.
.
.
Waktu telah berjalan selama sepuluh hari ngomong-ngomong, meninggalkan Baekhyun sendiri meringkuk diatas pembaringannya sambil menangisi nasib. Tingkah yang membuat Luhan yang tadinya merasa sedih dan iba kepada nasib sahabatnya ini menjadi kesal luar biasa. Sejujurnya Luhan akui bahwa dirinya tidak mengerti rasa sakit yang Baekhyun terima, sekalipun gadis itu tidak pernah megalami sebuah pengkhianatan dan rasanya dicampakkan. Untuk itu, mengenai apapun yang telah dialami oleh si mungil Byun itu akan coba dia mengerti, akan coba dia pahami dan sebisa mungkin akan dia bantu meringankan penderitaan sahabat mungilnya itu. Tapi pada akhirnya pengertian Luhan hanya sampai pada batas ini saja. Gadis itu kesal.
Luhan tahu Baekhyun terluka. Sakit hati. Hatinya retak dan bernanah-nanah atau apalah itu. Tapi, ya Tuhan, ini sudah lewat sebulan dari peristiwa putusnya Baekhyun-Chanyeol dan sepuluh hari sejak Baekhyun menangis meraung-raung dipelukannya. Setiap orang mempunyai limitnya masing-masing dan Luhan rasa Baekhyun sudah mencapai limitnya. Gadis itu harus berhenti menangisi hidup. Dia tetap harus berjalan lurus dengan mengangkat kepalanya tegak meskipun hatinya bernanah. Dia harus tetap bisa menjaga kepalanya tetap dingin walaupun otaknya terasa mau pecah. Setidaknya Baekhyun harus bisa menunjukkan kepada Park –Sialan– Chanyeol kalau hidupnya akan tetap berjalan dengan atau tanpa Chanyeol disampingnya. Baekhyun harus bisa memperlihatkan pada pemuda sialan itu, bahwa ada ataupun tanpa Chanyeol, Baekhyun akan tetap tegar. Dan Luhan akan memastikan itu. Membuat Baekhyun berhenti menangisi kisah cintanya yang menyedihkan dan move on. Moving On.
.
.
.
Luhan serius tentang membuat Baekhyun bangkit dari pembaringannya dan membuat gadis malang itu kembali menjalani hidupnya yang berantakan agar menjadi setidaknya sedikit lebih baik. Luhan sudah memikirkan banyak sekali rencana untuk membuat Baekhyun kembali menjadi Byun Baekhyun yang dikenalnya sejak zaman sekolah, Baekhyun yang ceria, urakan dan selalu merecokinya. Semua rencana sudah tersusun dengan apik di kepala cantiknya, rencana yang sebenarnya lebih mengarah kepada pelaksanaan hobi Luhan untuk bersenang-senang dan menghabiskan uang. Menurut Luhan itu adalah rencana yang sempurna: pergi ke salon, spa, belanja dan pergi ke club untuk menari dan minum-minum. Tidak apa-apa menjadi liar sebentar dan menumpuk tagihan kartu kredit yang harus mereka bayarkan. Sekali-kali manusia memang harus bersenang-senang.
Dengan rencana sempurna yang telah dia bungkus rapi dengan pita cantik berwarna merah muda itulah Luhan melangkah menuju kamar Baekhyun. Luhan sudah siap memberikan kadonya kepada Baekhyun, kado yang Luhan yakini akan membuat Baekhyun setidaknya mau keluar dari pembaringannya yang membosankan dan terlihat sama menyedihkannya dengan pemiliknya. Luhan berjalan dengan langkah ringan dan perasaan lumayan riang menuju ke kamar Baekhyun. Tinggal beberapa langkah menuju kamar Baekhyun dan Luhan menyerukan nama Baekhyun dengan intoasi lucu yang dibuat-buat.
"Baekkie-ya... Baekkie-ya..." katanya.
Terhitung tiga kali pengulangan yang dilakukannya untuk menyerukan nama Baekhyun, tetapi tidak ada respon yang didapatinya dari sahabat mungilnya itu. Tidak mau menghancurkan moodnya yang sudah bagus dengan pemikiran-pemikiran tentang belanja dan salon hanya karena tidak ada balasan dari Baekhyun, Luhan hanya mengendikkan bahunya. Luhan, gadis itu menarik kenop pintu dan mendorongnya kebelakang segera setelah diriya sampai didepan kamar Baekhyun. Luhan sudah akan menyerukan panggilan untuk si mungil Byun itu sekali lagi, jika saja dirinya tidak menemukan pemandangan menyedihkan yang tersaji di atas ranjang di dalam kamar itu. Sekali lagi dalam seharian ini Luhan menghembuskan nafas dengan kesal. Dibukanya pintu kamar itu lebih lebar agar dirinya bisa masuk dan berteriak dengan kesal.
"Demi Tuhan Byun Baekhyun! Berhenti meratapi kisah cintamu yang menyedihkan itu dan ikut aku sekarang!"
.
.
.
Benar sekali apa yang dikatakan sebuah kutipan yang pernah Baekhyun baca 'Things Change. And friends leave. Life doesn't stop for anybody.' Banyak hal berubah dan teman terbaiknya, belahan jiwanya pergi. Kehidupan Baekhyun sepertinya berhenti disana. Tapi tidak! Kehidupan tidak berhenti untuk siapapun. Tidak pernah. Seperti kehidupan yang Baekhyun jalani, nyatanya waktu terus bergulir disampingnya, menimbun luka yang ia terima di masa lalu dengan sesuatu yang baru, kenangan indah dan juga luka, lagi. Semua kebahagiaan manis yang waktu berikan kepadanya membuat Baekhyun lupa, membuatnya terlena dan terlalu berani untuk melambungkan mimpi-mimpinya sampai kemudian waktu jugalah yang mempertemukannya dengan luka yang baru, yang membuat luka lama yang dimilikinya juga ikut tersingkap dan kembali bernanah.
Apa kebahagiaan tidak akan pernah menjadi sahabat baiknya? Apa hanya akan ada harapan semu yang akan selalu mengiringinya? Pemikiran tersebut bukan pemikiran sepintas yang tidak sengaja menghinggapi kepalanya, tapi merupakan pemikiran yang menetap dan terus meracuni otaknya. Membuat jiwanya yang telah rapuh menjadi semakin rapuh. Pemikiran tentang kebahagiaan itu menggeregoti Baekhyun peln-pelan dari dalam. Menimbulkan sedikit demi sedikit rasa sakit yang kemudian menjadi rasa sakit yang tak tertahankan. Baekhyun menghela nafas cukup keras sampai menimbulka kerutan bingung pada gadis cantik dengan tubuh semampai yang sedang membenahi penampilan Baekhyun.
"Kau tahu kan menghela nafas terlalu sering itu tidak baik? Berhentilah melakukannya Baek." Ucapan dari gadis bertubuh semampai itu membuat Baekhyun kembali pada realita. Baekhyun memperhatikan gadis itu melalui cermin yang ada dihadapannya, mengamatinya yang tidak berhenti melakukan pekerjaannya pada Baekhyun. Ngomong-ngomong saat ini Baekhyun sedang berada disalah satu salon milik temannya setelah Luhan berhasil menyeretnya dari tempat tidurnya yang nyaman.
"Jadi, apa ada cerita menarik yang aku lewatkan sampai wajah cantikmu berubah kusam dan tidak berwarna seperti ini?" Gadis itu bertanya tanpa menghentikan tangan-tangan terampilnya yang sedang bekerja.
"Tidak ada yang menarik Tao. Hanya ada sesuatu." Dengan senyum tipis yang terlihat sekali dipaksakan Baekhyun menjawab pertanyaan gadis itu, Tao.
"Hah! Walaupun aku tahu benar kau berbohong, tapi aku akan membiarkannya saja Baekhyun-ah." Balas Tao dengan senyum cantik yang tersungging dibibirnya.
Baekhyun beruntung meskipun Tao sama cerewet dan menyebalkannya seperti Luhan tapi setidaknya gadis itu membiarkannya sendiri dengan kesedihannya. Tidak terus-menerus mengusiknya seperti apa yang dilakukan Luhan padanya. Untuk itu Baekhyun memberikan sebuah senyuman kecil yang tulus untuk pengertian Tao padanya.
"Terima kasih Tao, aku menghargainya."
"Sama sekali bukan masalah Baek, aku juga tidak suka dipaksa bercerita ketika aku sedang tidak menginginkannya." Kata Tao.
Baekhyun, sekali lagi tersenyum berterima kasih kepada Tao. Beberapa detik setelahnya mereka berdua kembali kepada kesibukan masing-masing, Tao dengan cekatan kembali memfokuskan pekerjaannya pada rambut Baekhyun, sedangkan Baekhyun kembali membiarkan pikirannya melanglang buana.
"Apa sudah selesai?" Suara Luhan membuat keduanya terkejut dan sontak menolehkan kepala kearah gadis itu. Disana Luhan berjalan kearah keduanya dengan dua gelas kopi ditangannya. Luhan menghampiri keduanya dan meletakkan salah satu dari kopi yang dibawanya ke atas meja rias dihadapan Baekhyun. Tidak ada jawaban yang diberikan keduanya pada Luhan, dalam diam mempersilahkan Luhan menemukan sendiri jawabannya.
"Kenapa cuma dua?" Tanya Baekhyun yang hanya menemukan dua gelas kopi yang dibawa temannya.
"Tao sedang diet caffeine Baek." Jawabnya sambil menyesap kopinya dan Baekhyun hanya mengangguk mengerti.
"Jadi, apa yang akan kalian lakukan setelah pekerjaanku ini selesai?" Tanya Tao sambil melirik pekerjaannya.
"Belanja." Jawab Luhan kalem. "Mau ikut Tao?"
"Walaupun ingin aku tidak bisa. Aku sudah punya janji dengan seseorang setelah ini. Selamat bersenang-senang untuk kalian berdua." Katanya.
"Baiklah."
.
.
.
Segera setelah Tao menyelesaikan pekerjaannya, keduanya, Luhan dan Baekhyun pergi ke salah satu mall. Sambil menggandeng –menyeret– tangan Baekhyun yang berjalan dengan malas dibelakangnya, Luhan mengelilingi mall besar itu dengan semangat. Mereka memasuki satu persatu toko yang ada didalam mall itu. Hingga ketika perut keduanya sudah berdemo minta diisi keduanya berjalan menuju food court.
Beberapa menit kemudian, keduanya telah duduk disalah satu meja sambil menikmati makan siang yang sangat terlambat. Sebenarnya Baekhyun sama cerewetnya dengan Luhan, bahkan lebih parah, tapi saat ini hanya Luhan yang terus mengoceh tentang banyak hal dan Baekhyun yang hanya mendengarkan dan sesekali menimpali perkataan Luhan. Meskipun mendengarkan perkataan Luhan, tapi mata Baekhyun terpaku pada makanan didepannya. Setelah menghabiskan beberapa hari menyedihkan menangisi Chanyeol didalam kamarnya tanpa asupan gizi yang baik, sekarang Baekhyun kelaparan. Tidak ada waktu untuk mendengarkan ocehan Luhan yang kebanyakan tidak penting. Tapi, seperti itu Baekhyun senang, Luhan tidak membahas apapun tentang Chanyeol, sehingga kepala mungil Baekhyun bisa terlepas sejenak dari pikiran-pikiran tentang Chanyeol.
Setelah menyapu bersih semua makanan yang ada diatas piringnya, Baekhyun mengangkat kepalanya untuk menatap Luhan, mencoba fokus pada setiap kata yang keluar dari mulut Luhan. Tapi, timing yang diambil Baekhyun sangat salah, sesaat setalah gadis itu mengangkat kepalanya, mata gadis itu terpaku pada pemandangan yang paling membuat iritasi dalam hidupnya. Disana, selang beberapa meja dari tempatnya dan Luhan duduk, ada Chanyeol dan Kyungsoo yang duduk berhimpit-himpitan dengan senyum lebar di kedua bibir mereka. Meskipun Baekhyun sangat tidak menyukai apa yang saat ini dilihatnya tapi mata Baekhyun enggan beralih dari dua sosok itu. Pandangannnya terus terpaku disana yang kemudian membuat Luhan bingung melihat pandangan sendu yang diberikan sehabat mungilnya ke balik kepala Luhan.
"Ada apa?" tanyanya pada Baekhyun yang tak kunjung mengalihkan pandangan dari apapun yang dilihatnya di balik kepala Luhan. Tak mendapatkan jawaban dari Baekhyun membuat Luhan penasaran dan memutar kepalanya kearah objek pandangan Baekhyun. Apa yang dilihat Luhan sontak membuatnya kesal bukan kepalang. Si sialan itu, batinnya. Luhan, mengalihkan pandangannya kembali kepada Baekhyun yang masih memandang sendu keduanya. Dengan kesal dan amarah yang menggelegak Luhan membereskan barang-barang mereka dengan cepat, gadis itu bangkit dan menarik Baekhyun untuk pergi dari sana.
Dasar Park Chanyeol sialan! Sia-sia sudah usaha Luhan untuk membuat Baekhyun lebih waras. Sialan! Pikir Luhan.
.
.
.
Rencana yang dibuat Luhan untuk Baekhyun gagal total dan itu membuat Luhan frustasi. Sahabat mungilnya itu bukannya bertambah baik malah semakin terlihat menyedihkan. Memang Baekhyun tidak kembali mendekam di kamarnya seperti yang sebelum-sebelunya gadis itu lakukan, Baekhyun tetap melakukan aktifitasnya seperti biasa, tapi semua yang dilakukannya dengan kondisi yang seperti mayat hidup. Sudah lama sekali Luhan tidak melihat Byun Baekhyun yang ceria, dan Luhan merindukannya. Saat Luhan sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya membuat Baekhyun kelihatan lebih waras, sebuah undangan reuni datang ke apartemen mereka berdua. Dan menurut Luhan, datang ke acara itu merupakan ide bagus.
"Jadi, kau mau datangkan, Baekkie?" Tanya luhan pada Baekhyun setelah menjelaskan dengan panjang lebar undangan yang mereka terima dan hal baik apa yang akan mereka dapatkan jika mereka datang ke sana.
"Tapi Lu... kau tahu kan kita juga satu sekolah dengan Chanyeol. Dia pasti akan datang, dan itu bukan ide bagus untukku melihatnya pergi ke sana menggandeng Kyungsoo dan bukannya diriku." Jawab Baekhyun.
"Justru karena dia akan menggandeng gadis jahat itulah kau harus datang Baekkie sayang. Kau harus menghadapi keduanya, dan tunjukkan pada gadis itu bahwa dia tidak lebih baik darimu." Kata Luhan dengan semangat. Baekhyun menggeleng-geleng dan menghembuskan nafasnya pelan.
"Kyungsoo bukan gadis jahat Luhan." Kata Baekhyun menimpali perkataan Luhan.
"Oh, Astaga Baekhyun! Bagaimanan bisa kau mengatakan bahwa gadis sialan itu tidak jahat? Tidak penah ada gadis baik yang berpacaran dengan laki-laki yang sudah memiliki pacar. Tidak ada gadis baik yang menghancurkan hubungan orang lain." seru Luhan kesal.
"Aku yang memilih pergi Luhan. Kyungsoo membuat Chanyeol bahagia dan aku tidak."
"Itu.. Itulah yang membuatmu menjadi bodoh Baekhyun, kau terlalu baik sampai pada tahap kau menjadi bodoh karenanya." Timpal Luhan.
"Katakanlah begitu. Tapi aku tidak mau menjadi orang yang egois Luhan. Aku tidak mau bahagia diatas penderitaan Chanyeol." Baekhyun berkata dengan sedih.
"Nah, coba kita lihat apa yang dilakukan Chanyeol dan Kyungsoo padamu, mereka jelas-jelas sedang berbahagia diatas penderitaanmu." Kata Luhan sambil mengayunkan tangannya ke arah Baekhyun.
"Lagipula Baek, semua manusia itu egois. Sudah seharusnya kita menjadi egois. Terlalu jahat memang akan membuatmu terlihat seperti monster tidak berperasaan, tapi menjadi terlalu baik juga adalah hal bodoh. Sekali-kali jadilah egoislah, karena itu yang setiap detiknya kita lakukan." Tandas Luhan.
"Entahlah Lu... Aku pikir ini adalah yang terbaik yang bisa aku lakukan untuk Chanyeol." Dan Luhan hanya bisa menekan rasa kesalnya sedalam mungkin di dalam dirinya.
"Membiarkan Chanyeol bahagia bersama Kyungsoo adalah keputusanmu kan Baek?" pertanyaan yang hanya dibalas anggukan oleh Baekhyun.
"Untuk itu, karena kau sudah memberikan satu paket kebahagiaan berupa Kyungsoo pada Chanyeol, kau juga harus bahagia. Jangan menjadi lebih menyedihkan daripada ini, karena kau yang telah mengambil keputusan. Belajarlah untuk menghadapi semuanya, tidak perlu terlalu terburu-buru, pelan-pelan saja. Kau tentu paham apa yang aku katakan kan Baek?"
Baekhyun tahu apa yang dikatakan Luhan adalaha benar. Dia yang mengambil keputusan ini, dia yang mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa ini adalah hal yang paling benar yang harus Baekhyun lakukan. Tidak ada paksaan sama sekali. Dan karena itu, Baekhyun harus menghadapinya dan berhenti menyalahkan nasib buruk yang sejak dulu selalu bergelayut dipundaknya, Baekhyun yang membuat diriya sendiri seperti ini. Baekhyunlah satu-satunya yang memilih utuk tidak egois dan melepaskan segalanya. Baekhyunlah yang terlalu percaya bahwa dirinya akan baik-baik saja padahal kenyataannya dirinya tidak. Baekhyun sendirilah yang menyebabkan dirinya terlihat benar-benar menyedihkan. Dan Baekhyun harus berhenti terlihat begitu menyedihkan dan berhenti membuat repot sahabat cantiknya itu.
"Luhan.." panggil Baekhyun.
"Ya?"
"Reuni itu? Ayo datang ke acara itu." Baekhyun sudah memutuskan bahwa inilah saatnya untuk berhenti bersikap menyedihkan.
"Baiklah. Ayo kita pergi."
.
.
.
To Be Continued...
.
.
.
Saya balik lagi dengan cerita ini. Saya ngga bisa update secepat yang kalian dan saya mau. Pas ngetik cerita ini dan ngeliat karakter Luhan yang saya ciptain, saya jadi kepikiran buat bikin cerita sendiri untuk kisah percintaan Luhan, tapi tentunya setelah cerita ini selesai.
Dan seperti biasa, makasih buat yang udah baca, review, follow dan favorit. Maksih banyak! Kalian bisa menyampaikan kritikan apapun tentang cerita saya di kolom review.
