COME MY WAY
DISCLAMER : MASASHI KISHIMOTO
STORY BY JURIG CAI
PAIR: SASUHINA
RATED : M
WARNING: AU, OOC, BANYAK TYPO, BAHASA ANCUR, PLOT BERANTAKAN, DLL.
JUST ADULT ONLY,
KIDS DON'T READ.
DON'T LIKE DON'T READ
.
.
Hinata masih terjaga saat waktu menunjukan hampir tengah malam.
Pikirannya berkecamuk.
Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, ia sendirian. Karena suaminya, Naruto, lebih memilih lembur daripada menghabiskan waktu bersamanya.
Awalnya ia akan merasa kesepian. Sangat kesepian. Tapi setelah sebulan terlewati, ia mulai terbiasa.
Dengan segelas ocha hangat dan beberapa bungkus cemilan, ia akan menunggu suaminya pulang sambil menonton dorama tengah malam. Dan tak jarang, ia terus menunggu hingga terlelap disofa ruang tamu.
Kegiatan itu sudah rutin ia lakukan hingga menjadi sebuah kebiasaan.
Tapi sungguh, ia tidak keberatan dengan itu semua. Baginya, hal itu merupakan salah satu bentuk pengabdiannya pada suami.
.
.
Namun, semua itu berubah saat ia bertemu Sasuke.
.
.
Semua berawal dari Tenten yang berinisiatif mengajak Hinata untuk ikut ke pesta pertunangan Ino dan Sai. Dan tanpa menghiraukan protes gadis mungil itu, Tenten berhasil memaksa Hinata memakai gaun terbaiknya untuk pergi ke pesta.
.
.
Saat itulah awal kesalahannya dimulai.
.
.
Hanya kesalahan kecil sebenarnya.
Ketika ia salah meminum cokctail non-alkohol dengan champanye milik Neji. Hinata yang tidak pernah mengecap minuman beralkohol seumur hidupnya langsung terhuyung menuju bar. Tenggorokannya terasa tidak enak dan kepalanya pusing.
Disaat itulah Sasuke menyapanya.
Awalnya hanya basa-basi biasa antar teman, atau begitulah anggapan Hinata, hingga ia tidak keberatan saat Sasuke mengajaknya keluar dari tempat itu.
Pesta Ino memang luar biasa meriah, tapi bagi Hinata, pestanya berisik. Di dalam kebisingan yang tak pernah bisa membuatnya nyaman, ajakan Sasuke terasa seperti oasis di padang pasir. Yang dengan senang hati ia terima.
.
.
Dan kesalahan kecilnya berubah rumit saat ia terbangun diranjang pria itu.
.
.
$(-"-)$
.
.
kini, sudah hampir sepuluh hari ia menjalin hubungan gelap dengan Sasuke, sahabat sekaligus orang yang dianggap saudara oleh suaminya. Hubungan gelap yang membuatnya tertekan dan kesulitan mengatur emosinya ketika lelaki itu terus membuntutinya kemanapun ia pergi.
Membuat ia selalu diliputi rasa cemas dan rasa bersalah.
Satu-satunya orang yang terpikir dan diharapkan bisa menolongnya hanya Naruto, suami sekaligus orang yang telah mengabaikannya selama ini.
Ia hanya berharap Naruto mau mendengarkan. Karena kemarahan lelaki itu masih bisa ia tanggung, tapi keacuhannya selalu membuat ia… sakit.
.
.
Dengan jantung berdebar kencang dan sedikit canggung, Hinata berdiri di depan ruang kerja suaminya. Ini kali pertama ia mengunjungi tempat kerja Naruto setelah pernikahan mereka. Karena itu pula, ia tidak heran saat merasakan tatapan curiga dan ingin tahu dari orang-orang yang berpapasan dengannya, mengiringi langkahnya saat melewati meja resepsionis.
Membuatnya semakin gugup.
Dengan sekotak bento dipelukan, ia menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu ruang kerja suaminya dengan penuh tekad.
Ia siap mengaku dosa.
.
.
"Na-Naruto-kun." Sapa Hinata gugup. Dilihatnya lelaki itu tengah duduk memeriksa selembar kertas dari tumpukan kertas yang berhamburan di mejanya.
"Ada apa Hinata?" Tanya Naruto datar tanpa mengalihkan perhatiannya dari kertas-kertas itu.
"A-ano...aku membawa bekal makan siang." Ucap Hinata ragu. Ia bisa merasakan Naruto menghela napas tidak suka sebelum merespon ucapan wanita yang berstatus sebagai istrinya sejak beberapa bulan lalu.
"Kau seharusnya tidak perlu repot-repot. Aku bisa makan di cafetaria."
"Go-gomen." gumam Hinata lagi, kali ini lebih pelan. Perasaan kecil hati kembali menghujamnya. Rasanya, dihadapan Naruto semua yang ia lakukan selalu terasa salah. Dan itu membuat Hinata kesulitan menjalankan niatnya.
"Taruh saja disana, nanti aku makan." Ucap naruto akhirnya, ketika hinata terus berdiri diam, sambil menunjuk ke sudut mejanya yang tampak lumayan kosong.
Saat Hinata bergerak ke arah yang diperintahkan, Naruto menaruh kertas yang sedari tadi ia teliti dengan berat hati sebelum mengalihkan pandangannya pada Hinata yang masih terlihat gugup.
"Hinata."
"Y-ya?"
"Malam ini…" Ucapnya ragu-ragu. "Bagaimana kalau kita makan diluar?" Lanjutnya dengan nada yang sedikit dipaksakan.
"Eh?"
"Kita kencan."
.
.
.
untuk beberapa saat, hinata hanya terpaku menatap suaminya.
Naruto mengajaknya kencan!
ini adalah hal terindah yang tak pernah dibayangkan Hinata sebelumnya.
Ajakan spontan yang langsung diterimanya dengan senang hati itu, mampu membuatnya melayang dan melupakan segalanya.
Ya, segalanya. Termasuk tujuannya mendatangi pria itu.
Dengan perasaan senang, ia keluar dari ruang kerja suaminya menuju lift dengan langkah bahagia dan wajah memerah. senyuman manisnya tak bisa lepas dari wajahnya. bahkan saat ia tengah menungu lift diujung koridor.
Namun tubuhnya langsung kaku saat pintu lift terbuka dan menampilkan sosok yang amat dikenalnya tengah berdiri tepat dihadapannya.
Sasuke.
mereka saling menatap sesaat, sebelum akhirnya Hinata tersadar, dan dengan terlambat berbalik mencari tempat persembunyian yang aman.
Sayangnya, lelaki itu lebih cepat.
Dengan mudah ia mencekal lengan Hinata dan menariknya masuk ke dalam lift yang saat itu sedang kosong.
"Sa-Sasuke-san." Gumam Hinata pelan, dengan sia-sia berusaha melepaskan diri dari cekalan lelaki itu.
"Hinata." bisiknya tepat ditelinga Hinata, membuat wanita itu menggeliat tak nyaman dan risih.
Mengabaikan tubuh gemetar wanita itu didepannya, tanpa ragu Sasuke menundukan kepalanya cukup rendah untuk bisa mengecup pipi Hinata sekilas. Menimbulkan rona merah yang sangat ia sukai. "Apa yang kau lakukan disini?"
"Bu-bukan urusanmu."
Saat Sasuke kembali mendekatkan wajahnya, tiba-tiba pintu lift kembali terbuka. Membuat Sasuke terpaksa mengendurkan cengkramannya pada lengan wanita itu, dan perlahan, tanpa menarik perhatian, ia menarik tubuh Hinata ke belakang tubuhnya.
"Sekarang kau mau kemana?" Bisiknya lagi.
"Pu-pulang."
"Kuantar."
"Tidak perlu." Sahut Hinata tanpa pikir panjang. Ia ngeri membayangkan apa yang terjadi jika kabar kedekatannya dengan Sasuke sampai ketelinga suaminya. Hinata lebih suka Naruto mendengar kebenarannya langsung dari mulutnya sendiri, bukan dari orang lain.
"A-aku bisa sendiri." Lanjutnya lagi.
Namun lelaki itu dengan mudah kembali mengabaikan ucapannya.
Saat lift kembali terbuka di bagian bawah gedung, dimana mobil-mobil terparkir dengan rapi, Sasuke segera menarik Hinata menuju mobilnya tanpa mengindahkan rontaan yang dilancarkan wanita itu.
"Sa-Sasuke-san, kumohon lepaskan."
"Masuk." Perintahnya dengan nada tak terbantahkan.
Merasa tak ada pilihan, Hinata hanya bisa menurut dengan tubuh kaku.
"Apa kau datang untuk menemui Naruto?" Tanya Sasuke datar ketika mereka telah menjauh dari gedung.
Pertanyaan itu tampak biasa, kalau saja Hinata tidak merasakan nada menghina dalam suara lelaki itu. Dengan ragu dan sedikit takut, ia menganggukan kepalanya. Membuat Sasuke mendengus tak suka.
Perjalanan yang sebenarnya hanya memakan waktu 30 menit, terasa sangat lama saat hanya keheningan yang menemani mereka. Hinata tahu Sasuke bukan tipe ramah yang senang mengumbar percakapan, atau tersenyum.
Ia sangat tahu hal itu.
Namun status mereka yang menjijikan membuatnya tak nyaman saat berada di dekat lelaki ini.
"Ki-kita melewati jalan kerumah." Ucap Hinata saat ia menyadari Sasuke membelokan kendaraannya kearah yang berlawanan.
"Tapi tidak melewati jalan menuju rumahku." Jawab Sasuke enteng, yang lagi-lagi membuat Hinata terperangah tak percaya.
.
.
$(-"-)$
.
.
"Sa-Sasuke-san, ku-kumohon hentikan." Rintih Hinata kalut, saat Sasuke dengan kurang ajar menggerayangi payudara telanjangnya. Jemarinya tenggelam dalam rambut kelam lelaki itu, berusaha menariknya menjauh.
Saat ini mereka tengah berada di apartement Sasuke, atau lebih tepat, berada di tempat tidur lelaki itu. Dengan Hinata yang tanpa busana terbaring tak berdaya dibawah tindihan lelaki yang selama ini ia hindari.
"Kenapa? Kau tidak merindukan sentuhanku?" Bisiknya lirih sambil meremas payudara wanita itu pelan. Membuat Hinata menggeliat karena terangsang. Ia lalu menggigit bibir bawahnya dengan kuat, berusaha meredam desahannya yang hampir keluar.
Salah satu jemari Sasuke menyusuri tubuh Hinata dan berhenti dipaha mulus perempuan itu, sebelum akhirnya bergerak naik membelai kewanitaannya.
Sentuhan lembut yang membuat Hinata melayang dan menyerah menahan desahannya.
Beberapa saat kemudian, tanpa peringatan sebelumnya, Sasuke menurunkan tubuhnya, menindih tubuh Hinata. Dan dengan gerakan yang seolah-olah sudah ratusan kali mereka lakukan, lelaki itu mengarahkan kejantanannya yang mengeras memasuki tubuh Hinata yang kini sudah pasrah dibawahnya.
Hinata terkesiap saat kenikmatan yang mulai di kenalnya menghantam kesadaraannya. Dan tanpa sadar, ia melingkarkan kedua kakinya memeluk pinggang Sasuke, mendorong lelaki itu memasukinya lebih dalam lagi. Jemarinya mencengkram punggung lelaki itu, memeluknya erat mencari pegangan.
Desahan lirihnya berubah menjadi jeritan dalam sesaat, ketika Sasuke memutuskan memasuki tubuhnya dengan kecepatan yang membuatnya terkesiap.
Membuat Hinata kehilangan kewarasannya dalam sekejap.
.
.
.
$(-"-)$
.
.
Restaurant yang dipilih Naruto untuk makan malam mereka, adalah restoran bernuansa Italia yang sangat… elegant. Membuat Hinata langsung merasa salah kostum.
Mengingat Naruto tidak memberitahu tentang restaurant ini sebelumnya, dan kekalutan yang ia alami saat tergesa-gesa pulang kerumah. Berpakaian sekaligus membasuh tubuhnya untuk menghilangkan sisa-sisa percintaannya dengan Sasuke beberapa saat lalu, ia merasa sangat wajar jika penampilannya tidak maksimal.
Dan sangat tidak memuaskan.
Membuatnya kembali merasa rendah diri.
Dan kalau boleh jujur, ia sama sekali buta dengan masakan Italia.
Jadi saat Naruto memilihkan valpolicella sebagai minuman mereka tanpa bertanya dulu pada Hinata, ia tidak keberatan.
Baru beberapa saat kemudian Hinata menyadari jika nama minuman aneh itu merupakan jenis minuman anggur dengan kualitas terbaik. Sayangnya, walaupun minuman tersebut termasuk berkualitas, lidah Hinata tidak bisa menerima minuman itu dengan sukarela.
Setelah pengalaman dengan minuman neraka itu, Hinata hanya bisa menatap makanan mereka dengan sangsi sebelum akhirnya menyuap makanan itu dengan ragu.
Untungnya makanan, yang entah apa namanya, cukup kerasan di lidahnya. Dan makanan penutup mereka cukup menggiurkan. Membuatnya menghela napas lega.
Mereka makan malam dengan tenang sebelum akhirnya Naruto memutuskan membuka suara.
"Hinata…" Ucap Naruto dengan ragu, yang berhasil menarik perhatian wanita yang kini berstatus sebagai istrinya. "Saat memutuskan menikahimu, aku tidak pernah berniat sedikitpun untuk menyakitimu." Lanjutnya pelan. Raut wajah Naruto yang tampak merasa bersalah membuat Hinata tersentuh.
"Walaupun akhir-akhir ini tindakanku malah menunjukan sebaliknya, tapi.." Ucapan Naruto kembali terhenti saat ia tampak memikirkan kalimat yang tepat. Membuat Hinata merasa sedikit was-was.
"Bisakah…bisakah kita memulainya dari awal lagi?" Ucap Naruto akhirnya.
Dan Hinata...merasa…seakan ia sedang bermimpi.
Ia bahkan tak mempercayai pendengarannya.
Maksudnya…. kenapa sekarang?
Kenapa semuanya terasa sangat tiba-tiba.
Dan ia merasa Kami-sama kembali melempar lelucon tak lucu padanya, saat pandangannya menangkap sosok yang membuat hidupnya bagai di neraka.
Naruto yang menyadari tatapan horror Hinata yang tiba-tiba, mengikuti arah pandangan wanita itu dengan penasaran. Dan apa yang dilihatnya, tak lain adalah sahabatnya sendiri, yang tak pernah disangka, juga makan malam di tempat ini.
Tanpa merasa curiga, Naruto menyapa lelaki itu dan mengajaknya ikut serta makan malam dimeja mereka.
Tak menyadari sedikitpun perbuatannya itu justru membuat Hinata menjerit ngeri dalam hati.
a/n:
haiyaa… lea kurang puas dengan chap ini.
maaf juga jika reader-san menemukan banyak typo,
akhir-akhir ini lea agak sedikit kurang focus.
dan lea juga minta maaf jika terkesan mengabaikan penggarapan fic ini.
gomenasai ne.
[status author: menuju Krakatau]
.
.
special thanks to:
Moku-Chan (I love your review, bener-bener menyemangatiku. thx y)
DanitaSyahr (chap 1 emang agak sedikit… berantakan. gomen ne.)
Nivellia Neil (makasih reviewnya… semoga chap kali ini juga suka.)
livylaval ( lea usahain gak ada slight, btw terimakasih sudah jujur. salahkan otak lea yang lumayan…ngeres klo agak sedikit kurang nyaman saat membaca fic ini, hehe. but still, I hope you like this chap."
zian( thx for your review, aku seneng ada yang suka karyaku, hehe)
anon (semoga chap kali ini memuaskan.)
permanent (lea gak tahu gimana ngrespon reviewmu. diawal jujur bgt sih… mujinya dibelakang. tapi gak tahu kenapa setelah baca reviewmu, semangat lea makin naik. thx bgt ya reviewnya. lea usahain terus berkarya di genre ini, hehe. otak mesumku emang gak ketulungan)
payung biru (senangnya ada yang ngefans sama fic gaje ini.)
Miji. (reviewmu menyemangatiku! love it. semoga chap kali ini tidak mengecewakanmu.)
Dewi Natalia (saat itu akan segera tiba, hehe)
Suipa (gomen lea baru bisa update sekarang. akhir-akhir ini susah update cepet. gomen ne)
Lavender; hinata…suka sasuke? akan lea usahakan, hehe. thx for your review.
ada yang terlewat?
atau salah penulisan nama?
gomen ne, lea update pakai hp, jadi gak bisa ngedit.
take holiday for a week in krakatau.
will see you next time.
