Judul: One Week with you
Pairing: Rabin / Rabean / Ravi-Hongbin
Disclaimer: VIXX bukan milik saya.
Genre: Humor dan Romance
Rated: T
Warning: Seperti biasa,Ini fanfic gaje dan banya typo bertebaran. EYD tidak sempurna. Humor gagal. Ini fanfic yaoi atau Boys Love. Jadi jika tidak bisa/tidak ingin baca/mual untuk membacanya baca,jangan baca,sebelum terlambat. Jika nekat,tanggung sendiri akibatnya. ^_^
DON'T READ IF YOU NOT LIKE THIS STORY!
HAPPY READING GUYS…
.
.
.
.
.
Setelah acara perkenalan tadi,mereka berdua -Ravi dan Hongbin- duduk diruang tengah sambil menonton tv. Mungkin lebih tepatnya,hanya Ravi yang menonton tv. Sedangkan Hongbin,jangan tanyakan anak itu. Dia masih belum percaya bahwa 'idola'nya kini ada disampingnya. Berdua. Didalam rumah Hongbin saat ini.
Mungkin jika Hongbin seorang gadis,dia akan berteriak tak jelas sambil loncat-loncat,tapi berhubung dia adalah laki-laki yang tampan,dia harus menjaga image-nya.
Kembali kecerita,Hongbin masih diam. Tidak mencoba berbicara kepada pemuda disampingnya. Bukannya Hongbin tidak mau,dia saat ini sedang menenangkan jantungnya yang sedang ramai seperti pasar.
Ravi yang merasa aura diruang tengah saat ini tidak mengenakkan,segera mengalihkan pandangannya ke arah samping. Ravi melihat pemuda yang merupakan anak teman sahabat orang tuanya,saat ini sedang tegang. Lebih tepatnya gugup.
"Ehm,apa kau merasa takut denganku?"tanya Ravi sambil memandang khawatir anak disampingnya.
"Hah?Ti-tidak,tenang saja. Hahaha."jawab Hongbin sambil tertawa hambar. Masalahnya saat ini Hongbin bukannya takut,tapi gugup. Namun,pemuda disampingnya berpikir bahwa Hongbin takut.
"Benarkah?syukurlah. Aku takut jika dirimu takut padaku. Memang banyak orang saat melihat wajahku langsung takut,tapi sebenarnya aku ini baik."
Hongbin menjawabnya dengan anggukan kaku,lalu mengalihkan pandangannya ke depan,berusaha untuk fokus menonton tv.
Suasana ruang tengah kembali diselimuti kecanggungan dan keheningan. Tidak ada satupun dari mereka yang memulai pembicaraan,untuk mencairkan suasana saat ini. Mungkin keduanya sibuk dengan urusan masing-masing.
Seperti saat ini,Ravi sedang sibuk berkutat dengan iphone miliknya. Sedangkan Hongbin,dia sedang sibuk menonton tv.
"Hongbin-ah,aku keluar sebentar. Ada urusan di studio tempatku bekerja. Apa tidak apa-apa,jika kau ku tinggal sebentar?"tanya Ravi sambil memandang Hongbin.
"Nde,tidak apa-apa. Pergilah."jawab Hongbin yang tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari televisi.
"baiklah,aku pergi sebentar. Mungkin aku akan kembali sebelum makan siang."ucap Ravi sambil bangkit dari sofa ruang tengah.
Hongbin tetap duduk dengan tenang,sambil menonton tv dengan serius. Hongbin tidak melihat Ravi,ke arah pintu keluar. 'mungkin sedang mengambil barangnya'. Pikir hongbin.
Dan ternyata benar dugaan Hongbin. Terbukti dengan suara jejak kaki yang sedang menuruni tangga dari lantai atas.
Ravi yang sudah mengambil beberapa barang di kamar'nya',segera pergi kearah pintu keluar,namun sebelum pergi dia menyempatkan untuk melihat apa yang sedang dilakukan hongbin. 'Masih sama'pikirnya. Hongbin masih melihat tv dengan serius. Padahal tayangan yang dia tonton adalah channel yang khusus menjual produk-produk dalam negeri. Dan saat ini,tayangannya sedang menawarkan produk pakaian dalan wanita. Sebuat saja celana dalam dan B*.
Ravi mengernyitkan dahinya heran. Apa dia seserius itu saat menonton tayangan pakaian dalam?apa dia tidak sadar atau memang berencana untuk membelinya? Ravi awalnya berpikir mungkin Hongbin menontonnya karena tertarik. Tapi,dari tadi dia hanya memendang tv serius,seakan-akan sedang menonton berita cuaca.
"Hongbin-ah."ucap Ravi pelan.
Hongbin membalasnya dengan gumaman. Dia masih sibuk memandang televise yang menampakkan seorang wanita sedang berlenggak-lenggok mengenakan pakaian dalam berwarna merah marun.
"Apa hormonmu sedang meningkat?" tanya Ravi yang masih agak khawatir dengan keadaan Hongbin.
"Tidak."jawab Hongbin dengan cepat yang masih serius memandangi tvnya, yang sekarang masih menampilkan tayangan pakaian dalam.
"Tapi kenapa kau menonton acara produk pakaian dalam wanita?apa kau berencana membelinya?"tanya Ravi heran.
Hongbin yang bingung,segera menengok kebelakang sofa,dengan pandangan bingung.
"Itu yang kau tonton,apa kau mau membelinya?atau hanya untuk memuaskan hasrat hormonmu yang meningkat?"tanya Ravi sambil menunjuk tv dengan dagunya.
Hongbin yang heran,segera kembali mengalihkan pandangannya kea rah tv. "Pakaian dalam?"gumam Hongbin.
Wajah Hongbin langsung memerah menahan malu. Jadi selama,satu jam ini dia menonton acara produk pakaian dalam wanita? Hongbin segera menundukkan wajahnya malu. Wajahnya saat ini sudah mirip kepiting rebus,hingga menjalar hingga telinganya.
Ravi yang tidak mendapat respon,memajukan badannya untuk melihat wajah Hongbin. Ravi menahan tawanya,saat melihat wajah Hongbin yang memerah.
"Lain kali,jika mau menonton tv lihatlah acaranya lebih dulu. Jangan asal tonton seperti tadi,oke?hahaha,kau sangat menggemaskan,Hongbin-ah."ucap Ravi sambil tertawa renyah dan berlalu pergi ke arah pintu keluar.
Setelah mendengar bunyi pintu telah tertutup,Hongbin segera menaikkan wajahnya.
"Oh,andwae….bagaimana bisa aku menonton acara pakaian dalam?hancurlah imageku,dan lagi dia tertawa melihat tingkahku. Dia menertawainya…..andwae….andwae….eommaa…..reputasiku hancur."teriak Hongbin sambil berguling-guling diatas sofa dan mengacak-acak rambutnya frustasi.
Orang gila juga pasti sadar apa yang ditonton Hongbin tadi. Jika hanya 15 menit atau beberapa menit tidak apa-apa. Ini masalahnya Hongbin menonton tayangan tak bermutu tadi selama 1 jam. Bayangkan,orang mana yang menonton tayangan tak senonoh macam tadi,selama 1 jam. Kecuali orang itu adalah orang mesum. Sedangkan Hongbin,dia bukanlah pemuda mesum. Dia anak baik-baik. Bahkan dia tidak pernah menonton video por*o. Pasti saat ini,Ravi sudah berpikir bahwa Hongbin adalah pemuda mesum.
Hongbin mengacak frustasi rambutnya. "TIDAAKKK"teriak Hongbin yang menggelegar seisi rumah.
Ingatkan Hongbin untuk mengganti mukanya nanti.
OoO
Sudah pukul 1 siang. Dan sudah beberapa jam semenjak kejadian yang 'memalukan' tadi. Rasanya Hongbin ingin menceburkan dirinya ke laut dan menenggelamkan dirinya. Tapi,karena Hongbin masih sayang nyawa maka niatnya dia urungkan. Lagipula dia harus meraih hati seorang Kim Wonshik.
Hongbin sudah mengganti seragam sekolahnya,dengan kaos berlengan panjang berwarna pink dan celana pendek selutut. Serta rambut pinknya yang sedikit berantakan,menambah kesan manis dan menggemaskan pada diri Hongbin.
Saat ini,dia sedang memasak sup daging dan sushi untuk menu makan siang kali ini. Hongbin membuat masakan yang sederhana,karena dia belum terlalu mahir dalam memasak yang rumit-rumit. Namun,masakannya masih aman untuk dikonsumsi kok.
Setelah mematikan kompornya,Hongbin menuangkan sup daging ke dalam mangkuk saji. Dan meletakkannya diatas piring. Semua menu yang dimasak sudah jadi. Hanya tinggal disantap. Namun,Wonshik –itu panggilan Hongbin kepada Ravi- belum datang juga. Dan Hongbin,tidak memiliki nomor Ravi.
Hongbin menghela nafas pelan. Mungkin kali ini dia harus makan sendirian. Hongbin menudukkan kepalanya untuk berdoa. Beberapa detik kemudian dia menaikkan kepalanya kembali dan mengambil sumpit yang berada di samping mangkuk nasinya.
"Selamat makan" gumam Hongbin. Lalu Hongbin menyantap makan siangnya dengan tenang. Tiba-tiba suara dobrakan pintu terdengar. Hongbin tersedak,saat terkejut mendengar suara dobrakan pintu rumahnya. Dia segera mengambil gelas air minum yang berada di depannya.
"Hah…hah….hah…maafkan aku,Hongbin-ah. Aku sedikit terlambat. Tadi jalanan sedikit macet. Maafkan aku."ucap seseorang yang ternyata adalah Wonshik. Hongbin yang melihat tampang Wonshik yang lelah dan juga peluh yang ada di wajah Wonshik,sedikit iba.
Setelah itu,Ravi segera duduk dan meraih gelas dan menuangkan air minum secara terburu-buru. Dan segera meminumnya,seperti orang yang belum pernah minum.
Kemudian,Ravi menyusul Hongbin untuk makan,setelah berdoa tentunya.
"Wonshik."ucap Hongbin pelan.
"Apa?"
"kau habis lari?"tanya Hongbin sambil memasukkan sushi buatannya kedalam mulutnya.
"Iya. Ada apa?"tanya Ravi sambil melihat wajah Hongbin.
"Tidak apa-apa. Dan kenapa kau lari?"tanya Hongbin lagi.
"Karena aku takut membuatmu menunggu. Dan ternyata kau memang menungguku. Syukurlah,aku tiba dirumahmu tepat waktu."jawab Ravi sambil tersenyum.
Hongbin yang mendengar alasan Wonshik,hanya memerah malu. Hongbin tidak bisa menahan senyumnya saat mendengar alasan Wonshik yang menurut Hongbin –romantis-
"Dan kenapa kau memanggilku 'Wonshik'?tanya Ravi sambil menahan senyumnya.
"Aku agak tidak nyaman saat memanggilmu 'Ravi'. "jawab Hongbin sambil memandang Wonshik dengan malu-malu.
"Benarkah? Biasanya teman-temanku memanggil aku 'Ravi' dan hanya orang terdekatku saja yang memanggilku 'Wonshik' ".ujar Ravi sambil tersenyum.
"Benarkah? Kalau begitu aku panggil 'Ravi' saja. Kan aku bukan orang terdekatmu."ucap Hongbin dengan nada bergetar. Wonshik dapat melihat jika Hongbin saat ini kecewa. Wonshik semakin tersenyum lebar mendapati reaksi pemuda dihadapannya saat ini yang kelewat manis.
"Tidak apa-apa. Kau boleh memanggilku 'Wonshik'. Lagipula kau kan akan menjadi calon orang terdekatku." Ujar Ravi sambil tersenyum lembut,yang membuat Hongbin langsung terpesona.
Hongbin mengangguk kaku,lalu melanjutkan acara makan siangnya tadi. Mungkin saat ini Hongbin ingin sekali berteriak kepada dunia,bahwa Hongbin yang merupakan makhluk berwajah datar,saat ini sedang makan siang berdua di rumahnya dengan pemuda tampan didepannya. yang disukai Hongbin ,karena Hongbin sedang makan dan tidak mungkin juga dia berkoar-koar didalam rumahnya sendiri saat ini,dia memutuskan untuk menurungkan niatnya,dan dia tidak ingin image-nya hancur lagi seperti kejadian tadi pagi.
"Hongbin-ah"ucap Ravi pelan.
Hongbin mengalihkan pandangannya kearah orang yang sedang memanggilnya.
"Nde?"tanya Hongbin sambil berusaha menutupi semburat merah muda dipipinya ,yang sangat kontras dengan warna kulitnya.
Ravi yang melihat semburat merah muda di wajah Hongbin,hanya tersenyum kecil. "Setelah ini,maukah kau pergi denganku?"tanya Ravi sambil tersenyum.
"K-kemana?"
"Taman bermain."
Hongbin yang mendengar perkataan Ravi,segera menganggukkan kepalannya cepat. Tidak mungkin kan jika Hongbin menolak ajakan –kencan- dari orang yang selalu dia lihat setiap hari dari balkon kamarnya setiap pagi. Mungkin Hongbin sadar jika ini bukan ajakan kencan,tapi apa salahnya jika dia menganggapnya begitu kan? Hongbin tersenyum manis sambil memandang mata elang Ravi,dan kembali menyantap makananya sambil tersenyum senang. Ingatkan Hongbin untuk berterima kasih kepada ibunya,sepulang dari pulau Jeju nanti.
TBC/END?
NB: maaf sebelumnya,natsu masih bingung mau nulis nama Ravi pake nama 'Ravi' atau 'Wonshik'. Jadinya,ada beberapa kalimat yang ada kata Ravi dan wonshik. Rencana natsu,'wonshik' buat panggilan hongbin aja. Tapi,natsu agak aneh kalo nulis 'ravi'. Trus natsu harus nulis pake nama 'ravi' atau 'wonshik'? mohon sarannya yahh… dan bagi yang berkenan,mohon tinggalkan unek-unek kalian di kolom review.. Jaa!
