~_~Arishima Byun Present~_~
oO~Oo
...
...
Title: Who are you?
Chapter 1
Main cast: Byun Baekhyun, Bian Baixian, Park Chanyeol, Kris
Support Cast : Sehun, Kai, Kyungsoo, Luhan.
Length: Chaptered
Genre: school-life, drama, comedy & crime (litbit 😂 saya gak yakin)
Rate: T+
Summary:
"Milyaran orang sesempurna apapun takan ada yang bisa menggantikanmu"
.
.
WARN!BOYXBOY!
DON'T LIKE, DON'T READ
.
.
Check it out.
.
.
Satu cup es krim strawberry kosong ia masukkan ke tempat sampah yang ada didalam mobil Kris. Lalu mengambil satu cup lagi dan membukanya dengan semangat. Namja yang tengah menyetir disamping namja yang sibuk dengan es krimnya menoleh geli. Ia sedang berpikir bagaimana seorang lelaki begitu menyukai es krim strawberry yang identik dengan yeoja.
Sejenak pergerakkan menyendokkan es krim kedalam mulutnya terhenti. Ia memiringkan kepalanya dengan mata keatas. Terlihat tengah memikirkan sesuatu dengan gerakan imut. Kris menatap sekilas namja mungil itu lalu segera focus pada jalanan.
"wae? Ada yang salah?"
Baixan menoleh pada Kris lalu mengangguk pelan. "Eung!"
Ada jeda sejenak sebelum ia melanjutkan. Tengah berpikir. "Kenapa orang yang tadi melihatku terus ya Kris?" ucapnya lalu kembali ke pose semula. Jemari lentik itu mulai menyendok sesuap makanan dingin itu hingga membuatnya mengerucut senang. Ekspresi yang selalu ditunjukkan tiap kali makanan itu masuk kedalam mulutnya. Membuat seseorang gemas ingin menciumnya sana sini.
"yang mana?" Kris mencoba menahan kekehannya, berusaha untuk menanggapi meski pada kenyataannya, fokusnya mendarat pada sosok mungil disebelahnya.
"itu…yang di swalayan tadi. Orang tinggi itu-"
Baixan menghentikan kalimatnya. Sedetik berikutnya ia mendecak. Kenapa ia memusingkan orang itu? Toh saat di China ia sering dilihat begitu detail oleh orang lain.
"lupakan" sambungnya lalu menyendokkan es krimnya lahap.
"kau ini. oh ya! Bukankah besok hari pertamamu masuk sekolah?"
Baixan mengangguk dan tetap focus pada es krimnya.
"kau sudah menyiapkan persyaratan untuk masa orientasimu?" kris menoleh sekilas.
"tidak perlu. Kan ada dirimu" sahutnya enteng. Kris menghembuskan nafas. Selalu seperti ini. Batinnya.
"tidak baixan. Yang akan jadi petugas adalah seniormu. Bukan gurumu. Aku hanya sebatas mengontrol keadaan" baixan memajukan bibirnya.
"kau kan bukan guruku Kris"
"tapi disekolah iya sayang. Dan kita…"
Namja tinggi itu menggantungkan kalimatnya. Seolah yang akan dibicarakannya adalah hal yang bingung harus menjelaskan darimana perihal hubungan seorang murid dengan gurunya yang akan mereka jalani pada baixan. Tentu saja mereka harus menyembunyikan hubungan rahasianya saat disekolah. Tapi…ia bingung bagaimana menjelaskannya. Secara namja mungil ini sangat moody. Dan Kris tak mau jika namjanya ini marah.
"kita-"
"aku akan tutup mulut tentang hubungan kita. Kau jangan khawatir. Dan aku akan menyiapkan semua yang diperlukan besok" jawab baixan datar. Ia telah menghabiskan cup keduanya. Menyisakan satu cup untuk apartemen barunya nanti. Seperti biasa.
"kau marah?" kentara sekali Kris melembutkan nada suaranya. Tak mau membuat dirinya kesal. Baixan malah terkekeh lalu tersenyum pada Kris. Mendapat respon seperti itu Kris menghela nafas lega lalu menggenggam sebelah lengan baixan.
"kau yang terbaik baixan"
"aku tahu" namja mungil itu tersenyum.
Baixan mengeratkan gengggaman Kris pada lengannya. Mencoba menjadi berani atas keputusannya.
.
.
.
Dan aku akan melakukan yang terbaik untuk membalas semuanya
…
Hari ini cuaca terlihat sangat bersahabat. Tidak begitu panas menyengat juga tidak mendung. Bahkan terasa menyejukkan tatkala angin berembus menyapa setiap insan yang tengah bergelut dengan kegiatan masing-masing. Sama halnya dengan ratusan orang-orang yang bercengkrama seputar seperti apa kegiatan yang katanya menakutkan yang akan mereka jalani hari ini disekolah baru mereka. Dongshin Highschool yang terkenal dengan sekolah terfavorit di Seoul itu. Juga terkenal akan kedisiplinan tingkat tinggi yang menyerupai sekolah-sekolah international. Otomatis setiap orang yang akan mengenyam pendidikan disini harus menyesuaikan diri bertatakrama sesuai dengan apa yang ditanamkan disekolah itu. Tak ada pengeculian termasuk ketiga namja yang notabenenya adalah anak dari donatur tertinggi disekolah itu. Yah~ tak banyak yang tahu memang. Karena mereka bukanlah orang yang memamerkan kekayaan orang tua mereka.
Ketiga namja dengan tinggi hampir sama itu hanya menatap bangunan di sekitar mereka biasa. Ah tidak bukan bangunan tetapi yeoja disekeliling bangunan yang besar itu.
"yaaakh~ kenapa tak ada yeoja yang memikat hatiku?" ucap namja berkulit eksotis dengan memasang wajah kecewa.
"jangan sok memperhatiakan wanita jika orientasimu…"
Namja berkulit albino melanjutkan kaliamatnya dengan menekuk pergelangan tangan kirinya dengan seringaian jelek.
"aishh lihat siapa yang berbicara?" balas si hitam.
"kalian berisik!"
Suara bass diantara keduanya menghentikan kegiatan berdebat mereka. Ia sedang malas bercanda sejak kemarin. Kedua hitam putih itu tak berani bertanya alasannya. Sehun bahkan hanya mendapatkan gelengan dan anggukan atau lebih parahnya tak mendapat respon saat ia mengajak pemuda yang setahun lebih tua darinya itu berbicara. Entah sejak kepulangan mereka dari swalayan, sepupunya itu hanya diam dan bicara seperlunya. Sehun sempat menyalahkan Kai entah karena apa. Mungkin Sehun hanya ingin ada seseorang yang disalahkan. Karena tentusaja ia benci melihat keterdiaman Chanyeol yang biasanya banyak bicara itu.
"Kepada calon peserta masa orientasi siswa siswi DongshinHighschool harap segera berbaris di lapangan dan meletakkan persyaratan di tangan kalian!" Suara speaker mendominasi keriuhan halaman SMA favorit itu. Sehun berjengit kaget mendengarsuara keras yang tiba-tiba itu. Karena memang dasar sifatnya yang mudah panik, tanpa sadar ia menarik lengan Kai kebarisan yang sudah terbentuk beberapa baris tanpa menyadari mereka meninggalkan Chanyeol yang masih memaku dirinya ditempat. Merasa teringat seesuatu.
Ini...
Ia hanya mematung ditempat dan menatap teman-teman mereka berlari-lari kecil kearah lapangan itu. Hatinya berdenyut. Ini terlalu menyesakkan. Ia menggenggam kancing kecil yang terjahit dikemejanya. Tepat di dekat jantungnya.
NGINGG~ ckitckit..
Suara khas speaker dinyalakan semakin menambah kepanikan Chanyeol. Namja tinggi itu masih berkutat dengan setiap sudut saku blazer dan celananya. Benda itu hilang. Bagaimana ini? ia tak mau dihukum gara-gara tak membawa salah satu perlengkapan yang dibutuhkan.
"kepada calon siswa siswi Daegu Junior Highschool harap segera mengumpulkan persyaratan yang disebutkan kepada panitia. Setelah itu berbaris dengan rapih."
Chanyeol hampir menangis kalau saja tidak ada yang menepuk bahunya dari belakang. Chanyeol menoleh dengan mata berkaca-kaca. Keringat dingin menghiasi wajah polosnya. Kentara sekali ia sangat panik saat ini. mata bulatnya menatap wajah bingung dihadapannya.
"kau baik-baik saja?"
Suara renyah itu mengalun di pendengaran Chanyeol. Chanyeol mengangguk polos.
"aku menghilangkan salah satu persyaratan" ucapnya lebih terdengar seperti anak yang mengadu pada ibunya karena mainannya rusak.
"ya ampun. Apa itu?"orang itu menahan nafasnya. Seolah tertular panik.
"kancing kedua seragam sekolahku dulu"
Namja yang lebih pendek dari Chanyeol melirikkan bola matanya keatas tanda ia tengah berpikir. Lalu ia merogoh saku blazzernya dan menyodorkan kancing kecil berwarna putih pada Chanyeol.
"Cha! ambillah" namja mungil itu tersenyum. Chanyeol mengernyit tak mengerti.
"lalu kau?"
"aku punya milikku. Aku punya lebih"
"apa ini kancing kedua dari seragammu?"
"mereka tak akan tau karena semua kancing terlihat sama bukan?"
"ah kau benar. Terimakasih"
"HEI KALIAN YANG DISANA! APA KALIAN MAU KENA HUKUMAN?"
Bahu keduanya menegang lalu segera terbirit-birit menghampiri panitia untuk menyerahkan persyaratan setelah menyadari kalau hanya mereka berdua yang masih bergeming tak jauh dari siswa siswi lainnya yang tengah berbaris. Setelah menyerahkan pada panitia, keduanya berbaris berdampingan.
"ternyata rumornya benar. Senior disini galak-galak" ucap Chanyeol mendelik tak suka pada panitia yang baru saja memelototi mereka berdua. Namja yang lebih pendek terkekeh mendengar gerutuan namja asing disampingnya ini. seketika chanyeol tertegun melihat wajah menggemaskan disampingnya. Mata sipit itu melengkung membentuk setengah lingkaran lucu dengan ujung mata yang melengkung ke atas. Mulutnya membentuk persegi dengan gigi-gigi kecil menghiasi. Dan suaranya yang sangat terdengar crunchy. Orang asing ini sangat indah. Batin Chanyeol.
"Hei. Aku Park Chanyeol" tanpa sadar Chanyeol menyodorkan tangan kanannya pada namja di sampingnya ini. Begitu tersadar Chanyeol gelagapan. Dan tampangnya terlihat sangat bodoh. Namja mungil itu kembali terkekeh. Lagi-lagi kekehannya membuat Chanyeol terpaku. Ditambah getaran aneh mengganggu jantungnya.
"Hai Chanyeol. Aku Baekhyun. Byun Baekhyun".
.
.
"HEI KAU YANG DISANA! APA KAU MAU KENA HUKUMAN?"
Namja jangkung itu tersentak kaget saat suara melengking dari speaker menyentak lamuanannya. Chanyeol tersadar. Ia gelagapan saat semua mata tertuju padanya. Oh bagus. Ini terjadi lagi. Bedanya kali ini ia sendiri. Tak ada suara kekehan renyah yang mendampinginya.
Chanyeol berlari-lari kecil menghampiri panitia. Dan ia merasa semua langkahnya terasa kosong.
Aku membutuhkanmu baekhyun-ah
…
Hazzle coklat tua dari mata sipit itu menatap tak peduli pada namja tinggi yang baru saja kena marah panitia karena terlihat bodoh hanya mematung ditempat sedangkan orang lain tengah berbaris. Ini adalah awal perjuangannya. Ia tak boleh dikelilingi orang-orang bodoh seperti namja tinggi itu.
Baixan harus memulai segalanya dari awal. Memulai kehidupan yang lain. Dan ia harus memperhatikan setiap detailnya. Termasuk identitasnya sendiri. Namja mungil itu menghentikan pemikirannya saat seseorang menepuk pundaknya. Mata bulat yang terlihat lucu hadir dihadapannya.
"hai. Aku Do Kyungsoo. Kau?"
Baixan tersenyum lalu membalas uluran tangan namja yang terlihat lebih pendek darinya.
"aku-"
NGIK~
"semuanya harap perhatikan! Jika kami melihat salah seorang dari kalian bergerak sedikit saja, kalian harus terima konsekuensinya!" suara tegas dan garang menginterupsi kedua namja mungil itu. Membuat keduanya tak berani hanya sekedar menatap satu sama lain.
…
"Kyungsoo-ssi?" namja bermata bulat itu menoleh pada orang yang menepuk pundaknya. Senyuman manis menyapa Kyungsoo saat namja bermata doe itu menoleh. Ia nyengir setengah kaget mendapati namja manis yang bahkan belum sempat ia ketahui namanya.
"Hai. Kau masuk grup ini?" tanya Kyungsoo riang.
"eung" Baixian tersenyum senang. Setidaknya namja mungil ini terlihat bersahabat dengannya.
"Oke. Mulai dari sekarang aku yang akan menjadi penanggung jawab kalian di grup ini. Dan mulai saat ini juga kalian harus menuruti apa yang kuperintahkan" suara seseorang menginterupsi kegiatan masing-masing anggota grup. Termasuk Baixan dan Kyungsoo. Seketika suasana disana terasa sedikit mencekam.
"sebelum kita memulai semua kegiatan MOS hari ini, kita akan berkenalan dengan anggota yang ada di grup ini. Cukup perkenalkan nama dan tanggal lahir. Dimulai dari yang bermata bulat!"
Semuanya diam sejenak. Baixian mendeham gugup. Seolah merasa bahwa dirinya yang senior itu maksud. Padahal jelas sekali matanya kecil. Dan Baixian merutuki keterlambatan respon orang disampingnya itu. Ia menyenggol Kyungsoo-satu-satunya orang yang bermata bulat- disampingnya yang terlihat adem ayem saja.
Kyungsoo menoleh pada Baixian heran, lalu segera tersadar saat menyadari tatapan tajam ketua grup. "O! A-anyeonghaseyo. Namaku Do Kyungsoo. Tanggal lahirku 12 bulan Januari 1993. Gamsahamnida" jawab Kyungsoo cepat dan tegas. Baekhyun malah merasa Kyungsoo seperti tentara wamil. Kyungsoo menghembuskan nafas lega saat senior itu tak menunjukkan tanda mencari masalah dengannya.
"selanjutnya rambut berwarna jambu"
Baixian melirikkan pandangannya pada anggota grup. Seketika ia menggertakkan giginya pelan.
Heol! Kau bilang jambu? Mana ada jambu berwarna magenta? Dasar kuno!
"ekhem!" Baixian berdeham sebentar agar nada emosinya tak keluar disaat yang tak tepat.
"anyeonghaseyo. Namaku B-"
"maaf saya terlambat"
Lagi-lagi ia merutuki orang yang seenaknya menghentikannya lagi. Sepertinya hari ini adalah hari 'mari menginterupsi Baixian'. Karena banyak sekali orang yang membuatnya lagi-lagi memotong ucapannya. Namja mungil itu mendelik tak suka pada orang yang terlambat itu. Baixian tak peduli apa pemikiran namja tinggi itu ditatap olehnya pada pertemuan pertamanya. Ia hanya menatap namja tinggi -yang baru Baixian sadari adalah namja yang ditegur saat acara baris berbaris-itu dengan tajam. Namun entah kenapa. Saat namja tinggi itu menatapnya balik dan ia langsung membulatkan matanya. Seperti orang yang baru saja melihat hantu seimut dirinya.
Oke lupakan kalimat terakhir.
"kau! Dihari pertamamu sudah membuat kesalahan! Setelah mendapat hukuman dari ketua OSIS, kau harus lebih berhati-hati padaku! Hei jambu! Lanjutkan!" namja tinggi itu hanya mengangguk mengiyakan ucapan ketua grup.
Baixian menggigit bibir dalamnya. Berusaha untuk tidak mendengus dengan keras –menahan umpatan jambu konyol dari senior yang sangat konyol ini. Ia mengalihkan pandangannya pada senior menyebalkan ditengah-tengah grupnya.
"perkenalkan. Namaku…"
Baixian menghentikan sejenak kalimatnya. Ia mengerjap dua kali untuk menghilangkan kegugupannya. Jantungnya berdebar. Ia harus siap. Ia harus siap memulai tujuannya.
"namaku Byun Baekhyun-
"Aku lahir tanggal 06 Mei 1992-
"Gomapseumnida"
Baixian. Ah ani. Sekarang Baixian adalah Baekhyun. Mulai saat ini ia Baekhyun. Namja mungil itu terus meyakinkan diri. Kini ia membungkuk kecil dan menghembuskan nafas lega. Ia bisa ia bisa. Semangatnya dalam hati.
"sekarang giliranmu troublemaker"
Suasana senyap. Namja tinggi itu hanya terdiam. Baekhyun menatap namja tinggi-troublemaker menurut senior-itu heran. Entah perasaannya saja atau memang kenyataanya namja tinggi itu tak pernah melepaskan pandangannya pada Baekhyun sejak pandangan Baekhyun dan orang itu bersibobrok. Baekhyun hanya mengernyit bingung dan mulai salah tingkah saat senior mengikuti arah pandang namja tinggi itu terpaku padanya. Baekhyun tak mengerti kenapa orang itu terus saja memperhatikannya. Seolah dirinya adalah sosok yang lebih penting daripada senior galak itu. Apa ada hal yang salah pada Baekhyun? Namja mungil itu memeriksa tubuhnya dari bawah teliti.
Tak ada yang salah.
"YA! KAU! KAU TIDAK MENDENGARKU-"
"Bae-Baekhyun-ah"
Baekhyun semakin mengernyit. Kenapa orang itu malah menggumamkan namanya? Bukannya menjawab senior yang tengah memasang kuda-kuda itu.
Dan sedetik kemudian baekhyun merasa ulu hatinya tersentak kaget. Saat tiba-tiba namja tinggi itu memeluknya erat. Mata sipitnya membulat tak percaya. Ia terlalu bingung. Saat baekhyun hendak melepaskan pelukannya, Baekhyun kembali terpaku karena ucapan namja yang tengah terisak tiba-tiba itu.
"Baekhyun-ah akhirnya kau kembali"
Kembali.
Tak ada perlawanan lagi dari baekhyun. Ia cukup terkejut atas ucapan namja itu.
Ia mengenal Baekhyun?
Siapa orang ini?
Yang bisa Baekhyun lakukan hanya menatap kancing hitam yang terlihat mencolok diantara kancing putih yang pemuda itu kenakan.
…
Setelah menjalani beberapa kegiatan aneh seperti menulis nama dengan menggunakan pantatmu, bermain kertas gunting batu dengan ekspresi wajahmu, sampai menyebutkan nama dan tanggal lahir teman anggotamu, para peserta dipersilahkan untuk istirahat selama 30 menit. Sebelum acara mencari tempat tidur untuk malam ini dilakukan.
Dan yang paling Baekhyun rutuki adalah saat ini. Kyungsoo dengan gencarnya menggoda Baekhyun yang sepertinya lebih tertarik dengan hal lain.
"sepertinya si Chanyeol itu menyukaimu Baekhyun-ah. Buktinya ia hafal sekali tanggal bulan tahun dan tempat kelahiranmu. Dia hanya mengingat kau saja diantara yang lainnya" Baekhyun hanya terkekeh geli menanggapi godaan Kyungsoo seolah hanya mampir di telinganya. Sekarang ini yang Baekhyun pikirkan adalah..mengapa namja tinggi itu terlihat sangat mengenal Baekhyun. Apa ia dan Baekhyun sangat dekat?
Entahlah.
Setelah umpatan kasar ia lontarkan pada namja yang seenaknya memeluknya itu, namja tinggi terlihat terkejut dengan umpatannya itu dan sekarang malah terlihat menjauhinya. Tapi, sesekali namja tinggi itu memperhatikannya. Bahkan saat alasan Kyungsoo menggodanya, namja tinggi itu menatap Baekhyun sendu. Seolah menyembunyikan sesuatu. Ia yakin sekali kalau namja itu tahu sesuatu tentang Baekhyun. Tak mungkin ia hafal semua identitas Baekhyun termasuk dimana Baekhyun lahir. Padahal Baekhyun(Baixian) tak menyebutkan dimana ia lahir saat perkenalan tadi. Memang berapa banyak Baekhyun di Daegu dan Seoul yang memiliki nama, tempat dan tanggal lahir yang sama bukan?
Hufhh. Ia harus melupakan namja tinggi bodoh itu sejenak. Matanya menatap sekeliling lapangan yang terlihat mulai gelap. Yang harus ia lakukan sekarang adalah mencari orang itu. Tujuan utamanya pindah ke Korea. Meninggalkan kehidupan nyaman di China sana. Ia harus bergerak cepat sebelum orang itu menikmati hidup senangnya.
Ia mengeram kesal karena ia tak menemukan orang yang bahkan Baekhyun(Baixian) sendiri tak tahu bagaimana ciri-cirinya. Lalu…orang yang mana yang ia cari? Ia hanya mengetahui namanya saja. Dan ia tak mungkin bertanya pada setiap orang disekolah ini kan? Itu akan terdengar sangat konyol.
"ya Tuhan Baek! Lihatlah disana! Siapa dia? Tampan sekali ya…" pekikan tertahan Kyungsoo membuyarkan lamunan Baekhyun sejenak. Namja sipit itu mengikuti arah pandang Kyungsoo yang tertuju pada podium di tengah lapangan. Seketika matanya melengkung lucu saat mendapati namja tinggi penuh karisma itu. Ia tersenyum sangat manis mendengar beberapa orang disana mengaggumi pesona kekasihnya. Tentunya ia sangat bangga.
"Dia Wu Yifan atau lebih tepatnya Kris" ucapnya santai masih anteng mengagumi kekasihnya sendiri. Tak sadar bahwa kalimatnya barusan membuat Kyungsoo menoleh heran.
"kau mengenalnya baek? Bukankah dia guru disini?" tanya Kyungsoo penasaran. Ia menatap Baekhyun dengan mata burung hantunya yang terlihat mengintimidasi bagi Baekhyun. Namja itu tersadar dan mulai gelagapan. Ia merutuki kebodohannya.
"eu-eung d-dia kenalan ayahku" Kyungsoo mengangguk percaya. Lalu kembali menatap sosok Kris yang tengah bersiap untuk berpidato dengan pandangan kagum. Baekhyun mendecak melihat teman barunya. Heii Kris itu miliknya.
"Kris sudah punya pacar kyungsoo"
Lapor baekhyun tanpa dipinta. Dan namja mata burung hantu itu mengangguk paham.
"pantas. Dia kan tampan"
"tentu saja. Pacarnya juga tampan"narsisnya seraya memperbaiki letak kerahnya.
"mwo? Pacarnya seorang pria juga?"
Baekhyun gelagapan. Ingin sekali ia mengunci mulutnya yang seenaknya saja meluncurkan kata-kata mentah yang belum ia proses dulu.
"a-apa yang kau maksud dengan pria? Aku kan bilang pacanya cantik haha kau ini Kyung" kekehnya garing. Ia hanya tak mau membuat image Kris hancur karena ia seorang guru disini.
"benarkah? Siapa orang yang beruntung itu ya..aigoo"
Tentu saja aku
Batin baekhyun berteriak. Ia tersenyum sendiri melihat Kris yang sedang berkomat kamit didepan ratusan siswa siswi baru itu. Tak menyadari bahwa sedari tadi seseorang terus memperhatikannya dari jarak yang lumayan jauh. Menatapnya lekat seolah ingin melubangi kepala Baekhyun. Orang itu masih bergelut dengan akal sehatnya. Antara percaya atau tidak. Antara benar atau bukan. Sosok itu adalah namjanya. Tapi. Itu tak mungkin karena…Chanyeol melihat abu dari namja yang ia cintai ditaburkan dilautan. Lalu menghilang bersama buih.
Dan memang jika bukan, kenapa sosoknya seolah menyerupai namjanya itu. Mulai dari bentuk wajahnya, matanya, hidungnya, bibirnya bahkan suaranya pun terlihat sama. Apa itu reinkarnasinya? Ani. Itu adalah hal mustahil yang pernah ada. Tapi nyatanya kehadiran namja mungil dipandangan Chanyeol membuatnya mengiyakan pikiran bodohnya itu.
Chanyeol masih menatap Baekhyun saat orang yang ditatap balas menatapnya. Bibir mungil namja berambut magenta itu terlihat berdecak lalu bergerak membentuk kata 'Mwo?' dengan kesal. Chanyeol hanya diam bergeming memandanginya. Karena…
Ini terlalu tiba-tiba. Terlalu kebetulan. Terlalu mirip,…
Haruskah Chanyeol menjabarkan semua 'keterlaluan' yang ada diotaknya?
Tidak. Ia tak bisa menjabarkan semuanya.
Haruskah ia percaya pada magic-magic yang selalu noonanya baca di majalah mingguan langganannya? Atau apakah ia harus pergi ke peramal langganan Yoora?
Chanyeol rasa ia harus pergi ke psikiter.
Oh lupakan.
Dia hanya sedikit bingung.
…
Baekhyun mendengus saat kedapatan melihat namja tiang aneh yang tengah menatapinya sedari tadi. Ia bahkan bersikap kasar padanya beberapa jam yang lalu. Dan namja itu masih tetap menatapinya.
"Mwo?" tanya baekhyun pada Chanyeol dari jauh dengan nada menantang.
"wae?" kyungsoo bertanya saat mendapati teman pertamanya tengah menatap seseorang dengan raut wajah kesal. Mata bulatnya ikut mencari arah pandang Baekhyun.
"Ah~ Park Chanyeol lagi?"
Baekhyun mengangguk. Mengalihkan pandangannya dari chanyeol lalu menatap kyungsoo. "Kyung menurutmu… mengapa Chanyeol bersikap begitu?"
"menyukaimu?" tebak kyungsoo mengalihkan pandangannya pada Baekhyun.
"aissh. Kita bahkan baru pertama kali bertemu. Apa maksudmu suka pada pandangan pertama? Apa hal konyol seperti itu ada?"
"tentu saja ada. Ia jelas-jelas meyukaimu! Ah! Ia bahkan memelukmu Baek! Jelas itu ada. Lalu kau pikir Chanyeol itu apa? Ubi jalar?"
Ubi jalar. Yah~ mungkin.
Baekhyun facepalm dalam hati. Hampir saja ia menjitak Kyungsoo.
Dengan nada gemas Baekhyun menjawab "ani!...Maksudku kenapa dia seolah mengenal Baek-"
Baekhyun menghentikan ucapannya. Hampir saja ia kelepasan. Mata sipitnya menatap Kyungsoo was-was. Melihat tak ada tanda-tanda Kyungsoo mengernyit atau memicing atau bahkan bersin –abaikan–, Baekhyun melanjutkan ucapannya yang sempat tertunda.
"ma-maksudku kenapa ia seolah sudah mengenalku? Bukankah itu aneh"
"kau yakin tak pernah mengenalnya?"
"eung…tidak"
"mungkin dia menyukaimu. Seperti yang kubilang"
"-_-#"
Ya Tuhan.
Melihat ekspresi serius milik Kyungsoo, Baekhyun tersenyum. lebih tepatnya terpaksa. Tak ada gunanya bertanya pada teman barunya ini. Kyungsoo hanya punya satu pikiran tentang Chanyeol. Yaitu Chanyeol menyukainya. Oh ya Tuhan. Tak bisakah Kyungsoo berpikir lebih luas sedikit saja? Bisa saja kan Chanyeol mengenal Baekhyun (yang asli)? Setidaknya Baekhyun ingin mendengar kalimat itu dari Kyungsoo untuk meyakinkan dirinya bahwa Chanyeol benar-benar mengenal Baekhyun. Dan itu memudahkan mencari bajingan itu. Seharusnya kyungsoo mengatakan apa yang ia pikirkan tapi ia malah..
Hah. Yasudahlah.
Kyungsoo tetaplah Kyungsoo.
Ia harus bertanya pada Chanyeol sendiri. Dan jika chanyeol tak mengenal Baekhyun, dengan begitu ia bisa jauh-jauh dari namja tiang itu. Jujur saja. Chanyeol terlihat seperti maniak. Menatapinya terus-menerus. Siapa yang tidak risih? Dan mungkin Baekhyun hanya akan menganggap benar presepsi Kyungsoo tentang Chanyeol.
Konyol.
Sret.
Baekhyun bangkit dari duduknya setelah memberitahu Kyungsoo dan menghampiri Chanyeol. Tentunya setelah berdebat dengan namja belo itu. Baekhyun memberi isyarat pada namja tinggi itu untuk mengikutinya. Membuat namja tinggi yang sedari tadi melihatnya berdeham gugup. Namun, pada akhirnya ia mengikuti kemana Baekhyun membawanya.
"yak Park Chanyeol. Kau mengenalku?"
Namja mungil dihadapannya berbalik tiba-tiba saat keduanya sampai dikoridor sepi lalu bertanya dengan nada angkuh. Kedua tangannya bersidekap didepan dada. Dengan tatapannya yang tajam, Baekhyun mencoba menginterogasi Chanyeol. Alih-alih menjawab, Chanyeol tetap menatap. Masih bergelut dengan pikirannya.
"yak! Aku kemari bukan untuk menontonmu melamun. Sialan!"
Lihat itu.
Dia bukan Baekhyun.
Chanyeol mengalihkan pandangannya dari mata ber-eyeliner itu. Ia sedikit kecewa karena menyadari makhluk dihadapannya ini sungguh berbeda dari yang ia pikirkan. Chanyeol menunduk dan tak memperdulikan namja mungil dihadapannya. Masih anteng menanti mulutnya terbuka.
"kau mendadak bisu hah?" nada sinis itu terdengar asing ditelinganya. Suara yang sama. Namun Chanyeol baru pertama kali mendengar suara itu mendesis sinis padanya.
"yak! Aku hanya ingin mengetahui alasanmu. Kenapa kau terus-terusan menatapku?"
"…"
"kau bahkan tau dimana aku lahir"
"…"
"dan kau memelukku?"
"…"
"YAK!"
"…"
"menyedihkan! Seharusnya aku tak berbicara pada orang bodoh sepertimu" Baekhyun mendecih sebelum berbalik. Namun belum sepenuhnya ia melangkah, suara husky orang yang ditemuinya terdengar.
"Baekhyun"
Namja mungil itu berbalik. Menatap chanyeol dengan sinis.
"apa…"
Chanyeol menggantungkan kalimatnya. Baekhyun menuggu dengan sabar.
"apa kau mengenalku?"
Baekhyun mendecih. "apa-apaan kau ini. seharusnya aku yang bertanya padamu! Kenapa kau seolah-olah mengenalku hah?"
Ini benar-benar menyebalkan. Kenapa namja tiang ini sangat berbelit-belit sih?
Lagi-lagi Chanyeol terdiam. Merasa otaknya hilang entah kemana. "aku tidak tahu"
Baekhyun benar-benar tak habis pikir dengan orang dihadapannya ini. sudahlah. Mungkin kyungsoo benar. Namja tinggi ini hanya ingin mencari perhatiannya.
"baiklah. Anggap saja ini tak pernah terjadi."
Baekhyun berbalik dan mulai melangkah. Namun lagi-lagi suara berat itu terdengar ditelinganya. Dan entah kenapa kakinya berhenti dengan otomatis.
"ada satu hal yang membuatku penasaran"
Baekhyun hanya terdiam. Menanti namja itu melanjutkan kalimatnya.
"apa kau…"
.
.
"…benar-benar..."
.
.
"Byun Baekhyun?"
.
.
Baekhyun merasa tenggorokkanya tercekat. Entah kenapa. Seharusnya ia tak sekaget itu mendengar pertanyaan Chanyeol. Ekspresi garangnya menguap seketika. Degup jantungnya meningkat seperkian detik.
"wae? Kau pasti mengenalku kan?" baekhyun lagi-lagi berbalik menghadap Chanyeol dengan desisan kecil. Mencoba megintimidasi.
"kau tahu dimana aku lahir, kau terkejut melihatku, dan kau…memelukku. Kau pasti mengenalku sebelumnya" lanjut Baekhyun.
Chanyeol tersenyum kecut. Nyatanya Baekhyun dihadapannya ini tak mengenalnya. Karena mungkin dia bukan Baekhyun yang ia kenal. "apa salah jika aku mengenalmu?"
Kini namja mungil itu yang terdiam. Ia menelan ludahnya karena tenggorokkannya mengering seketika. "tidak." Baekhyun merutuki suaranya yang terdengar bergetar. Ishhh seharusnya ia harus memprediksi ini. Pasti ada beberapa orang yang mengenalnya karena Baekhyun (asli) sempat tinggal didaerah ini.
"kau...tidak mengenalku Baekhyun-ssi?" entah kenapa pertanyaan itu membuat bulu kuduknya merinding. Suaranya dalam dan berat. Terutama saat nama Baekhyun disebutkan.
"haruskah aku mengenalmu?"
Chanyeol menatap mata sipit yang tajam itu dengan dalam. Mencoba menyelami lebih dalam. Namun ia tak menemukan apa yang ia cari. Saat itu ia merasa kecewa.
"lupakan saja. Kita harus segera kembali." Chanyeol berbalik dan mulai berjalan meninggalkan Baekhyun yang terdiam.
"jika kau mengenalku..." Chanyeol berhenti melangkah saat suara dibelakangnya menyahut.
"seharusnya kau mengenal Baekhyun yang dulu"
Chanyeol memutar tubuhnya menghadap namja berambut magenta itu. Ia mengernyit tak mengerti dengan apa yang dikatakan namja dihadapannya.
Menyadari kebingungan orang dihadapannya, Baekhyun angkat bicara.
"aku hilang ingatan" jawaban yang terdengar kosong tanpa makna. Setidaknya itu yang terdengar oleh Chanyeol. Ia terkekeh meremehkan.
"kau apa?" tanya Chanyeol sarkastis.
Baekhyun memejamkan mata sejenak lalu kembali menatap mata bulat itu penuh keyakinan.
"aku kehilangan ingatanku dan aku tak mengingat semua orang yang aku kenal. Aku hanya ingin mengingat semua hal yang pernah kualami. Maka dari itu aku bertanya, apa kau mengenalku?"
Chanyeol terdiam mendengar kalimat penjelasan yang keluar dari bibir tipis itu. Tatapannya melembut setelah beberapa detik terlihat mengintimidasi. Baekhyun bersyukur akan itu. Setidaknya sepertinya ia tidak dicurigai. Ini akan membantunya jika saja namja ini mengenal Baekhyun dan ia bisa memulainya dengan bantuan namja jangkung ini.
Baekhyun melihat Chanyeol tersenyum tipis tapi tidak sampai kematanya. Namun entah membuat Baekhyun merasa merinding melihat mata bulat itu menatapnya lembut.
"k-kau mau kan membantuku mengingat kembali masa-"
"maaf Baekhyun-ssi. Tapi aku tidak mengenalmu"
Dahi Baekhyun berkerut. Apa ia salah dengar?
"ta-tapi-"
"aku duluan"
Belum sempat Baekhyun menyahut, Chanyeol memotong ucapannya lalu beranjak pergi. Baekhyun menghembuskan nafas dengan keras lalu menengadahkan kepalanya. Merasa emosinya berada diubun-ubun. Merasa dipermainkan, kepala Baekhyun serasa dipenuhi emosi dan makian yang siap ditembakkan. Apalagi ia orang yang temperamen. "dasar sialan kau! Tiang bodoh! Kalau kau tak mengenalku, cari cara lain untuk menarik perhatianku! Jangan menatapku seperti orang tolol! Apalagi sampai memelukku! Cih! Aku tak butuh bantuanmu! Aku akan mencari tau sendiri!" Chanyeol tak bergeming dengan umpatan namja mungil dibelakangnya.
Mereka benar-benar berbeda.
Tapi…kenapa terasa sama.
Perasaan itu.
"dan hei kau harus tahu Park sialan Chanyeol! Kancing hitam konyol diseragammu membuatmu seperti orang linglung! Apa kau tak punya uang untuk membeli kancing putih lainnya? Kau-"
Baekhyun menghentikan makiannya. Entah kenapa Baekhyun merasa menyadari sesuatu dari ucapannya. Ia seperti melihat bayang-bayang dirinya melintas di pikirannya.
Ia merasa mengingat sesuatu yang ia sendiri tak tahu mengingat apa.
"kau-" suaranya melemah. Ia benar benar bingung. Kepalanya terus dipenuhi orang-orang berpakaian seragam serba hitam dengan senjata api ditangannya masing-masing.
"BAEKHYUN AWAS!"
Ia mendengar seseorang berteriak. Itu dirinya. Yang berteriak. Memanggil seseorang yang tubuhnya sama seperti miliknya.
"Kau tahu tidak kenapa panitia meminta kita saling bertukar kancing ketiga?"
Lalu bayangan Baekhyun berbicara dengan seseorang disampingnya. Mereka tertawa. Begitu bahagia.
"Arghh"
Chanyeol pikir namja mungil itu akan terus memakinya tanpa rasa puas. Namun, setelah beberapa langkah ia berjalan, bukan umpatan yang ia dengar. Chanyeol mendengar namja mungil itu mengerang kesakitan. Saat ia menoleh, Chanyeol melihat Baekhyun tengah memegangi kepalanya. Setelah itu, mata Chanyeol membulat.
"Baek!"
Namja mungil itu pingsan.
…
"aku berpikir ini benar-benar unik. Bukankah hal ini begitu manis?"
"manis? Ini hanya bertukar kancing baek"
"tentu saja manis. Kau tahu kenapa panitia meminta kita saling bertukar kancing kedua?"
"itu karena untuk membuat para hoobae repot. Bukankah senior memang selalu seperti itu saat orientasi?"
"aniya~ itu karena kancing kedua paling dekat dengan hati. Jadi aku pikir senior ingin mencoba mendekatkan pertemanan para calon siswa siswi baru yeol"
"be-benarkah?" chanyeol merasa pipinya memanas. Yang berada diseragmnya adalah kancing kedua dari namja mungil yang diam-diam ia kagumi. Kancing ini kancing terdekat dengan hati Baekhyun. Ia tak tahu seberapa meronanya dirinya.
"ta-tapi jarak kancing setiap seragam kan berbeda baek. Punyaku malah berada tepat diususmu."
Baekhyun terkekeh. "iya iya aku memang pendek" ucapnya dengan nada jenaka. Chanyeol menarik kedua sudut bibirnya.
"kau tahu yeol? Kancing hitam itu terlihat sangat konyol diseragammu."
"tapi aku senang." Karena kancing ini sangat dekat dengan hatimu baek. Lanjutnya dalam hati.
"itu kancing seragam sekolahku. Aku tak tahu jika akan ditukar seperti ini. Maaf kau jadi terlihat aneh"
"tapi yang diseragammu itu bukan kancingku baek"
"kau harus memberiku lain kali" ancam Baekhyun dengan gerakan imut. Dan sialnya membuat Chanyeol menahan nafasnya sejenak.
Chanyeol mengangguk. Entah kenapa malam saat kegiatan orientasi selesai malah membuatnya semakin gugup didekat Baekhyun. Berbeda saat kegiatan berlangsung. Tentu saja. Karena hanya mereka berdua yang masih terjaga.
"ahaha… ya Tuhan Yeol. Maafkan aku. Kau sangat konyol dengan kancing itu. Kau terlihat seperti orang yang tidak punya uang untuk membeli kancing putih lain" ucap Baekhyun dengan tawa yang tertahan.
…
.
.
"Baek! Kumohon Bangunlah! Kumohon Jangan lagi!" Chanyeol masing mengguncangkan tubuh Baekhyun yang terbaring. Ini benar benar dejavu baginya. Chanyeol tak mau kejadian mengerikan itu terulang lagi. Ia tak mau melihat Baekhyun terluka untuk kedua kalinya. Meskipun ia tak yakin jika orang dalam gendongannya ini adalah Baekhyunnya.
"Baekhyun-ah!"
.
…
TBC
.
.
.
Bbiyak-Bbiyak:
Hello Readers~ (nyanyi heaven ala Chen) hehe. Sebenernya kurang semangat sih nulis ini karna jumlah reviewnya sangat apa Ishi kuat hahahaa... #plak
Kalo ada yang belum mengerti sama jalan ceritanya bisa baca chap sebelumnya ya...ff ini agak membingungkan sih sebenernya. Ishi sendiri pun dibuat pusing. Maaf sekali kalau typonya bersebaran. Ishi masih author pemula di FFn ini. Makanya belum punya pengalaman banyak. Meskipun sudah dari zaman batu sering nulis tapi ini pertama kalinya berani publish apalagi cerita BL... soalnya (dulu) belum berani nulis BxB sihh (nulis ini pun karena nyiperin chanbaek begitu banyak)dan karena pingin nyoba pengalaman, jadilah ff ngaco ini.
Nah, berhubung Ishi ini author pemula. Mau dong ya readers ngasih reviewnya...biar semangat gitu nulisnya, biar kerjakeras author (huek) gak sampai sini ya ya ya (puppymodeon/abaikan) pleaseee...ntar dido'ain dinotice bias dehh ~~~~ yayayayayyayayayayaya hihihi
Nantikan chapter selanjutnya ya... *lirik-lirik kotak review
BBUNG-BBUNG-AH SARANGHAE :*
