Disclaimer : All Character belong to Masashi Kishimoto

Story by me

Tittle : When Love Comes Late

Genre : Hurt/Comfort, Romance, Drama

Rate : T

Pairing : NaruSaku, SasuKarin, slight SasuSaku.

Warning : AU, OOC, gaje, abal, ancur, minim deskriptif, typo(s), dll.

.

.

Summarry: Ketika cinta datang terlambat, apakah yang akan dia dapatkan? Penyesalan ataukah justru Cinta sejati? Sakura Haruno adalah seorang gadis cantik yang menganggap cinta itu menyakitkan, semenjak ia berpisah dengan cinta pertamanya—Uchiha Sasuke—padahal bagi Ino, sahabatnya...cinta itu menyembuhkan segalanya. Akankah seorang Naruto Namikaze sanggup membuatnya berpaling dari Sasuke?

.

.

Chapter 2 : Meet You Again

.

.

Apakah kau membenciku? Tentu saja kau membenciku. Aku sudah mempermainkan perasaanmu. Mencampakanmu begitu saja. It's okay, if you cry when you want to. It's not unreasonable when a tear dries. You love me right? But I'm sorry... I can't love you—Uchiha Sasuke—

oooOOcherryblossomOOooo

.

.

.

Konoha, 02.00 p.m.

"Sakura-san?" tanya Sasuke pada seorang gadis yang mengenakan blouse berwarna merah muda lengkap dengan bolero yang senada, kaca mata berlensa hitam dan rambut soft pink sebahu.

Sakura menoleh ke arah sumber suara, terlihat di depannya seorang cowok mengenakan kaos berwarna dark blue yang di padukan dengan jaket berkerah tinggi senada, lengkap dengan celana jeans, memakai topi, dan kaca mata hitam.

"Hey, kau yang menemukan ponselku ya? Silakan duduk! Mmm, mau pesan apa?"

"Tidak usah. Aku tidak ingin memesan apapun,"

"Nande? Ayolah, cake di sini enak sekali lho...mau coba? Aku yang traktir deh!" ucap Sakura dengan nada ceria.

"Aku tidak suka makanan yang manis-manis,"

"K-kau mengingatkanku pada seseorang. Baiklah, terserah kau..."

"Ah ya, ini ponselmu kan?"

"Benar, tolong simpan dulu saja...aku mau memesan!"

"Hn," kata Sasuke kembali memasukkan ponsel itu ke dalam saku celananya.

"Pelayan!"

"Ya, nona! Anda mau pesan apa?" tanya seorang waitress ramah,

"Aku pesan Ice cocoa float dan strawberry shortcake,"

"Bagaimana dengan anda tuan?"

"Aku Vanilla Latte saja,"

"Arigatou. Mohon tunggu sebentar!" ucap waitress tersebut yang kemudian pergi,

"Strawberry shortcake and Ice cocoa float?" tanya Sasuke,

"Hmm, doushite?"

"Tidak. Aku jadi ingat seseorang, makanan favoritnya itu persis seperti yang kau pesan tadi..." cerita Sasuke sambil tersenyum pada Sakura. Sakura nampak mengerutkan kening, ia merasa senyuman dan suara cowok di depannya ini sangat familiar.

"Oh, begitu. Eh iya, aku hampir saja lupa. Boleh aku tahu namamu?"

"Hn. Sasuke. Uchiha Sasuke," kata cowok itu sembari melepaskan kaca mata hitamnya,

Sakura terlihat sangat kaget. Saat itu juga rasa benci itu mulai muncul kembali,

"Uchiha...Sasuke!" ucap Sakura reflek, lalu beranjak pergi dari tempat duduknya setelah menyimpan sejumlah uang di meja.

"Hey! Tunggu!" panggil Sasuke,

Cowok itu mengejar Sakura, lantas menarik lengannya hingga gadis bersurai pink itu berhenti dan tak sengaja menjatuhkan kaca matanya.

'Nande? Kami-sama mengapa aku harus bertemu dengannya lagi?' batin Sakura, setetes air mata mulai meluncur dari pelupuk matanya. Sekarang giliran Sasuke yang kaget dan tergagap,

"Ha-haruno...Sa-sakura?"

"Ittai, lepaskan tangan kotormu itu dariku!" jerit Sakura galak,

Sedetik kemudian keduanya saling diam. Sakura yang sedari tadi sudah tidak sabar ingin cepat-cepat pergi sudah benar-benar gelisah, tapi Sasuke terus menatapnya dengan tatapan biasa sambil tersenyum. Sakura sendiri langsung membuang muka karena tak sanggup melihatnya. Ia sangat kesal. Tatapan dan senyuman itulah yang dulu sempat membuatnya mencintai cowok itu. Dulu Sakura pikir tatapan Sasuke itu seakan memberitahunya, bahwa cowok itu begitu mencintainya dengan tulus, tetapi ternyata itu salah. Buktinya Sasuke memutuskan hubungan mereka walau keduanya baru satu minggu menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Kini Sakura sadar, bahwa tatapan itu pastilah senjata yang sengaja cowok beriris onyx itu siapkan untuk merayu para gadis dan membuat gadis-gadis itu fall in love kepadanya.

'Cih, dasar licik! Kali ini aku tidak mau tertipu lagi!'

"Sakura..." ujar Sasuke lembut, tetapi gadis itu nampak tak peduli dan hanya diam.

"Sakura!" panggilnya lagi. Gadis itu masih tetap diam dan mulai menepis tangannya dengan kasar, lalu bergegas lari.

"Sakura, bisa kita bicara?" teriak Sasuke sambil terus mengejar Sakura. Gadis itu menoleh padanya dan mulai membentak...

"Okay, sekarang aku bahkan sudah ada di depanmu. Kalau kau mau bicara, bicaralah! Tapi masalah aku mau mendengarnya atau tidak, itu urusanku dan juga hak-ku!"

"Haruno Sakura, pernahkah kau di ajari untuk menghargai orang lain bicara?!"

"Uchiha Sasuke, apakah kau tidak pernah di ajari untuk menghargai wanita?!" balas Sakura tak kalah sengit,

Semua orang di sekitar mereka terdiam, lalu menatap kedua orang itu. Siapa yang tak kenal dengan Uchiha Sasuke di sini, coba?

"Bukankah itu Sasuke-kun?"

"Benar, tidak salah lagi itu Sasuke-kun. SASUKE-KUN!" teriak para fans Sasuke yang mulai antusias untuk menghampirinya.

"Ah, sudahlah! Ayo kita pergi, sebelum semuanya menjadi merepotkan!" Sasuke menarik Sakura berlari untuk menghindari kejaran para fans-nya.

"Lepaskan! Atau aku teriak sekarang!" seru Sakura yang bahkan sudah berteriak. Dengan cepat Sasuke menyeret Sakura ke dalam mobilnya.

"Dengar, aku mau bicara! Tidak bisakah kau berbicara denganku walau hanya sebentar? Anggap saja kau sedang bertemu orang dari masa lalu!" tegas Sasuke sambil terus menyetir,

"Aku hanya ingin bicara tentang masa kini, dan sekarang turunkan aku!" teriak Sakura pula. Sasuke menghentikan mobilnya,

"Mau turun? Silakan!"

Sakura sudah nyaris membuka pintu mobil, tetapi cowok itu melanjutkan ucapannya...

"...tapi ponselmu masih ada padaku!" ujarnya sembari tersenyum penuh kemenangan,

"...dan kau belum menghapus semua email dan nomor-nomornya. Aku yakin sekali kau tidak hapal semua nomor-nomor penting yang ada di sini, bukan?" lanjutnya.

"Shit! Kuso! JADI APA MAUMU SEBENARNYA, UCHIHA?" maki Sakura kesal,

"Akan aku kembalikan ponselmu, jika kau mau tenang dan ikut denganku!" tegas Sasuke seraya tersenyum menyebalkan. Sakura sendiri hanya bisa merenggut kesal.

"Tidak berubah. Kau selalu ingin menang sendiri, dasar iblis!"

"...dan dilarang mengumpat!" lanjut cowok itu, tertawa dengan penuh kemenangan. Sakura pasti kesal sekali.

"Well, jadi kau mau kutemani kemana?"

"Aomori Land."

'Nani? Taman hiburan? Mau apa sih dia?'

"Heh! Sejak kapan kau suka ke taman hiburan? Bukankah kau tidak suka keramaian? Biasanya kau juga sering mengajak pacar-pacarmu ke tempat-tempat yang romantis? Sebenarnya apa maumu?" sindir Sakura sembari tersenyum sinis,

"Mauku, kau tenang! Temani aku dan mendengarkan semua yang ingin aku bicarakan!" jawab Sasuke sambil tersenyum hangat pada Sakura,

'Cih, seperti biasa dia begitu ahli memperlakukkan seorang wanita!'

"Dengar baik-baik, Uchiha! Aku tidak ingin tenang. Aku tidak ingin menemanimu dan aku ingin pulang. Menutup telinga. Menghapus semua ingatan kalau aku pernah bertemu denganmu."

"Oh begitu, tapi ponselmu masih ada padaku."

"Kuso! Kembalikan ponselku!"

"Tidak sekarang, akan aku kembalikan setelah kita naik beberapa wahana dan kau bersedia menjadi pengikutku selama ponsel ini ada padaku Sakura."

"Nani? Kau benar-benar licik. Fine!" ucap Sakura yang akhirnya hanya bisa pasrah,

oooOOcherryblossomOOooo

.

.

.

Oo Sakura's POV oO

Hari ini bukanlah hari libur, cuacanya juga sedikit mendung. Aku jadi kesal karena kali ini tidak banyak orang di taman hiburan hingga penyamaran Sasuke-kun berjalan dengan mulus. Tak ada seorang pun yang mengenalinya. Aku benar-benar ingin segera angkat kaki dari tempat ini. Taman hiburan jadi membosankan jika jalan bersama cowok brengsek seperti dirinya. Sejak tadi dia terus saja memaksaku untuk menaiki berbagai wahana yang ekstrim termasuk 'Super Deathly Coaster' dan 'Jumpin Star', dasar gila. Demi Kami-sama rasanya perutku mual dan ingin muntah-muntah.

Aku benar-benar heran, kenapa hari ini tingkahnya aneh sekali? Tiba-tiba ingin pergi ke taman hiburan bersamaku, padahal aku masih ingat Sasuke-kun itu paling tidak suka dengan keramaian. Sikapnya yang biasanya pendiam dan kelewat dingin, mendadak berubah menjadi tukang ngatur. Berkali-kali aku bahkan melihatnya tertawa lepas. Seperti bukan dirinya saja. Jangan-jangan dia sedang kesurupan.

"Kau tahu, ternyata menjadi seorang artis itu sangat melelahkan. Jadwal kami selalu padat setiap harinya. Sudah lama aku ingin sekali berlibur, dan hari ini kebetulan jadwal kami tidak begitu padat. Itulah sebabnya aku mengajakmu ke sini. Aku hanya ingin bersenang-senang seharian. Gomen ne jika seandainya aku membuang waktumu yang berharga, Sakura."

Rupanya begitu. Ya, kali ini aku mengerti perasaan Sasuke-kun. Biar bagaimana pun kita semua butuh refreshing supaya tidak stress dan bisa sedikit bersantai setelah lelah bekerja keras. Hanya saja kenapa harus aku yang menemaninya, seperti tidak ada orang lain saja. Ino, aku tidak tahan terlalu lama bersamanya. Berdua bersamanya hanya membuat hatiku sakit.

"Hey, cepat kau katakan apa yang mau kau katakan! Aku mau pulang!"

"Yah, aku masih mau bermain karena lusa jadwal kami full seharian dan aku juga lapar. Lagipula memangnya kau tidak senang berada di sini bersamaku?"

"Sama sekali tidak."

"Kau sama sekali tidak manis padahal kalau wanita lain pasti bilang 'Iya',"

"Kalau begitu cepat tinggalkan aku yang tidak manis ini, lalu ajak wanita-wanitamu yang penurut itu! Aku capek. Mau pulang. Kau tidak lihat, kalau ini sudah jam 6 sore?"

"Kalau begitu ponsel ini untukku, ya?"

"TERSERAH KAU! AKU MUAK MENDENGAR OCEHANMU!" teriakku nyaris menangis. Sial, kenapa dia terus-menerus memaksaku. Kalau seperti ini bagaimana aku bisa bernafas?

"...tapi bukankah ponsel ini sangat penting untukmu?"

"Masa bodoh. Terserah mau kau apakan. Aku sudah tidak peduli lagi. Kenapa kau begitu egois? Aku mau pulang!"

"Baiklah. Kalau begitu ayo kita makan dulu, baru bicara. Setelah itu aku akan mengantarkanmu pulang!"

'Kenapa tidak dari tadi, dasar menyebalkan! Mimpi apa aku semalam?'

Akhirnya aku terpaksa menurutinya. Sasuke-kun mengajakku ke sebuah restoran dekat taman hiburan tersebut, dan setelah selesai makan aku sudah tidak tahan lagi untuk bertanya.

"Sekarang katakan hal yang ingin kau bicarakan itu!"

"Hn, sebenarnya tidak ada yang ingin aku katakan. Aku hanya ingin menghabiskan waktu berdua denganmu. Kau tahu, hari ini aku sangat bahagia. Aku benar-benar senang bisa melihatmu lagi. Sakura aku ingin meminta maaf atas kejadian dua tahun yang lalu. Gomen karena aku lebih memilih untuk memutuskan hubungan kita."

"...tapi kenapa?"

"Bukankah kau tahu sendiri aku ini seperti apa? Aku memang sengaja gonta-ganti pacar karena sampai sekarang aku belum menemukan gadis yang benar-benar aku cintai sekaligus cocok denganku. Berulang kali aku mencoba untuk mencintaimu tetapi ternyata aku tidak bisa. Gomen."

"Hanya itu? Hanya itu yang ingin kau katakan? Apa menurutmu waktu pacaran kita tidak terlalu singkat? Kau benar-benar mempermainkanku Sasuke-kun!"

Pada akhirnya pertahananku runtuh. Ternyata sedikit pun Sasuke-kun tidak pernah mencintaiku. Aku sudah tidak tahan untuk menangis. Persetan dengan semuanya. Persetan dengan Sasuke-kun. Sakit rasanya mendengarnya bicara begitu terus terang. Akan lebih baik jika dia berbohong. Aku pasti tidak akan sesakit ini.

"Sakura aku sudah berusaha. Gomen."

"Menurutmu jika seandainya kita berpacaran lebih lama lagi, apa yang akan terjadi? Apa benar kau tidak bisa mencintaiku? Kau tahu Sasuke-kun, aku benar-benar benci saat aku melihatmu lagi. Aku benci. Kau yang dulu begitu tidak tahu malu...sekarang malah muncul lagi di hadapanku dengan senyummu yang sangat menyebalkan itu," kataku seraya menghapus air mata di pipiku dengan kasar.

"Tidak tahu. Hn, begini saja...bagaimana kalau kita mencobanya sekali lagi?"

"Cukup! Aku mau pulang!" bentakku seraya beranjak pergi,

"Tunggu, biar aku antar!" ujar Sasuke-kun. Aku berhenti berjalan lalu menoleh dengan kesal,

"Tidak perlu sama sekali. Jangan bertindak seolah aku ini gadis jahat yang meninggalkanmu yang begitu baik dan heroik. Aku benci padamu!" tegasku yang kemudian pergi, tetapi Sasuke-kun menahan lenganku. Apa lagi sekarang?

"Ini ponselmu, ambilah! Arigatou karena kau sudah menemaniku hari ini," katanya tersenyum sembari menyerahkan ponsel itu kepadaku. Sebenarnya aku tidak ingin menerimanya tetapi aku ingat kalau aku masih sangat membutuhkan ponselku sehingga dengan terpaksa aku mengambil ponsel itu kembali. Setelah itu aku bergegas lari meninggalkannya sendirian tanpa peduli seberapa keras dia berteriak dan seberapa kencang dia berlari menyusulku.

Oo End Sakura's POV oO

oooOOcherryblossomOOooo

.

.

.

Dome E, desa Konoha.

"Hmm? Ada apa Nee-chan? Eh? Menjemputmu?" ujar Konohamaru sambil menelpon sekaligus melihat keluar jendela. Di luar ternyata masih hujan deras.

"Oh, mungkin bisa...tapi hey, kenapa kau menangis? Tunggu di situ, ya? Sebentar lagi aku kesana!"

Konohamaru memutus sambungan telepon tersebut. Dia segera mengambil dompet dan jacket-nya, kemudian mengetuk pintu kamar Sai.

"Nii-san boleh aku pinjam mobilmu sebentar?"

"Tentu...tapi untuk apa?" tanya Sai yang sedang main games di tablet PC-nya.

"Mau menjemput seseorang," jawab Konohamaru sambil tersenyum.

"Seorang gadis?" goda Sai seraya menekan tombol pause, kemudian melemparkan kunci mobilnya.

"Hmm. Iya, tapi dia bukan kekasihku kok!" tegas Konohamaru sambil menangkap kunci mobil Sai.

"Souka? Menurut buku yang aku baca, jika seorang pria menjemput seorang wanita...itu berarti ada sesuatu. Semoga berhasil dan berjalan lancar!" kata Sai sembari tersenyum,

"Nii-san berhentilah membaca buku bodoh seperti itu!" protes Konohamaru yang kemudian melengos pergi dengan raut wajah kesal.

'Kalau pun ada seorang gadis yang dekat denganku...aku harap orang itu adalah Hanabi-chan,' batin Konohamaru.

oooOOcherryblossomOOooo

.

.

.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Konohamaru sampai di Aomori Land. Di tempat itu Sakura menunggu dengan mata yang sembab. Hujan deras mengguyur tanah tempatnya berpijak, tanpa payung dan tidak berteduh.

"Nee-chan ada apa?"

"Daijoubu...hanya ada satu hal yang membuatku terkenang masa lalu," kata Sakura sambil tersenyum palsu.

"Tidak apa-apa, nee-chan. K-kau boleh menangis di hadapanku!" ujar Konohamaru. Dia memeluk Sakura dengan lembut. Sakura menangis perlahan, meluapkan semua emosinya.

Dilain tempat, Sasuke berteduh di dekat wahana 'Marry go round' sembari menggigil kedinginan. Menatap tidak percaya pada sosok di dekat Sakura.

"Konohamaru..."

oooOOcherryblossomOOooo

.

.

.

Tepat jam 9 malam, Sasuke tiba-tiba datang sambil berteriak-teriak memanggil Konohamaru,

"Konohamaru! Sarutobi Konohamaru!"

Konohamaru yang sedang menonton TV bersama Sai dan Juugo pun menoleh,

"Ada apa, nii-san?" tanya Konohamaru,

"Apa kau punya hubungan dengan Sakura?"

"Sakura. Haruno Sakura maksud nii-san?" Sasuke mengangguk. Teman-teman lainnya melihat Sasuke dengan heran karena Sasuke basah kuyup.

"Memangnya nee-chan, siapa-nya nii-san?"

"Nee-chan?" tanya Sasuke heran,

"Iya. Dia kakak sepupuku. Jadi nii-san ada hubungan apa dengannya?"

"Hn. Mantan,"

"Eh?" kaget Konohamaru, Juugo, dan Sai yang ikut mendengarkan.

"Mantan? Maksudnya mantan kenalan?" tanya Sai dengan wajah innocent,

"Diam Sai! Jangan ikut campur!" kata Juugo sambil menarik kerah baju Sai pelan,

"Bukan tapi dia mantan kekasihku...dulu."

"EH?" kaget semuanya, bahkan Suigetsu yang sejak tadi sibuk mengutak-ngatik laptopnya, dan Deidara yang sedang mengaduk-ngaduk cokelat panas di dapur sampai mendongak, mencari sumber keributan itu...

"Hn. Sebelum debut. Setidaknya kami putus waktu debut!" lanjut Sasuke yang kemudian menarik nafas panjang.

"Jadi nii-san yang telah..." kata-kata Konohamaru terputus,

"..."

"Sudahlah nii-san, lebih baik kau jangan pernah mengganggunya lagi! Cari saja gadis lain! Aku yakin sekali banyak para gadis yang mengantri untuk menjadi kekasihmu," lanjut Konohamaru yang langsung pergi ke kamarnya dan menutup pintu dengan kasar,

'Blam!'

"Kenapa dia?" Sasuke terlihat jengkel sekaligus heran, yang lainnya hanya melihat kepergian Konohamaru dengan heran.

"Mmm, Sasuke!" ucap Suigetsu,

"Apa?"

"Aku yakin Konohamaru pasti sangat marah sekarang, habis kau membuat kakak sepupunya menangis. Tadi dia cerita pada kami...katanya dia habis jemput kakaknya itu, dan pas dia sampai kakaknya sedang menangis. Eh ternyata, kakaknya itu mantan kekasihmu?" cerita Suigetsu yang di akhiri dengan pertanyaan.

"Hn."

"Sasuke, sebaiknya kau cepatlah ganti baju! Kau basah kuyup sekali. Kalau kau tidak segera ganti baju kau bisa sakit nanti, dan itu hanya akan merepotkan saja. Ingat, lusa jadwal kita kan sangat padat hmm!" tegur Deidara yang kemudian meminum cokelat panas-nya.

"Dia benar, masalah dengan Konohamaru...besok saja menyelasaikannya!" sambung Juugo,

"Hn," kata Sasuke yang kemudian masuk ke kamarnya untuk berganti baju.

"Wah, kalian berdua perhatian sekali pada Sasuke. Aku jadi iri!" sambung Sai, membuat ketiga orang temannya sweatdrop.

oooOOcherryblossomOOooo

.

.

.

"KUSO! Apa sih yang Karin-nee pikirkan, sejak kemarin dia ketus terus padaku? Dasar gadis aneh!" Sakura menendang kaleng bekas minuman di hadapannya keras-keras. Ia menghebuskan nafasnya kesal. Menyebalkan, bahkan saat di kampus pun Karin tetap bersikap buruk padanya seakan-akan ia telah melakukan kesalahan besar yang tidak bisa di maafkan.

"Entah kenapa dia begitu menyebalkan? Dia menyuruhku untuk meminta maaf dan memperbaiki semuanya...padahal kan yang memulai pertengkaran itu bukan aku tetapi dia sendiri, dan Shion pake ikut campur segala!" keluh Sakura makin kesal. Ia tidak suka salah dan disalahkan. Tampaknya ia sudah melupakan kejadian saat bertemu lagi dengan Sasuke kemarin. Sakura menengadahkan kepalanya. Menatap langit yang begitu cerah hari ini.

"Kyaa!" terdengar suara seseorang menjerit. Sakura segera menghampiri seorang cowok yang mengenakan celana jeans hitam yang di padukan dengan T-shirt hitam dan jacket berwarna orange, yang nampaknya resleting-nya sengaja dia biarkan terbuka. Cowok itu sedang mengurut-ngurut pergelangan kakinya.

"Ada apa?" tanya Sakura,

Cowok berambut blonde tersebut mendongakkan wajahnya. Tampak sepasang mata sapphire-nya menatap wajah Sakura. Nyaris saja Sakura melarikan diri kalau cowok itu tidak menarik lengan bajunya.

"Sa...Sakura-chan..." Naruto tersenyum lebar. Ia masih menatap wajah Sakura,

"Ehe..he..he," lanjutnya.

"Apa-nya yang 'ehehe'?" tanya Sakura sambil mengibaskan pergelangan tangannya. Membuat Naruto melepaskan pegangannya,

"Uwaah, tak kusangka kita bisa bertemu lagi padahal awalnya kupikir kau masih tinggal di Tokyo. Sepertinya kita berjodoh, Sakura-chan!" wajah Naruto berseri-seri menatap Sakura. Dia tidak mungkin salah orang. Surai soft pink itu. Kedua bola mata emerald itu. Dia yakin sekali, gadis di hadapannya ini adalah Sakura yang dia kenal.

"Berjodoh katamu? Aku bahkan tidak merasa aku pernah bertemu denganmu,"

"K-kau bilang apa Sakura-chan?" Naruto mengerutkan kening. Ia benar-benar heran, mungkinkah gadis ini sudah lupa padanya?

"Jangan gunakan kata-kata yang aneh baka blondie! Asal aku tahu, aku tidak kenal kau!"

"Nani? Sakura-chan, kau benar-benar lupa padaku?" kini Naruto menatap Sakura dengan wajah sedih,

"Lebih tepatnya aku tidak mengenalmu! Jadi kau tidak usah sok kenal!" maki Sakura kesal,

"Astaga, apa kepalamu terbentur Sakura-chan? Aku tahu kebersamaan kita sangat singkat, tapi benarkah sedikit pun kau tidak mengingatku...padahal aku tidak pernah melupakanmu Sakura-chan!"

Sakura tertegun. Rambut blonde itu. Sepasang bola mata sapphire itu. Wajah tampan dengan tiga garis kembar di kedua pipinya itu. Kulitnya yang berwarna tan. Mungkinkah cowok ini? Sakura menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin. Mana mungkin dia Naruto, bukankah anak itu berada di London?

"Gomen aku tidak ingat. Sebenarnya dulu aku pernah amnesia,"

"Nani? Amnesia? Kenapa bisa begitu Sakura-chan?"

"Pokoknya aku pernah mengalami kecelakaan empat tahun yang lalu, tetapi biarpun itu sudah lama sekali...semua ingatanku belum kembali. Gomennasai."

'Empat tahun yang lalu? Kejadian buruk juga terjadi padaku empat tahun yang lalu. Kenapa bisa sama?' pikir Naruto sembari mengingat kebakaran yang pernah terjadi di salah satu cabang perusahaan ayahnya di London, sampai akhirnya dia terjebak di dalam lift dan hampir mati karenanya. Wajah Naruto memucat. Dia harus melupakan hal itu. Harus!

"Ah ya...jadi siapa kau?" tanya Sakura,

"Naruto. Namikaze Naruto tapi kau pertama kali mengenalku sebagai Uzumaki Naruto," jawab Naruto.

"Naruto? Gomen aku belum ingat, yang baru kuingat hanya..."

"Ya?" tanya Naruto penuh harap,

"Dulu...kau, aku, Ino, Sasuke-kun, dan Shikamaru bersahabat. Ah sudahlah, jadi kenapa tadi kau berteriak segala sih?" lanjut Sakura. Naruto melihat ke arah kakinya,

"Etto...ada kaleng kena kakiku, sepertinya ada orang iseng yang main tendang-tendangan di jalan. Dasar kurang kerjaan! Kalau aku beretemu dengan orangnya, awas saja!" jawab Naruto. Sakura berkeringat dingin dan menelan ludahnya.

"Mmm...kaleng ya?" Naruto menatap wajah Sakura yang gelagapan lurus-lurus. Mata birunya membulat karena melotot,

"Jangan-jangan kau yang..."

"He..he...he," Sakura mulai berjalan mundur-mudur,

"Aaahh, Sakuraa-chan! Kau harus bertanggung jawab! Aku tidak bisa berjalan saking sakitnya. Ittaaaii..." Naruto langsung menjatuhkan dirinya sambil mengurut-ngurut kakinya,

"Hey, sampai sedetik yang lalu kau masih sehat-sehat saja!" protes Sakura. Naruto mendongak menatap Sakura dengan wajah memelas,

"Ittaaii Sakura-chan. Tanggung jawab!" Naruto kembali merintih yang jelas-jelas seperti acting,

"Ibumu seorang aktris, ya?"

"Kok tahu?"

"...karena kau..."

"telah menjadi pemeran utama di hatimu?" goda Naruto,

"Arrgghht, sudahlah! Merepotkan saja..." Sakura mengulurkan tangannya ke hadapan Naruto, wajahnya sedikit memerah entah karena apa?

Naruto menatap Sakura dengan senyum ceria dan mata yang berbinar-binar. Ia pun menyambut uluran tangan Sakura, lalu berdiri.

"Nee, Sakura-chan! Kalau kau ingin aku memaafkan perbuatanmu yang konyol dan kekanak-kanakan itu, kau harus memenuhi syaratku!"

"Aku tak butuh kau maafkan, kok!" kata Sakura ketus. Naruto menundukkan wajahnya,

"Heh! Aku baru tahu kalau ternyata Haruno Sakura sudah berubah. Berbeda sekali denganmu yang dulu, sekarang kau malah bersikap dingin pada orang yang sudah kau lukai. Kau benar-benar lupa segalanya ya, Sakura-chan?" tanya Naruto terlihat menahan segala emosinya,

"..."

Sakura mengigit bibir bawahnya. Ada apa ini? Kenapa mendadak hatinya menjadi sakit saat melihat cowok itu tampak sedih? Sebenarnya apa yang telah terjadi di masa lalu antara ia dan Naruto?

"Ittaaiii," Naruto kembali berjongkok sambil mengurut-ngurut kakinya. Ekspresi wajahnya saat ini sudah kembali seperti semula,

Sakura kembali gelagapan. Akhirnya ia pun kembali mengulurkan tangannya,

"Cepat bangun! Terserah kau sajalah! Apa syaratnya?"

Naruto menarik lengan Sakura sehingga gadis itu sedikit membungkuk. Kini wajah Naruto dan Sakura hanya berjarak beberapa inci saja. Semburat merah di pipi menghiasi keduanya. Naruto kembali tersenyum pada Sakura, lalu bangkit berdiri...masih sambil memegang lengan Sakura.

"Aku ingin kau menemaniku ke suatu tempat. Bagaimana Sakura-chan, kau mau kan?"

"Baiklah, lagipula hari ini aku sedang tidak ada kerjaan."

Naruto bersorak gembira seperti anak kecil,

"Horree! Arigatou Sakura-chan, akhirnya setelah bertahun-tahun lamanya...kita bisa kencan juga!"

"NANI? SUDAH KUBILANG JANGAN BERKATA YANG ANEH-ANEH! SHANNAROOU!" teriak Sakura sembari memukul kepala Naruto,

"Ittaaii. Sakura-chan, kenapa kau suka sekali memukulku?" ringis Naruto,

"Suka sekali? Jadi aku sudah sering melakukannya?" tanya Sakura polos,

"Pokoknya kau harus mengingatku Sakura-chan! Aku tidak mau tahu!" tegas Naruto. Sakura mengangguk mengerti,

"Iya aku akan berusaha! Mau kemana kita?" tanyanya,

"Kita akan pergi ke aquarium raksasa yang ada di pusat desa itu. Ayo cepat Sakura-chan!" kata Naruto sembari berjalan setengah berlari. Wajahnya terlihat bahagia. Ia menggandeng Sakura yang berjalan di belakangnya,

"Ternyata benar kau hanya acting. Dasar, sebenarnya kakimu tidak terlalu sakit kan?!"

"Diamlah, Sakura-chan! Katanya kau mau menemaniku?"

"...tapi kenapa harus ke aquarium, baka?"

"Sudahlah, ikut saja!"

"Tunggu, hey! Lepaskan aku! Aku bukan anak kecil yang harus kau tarik-tarik tangannya! Hey..." protes Sakura.

oooOOcherryblossomOOooo

.

.

.

"Uwaahh!" Naruto tersenyum melihat Sakura yang terlihat kagum dengan pemandangan di depannya,

"Sakura-chan baru pertama kali ke sini, ya? Memangnya sudah berapa lama kau berada di Konoha?"

"Sekitar dua tahun. Aku memang belum pernah ke sini sebelumnya. Tak kusangka Konoha memiliki tempat-tempat yang bagus dan tak kalah menarik dari Tokyo. Bagaimana dengan London? Adakah aquarium seperti ini?" tanya Sakura. Naruto mengangguk,

"Tentu saja ada, tapi di sini memang tempat yang bagus kan? Aku lumayan tau tempat-tempat yang bagus di Konoha. Nee-chan yang memberitahuku," kata Naruto sambil tersenyum.

"Begitu? Bukankah kau anak tunggal?"

"Memang, yang kumaksud itu kakak sepupuku!"

"Oh," ucap Sakura singkat.

Sakura berdecak kagum, lalu berjalan mendahului Naruto. Naruto tertawa kecil sembari mengejar langkah Sakura di depannya. Sekalipun Naruto tak pernah membayangkan bahwa dirinya bisa bertemu dengan Sakura lagi karena sepengetahuannya Sakura ada di Tokyo. Terlebih lagi dia senang sekali, karena bisa pergi berduaan dengan Sakura seperti ini walaupun dia baru sampai di Jepang kemarin. Naruto pun berhenti di sebelah Sakura,

"Uwaahh, ikan itu aneh sekali! Bibirnya sangat tebal!" Sakura berseru, dan Naruto mendekatinya...

"Yang mana?" tanyanya. Sakura menunjuk seekor ikan aneh bermulut besar dengan badan penuh loreng-loreng,

"Yang itu?" seru Sakura,

"Oh, yang mirip denganmu?!" Naruto berkata datar, tetapi cengiran jahil di wajahnya menunjukkan jika dirinya sedang becanda.

Sakura sudah siap dengan pukulan keduanya, jelas sekali wajahnya terlihat sangat marah. Sayangnya kali ini ia gagal memukul Naruto karena cowok itu terus menghindar. Ia pun cemberut di buat-buat,

"Jahat, aku disamakan dengan ikan jelek itu!" ujar Sakura yang kemudian pura-pura marah sambil lari-larian.

"Hey, berhenti Sakura-chan! Gomen ne aku hanya becanda, Sakura-chan!"

"Uwaahh! Ikan itu besar sekali!" pekik seorang gadis di sebelah Naruto,

"Baka, jangan berteriak dong! Dasar norak, padahal aquarium ini kan dekat dengan rumahmu? Gimana sih kamu ini?" tegur seorang pemuda di samping gadis tersebut.

Sakura dan Naruto menengok ke sumber suara di sebelah mereka. Sakura membeku di tempat, begitu juga dengan pemuda itu. Naruto mengerutkan kening, merasa ada yang aneh dengan ekspresi Sakura.

"Sakura-chan?" kaget Hinata yang kemudian menengok pemuda berkacamata hitam, yang tengah berdiri di sampingnya.

"Hmm, Sakura-chan! Kau bersama pac..." kata-katanya terhenti ketika mendapati mata Sakura mulai berkaca-kaca, tampaknya Sakura menyadari identitas lelaki yang sedang bersamanya.

"Uchiha Sasuke, rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali kita bertemu. Oh dan siapa ini? Astaga, ternyata salah satu teman sekampusku, Hyuuga Hinata. Korban barumu lagi, hmm?" sindir Sakura sinis. Ia heran kenapa gadis sepolos dan sebaik Hinata bisa kenal dengan seorang Uchiha Sasuke?

"EH? Kau bilang apa Sakura-chan? Dia...si teme?" tanya Naruto sambil mengerutkan kening,

Sasuke membuka kaca mata hitamnya saat menyadari siapa orang yang memanggilnya 'teme' karena seingatnya hanya orang itu yang selalu memanggilnya dengan julukkan seperti itu. Ia pun tersenyum ramah pada keduanya,

"Sakura rupanya kau sedang berkencan dengan si dobe? Wah, kau berubah banyak ya? Berapa lama ya kita tidak bertemu?"

"Apa kau juga lupa padaku teme? Sampai kau tidak ingat berapa lama kita tidak bertemu?"

"Kurasa...iya. Hn, bagaimana kalau kita double date? Sepertinya akan mengasikan, benarkan Hinata-hime?" tanya Sasuke sambil menoleh ke arah gadis beriris lavender itu. Gadis itu tersenyum,

"Ya, kenapa tidak? Sakura-chan, aku tak menyangka kau mengenal Sasuke-kun juga. Tadinya kupikir kau terlihat kaget karena kau salah satu fans-nya Sasuke-kun?"

"Aku tidak suka boyband," jawab Sakura ketus. Hinata terlihat heran. Jangan-jangan Sakura adalah salah satu mantan pacar Sasuke?

"Jadi bagaimana Sakura, deal?" tanya Sasuke lagi,

"Gomen di jadwal kami tidak ada rencana untuk berbincang-bincang dengan seorang lelaki brengsek dengan wanitanya yang malang. Kami pergi!" ucap Sakura ketus, lalu menyeret Naruto yang masih tampak kebingungan untuk menjauh dari Sasuke dan Hinata.

oooOOcherryblossomOOooo

.

.

.

Sasuke terdiam. Ia kesal. Benar-benar kesal. Setelah Konohamaru, sekarang Sakura.

"Sasuke-kun?" Hinata perlahan mendekat dengan ragu-ragu,

"Hn?" suara Sasuke di perhalus sehalus mungkin, tetapi nada kesalnya masih terdengar.

"Apa Sakura-chan?"

"Hn. Dia mantan kekasihku."

"Oh, pantas saja. Aku jadi tidak enak, rasanya aku ingin sekali meminta maaf padanya."

"Untuk apa kau meminta maaf? Kau bahkan tidak salah apa-apa, hime?"

"...tapi Sasuke-kun..."

"Ah, aku lapar. Ayo kita cari makanan di luar?" kata Sasuke dengan nada yang sudah kembali ceria. Dia mengamit lengan Hinata, lalu berjalan keluar aquarium.

"Terserah kaulah..." sambung Hinata.

.

.

.

"Hey, Sakura-chan! Kau kenapa sih? Sikapmu aneh sekali pada si teme, apa kalian sedang bertengkar?" tanya Naruto sambil memandang Sakura yang terlihat begitu kesal dengan tatapan khawatir.

"Apaan sih melihatku seperti itu?" ketus Sakura,

"Apa yang tadi itu tidak keterlaluan?" tanya Naruto. Sakura berhenti, lalu berbalik sambil melepas cengkraman tangannya dari Naruto...

"Apa-nya?"

"Kau tadi sepertinya agak keterlaluan deh pada Sasuke..." jelas Naruto tampak heran,

"Kau membelanya?" hardik Sakura,

"Tidak,"

"Kalau begitu, diam!"

"Hhh...sepertinya kau harus mendinginkan kepalamu?"

"Maksudnya?" sinis Sakura sambil mengangkat sebelah alisnya,

"Ayo aku traktir kau makan Ice cream, berapa pun boleh!" ujar Naruto, karena dia masih ingat kalau sahabatnya itu sangat suka dengan es krim. Sakura terdiam sebentar,

"Baiklah. Ayo!" ujarnya, lalu mereka pun pergi ke sebuah cafe kemudian memesan es krim dan beberapa makanan kecil.

"Jadi sebenarnya kenapa sikapmu kasar sekali pada si teme?" tanya Naruto setelah yakin emosi Sakura sudah mereda.

"Dia mantan kekasihku,"

"Nani? Jadi kau berpacaran dengannya? Ya, sejak dulu kau memang menyukainya...aku tahu!" kata Naruto dengan nada kecewa. Dia benar-benar cemburu pada Sasuke, apalagi sejak kecil dia sudah menyukai sakura. Tunggu, Sakura bilang mantan kekasih?

"Mantan?" tanya Naruto yang baru ngeh,

"Dia mencampakkanku padahal saat itu hubungan kami baru berjalan selama satu minggu," lanjut Sakura sambil menundukkan wajahnya.

"NANI?" kali ini Naruto terlihat sangat marah,

"Dia bilang dia sudah berusaha, tetapi dia tetap tidak bisa mencintaiku...padahal sejak kecil aku sangat menyukainya. Segampang itu dia berkata seperti itu. Hatiku sakit. Sakit sekali," tambah Sakura yang sekarang sudah mulai menangis,

"Sakura-chan..."

"...dan sekarang dia berpacaran dengan salah satu temanku. Doushite? Haruskah aku bertemu dengannya saat Sasuke-kun hendak menemui Hinata di kampus?"

"Sakura-chan sampai kapan kau akan memandangnya seorang?"

"..."

"Sudahlah Sakura-chan, jangan kau buang air matamu hanya karena dia! Lupakan dia dan pandanglah aku! Walau sedetik saja mengertilah perasaanku! Berpalinglah padaku! Tidak bisakah kau melakukannya?"

"Apa maksudmu?"

"Aku sangat mencintaimu Sakura-chan. Aku tahu kita baru saja bertemu lagi dan kau juga tidak mengingatku sama sekali, tetapi sejak kecil aku suka padamu Sakura-chan, dan kurasa sekarang aku jatuh cinta padamu. Kau semakin cantik, tetapi kenapa? Kenapa kau terus terpaku pada si teme itu?"

"Naruto sudah kubilang untuk tidak berbicara yang aneh-aneh, kan?"

"Aku tidak mengada-ngada Sakura-chan. Aku serius. Aishiteru. Aku berjanji akan menghapus setiap tetes air matamu. Aku berjanji akan menjagamu. Melindungimu. Sakura-chan, apa benar-benar tidak bisa sedikit saja kau membalas perasaanku?" tanya Naruto sambil menatap Sakura lekat-lekat,

"Hahaha, kita baru saja bertemu Naruto. Kumohon jangan bercanda lagi!"

"Sakura-chan...aku..."

"Dengar, aku bahkan belum mengingatmu. Jadi kenapa aku harus membalas perasaanmu?" tanya Sakura, balas menatap Naruto. Naruto hanya tertawa kecil, lalu tersenyum pahit.

"Sudah sore. Kurasa aku harus pulang. Hmm, boleh aku meminta nomor ponselmu?"

"Nanti saja. Aku akan mengantarmu pulang Sakura-chan."

"Serius? Arigatou!" seru Sakura.

oooOOcherryblossomOOooo

.

.

.

'Baka, tentu saja dia akan menolakku!' pikir Naruto dalam hati,

"Di sanalah apartement-ku," ujar Sakura sambil menunjuk salah satu gedung tinggi.

"K-kau juga tinggal di sana?"

"Apa maksudmu dengan, kau juga tinggal di sana?" tanya Sakura bingung,

"Kebetulan sekali, aku juga tinggal di sana untuk sementara Sakura-chan."

"Souka? Bersama siapa?"

"Kakak sepupuku. Kedua orang tuaku sedang mencari rumah yang cocok dengan mereka, jadi mereka memintaku untuk tinggal di sana...setidaknya sampai mereka membeli rumah baru."

"Baiklah, kalau begitu kenalkan aku dengan sepupumu itu!"

"Tentu saja, Sakura-chan."

.

.

.

"Kenapa kau diam saja di situ? Ayo masuk! Bukankah kau bilang kau juga tinggal di lantai 22?" tanya Sakura menatap heran pada Naruto yang hanya mematung di depan pintu lift,

"K-kau duluan saja Sakura-chan...a-aku akan menyusul nanti," sambung Naruto. Sakura semakin heran karena Naruto terlihat sangat ketakutan.

"Astaga, jangan bilang kau takut naik lift? Hahaha, kau ini lucu sekali! Sudah kau jangan takut, ayolah kita masuk saja!" Sakura menarik tangan Naruto, tetapi cowok itu terus bertahan di tempatnya.

"Jangan paksa aku Sakura-chan...onegai!"

"Naruto kalau kau tidak mau, aku tidak akan bicara denganmu lagi!" ancam Sakura,

"Sakura-chan...onegai!" kata Naruto lagi,

Sakura memiringkan kepalanya. Ia semakin heran, kenapa Naruto begitu bersikeras tidak ingin ikut. Sakura jadi tidak tega karena saat ini wajah Naruto terlihat semakin pucat dan penuh dengan keringat dingin. Nafas pemuda itu juga mulai tidak beraturan. Akhirnya ia pun menyerah dan melepaskan tangan Naruto.

"Lupakan soal yang tadi! Aku akan tetap berbicara denganmu, dengan syarat...katakan padaku kenapa kau tidak ingin naik lift bersamaku?"

"Aku...claustrophobia. Gomen Sakura-chan, kau pergilah duluan!"

"Claustrophobia? Memangnya claustrophobia-mu sudah separah apa?"

"Sangat parah kalau kau mau tahu. Dulu, aku bahkan hampir gila karena ini. Sampai jumpa Sakura-chan!" pamit Naruto sembari tersenyum, lalu dia pun mulai menjauh untuk menaiki tangga darurat.

"Sangat parah? Nande? Kenapa bisa begitu?" tanya Sakura lebih pada dirinya sendiri. Ia kemudian menekan tombol 22.

.

.

_TBC_

.

.

A/n : Yup, segitu saja dulu karena Muki capek dan takut kepanjangan. Gomen karena telat update-nya, maklum kemarin-kemarin Muki nggak ada waktu buat ngetik lanjutannya. Gomennasai karena chapter kali ini dialognya kebanyakan dan deskripsinya minim abis. Well, like usual Muki belum siap menerima flame. So, REVIEW please! Arigatou. ^_^

.

.

Dan ini balasan untuk review yang nggak login :

Gues : Arigatou review-nya. Ini udah update ya... ^_^

Mistic Shadow: Ini udah di update. Arigatou review-nya. ^_^

Soputan : Yup, tapi Muki nggak yakin fic yang ini masuk genre angst juga atau nggak? Hehehe. Arigatou review-nya. ^_^

Farhan UzuZaki : Iya Muki suka, mungkin karena muki ini orangnya melankolis #halah. Souka? Alhamdulillah kalau mengharukan. Lanjutannya udah muki update nih. Arigatou review-nya. ^_^

Minaesa : Semoga pertemuan Narusaku yang udah Muki tulis itu berkesan #Ammin. Arigatou review-nya. ^_^

Ebay Namikaze : Gomen karena baru bisa update. Ya, mudah-mudahan chapter ini nggak gaje. Arigatou reviewnya. ^_^

Manguni : Ya, benar sekali Manguni-san saat ini Saku memang masih mencintai Sasu walaupun di sisi lain ia sangat membenci Sasu. Hai, ada alasan kenapa Saku sampai lupa pada Naru. Tunggu saja chapter-chapter berikutnya, okay! Arigatou reviewnya. ^_^

Doche : Yosh, tak ada kata terlambat kalau kita terus berjuang. Iya, di sini Sakura-nya belum ingat sama Naruto. Ini udah di lanjut. Arigatou review-nya. ^_^