Somnium
by vanderwood
.
Neo Culture Technology is a brand associated with SM Entertainment
Cerita ini hanya fiksi belaka dan tidak ada keuntungan yang diambil dari penulisan cerita ini.
.
.
.
"Jadi, denger baik-baik, ya." Donghyuk memulai kuliahnya sementara Jeno di depannya, duduk sambil menatap rekan sesama bogeyman-nya yang mulai membuka-buka buku tebal dengan kertas kuning di pangkuannya. Buku itu adalah Kitab Sejarah Bogeyman: Edisi Ketigabelas (Dengan Ilustrasi Berwarna) sebuah buku yang sebetulnya wajib dibaca semua bogeyman ketika sedang menjalani masa latihan, tapi bagi Jeno yang dulu lebih suka bolos dan main sama singa dibanding belajar, buku ini baru disentuhnya sekitar dua atau tiga kali. Itu pun untuk alas tidur. "Pasir mimpi yang kita punya itu memproduksi mimpi buruk dengan dua cara. Cara pertama, yaitu dengan menyerap skenario mimpi buruk yang kita pikirkan. Misalnya, aku ingin korbanku mimpi dikejar kuntilanak, ya aku akan memikirkan skenario dikejar-kejar kuntilanak dan pasir ini akan menyerapnya. Itu metode yang paling sering kita pakai. Cara kedua, ini metode yang kadang tidak kita sadari, yaitu dengan menyerap ketakutan terbesar dari seseorang dan mewujudkannya dalam bentuk mimpi. Metode ini hampir nggak pernah digunakan karena butuh waktu buat si pasir mimpi untuk bisa mengenal korbannya sehingga dia bisa tahu apa ketakutan terbesar bagi sang korban. Terus, metode ini juga dipengaruhi oleh faktor lainnya seperti kondisi korban. Biasanya, orang dengan kondisi mental dan emosional yang sedang kurang stabil akan lebih mudah diserap ketakutannya oleh pasir mimpi. Sampai situ, ngerti nggak?"
Jeno menopang dagunya sambil mengangguk-angguk pelan mengerti. "Ngerti, ngerti. Eh, tunggu dulu. Kondisi mental dan emosional yang kurang stabil itu kayak gimana?"
Donghyuk menarik napas panjang demi menahan hasrat untuk melempar rekannya ini ke dalam kolam dugong terdekat. "Duuuh, makanya jangan bolos melulu, deh! Maksudnya itu, mereka lagi nggak stabil gitu, tapi bukan secara fisik! Jiwanya yang lagi nggak stabil!"
Tampaknya penjelasan Donghyuk barusan masih terlalu kabur bagi Jeno. "Contoh deh, contoh."
"Contoh?" Donghyuk mengerutkan dahinya. "Hmm … dulu Senior Taeil bilang kalau orang yang sedang berduka lebih mudah diserap ketakutannya. Cuma dalam semalam pasir mimpi Senior Taeil sudah bisa menyerap ketakutan orang itu dan memproduksi mimpi dengan skenario yang sesuai. Biasanya orang-orang yang begini itu sedang menghadapi masalah-masalah tertentu dalam kehidupannya. Masalah keuangan kek, percintaan, akademik … banyak."
"Nah, gitu dong. Lebih jelas." Jeno kembali mengangguk-angguk seperti penguin. Diberikan contoh seperti itu membuat Jeno lebih bisa mengerti. "Thanks pencerahannya, Hyuk!"
Donghyuk tampaknya tak bisa menahan rasa penasarannya, sehingga ia membuka mulut untuk bertanya. "Kenapa tiba-tiba nanya seperti ini, sih? Ada kasus apaan sampai-sampai kamu nanya-nanya hal seperti ini …."
Jeno buru-buru menggeleng. "Nggak, nggak apa-apa."
Sayangnya bukan Donghyuk namanya kalau menyerah. Jeno pikir, dengan berkata 'nggak apa-apa' akan membuat admin akun Instagram boogey_turah ini menyerah? Sungguh pemikiran yang naif. Kalau sudah penasaran, Donghyuk tidak bisa dihentikan begitu saja. Setelah dua jam dikelitiki, akhirnya Jeno memutuskan untuk buka suara dibanding nanti mati ketawa.
"Iya, iya, cerita nih, cerita!" seru Jeno dengan rahang yang sudah kaku akibat kebanyakan tertawa karena dikelitiki. "Oke, oke. Jadi, hm, gimana mulainya ya … hm … aku ketemu seorang anak. Dia bisa lihat aku, dan dia bilang mimpi yang aku berikan adalah mimpi terburuk seumur hidupnya. Aku senang, tapi penasaran juga kenapa dia bisa bilang seperti itu. Sekarang aku tahu, mungkin ia bisa bilang mimpi dariku paling buruk karena pasir mimpiku sudah tahu ketakutan terbesarnya dia saat ini."
Donghyuk mengerjap-ngerjapkan mata. "Dia orangnya seperti apa?"
"Anak … anak laki-laki biasa? Mungkin cuma niat belajarnya yang luar biasa. Galak sedikit sih, dia melemparku dengan bantal. Tapi ya itu wajar, mengingat aku sudah satu minggu memberikan mimpi buruk padanya —"
"SATU MINGGU?" Suara Donghyuk menggelegar, membuat Jeno harus menutup sebelah telinganya dan melindungi wajahnya dengan jubah dari serangan hujan lokal. "Pantas saja pasir mimpimu bisa tahu ketakutan terbesar anak itu, kamu sudah bersamanya selama satu minggu! Jeno bodoh, kamu tahu nggak sih kenapa bogeyman itu harus berkeliling dan tidak boleh mangkal? Itu agar hal ini tidak terjadi! Biar manusia nggak merasa diteror terus-terusan! Oke, ini memang bukan hal yang jadi larangan tertulis, tapi PIKIR DONG PAKAI OTAK JANGAN PAKAI MATA KAKI. Kalau manusia terus-terusan merasa diteror dan semakin ketakutan, gimana? Kalau ada yang jadi jantungan saking ketakutannya, gimana? Mau tawuran sama Grim Reaper karena mengacaukan lahan pekerjaan mereka?"
Jeno bergidik. Bukan, bukan karena setitik hujan lokal yang mengenai tulang pipinya, tapi karena memikirkan sosok Grim Reaper. Bulan lalu ia baru saja ditendang dari tempat nongkrongnya di Sungai Han oleh segerombolan Grim Reaper yang sedang bebas tugas dan ingin piknik sambil makan ramyeon. Grim Reaper itu semacam geng preman dalam dunia permakhlukhalusan. Mendingan tawuran sama Sandman daripada sama Grim Reaper.
"Iya, iya, ngertii … Sudah kutinggal kok orangnya, puas?"
Donghyuk menarik napasnya lagi. Hasrat untuk melempar Jeno ke kolam dugong terdekat semakin kuat. "Minta maaf sana. Memberi mimpi buruk memang kerjaan kita, tapi bukan memberi teror seperti itu. Seminggu … waktu yang relatif singkat untuk menyerap ketakutan terbesar, jangan-jangan anak itu juga sedang ada masalah. Hayo lho."
"Hah, masa sih?" Jeno membulatkan matanya tak percaya. "Dia kelihatan baik-baik saja."
"Duh, masa sudah seribu tahun hidup di dunia masih belum ngerti manusia juga? Manusia itu banyak yang kelihatan nggak apa-apa tapi di dalamnya kacau. Banyak pikiran. Peka dong. Pantas saja kamu nggak ada yang naksir," jelas Donghyuk nyinyir.
"Eh, nggak usah bawa-bawa isu sensitif, ya!"
"Tapi kenyataan, kok!" balas Donghyuk keji. "Ya sudah, minta maaf sana! Meskipun memang ini nggak ada di peraturan, tapi setidaknya kamu bertanggungjawab!"
Jeno mendengus. Sedikit menyesal juga kenapa memilih berkonsultasi dengan Donghyuk, meskipun anak itu memang pandai luar biasa dalam pelajaran sejarahnya. Tapi, perkataan Donghyuk ada benarnya juga. Bagaimanapun juga, meskipun ia memang bertugas untuk memberikan mimpi buruk, hal yang sudah dilakukannya pada Renjun sangat berlebihan. Meskipun begitu Jeno ragu apakah Renjun masih mau bertemu dengannya — jangan-jangan nanti ia malah dilempar bantal lagi.
Tidak ada cara yang lebih baik untuk membuktikan dugaan Jeno selain dengan benar-benar menemui Renjun.
.
.
.
Bedanya dengan malam-malam sebelumnya, malam ini Renjun menghabiskan waktunya dengan tiduran di kasur sambil menonton sebuah video lewat layar ponselnya. Buku-buku matematika menganggur di meja belajar dalam keadaan terbuka. Mungkin ia bosan belajar, begitu dugaan Jeno.
Renjun pura-pura tidak melihat ketika Jeno datang dan berjalan mendekat. Ia tetap fokus pada tayangan yang sedang ia tonton, tidak mempedulikan seonggok bogeyman penasaran yang berjalan mendekat lalu berjongkok tepat di samping tempat tidurnya. Jeno memanggil-manggil, namun pemuda itu tetap bergeming, fokus terhadap kegiatan yang sedang ia lakukan.
Apa persamaannya Jeno dengan martabak? Sama-sama dikacangin.
"Oi."
Renjun masih diam.
"Hei."
Diam.
"Asyik bener."
Diam.
Akhirnya Jeno memutuskan untuk mengeluarkan senjata pamungkas — menekan-nekan pipi Renjun dengan telunjuk. Baru setelah itu Renjun menghembuskan napas panjang, menggerutu pelan, lalu melihat ke arah Jeno.
"Apa sih! Nggak lihat orang lagi sibuk?"
Jeno merengut. "Sibuk apaan. Lagi nonton video gitu."
"Ini juga sibuk!" balas Renjun asal sambil buru-buru mematikan aplikasi pemutar videonya, entah kenapa. "Ngapain tiba-tiba datang lagi? Butuh korban baru?"
Kalau dibilang tidak butuh, ya bohong juga. Jeno belum cari korban malam ini, tapi keinginan — dan kewajiban — untuk minta maaf pada Renjun mengalahkan kebutuhannya kejar setoran. Maka dari itu, Jeno menggeleng dan menjawab, "Nggak, kok. Aku kemari untuk minta maaf."
Jawaban Jeno barusan membuat Renjun menatapnya kebingungan. "Minta maaf kenapa?"
"Waktu itu kau bilang mimpi yang kubuat sangat menakutkan, bahkan mimpi paling menakutkan yang pernah kau alami," tutur Jeno. "Makanya aku ingin meminta maaf karena aku sudah menerormu selama seminggu ini. Hal itu bukan hal yang selayaknya dilakukan oleh bogeyman, jadi aku cukup … merasa bersalah."
Renjun menatap Jeno tak percaya untuk sejenak sambil mengerjapkan matanya. Ekspresinya lama kelamaan melunak, sudah mulai luluh terhadap bogeyman yang dinilainya cukup unik ini. "Jadi kau jauh-jauh datang kemari hanya untuk mengatakan hal ini?"
"Nggak jauh, kok. Aku bisa teleportasi."
"... Terserah," dengus Renjun. "Baiklah, aku menghargai usahamu untuk meminta maaf — meskipun rasanya tidak perlu juga, sih. Kan itu pekerjaanmu."
"Aku minta maaf bukan karena memberimu mimpi buruk, tapi karena sudah menerormu selama seminggu. Aku mana tahu kalau kau sedang mengalami kondisi emosi yang tidak stabil sampai pasir mimpiku bisa menyerap ketakutan terbesarmu …."
Hening sejenak. Renjun kembali menatap Jeno tidak percaya. "Maaf?"
Jeno balik menatap Renjun dengan wajah bingung. "Kamu lagi sedang dalam kondisi emosi yang tidak stabil, kan? Lagi ada masalah percintaan, finansial, atau akademik?"
Kalau ada Donghyuk di antara mereka saat ini, pasti bogeyman manis itu sudah menjitak kepala Jeno sambil mengata-ngatainya — belegug. Masalahnya adalah, Jeno mengatakan hal tersebut seolah-olah ia mengetahui kondisi Renjun lebih dari Renjun sendiri. Apa namanya itu kalau bukan sok tahu? Bagaimana kalau Renjun merasa tidak nyaman dengan ucapan Jeno barusan? Selamat mencium bantal lagi, Bogeyman Jeno.
Tapi Renjun ternyata lebih baik dan sabar daripada yang kita duga. Pemuda itu hanya menarik napas sebentar, kemudian memeluk sebuah guling yang ada di sebelahnya sambil berbaring menatap langit-langit. Tampak sedang merenungkan sesuatu yang begitu jauh.
"Semacam itulah," gumam Renjun, membuat Jeno sedikit kaget. "Kok tahu, sih? Haha."
Jeno mengerjap-ngerjapkan matanya. "Soalnya pasir mimpiku bisa menyerap ketakutan terbesarmu …."
"Oooh, jadi begitu kerjanya pasir mimpi? Menarik sekali." Renjun mengangguk-angguk. Tatapannya masih terarah ke langit-langit. "Tapi ya sudahlah. Memang benar, kok."
"Masalah yang seperti apa?" Jeno malah kepo. Renjun malah tertawa. Pemuda itu bangkit berdiri, lalu berjalan menuju meja belajarnya dan duduk di kursi. Ia memutar kursinya satu kali sebelum menjawab.
"Harusnya kalau kau bisa tahu isi mimpi burukku, kau sudah bisa tebak. Tapi kurasa bogeyman nggak bisa ngerti, sih."
"Jangan begitu, aku sudah hidup lebih dari seribu tahun, lho," rajuk Jeno. "Jadi, masalah apa? Masalah percintaan?"
Jeno sebetulnya hanya asal tebak. Di luar dugaan, Renjun mengiyakan dengan cepat.
"Hmm, yap, tebakan bagus. Kau tahu soal remaja."
"Tentu saja." Jeno cengar-cengir bangga. "Baru putus dengan pacar?"
Renjun tertawa. "Boro-boro. Orang yang kusukai saja tidak tahu kalau aku suka dia."
"Lah, kalau gitu kenapa nggak langsung menyatakan perasaan saja?" Jeno mengatakan kalimat ini seolah menyatakan perasaan itu semudah makan kacang.
"Percuma, percuma," geleng Renjun tegas. "Satu: Dia sahabatku sejak masuk sekolah, akan aneh kalau dia tahu aku suka padanya. Dua, dia itu … nih, seperti ini."
Renjun melambaikan sebuah penggaris besi bergambar Moomin yang diambilnya dari tempat pensil. Jeno melongo, berpikir sejenak untuk mencerna apa yang dimaksud Renjun.
"... Kurus, tinggi, langsing?" tebak Jeno. "Kayak penggaris?"
"Lurus!" ralat Renjun sedikit kesal. "Lurus kayak penggaris!"
"Haah, memangnya jalanan apa lurus-lurus?" Penjelasan Renjun malah membuat segalanya semakin tidak jelas, setidaknya bagi Jeno. "Jadi kalau dia lurus, kamu bel — oh."
Perkataannya sendirilah yang akhirnya menyalakan lampu di dalam kepala Jeno. Bogeyman itu mengangguk-angguk mengerti, sementara Renjun di depannya tampak siap untuk melempar bantal ke arahnya lagi seandainya Jeno tak kunjung mengerti apa maksudnya. Memang Jeno sudah hidup di dunia ini selama seribu tahun, tapi itu tidak menjamin kalau ia akan sepenuhnya mengerti manusia dengan segala kode-kodenya. Soalnya Jeno bogeyman, bukan agen rahasia, sehingga dia tidak dilatih untuk memecahkan kode-kode.
"Ngerti sekarang?" tanya Renjun tegas. "Jadi ya, kau tahu sendirilah. Mau aku kejar sampai ke ujung dunia pun dia tak akan pernah bisa kugapai. Dia sedang dekat dengan seorang cewek juga sih … aku sama sekali tidak punya kesempatan."
Jeno mengerjap-ngerjapkan matanya, memperhatikan bagaimana sinar mata Renjun perlahan meredup.
Keheningan menyeruak di antara dua entitas ini sampai tiba-tiba sebuah ponsel Renjun mengumandangkan sebuah lagu dengan volume keras. Chew-chew-chew chewing gum. Dengan satu gerakan cepat Renjun berpindah dari kursinya menuju kasur, untuk melihat ponselnya yang ia tinggalkan barusan di kasur. Jeno mengintip layar ponsel Renjun, penasaran siapa yang menelponnya malam-malam begini.
Nama penelepon yang tertera di sana adalah Nana; lengkap dengan emoji bentuk hati di ujung kata.
"Halo? Ada apa, Jaem?"
Jeno bukannya tidak menyadari kalau intonasi suara Renjun jadi jauh lebih ramah — jauh, jauh lebih ramah — dan sinar mata Renjun yang awalnya redup menjadi cerah kembali. Ajaib betapa Jeno, yang biasanya tidak peka, bisa menyadari perubahan-perubahan minor tersebut dari seorang Renjun. Mungkin tanpa sadar, Jeno sudah betul-betul tertarik pada pemuda ini.
"Injunnieeeeee ~ bantu akuuu." Suara rengekan terdengar dari speaker ponsel Renjun. "Sudah ngerjain PR Matematika, belum?"
Renjun melirik meja belajarnya. "Sudah kok. Kenapa?" Ini bohong. Padahal kolom jawaban di buku tulisnya masih kosong.
"Besok pagi aku mau lihat PR-mu, boleh nggak? Aku sepertinya baru akan sampai rumah tengah malam …."
"Tengah malam?" Renjun mengerutkan dahi, suaranya terdengar khawatir. "Kamu memangnya habis dari mana?"
"... Jalan-jalan. Hehe."
"Sama doi?"
"Hehe. Bantu aku, ya? Ya? Waktu itu kan kau sudah kubantu untuk mencari informasi soal mengusir arwah jahat~"
Renjun menarik napas sambil melirik ke arah Jeno yang tampak penasaran. Sayang sekali informasi yang kau dapatkan nggak begitu berguna, Jaem, orang penjahatnya masih nempel begini. "Ya sudah. Hati-hati pulangnya … lain kali kalau jalan-jalan jangan sampai malam-malam begini, kau juga kan masih punya kewajiban untuk belajar."
"Iya, iya, hanya sekaliiii ini saja. Maaf ya, Injunie~"
"Tidak usah minta maaf … asal jangan diulangi saja, sih." Renjun menggumam. "Besok jangan terlambat datang ke sekolah ya."
"Oke! Terima kasih banyak, kau memang teman yang bisa diandalkan!"
Seulas senyum tipis muncul di wajah Renjun. "Sama-sama."
Pip. Sambungan terputus, Renjun menghela napas panjang. Jeno masih memandanginya dengan penasaran.
"Kenapa ngeliatin kayak gitu, sih?" ujar Renjun ketus, membuat Jeno terbelalak.
Lah, kenapa jadi judes lagi? "Emangnya nggak boleh? Aku juga punya mata!"
Jawaban Jeno malah membuat Renjun tertawa. Mungkin pada dasarnya anak ini memang tidak bisa marah atau judes lama-lama. "Kalau kau mau tahu, iya, yang tadi menelepon itu orangnya."
Ooh, Jeno mengerti. Ah, cinta anak remaja. Meskipun bertepuk sebelah tangan, namanya masih tetap cinta. "Orangnya seperti apa, sih?"
Jeno ketularan keponya Donghyuk. Untung saja Renjun berbaik hati untuk menjawab rasa penasaran sang bogeyman ganteng.
"Anaknya lucu," jawab Renjun dengan nada lembut. "Wajahnya ramah karena sering tersenyum. Aku bukan orang asli sini, keluargaku pindah dari Tiongkok beberapa tahun yang lalu dan dia adalah orang pertama yang jadi temanku di sekolah. Meskipun suka tidur di kelas atau menyalin PR, dia sebetulnya anak yang sangat baik. Yah, cewek yang sedang ia dekati juga orang yang sangat baik juga sih … jadi cocok, sama-sama baik …"
Renjun menghentikan sejenak ceritanya untuk menarik napas.
"Makanya, aku benar-benar ketakutan ketika kau memberikanku mimpi-mimpi buruk semacam itu," lanjut Renjun. "Aku sih tidak masalah dengan hantu, monster, siluman — setiap hari aku melihat makhluk-makhluk yang seperti itu. Tapi ketika aku melihat bagaimana dia tersakiti, bagaimana dia menderita, atau ketika aku terpisah darinya dengan cara terburuk … itu yang membuatku begitu takut. Meskipun hanya mimpi, tetap saja aku … takut. Aku tidak mau terpisah darinya, aku tidak mau melihatnya menderita."
Keheningan yang canggung kembali meliputi. Jeno merasakan sedikit rasa pahit di ujung-ujung lidahnya.
"Yang buat mimpi-mimpi seperti itu — bukan aku. Itu … pasir mimpiku," cerita Jeno pelan, mengakhiri keheningan. "Aku hanya membuat skenario seperti dikejar hantu, monster, pembunuh … yang membuat mimpi terkait temanmu itu adalah pasir mimpiku. Dia yang selama ini membaca ketakutanmu dan membuat mimpi berdasarkan hal tersebut …. Aku selama ini tidak sadar kalau telah menggunakan dua metode pembentukan mimpi buruk, uh, bodohnya."
Renjun tak yakin kalau ia mengerti betul apa yang diucapkan sang bogeyman, tapi ia memutuskan untuk mengangguk-angguk saja.
"Aku mengerti. Ya sudahlah, itu kan memang tugasmu." Renjun melompat dari kasur, kemudian bergerak menuju meja belajar. "Aku mau kerjain ini dulu. Kau sendiri harus keliling, kan?"
"I … iya sih." Jeno melirik langit malam. Ia masih harus kejar setoran.
"Pergilah." Renjun mengibaskan tangannya. "Aku benar-benar bermaksud untuk mengusir, lho."
Tak perlu satu lemparan bantal bagi Jeno untuk mengiyakan — karena dia memang betul-betul butuh pergi — sehingga bogeyman berambut kehijauan itu dengan segera saja berteleportasi, meninggalkan kamar Renjun dengan berjuta pertanyaan dan rasa penasaran di benaknya. Jeno menemukan dirinya ingin tahu seperti apa sakitnya patah hati dan bagaimana cara menyembuhkannya.
.
.
.
"Baca apaan?"
Donghyuk mengerutkan alisnya melihat Jeno yang tengah bertengger di ujung tiang listrik sambil membaca sesuatu. Yang ditanya tidak menjawab, sehingga Donghyuk terpaksa membungkuk untuk membaca judul buku yang dibaca Jeno. Kalimat yang terpampang di sampul buku tersebut cukup membuat pentolan dunia gosip bogeyman itu terperangah.
"Cara Cepat Atasi Patah Hati Untuk Pemula?" Donghyuk melongo. "Kamu habis ngapain? Habis nembak? Nembak siapa?"
Sayangnya, Donghyuk tidak mendapatkan jawaban. Kalau sudah konsentrasi, Jeno bisa lupa segalanya. Kali ini, ia terlalu sibuk untuk membaca tips ketigaratus untuk menyembuhkan rasa sakit hati akibat cinta yang bertepuk sebelah tangan, makanya ia mengabaikan Donghyuk dan segala rasa kekepoannya.
Saking fokusnya, Jeno sampai tak sadar ketika Donghyuk pergi, meninggalkannya beserta burung-burung gagak yang sudah mengenggap rambut kehijauannya sebagai sarang.
.
.
.
Berbeda dengan sebelumnya, Renjun kini terkejut ketika Jeno kembali datang, alih-alih pura-pura tidak lihat. Salah Jeno juga sih, karena nangkring di jendela kamar Renjun ketika pemuda itu sedang fokus dengan soal Fisika yang sedang dikerjakannya.
"Ja-jangan bikin kaget dengan tiba-tiba muncul!" serunya dengan suara sedikit tertahan, mungkin takut bablas berteriak dan membuat khawatir orangtuanya di bawah.
"Aku sudah di sini sejak tadi, kok, tidak tiba-tiba," elak Jeno. "Kamu terlalu fokus."
Renjun mendesah pelan. "Ya, ya, okelah. Mau apa datang kemari?"
"Aku mau ajak jalan-jalan."
Mata Renjun membulat, begitu juga dengan mulutnya. "Hah?"
"Ada pasar malam di dekat sini." Jeno menunjuk ke arah kiri. "Tahu pasar malam nggak?"
"Ya tahulah!" Renjun menjawab geli. Itu pertanyaan macam apa coba. "Tapi kenapa … tiba-tiba … malah ngajak ke pasar malam?"
"Hm, anggap saja sebagai permintaan maaf karena sudah menyusahkanmu selama seminggu." Jeno mengangkat bahunya. "Mau, ya? Di pasar malam seru, lho. Ada banyak permainan, ada yang jual kue bentuk ikan …."
"Kau bicara seakan-akan aku belum pernah ke pasar malam." Renjun terkikik geli. "Kau benar-benar mau mengajakku ke sana?"
"Yup!" Jeno mengangguk tegas. "Aku bisa menyamar jadi manusia, meskipun durasinya terbatas. Dengan begitu kau tak usah khawatir dikira orang gila."
Kalimat Jeno barusan membuat Renjun tersenyum kecil. Jeno tidak tahu soal ini, tapi sejak kecil memang ada beberapa orang yang menganggap Renjun aneh karena suka bicara sendiri — padahal yang dilakukannya hanya berkomunikasi dengan makhluk-makhluk yang tak kasat mata. Kenyataan bahwa Jeno juga mempertimbangkan hal kecil seperti ini membuat Renjun merasa begitu dihargai.
"Oke, tapi sepatuku?"
"Kau tidak bisa pergi tanpa sepatu?"
"... Ya nggak bisa lah, bogeyman." Renjun menggeleng tegas. "Atau gini, deh. Kau menyamar jadi temanku saja. Jemput aku di bawah, lalu kita pergi bersama."
Ide bagus. Jeno mengangguk-angguk setuju sebelum akhirnya menghilang. Tak lama setelah bogeyman itu menghilang dari jendela Renjun, pemuda itu bisa mendengar suara ibunya berseru memanggilnya.
"Injun-ah, ada temanmu datang!"
.
.
.
Tips #301 Mengatasi Patah Hati:
Jalan-jalan! Hiburlah dirimu dan tenangkan pikiran untuk sementara. Dengan begitu, kau bisa berpikir jernih untuk mengambil keputusan selanjutnya. Masih banyak ikan di laut, siapa tahu ketemu 'ikan' yang baru saat kau sedang berjalan-jalan ;)
.
.
.
Renjun sudah lama tidak ke pasar malam. Terakhir kali ia datang ke pasar malam hanya untuk menemani Chenle sepupunya, yang berlari-lari mengelilingi kawasan pasar malam seperti cacing kepanasan. Keesokan harinya Renjun sampai harus pakai banyak koyo di betis dan paha. Pengalaman yang tidak menyenangkan, tapi untuk hari ini sepertinya Renjun akan menikmati kunjungannya ke pasar malam ini.
Karena bukan musim liburan, pasar malamnya tidak begitu ramai, tapi juga tidak sesepi kota mati. Suasana yang cocok untuk Renjun yang tak nyaman dengan kerumunan. Jeno melihat betapa mata Renjun bersinar seperti bocah ketika melihat stand-stand permainan dan wahana sederhana seperti komedi putar dan bianglala. Suaranya juga terdengar begitu antusias ketika menemukan pedagang permen kapas.
"Aku sudah lama sekali tidak makan permen kapas!" seru Renjun sambil berjalan menghampiri sang paman penjual permen kapas. "Kau bisa makan ini? Mau satu, nggak?"
Untuk kalian yang bertanya-tanya; ya, bogeyman dan beberapa jenis makhluk halus lainnya memang bisa makan makanan manusia kalau mereka mau, tapi hal tersebut bukanlah sebuah kebutuhan. Tidak makan tidak akan membuat bogeyman sakit atau mati, tidak seperti manusia. Jadi Jeno tidak menolak ketika Renjun memesan dua buah permen kapas pada paman pedagang, dan memberikan satunya kepada Jeno. Ia bahkan tak keberatan menggunakan uangnya sendiri untuk membelikan Jeno permen kapas itu, padahal Jeno sudah menyiapkan beberapa lembar won untuk mentraktir Renjun dan membuatnya senang — tapi tampaknya pemuda itu akan lebih senang kalau berhasil menyenangkan orang lain.
Mereka berdua sedang melangkah tanpa arah ketika tiba-tiba Renjun melihat suatu stand yang membuatnya terpaku. Jeno, yang berjalan sedikit di belakangnya, sampai menabrak punggung Renjun karena ia mengerem langkahnya dengan tiba-tiba.
"Ada apa?" tanya Jeno penasaran. "Kok tiba-tiba berhenti?"
"... Itu." Telunjuk Renjun mengarah pada sebuah boneka besar yang dipajang di stand permainan dart. "Ada boneka Moomin ukuran besar. Lucu sekali."
"Kau suka banget dengan Moomin, ya?"
"Aku belum pernah punya boneka sebesar itu … pasti enak untuk dipeluk." Renjun menimpali, seolah tidak mendengar ucapan Jeno sebelumnya. Jeno terdiam sejenak, fokusnya berpindah-pindah dari boneka Moomin, lalu Renjun, lalu boneka Moomin lagi, lalu Renjun lagi.
"Mau coba?" tawar Jeno. "Lumayan kan, ada yang bisa dipeluk malam-malam karena kau tak punya pacar."
Komentar iseng tersebut dihadiahi sebuah cubitan keras di lengan yang membuat Jeno meringis. Salah sendiri.
"Nggak gitu juga, kali. Aku memang lebih senang tidur kalau ada yang bisa dipeluk."
"Ya sudah, kamu mau coba main, nggak?" Jeno kembali menawarkan. "Kalau mau, ayo ke sana."
Renjun menyipitkan matanya sambil menatap Jeno penuh penilaian. "Yakin kamu bisa memenangkan boneka itu?"
"Ya … ya kalau aku tidak menang, penjaga stand-nya akan kuberikan mimpi buruk selama sebulan penuh."
Renjun tertawa geli. "Jangan jahat!"
Ternyata Jeno payah sekali dalam permainan seperti ini. Jika tidak dihentikan Renjun, ia pasti sudah bokek. Meskipun tidak berhasil memboyong boneka Moomin incaran Renjun, setidaknya mereka berhasil mendapat dua bungkus homemade cookies, hasil dari bidikan Renjun. Bukan Jeno, yang panah dart-nya selalu meleset atau jatuh duluan sebelum mengenai papan. Diam-diam Jeno menyusun rencana latihan melempar dart. Mungkin ia bisa minta bantuan Donghyuk.
"Setelah ini, mau ke mana lagi?" tanya Jeno pada Renjun yang asyik mengunyah cookies-nya. Yang ditanya tampak berpikir, kemudian mengedarkan pandangan ke sekitar.
"Kau mau coba apa?"
"Hmm ..." Jeno berpikir sebentar. "Mau komedi putar?"
Renjun mengangguk. "Baiklah, ayo."
Ada sesuatu yang magis dalam wahana komedi putar. Padahal wahana itu hanya berputar-putar selama beberapa kali plus bergerak naik-turun, tapi wahana ini tetap menjadi favorit banyak orang. Termasuk Renjun, yang tersenyum ceria sekali di atas kuda putihnya. Jeno memperhatikan dari belakang — ia tak kebagian kuda jadi duduk di kursi. Ia tidak bisa mengatakan hal ini keras-keras — tepatnya, ia masih malu untuk mengatakannya — tapi Jeno bisa-bisanya berpikir kalau senyuman Renjun terlihat seperti sesuatu yang wajib untuk dilindungi.
.
.
.
"Makasih banyak untuk malam ini." Renjun menyunggingkan senyum tulus yang membuat Jeno terpaku di tempatnya. "Sebenarnya kamu nggak perlu melakukan hal seperti ini, karena ini memang pekerjaanmu — tapi aku benar-benar menghargai apa yang kau lakukan malam ini."
Aduh. Jeno tidak tahu kata apa yang cukup representatif untuk menggambarkan sensasi cekit-cekit di dadanya yang muncul ketika melihat senyum Renjun. Kesetrum? Masa sih? Bukannya kesetrum itu sakit, ya?
Tapi kalau mengingat kenyataan pahit kalau Renjun belum tentu merasakan perasaan yang sama … itu juga rasanya sakit, sih. Jadi iya betul, ini perasaan kesetrum. Kesetrum yang nagih.
"Sama-sama," gumam Jeno setengah salah tingkah. "Kapan-kapan kalau kau luang … mau main bareng lagi?"
"Kalau kau luang, ayo-ayo saja." Renjun mengangguk mantap. 'Ini aneh, sih, tapi rasanya sekarang kita sudah seperti teman."
Teman? Jeno mengernyitkan dahi. Seumur hidup ia belum pernah memiliki teman manusia. Kenyataan tersebut membuat ekspresinya berubah menjadi bahagia dengan segera — hei, kini ia punya teman baru! Bertambah satu teman bukanlah hal yang bisa dibilang buruk, bukan?
"Kalau begitu, ayo… kita berteman?" ajak Jeno sambil mengulurkan tangannya. Dari pengalamannya mengamati kehidupan manusia, biasanya dua orang teman bersalaman ketika pertama kali berjumpa, berkenalan, atau ketika memutuskan untuk menjadi teman. Renjun terdiam sejenak, menatap tangan Jeno yang terulur di depannya. Ekspresinya tampak ragu. Jeno kebingungan.
"Kenapa?" tanya Jeno penasaran, melihat Renjun yang tak kunjung menyambut uluran tangannya.
"Uh … nggak apa-apa, hanya mikir saja," geleng Renjun sekilas. "Kamu tahu, ini bukan pertama kalinya aku berteman dengan makhluk halus …."
Oh iya. Jeno nyaris lupa kalau mereka berdua makhluk beda entitas. Kok bisa-bisanya ia sampai tidak mempertimbangkan hal tersebut.
"Aku tidak pernah lama berteman dengan makhluk halus," ceritanya pelan. "Antara mereka yang meninggalkanku, atau aku yang harus meninggalkan mereka. Beberapan teman hantuku, mereka jadi tenang dan berhenti gentayangan. Aku pernah berteman dengan ruh pelindung waktu di Tiongkok dulu, tapi ternyata aku harus pindah ke Korea. Pertemanan beda alam seperti ini nggak akan awet …."
Kalimat Renjun barusan sangat terdengar pesimis. Jeno tidak terima.
"Tapi kamu belum pernah kan, coba berteman dengan bogeyman?" desak Jeno. "Aku beda dengan hantu atau ruh pelindung …."
Renjun menatap Jeno dalam-dalam.
"Bedanya apa?" tanya Renjun lembut.
"Aku … pokoknya, pokoknya beda!" Jeno masih mengulurkan tangannya dengan keras kepala. "Aku bisa kok, jadi teman yang baik untukmu!"
Kekeraskepalaan Jeno sukses meluluhkan hati Renjun. Seulas senyum kecil muncul di wajahnya selagi pemuda Huang itu menyambut jabatan tangan Jeno.
"Makasih, ya," gumam Renjun tulus. "Sekarang kita berteman."
.
.
.
Masalahnya adalah, Jeno tidak tahu apakah 'teman' itu sama dengan munculnya perasaan kesetrum-kesetrum nagih dalam hati bogeyman-nya yang terdalam.
Semalam, Jeno mengajak Renjun jalan-jalan di sekitar Sungai Han, tanpa peduli gosipan dari kelompok Grim Reaper yang masih saja kurang kerjaan nongkrong di pinggir sungai. Ada waktu di mana tanpa sadar Renjun menggenggam jari telunjuk Jeno dengan tangan kanannya, dan hal tersebut membuat Jeno ingin tersenyum terus. Renjun sendiri, wajahnya berubah merah setelah menyadari bahwa tangannya sudah nyangkut pada jari telunjuk Jeno, dan melepaskannya dengan segera.
"... Nggak apa-apa, kok." Begitu ujar Jeno saat Renjun melepas genggaman tangannya, tapi Renjun tampaknya sudah terlalu malu. Ia berjalan sedikit menjauh dari Jeno sampai akhir jalan-jalan malam mereka, tapi masih terlihat sangat senang. Jeno menebak-nebak sedikit berharap kalau Renjun juga merasakan perasaan kesetrum-kesetrum nagih yang selama ini ia rasakan. Tak adil dong kalau selama ini hanya Jeno yang disetrum terus. Jeno patut berbahagia, karena sebenarnya tebakannya itu tidak sepenuhnya meleset. Dengan selalu berada di sisi Renjun, mengajaknya berjalan-jalan atau membantunya mengerjakan PR, hal tersebut cukup untuk membuat Renjun begitu menghargai Jeno. Keberadaan Jeno telah membantunya menambal lubang dalam hati yang terbentuk karena cintanya yang bertepuk sebelah tangan pada Jaemin.
Hanya saja, keduanya tidak tahu kalau untuk menambal lubang tersebut memakan bayaran berupa keberadaan lubang yang baru.
Semacam gali lubang tutup lubang, kasarnya, karena pada dasarnya hubungan antar alam seperti ini memang tidak dimaksudkan untuk berjalan dengan mulus tanpa ada kendala.
"Yang bener aja, bro." Senior Johnny menggeleng-gelengkan kepala melihat slip gaji Jeno. "Gaji you turun banget sampai 200%! You ngapain aja selama ini, hm? Nggak takut dapat surat peringatan? Masih ingat kan kalau malas-malasan seperti ini, tidak cari korban dan menebarkan mimpi buruk, you bisa dapet surat peringatan?"
"... Inget kok, Senior," gumam Jeno lirih sambil mengamati angka-angka yang tertera di slip gajinya. Parah juga sih, ia bahkan pernah menghabiskan dua malam tanpa memberikan mimpi buruk karena membantu Renjun mengerjakan PR dan setelah itu mengamatinya tidur tanpa sepengetahuan sang anak manusia.
"Kalau udah dapat surat peringatan tiga kali, ingat apa yang akan you dapetin?"
"... Reinkarnasi jadi biji kacang atau debu kasur, Senior."
"Nah! Memangnya you mau jadi begituan? Sudah asyik jadi bogeyman …." Johnny menggelengkan kepalanya heran. "Kecuali kalau memang jadi debu kasur itu tujuan hidup you, I nggak bakal nge-judge."
Jeno meringis. "Saya ngerti, Senior."
"Bagus kalo you ngerti, tapi sekarang kita butuh tindakan, bukan omong kosong oke? Biar you lebih semangat kerja, tampaknya you harus dipindahkan ke zona waktu lain."
"Gi-gimana, Senior?" Jeno langsung gagap. "Pindah ke zona waktu lain?"
"Iya. Kebetulan di daerah khatulistiwa masih butuh banyak sumber daya bogeyman. Nggak ada pilihan lain. Tenang, I bisa urus segala keperluan pemindahan. You tinggal berangkat saja."
"Tapi —"
"Nggak ada tapi-tapian." Keputusan Johnny sudah mutlak. "Ini sudah termasuk kemurahan hati lho, menawarkan pindah tempat. Mending pindah tempat atau dapat surat peringatan?"
"Nggak mending dua-duanya sih, Senior."
Johnny melotot, disambut dengan cengiran kuda dari Jeno. Jeno tak bisa lagi mengelak.
"... Baiklah kalau begitu, Senior. Saya tunggu keputusan selanjutnya … Terima kasih. "
Jeno meninggalkan kantor keuangan dengan hati gelisah.
.
.
.
"... Sabar ya, bro. Aku bakal kangen kamu."
Donghyuk, sejak awal cerita ini, sudah berperan menjadi pendengar yang baik bagi Jeno dan sampai akhir pun peran tersebut tidak akan tergantikan. Wajah Jeno tampak begitu muram apalagi setelah menjelaskan rencana kepindahannya ke zona waktu lain. Ia juga benar-benar menyesali betapa ia mengabaikan pekerjaan selama ini karena Renjun. Padahal secara teoritis, ia bisa saja menghabiskan malam bersama Renjun sebentar dan setelah itu baru cabut untuk mencari korban sebelum matahari terbit, tapi sekali lagi, itu hanyalah bacotan teori. Kenyataannya Jeno masih jauh lebih betah untuk mengamati Renjun tidur, mengusir dedemit-dedemit jahat yang ingin berbuat jahat, dan memastikan bahwa Renjun bisa tidur dengan lelap. Ia baru akan cabut ketika Renjun terbangun. Oke, ia bisa saja memberikan mimpi buruk pada orang-orang yang tidur siang, tapi populasi orang seperti ini sulit dicari — dan hitungan kompensasinya pun tidak sebesar memberikan mimpi buruk pada tidur malam.
Ujung-ujungnya segala urusan yang melibatkan Renjun ini berdampak pada produktivitasnya. Ini semua salah perasaan nyetrum-nyetrum nagih yang tak terobati itu. Perasaan yang membuatnya terlalu betah bersama Renjun, perasaan yang membuatnya selalu ingin berada di sisi pemuda itu. Donghyuk pikir Jeno mulai ngaco; tapi itu hanya karena ia belum bisa berempati dengan sang bogeyman bermata kecil.
"Ya ini konsekuensi dari pilihan kamu …" ujar Donghyuk sambil menepuk-nepuk punggung Jeno. "Kalau kamu nggak bisa bertindak dengan rasional selama ada dia, ya nggak ada pilihan lain selain meninggalkan hal yang membuat prioritasmu kacau. Memang sih, resikonya antara jadi waras atau makin gila, tapi semua hal pasti ada konsekuensinya. Mau gimana juga mau membangun hubungan sama manusia itu nggak bakalan ada ujung pangkalnya. Kita terlalu beda."
Jeno manyun. "Aku nggak mau jadi debu kasur, tapi nggak mau ninggalin Renjun juga."
"Kamu ngomong begitu sampai mulut berbusa juga nggak akan mengubah keputusan Senior Johnny, bro. Masih untung kamu cuma dipindah ke zona waktu lain, daripada langsung dikasih surat peringatan tanpa peringatan, surprise! Langsung jantungan kan nanti, eh kita nggak punya jantung ya lupa. Maksudku begini lho, ini tuh keputusan terbaik."
"Aku bingung gimana caranya bilang ke Renjun." Jeno mengeluh. "Nanti kalau dia ngerasa bersalah, gimana? Aku nggak mau seolah-olah aku menyalahkan dia — atas apa yang sudah kulakukan."
Donghyuk terdiam, otaknya berputar. Tak butuh waktu lama sampai sebuah lampu imajiner menyala di atas kepalanya.
"Aku punya ide, gini …"
.
.
.
"Maksudmu apa kita nggak bisa ketemu lagi?"
Renjun mengepalkan tangannya kuat-kuat sambil mengucapkan kalimat barusan dengan nada lirih. Ekspresinya tak bisa Jeno tebak. Terkesan seperti campuran amarah, kekecewaan, dan rasa tidak percaya. Jeno perlahan menggigit bibirnya, dalam kebingungan untuk merangkai kata-kata.
"Ya … ya seperti itu," jawab Jeno ambigu. "Kita nggak bisa ketemu lagi, aku nggak bisa ajak kamu jalan-jalan atau bantu PR-mu lagi. Masih … kurang jelas?"
Mata Renjun terlihat berair, namun pembawaannya tetap tenang.
"Aku sudah duga ujung-ujungnya akan seperti ini, kan." Pemuda itu membuang muka. "Ini bukan pertama kalinya aku ditinggal seperti ini … semuanya sama saja."
Tenggorokan Jeno rasanya seperti dihambat sesuatu. Ia harus tetap tenang meskipun rasanya ingin berteriak meraung-raung, menjelaskan pada Renjun kalau sebenarnya ia tidak bermaksud begitu.
"Padahal aku sudah nyaman sekali bersamamu," lanjut Renjun, menyiram cuka di atas luka. "Aku sangat menghargai usahamu untuk membuatku senang."
"... Renjun, aku ada satu pertanyaan." Jeno sebetulnya ingin kabur saja, tapi ia harus menyelesaikan segalanya. "Kamu … kamu sayang aku atau tidak?"
"Hah?"
"... Jawab aja."
"... Kalau iya, bagaimana?"
"... Kehilangan orang yang kau sayangi adalah salah satu ketakutan terbesarmu, kan?" ujar Jeno lirih. "Dan aku adalah seorang bogeyman. Tugasku … adalah membuatmu merasakan perwujudan dari ketakutan terbesarmu."
Kedua mata Renjun yang berkaca-kaca membesar dengan tidak percaya.
"Kamu nggak serius —"
"Selamat tinggal."
Jeno berlari lewat jendela, seperti yang dilakukannya waktu itu; ketika Renjun mengusirnya dengan menggunakan bantal, ketika dilema ini belum ada. Meninggalkan Renjun yang berusaha menahan diri agar tidak meledak begitu saja, meskipun dadanya saat ini terasa begitu sesak.
.
.
.
"Kamu buat dia benci padamu, biar dia bisa melepas kamu pergi, dan kamu juga nggak punya alasan untuk kembali padanya."
.
.
.
Ide Donghyuk terdengar keji, tapi Jeno sudah terlanjur hilang arah. Tidak ada nasihat lain yang bisa diikutinya, lagipula sengaco-ngaconya Donghyuk, ia juga bisa memberikan nasihat yang penuh pertimbangan. Kalau Donghyuk bilang ini demi kebaikanmu, ya itu artinya memang demi kebaikan Jeno.
Usai meninggalkan jendela kamar Renjun, Jeno terbang dengan sembarangan. Kepalanya masih sangat kacau, tak kuasa mengingat kembali apa yang terjadi barusan. Sudahlah, begitu ia menyugesti dirinya sendiri. Toh ini memang salahmu yang tak bisa bagi waktu. Salahmu sendiri yang terlalu bego jadi bogeyman. Ingin rasanya menyalahkan Renjun karena sudah menyetrumnya setiap hari, tapi tidak, Renjun tidak tahu apa-apa. Ia bahkan seharusnya tidak berurusan dengan Jeno sampai sejauh ini. Ini semua karena kekeraskepalaan Jeno.
Jeno terlalu sibuk dengan pikiran-pikiran di kepalanya sampai-sampai tidak lihat kanan-kiri. Tahu-tahu, ia menabrak sesuatu — yang membawa berita buruk dan berita bagus. Berita buruknya, sesuatu yang ia tabrak adalah seorang sandman, dan kebetulan adalah sandman yang cukup Jeno kenali. Namanya Mark, pernah jadi saingan ketatnya selama beberapa waktu. Berita bagusnya, hei, dia adalah sandman yang Jeno kenali.
"Main tabrak-tabrak saja …" Biasa, Mark tidak main teriak atau main fisik. Spesialisasinya adalah pasif-agresivitas. Nada sinis dan ekspresi jutek. "Mata ditaruh di mana …."
"Widih, widih, kalem Bang, hahaha …." Jeno memasang senyum dibuat-buat yang sangat kentara. "Santai aja sih Bang kayak nggak pernah ditabrak aja haha …"
Mark sudah siap untuk meninggalkan mode sinisnya dan beralih pada mode main fisik sekalian, tapi Jeno buru-buru mencegah.
"Sabar Bang, sabar! Jangan naik darah dulu lah. Tuh, tuh ya, di sana …" Jeno menunjuk ke arah rumah Renjun. "Ada anak cowok, kayaknya dia butuh mimpi indah tuh Bang."
Mark memicingkan matanya, memandang Jeno penuh penilaian. "Maksudnya?"
"Lah bukannya udah jelas, di sana tuh, di sana, ada anak cowok butuh mimpi indah. Rumahnya yang dicat warna hijau, terus rambut anaknya oranye kayak bola basket. Biasanya kalau tidur meluk guling, terus tadi kalau nggak salah pakai piyama warna hijau. Kasihlah dia mimpi indah Bang, biar bisa tidur nyenyak malam ini," pinta Jeno yang disambut dengan kebingungan Mark.
"Nggak bercanda, kan?"
"Ya elah Bang muka serius begini dibilang bercanda. Lagian kalau bercanda saya udah jadi stand up comedian Bang, bukan bogeyman," tutur Jeno sedikit sewot karena Mark tidak lantas percaya. Ya iya sih Jeno kan rivalnya gitu lho, kan wajar kalau Mark tidak langsung percaya.
"Ya udah, kalau emang beneran ... awas aja kalau cuma iseng."
Mark langsung berlalu tanpa menunggu jawaban dari Jeno.
"Kasih mimpi yang paling indah ya Bang!"
Jeno berteriak. Suaranya terdengar sedikit serak.
.
.
.
Epilogue
Tidak bohong; Jeno sangat merindukan udara Seoul.
Perjuangannya selama lima tahun di daerah khatulistiwa tidak berujung sia-sia. Jeno mendapatkan kesempatan untuk memilih kembali zona waktu tempatnya bertugas — ia harus menukarkan gajinya dalam jumlah tertentu untuk mendapatkan hak ini — dan tanpa berpikir panjang, ia langsung memutuskan untuk kembali ke Seoul.
Jangan pikir Jeno yang sekarang adalah Jeno yang dulu; ia bukan lagi bogeyman yang prioritasnya mulai kacau karena perasaan nyetrum-nyetrum nagih dalam hatinya. Pemindahan zona waktu yang dialaminya seolah memberinya berbagai pelajaran berharga; memang hidup tak akan pernah berhenti memberimu pelajaran meskipun umurmu sudah lebih dari seribu tahun. Jeno mendapatkan banyak cerita mengenai hubungan dengan manusia. Jeno mendapatkan banyak pelajaran tentang menyeimbangkan profesionalitas dan rasa sayang.
Bohong kalau Jeno bilang tidak merindukan Renjun; ia masih menyayanginya, sangat. Tapi ia sudah belajar untuk membatasi rasa tersebut — seperti yang Donghyuk bilang, hubungan antar alam seperti ini tidak akan ada ujung dan pangkalnya. Segalanya harus dibuat stagnan. Bukanlah sebuah larangan untuk berteman dengan manusia; tapi kau harus tahu konsekuensinya. Apa saja yang harus kau korbankan dan apa saja yang bisa kau dapatkan. Sesungguhnya, Jeno bersyukur bahwa ia tidak sampai kelewat berlebihan dengan perasaan sayangnya. Ia bersyukur diberi kesempatan belajar sebelum segalanya menjadi semakin memburuk.
Malam pertama Jeno kembali ke Seoul, ia mencari jendela yang sudah sangat familiar itu. Saat ia sampai di sana, kamar itu kosong — lampunya tak menyala, kasurnya terlalu rapi, dan meja belajar yang biasanya berantakan oleh alat tulis dan buku kini kosong. Tentu saja, batin Jeno. Lima tahun sudah berlalu. Dia pasti sudah besar sekarang, mungkin tinggal terpisah dengan orangtuanya.
"Kok tololnya nggak sembuh-sembuh, ya," gumam Jeno pada dirinya sendiri. Baru saja ia berpikir untuk pergi dari jendela itu, lampu kamar tiba-tiba menyala. Jeno menoleh, matanya membulat.
"Ren —"
"Hei, lama nggak ketemu," sapanya hangat sambil membuka jendela lebar-lebar. Selain tinggi badan dan gigi yang jadi sedikit lebih rapi, tampaknya tak ada yang berubah darinya. Senyumnya masih sama. Tatapan matanya masih sama. "Kok kebetulan sekali ya, kamu datang pas aku pulang?"
Jeno bengong. Ia mengira Renjun akan memakinya atau mengusirnya, dan Jeno sudah siap akan hal itu, tapi ternyata ia menyambutnya dengan hangat.
"Bingung ya? Aku tahu semuanya, kok," gumam Renjun. "Dulu itu aku … masih sangat labil. Maaf, ya. Harusnya aku lebih tahu kalau hubungan manusia dan makhluk halus itu tidak akan pernah berjalan tanpa kendala, tapi aku keras kepala dan malah menyalahkanmu. Aku sekarang sudah bisa menjaga perasaanku."
"Kau tahu dari …."
"Dari seorang sandman baik hati yang kebetulan kenal bogeyman tukang gosip," jawab Renjun dengan binar mata jahil. Jeno butuh beberapa saat untuk mengerti ucapan Renjun, lalu ia menghembuskan napas panjang.
"Lalu kau … bagaimana sekarang?" Jeno mengalihkan pembicaraan. "Sudah ada … yang mengisi hatimu?"
Renjun tertawa. "Belum, belum. Tapi masih mencari, kok. Kuharap kalau aku patah hati lagi, kau ada di sini untuk membuatku senang seperti dulu."
Sebuah senyuman lebar terbit di wajah Jeno.
"Gampang," ujarnya. "Jadi … sekarang kita berteman lagi?"
Renjun mengangguk. "Teman baik."
.
.
.
"Kamu … kenapa masih di sini?" Renjun yang sudah masuk ke dalam selimut, memandang Jeno dengan bingung. "Nggak keliling kejar setoran?"
"Lho?" Jeno menyeringai. "Buat apa, kalau di sini sudah ada sasaran empuk ngapain harus keliling?"
"HM MINTA DIUSIR PAKAI BANTAL YA."
.
.
.
END
a/n: YA GENRENYA JADI SEMAKIN CAMPURSARI SAUDARA-SAUDARA, mohon maaf banget kalau chapter ini mengecewakan. Mungkin jadi ngaco begini karena saya semakin pusing sama jeno injun,,,,, someone pls stop them,,,, jeno di kehidupan sebelumnya beramal apa sih sampe2 sekarang bisa ndusel-ndusel injun dengan bebas,,,,,, oke cukup. Injunnya juga sih udah kayak heroine shoujo manga, banyak yang demen menelin dia sigh. Btw saya kangen banget sama interaksinya injun-jaemin … ingin nana segera balik biar bisa bikin trio kwek kwek sama jeno dan injun 8(
Anyway terima kasih banyak atas dukungannya, baik yang berupa review, fav, follow, dan/atau kesediaan untuk membaca T_T saya nggak nyangka antusiasme kalian sangat tinggi buat fanfic yang notabene fanfic iseng ini hue T_T malah ada yang ngasih ide buat fic ini (terima kasih udah ngusulin Mark jadi Sandman, pacarnyaHaechan-nim!). Oiya buat Yongyongieee-nim, yess anda benar idenya memang saya ambil dari Rise of The Guardians! Buat spelling bogeyman itu sendiri bisa bogeyman, bisa boogeyman, dua-duanya sama, bedanya kalo boogeyman itu spelling British hehe. Menjawab Cho Minseo-nim juga, bogeyman itu saya ambil dari Rise of The Guardians, tapi untuk perintilan kayak soal hukum negara (?) dan peraturan-peraturan bogeyman itu saya murni ngarang sendiri hehe.
Review yang lain mungkin nggak bisa saya bales satu-satu, tapi yang jelas saya berterima kasih banget atas dukungan dan feedbacknya! ;u;
Kita ketemu lagi di lain cerita ya~
regards,
vanderwood.
PS: saya ngedit beberapa bagian di chapter 1 demi memperbaiki plothole ww. Bisa dibaca ulang buat figure out bagian mana yang saya perbaiki~
PPS: SAYA MAU GANTI PENNAME JADI PUSINGSAMANOREN BOLEH GAK
