CHAPTER 2
Finally Chapter 2. Dan disini ada couple ke-2 yaitu KangNam, tercetus ide KangNam karena saya iseng-iseng nonton lagi WINNER TV episode dimana Taehyun ngerjain hyung-hyungnya, di episode ini Seungyoon cemas nyariin Taehyun sampai pesannya Seungyoon gak dibales-bales, dia dongkol banget kayaknya hehehe. Terima kasih yang sudah sudi untuk review dan kasih tanggapan, sedikit banyak saya dapat semangat melanjutkan lagi dari sana. So, Please enjoy for this story
Kadang ada saat dimana kita tidak bisa menghindari masa lalu, masa lalu muncul seperti film yang diputar secara tiba-tiba, menampilkan potongan-potongan kelam yang ingin mati-matian dilupakan tetapi tetap tidak bisa. Setiap orang pasti mempunyai sisi kelam. Sebuah Bayangan gelap yang seakan-akan menyelimutimu, mencengkram tubuhmu dengan kuat hingga rasanya sungguh menyesakkan di dada tanpa tau harus bagaimana melepaskan cengkraman gelap itu. Kegelapan itu begitu terikat mati seperti simpul tali yang ditarik kuat.
Song Mino kecil meringkuk di bawah meja, tubuhnya bergetar hebat, tangan kecilnya berpegangan pada kaki meja dengan kuat. Matanya menatap takut kejadian di depannya, ia melihat sang ayah terus memukul ibunya tanpa ampun. Mino merasa ibunya seperti akan mati, tubuhnya sudah tergelatak tidak berdaya di lantai, tetapi ayahnya terus memukulnya tanpa belas kasihan, dia selalu bertanya-tanya apa salah ibunya, kenapa ayahnya selalu menyesal dijodohkan dengan wanita itu, bahkan ibunya terlalu mencintai suaminya.
Kenapa cinta begitu egois? Kenapa cinta terlalu buta? Kenapa cinta harus memiliki? Tidak bisakah ibunya melawan ketika suami bejatnya itu mulai memukulnya? Kenapa ibunya hanya diam seperti seonggok daging busuk, diam dan hanya diam. Bahkan disaat wanita itu sudah tidak kuat dan akan menutup mata dia tetap mengucapkan, 'Aku mencintaimu' pada suaminya.
Kata-kata itu terlalu memilukan di telinga Mino, terus berulang-ulang, terdengar lirih dan menyakitkan baginya. Mino berpikir, 'Apakah cinta memang harus terdengar menyedihkan? Apakah cinta memang sebegitu menyakitkannya?' Ia benci kata-kata cinta.
"Mino! SONG MINO!" Mino tersentak ketika mendengar Seungyoon meneriakkan namanya, dan sontak ia menatap ke empat orang itu bergantian, empat lainnya ikut menatapnya dengan pandangan bertanya.
"Hei, apa yang kau pikirkan? Kenapa melamun?" Tanya Taehyun.
Mino menggeleng dan menjawab singkat, "Tidak ada." Ia mengangkat cangkirnya dan menyesap kopi, sebelum beranjak dari duduknya, "Aku pergi dulu. Seunghoon-hyung tolong antarkan Jinwoo pulang nanti."
"Tidak apa-apa aku bisa pulang sendiri, aku akan ke-." Jawab Jinwoo.
"Tidak, langsung pulang!" ucapnya final dan langsung pergi dari cafe tersebut.
Mereka berlima sedang berada di cafe langganan mereka sejak masa kuliah dulu, tadinya obrolan begitu menyenangkan, saling menertawakan satu sama lain masa-masa kuliah dengan bahagia, sampai Mino menerima telepon dari seseorang, tiba-tiba aura di ruang VIP cafe tersebut terasa kelam. Empat orang lainnya tidak mengerti, mereka mencoba mengubah kembali aura kelam itu, tetapi Mino tetap bergeming, asyik melamun seperti orang kehilangan akal.
Seunghoon menghembuskan nafasnya, ia menatap Jinwoo dan bertanya, "Ada apa dengannya?"
Jinwoo mendengus pelan, "Seperti biasa, aku tidak tau apa-apa tentangnya, memangnya aku siapa sehingga dia percaya menceritakan masalahnya padaku?" jawab Jinwoo sedih.
Seungyoon memeluk bahu Jinwoo dan mengusapnya lembut, berusaha memberi kekuatan untuk laki-laki itu, tanpa menyadari diseberang meja Taehyun berusaha mengatur mimik wajahnya, menguatkan dirinya sendiri melihat itu, berkali-kali mengatakan pada diri sendiri 'Tenang Taehyun, tenang! Seungyoon hanya iba'
"Baiklah, sebaiknya kita pulang hyung." Ucap Seunghoon sembari mengambil kunci mobilnya di atas meja cafe.
Jinwoo menggeleng, "Tidak, Seunghoon, aku ingin ke makam ayah ibuku dulu."
"Hyung, sebaiknya pulang saja, aku akan mengantarmu ke pemakaman besok, suasana hati Mino sedang tidak baik, jika melihatmu tidak ada di rumah saat dia pulang, dia bisa marah, bukan hanya kau saja yang kena dampaknya, aku juga akan kena dampaknya."
Jinwoo mengangguk pasrah menyetujui perkataan Seunghoon, ia tidak ingin memberi masalah pada Seunghoon, "Baiklah."
Mereka berempat beranjak dari duduknya, Seungyoon menggenggam tangan Taehyun bermaksud untuk mengajak jalan beriringan, tetapi Taehyun melepasnya dan jalan mendahului Seungyoon. Seungyoon mengernyitkan dahinya, menatap punggung Taehyun yang berjalan keluar dan tiba-tiba menyetop taxi. Mata Seungyoon terbelalak kaget dan berjalan cepat ingin memanggil kekasihnya, tetapi terlambat laki-laki berambut belah tengah itu sudah keburu menaiki taxinya.
Seungyoon masih berdiri di depan cafe, sedangkan Seunghoon dan Jinwoo sudah pergi sejak lima menit yang lalu. Ia memandang ponselnya sambil menggigit bibirnya penuh rasa dongkol, "Tidak bisakah dia bilang dulu jika ingin pergi? Bagaimanapun aku kekasihnya." Ia menekan angka satu yang akan langsung terhubung dengan Taehyun, beberapa saat hanya nada dering yang terdengar, kemudian panggilan terputus.
Seungyoon mengacak rambutnya yang sudah berantakan karena angin, ia berjalan memasuki mobil, tangannya memasukkan kunci mobil pada lubangnya dan ketika mulai akan menghidupkan mobil tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan ada pesan singkat dari sosial medianya, nama Taehyun terlihat disana.
Aku akan pulang malam
Seungyoon menggeram kecil dan membalas pesan dari Taehyun.
Sampai jumpa di rumah. Aku harap lain kali kau memberitahuku sebelum kau pergi. (Read 16:30)
- coup d'etat -
Mino turun dari mobilnya, sekarang ia berdiri di depan rumah mewah bergaya Eropa dengan pilar-pilar kokoh disamping-sampingnya. Mino menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, kemudian berjalan memasuki pintu utama disambut pelayan yang membungkuk hormat padanya, kemudian naik ke lantai dua, sampai ia berdiri di depan pintu salah satu kamar utama dari rumah itu. Matanya memandang lurus pada pintu, beberapa saat ia tidak melakukan apa-apa, hanya memandang kosong pintu di depannya. Ia mengangkat tangannya, jarinya mengetuk pintu sampai seseorang di dalam ruangan mempersilakannya masuk.
Pintu terbuka dan Mino memandang pria paruh baya di hadapannya. "Ada apa Aboji menelponku? Apakah ada masalah penting? Perusahaan masih berjalan seperti yang kau mau." Ucapannya terdengar dingin, sedingin es, ayahnya mendengar itu dengan jelas.
Ayahnya, Tuan Song, tertawa kecil, ia beranjak dari kursi kerjanya menuju sofa di ruangan itu, "Nak, duduklah dulu, apakah aku menghubungimu hanya boleh karena urusan kantor saja?"
Mino tidak menjawab, ia berjalan ke arah sofa dan duduk di depan ayahnya.
Beberapa saat suasana di ruangan begitu senyap, hanya suara detikan jam yang terdengar. Mino menegakkan duduknya, "Jadi sebenarnya ada apa? Jika aku dipanggil kesini hanya untuk duduk diam seperti ini sebaiknya aku pergi."
Tuan Song menatap anaknya dengan pandangan lembut, seingat Mino ayahnya memang bukan orang yang jahat pada semua orang kecuali ibunya, ayahnya adalah sosok yang ramah di mata publik, laki-laki paruh baya itu juga tidak pernah berbuat kasar padanya, hanya pada ibunya, ibunya seorang yang mendapat perlakuan keji dari ayahnya.
"Kim Jinwoo..." Mino menahan napasnya sejenak setelah nama Jinwoo disebut ayahnya, ia sudah terbayang apa yang akan dikatakan ayahnya.
"Apa kabarnya Kim Jinwoo, Mino?"
"Dia baik-baik saja." Jawab Mino singkat.
"Nak, apakah kau tidak ingin menikah? Menikah... dengan seorang wanita? Aku masih berharap suatu hari kau menikah dan punya anak, hidup normal dengan seorang wanita, bukan menjadi penyuka sesama jenis."
Wajah Mino mengeras, ia menatap tajam ayahnya, "Kalaupun aku normal, aku rasa aku tidak akan menikah, jadi jangan mengharapkan sesuatu yang berlebihan dariku. Kalau Aboji ingin mendapatkan cucu, kau bisa minta pada anak kedua dari istri simpananmu, kan?" Mino berdiri dari duduknya dan merapikan jasnya, "Aku pikir tadi ada pembicaraan penting ternyata pembicaraan yang tidak masuk akal ini lagi yang kau tanyakan, kalau begitu aku pamit." Ucapnya seraya membungkuk dan berjalan ke arah pintu. "Nak, apa ini karena pernikahanku dan ibumu yang gagal makanya kau tidak ingin menikah?" langkah Mino terhenti tetapi tidak berbalik menghadap ayahnya.
Sang ayah melanjutkan bicaranya, "Maafkan aku jika karena itu kau jadi mempunyai trauma masa lalu yang pahit, tapi aku harap kau mempertimbangkan itu lagi, jika kau tidak sanggup bicara pada Jinwoo untuk meninggalkannya, aku akan bantu bicara padanya."
Mino berbalik dan menatap marah pada ayahnya, "Kau pikir kau siapa?! Setelah menghancurkan ibuku, sekarang kau ingin menghancurkan teman hidupku? Jangan bawa Jinwoo dalam masalah ini, ini keputusanku tidak ada sangkut pautnya dengan dia."
Setelah itu terdengar bantingan pintu, Mino pergi dengan marah, ini perbincangan lama yang dulu pernah mereka bahas, Mino benci mendengar itu.
- coup d'etat -
Jinwoo menata makanan di meja, mengurutkan makanan dari main course, appetizer, dan dessert. Wangi makanan begitu menggiurkan, perutnya sudah berbunyi dari tadi, tetapi dia menunggu Mino untuk makan malam bersama. Tangannya dengan lihai menata peralatan makan di meja. Bibirnya tersenyum ketika mendengar pintu rumah terbuka, "Mino, sudah pulang?"
Ia berbalik dan melihat Mino berjalan ke arahnya dengan lesu, tangannya merenggangkan dasi dan membuka satu kancing kemeja paling atas.
"Lelah? Ini aku membuat teh hijau." Ucap Jinwoo sambil menyodorkan cangkir di depan Mino. Laki-laki tan itu menerimanya, tetapi langsung diletakkan kembali di atas meja makan, dan tiba-tiba memeluk Jinwoo, ia menenggelamkan wajahnya pada rambut partnernya, menghirup wanginya yang menenangkan.
Jinwoo mengernyit bingung, ia membalas pelukan Mino, mengusap punggungnya dengan lembut, "Ada apa?" tanyanya pelan. Mino menggeleng pelan dan jawabannya masih seperti biasanya, "Tidak ada apa-apa." Mino melepaskan pelukannya dan berjalan ke ruang kerjanya.
"Mino, ayo kita makan dulu."
"Makan duluan saja, aku belum lapar." Jawab Mino tanpa berbalik
Jinwoo menatap makanannya dengan sedih, dari sore dia sudah menyiapkan makan malam, berharap ketika laki-laki yang dia cintai itu pulang dan mereka bisa makan malam bersama. Jinwoo berjalan ke ruang kerja Mino, membuka pintunya, dan melihat laki-laki itu sedang berkutat pada laptop.
"Mino, sebaiknya makan dulu, urusan kerja bisa nanti."
"Nanti saja." Jawab Mino singkat.
"Ada apa sebenarnya?"
"Tidak ada apa-apa."
Jinwoo mendekati laki-laki tan itu, "Mino tidak bisakah kau membagi masalahmu denganku? Apa kau tidak percaya padaku? Mungkin dengan berbagi bebanmu bisa—"
"Kim Jinwoo! Sudah kukatakan tidak ada masalah apa-apa, jadi apa yang harus aku katakan?"
Jinwoo tertegun sejenak, "Baiklah, aku akan keluar sebentar, jika ada apa-apa kau bisa menelponku." Ia langsung berbalik tanpa menunggu balasan dari Mino.
Mino menghembuskan napas dengan kasar, ia mengacak rambutnya, hari ini benar-benar melelahkan. Ia mencoba meneruskan pekerjaannya, mencoba mulai mengetikkan sesuatu pada laptop tetapi beberapa detik kemudian ia menutup laptop dengan kasar tanpa mematikannya terlebih dahulu. Mino menenggelamkan wajahnya diantara lipatan tangannya di atas meja, matanya mulai berat dan tertidur di meja.
- coup d'etat -
Berkali-kali Seungyoon mencoba menghubungi Taehyun tetapi tetap tidak ada jawaban, ini sudah larut malam, semua pesan LINE yang dia kirim untuk Taehyun hanya dibaca tanpa dibalas. Seungyoon duduk di pinggir tempat tidur mencoba mengatur emosinya.
Taehyun-ah dimana? Read 21:31
Nam Taehyun, kau dimana? Read 21:59
Apa yang kau lakukan? Kau dimana? Read 22:10
Sebenarnya apa yang kau lakukan?Read 22:30
Kau membaca pesanku tetapi kenapa tidak membalas?Read 23:00
Kau membuatku khawatir. Angkat teleponmu sekarang juga! Read 23:05
Maafkan aku jika aku salah, sekarang pulanglah Read 23:10
Aku Mohon Read 23:11
Ia membuka ponselnya lagi mencoba menghubungi Taehyun kembali, tetapi bel apartemennya berbunyi, ia mengernyitkan dahinya, "Siapa malam-malam begini? Apa Taehyun lupa password pintu?"
Ia mengambil sweaternya di lemari dan bergegas membuka pintu apartemen, ia terkejut melihat siapa yang datang. "Jinwoo-hyung!"
Seungyoon menebak pasti Mino dan Jinwoo sedang ada masalah lagi, Seungyoon hampir tidak habis pikir dengan mereka berdua, terlebih pada Mino.
"Biar kutebak, kalian bertengkar lagi? Sekarang kenapa?" Seungyoon mengajak Jinwoo duduk di sofa ruang keluarga sambil menghidupkan musik dari CD Player dengan volume pelan. Jinwoo duduk di samping Seungyoon dan meletakkan kepalanya di bahu Seungyoon. Seungyoon mengelus kepala Jinwoo dengan lembut, ia mengerti laki-laki di sampingnya ini sedang sedih dan Seungyoon tidak bisa membiarkan dia sedih.
"Seungyoon..."
"Hmm..."
Beberapa saat kesunyian menyelimuti mereka, lalu telinga Seungyoon menangkap suara isakan tangis pilu dari laki-laki di sampingnya, ia memejamkan mata, ia bisa merasakan pedih yang dirasakan Jinwoo, tangannya masih setia mengelus kepala laki-laki itu.
"Seungyoon, kenapa Mino tidak pernah percaya padaku? Dia selalu menyimpan semuanya sendirian. Apakah penantianku hanya sia-sia? bertahun-tahun bersamanya tetapi dia tidak pernah membagi kesedihannya padaku. Kadang aku berpikir apakah dia tidak sedikitpun menganggap aku ada?"
Jujur Seungyoon tidak tau harus menjawab apa, yang bisa ia lakukan hanya mengeratkan pelukannya pada Jinwoo. Laki-laki berambut coklat itu mengangkat kepalanya dan menatap Seungyoon. "Yoon-ah, apa aku harus mundur dan menyerah?" katanya dengan lirih
Seungyoon menghapus air mata laki-laki bermata rusa itu dengan lembut. "Kau bisa menyerah kapanpun kau merasa tidak sanggup lagi, hyung." Seungyoon menatap mata itu begitu indah, kilatan masa lalunya dengan laki-laki itu terlintas dipikirannya, saat ia menganggap Jinwoo adalah miliknya, saat ia menganggap laki-laki itu memiliki perasaan yang sama terhadapnya, saat sebelum ia tau ternyata laki-laki di sampingnya itu lebih memilih bersama sahabatnya daripada bersama dirinya.
Laki-laki di hadapannya ini begitu indah, mata rusanya yang masih berair, hidung, pipi dan bibirnya yang memerah karena habis menangis. Seungyoon mendekatkan wajahnya menghapus jaraknya dengan Jinwoo, ia dapat merasakan hangatnya nafas Jinwoo yang menerpa wajahnya...
Di belakang mereka, Taehyun menghapus air matanya, ia berbalik perlahan dan keluar dari apartemen, sungguh, dia tidak sanggup melihat itu. Ia mulai berpikir, apakah selama ini dirinya hanya pelarian Seungyoon? Apakah Seungyoon masih mencintai Jinwoo?
- coup d'etat -
Tiba-tiba Seungyoon melepas pelukannya pada Jinwoo, dia menyadari ini salah, ini salah jika tadi dia benar-benar mencium Jinwoo. Pikirannya mulai kacau,
"Hyung, maafkan aku."
Jinwoo tersenyum dan beranjak dari duduknya, "Baiklah, aku pulang dulu."
Mereka berjalan ke pintu bersama, Jinwoo berbalik dan berkata, "cintai Taehyun sepenuh hatimu, jangan berpikir untuk berpaling." Jinwoo mengusap bahu Seungyoon, "Aku mencintaimu dari dulu, sekarang dan selamanya sebagai seorang adik."
Seungyoon tersenyum dan mengangguk. "Hati-hati di jalan Hyung."
Setelah Jinwoo pergi, Seungyoon merogoh ponselnya di kantung celananya mengecek tidak ada satupun panggilan atau pesan singkat dari Taehyun. Ia melihat ke jendela besar apartemen, salju di luar sangat lebat, ia ke kamar mengambil mantel musim dingin dan kunci mobilnya.
Seungyoon berkeliling mendatangi tempat-tempat yang biasa Taehyun kunjungi seperti mall, sungai Han, rumah teman-temannya, tetapi tidak ada, Taehyun tidak punya keluarga di Korea semua keluarganya di Jepang. Seungyoon mulai frustasi.
Lampu lalu lintas menunjukkan warna merah, ia mengusap wajahnya kasar dan meletakkan kepalanya pada lingkaran setir mobil, ia mulai lelah, badannya sakit semua setelah bekerja seharian di kantor dan matanya lelah tidak tidur terhitung sejak kemarin malam, dari kemarin malam menyelesaikan deadline hingga pagi dan pagi hari ia harus berangkat ke kantor lagi, sampai malam ini belum ada satu menitpun ia tidur.
Seungyoon mengangkat kepalanya, mengedarkan mata di jalanan sekitar, tiba-tiba matanya menangkap siluet laki-laki yang ia kenal sedang duduk di taman kota, buru-buru ia memutar mobil. Seungyoon mendekati laki-laki itu perlahan, semakin dekat sekarang ia yakin itu Taehyun. ia berdiri dihadapan Taehyun yang sedang menggigil, Seungyoon berlutut dihadapannya dan memeluk laki-laki itu. Setelah beberapa saat, ia melepas pelukannya dan membersihkan salju yang jatuh di atas kepala Taehyun, tangannya turun mengusap pipi kekasihnya yang memerah karena dingin.
"Ayo pulang." Ucapnya lembut. Seungyoon tidak mengerti sama sekali apa yang terjadi pada kekasihnya, tadi ia sangat marah karena Taehyun pergi tanpa bilang dan ketika dihubungi berkali-kali tidak menjawab, tetapi melihat keadaan Taehyun seperti ini, dia yakin ada yang salah pada laki-laki itu, hanya saja, dia belum berani bertanya sekarang, jadi Seungyoon hanya menarik Taehyun berjalan memapahnya menuju mobil.
- coup d'etat -
Taehyun menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Seungyoon di dapur, rutinitasnya setiap pagi sebelum mereka berangkat ke kantor. Tangannya mencuci sayuran dan matanya melirik daftar bahan makanan yang harus dia beli hari ini. Tiba-tiba sepasang tangan hangat merengkuh perutnya dan satu kecupan mendarat di tengkuknya, ia memejamkan mata, sejenak ia membiarkan dirinya terhanyut dalam kehangatan itu. Tetapi ia tersadar, Taehyun membuka mata, melirik tangan itu lalu melepasnya kemudian berjalan ke kulkas dengan diam. Seungyoon memandang Taehyun dengan keheranan, dirinya benar-benar lelah jadi sementara dia membiarkan itu dan memutuskan untuk bertanya nanti pada kekasihnya.
Mereka mulai memakan sarapannya, keduanya makan dalam diam, terasa sangat sunyi, hanya suara garpu dan pisau roti beradu dengan piring yang terdengar. sampai Taehyun membuka suara.
"Hyung, aku ingin pindah."
Seungyoon mengangkat kepalanya, "Apa maksudmu?" ia meletakkan garpu dan pisau rotinya di piring dan menatap Taehyun intens.
"Aku ingin pindah ke apartemen yang dulu pernah ku beli, hidup mandiri, lagipula sayang jika apartemen itu hanya dibiarkan kosong."
"Sebaiknya tidak usah, tetap disini, aparetemen itu bisa kau jadikan investasi untuk disewakan, jadi tidak sia-sia."
"Tetapi aku sudah memutuskan untuk pindah. Kalau kau kerepotan mengurus rumah sendirian, menyiapkan sarapan pagi, dan makan malam kau bisa memanggil pelayan yang full time dari pagi hingga malam, kan?"
Seungyoon terlihat tidak suka dengan perkataan Taehyun, "Bukan masalah itu Taehyun. Ya, kau benar! aku bisa menyewa 10 pelayan bahkan 100 hanya untuk apartemen ini. Tetapi bukan itu masalahnya, kau hidup di Korea sendiri, semua keluargamu di Tokyo, jadi aku punya kewajiban menjagamu."
Taehyun mendengus dan tersenyum miring. "Hyung, sungguh, kalau kau merasa itu adalah kewajiban karena permintaan orang tuaku, itu hanya masalah kecil, aku bisa bicara dengan mereka."
"Taehyun, kenapa kau keras kepala sekali? Kita akhiri pembicaraan ini, aku sungguh lelah sejak kemarin."
"Maafkan aku Hyung, aku memang orang yang keras kepala, tidak seperti Jinwoo-hyung yang penyabar, makanya kau pernah atau masih mencintainya."
Seungyoon menatap nanar pada Taehyun. "Ada apa sebenarnya denganmu Taehyun? Kenapa jadi membicarakan masalah itu?"
Taehyun bangkit dari duduknya, meletakkan piring bekas makan di sink cuci piring, setelah itu melewati Seungyoon yang masih menatapnya. Ia mengambil kunci mobil dan tas kerjanya kemudian keluar apartemen tanpa mengatakan apa-apa pada Seungyoon. Seungyoon hanya menatap kepergiannya, ia menghembuskan napas lelah dan memijat batang hidungnya. Ia berharap Taehyun tidak sungguh-sungguh dengan perkataannya.
- coup d'etat -
Jam dinding menunjukkan pukul 19.00, mereka berlima masih berkumpul di ruang rapat setelah rapat direksi secara mendadak dilaksanakan karena mendapat berita kalau proyek mereka di Pulau Jeju akan segera digusur minggu depan. Setiap orang masih fokus pada pemikirannya masing-masing, sibuk pada kegiatannya sendiri.
Seunghoon menegakkan duduknya, ia memukul-mukul dadanya dan mengerang putus asa. "Bagaimana ini? Kenapa aku jadi frustasi begini?" wajahnya terlihat menyedihkan, tidak terlalu jauh dengan wajah keempat orang lainnya. "Jinwoo-hyung, kau yakin orang yang melakukan ini si brengsek itu?"
"Aku tidak terlalu yakin 100% tetapi semua bukti-bukti dan pencaharian menjurus ke arah orang itu."
"Siapapun orangnya, dengan cepat kita harus menghentikan semua ini, perusahaan bisa rugi besar jika proyek itu dihentikan." Taehyun melipat tangannya di dada dan melanjutkan, "dan yang lebih fatal, investor tidak akan percaya pada perusahaan ini lagi." Semua mengangguk setuju, otak mereka dipaksa berpikir keras, dan waktu seminggu itu bukan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan masalah ini.
Ponsel Mino tiba-tiba berdering, ia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Keningnya berkerut ketika nomor tidak dikenal terpampang di layar ponselnya. Ia menggeser tanda hijau dan meletakkan ponsel di telinganya.
"Selamat malam, Tuan Song Mino, Apa kabar? Lama tidak berjumpa. Anda sedang sibuk ya pastinya." Ucap suara di seberang telepon.
Mino terbelalak, ia mengenal suara ini dengan baik, sedetik kemudian ia menyeringai dan tertawa remeh, "Zico-ssi, tepat sesuai dengan dugaan, kau yang berada di balik semua ini." Keempat temannya membaca kode tangan Mino yang menyuruh mereka merekam jejak orang di seberang telepon. Mino memasang mode loudspeaker dan menunjukkan nomor yang Zico pakai. Taehyun mencatat nomor itu dan keluar ruangan untuk menghubungi badan intelijen untuk melacak nomor tersebut.
"Hei hei, ada apa ini? aku hanya merindukan teman lamaku, kenapa kau menuduhku macam-macam?" Ucap Zico di ujung telepon, suaranya terdengar menggelikan di telinga Mino.
"Tidak usah berlagak bodoh, Zico. Hentikan semua ini sebelum pistol yang kau todongkan kepada korbanmu justru berputar balik mengarah tepat di kepalamu."
Zico tertawa keras, "Kita lihat nanti Song Mino." Setelah itu sambungan terputus.
Taehyun masuk kembali ke ruangan dengan membawa beberapa lembar kertas di tangannya, semua berkumpul mengelilingi Taehyun. "District Gwangjin No. 1D ini daerah pinggir kota dengan kepadatan penduduk terendah, daerah ini sangat sepi."
"Ya, benar, daerah ini daerah yang jarang terjadi kejahatan atau tindak kriminal." Sahut Jinwoo, ia menegakkan duduknya, dan melanjutkan, "Dan maka dari itu, sudah pasti daerah ini merupakan daerah yang jarang adanya keberadaan polisi, paling hanya polisi-polisi patroli yang berkeliling setiap lima jam sekali, bahkan terkadang tidak ada patroli sama sekali."
Seungyoon melihat ke kanan dan ke kiri, menatap teman-temannya. Ia menjentikkan jarinya, tiba-tiba ide muncul di otaknya yang sudah hampir lumpuh.
"itu artinya bisa dibilang dia berada di daerah semi terisolasi kan?" Seungyoon menyeringai, "Kalau dia menggunakan cara curang dari belakang untuk mengancam kita, kita gunakan cara dari depan untuk mengancam dia."
"Bagaimana caranya?" tanya Seunghoon
"Nanti kalian akan tau, setelah aku dapat memastikan dimana dia berada."
