Simple And Clean

.

Disclaimer: Naruto © Kishimoto Masashi

Warning: AU, OOC, typo(s) | Genre: Romance, Western, Family, Friendship | Rate: T | Main Pairing: Uchiha Sasuke and Haruno Sakura | Dedicated: Karikazuka


Ini pertemuan kedua kali kita berdua. Wajahmu yang dingin mengantarkan aku mengetahui siapa dirimu sesungguhnya.

Part II

Pagi hari yang cerah, harum semerbak bunga bertebaran di mana-mana, dan cahaya matahari masuk ke dalam ruangan temaram. Sudah saatnya gadis berambut merah muda bangkit dari tidurnya dan siap memulai perjalanan kembali bersama saudara sepupu-sepupunya.

"Saatnya kembali melanjutkan perjalanan," kata Sakura, nama gadis tersebut. Sakura ambil handuk, masuk kamar mandi. Setelah beberapa menit berada di kamar mandi, Sakura keluar. Sakura memakai pakaian manis, tapi tidak terlalu seksi. Rok panjang menggerai sampai ujung kaki, namun tidak terlihat kaki indahnya. Sakura menyisir rambut panjangnya berwarna merah muda, lalu mengedipkan mata sangat puas hasil tampilannya.

Sakura membuka pintu. Sakura menyusuri lorong-lorong milik rumah walikota yang besar. Keluar mencari sekumpulan kereta kuda. Sakura tersenyum setelah melihat sepupunya bernama Namikaze Naruto telah bersiap-siap berangkat bersama saudaranya Haruno Sasori.

"Maafkan aku. Aku terlambat bangun," kata Sakura tergesa-gesa. Napasnya tercengat. Untung saja butir-butir keringat tidak membanjiri wajah cantik.

"Lebih bagus kalau kamu terlambat bangun, Sakura," Sasori memasukkan banyak perlengkapan keperluan perjalanan ke kereta. Sasori menutup pintu kereta, dan berbalik badan menatap Sakura. "Soalnya ayah dan ibu memintaku untuk tidak membawamu ikut serta."

"Apa maksudmu, kak Sasori?" Sakura mengerutkan kening, bingung. "Maksudnya, aku tidak boleh ikut dengan kalian?"

Naruto membelai rambut Sakura, "Maafkan kami, Sakura. Bukannya kami menolakmu. Ini untuk dirimu dan untuk kita berdua." Naruto menunjuk dirinya dan Sasori tanpa perlu melepaskan belaiannya. "Kami tidak ingin kamu bertemu dengan orang-orang berbahaya di perjalanan nanti."

"Tapi, aku ingin ikut!" teriak Sakura. "Aku mau merasakan petualangan luar biasa di perjalanan ini. Aku mau merasakan bagaimana kehidupan di luar daripada aku terkungkung di rumah!"

"Ini sudah perintah ayah dan ibu, Sakura. Kami tidak bisa menentangnya apalagi hanya ayah Kiba yang ikut menemani kami sampai perbatasan," ujar Sasori memegang bahu Sakura.

Sakura menepis tangan Sasori yang memegang bahu, juga tangan Naruto di kepalanya. "Kalian jahat! Aku bukan anak kecil lagi! Aku tidak akan memaafkan kalian berdua! Kalian jahat!"

Naruto dan Sasori melihat Sakura meninggalkan mereka berdua, masuk ke rumah walikota. Naruto tahu, Sakura menangis dan kecewa pada mereka karena tidak dibiarkan ikut serta ke perjalanan ini. Namun, perjalanan ini membahayakan bagi diri Sakura yang selalu lemah dan butuh perlindungan seorang laki-laki.

"Tidak seharusnya kita membentaknya, kak Sasori," kata Naruto menggaruk-garuk rambut kuning keemasan yang tidak gatal.

"Sudahlah. Nanti juga Sakura akan baikkan setelah kita pulang nanti," sahut Sasori beranjak dari tempat itu, menuju di mana para kusir berada.

"Aku tidak yakin," Naruto takut Sakura akan menentang dirinya dan orangtuanya. Seenak kabur memakai kuda kesayangannya bernama Jiro, kuda jantan tangguh dalam berlari. "Kamu belum tahu siapa Sakura sebenarnya kalau lagi marah, kak Sasori."

"Apa kamu mengatakan sesuatu, Naruto?" Sasori berhenti sambil mengangkat alis, menatap Naruto tengah bergumam.

"Tidak." Naruto menggeleng. "Tidak apa-apa, kak Sasori." Naruto melewati Sasori dan pergi.

Ini membuat Sasori bingung, akhirnya menepis hal itu karena takut nanti perjalanan mereka terlambat sampai tujuan yaitu setengah hari.


Pagi-pagi buta mencerna perumahan walikota. Walikota di kota yang asri dan damai. Sosok gadis dalam bayangan terbentuk wajah kecewa dan marah, menendang kaleng kosong. Setelah beberapa saat, Sakura duduk di balok kayu, menopang dagunya. Sakura tersenyum sedih sambil menatap langit biru pucat.

"Kenapa mereka tidak mengijinkanku pergi? Memangnya apa salah pada wajahku yang cantik ini? Aku 'kan terlahir memang begini. Mereka sewajarnya tahu bagaimana sifatku kalau lagi marah, termasuk Naruto," Sakura cemberut terus menerus.

Sakura menghela napas berulang kali. Sakura melihat kereta-kereta kuda berjalan meninggalkan perumahan walikota. Menuju matahari di ufuk Timur. Sakura mengambil kaleng kosong ke arah kereta kuda yang berjalan dan melemparkannya.

"Kalian jahat! Katanya kalian mau membawaku pergi, tapi buktinya mana! Malah kalian mengurungku kembali ke tempat ini, itulah kenapa kalian sengaja berhenti di tempat ini!" teriak Sakura terus meraung-raung hingga jatuh terduduk di atas pasir brunette.

Bunyi langkah kaki menghampiri Sakura yang merunduk karena kecewa. Bayangan besar mendekati Sakura dan mencium puncak kepalanya yang harum. Sakura terkaget-kaget karena mencium napas, Sakura menatap bayangan yang tidak lain adalah Jiro, kuda kesayangan miliknya.

"Jiro?!" Sakura bangkit dan memegang wajah Jiro. "Apa kamu mengerti kesedihanku karena tidak bisa pergi?" Jiro mengangguk. "Apa kamu bisa membawaku pergi untuk menjelajahi kota-kota ini?"

Jiro mengangguk, menghempaskan pasir siap untuk berlari. Sakura melihat kaki-kaki terjangan badainya. Sakura mencium wajah Jiro. "Kamu tunggu di sini, aku akan mengambil perlengkapan kita."

Sakura mengangkat rok panjangnya. Sakura masuk ke dalam rumah, masuk ke kamar pribadinya. Sakura mengganti bajunya menjadi baju koboi sederhana. Sakura mengambil banyak baju-baju sederhana, uang secukupnya. Setelah itu, Sakura mengendap-endap ke dapur untuk mencari bahan makanan dirinya dan Jiro. Sesudah itu, Sakura masuk ke kandang kuda, mencari perlengkapan Jiro.

Setelah mendapatkan itu semua, Sakura keluar secara sembunyi-sembunyi menuju tempat Jiro menunggu. Sakura meletakkan alat duduk bernama, sepatu telapak kaki kuda, tali kekangan dan saatnya Sakura mencek satu-satu apa alat untuk pergi telah menguat. Beberapa detik kemudian, Sakura naik dan memanggul perlengkapan bajunya.

Sosok terlihat seperti laki-laki saat memasang topi koboi, mengambil tali dan mengayunkannya. Jiro mengangkat kedua kakinya depannya sambil berteriak, dan akhirnya maju penuh kecepatan tinggi. Sakura melihat dua pengawal walikota masih mengantuk. Sakura merunduk dan menyengir senang karena telah berhasil keluar dari kota tersebut.

"Yeayy! Akhirnya aku berhasil keluar!" Sakura melihat kota tersebut telah menjauh sembari Jiro berlari cepat. Sakura mengelus wajah Jiro. "Terima kasih, Jiro. Kamu telah menolongku." Sakura kembali duduk tegak, melihat matahari indah. "Saatnya berpetualang!"

Jiro berlari secepat mungkin. Cara berlari Jiro sungguh hebat. Tidak ada kuda yang mampu menandingi kecepatan lari Jiro. Sakura juga tidak tahu kalau saat dia pergi, itu akan menentukan hidupnya untuk menemukan cinta sejatinya.


Di kota tempat Sasuke tinggal. Sasuke berkemas kembali bekerja. Pekerjaan biasa selain menangkap penjahat adalah mencari bahan makanan di daerah lain untuk keperluan barnya. Sasuke memakai topi kesayangannya. Sasuke mengambil ... untuk kuda kesayangannya, Kyo. Kuda jantan berkulit cokelat gelap.

Sasuke masuk kandang kuda, melepaskan ikatan Kyo dan membawanya keluar. Ekspresi dingin Kyo sama dengan Sasuke. Ini adalah permulaan bahwa Kyo dan Sasuke terlahir bersama-sama dalam dinginnya hati tanpa cinta. Sasuke tidak menyangka saat perjalanannya nanti itu akan membawanya menemukan cinta sejatinya.

Sasuke naiki Kyo, menusuk punggung Kyo dengan tajam sepatu bootnya. Kyo berlari meninggalkan rumah sederhana keluarga Uchiha. Menuju tempat di mana Sasuke mendapatkan bahan makanan untuk barnya.

Setelah beberapa jam, Sasuke menghentikan Jiro dengan menarik tali kudanya. Sasuke melihat ada sekumpulan kawanan perampok mengambil barang bawaan si penunggang kuda. Sasuke turun dan menghampiri sekawanan itu. Sasuke melihat sosok gadis tengah dicengkram oleh salah satu bos tersebut. Dengan sigap, Sasuke menghajar sekumpulan perampok tersebut.

"Hei, apa yang kamu lakukan?!" Bos perampok terkejut melihat ada sosok pemuda datang untuk menyelamatkan gadis tersebut. Pemuda itu telah menghabisi semua anak buahnya tanpa ampun. "A-apa-apaan ini?"

"Lepaskan gadis itu atau..." Sasuke mendekat, Bos perampok mundur. "Aku akan menghajarmu sampai mati dan membawamu ke tempat di mana para teman-temanmu berada yaitu tempat jeruji besi."

Bos tercekat. Keringat dingin datang menghampiri wajah pucatnya. Dilepaskan tangan di mulut gadis itu dan tangan satunya di belakang punggung gadis tersebut, menahan kedua tangan gadis tersebut. Setelah lepas, gadis tersebut menyikut dada bos perampok dan melayangkan lutut ke titik barang berharga bos tersebut.

Bos perampok gemetar dan jatuh terduduk dan akhirnya pingsan. Gadis itu menendang tangan dan punggung bos tersebut. Gadis tersebut merapikan topinya yang miring.

"Kamu seorang perempuan, bukan?" tanya Sasuke bisa melihat rambut gadis tersebut berwarna merah muda.

"Kenapa memangnya kalau aku adalah perempuan? Apa itu salah?" teriak gadis itu menatap Sasuke lekat-lekat. Gadis itu terkejut, lalu mundur selangkah. Membalikkan badan. Laki-laki itu... laki-laki itu yang kemarin. Kenapa dia ada di sini? Dan kenapa dia mau menyelamatkan aku yang merupakan orang dibencinya?

"Aku tahu siapa kamu. Kamu adalah seorang perempuan penghuni kereta kuda yang mencegahku mengejar pencuri, 'kan?" Sasuke melipat kedua tangan dan menyeringai dingin. "Tidak menyangka akan bertemu denganmu di tempat ini tanpa kereta kudamu yang membosankan."

Gadis bernama Sakura marah, melepaskan topi. Rambutnya tergerai panjang membuat Sasuke takjub dan kagum pada kecantikan dimiliki Sakura, namun hal itu ditepisnya karena sifat dingin.

"Aku tidak bersama dengan mereka karena mereka tidak mengijinkanku pergi." Sakura juga melipat kedua tangan. "Apa tidak boleh seorang perempuan menjelajahi tanah gersang ini?"

"Siapa yang melarang? Itu hak semua orang kok," Sasuke berbalik badan, pergi dari tempat itu.

Sakura kaget dan takut jika sekumpulan kawanan ini bangun dan menjeratnya lagi. Sakura mengambil Jiro dan membawanya ke tempat Sasuke. "Tunggu!" Sasuke berhenti tanpa berbalik. "Aku mau ikut denganmu."

"Ada alasan apa kamu mau ikut bersamaku, nona kaya?" Sasuke merapikan tempat duduk dan tali.

"I-itu..." Sakura terbata-bata dan gugup. Sakura menatap Sasuke yang sudah berada di atas kuda. "T-tunggu! Aku ikut denganmu. Aku takut kalau mereka akan bangun dan menangkapku lagi."

Sasuke melihat sekawanan perampok masih pingsan, "Lalu, kamu mau ikut denganku untuk apa? Apa kamu ingin aku mengajakmu ke rumahku dan bilang pada orangtuaku kalau kamu dicegat oleh sekawanan perampok?"

"Kenapa kamu dingin sekali? Aku meminta baik-baik," Sakura tidak percaya kalau ditemuinya adalah orang berhati dingin dan berekspresi dingin seperti pemuda ini. "Setidaknya bawa aku ke mana saja asal bukan di sini."

"Aku sibuk," Sasuke menghentakkan kakinya Kyo membuat Kyo meninggalkan Sakura yang terlihat kecewa.

"Dasar orang itu! Kenapa orang itu sangat dingin pada gadis sepertiku?!" Sakura berkacak pinggang sambil menghentangkan kakinya ke atas pasir sehingga debu-debu bertebangan. Jiro hanya diam saja.


Beberapa jam kemudian, Sakura berjalan menuju kota di mana Sasuke tinggal beserta keluarganya. Niat untuk menaiki Jiro tidak bisa menghapus kenangan buruk bersama pemuda berambut biru tadi. Sakura berjalan dan sangat haus hingga akhirnya pingsan. Jiro yang melihat majikannya pingsan, bersuara selayaknya kuda untuk meminta tolong.

Tidak jauh dari tempat Sakura tergeletak, Sasuke telah kembali dari tempat pencari bahan-bahan makanan. Langkah kudanya terhenti karena mendengar suara kuda yang nyaring. Sasuke melirik di mana suara itu berasal dan menemukannya.

Sasuke turun dan menarik tali kuda Kyo, mendekati kuda berteriak. Sasuke terkejut melihat gadis yang ditemuinya beberapa jam lalu tengah pingsan di padang pasir ini. Kenapa gadis ini lagi? Kenapa aku harus sial di hari ini harus bertemu dengan gadis menyebalkan seperti dia?

Mau tidak mau, Sasuke mengangkat tubuh Sakura ala bridal style. Menaruhnya di atas kuda, meminta Jiro untuk mengikutinya. Sasuke naik dan menyandarkan punggung lemah Sakura di dadanya dan kepalanya di pergelangan tangan Sasuke. Sasuke menghentangkan kakinya untuk pulang ke rumah.


Beberapa jam kemudian, Sakura akhirnya bangun. Sakura melirik sekitarnya, masih dengan pandangan kabur. Sakura haus, tenggorokannya kering dan perutnya lapar karena tidak makan pagi tadi.

"Kamu sudah bangun?" tanya seorang gadis. Gadis tersebut mengambil air putih dan menyerahkannya ke Sakura. "Minumlah ini. Aku tahu kalau kamu pasti haus."

Sakura bangun dan mengambil air putih tersebut, meneguknya sampai habis. Setelah habis, Sakura menyerahkannya pada gadis berambut biru panjang. Sakura masih meneliti lingkungan yang asing baginya. "Ini di mana?"

"Ini rumah sang penolongmu," sahut gadis berambut biru panjang seperti milik Sasuke.

"Penolongku?" Sakura mengerutkan kening.

"Iya, penolongmu bernama Uchiha Sasuke. Yang tidak lain adalah kakakku. Kamu telah diselamatkan oleh kak Sasuke. Ng...?" Gadis memegang dagunya, ingin tahu siapa nama gadis berambut merah muda nan cantik ini.

"Namaku Sakura. Panggil saja aku Sakura," Sakura tersenyum.

"Namaku Hinata. Senang berkenalan denganmu, Sakura," Hinata mengulurkan tangan untuk berkenalan, Sakura membalasnya.

"Lalu, kamu tahu di mana kakakmu itu? Aku ingin berterima kasih kepadanya," Sakura bangkit dari tempat tidur.

"Kakakku ada di luar. Dia sedang merawat kudamu di kandang kuda miliknya," Hinata menuntun Sakura ke jendela. Di sana Sakura melihat pemuda dingin dan meninggalkan empat jam lalu di tengah gersangnya pasir dan panasnya terik matahari.

"D-dia 'kan...?" Sakura kaget dan gemetar menunjuk Sasuke tersenyum pada Jiro.

"Kenapa dengan kak Sasuke?" tanya Hinata bingung.

"Kenapa orang berhati dingin dan bertampang dingin juga menyelamatkanku? Padahal dia sudah menelantarkanku setelah menyelamatkanku dari kawanan perampok," kesal Sakura sedih.

"Kakakku memang begitu. Diantara saudara-saudara laki-lakiku yang lain, hanya kak Sasuke yang selalu dingin pada perempuan. Kak Sasuke tidak mau terlarut pada cinta. Dan baru sekarang kak Sasuke membawa perempuan asing ke rumah. Biasanya tidak pernah atau tidak sama sekali," jelas Hinata.

"Jadi, aku orang pertama di sini. Perempuan pertama yang datang ke rumahnya?" Sakura masih kesal, tapi kekesalannya hilang karena Sakura tahu kalau Sasuke baik.

"Di balik wajah dinginnya, kak Sasuke baik hati. Dan baru kali ini kak Sasuke menampilkan sisi lembutnya pada perempuan termasuk dirimu, Sakura." Hinata tersenyum.

Sekarang Sakura tahu kenapa Sasuke sangat sulit mendekati perempuan. Sudah saatnya, Sakura mengerti sifat dingin Sasuke. Sasuke sungguh bersahabat dan baik hati. Mungkin kali ini, Sakura akan tahu sifat-sifat lembut Sasuke lainnya.

"Sepertinya aku akan mengetahui sifat-sifatmu itu, Uchiha Sasuke." Sakura tersenyum dan masuk kembali ke tempat tidur.

Hinata melihat Sakura berbaring dan tertidur lelap. Hinata kemudian melihat Sasuke membersihkan badan Jiro. "Kak Sasuke akhirnya menemukan gadis yang cantik."


Di sudut rumah, kepala rumah tangga dan ibu rumah tangga mengintip Sasuke tengah membersihkan badan Jiro. Mereka berdua berbisik-bisik.

"Suamiku, baru kali ini aku melihat Sasuke membawa pulang gadis ke rumah ini." Uchiha Mikoto tersenyum. "Akhirnya Sasuke menemukan kisah cinta yang menghanyutkan."

"Itu tidak mungkin. Sasuke pasti kasihan pada gadis itu dan membawanya ke rumah bukan sedang jatuh cinta," jelas Fugaku.

"Tapi, sudah saatnya aku melihat Sasuke jatuh cinta pada gadis itu. Aku yakin, selama gadis itu tinggal di sini. Sasuke akan suka padanya. Ibu tidak sabar," Mikoto lega karena anak keduanya punya calon istri.

"Kita lihat saja. Ayah yakin, Sasuke tidak mungkin jatuh cinta pada gadis itu." Fugaku mengangkat alis percaya diri sambil melipat kedua tangan.

"Mari kita taruhan, suamiku. Jika kamu menang, aku akan selalu menyiapkan makanan kesukaanmu setiap hari. Dan jika kamu kalah dan aku menang, kamu tidak boleh melarang aku dan Hinata jalan-jalan ke kota asri. Bagaimana?" tantang Mikoto kepada Fugaku.

Fugaku menghela napas. "Baiklah. Dan pasti aku akan menang."

"Tentu tidak. Akulah yang akan menang," sahut Mikoto percaya diri, meninggalkan Fugaku tercengang di tempatnya.

"Ini baru awal."

Sudah tiba waktunya butir-butir romantika di tempat di mana semua keluarga Uchiha tinggal menentukan nasib keduanya. Jatuh cinta adalah khalayak bagi kaum pasangan berlawanan jenis untuk bersatu. Seperti apakah hari esok dan esoknya lagi? Kisah berikutnya ada manisnya cinta dan lucunya sifat mereka yang berlainan arah.

To Be Continued...

.o.O.o.

A/N: Saatnya balas review di sini saja, ya. :)
Karikazuka: Saya tidak tahu yang bagaimana itu western. Ini buat saja baru pertama kali. Semoga Dinda suka dengan chapter duanya.. :)
Michelle I. Xe: Memang banyak pemborosan kata, lupa edit. Semoga ini sudah diedit. Sebelum kerja, saya buat. Hehe

Buat kalian adik-adik saya di atas, saya sudah buat chapter duanya. Tinggal dua fic multichappie yang akan update besok hari Kamis. Sudah baca dan saya berterima kasih kalian sudah membacanya. :)

Hug,

Sunny (Blue) February

Date: Makassar, 01/06/2013