Declaimer Always Mashasi Kishimoto
But, this story always mine.
WARNING : OOC, AU, Etc.
Rate : T+
Pair : SasuSaku
Diserendio
By Selenavella
EPISODE 2 : Debaran yang tak tekendali.
.
Sepanjang perjalanan menuju kelasnya, TenTen tak hentinya mengoceh mengenai apa bagusnya anak baru itu, atau tentang bagaimana bodohnya wajah Karin ketika menatap lelaki itu. Sakura menganggukan kepalanya sebagai jawaban atau berkata 'Yeah, aku setuju.' Atau, 'ya, tentu saja!'
Walaupun, ia terlihat peduli dan memperhatikan apa yang gadis Cina itu bicarakan. Faktanya, ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.
Anak baru itu sukses menyita segala pikiran Sakura, kini otaknya terpenuhi oleh lelaki berambut raven itu. Rasanya Sakura begitu mengenalnya, tapi dimana ia pernah melihatnya? Perasaan familiar itupun menyergap dirinya.
Sebuah perasaan menusuk di belakang punggungnya tiba-tiba menyeruak. Perasaan tak nyaman ini terjadi setiap kali ada orang yang memperhatikannya dan walaupun kali ini Sakura berusaha mengabaikannya rasanya, perasaan itu kali ini terlalu kuat.
Gadis berambut merah jambu itu lalu menghela nafasnya sebelum ia menolehkan kepalanya. Dan, sesuatu yang –sangat, fantastis ia baru saja temukan. Anak baru-yang-entah-bernama-siapa itu, tengah menatapnya dengan pandangan aneh. Sungguh, ia mungkin lelaki pertama yang menatap Sakura seperti itu. Dan, tatapan itu sejujurnya sedikit banyak menakutkan dirinya. Belum pernah sebelumnya ada yang menatap dirinya seperti ini. Dan, itu membuat dirinya lumayan canggung. Dan, entah mengapa pandangan anak baru itu terlihat begitu… intens? Seperti menganalisa dirinya dari atas hingga bawah.
Apa ada yang salah dengan dirinya?
"Sakura!" panggil TenTen. Gadis itu mencolek bahunya seraya terkikik geli. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya.
Sakura menolehkan kepalanya kearah Tenten. "Apa?
"Kau mendengarkanku tidak sih sejak tadi?"
Sakura menggaruk kepalanya, ia meringgis pelan. "Maaf, aku sedang tidak berkonsentrasi." Ujarnya pelan.
Tenten mendecih. "Che. Sudahlah, siapa sih yang akan berkonsentrasi ketika ada si tampan itu." ujarnya seraya tersenyum mengejek. "Dia terlalu mencolok."
Sakura tersenyum tipis sebagai jawaban.
Mungkin tidak akan di butuhkan waktu hingga berpuluh-puluh bulan untuk anak baru itu untuk populer. Sakura berani taruhan, seisi San E Roberts kini pasti mengincarnya. Baiklah, siapa yang tidak tertarik dengan lelaki itu.
Bahkan ia harus mengakui bahwa ia juga tertarik. Sedikit.
Tapi tetap saja sih ia tertarik.
Lelaki itu terlalu mempesona untuk di tolak. Walaupun, ia sadar bahwa dirinya tidak mungkin bisa di sandingkan dengan lelaki itu, ia dan lelaki itu memiliki perbedaan yang terlalu mencolok. Akan tetapi ia tetap saja tertarik. Tertarik dengan seseorang tidak melanggar hukum bukan? Oke, mungkin sedikit pengecualian.
Tertarik dengan lelaki yang seorang Karin sukai sama dengan menggali kuburan sendiri.
Berbicara mengenai Karin, sepertinya gadis itu akan semakin gencar mendekati anak baru itu. ia sendiri jujur tidak sabar melihat apa yang akan gadis itu lakukan. Tapi, ia tidak begitu yakin bahwa lelaki itu akan tunduk begitu saja pada pesona Karin.
"Heh Sakura, aku penasaran sekali, jadi aku ingin bertanya." Ujar Tenten. Mereka masih berjalan menuju kelas sejarah –kelas mereka yang selanjutnya.
Sakura mengerutkan alisnya. "Apa?"
"Kau punya pacar tidak?" Tanya Tenten dengan semangat. "Maksudku, kau tidak jelek ko. Malah menarik, menurutku."
Gadis Haruno itu meringgis pelan. "Sejujurnya aku sangat payah dalam bersosialisasi. Dan, aku tipe orang yang canggung," ujarnya pelan. "Tapi terima kasih pujiannya."
"Aa…," Tenten menganggukan kepala sebagai jawaban. "Eh, padahal kau itu cantik loh, unik. Dibandingkan Karin sih, menurutku kau lebih cantik. Lebih natural. Dia itu banyak di bawah pisau bedah sih makannya jadi seperti nenek lampir."
Karena lorong San E Roberts yang mulai terasa ramai, percakapan mereka berhenti begitu saja terlalu sulit untuk melanjutkannya disini. Sakura beberapa kali mencoba mencuri-curi dengar apa yang mereka tengah obrolkan. Tapi, semua topiknya nyaris sama.
Tentang anak baru itu.
"Hey, Karin sudah mulai mendekati anak baru itu!"
Oh, dear… Berkatilah anak baru itu.
.
.
Rasanya begitu menyebalkan. Pelajaran sastra inggris adalah salah satu kesukaannya, tapi dengan adanya Karin di kelas rasanya kelas ini tidak semenyenangkan tahun kemarin. Malah kelas ini terasa menyiksanya. Belum lagi karena Tenten berada di kelas lain.
"Baiklah, silahkan masuk," ujar Asuma lantang.
Pintu kelas mengayun terbuka. Sosok yang masuk ke dalam kelas membuat seisi kelas menahan nafasnya yang kesekian kali dalam hari ini. Sakura kali ini merupakan salah satu yang ikut menahan nafasnya juga. Orang yang masuk ke dalam kelas adalah orang yang paling di bicarakan hari ini.
Si murid baru.
"Baiklah, tuan…," mata hitam Asuma menelusuri kertas tersebut. Setelah mengetahui nama murid barunya, Asuma melanjutkan perkataannya. "Uchiha? Baiklah, silahkan perkenalkan dirimu."
Lelaki itu memandang datar seisi kelas. Mata kelamnya menyisiri seisi kelas, seolah mencari seseorang. Entah halusinasi, atau apa tapi mata hitam Uchiha itu seperti berhenti saat menatapnya. Walaupun hanya beberapa detik sebelum Uchiha itu mengalihkan pandangannya lagi, tapi Sakura yakin bahwa lelaki itu memandangi dirinya lebih lama di banding yang lainnya. Ataukah itu hanyalah perasaannya saja?
"Sasuke Uchiha."
'Jadi namanya Sasuke?' batin Sakura.
Suara Sasuke terdengar dingin bagi Sakura, suara pemuda itu juga terkesan menakutkan. Seperti apa yang ia bayangkan sebelumnya. Suara yang sama dinginnya dengan penampilan orang yang memiliki suara itu. Dan, tambahkan suara itu terdengar berat juga, layaknya seorang remaja laki-laki pada masa pubernya.
"Jadi, Sasuke? Kau pindahan dari Paris?" tanya Asuma seraya mencari sesuatu di antara tumpukan kertas miliknya.
"Hn."
Tanpa melihat Sasuke, Asuma masih sibuk mengacak-acak berkas-berkasnya, "dan, kenapa kau pindah dari Paris tuan Uchiha?"
"Urusan pribadi."
"Aaa, begitukah," Asuma kali ini menemukan kertas berwarna biru yang sepertinya memang ia cari-cari dan menyerahkannya pada Sasuke. Sebuah lengkungan terbentuk di bibirnya. "Selamat datang di San E Roberts Sasuke Uchiha. Kau boleh duduk di manapun sesukamu."
"Hn."
Sasuke lalu berjalan menjauhi guru itu. Matanya menyisiri seisi kelas, dan akhirnya ia menemukan sebuah kursi kosong tepat berada di depan kelas. Dari ekor matanya, Sasuke bisa melihat si pemilik bangku yang berada di sampingnya itu tengah bergumam sendirian. Apa yang gadis itu lakukan?
Sasuke lalu menarik bangku dengan cukup keras dan duduk di atas bangku tersebut. Tanpa menoleh, ia sudah tahu bahwa gadis di sampingnya itu menoleh dan memandang dirinya heran. Begitu pula seisi kelas yang melongo memandangnya heran.
Masih banyak kursi kosong yang berada di tengah atau belakang kelas. Tapi, ia lebih senang duduk bersama dengan gadis berambut merah jambu itu di bandingkan duduk di belakang dan mendengarkan berbagai macam rajukan menyebalkan dari gadis-gadis merepotkan di belakang.
Gadis berambut merah jambu ini bukanlah gadis yang terlihat spesial baginya, malah gadis ini terlihat terlalu biasa. Tidak seperti yang ia bayangkan sebelumnya, masa seorang gadis yang di agung-agungkan tetuanya merupakan gadis seperti ini?
Ia mengira, orang yang akan ia temukan adalah gadis kuat yang percaya diri. Tapi ini? Apa mereka sudah gila memilih gadis seperti ini? Gadis yang bahkan untuk mengengadah saja tidak mampu merupakan gadis yang mereka cari?
Sasuke menggelengkan kepalanya, mungkin memang tetua-tetua sudah terlalu tua bahkan untuk hal sepenting ini saja mereka masih terlalu ceroboh.
Uchiha muda itu mendengus, ia bahkan meragukan bahwa gadis itu berani –
"Ka-kau duduk di sini?" sebuah suara pelan terdengar dari samping tubuhnya.
Sasuke memutar kepalanya dan mendapati gadis berambut merah jambu itu menatapnya heran. Mata emeraldnyaterlihat begitu suci, ah ia memanglah gadis yang ia cari selama ini. Mata emerald itu, mata yang terlihat begitu familiar bagi dirinya.
"Hn. Ada masalah?"
Gadis itu buru-buru menggelengkan kepalanya, "tidak," ujar gadis itu dengan pelan. Ia lalu buru-buru menatap papan tulis lagi.
Sasuke Uchiha tanpa sadar menarik ujung bibirnya sedikit, ia tersenyum tipis. Gadis ini...
.
Manis.
.
.
"Hei,"
Sakura terlonjak kaget dari kursinya, ia menatap lelaki di sampingnya dengan ragu-ragu. "Ya?"
"Kita sekelompok dalam tugas inikan?" si wajah dewa itu menatapnya dingin. "Kau ingin mengerjakannya kapan?"
Sakura Haruno melirik ke papan tulis dan melihat batas akhir pengumpulan tugasnya adalah minggu depan. Entahlah, ia merasa canggung karena ia sudah terbiasa tidak memiliki teman sekelompok. Ia tahu, banyak gadis di kelasnya yang sudah melemparkan tatapan mematikan padanya.
"Terserah kau," Sakura meringis pelan. "Aku bisa mengerjakannya kapan saja."
"Baiklah, sepulang sekolah kita ke perputakaan kota."
Tampa menunggu jawaban dari Sakura, lelaki itu dengan cepat membereskan barang-barangnya. Dan ia meninggalkan Sakura sendirian di sini.
Sakura menghela nafasnya, ia juga dengan cepat membereskan buku-bukunya. Mengingat Tenten pasti sudah menunggunya di luar kelas. Ia sudah berjanji untuk pergi ke kafetaria bersama-sama. Setelah buku terakhirnya masuk ke dalam tas coklatnya, Sakura beranjak keluar dari kelasnya dan menemukan Tenten tengah menyeringai dan menatapnya dengan tampang jahilnya. Melihat Sakura, Tenten beranjak dan bergerak ke sisi Sakura.
"Hei gadis manis, kudengar ada yang memiliki tugas kelompok dengan si anak dewa itu," goda Tenten. Mereka berjalan bersama-sama di koridor sekolah yang ramai itu.
"Tenten," desah Sakura.
"Oke, aku hanya bercanda," Tenten tertawa pelan. Ia menatap Sakura dengan tatapan menggoda. "Tapi, kau beruntung loh. Kudengar di kelas-kelas sebelumnya lelaki itu hanya berkelompok bersama kawan-kawannya yang 'tidak sengaja' pindah bersama-sama kemari," Tenten melakukan gerakan mengutip saat mengatakan kata tidak sengaja.
"Oh ya? Aku hanya melihat Sasuke Uchiha sendirian saja saat datang tadi pagi."
"Jadi nama si tampan itu Sasuke?" Tenten membuka pintu kafetaria. "Dan nama sahabat si tampan itu adalah Neji, uh dia tak kalah tampan juga loh."
Dan pembicaraan soal tiga anak baru itu terus berlanjut hingga bel istrahat berakhir.
.
.
Sakura menggaruk kepalanya bingung.
Ia menaruh buku pelajarannya di dalam loker, ia menatap ke dalam lokernya dan melihat-lihat isi lokernya. Setelah merasa tidak ada yang ia bisa bawa lagi di dalam, Sakura dengan cepat menutup lokernya. Dan mengunci lokernya kembali.
Ia memiliki janji dengan anak baru itu, dan Sakura bukanlah tipe orang yang sering telat. Ia tidak begitu menyukai membuat orang menunggu.
Sebelum ia bisa melangkah lebih jauh, sebuah tangan mendorongnya sehingga membuatnya menabrak loker dengan suara keras. Dorongan orang itu cukup keras, dan membuat dirinya mengerang pelan. Kepalanya terasa begitu sakit. Sakura mengengadahkan kepalanya dan mendapati Karin tengah menatapnya dengan tatapan benci.
Ia sepertinya tahu apa yang membuat Karin uring-uringan begini.
"Kudengar kau sekelompok dengan Sasuke? Bagaimana bisa?" tanya Karin. Gadis itu menatapnya tajam.
"Aku –"
"Dengarkan aku nerd," potong Karin. Kuku-kuku panjangnya yang di cat warna merah menempel di pipi Sakura. Dan sepertinya kuku itu bisa membunuhnya, kuku itu terlihat tajam sekali kau tahu. "Satu, kau tahu jelas peraturan di sini bahwa apapun yang aku incar tidak boleh di incar orang lain juga. Dua, aku tidak suka kau sekelompok dengan Sasuke. Dan tiga, aku ingin kau bekerja sendirian tinggalkan Sasuke."
"Tapi Karin, pekerjaan itu untuk dua orang. Bagaimana dengan nasib Uchiha? Tidak mungkin –"
"Please, kau tahu bahwa Karin pasti bisa menggantikanmu. Setidaknya kalian bertukar pasangan saja," sahut Shion dengan seringainya. "Atau kau terbiasa bekerja sendiri bukan?"
"Dan, itupun kalau si Tayuya mau sekelompok denganmu," Matsuri memutar iris matanya. "Maksudku, yuck! Siapa yang mau –"
"Apa yang kalian lakukan?"
Suara dingin itu seolah-olah memecah keheningan di sana, keempat pasang mata itu sontak menoleh ke asal suara. Dan, mereka melihat seorang Uchiha Sasuke tengah berdiri di depan pintu masuk koridor dengan jaket kulit yang di taruh di bahunya.
Lelaki itu menatap mereka semua dengan pandangan datar, dan satu persatu mata mereka di tatap oleh mata hitam lelaki itu. Karin dengan cepat melepaskan kuku setannya dari pipi Sakura. Hanya kurang dari beberapa detik di butuhkannya untuk merubah ekspresinya menjadi ekspresi wanita sok lugu.
"Aw, Sasuke –"
"Apa yang sedang kau lakukan, woman?"
"Aku sedang merapihkan makeup gadis ini," Karin tersenyum manis. Lebih tepatnya sok manis. "Kau lihat bukan kalau –"
"Dia tidak memakai makeup."
"Well, ia pakai sedikit," desak Karin. "Ya'kan?"
"Aku –"
"Minggir, " Sasuke maju dan bergerak ke arah mereka berdua. Ia lalu menatap Karin dengan tatapan yang sepertinya merupakan cirri khasnya. Karin dengan cepat mundur dan membuat Sakura menghela nafas lega. Sasuke mengerutkan alisnya. Matanya menatap mata hijau mint milik Sakura.
"Kau tidak akan selamanya diam disinikan."
.
.
Sakura tidak menyangka bahwa ia bisa duduk di sini.
Yah, ini bukan Universitas Tokyo, Harvard, atau Oxford. Tapi, lebih tepatnya di kursi mobil Sasuke. Atau lebih jelasnya, di samping Sasuke Uchiha.
Ia benci ketika ia berjalan menuju mobil Sasuke dan orang-orang semuanya melihat ke arahnya dan pandangan mereka seolah-olah mengatakan, 'hei kenapa si nerd itu bisa berjalan bersama Sasuke?'. Dan, itu membuatnya makin tidak nyaman.
Hal yang paling memalukan adalah ia nyaris –atau sudah, tersandung dan menabrak Sasuke.
Astaga, rasanya ia ingin bunuh diri saja.
"Jangan pikirkan orang-orang itu."
"Eh?"
Sakura sontak memutar kepalanya dan mendapati Sasuke tengah memandang ke depan. Lelaki itu berbicara padanya tanpa memandanginya. Lampu yang awalnya berwarna berubah menjadi hijau lagi, membuat pengendara Bugatti Veyron itu menjalankan kembali kendaraannya.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan, itu tertulis jelas di wajahmu."
"Maaf," gumam Sakura, ia lalu membuang mukanya dan menatap jalanan yang terlihat berlalu cepat. "Aku tahu aku pasti membuatmu malu tadi."
"Kata siapa kau membuatku malu?"
Perkataan Sasuke barusan membuat Sakura dengan cepat menoleh ke arah lelaki itu. Masih dengan wajah datarnya, lelaki itu mengucapkan kata-kata itu seolah-olah itu bukan apa-apa. Padahal kata-katanya barusan membuat gadis di sampingnya nyaris terkena serangan jantung.
Lelaki dingin ini…
"Biarkan orang-orang berpikir sesuka hati mereka, jangan pedulikan mereka."
Muka Sakura mulai terasa panas, gadis itu akhirnya memutuskan untuk tidak membalas perkataan Sasuke. Ia membuang wajahnya dan memilih menatap ke luar jendela. Ia tidak bisa menemukan kata-kata lagi untuk membalas lelaki itu.
Mungkin…
–Mungkin lelaki itu tidak seburuk yang ia duga.
.
.
Sakura melirik sedikit ke arah Sasuke Uchiha. Lelaki itu jelas masih sibuk berkutat dan membaca sebuah buku. Dan itu julas bukanlah buku sastra inggiris.
"Uchiha –"
"Sasuke saja," potong lelaki itu tanpa melihat Sakura. Matanya masih tertuju pada buku entah apa judulnya itu. "Uchiha terlalu formal."
"Baiklah Sasuke, aku masih membutuhkan buku karangan Shakespear, dan kalau bisa buku tentang kumpulan sastra inggris. Dan, bisakah…," Sakura sedikit banyak berharap semoga Sasuke Uchiha mau mengiyakannya. "Kau…, membantuku membawakan tangga perpustakaan?"
"Dimana?"
Baiklah, ia tidak menyangka lelaki itu akan dengan mudah mengiyakan permintaannya…
"Di rak sebelah sini," Sakura lalu berjalan mendahului lelaki itu.
Ia berjalan terus tanpa menoleh ke belakang. Karena, tanpa menolehpun ia tahu bahwa Sasuke Uchiha tetap berjalan di belakangnya.
Saat sampai di rak nomer 26, Sakura menoleh berusaha mencari tangga kayu. Ia lalu menemukan tangga itu di ujung dekat jendela. Perlahan-lahan ia berjalan ke sana, tapi sebelum ia bahkan bisa memegang tangga kayu itu, sebuah tangan muncul dari belakang tubuhnya dan membuatnya terdiam kaku.
"E-eh?"
Sakura menolehkan kepalanya, lalu ia menemukan sepasang mata onyx yang menunduk dan menatapnya datar tanpa emosi. Selama beberapa detik, rasanya dunia terhenti berputar di sekeliling Sakura.
"Biar aku saja," Sasuke lalu perlahan mendorong Sakura dengan lembut ke samping. Lelaki itu dengan mudah mengangkat tangga kayu itu –seolah beratnya hanya beberapa gram bukan beberapa kilogram, dan membawanya ke rak perpustakaan yang Sakura tuju. Gadis itu dengan takjub memandangi Sasuke.
Ia tidak menyangka kalau lelaki itu cukup gentle dan membawakan tangganya.
Ia awalnya berniat membawa tangga itu berdua dengan Sasuke. Dengan ia memegang ujung satu, dan yang lainnya di pegangi oleh Uchiha muda itu. Wah, ia tidak mengira bahwa lelaki itu cukup baik juga sebenarnya.
Merasakan dirinya di perhatikan, lelaki Uchiha itu menolehkan kepalanya dan mendapati gadis itu memandanginya seolah-olah ia adalah malaikat. Ia tahu kalau ia cukup tampan, tapi itu tetap membuatnya tidak terbiasa di pandangi dengan tatapan seperti itu.
"Kau yakin mau mengambilnya sendiri? Atau aku saja yang mengambilkannya?"
"A-ah, tidak usah. Biar aku saja."
Dalam sekejap, Sakura seolah-olah tersadar. Ia dengan cepat berjalan ke arah Sasuke dan perlahan-lahan mulai menaiki tangga. Ia sebenarnya memiliki ketakutan sendiri terhadap ketinggian, tapi ia tidak mau menyusahkan pemuda itu lagi. Ia rasa, ia sudah cukup menyusahkan pemuda itu dengan memintanya membawakan tangga itu.
"Aku akan ke rak di ujung sana," Sasuke menunjuk ke arah rak di utara yang letaknya lumayan jauh darinya. "Berhati-hatilah tangganya terlihat berbahaya."
"Iya, terima kasih."
"Aa."
Mata hijau hutan Sakura memerhatikan Sasuke hingga lelaki itu menghilang di belokan.
Sakura menggelengkan kepalanya dan mencoba untuk fokus, hell sekarang ia membutuhkan buku itu, dan buku tidak akan menghampirinya sendiri kecuali ia mengambilnya bukan?
Buku tentang kumpulan sastra inggris karangan tuan Sarutobi di letakan di rak paling tinggi. Ia terus menaiki tangga yang tingginya mencapai 2 meter lebih itu, hingga pada tangga terakhir ia menghela nafas lega. Ia menatap sekelilingnya dan melihat orang-orang yang berada di perpustakaan tengah sibuk dengan urusan mereka sendiri.
Matanya tanpa sadar menemukan Sasuke di ujung ruangan satunya yang jaraknya cukup jauh –atau sangat jauh tepatnya, Sasuke memang terlalu mencolok, ia bisa Sakura dengan mudah temukan.
'Ayolah fokus,'
Ia mengengadah dan melihat buku tersebut ada di rak paling tinggi. Buku berwarna merah yang terhitung sangat tebal itu mencolok dan membuat Sakura mudah menemukannya. Di karenakan, tubuhnya yang terhitung tidak tinggi membuat dirinya harus berjinjit, dan sayangnya itu masih tidak cukup juga. Sakura menghela nafasnya sebelum ia hendak melompat. Ia melompat-lompat kecil hingga akhirnya buku itu teraih juga olehnya.
Tapi, keseimbangannya hilang dengan tiba-tiba. Ia mencoba meraih apapun untuk menjaga keseimbangannya, namun itu sia-sia saja. Ia tahu ia akan jatuh sebentar lagi. Dan itu pasti akan sangat menyakitkan.
'Bodoh, jatuh dari ketinggian seperti ini memang akan menyakitkan!' umpat Sakura dalam pikirannya.
Sakura langsung menutup matanya dengan erat ketika ia mulai merasakan grafitasi bumi menariknya jatuh ke bawah. Ia sudah siap akan rasa sakit yang akan menderanya.
.
HAP.
.
.
–Eh?
.
Rasa sakit yang Sakura tunggu-tunggu tak kunjung datang. Malah, ia merasakan nafas dingin yang mengenai wajahnya bukannya rasa sakit akibat benturan.
.
Deg.
.
Sakura berani membuka matanya dan ia langsung tersentak kaget ketika ia menemukan sepasang mata gelap yang memandanginya. Debaran jantungnya semakin menggila, otaknya tiba-tiba saja terasa kosong. Ia…
–ia ada di pelukan Uchiha Sasuke.
.
Deg.
.
Emerald dan Onyx saling memandangi satu sama lain dengan pandangan intens. Tapi, pandangan mereka lebih dari itu. Satu sama lain memandang seolah saling menyelidik ke jiwa yang lainnya. Menggali apa yang ada di balik bola mata masing-masing.
.
Deg.
.
Pandangan mereka terputus ketika keduanya mendengar suara dehaman dari balik rak buku di belakang mereka. Sakura dengan canggung membuang mukanya yang mulai memerah, dan Sasuke menurunkan gadis itu perlahan-lahan.
"Ta-tapi, bagaimana bisa kau menangkapku?" ujar Sakura dengan alis yang mengkerut.
"Aku ada di bawahmu tadi," ujar Sasuke datar.
"Sebelum jatuh, aku melihatmu ada di ujung sana, di rak nomer 1. Aku yakin," Sakura menggelengkan kepalanya. "Kau tidak mungkin bisa tiba secepat itu."
"Aku ada di bawahmu, Sakura."
"Ta-tapi, itu tidak masuk aka–"
"Kalau begitu apa kau punya alasan logis yang lainnya kalau bukan karena aku di bawahmu?" alis kanan Sasuke naik lebih tinggi di bandingkan alis kirinya. Melihat sang gadis yang diam saja, membuat Uchiha muda itu menganggap gadis itu memberikan jawaban tidak. Ia memutar tubuhnya. "Hn, kita lanjutkan menulis makalah lagi saja."
Tangan pucat itu mengambil buku tebal bersampul merah marun itu, lalu mengangkatnya dengan ringan, seolah buku itu seringan bulu. Mata emerald gadis itu terus memerhatikan lelaki itu hingga akhirnya lelaki itu menghilang dari pandangannya.
"Itu tidak mungkin," gumam Sakura pelan.
Ia yakin.
Ia bersumpah melihat lelaki itu ada di ujung perpustakaan jauh dari jangkauannya.
Tidak mungkin dalam waktu kurang dari tiga puluh detik laki-laki itu bisa berada tepat di bawahnya.
'Ini…, terasa tidak masuk akal.'
.
.
"Terima kasih sudah mengantarku Sasuke," ujar Sakura seraya tersenyum sopan. Lelaki itu mengantarnya hingga ke blossom street. Lelaki itu bahkan mengantarkannya sampai ke depan –teras, rumahnya.
Wow, pertama kalinya ada yang mengantarnya seperti ini. Terutama, lelakinya super luar biasa tampan.
"Hn, sama-sama."
"Maaf, tapi Mom sedang tidak di rumah. Dan," Sakura tersenyum tipis. "Aku tidak bisa membawa seorang lelaki ke dalam rumah jika begitu."
"Ya, aku –"
"Well, darling tumben kau pulang malam."
Suara feminim yang terdengar familiar untuk Sakura menginterupsi perkataan Sasuke. Mebuki Haruno dengan pakaian kerjanya terlihat begitu menawan bahkan dalam keadaan berantakannya seperti itu. Rambutnya yang acak-acakan menutupi mata berwarna emerald sedikit, namun Sakura masih bisa melihat sinar jahil yang biasa terpancar dari Ibunya ketika Ibunya hendak menggoda atau mengerjai orang lain.
"Mom…"
"Dan, siapa teman tampanmu ini?" ujar Mebuki pada seorang pemuda yang membelakanginya.
Sasuke tentu saja bukanlah orang yang tidak tahu sopan santun, ia memutar tubuhnya lalu ia mengangguk singkat. "Selamat malam ma'am, nama saya Sasuke Uchiha. Saya dan Sakura baru saja mengerjakan tugas kami di perpustakaan hingga kami lupa waktu. Maaf membuat Sakura pulang terlalu malam."
Sekilas, Sasuke bisa melihat kekagetan yang terlihat secara sepintas di mata Mebuki, tapi wanita yang merupakan Ibu dari Sakura itu dengan cepat menutupinya.
"U-Uchiha?" ujar Mebuki dengan nada yang sedikit bergetar. Ia lalu menggelengkan kepalanya –kebiasaan turunan untuk memfokuskan diri, lalu tersenyum. "Ah, ya itu tidak apa-apa Sasuke. Asalkan anak kesayanganku ini pulang dengan uth. Kurasa, tidak akan ada masalah."
"Mom, bagaimana kalau Mom pergi ke dalam duluan?" ujar Sakura dengan senyuman tipisnya. Ia melihat Ibunya kelelahan –padahal menurut Sasuke Mebuki Haruno lebih pantas di katakan terlihat terkejut. "Bagaimana?"
"Ah, ya tentu saja," ujar Mebuki dengan senyum yang di paksakan. Ia melemparkan pandangan penuh rahasia pada Sasuke, lalu Haruno senior itu berjalan masuk ke dalam rumahnya. Tepat saat itu berada di depan pintunya ia memutar tubuhnya dan menghadap Sasuke. "Selamat malam, nak. Berhati-hatilah di jalan."
Tanpa menunggu jawaban dari Sasuke lagi, Mebuki dengan cepat masuk ke dalam rumahnya.
"Maafkan Mom, ia seringkali kelelahan jadi ia seperti itu," ujar Sakura, tawa kecilnya memecah keheningan di antara mereka berdua. Sasuke menatap mata emerald itu, pancaran aura sucinya begitu terlihat kentara. Sasuke tertawa dengan sarkastik dalam hatinya, 'begitu berbeda dengan auraku.'
"Hn, ya tidak apa-apa," ujar Sasuke. Lelaki itu lalu melirik ke jam tangannya. "Sudah malam, aku akan pulang sekarang."
"Ah, tentu saja." Sakura mengangguk cepat.
"Sampai jumpa besok," Sasuke mengangkat tangannya lalu membalikan tubuhnya. Ia mulai berjalan ke arah mobilnya.
Lelaki itu terus berjalan meninggalkan Sakura, gadis itu hanya memandangi punggung lebar itu dengan tatapan lembut.
'Ah, kenapa….'
Ia merasakan debaran di dadanya, perasaan ini…, mungkinkah? Ia memegangi dadanya, mencoba menenangkan debaran aneh di dadanya.
Ia tidak mungkin menyukai lelaki itu bukan?
Karena, itu hanya akan menjadi perasaan sisi saja. Ia akan merasakan patah hati kalau ia merasakan perasaan itu. karena, Sasuke Uchiha tidak mungkin menyukainya. Ya, tentu saja hal itu adalah hal yang mustahil bukan?
Tapi…, debaran macam apa ini?
Kenapa dadanya terus berdebar tanpa kendali ketika ia melihat lelaki itu? Perasaan apa ini?
.
Munkinkah…
.
Ia…
.
Menyukainya?
.
'Ah, tidak ada yang tidak mungkin bukan?'
.
.
Author note's:
Holahoooo kawan!
Bagaimana fict ini? Adakah yang bisa menebak sebenarnya Sasuke itu apa? Hayooooh, ada yang bisa tidak? Dan, dan, dan, saya bingung menentukan GENREnyaaaaaaaaaaa!
Ini fict menurut saya sih unsurnya romance, western, dan tentu saja fantasy! Tapikan tidak bisa memilih tiga-tiga itu…, menurutmu ini masuknya kemana? Apa mending western fantasy? Tapikan ada romancenyaaaaa T.T #galautingkatakut #dipetokpetoksilumanayam #ternyataSasuke #ditendang
Ini panjang looooh harusnya, cuman di potong dan pindahkan ke chapter 3 -_- ini di potong aja udah 14 halaman coba, makannya takutnya bosaaaaaaaaaan.
Ini fict lumayan menyenangkan buat di tulis loh. Saya sih senang-senang aja nulisnya HUEHUEHUE
Udah ah, sekian segini dulu ya!
Special Thankies full of love for :
Skyesphantom; Mahou Akai Ito;Sslove'yumiki; aguma; Raicchy; poetry-chan; yukarindha yoshikuni; ChieAkane; guest; Api Hitam AMETERASU; Yoruichi Shihouin Kuchiki; princess R'Fee; taintedIris; YashiUchiHatake; Karasu Uchiha; Kuro Nami; smiley
Mau review gaaaaaaaaaaaaaaaaa? #nyodorinSUJU #DibakarELF.
Oke sekian dan mohon review #kekeuh
.
Salam sayang.
.
.
Selena
