Sebelum marganya diubah menjadi Lee, Hansol dulunya merupakan seorang Ji. Ia hanya sempat memiliki marga itu sekitar dua tahun, karena keluarga Lee mengadopsinya ketika ia berumur dua tahun dan mengubah marganya secara legal menjadi Lee. Hansol tidak begitu ingat bagaimana rasanya memiliki marga yang bukan Lee, tapi ketika ia sudah benar-benar frustasi dan tertekan karena hidup dalam bayang-bayang seorang Lee Taeyong, Hansol akan mengambil sebuah buku tulis, dan menuliskan namanya dengan marga Ji berkali-kali di sana. Kalau Hansol sudah sangat frustasi seperti itu, ia bisa menghabiskan berlembar-lembar kertas—rekornya adalah 30 lembar—untuk menulis Ji Hansol berulang-ulang. Mungkin caranya menyalurkan rasa frustasinya itu terdengar berlebihan dan kekanak-kanakan, tapi cara itu dapat membantu Hansol menenangkan dirinya, membantunya untuk melupakan, meski hanya sesaat, bahwa ia adalah seorang kakak dari Lee Taeyong. Bagaimana bisa menjadi kakaknya kalau marga saja berbeda, kan?
Hansol tidak membenci orangtua angkatnya, ia juga tidak membenci Taeyong. Ia malah merasa berterimakasih, berterimakasih karena mereka mau mengadopsi dirinya, memberinya tempat yang bisa ia sebut rumah, dan bersedia menjadi orang-orang yang ia bisa sebut keluarga. Terlebih orangtua angkatnya selalu memperlakukannya dengan baik, memperlakukannya sama seperti mereka memperlakukan Taeyong.
Dan Hansol tahu Taeyong sama sekali tidak bersalah. Taeyong memang tampan, memang lebih populer, memang lebih pintar, memang lebih jago berolahraga, memang lebih jago dalam bidang musik, dan semua itu bukan salahnya. Bukan salahnya semua orang lebih suka Taeyong daripada Hansol. Bukan salahnya juga semua orang benar-benar terobsesi untuk membandingkan pasangan adik-kakak itu. Hansol ingat bahwa Taeyong bahkan pernah mengamuk pada orang-orang yang terus-terusan membandingkan keduanya, terus-terusan menggunakan Hansol untuk dekat dengannya. Hansol ingat Taeyong seringkali meminta maaf padanya, Taeyong bahkan pernah menangis karena merasa bersalah pada Hansol.
Karena itulah Hansol tidak bisa membenci adik angkatnya itu.
Dan Hansol tahu ia tidak akan pernah bisa membenci sosok Lee Taeyong.
Atau setidaknya, Hansol berpikir bahwa ia tidak akan pernah bisa membenci Taeyong.
Shadow
Johnny, Seo x Hansol, Ji
Romance, Hurt/Comfort
NCT, SM Rookies © SM Entertainment
Hansol hampir berteriak ngeri ketika ia sampai di kantin dan melihat sosok adik angkatnya itu yang sedang duduk di salah satu kursi yang berada di kantin. Ia bahkan langsung menarik tangan Yuta, tanpa mempedulikan protes yang keluar dari bibir lelaki yang berasal dari Jepang itu, dan langsung berjalan—hampir berlari—menuju sang adik.
Bukan, Hansol bukan ingin berteriak karena ia kaget adiknya itu berada di kantin universitasnya—lagipula dia kan sudah tau tentang hal itu—dan keinginannya untuk berteriak itu juga tidak berhubungan sama sekali dengan rasa frustasinya menyangkut hidup dalam bayang-bayang adiknya itu, bukan.
Yang membuatnya ingin berteriak ngeri adalah sosok yang sedang duduk berhadapan dengan Taeyong.
Johnny Seo.
Mahasiswa paling terkenal di seantero universitas, semua karena wajah tampannya—padahal Hansol merasa dirinya lebih tampan—dan juga reputasinya sebagai seorang playboy. Johnny terkenal dengan kebiasaannya yang suka gonta-ganti pacar, satu kali setiap minggunya, dan bagaimana ia selalu membuat semua kekasihnya menangis tersedu-sedu karena diputuskan olehnya, setelah satu minggu dibuat menjadi orang paling bahagia di dunia karena berhasil menjadi pacar seorang Johnny Seo. Sudah rahasia umum kalau Johnny selalu memperlakukan kekasih-kekasihnya dengan baik, membuat mereka merasa diperlakukan seperti seorang ratu—atau raja. Karena itulah, meskipun hampir semua orang di universitas sudah tahu bahwa seorang Johnny Seo adalah seorang lelaki brengsek, masih banyak yang mau menjadi kekasihnya. Berharap merekalah yang dapat mengubah Johnny, membuatnya menjadi lelaki yang lebih baik, lelaki yang setia pada satu pasangan—yaitu diri mereka sendiri. Harapan kosong, tentu saja, karena Hansol yakin seseorang seperti Johnny tidak akan pernah berubah.
Hansol tentu saja tidak mau adiknya menjadi mangsa Johnny yang selanjutnya. Ia tidak mau adiknya itu terjerat dalam pesona si playboy nomor satu itu. Ia tidak mau melihat Taeyong menangis tersedu-sedu karena diputuskan seseorang yang brengsek seperti Johnny begitu.
"Lee Taeyong!"
Hansol menghentikan langkahnya tepat ketika ia sampai di samping Taeyong, napasnya tersengal-sengal, kelelahan karena berlari, meskipun jarak larinya tidak terlalu jauh. Daridulu Hansol memang bukan seseorang yang memiliki stamina yang kuat. Yuta sendiri yang tadi jadi ikut-ikutan berlari karena ditarik oleh Hansol saja tidak memiliki masalah sama sekali, ia memang terbiasa main bola dan berlari-lari, sehingga staminanya tentu jauh lebih kuat dari Hansol.
Satu lagi perbedaan di antara pasangan kembar itu.
"Hyung! Akhirnya sampai juga, aku hampir saja mati kelaparan," Taeyong menyambut Hansol dengan senyum cerahnya. Ia sebenarnya berniat untuk langsung meminta uang dari kakaknya itu, tapi ia teringat dengan sosok yang sedang duduk di hadapannya. "Ah, hyung, ini… siapa namamu tadi? Ah ya, Johnny. Ini Johnny, dia yang mengantarkan aku kesini dan menemaniku untuk menungguimu, hyung. Dan Johnny hyung, ini—"
"Lee Hansol dan Nakamoto Yuta, ya kan? Aku tahu kalian berdua. Salah satu temanku yang berada di jurusan yang sama dengan kalian kadang bercerita tentang Hansol dan Yuta, duo kembar di jurusan hukum."
"Duo kembar? Hyung, kenapa kau tidak pernah bilang padaku kalau kau punya seorang saudara kembar? Aku kira aku ini adikmu, hyung!"
"Tidak kakak, tidak adik, ternyata sama bodohnya."
"Diam kau, bakamoto. Seharusnya kau introspeksi diri dulu sebelum mengomentari tingkat kecerdasan seseorang," Hansol berkata, menyentil pelan dahi sahabatnya itu. "Taeyong, selama satu tahun aku tidak ada, aku tidak mengira kau akan jadi bodoh begini."
"Aku tidak bodoh," Taeyong mengerucutkan bibirnya, kesal karena disebut bodoh oleh kakaknya itu. "Kan siapa tahu ternyata hyung punya saudara kembar yang tidak kuketahui keberadaannya."
"Terserahmu, lah."
"Hyung, mana uangnya? Aku sudah menunggu daritadi, tahu."
"Oh iya," Hansol teringat dengan alasannya mendatangi adiknya itu di kantin universitas, lalu ia menoleh menatap Yuta. Yuta yang ditatap langsung memutar bola matanya ketika ia mengerti arti dari tatapan sahabatnya itu. "Pinjam, bakamoto. Pinjam."
"Kau ini sok-sokan sekali. Kukira kau memang punya uang makanya kau langsung berlari kesini," Meskipun ia mengomel begitu, Yuta tetap mengambil dompet dari saku celananya, lalu mengambil beberapa lembar uang won, dan memberikannya pada Hansol. "Nih."
"Terimakasih! Kau memang yang terbaik," Hansol sempat-sempatnya membuat finger heart untuk Yuta, sebelum ia membalikkan tubuhnya untuk menatap Taeyong. "Ini. Cepat beli makan, sana. Jangan diulangi lagi, aku kan tidak selalu bisa langsung menghampirimu untuk menyerahkan uang."
"Siap, hyung! Hyung tunggu saja di sini dulu ya, aku tidak akan lama. Dan kau," Taeyong bangkit dari duduknya dan menunjuk Yuta, dan yang ditatap langsung menunjuk dirinya sendiri, kaget karena tiba-tiba ditunjuk begitu. "Aku ingin tahu lebih banyak tentang kembaran Hansol hyung, jadi kau harus tetap tinggal. Sebentar, ya!"
Selesai mengucapkan kalimat tersebut, Taeyong langsung melesat menuju salah satu stand makanan yang berada di area kantin tersebut, tidak mempedulikan Yuta yang masih terkaget-kaget.
Hansol hanya menggeleng-gelengkan kepalanya karena tingkah adiknya itu. Ia lalu mendudukkan diri di kursi yang berada di samping kursi yang tadi Taeyong duduki, lalu ia meraih tangan Yuta dan menariknya agar duduk di samping Johnny, satu-satunya kursi yang tersisa.
"Yang tadi itu benar-benar adikmu, Sol?"
"Ya, begitulah," Hansol mengedikkan bahunya, perasaan takut kembali hadir dalam hatinya, perasaan takut bahwa Yuta akan meninggalkannya karena Taeyong, perasaan takut bahwa setelah satu tahun merasa bebas, semua penderitaannya akan kembali hadir dalam hidupnya. "Kenapa? Kau tidak percaya?"
"Aku sendiri tidak percaya begitu Taeyong bilang bahwa Lee Hansol adalah kakaknya," Johnny tiba-tiba berkata, padahal Hansol tidak berniat untuk memulai pembicaraan dengan playboy nomor satu itu. "Kalian berdua benar-benar tidak mirip. Kalian berdua benar-benar sepasang adik dan kakak, kan?"
Ingin tahu sekali ya orang ini. "Takdir. Kami berdua memang ditakdirkan untuk menjadi sepasang saudara yang tidak mirip, baik wajah maupun sifat."
"Lagipula siapa juga yang mau memiliki wajah ataupun sifat yang sama denganmu? Tampan juga, lebih tampan aku. Sifat, apalagi. Kau kan makhluk paling membosankan di dunia ini, Sol."
"Bakamoto, sudah bosan hidup, ya?" Hansol mencubit lengan Yuta, membuat Yuta hampir berteriak kesakitan, tapi untungnya ia bisa menahan teriakannya itu. Ia tidak mau menghancurkan reputasinya dengan cara berteriak melengking seperti seorang gadis di tengah-tengah kantin yang sedang ramai pengunjung itu. Akhirnya, Yuta hanya bisa merengut karena rasa sakit yang ada di lengannya. Ia tidak berani membalas Hansol, karena Hansol pasti akan membalasnya lagi. Dan cubitan Hansol jauh lebih menyakitkan dari cubitan seorang Nakamoto Yuta.
"Begini," Hansol yang awalnya sibuk tertawa melihat reaksi Yuta karena cubitannya, menoleh menatap Johnny begitu ia mendengar suara pria tersebut. "Aku hanya memberitahukanmu hal ini karena kau adalah kakak dari Taeyong, dan aku merasa kau berhak tahu. Tapi aku tidak akan peduli bagaimana pendapatmu, karena aku akan melakukan apapun yang aku mau, meskipun kau tidak suka."
Perasaanku jadi buruk. "Apa?"
"Aku ingin menjadikan adikmu itu sebagai kekasihku."
"Apa?" Meskipun ia berada di kantin yang penuh dengan orang, Hansol tak repot-repot untuk menahan teriakannya. Ia bahkan kini dalam posisi berdiri dan bukan lagi duduk, sangking terkejutnya ia akan hal yang baru saja meluncur keluar dari mulut seorang Johnny Seo. Ia bahkan tidak peduli dengan berpuluh-puluh pasang mata yang kini menoleh menatapnya karena mendengar teriakannya. "Kau tidak mungkin serius, kan? Kau pasti bercanda! Kau bahkan baru mengenalnya beberapa menit yang lalu, tapi kau sudah mau mendekatinya?"
"Aku hanya butuh beberapa menit untuk mengetahui mana orang yang pantas kukejar, dan mana yang tidak. Adikmu itu benar-benar menarik, kau tahu? Biasanya orang-orang akan langsung luluh dalam pesonaku, tapi ia tidak. Bahkan saat aku menemaninya tadi, ia sempat sibuk dengan ponselnya dan mengabaikanku yang berusaha untuk mengajaknya terus mengobrol. Sangat berbeda dengan orang-orang lain yang akan selalu fokus padaku setiap kali aku berbicara dengan mereka."
"Aku sarankan sebaiknya kau terapi ke dokter. Kepercayaan dirimu itu benar-benar tidak sehat," Yuta berkomentar, tatapannya datar, heran dengan tingkah laku manusia satu ini. Seumur hidupnya, Yuta belum pernah sekalipun melihat seseorang yang begitu percaya diri seperti Johnny.
"Aku bukannya percaya diri, tapi memang itu kenyataannya," Johnny tersenyum miring. "Kau tidak pernah lihat aku dikejar-kejar oleh para wanita dan pria yang ingin menjadi kekasihku, walau hanya untuk seminggu, ya?"
"Tentu saja kami pernah melihatnya. Itu menjadi hiburan kami setiap minggu," Hansol menyambar. Ia kini sudah kembali dalam posisinya semula, duduk di atas kursi. "Sebaiknya kau lupakan saja keinginanmu untuk menjadikan Taeyong kekasihmu. Tidak akan ada orang waras yang ingin adiknya didekati oleh seorang Johnny Seo, dijadikan pacar, lalu dibuat menangis kejar karena diputuskan seminggu setelahnya. Tidak, aku tidak mau melihat adikku menangis karena lelaki sepertimu."
"Kali ini berbeda, Tuan Lee. Aku ingin menjadi kekasih adikmu karena aku benar-benar tertarik padanya, dan ini pertama kalinya aku merasa begitu tertarik pada seseorang di universitas ini. Aku tidak akan memperlakukan orang yang membuatku tertarik dengan cara yang sama seperti mantan-mantan kekasihku itu. Aku janji. Kau bebas melakukan apapun padaku kalau aku sampai membuat Taeyong menangis."
"Tidak, Tuan Seo. Sekali tidak, tetap tidak. Lagipula kau sendiri bilang tadi, kalau Taeyong sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan padamu. Kalaupun aku membiarkanmu mendekati Taeyong, akan sia-sia juga pada akhirnya, kan? Dia saja tidak merasa tertarik padamu."
"Tidak ada seorangpun yang tidak merasa tertarik pada seorang Johnny Seo, Tuan Lee," Johnny tersenyum percaya diri, membuat Yuta merasa ingin muntah karena mendengar ucapannya dan melihat senyumnya itu. "Adikmu itu mungkin saja tidak merasa tertarik padaku sekarang, tapi aku yakin setelah aku mendekatinya untuk beberapa hari, ia akan luluh dalam pesonaku. Lagipula itulah yang membuatku merasa tertarik padanya, caranya mengabaikanku membuatku merasa tertarik."
Hansol terdiam, kehabisan kata-kata. Ia memang pernah mendengar bahwa seorang Johnny Seo itu memang seseorang yang percaya diri, tapi ia tidak tahu bahwa Johnny ternyata sepercaya diri ini.
Makin lama mengobrol dengannya makin membuatku tidak suka dengannya, Hansol berkata dalam hati. Dalam kepalanya, ia sedang sibuk mencari rencana yang akan menggagalkan Johnny dari usahanya untuk menjadikan Taeyong sebagai kekasihnya. Apapun caranya, ia harus menggagalkan rencana Johnny. Ia tidak mau melihat adiknya menangis tersedu-sedu hanya karena seorang pria brengsek seperti Johnny. Meskipun si playboy ini bilang bahwa dia akan memperlakukan Taeyong berbeda dari caranya memperlakukan mantan-mantan kekasihnya itu, Hansol tidak bisa percaya 100%.
"Baiklah, terserah," Hansol akhirnya berkata. "Silakan, kalau kau memang mau mendekati Taeyong. Lagipula kau sendiri tadi bilang, meskipun aku mengatakan tidak, kau akan tetap mendekati adikku. Terserah, kalau begitu."
"Ya, Lee Hansol, kau serius? Kau kan tahu sendiri kalau Johnny itu—"
"Aku tahu kau memang kakak yang baik, Tuan Lee," Johnny tersenyum senang, lalu ia meraih tangan Hansol dan menggenggamnya selama beberapa detik, sebelum dilepaskan lagi. Entah mengapa, Hansol seperti merasakan suatu perasaan aneh ketika Johnny menggenggam tangannya tadi, tapi ia langsung mengabaikan perasaan itu. "Aku janji aku akan memperlakukan Taeyong dengan baik, sungguh."
Hansol hanya tersenyum, dan Yuta tahu bahwa senyum di bibir sahabatnya itu adalah sebuah senyum paksaan. Meskipun mereka baru satu tahun berteman, Yuta sudah hafal perbedaan antara senyum tulus dan senyum terpaksa Hansol.
"Aku pegang janjimu," Hansol berhenti sesaat, "karena aku percaya bahwa kau akan memperlakukan adikku dengan baik, aku ingin menawarkan bantuan."
"Bantuan apa?"
"Hansol—"
"Taeyong itu anak yang cukup sulit, dia bukan orang yang mudah menyukai orang lain," Hansol menjelaskan. "Karena itulah, cara terbaik untuk mendapatkan hatinya adalah dengan mengetahui semua hal tentang Taeyong, mulai dari kesukaannya, ketidaksukaannya, hobinya, kebiasaannya, dan lain-lain. Kau harus tahu semua itu kalau kau mau mendapatkan hati Taeyong, Tuan Seo. Dan satu-satunya yang tahu semua hal tentang Taeyong adalah aku."
"Jadi, maksudmu?"
"Ya, aku akan membantumu mendapatkan Taeyong, aku akan memberitahu semua hal tentang adikku itu padamu sedikit demi sedikit, sampai pada akhirnya kau bisa mendapatkannya," Hansol melanjutkan, senyum sudah hilang sepenuhnya dari wajahnya. "Tapi kalau sampai aku melihat Taeyong menangis setelah kau mendapatkannya, kau habis di tanganku, Tuan Seo."
"Tawaran yang menarik," Johnny menampilkan senyum miring andalannya itu lagi. Ia meraih tangan Hansol sekali lagi, dan kali ini untuk menjabat tangannya. "Aku terima bantuanmu. Dan tenang saja, Tuan Lee. Aku tidak akan mengecewakanmu."
Hansol buru-buru melepaskan tangannya dari tangan Johnny, ia benar-benar tidak suka dengan perasaan aneh yang ia rasakan setiap kali tangannya itu bersentuhan dengan tangan pria yang lebih tinggi darinya itu. Yuta yang sedaritadi hanya memandangi interaksi di antara Johnny dan sahabatnya itu hanya bisa menggigit bibirnya, bingung sekaligus khawatir dengan sikap dan keputusan Hansol.
Lee Hansol, sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan?
To Be Continued.
Chapter dua akhirnya selesai, yay! Sebenernya chapter ini selesainya lebih dulu daripada chapter dua Soul City, tapi karena takut kecepetan (?) apdet, jadi diundur dulu, tapi karena SC udah dilanjut, saya mutusin buat apdet chapter ini hari ini juga. Btw, hari ini SMTOWN V in Osaka ya? Hadu gaada Rookies sih, padahal saya kangen banget liat Johnny, Hansol, Jeno, Jaemin dkk. di atas stage lagi :')
Sebenernya sih saya kurang puas sama chapter ini, soalnya kebanyakkan dialog daripada narasi, ya nggak sih? Kurang sreg aja rasanya kalo kebanyakan dialog, tapi ya idenya adanya begini, mau gimana lagi. Semoga kalian tetep suka, ya. Maaf kalau ada kekurangan, ada typo, atau ada yang kurang sreg, atau ada karakter yang menurut kalian OOC banget disini. Doain saya semoga chapter tiganya bisa lebih baik dari chapter dua ini ya, Aamiin :')
Oiya, makasih banyak buat yang udah review, favs, maupun follow, ya! Maaf saya belom bisa bales review, ini aja nulisnya disela-sela kesibukkan daftar les sana-sini #curhat. Nevertheless, terimakasih sekali lagi!
#JohnSolDebut2k16
Thankyou for reading!
