17 R
Cast : Jungkook,Jimin,and other cast.
Warning : cerita abal,gak nyambung,membingungkan,BL,Yaoi,typo bertebaran.
.
.
.
DON'T LIKE,DON'T READ!
Langsung aja,cekidot…
.
.
"… Selanjutnya,ramalan zodiac hari ini. inilah peruntungan anda!" suara siaran TV pagi ini,menjadi tontonan utama Jungkook kali ini. Menontonnya dengan serius sambil sesekali menyantap sarapannya.
"Zodiak Leo,ramalan cinta hari ini sangat beruntung! Kesempatan untuk menyampaikan perasaanmu! Dan untuk zodiac Virgo,peruntungan kamu akan dilanda badai kesedihan besar yang bisa menghancurkan segalanya."
"Tetapi,kamu akan-"
PIP
Jungkook segera mematikan TV nya cepat,dan melemparkan remotenya asal. "Ck. Jangan bercanda." Gumam Jungkook sambil meminum susu dengan tenang. Setelah itu dia bangkit dan mengambil tasnya. Namun tiba-tiba sesuatu terjatuh dari dalam tasnya.
"Aku lupa menyerahkannya."gumam Jungkook saat melihat surat cintanya lupa ia berikan.
'Mungkin yang kemarin itu hanya akan jadi kisah lampau.'
.
.
.
"Jimin."teriak seorang yeoja sambil menepuk pelan punggung Jimin.
"Kemarin aku lihat kamu jalan bersama cewek SMA,lho. Kalau terlalu aktif nanti kau sakit,lho."lanjut yeoja itu yang sekarang sudah berjalan beriringan dengan Jimin.
"Hoaam,cerewet. Pergi sana."ucap Jimin ketus sambil berlalu pergi dengan cepat.
"Ah! Pagi,Ketua!"sapa yeoja itu kepada Jungkook. "Selamat Pagi."balas Jungkook datar.
"Ketua,hari ini aku lupa mengerakan pr. Lihat catatanmu,ya?"ujar yeoja itu sambil memasang aegyo seimut mungkin.
"Tidak boleh."
"Huu!"
Setelah menolak permintaan yeoja itu,Jungkook berlalu pergi kearah lokernya.
"Ketua itu memang menarik,ya. Sudah tampan,murid teladan tapi masih mau meladeni kita. Sepertinya dia sangat suka menyendiri."ucap yeoja itu sambil menggandeng yeoja lain.
Setelah kedua yeoja itu pergi,Jimin keluar dari tempat persembunyiannya dan pergi kearah loker. Melihat 'Ketua Kelas'yang sedang membuka lokernya dengan tenang.
CREK CREK
"Lokernya rusak. Ada yang memukul loker ini sampai rusak,ya. Sedihnya."gumam Jungkook yang akan segera pergi. Namun kegiatannya terhenti saat,mendapati sepasang lengan kokoh melingkar dibahunya.
BRAK
"Ketua,kenapa kau cuek padaku?"bisik Jimin ditelinga Jungkook,sambil memukul loker Jungkook yang macet tadi.
"Eh,h-hentikan."
'Bukan kah hari ini peruntungan cintaku sedang sial?'batin Jungkook.
"JIMIN"
Jungkook dan Jimin terkejut,dan spontan menengokkan kepalanya ke asal suara. "Dan Ketua Kelas. Kalian sedang apa?" tanya seorang guru yang memakai kacamata google tebalnya dan poni yang menutupi kedua matanya.
"Akulah yang menyerang Ketua."ucap Jimin dan segera melepaskan pelukannya dari Jungkook. Jungkook menghela nafas pelan,mendengar pernyataan yang sama seperti kejadian jendela beberapa waktu itu.
'Lagi-lagi.'
Setelah itu,Jimin dan guru berkacamata googlenya pergi ke ruang guru. Meninggalkan Jungkook yang memandang sendu punggung Jimin.
.
.
.
"Jimin,bagaimana dengan formulir penjurusanmu?"tanya namja berkacamata google itu tenang.
"Sudah kutulis,kok."
"Apa ini? ya sudahlah. Berjuanglah. Tapi jangan mesra-mesraan lagi di sekolah."balas namja berkacamata google serta poni yang hampir menutupi kedua matanya itu,yang sedang memegang kertas bertuliskan, 'Aku sama dengan ketua.'
"Bapak setuju denganku? Tidak kusangka."ujar Jimin sambil membaringkan tubuhnya di sofa.
Beberapa saat suasana hening. Mereka berdua sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. "Eh… menurut bapak,Ketua suka padaku,tidak?"tanya Jimin sambil memandang lekat wajah gurunya itu,yang terkesan aneh dan tak terawat.
"Mana kutahu."
Jimin menghela nafasnya pelan. Setelah urusannya dengan gurunya selesai,dia segera bangkit dan pergi ke kelasnya.
.
.
.
PRANG
"Yah,lagi-lagi pecah. Jendela sekolah yang malang." Ucap namja yang sedang memegang pemukul baseball dengan tenang.
"SUARA APA BARUSAN?! AH! LAGI-LAGI JENDELANYA PECAH!"teriak seorang guru yang tiba di depan pintu kelas.
"ULAH SIAPA INI?!"
"Jimin,Saem."
"KEMANA DIA?!"
"Tidak tahu,Saem."
Jungkook yang mendengar ucapan namja itu,seketika Jungkook mengepalkan kedua tangannya erat.
"Pelakunya bukan Jimin."ucap Jungkook datar. "Hah?"
"K-ketua? Semua juga lihat,kok."bisik seorang yeoja ke telinga Jungkook.
"Jimin tidak akan marah karena hal ini."ucap namja yang merupakan pelaku pecahnya jendela kelas tadi,sambil menyeringai.
"Soalnya,Ketua menyukai Jimin sih,ya kan?"lanjut namja itu lagi. "Ketua kelas yang teladan,barusan kami lihat ketua dan Jimin bermesraan,lho."lanjutnya lagi sambil menyeringai lebih lebar.
"EEH?!"teriak semua yeoja di kelas itu taerkejut. "Benarkah itu,ketua?!"
"Padahal aku percaya padamu,ketua! Aku tidak tahu kenapa aku percaya,tapi aku percaya padamu!"
"Kami terlanjur menilai ketua dari tampilan saja."
Semua yeoja mengerubungi Jungkook dan mendorong-dorong bahu Jungkook. Jungkook hanya diam saja,tak menanggapi ucapan semua temannya.
CKLEK
Semua mata teralihkan kearah pintu kelas. Jimin baru saja tiba,dan melihat Jungkook di geromboli semua yeoja.
"Ah,Jimin!"teriak seorang yeoja sambil menghampiri Jimin. "Kau tidak tahu batasan. Kau serius mengincar Ketua?!"
Jimin yang ditanya hanya diam sambil memandang datar teman-temannya. "Ketua adalah bintang harapan kami!"
"Duniamu dan Ketua itu beda sekali. Ketua sudah kau apakan saja,Hah?! Jawab!"
Semua murid memandang Jimin kesal. Jimin menghiraukan semua pandangan teman-temannya,dan berjalan tenang mendekati Jungkook.
"Ketua,sudah 'kumakan'."ucap Jimin tenang sambil merangkul pinggang ramping Jungkook.
Jungkook terkejut saat mendapati lengan Jimin melingkar dipinggangnya. 'Dia membuat dirinya sebagai pihak yang bersalah.'batin Jungkook sambil memandang lekat wajah tampan Jimin. Dan entah mengapa,wajahnya tiba-tiba memanas dan jantungnya begitu ramai didalam sana.
"DASAR RENDAHAN!"
"Suasananya agak menyebalkan. Pulang,ah."
"MATI SAJA KAU,JIMIN."
Semua siswa di kelas Jungkook saat ini menyalahkan Jimin. Jungkook merasa kesal dengan namja yang sudah memulai ini semua. Siapa lagi kalau bukan,pemecah jendela. 'Sialan.'batin Jungkook geram.
"Apa kau mengerti,ketua? Tidak usah aneh-aneh. Kerjakan saja tugasmu sebagai ketua kelas."ucap namja yang sudah membuat Jungkook kesal.
"DIAM."ujar Jungkook dengan suara dingin,datar dan berat sambil mengambil gunting di atas mejanya. "Kalau kau bicara lagi,kugunting mulutmu."lanjut Jungkook sambil memandang tajam namja itu,disertai gunting yang mengarah ke depan mulut namja itu.
"KETUA?!"
.
.
.
"Ketua,tidak boleh pakai gunting sembarangan."ucap seorang guru berkacamata google tebalnya yang bertampang aneh dan tak terawat.
"Saem,aku ini terlihat seperti apa?"tanya Jungkook sambil menundukkan kepalanya. "Apakah aku terlihat serius? Serius itu yang seperti apa?"lanjut Jungkook sambil meremas lututnya.
"Apa karena potongan rambutku? Aku sangat suka rambutku yang menutupi dahiku,jadi aku tidak memotongnya. Ah,apa karena berpakaian lengkap dan rapi? Aku tidak menyukai jika seragamku berantakan. Aku ingin jadi ketua kelas karena selalu terpilih jadi sekretaris sejak sekolah dasar. Aku ini,sama saja dengan yang lain."lanjut Jungkook sambil mendongakkan kepalanya kembali dengan pipi yang telah basah oleh air matanya.
Biarlah jika dia akan dihina,karena namja sepertinya menangis. Dia tidak peduli. Satu kalimat yang sekarang ada dibenaknya.
"Aku menyukai Jimin."
Guru yang ada didepan Jungkook hanya terkekeh pelan. "Bilangnya,ke Jimin lah."
"Maaf,aku tarik kembali perkataanku."ucap Jungkook yang sudah menghapus air matanya.
"Sudahlah,kembalilah ke kelas."
.
.
.
ZRRT ZRRT ZRRT ZRRT
Suara alat cukur yang bergesekan,memenuhi toilet laki-laki saat ini. "Benar-benar. Padahal tidak bisa menghadapi para murid,tapi malah menjadi guru."
Setelah selesai mencukur wajahnya,namja tersebut memotong poninya dan merapikan rambutnya.
"Aish."
oOo
"Jimin."teriak suara melengking dari belakang Jimin. Jimin menengok kebelakang,dan kembali membalikkan tubuhnya.
"Sedang apa? Bolos,ya? Aku juga! Boleh ke rumahmu sekarang? Aku tidak ada kerjaan."lanjut yeoja itu lagi sambil tersenyum genit.
"Boleh saja."
.
.
.
"KALIAN INI SAMPAH MASYARAKAT."ucap seorang guru yang sedang menaikkan kedua kakinya di atas meja.
"Tidak dapat berbaur dengan kegiatan organisasi. Jangankan masa depan,masa sekarang saja tidak kalian pikirkan. Kalian bahkan tidak sadar bahwa tugas utama kalian adalah belajar. Saat seusia kalian,bapak sudah blablabla.."
Semua murid di kelas Jungkook mendesah lelah. 'Berisik.'pikir semua murid di kelas Jungkook. Termasuk dirinya juga.
CKLEK
"Park Seongsangnim,ini kelas saya. Tolong keluar dari ruangan ini."ucap seorang namja tinggi dan berwajah tampan di depan pintu kelas sambil tersenyum manis.
Semua murid terkejut dan terpesona sekaligus. "Heh? Siapa?"
"Baiklah. Perkenalkan,saya Wali Kelas ini, Kim Taehyung."
"EH?!"
Semua murid terkejut. Pasalnya setahu mereka,wali kelas mereka itu memiliki wajah aneh dan memakai kacamata google tebal.
Menghiraukan tatapan terkejut sekaligus tak menyangkan dari murid-muridnya,Taehyung a.k.a nama wali kelas mereka,melanjutkan penjelasannya.
"Supaya kalian tidak menjadi sosok yang tidak kalian inginkan,Bapak yang akan mengajari kalian. Hidup kalian adalah kesempatan. Itu tanda bahwa kalian sendiri bisa melakukan sesuatu."lanjut Taehyung Saem tenang.
"Apa-apaan kau?!"teriak Park Seongsangnim.
Dengan senyum rupawan,Taehyung melanjutkan penjelasannya, "Krystal,kalau ahli dalam merias,belajarlah dan bekerja sebagai perias professional."
"Hm"
"Yerin,jika kau ahli dalam hal berbicara seperti saat kau bergossip,maka belajarlah dan jadilah pembawa berita TV professional."lanjut Taehyung yang masih memasang senyum manisnya.
"Seriusan?"
"Yoongi,Hoseok. Jika kalian suka melempar bola,buatlah klub Baseball dan jadilah pemain professional."
"Dan Ketua Kelas,pergilah ke tempat Jimin berada. Panggil dia kembali ke sini!"ujar Taehyung tenang.
"Saem,kenapa Ketua?! Kok,disuruh ke tempat Jimin."
Jungkook memandang lekat wajah guru di depannya. "Baik,saem. Saya akan segera membawa Jimin kembali."
TAP TAP TAP
"Ketua Kelas?!"
Semua murid berteriak kearah Jungkook. "Walau dihentikan,walau dimarahi,lakukanlah yang harus kalian lakukan."ucap Taehyung dengan senyum rupawannya yang membuat semua muridnya meleleh.
'Aku tidak tahu mengapa,tapi yang jelas aku merasa lebih bersemangat. 'Tunggu aku Jimin Pabbo.'batin Jungkook sambil berlari kencang.
.
.
.
"Jimin,sepertinya tidak begitu,deh."ucap seorang yeoja dengan nada kesal. "Kau kenapa? Sakit? Malu-malu sedikit,dong."
Jimin hanya menghela nafasnya pelan. "Kalau begitu,aku pulang saja."ucap yeoja itu sambil memasang ekspresi kesal.
"Sana pulang"
"Apa-apaan sih!"
SREKK
Yeoja yang sedang kesal itu terkejut,saat melihat seorang namja didepan pintu rumah Jimin. "Mati saja kau."ucap yeoja itu tajam kearah Jimin,dan berlalu pergi sambil menggerutu.
"Dasar tante-tante. Ya,kan?!"tanya Jimin kepada Jungkook,saat dilihatnya sang 'Ketua Kelas'ada di depan rumahnya.
"Jangan mati."gumam Jungkook yang masih dapat didengar Jimin.
"Hah? Eh,ketua jangan kemari. "ucap Jimin sambil duduk di teras rumahnya.
"Jimin,ini."ucap Jungkook sambil menyerahkan surat cintanya kepada Jimin. Saat ini perasaan Jungkook campur aduk. Senang,gugup itulah yang dirasakan Jungkook saat ini.
"Apa ini?"
"Aku menyukaimu Jimin."
"Ah,aku juga menyukai diriku. Tapi,aku lebih suka orang yang kusukai menyukaiku."ucap Jimin tenang sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Aku juga menyukaimu,Jeon Jungkook."bisik Jimin ditelinga Jimin sambil meniup telinga Jungkook pelan. Jungkook menggeliat geli,saat merasakan nafas Jimin yang sengaja ditiupkan ke telinganya.
"Jadi,kita sepasang kekasih?"tanya Jimin sambil menipiskan jarak antara dirinya dengan Jimin. "Tentu."balas Jungkook sambil mengerling nakal Jimin.
Jimin tertawa renyah,melihat tingkah Jungkook yang begitu menggemaskan. "Kau begitu imut,Kookie. Aku tak menyangka Ketua Kelasku begitu imut." Sedangkan yang dipuji hanya menunduk malu,untuk menyembunyikan semburat merah dipipinya.
"Dan hanya aku seorang yang boleh melihat ekspresi ini."lanjut Jimin sambil memegang dagu Jungkook lembut. Mengangkat wajah Jungkook pelan dan mencium lembut bibir mungil Jungkook. Yang tadi awalnya hanya menempelkan,sekarang berubah menjadi lumatan-lumatan kecil yang begitu penuh perasaan. Rasa manis seperti buah cherry dan lembutnya seperti kapas,membuat Jimin terus ketagihan untuk mencicipi bibir mungil Jungkook.
Melepaskan ciumannya,Jimin memandang lembut kedua manik Jungkook. Menangkup wajah Jungkook dengan penuh perasaan. Mendekatkan wajahnya dengan wajah Jungkook,hingga membuat hidung mereka saling bersentuhan.
"Saranghae,Jeon Jungkook."
"Nado Saranghae,Park Jimin."
END
Huwaaa! Akhirnya nih ff dah selesai. Sebenernya cerita ini terinspirasi dari salah satu komik yang aku baca. Judulnya '14 R'.Dan terciptalah cerita absurd ini. maaf yang mungkin agak membingungkan.
Sebenernya,ini ff one shot. Tapi,karena panjang banget,jadi natsu jadiin dua chap deh. Dan maafkan Natsu yang tidak bisa lanjut ff Natsu yang satunya. Ide Natsu lagi kosong melompong. Sebenernya udh ada idenya,tapi susah nulisnya. Entahlah,kenapa bisa begitu. Saat Natsu lagi mikirin ff natsu yang satunya,natsu dapat komik '14 R' dari kakak natsu. Nah,karena alurnya bagus natsu jadi terinspirasi untuk membuatnya.
Selain karena komik tadi,natsu juga terinspirasi dari kebiasaan orang jepang yang suka melihat ramalan zodiac. Jadi,natsu bikin deh tuh ramalan. Itu ramalannya bohongan loh ya. Jangan percaya. Hanya karangan.
Selain 2 alasan tadi,natsu bikin Jikook,karena ff Jikook dikit banget. Jadi untuk menambah pasokan ff Jikook,natsu bikin deh. Dan maaf yang menunggu updatean ff natsu yang satu lagi,nanti natsu usahakan natsu bakal update. Tapi saat ini,natsu lagi mengasah cara nulis natsu yang masih berantakan. Jadi,natsu mau publish ff oneshot dulu.
Okey,sekian dari natsu. Jika ada typo atau kata yang tidak dimengerti,mohon beri perbaikan di kolom review,ye. Dan jika berkenan beri natsu,review. Walau itu hanya berisi titik sekalipun.
Sip,maafkan natsu yang banyak bicara. jadi,bye-bye. ^^
