Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku ingin membantu seseorang dan juga pertama kalinya aku menjadi seorang saksi sepasang pasangan sesama jenis memadu kasih. Meskipun aku tidak melihatnya secara langsung dan hanya mendengar desahan lembut temanku, aku cukup yakin desahan itu membangkitkan sedikit libidoku yang sebelumnya tidak pernah mencuat dalam diriku.
Aku keluar dari perpustakaan setelah mendengar desahan lirih Jack, aku ingin memberikan mereka privasi. Lagipula, aku tidak ingin menemui Anubis lebih awal jika Alex menemukanku di tengah-tengah kegiatan memadu kasihnya. Apapun alasannya, aku terkejut karena Jack tidak pernah memberitahuku tentang hal ini. Tapi di lain sisi aku juga semakin menyayanginya, mungkin karena aku selalu dalam sisi pro dalam perdebatan tentang legal atau tidaknya status pasangan sesama jenis. Tidak, aku bukan seorang lesbian hanya karena aku mendukung mereka. Aku mendukung mereka karena aku tahu sebuah kebahagiaan akan membuat hidup menjadi lebih baik. Setidaknya, aku memberikan mereka harapan untuk diterima.
Aku kembali menuju lokerku dan mengambil beberapa buku lagi karena aku mendapat tugas tambahan. Mengajari Alex Warner.
Tepat saat aku keluar dari gerbang, Jack mengirimku sebuah pesan yang berisikan alamat Alex. Aku sempat memikirkan bagaimana caranya dia mengirimiku sebuah pesan jika Alex masih menyetubuhinya. Mereka tidak mungkin selesai begitu cepat.
Tapi aku memilih untuk tidak memikirkannya lalu menutup handphoneku dan menggayuh sepeda gayuhku menuju stasiun kereta terdekat. Yang kutahu, alamat itu berada di sebuah kawasan kuno di Inggris selatan. Jadi aku memilih untuk menaiki kereta untuk ke sana. Jika aku menggayuh sepedaku, kemungkinan aku akan absen sekolah selama tiga hari ke depan.
Saat menaiki kereta, aku memikirkan Alex. Laki-laki itu sangat mengintimidasi setiap orang yang ada di sekelilingnya. Dia selalu berjalan sendiri dalam koridor sekolah dan mengapit sebatang rokok di antara kedua buah bibirnya. Tidak ada yang berani menyapanya, bahkan sekumpulan anak bermasalah yang ada di sekolah menjauhinya. Aku tidak tahu kenapa, tapi Alex mempunyai karisma yang sangat mencolok untuk anak seusianya. Bahkan aku pernah menyukainya karena kupikir dia sama denganku. Tapi kurasa kami berbeda, aku hanyalah seorang pengecut yang tidak pernah berani untuk memiliki seorang teman. Sedangkan Alex menyukai kesendirian dalam hidupnya.
Seperti kakakku.
Aku sampai di stasiun yang kutuju dan untuk pertama kalinya aku menapakkan kakiku di stasiun ini. Aku melihat-lihat arsitektur bangunan dari stasiun ini, sangat klasik. Namun hanya aku yang turun di stasiun ini. Aneh dan sangat disayangkan.
Lalu seorang pria tua berbalut tuxedo berwarna hitam mendatangiku. Aku yakin pria itu berumur lebih dari setengah abad, namun punggungnya masih tegap dan matanya masih bisa melihat dengan jelas. Terbukti dari mata telanjangnya yang tidak mengenakan kacamata.
"nona Stant ?"
Tanyanya dengan suara yang masih jelas kudengar. Aku hanya menganggukkan kepalaku, lalu melihat ke sekelilingku.
Lelaki tua itu mengikuti gerakan kepalaku, mata tuanya melihat sekeliling stasiun.
"saya tidak yakin dengan apa yang anda cari nona. Tapi ini adalah stasiun milik Tuan Warner dan keluarganya jadi saya yakin tidak ada orang lain yang turun di statsiun ini selain anda"
Baiklah … sekarang aku takut.
"tapi aku membeli tiketnya sendiri di sebuah stasiun di London, petugas loket yang memberikannya padaku dan aku cukup yakin tidak ada tulisan Warner di tiket kereta apiku"
"mungkin Tuan Muda terlambat menghubungi stasiun saat itu. Pintu keluar ada di sini nona, Tuan Warner sudah menunggu anda"
"kupikir Alex masih berada di sekolah"
Ucapku saat pria tua itu membalikkan tubuh slendernya.
"saya cukup yakin Tuan Muda Alex belum berada di rumah, beliau memiliki banyak kesibukan di sekolah. Tuan Warner akan menyambut anda. Tuan James Warner, ayah dari Tuan Muda Alex"
Yah tentu saja kesibukan yang sangat bisa dimaklumi.
Aku akan bertemu dengan ayah Alex. Kurasa aku masih mengingatnya, orang itu bertubuh gempal dengan jenggot tebal di sekitar mulutnya. Aku melihat orang itu saat dia memukuli Alex di halaman sekolah beberapa minggu yang lalu. Aku tidak terlalu senang, kupikir Alex akan lebih menyenangkan dibandingkan orang tua bertubuh gempal itu.
Si pria tua membawaku menuju mobil hitamnya. Mobil itu lebih seperti sebuah mobil di era tahun delapan puluh. Warna hitamnya masih sangat mengkilap dan masih terlihat sangat indah. Aku menyukai hal-hal vintage, jadi aku tidak bisa berhenti tersenyum saat menaiki mobil itu. Setidaknya sampai aku melihat sebuah mansion besar dengan luas halaman berhektar-hektar di sekelilingnya. Kukira aku akan berhenti di mansion itu, namun si pria tua tetap mengemudikan mobilnya ke arah selatan.
Kami melalui jalan berkelok selama kurang lebih dua puluh menit. Selama itu pula aku melihat perkebunan labu dan anggur dan beberapa petaninya. Kawasan daerah ini sangat luas bahkan aku melihat beberapa mansion di sebelah timur dan barat dengan arsitektur yang aku yakin berumur sangat tua. Tapi si pria tua hanya memilih untuk diam dan menolak menjadi tour guideku.
Kami sampai di sebuah mansion terbesar yang kulihat selama dua puluh menit di perjalanan. Mansion itu berwarna merah darah dengan tumbuhan merambat di beberapa dindingnya. Halamannya yang sangat luas bisa kulihat segera setelah aku memasuki gerbang besi berwarna hitam tinggi dan runcing di atasnya. Dengan banyak bunga mawar merah yang tumbuh di sekitarnya. Aku merasa kembali ke zaman di mana jeans belum ditemukan dan seluruh wanita memakai korset untuk mempercantik dan menyakiti pinggang dan perut mereka.
Si pria tua membukakan mobil. Layaknya seorang 'wanita terhormat', aku keluar dengan bibirku yang belum mengatup karena melihat semua keindahan ini.
Lalu si pria tua mengantarku menuju ke dalam mansion, setelah seorang pria lain mengemudikan mobil yang mengantarku kemari dan membawanya keluar dari gerbang mansion.
Si pria tua memutar knop pintu berwarna emas itu yang berdiameter lebih besar dari knop pintu yang biasa kulihat dan kupegang, saat itu pula jantungku sibuk berdetak dengan cepat karena aku yakin tidak ada kebahagiaan yang bisa kutemukan di mansion besar ini. Selain aku harus mengajar Alex, mungkin karena aku harus bertemu ayahnya terlebih dahulu.
Pintu besar mansion itu terbuka dan aku yakin aula utama lah yang pertama kali kulihat. Tempat itu besar tanpa perabotan dengan lampu gantung indah di atasnya. Kau tahu tempat di mana orang-orang berdatangan untuk sebuah pesta dansa besar, ya seperti itu. Beberapa lukisan besar terpajang di sisi dinding, lantainya yang berwarna coklat tua dan putih membuatku semakin menyukai mansion ini. Aku masuk ke dalamnya dan dengan otomatis melangkahkan kakiku menuju lukisan besar yang terpajang di sisi dinding timur aula itu. Lukisan seorang Alex Warner –pikirku-. Dia sangat tampan dan terlihat sangat terhormat saat mengenakan baju kebangsawanan kuno di lukisan itu, kau tahu, seperti seorang jenderal. Ya tuhan, kenapa dia tidak seperti ini saja setiap waktu. Maksudku masih dengan pakaian biasa, namun dengan aura seperti itu.
"mengagumi lukisanku ?"
Suara baritone itu menghilangkan fokusku. Saat aku membalikkan badan aku melihat si pria tua membungkukkan tubuhnya pada seseorang yang berdiri di sebuah anak tangga di atas lantai dua. Laki-laki itu bertubuh tinggi dan besar, tidak gempal. Tubuh tingginya tidak memperlihatkan otot yang menjijikkan, bahkan terkesan slim dan sangat proporsional. Laki-laki itu turun dengan mengenakan hem merah tua yang lengannya ia lipat sedikit ke atas pergelanngan tangnnya dan celana hitam kain yang membalut kaki jenjangnya. Saat berjalan mendekat, Aku melihat rambut hitam kelamnya yang berombak dan tidak tertata rapi. Namun dengan rahang yang tegas dan rambut yang tidak-terlalu-tebal di sekitar dagu dan rahangnya aku merasa lega karena bukan seorang lelaki gempal yang kutemui pertama kali dan takut karena tatapan mata berwarna biru kehijauan yang sangat mengintimidasi.
Si pria tua sudah menegakkan tubuhnya kembali. Lalu dia memperkenalkan namaku, pada lelaki tampan yang ada di depanku.
"Saya baru saja menjemputnya, Tuan. Dia adalah Nora Stant, gadis muda yang bersedia mengajari Tuan Muda Alex"
Ucap si pria tua.
Lelaki paruh baya itu menyunggingkan senyumnya. Aku tidak bermaksud untuk menolak senyuman tuan rumah yang ramah. Tapi, senyuman itu terlihat mengerikan.
"Akhirnya, sebuah keajaiban. Kuharap kau bisa menangani putraku"
Apa ?
"putra ?"
Tanyaku padanya dengan mata yang sedikit mencuat karena aku … terkejut dan bingung.
"James Warner. Ayah dari Alex Warner, ya kami memang terlihat sama dalam lukisan itu. Tapi itu aku, Alex belum memiliki lukisannya sendiri"
Aku masih diam dengan mencoba mempertahankan poker face ku. Meskipun sangat sulit melakukannya karena bayangan ayah Alex dengan tubuh gempal masih ada dalam pikiranku.
Aku hanya menganggukkan kepalaku pelan. Lalu melihat Tuan James tersenyum dan mengambil beberapa langkah mendekatiku.
"Tuan Lokehart, antarkan nona muda ini ke ruanganku"
Aku cukup yakin dia mengucapkan perintah itu pada pria tua di sampingku. Namun dia masih menatapku saat menitahkan pelayannya. Dan tolong jangan salahkan aku jika aku masih terus menatapnya. Bola matanya terlalu indah untuk dilewatkan.
Ayah Alex atau James menaiki tangga terlebih dahulu dan kembali ke ruangannya sebelum aku mengikuti si pria tua yang kutahu bernama belakang Lokehart itu. Sepertinya ruangan yang dimaksud oleh James bukanlah ruangan yang ia tuju sekarang. Pak Lokehart membawaku menuju sayap kiri mansion ini, sedangkan James melangkahkan kakinya pada sayap kanan mansion ini.
Aku tidak berhenti mengagumi mansion ini. Karpet orange bermotif yang kupijak, beberapa meja dengan vas bunga di tiap sisi dinding yang kulewati. Lukisan-lukisan para bangsawan yang tergantung dengan rapih di setiap sisi dinding. Bahkan warna dinding dalam mansion ini, aku menyukainya. Sangat gelap memang dengan paduan warna merah mawar dengan warna cream dan coklat. Tapi aku sangat menyukainya. Jika aku adalah Alex, aku tidak akan keluar dari mansion ini.
Kami berdua sampai di sebuah pintu tinggi berwarna putih di ujung ruangan. Pintu besar berwarna putih dengan gagang pintu berwarna hitam itu berukuran dua kali tinggi Pak Lokehart. Sedangkan tinggiku hanya sebahu pria tua itu. Tinggi James ? bahkan dahiku hanya bisa menyentuh dada bagian atasnya. Aku sangat pendek dibandingkan Tuan Besar rumah ini.
Pak Lokehart tidak masuk ke dalamnya, namun gesture tangannya mempersilahkan aku masuk terlebih dahulu. Kemudian ia menutup pintunya dan meninggalkanku sendirian di ruangan ini.
Ruangan itu sepertinya adalah kebalikan dari seluruh ruangan di mansion ini. Dindingnya berwarna putih bersih dan banyak buku yang tertata rapi dalam rak buku yang terbuat dari kayu pohon oak di ketiga sisi ruangan. Aku tahu itu pohon oak karena warnanya yang sangat gelap namun terlihat sangat anggun. Begitu pula dengan dua buah sofa tepat di depan rak buku, sofa itu berwarna merah maroon namun lebih dominan hitam. Meja yang ada di tengahnya pun lebih terlihat seperti bongkahan kayu besar berbentuk persegi panjang yang dilapisi oleh cat berwarna senada dengan sofa yang ada di kedua sisinya. Di pojok ruangan, sebuah meja kaca bundar dengan setangkai bunga mawar merah di dalam vas bening yang membenamkan sepertiga tangkainya. Alas karpet yang berwarna cappuccino yang menyentuh alas sepatuku terasa sangat empuk dan aku menyukainya.
Aku menapakkan langkah-langkah kecil mendekati jendela besar yang tertutup oleh tirai transparan berwarna putih. Saat aku melihat keluar jendela, aku melihat seorang anak laki-laki yang menaiki motornya masuk ke dalam gerbang mansion. Tanpa teropong pun aku tahu jika itu Alex.
'Calon muridku' pikirku. Hanya dengan melihat postur tubuh tinggi itu turun dari kendaraannya dan berjalan ke dalam mansion membuatku ketakutan dan aku merasa hampir kehilangan enam puluh persen gula darahku. Aku tidak tahu apa aku bisa melakukan ini.
Pintu ruangan itu terbuka membuatku sedikit terjingkat dan James masuk masih dengan pakaian yang tadi ia kenakan saat menemuiku. Laki-laki paruh baya itu mendekatiku dan mengikuti arah pandangku keluar jendela. Saat melihatnya dari dekat, aku bisa melihat dengan jelas kerutan usia di sekitar mata dan dahinya. James membalas tatapanku dan membuatku tergagap untuk mengalihkan pandanganku dari wajahnya.
Tangan James menyentuh daguku, pria paruh baya itu mengelus daguku dan menelusuri wajahku dengan tatapan mengintimidasinya. Jujur saja, aku merasa seperti seorang pelacur pemula yang harus merasakan terkaman pria tua berhidung belang. Namun aku tidak bisa menolak sentuhan kecil yang ia berikan padaku dan tatapan mata yang ia berikan padaku, aku bahkan tidak bisa sekedar berkedip untuk melewatkan tatapan itu. Tubuhnya yang berbau tembakau membuatku semakin tidak bisa bernafas, dia perokok berat, itu asumsiku. Tapi aku justru menyukainya. Aneh, pikirku, aku biasanya tidak menyukai seorang perokok.
Jemari besar James mengelus pelan pipiku. Lalu dia tersenyum (atau tertawa), aku tidak tahu kenapa tapi aku merasa bahwa senyuman itu tercipta karena pipiku merona terlalu merah di bawah sentuhannya.
James melepaskan sentuhan jemarinya dari wajahku, bola mata berwarna eboni itu masih menatapku tajam. Dia terlihat mengerikan ketika dia menghapus senyuman di bibirnya. Bahkan meskipun dengan senyuman, aku tidak yakin dia akan terlihat seramah itu.
"anakku bukanlah sebuah tantangan yang remeh. Tolong awasi dia"
Aku menghembuskan nafas kecewaku. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku merasa kecewa. Aku hanya berharap dia mengatakan hal lain.
"ya, Tuan"
Ucapku dengan menundukkan kepala. Lalu jemari kasar James kembali terasa di daguku, dia menariknya dan memaksaku untuk menatap tatapan matanya.
Aku bahkan tidak sempat melihat wajahnya, dia mengecup hidungku dan mencium bibirku dengan gerakan yang cepat. Namun lumatan itu membuatku menginginkan lebih.
James melepaskan lumatannya. Tuan Rumah itu menatapku lama,
"kukira dia akan mengajarku"
Lalu suara Alex terdengar dari bilik pintu. Laki-laki itu berdiri dengan tangannya yang masih tersimpan di saku kanan celana panjangnya. James terlihat santai menanggapinya, sedangkan aku sedikit terlonjak karena Alex memergoki kami berdua.
Kemudian James berjalan ke arah anaknya. Kau tidak akan percaya, tetapi lelaki paruh baya itu dengan santai melumat kedua bibir anaknya bahkan menggigitnya. Alex tidak terkesima dengan hal itu, dia bahkan tidak melayangkan kepalannya. Dia hanya terdiam sampai James meninggalkan ruangan putih itu.
Alex berjalan melewatiku. Dia menghempaskan tubuhnya di atas sofa, berbaring di sana dengan kaki yang menggantung karena panjang sofa itu kurang dari panjang tubuhnya. Aku masih terdiam, berdiri tanpa tahu harus bagaimana.
Kedatangan Alex sudah membuatku tidak bisa berkata-kata. Sekarang ditambah dengan pertanyaanku tentang seksualitas ayahnya.
"dia James, ayahku. Bibirnya terasa manis bahkan setelah dia memakan tembakau seharian"
Ucap Alex tiba-tiba.
Alex mendudukkan dirinya. Lalu menatapku dengan tatapan mengintimidasinya.
"buat aku lulus lalu menikahlah dengan ayahku. Aku lelah dengan bajingan itu"
Saat itu aku tahu sesuatu.
Aku terjebak dalam lingkaran kehidupan gelap tanpa lilin pada genggaman tanganku.
TBC
Aku nggak nyangka ada yang baca wkwk xD . Terima kasih ya ^^ ren chan dan sa. Hehe. Sebenernya ini bukan FF si. Tapi akhirakhir ini saya bayanginnya pas nulis jadi kayak anak exo. Jadi, gua edit deh wkwk.
