Note : dalam game, ending 2 ini akan didapat jika tokoh utama tidak berbicara dengan si kucing. tapi saya malas jika harus menuliskan 2 kali, jadi langsung pada bagian akhir saja ya.. hehee..
-[xXx]-
Ending 2
Setelah itu semuanya gelap. Yuichiro merasa jika dirinya berpijak pada permukaan namun seluruhnya nampak gelap. Ia mampu melihat pintu di ujung sana.
Remaja ini berlari, berusaha meraih dan di dapatinya selembar kertas tertempel di daun pintu tersebut. 'Ayo ke kamarku!' begitu tulisannya. Ini sama seperti pesan yang ia temui di awal permulaan.
Yuichiro segera memasuki pintu itu, dan melihat si kucing hitam sudah terdiam di depan pintu lainnya. Mungkinkah di balik pintu itu, ada sebuah kamar yang dimaksud?
Remaja ini melangkah perlahan, namun si kucing nampaknya sudah mengetahui kehadirannya.
"Ouw, akhirnya kau sampai juga.. Setelah sekian lamanya kau tak mempedulikan diriku, mungkin sekarang saat yang tepat untuk buka suara, hehe.. Jadi.. Bagaimana? Apa sudah siap?" tanya kucing itu. Yuichiro diam. "Well, well, aku anggap jika dirimu memang sudah memantapkan hati.. Kau tahu, mungkin setelah ini aku akan sangat merasa kesepian, yah itu karena akhirnya kau pergi. Bagaimana pun juga, kau kan makananku.. Ahahaa.." Tawa kucing itu garing. "Tapi tenang saja, suatu saat mungkin kita akan bertemu kembali. Itu jika kau mengharapkanku loh.."
Terdiam beberapa saat.
"Terima kasih.." Itu kata yang Yuichiro ucapkan.
"Ah? No no no! Kau tak pantas mengatakan itu padaku.. Bocah berbaik hati itulah yang telah menolongmu, ahahaa.." ucap kucing itu kemudian. "Ini saatnya aku pergi. Berlama-lama dengan wujud ini memang menyenangkan, tapi tugasku kan sudah berakhir. Ya kan?" Tak ada jawaban.
"Well, sayonara.."
Jiwa berwarna ungu gelap seketika melayang keluar dari dalam tubuh binatang itu. Kucing yang sudah tak memiliki nyawa tergeletak di lantai. Yuichiro menatap datar. Kaki melompati bangkai tersebut kemudian memasuki pintu terakhir untuknya.
Ruangan kamar. Berantakan. Kasur besar terletak di tengah-tengah, sepreinya tak beraturan bahkan ada beberapa bercak darah di sana. Yuichiro ingat sekali tentang ruangan ini. Dia datang tiba-tiba, bermain bersama, hingga perpisahan indah namun mengerikan yang terjadi di atas kasur. Manik hijaunya menatap hambar. Ia merasa tak bersalah sama sekali.
Di ujung ruangan terdapat meja dengan buku di atasnya. Buku kedelapan. Mungkin itu buku terakhir.
Yuichiro melangkah perlahan, mendekati, kemudian membacanya.
"Dia sungguh-sungguh yakin mendengarkan permohonanku.
Karena dia begitu baik.
Karena dia begitu percaya.
Ketika kami bertukaran tubuh.. Yuu-chan, kau pasti akan terkejut.
Tubuhku benar-benar berantakan. Rasa sakit menyerang seluruhnya.
Aku harus melakukannya, tapi aku rasa, kau bisa menanganinya.
Pasti sakit. Kau menangis dalam kesakitan.
Lalu aku memberikanmu obat.
Obat pembakar tenggorokan. Ini akan membuatmu tak bisa berbicara.
Setelah ini, aku tak ingin mendengarkan suara jeritanku sendiri.
Aku berbohong bahwa itu akan menyembuhkan penyakit, tentu saja kau meminumnya. Hehehe.
Lalu aku pergi dari kamar ini.
Tiba di taman, aku dapat merasakan udara yang sejuk. Ini begitu menakjubkan.
Oh ya..
Sebelum kau datang, aku mengeluarkan kedua bola mataku.
Aku juga memotong kedua kakiku.
Jadi Yuu-chan yang berada dalam tubuhku, akan merasakan keputus asaan hingga dia mati.
Ahh.. Yuu-chan..
'Teman' terbaikku..
Begitu baik, begitu menawan, begitu dicintain. Dan dengan semua itu, begitu bodoh.
'Teman' terbaikku.."
Selesai membaca buku itu, suasana dalam kamar berubah seutuhnya dalam keanehan. Udara berhembus sembarangan namun terasa susah untuk dihirup. Remaja itu terdiam dalam ketenangan yang menakutkan.
Manik hijaunya melirik samping, mendapati seseorang tengah merangkak keluar dari bawah kasur. Yuichiro membelalakkan matanya. Terkejut hingga tak sadar ia mundur beberapa langkah.
Sosok itu begitu mengerikan. Kedua matanya bolong, dia tak memiliki kaki, darah mengalir keluar dari mata bahkan kakinya yang buntung. Yuichiro menatap ngeri, atau lebih tepatnya, pura-pura ketakutan.
"Mhh... aaa..." ucap sosok itu dengan suara serak.
Yuichiro tak ambil pusing, dirinya segera angkat kaki hendak pergi dari kamar ini. Namun sosok itu bergerak lebih cepat menarik kaki remaja itu terlebih dahulu. Yuichiro terjatuh ke lantai, sosok itu segera merambat mencengkeram lengan remaja bersurai gelap itu.
"Kkm.. baa.. aann..!"
Remaja itu menatap horor, "Ti- tidak, Mika!"
"Gheee..."
Cengkraman dipererat, kuku-kuku terasa hampir tertanam dalam kulit Yuichiro. Darah mengalir ke mana-mana, membasahi seragam sekolahnya. Yuichiro tak mau berlama-lama, ia segera ambil langkah menendang tubuh tanpa kaki itu menjauh dari dirinya.
Sosok itu terdorong ke belakang. Remaja bersurai gelap itu segera bangkit berdiri dan keluar dari ruang kamar tersebut. Namun sosok itu mengejar. Yuichiro tak pernah menyangka jika makhluk tanpa kaki bisa bergerak dengan cepat.
Semua menjadi penghalang untuk Yuichiro melarikan diri. Beberapa pintu yang seharusnya terbuka, kini malah terkunci, membuat remaja ini dengan terpaksa harus mendobraknya. Lantai-lantai entah kenapa berlubang, kerangka tangan menjulur dari dalam sana, meraih kaki Yuichiro hingga membuatnya terjatuh. Pisau tajam melayang di sana-sini, perabotan rumah berterbangan.
Yuichiro mengingat akan sesuatu, lemari kecil yang ia temui di ruang kedua, pasti ada sesuatu di dalam sana yang bisa ia gunakan untuk mengakhiri semua ini.
Remaja itu mempercepat langkah, menuju ruangan di samping ruang boneka beruang, dan membuka pintu lemari secara paksa. Ia mendapati sebuah pisau di dalamnya.
Pisau? Apa benda ini dapat membantunya?
Ah, persetanlah dengan membantu atau tidak. Setidaknya ia bawa saja benda tajam itu.
Yuichiro baru saja akan keluar dari ruangan tersebut, namun sosok temannya itu sudah masuk terlebih dahulu. Menghalangi sang pintu yang merupakan jalan keluar.
Remaja ini kesusahan bernapas. Bagaimana sekarang?
"Kmm.. liii.. kknn..!"
Yuichiro memutar bola mata, apa yang makhluk ini bicarakan?
Sosok itu mendekat dengan cepat, Yuichiro segera menyingkir ke samping dan berlari menuju keluar. Walau pun cepat, tetap saja makhluk itu tetaplah bodoh.
Pintu keluar sudah terlihat, untung saja tidak terkunci.
Remaja ini keluar, ranting berduri yang semula menjadi penghalang disiramnya dengan obat yang ia bawa, membuat tanaman itu seketika layu terbakar. Yuichiro melanjutkan perjalanannya, berlari menuju tengah hutan. Langkah kaki mulai terseok-seok, kecepatannya melambat, ia kehabisan napas.
Kaki tak sengaja mengenai ranting tebal, membuat dirinya mau tak mau tersungkur di permukaan tanah. Yuichiro terduduk, mengatur nafasnya.
Srak! Srak!
Remaja ini menoleh dan mendapati makhluk itu sudah berada tepat di belakangnya. Yuichiro menghembuskan nafasnya pendek.
"Mkk.. aahh..."
Tangan putih pucat yang berlumuran darah itu terjulur, meraih wajah Yuichiro yang sedang terduduk. Remaja bersurai gelap itu terdiam beberapa saat. Ia memberanikan diri meraih tangan yang tengah membelai wajahnya itu.
"Hee.., sampai sejauh ini kau masih saja bisa mengejarku?" ucap Yuichiro sedikit terkekeh.
Tangan pucat itu ditepisnya dengan kasar.
"Kau tahu, berkali-kali dirimu mengejarku, aku tetap tak akan pernah mengembalikannya! Ini milikku sekarang!"
Yuichiro bangkit berdiri kemudian menendang wajah tak bermata itu dengan kasar. Sosok itu tersungkur, mulut masih saja mengeluarkan ungkapan-ungkapan tak jelas. Manik hijau Yuichiro menatap datar.
Remaja itu mendengus, ujung bibir seketika tertarik, membuat seulas senyum kemenangan. Yuichiro kemudian berjongkok di hadapan makhluk tak berkaki itu.
"Hei.. Seharusnya kau senang, temanmu ini akhirnya bisa merasakan kehidupan yang sebenarnya, selamanya tak akan merasakan penderitaan akibat penyakit. Sekarang ia akan benar-benar hidup dalam kedamaian.." ucap remaja bersurai gelap itu.
"Aa.. ssee.. ng.."
"Ah, ya. Tapi semua ini tak akan terjadi tanpa dirimu. Haruskah aku berterima kasih , Mi.. ka..? Ah, tidak. Lebih tepatnya, Yuu.. chan..?" lanjut Yuichiro tersenyum licik. "Aku tahu jika dalam tubuh lemah itu, seharusnya jiwaku yang berada di sana, bukannya jiwamu.." ungkap remaja itu sembari bangkit berdiri. "Tapi, kau telah memberikan tubuh ini padaku. Kau penyelamat hidupku, Yuu-chan.."
"Pmm.. bo.. hng..!"
"Ya ya ya, terserahlah kau mau mengatakan apa.. Tapi itulah kenyataannya.. Kau tahu? Kau yang salah karena muncul dalam kehidupanku, kau juga yang salah karena terlalu bodoh memberi pinjaman tubuh ini. Jadi, kau tak bisa menyalahkanku sepenuhnya.."
Hening menyerang, udara berhembus kencang, bahkan rintik-rintik hujan turun membasahi bumi. Remaja bersurai kuning itu menundukkan kepala. Air mata bercampur darah tumpah seketika.
"Gehh.."
"Ya, menangislah atas kebodohanmu itu, Yuu-chan!" Yuichiro, atau sekarang bisa disebut Mikaela, terduduk di hadapan tubuh yang dulunya adalah tubuhnya sendiri. "Atau kau ingin aku mengakhiri penderitaanmu segera?"
"Kk.. aa.. paa..?"
Manik hijau berputar malas seperti mengerti maksud dari pertanyaan temannya itu, "Entahlah.."
Tangan pucat itu mengepal kuat, mencengkram tanah. Ia tentunya merasakan adanya sebuah penghianatan.
"Kmm..ba.. all.. kan..!" Yuichiro dengan tubuh setengah badannya, bergerak menubruki Mikaela. Ia mencengkram lengan temannya kuat.
"Ah, kau berisik!" Mikaela menendang temannya itu, menjauhkan dari dirinya. Dilayangkannya pisau yang sedari tadi ia bawa, tepat mengenai mata tak berisi remaja di hadapannya.
"GAAAHH..!"
"Ahahaa, sakit, Yuu-chan? Itu lah penderitaanmu sekarang! Berteriaklah sekeras yang kau bisa!"
Remaja bersurai gelap itu memutar-mutar pisaunya, menekan dengan kuat agar pisau tersebut tertancap lebih dalam. Darah mengalir, menetes membasahi rumput hijau. Setelah dirasa puas, pisau kembali ditarik keluar.
"Hee.. nn.. ti.. kaa..!"
Mikaela terdiam menatap kasihan, "Aku sebenarnya tak ingin mengakhiri ini, tapi jika tidak begini kau pasti akan mengejarku terus.. Jadi.." ucapannya terputus. Remaja itu mengangkat pisau tersebut tinggi-tinggi, "Selamat tinggal, kawan.."
-[xXx]-
Hujan makin deras menguyur. Seorang gadis bersurai ungu berjalan dengan membawa payung. Kepalanya menengok ke sana kemari, seperti mencari sesuatu. Pandangannya terhenti, ke arah sosok remaja bersurai gelap yang seluruh tubuhnya sudah basah akan air hujan.
"Yuu-san..!" teriak gadis itu mempercepat langkahnya.
Yuichiro menoleh. Gadis bersurai ungu mengangkat payung di tangannya tinggi, memayungi remaja di sampingnya.
"Dari mana saja kamu!? Kau tak sadar jika papamu mencarimu!?" bentak si gadis kemudian.
Yuichiro terdiam, menundukkan kepala. Mengamati dirinya sendiri, akibat mandi hujan, bercak darah tak ada yang menempel lagi pada dirinya.
"Hei, aku bicara denganmu, bodoh!"
Yuichiro kembali menatap si gadis yang tentunya lebih pendek dari dirinya. Ia tak mengeluarkan sepatah kata pun, namun tiba-tiba, "Huachi..!" Remaja ini bersin.
"Tuh kan! Ayo pulang!" gadis itu memeluk lengan Yuichiro kemudian menariknya pergi.
Yuichiro tak merespon apa pun, membiarkan si gadis membawa dirinya. Kepala sekilas menoleh sebentar kebelakang, ke arah jalan menuju hutan. Perlahan senyum kemenangan terlukis di wajahnya.
Setidaknya semua ini sudah berakhir, kan?
-[xXx]-
Epilog
Aku terdiam menatap langit biru dari arah jendela kamarku yang tertutup seutuhnya. Lagi-lagi, aku berakhir di tempat seperti ini. Terduduk atau bahkan tertidur di atas ranjang.
Bisa dibilang, semua yang terjadi terhadap diriku adalah sebuah kutukan, atau mungkin rencana yang di atas sana.
Jika itu memang rencana, maka bolehkan aku mengatakan apa itu yang disebut Dia adalah makhluk yang jahat?
Tapi kali ini sedikit berbeda, ah, tidak sih, sama saja seperti dulu. Orang-orang disekitar masih sedikit memperhatikan diriku, bahkan pria dewasa itu tengah berusaha mencari cara untuk menyembuhkanku. Walau aku tahu, semua itu percuma. Namun, mereka yang dulunya peduli pasti suatu saat akan mencampakkanku seperti sebelum-sebelumnya.
Dan setelah itu, aku pasti akan hidup dalam kesendirian..
Kehidupan itu memang jahat. Aku membenci semuanya juga diriku ini. Tapi aku tak ingin kematian datang. Aku selalu memimpikan tentang arti sebenarnya hidup. Kata orang indah, jadi kita harus selalu mensyukurinya. Tapi kenyataan?
Aku menghembuskan nafasku pasrah. Hidupku hanya dipenuhi dengan penderitaan, kesedihan, bahkan kesengsaraan. Membosankan memang. Namun takdir memaksaku untuk mengulang-ngulang semuanya, berharap suatu saat bisa menemukan apa itu yang dinamakan kehidupan.
Lalu, aku melihat kucing hitam itu lagi. Ia melompat masuk dari jendela kamarku, seekor tikus tak bernyawa terkunci kokoh di mulutnya. Mangsa baru ya?
Kucing itu menatapku dalam diam dengan kedua bola matanya yang berwarna kuning cerah, kemudian dengan santainya melangkah ke sudut kamar yang gelap, mungkinkah ia sedang menyantap makanannya itu?
Ya, ini sudah biasa. Entah sejak kapan kucing itu keluar-masuk kamarku ini dengan sesuka hati. Aku pun juga tak protes, kubiarkan saja dirinya keluyuran dengan girangnya.
Lalu aku terdiam dalam ketenangan, sekilas menatap sayu daerah gelap di mana kucing hitam tadi berada. Kurasa, sebentar lagi aku akan mendapatkan 'teman' baru..
.
.
-[xXx]-
nah, kelihatan kan siapa yang kejam di ending 2 ini? atau jangan-jangan, pembaca sudah tahu dari awal jika Yuichiro sama Mikaela itu tukaran tubuh? wah, jika ada yang tahu saya berikan tepuk tangan yang meriah.. yuhuu.. plok! plok! plok!
oh ya, epilog itu tambah-tambahan dari saya. biar cerita gak ngantung gitu.. *apaan?
dan ini belum berakhir, masih ada Another Chapter yang mengisahkan pertemuan mereka berdua hingga tukaran badan, dan juga ending 3. jika dipikirkan baik-baik, mana mungkin kan Mikaela meninggalkan Yuichiro begitu saja? makanya saya bikin ending 3, hehee..
tapi besok-besok ya update nya, hihi, jika pembaca berharap ini lanjut sih.. jika tidak, ya tak apa..
mungkin ada adegan 'ehem-ehem'nya, mungkin juga tidak.. skill penulisan saya tak sampai tahap begituan soalnya, maafkan saya.. rated mungkin T saja, atau yang seperti ini M ya? ah, saya tak tahu..
Sudah itu saja, terima kasih kepada kalian yang menyempatkan diri membaca kisah ini. jika ada kesan pesan, kritik pedas manis, atau pertanyaan saya terima dengan senang hati. di flame juga boleh kok. saya tahu jika kisah ini jiplak..
so, See You in Next Chap..
Sayonara~
