naruto.

"Menurutku harus. Ia takkan bahagia denganku. Ya 'kan?" jawab Sasuke sarkastik.

" " Naruto hanya diam.

"Apa kau sudah membatalkan tawaran dari Jiraya-Sensei?" Sasuke gantian bertanya.

"Aku belum ketemu beliau. Rencananya akan kulakukan hari ini. Kenapa?" jawab Naruto.

" Aku terima tawarannya" kata Sasuke.

"Hah? Hmm, baiklah" Naruto terkejut pada awalnya, seorang Sasuke yang ia kenal tidak semudah itu berubah pendapat. Tapi akhirnya ia menurutinya. Tidak ada ruginya juga baginya.

"Baiklah, kita berangkat sekarang"

.

.

Setelah sesi pemotretan berakhir, Sasuke beristirahat sejenak di rest room yang diperuntukkan khusus baginya.

"Setelah ini apalagi?" tanya Sasuke pada managernya.

"Karena tadi pagi kau bilang mau menerima tawaran Jiraya-San, jadi hari ini kita harus menemuinya untuk persetujuan kontrak kerja. Pukul 15.00. Hanya itu saja jadwalmu hari ini" tutur Naruto.

"Hn" Sasuke merebahkan tubuhnya pada sofa di ruangan itu.

"Kau bisa istirahat dulu, akan kucarikan makanan, kau mau apa?" tanya Naruto. Sasuke akui, Naruto memang seorang manager yang sangat baik, walau terkadang sifat bodohnya keluar. Tapi dia pintar mengatur waktunya, juga dirinya sendiri.

"Seperti biasa" jawab Sasuka sambil matanya terpejam.

"Oke. Oh ya Sasuke. Aku lupa, sewaktu kau di dalam, Itachi-San menghubungiku. Dia bilang, agar kau menghubunginya segera" kata Naruto lagi.

"Ada apa?" tanya Sasuke

"Entahlah, dia tidak mengatakan apa-apa selain itu" jawab Naruto.

"Hn"

.

Sasuke dan Naruto sudah bersiap meninggalkan rest room mereka menuju studio milik Jiraya. Ketika keduanya sampai di lobi, muncul sekumpulan wartawan yang ingin memastikan berita batalnya pertunangan Sasuke dengan Sakura. Sasuke dan Naruto langsung berlari menghindari wartawan dan menuju mobilnya. Sasuke hanya berdiam diri di balik kaca gelap mobilnya tak menghiraukan teriakan dari wartawan-wartawan itu. Naruto dengan gesit membawa mobil mereka untuk segera keluar dari area gedung dan langsung melaju di jalanan.

"Wartawan bodoh" Sasuke menggerutu di dalam mobil.

.

"Apa kabar Jiraya-San?" sapa Naruto kepada Jiraya sambil menjabat tangannya. Sutradara film yang akan mengontrak Sasuke.

"Apa kabar Sensei?" Sasuke bergantian menyapa, berjabat tangan.

"Baik, baik silahkan duduk"

"Jadi kau bersedia menerima peran dariku, Sasuke" tanya Jiraya langsung pada inti masalahnya.

"Ya Sensei, saya akan mencoba bekerja secara profesional" jawab Sasuke tanpa keraguan.

"Hn, oke. Kebetulan, orang yang akan menjadi pathner mu nanti sekarang ada di sini. Itu dia. Aiba!" Jiraya menoleh pada seseorang yang ia panggil Aiba itu dan melambaikan tangannya, mengintruksi agar pemuda bernama Aiba itu menghampirinya.

"Ya Sensei" kata pemuda itu.

"Kenalkan ini Uchiha Sasuke dan dia Naruto managernya, dan Sasuke, Naruto, ini Shinjiro Aiba" tutur jiraya.

Ketiganya lalu berjabat tangan. Ketika Sasuke menjabat tangan Aiba, ia merasa aneh dengan tatapan dan senyuman yang Aiba berikan padanya, dan suara pemuda itu, seperti suara sosok dalam mimpinya. Sasuke baru menyadarinya, suara pemuda bernama Aiba itu, mirip dengan yang ada dalam mimpinya, dan mirip sekali dengan suara, Sai.

Sesaat kemudian, Aiba pamit terlebih dahulu. Ia bilang ada janji. Sasuke dan Naruto menyusul berpamitan beberapa menit kemudian.

.

"Siapa orang bernama Aiba itu" tanya Sasuke pada Naruto. Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju apartemen Sasuke.

"Setauku dia model majalah, dia masih baru di dunia entertaint, aku belum mengetahuinya lebih banyak, dan sepertinya film ini film pertama baginya" tutur Naruto.

.

.

Setelah Naruto pulang dari apartemennya, Sasuke langsung merebahkan tubuh di kasur king sizenya. Tidak berniat untuk tidur, lagipula saat itu masih pukul 17.00. Ia teringat pesan untuk menelefon kakaknya. Ia bangkit lagi meraih benda mungil di dalam tasnya, dan menekan beberapa tombol pada layar sentuh benda itu.

"Akhirnya telepon juga" kata seseorang di seberang sana.

"Ada apa kau menyuruhku menelefonmu Aniki?" tanya Sasuke.

"Adikku sendiri yang meminta untuk tidak diganggu di saat ia bekerja" ucap Itachi dengan penuh penakanan pada kata 'adikku'. Sasuke hanya mendengus kesal.

"Aku hanya ingin memastikan suatu hal,"

"Hubunganku dengan Sakura?" potong Sasuke.

"Ah, iya, kenapa kau membatalkan pertunangan? Bikin malu saja" katanya.

"Dari awal dia yang terus memaksa, dan aku bosan" jawab Sasuke singkat.

"Hah,," terdengar helaan nafas di sana.

"Kalau hanya itu saja yang ingin kau ketahui, akan ku tutup sekarang"

-tut-tut-tut-

Mungkin saat ini seorang Uchiha Itachi sedang menghela nafas frustasinya, karena ia tak pernah bisa berkomunikasi dengan baik dengan adik satu-satunya itu. Sedangkan Sasuke kembali terbaring memejamkan mata pada kasurnya, sampai sebuah suara pecahan kaca apartemennya membuka paksa kedua matanya dan membuatnya berdiri seketika. Dan dilihatnya sudah ada sebuah panah besi menancap pada dinding apartemennya yang berada di lantai 15 itu. Dan ia langsung menoleh pada pangkal arah luncur panah itu, tapi ia tak menemukan siapapun. Sasuke menghapiri panah itu, ia sedikit terkejut melihat ada selembar foto dirinya yang tertancap pada panah itu. Ia mencabut panah itu, dan perlahan melepas foto yang berlubang itu. Ternyata di balik foto itu ada sebuah pesan bertuliskan "Aku merindukanmu Sasuke". Sasuke berpikir bahwa itu hanya ulah orang iseng, atau salah satu dari fansnya.

Di sudut ruang lain yang juga berada di lingkungan apartemen Sasuke, seseorang dengan santainya menyeruput kopinya sambil menikmati senja sore yang begitu indah menurutnya. Matahari yang tenggelam di antara gedung pencakar langit.

"Sore yang indah, ya'kan Sasuke?" orang itu berbicara sendiri sambil menatap pancaran senja yang masih terlihat di kacanya.

.

.

Dua bulan setelah kejadian teror anak panah itu, Sasuke kerap mendapat bingkisan-bingkisan tanpa nama yang tertuju padanya, setiap bingkisan itu terdapat pesan bernada manja terhadap Sasuke, Sasuke tak mau ambil pusing soal ini. Ini hanya berpikir itu pasti dari salah satu fans fanatiknya saja. Apalagi ia kini disibukkan oleh proyek film terbarunya yang sudah berjalan 35 hari.

Pengerjaan film ini banyak mengambil setting di kota Amegakure. Setiap scenenya Sasuke selalu berusaha profesional, walaupun sebenarnya ia sedikit tidak suka dengan perannya kali ini. Biasanya ia selalu dicitrakan sebagai seorang yang maskulin nan cerdas dan misterius. Namun kali ini, dia harus berperan menjadi tokoh UKE bernama Takatsuki Fumi yang bersifat tulus, cerdas, namun tidak mudah percaya pada orang lain.

Takatsuki Fumi adalah seorang pelajar teladan yang hidupnya kurang beruntung karena ia tidak di anugerahkan kemuliaan, dan kesejahteraan, tapi beruntung Tuhan menganugerahkan ketampanan dan kecerdasan baginya. Suatu hari ia dihadapkan pada suatu peristiwa yang akhirnya mempertemukannya dengan tokoh SEME. Ia adalah saksi kunci atas pembunuhan direktur suatu perusahaan besar. Ia sudah ingin mengatakan kebenarannya pada polisi jika seandainya ia tidak diancam oleh pelaku bahwa ibunya akan dibunuh. Akhirnya ia tutup mulut.

Karena merupakan saksi kunci, polisi melakukan menjagaan yang ketat terhadapnya. Namun seseorang dari pelaku berhasil menculiknya dan membawanya ketempat persembunyian pelaku. Fumi salah menduga, ia menduga jika ia akan dibunuh oleh pelaku, namun ternyata tidak, sang pelaku justru menunjukkan alasannya membunuh, apa kesalahan sang direktur sehingga pelaku tega membunuhnya.

Setelah mengetahui semuanya, ia menyimpulkan satu hal. Motif pelaku itu dendam pada direktur yang pelaku yakini telah membantai keluarganya di masa lalu. Ia merasa senasib dengan pelaku, karena ia juga memiliki dendam terhadap seseorang entah siapa yang telah membunuh ayahnya. Ia berhari-hari tinggal bersama pelaku. Entah sejak kapan mereka menjadi berteman, walaupun ia tahu status orang yang dianggapnya teman itu adalah buronan.

Tanpa ia duga sebelumnya ternyata pelaku yang bernama Yukio Ren yang diperankan oleh Shinjiro Aiba itu menaruh perasaan padanya. Suatu malam, Ren sengaja memberi Fumi sebuah minuman yang akhirnya membuat Fumi kehilangan kesadaran dan mau saja melakukan sex dengan ren. Adegan itu pula yang membuat Sasuke sangat marah.

=========== Rate semi M scene ===========

"Ngh.. Ren!" Sasuke mendesah dalam aktingnya ketika lidah Aiba menjamah kulit lehernya yang sensitif. Semuanya berjalan lancar sesuai naskah, jika tangan Aiba tidak melakukan pekerjaan lebih.

"Matte, Ahh.." kali ini Sasuke mengeluarkan desahan sebenarnya karena tangan Aiba tiba-tiba mempermainkan kejantanannya. Beruntung scene itu dilakukan dalam keadaan minim cahaya, dan tubuh mereka berdua setengahnya tertutup selimut, jarak kameramennya juga agak jauh, jadi tidak ada yang tahu bahwa agedan itu setengahnya bukan rekayasa.

Sasuke berusaha mati-matian untuk menahan hasratnya keluar. Aiba hanya tersenyum melihat partnernya itu dalam keadaan tersiksa dan justru menambah tempo permainan tangannya.

"Ahh!.." Sasuke akhirnya tidak dapat menahannya dan mengeluarkan hasratnya pada tangan Aiba seiring suara teriakan dari sang sutradara.

"Cut!" Aiba segera beranjak dari tubuh Sasuke, meninggalkannya dengan tertutup selimut. Mereka sebenarnya tidak benar-benar telanjang, masing-masing masih mengenakan boxer pendek.

Sasuke berusaha secepat mungkin menetralisir nafasnya yang tak beraturan pasca ejakulasi. Ia tak mau sampai ada kru yang mengetahuinya. Memalukan. Batinnya menggerutu.

.

.

-plak-

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Aiba ketika ia menoleh, ia mendapati Sasuke telah terlihat seperti meriam yang sudah akan meledak. Aiba hanya tenang dan tersenyum memegangi pipinya yang terasa sedikit perih. Di ruang ganti itu hanya ada mereka berdua, jadi tidak akan ada media yang meliput kejadian ini dan tidak ada yang mendengar karena ruangan ini juga kedap suara.

"Kau pikir apa yang barusan kau lakukan hah!" Sasuke membentak Aiba dengan lantang.

"Memberimu service, sudah jelas 'kan? Lagi pula kau menyukainya 'kan?" Aiba balik bertanya.

"Menjijikan!" kata Sasuke geram.

"Menurutmu lebih menjijikan mana dengan orang yang ejakulasi di depan umum?" sindir Aiba.

-plak-

Sebuah tamparan kembali ia dapatkan dari tangan Sasuke. Tanpa Sasuke duga sebelumnya, Aiba mencengkeram kerah bajunya dan membenturkan tubuhnya ke dinding dengan keras. Sasuke terhimpit antara dinding dan badan Aiba. Betapa terkejutnya ia saat tiba-tiba Aiba mencium bibirnya dengan kasar. Memaksakan lidahnya masuk menjelajahi rongga mulut Sasuke.

"Mphh.. Ai ! Mph" Sasuke terus meronta-ronta di dalam ciuman panas itu. Ia berusaha keras untuk melepaskan diri dari Aiba.

"Ehmp.. Hah!" Sasuke berhasil terlepas dari cengkraman Aiba. Keduanya saling memandang dengan nafas yang tak beraturan. Namun tatapan keduanya berbeda, Sasuke memandang Aiba dengan penuh amarah dan kebencian, sedangkan Aiba menatapnya dengan tatapan puas.

-cklek-

Sesaat kemudian pintu ruangan itu dibuka oleh seseorang.

"Ternyata kalian di sini, ayo buruan, kita kejar scene selanjutnya" kata salah satu kru film. Sasuke tidak berkata apa-apa dan langsung beranjak keluar dari ruangan itu, di susul dengan Aiba.

.

Sasuke benar-benar ingin sekali membatalkan kontrak kerja pada film itu sekarang juga, tapi jika ia batalkan, ia harus harus membayar denda yang tidak sedikit, lagi pula keseluruhan scene pada film ini tinggal 20an % lagi. Dia merutuki dirinya sendiri.

Untuk saat ini dia harus profesional. Pemikiran itu yang ia tanamkan di otaknya. Ia meraih setumpukan naskah dialognya. Ia tambah merutuki dirinya lagi ketika ia tahu bahwa sekarang ia harus melakukan adegan yang sebenarnya baru saja terjadi di ruang ganti tadi, hanya saja dengan alur berbeda. Sial. Batinnya.

Sedangkan seseorang yang duduk di seberang kursinya hanya menatap naskah dialog itu dengan tersenyum senang.

.

"Apa yang kau lakukan padaku semalam hah? Aku kira kau orang baik" Sasuke sebagai Fumi mengucapkan kalimat itu dengan nada penuh frustasi.

"Aku memang bukan orang baik Fumi, orang baik tidak akan membunuh" kata Aiba sebagai Ren, ia kemudian mendekati tubuh Fumi yang bergetar.

"Mau apa kau?" bentak Fumi kepada Ren. Sementara Ren terus mendekat hingga akhirnya Fumi terhimpit di antara tubuhnya dan dinding yang dingin.

"Aku suka caramu membangkitkan nafsuku Fumi, aku suka desahanmu yang menggoda itu, aku suka semuannya darimu" ucap Ren sambil menyentuh wajah Fumi dengan lembut.

"Menjijikan!" Fumi mencoba berontak, namun Ren kembali menghempaskan tubuhkan pada dinding.

"Kau lupa, semalam kau yang memulai duluan lho" kata Ren dengan nada menggoda dengan jari telunjuknya yang menyentuh bibir Fumi.

"Brengsek!" Fumi hendak menghantam Ren dengan tangannya yang bebas, namun Ren dengan sigap menangkap dan mengunci pergelangan tangan Fumi pada dinding dengan tangannya. Ren langsung memangsa korban yang telah didapatkannya itu. Ia mencium Fumi dengan paksa dan kasar dalam beberapa menit. Merasakan Fumi terus memberontak, Ren menghentikan aktifitasnya.

Ditatapnya mata Fumi dalam-dalam, ia seolah menyesal membuat orang yang begitu ia cintai justru membencinya. Pemberontakan Fumi melemah. Ia merasakan tangan Ren kembali beredar di wajahnya, menyentuhnya dengan lembut dan penuh perasaan.

"Aku mencintaimu,,, Fumi" ucap Ren dengan sedikit jeda. Dalam waktu kurang dari lima detik, tangan Ren beranjak membawa tubuh Fumi pada pelukannya. Bibir Ren tertuju pada telinga Fumi, berniat membisikan sesuatu.

"Sasuke" bisik Aiba tepat di telinga Sasuke, bisikan yang sangat pelan untuk di dengar para kru tapi masih cukup jelas terdengar di telinga Sasuke. Seketika Sasuke membulat matanya tak percaya.

"Cut! Wow,, amazing! Akting yang luar biasa.!" kata Jiraya sambil bertepuk tangan. Mendengar intrupsi itu, keduanya langsung memisahkan diri, terutama Sasuke.

.

Seminggu kemudian, pengambilan scene untuk film berjudul "Thrust in Love" itu akhirnya selesai juga. Sikap Aiba masih seperti biasa, namun ia tidak lagi melakukan hal-hal aneh dalam scenenya bersama Sasuke. Dan Sasuke sedikit lega karena ia tak perlu bertemu orang yang menjengkelkan bermuka dua seperti Aiba lagi, untuk kasusnya dengan Sakura sudah sedikit mereda karena Sakura telah melakukan konferensi pers untuk menjelas kebenarannya, jadi ia tidak perlu bicara panjang lebar dengan wartawan.

.

.

Seharian Sasuke menghabiskan waktunya di dalam apartemen tanpa ada satupun orang yang mengganggunya. Naruto juga tidak datang ke apartemennya, sepertinya Naruto sudah mendapat chemystri dengan Sakura dan sekarang jadi sering menemani gadis itu kemana-mana. Naruto hanya bertemu Sasuke jika ia mempunyai jadwal saja.

Sasuke berbaring pada sofa di ruang bacanya, tidak sengaja ia menyenggol sebuah bingkai foto yang berada di meja sebelah sofa dan membuatnya ambruk. Sasuke meraih bingkai foto itu. Ia memandanginya cukup lama. Ia tahu betul, siapa sosok yang ada di dalam bingkai itu.

"Ma'afkan aku Sai"

-tok tok tok-

Sebuah interupsi suara ketukan pintu membuyarkan pikiran Sasuke. Ia meletakkan bingkai itu pada tempatnya semula, dan beranjak menuju pintu.

-cklek-

Sasuke terkejut mengetahui siapa tamunya di sore ini.

"Apa kabar, Sasuke"

.

.

Curcol GAJE: huh, akhirnya chapter kedua selesai, beruntung banget saya bikin ini selama libur kuliah. Pada penasaran ya kenapa Sai kubunuh duluan? Penasaran juga ngapain saya bawa-bawa OC segala?|*Reader: gak tuh*| Huh, ya udah kalo gitu ga kulanjutin *pura2 ngambek*| tapi berhubung saya baik hati *bo'onk banget* saya akan tetep lanjutkan, tapi saya juga belum tau lanjutannya gimana *nah lho?* | Soalnya saya juga ngetik kalo pas dapat hidayah(?) aja *ngeles*|Ya udah deh sampai jumpa di chap depan. Tetap do'akan saya ga lupa alurnya XD | Review Please... (AK)