Still Feels Like Home

Gill menghirup udara segar dalam – dalam. Sekarang ia bisa menikmati jalan pagi dengan santai. Harus diakuinya, Kasey, petani itu, yang membuat masalah dalam hidupnya berkurang. Bukan hanya menyelamatkan Castanet, pemuda itu juga menarik hati Luna sehingga gadis cerewet itu tidak lagi menganggunya.

Untuk Gill, keadaan tidak dapat lebih baik lagi daripada sekarang. Benarkah? Sepertinya salah.

"Gill! Hoi!"

Gill menengok ke arah suara besar itu. Ternyata Owen, ditemani Kathy.

"Gill, apa kamu sudah dengar, Carin mau pulang, lho!" seru Kathy bersemangat. "Sudah bertahun – tahun tidak ada kabar darinya. Tapi ia akan datang lagi!"

"C-Carin?" tanya Gill terkejut.

"Iya, Carin! Tidak mungkin 'kan kamu melupakannya?" tanya Kathy, sedikit menyindir.

"...Kau tahu dari mana kalau dia akan pulang?" tanya Gill, berharap itu bukan sekedar gosip. Ia benci gosip.

"Aku tahu dari majalah! Novel terbaru Carin menjadi bestseller, jadi ada majalah yang mengulasnya dan aku membacanya. Carin sendiri yang berkata begitu saat wawancara."

Gill hanya terdiam, terlarut dalam lamunannya selama beberapa lama, hingga suasana menjadi agak canggung.

"...Ya, kami hanya mau menginformasikan itu saja. Siapa tahu kau masih menung- maksudku, ingin bertemu dengannya," tutup Owen, mengangguk pamit dan pergi bersama Kathy.

Gill mengangguk sopan. "Terima kasih."


Gill mengeluarkan buku bersampul biru muda dari laci mejanya. Perlahan ditiupnya debu tipis yang melapisi buku itu.

Sampul buku itu polos, hanya digambari sebuah alat musik sederhana. Sebuah ocarina. Simbol yang membuat pemilik buku itu hanya diketahui oleh Gill. Tak ada orang lain yang tahu ia memiliki buku itu. Bahkan pemiliknya sekalipun.

Gill memandang rumah Carin yang kini terlihat kosong. Kemarin Carin dan ibunya sudah meninggalkan Castanet. Mereka membawa kebanyakan benda milik mereka, sehingga sekarang rumah itu hanya berisi perabot rumah berukuran besar yang akan dikirim belakangan. Rumah itu terasa amat berbeda.

"Gill, ternyata kau masih di sini." Gill tersentak. Ia mengira di sana tidak ada orang lain selain dirinya, tapi ternyata ada ayahnya.

"Ayo cepat pulang. Jangan sampai kita menghalangi orang - orang yang akan mengangkut perabot - perabot ini."

"Iya, Ayah," gumam Gill. Ayah Gill, Hamilton, hanya mengangguk dan keluar untuk ikut mengatur para pekerja yang mengangkut barang ke kapal.

Gill enggan pulang. Ia masih mengamati tempat itu dan banyak orang yang bolak – balik mengangkut bermacam barang.

Meja, rak buku, kursi, lemari, tempat tidur...

Pandangan Gill terhenti ketika ia melihat tempat tidur Carin. Carin pernah memberitahukannya tentang buku yang tersembunyi di bawah kasurnya.

Penasaran, Gill memeriksa tempat tidur itu. Tak lama, ia berhasil menemukan buku itu. Sebuah buku harian tanpa nama, tapi simbol di sampulnya diam – diam menyatakan nama pemiliknya.

Gill kembali memasukkan buku itu ke dalam laci. Ia tak berniat untuk membaca isi buku harian itu lagi. Mengingat perbuatannya membaca buku harian orang lain membuatnya merasa menyesal. Gill sendiri juga memiliki buku harian, dan ia takkan rela membiarkan orang lain membacanya.

Itu bukanlah satu – satunya alasan kenapa Gill khawatir bertemu dengan Carin. Harus diakui, ia berubah sejak Carin pergi dan ibunya meninggal. Kini ia kadang merasa kesepian dan hampir lupa bagaimana rasanya memiliki seorang yang benar – benar peduli padanya.

Apakah Carin juga berubah?

Meski begitu, di balik kecemasannya, Gill tetap amat ingin bertemu dengan sahabat lamanya itu.

Harus diakui, ia amat merindukan Carin.


Maaf kalau chapter ini terlalu pendek, tapi saya sendiri kalo baca fic lebih suka yang chapternya banyak tapi agak pendek.

Ohya, makasih buat yang sudah baca dan review fic ini! Walau mungkin saya nggak bisa update cepat - cepat.

Ngomong - ngomong, ada yang tahu nggak apa hubungan simbol ocarina itu sama pemiliknya?