[Terima kasih untuk para readers yang udah faf, follow, review, dan kasih kritik saran. Nih Rameen lanjutin.

Ehm, dari review kalian, sepertinya banyak yang salah paham sama Hinata. Okelah, biar nggak salah paham lagi, langsung baca aja. Chapter ini hanya menceritakan bagaimana pertama kali mereka bertemu dan juga awal dari munculnya permainan itu serta menceritakan kejadian sebenarnya tentang permintaan Hinata di hari itu. Semoga suka ~~ Happy Reading!]

.

.

.

Chapter 2 – Awal mula

Naruto – Hinata (5 tahun)...

Bocah laki-laki berambut pirang itu berkedip dan semakin menatap lekat seorang gadis kecil yang kini berdiri takut di balik kaki Ibunya. Sesekali mata gadis itu meliriknya dan langsung menunduk takut. Bocah laki-laki itu melangkah perlahan, mendekat dengan mata yang tetap menatap penuh penasaran akan gadis itu.

Langkahnya semakin mendekat dan membuat cengkraman gadis itu di ujung baju Ibunya menguat. Gadis kecil itu semakin mengkerut karena pandangan dari bocah laki-laki itu tampak seram baginya, membuat bibirnya melengkung ke bawah karena sudah ingin menangis. Matanya mulai buram dan dia menggigit bibirnya kuat.

Sebelum air mata dari mata pearl cantik gadis itu tumpah...

Nyuutt... "Aaaa aw aw... Ittaaaiii..."

Gadis kecil itu terdiam dan mengerjap melihat bocah yang menakutkan tadi sekarang berteriak kesakitan karena telinganya di jewer oleh seorang wanita berambut merah.

"Kaa-san sakiitt.."

"Makanya, kenapa kau mau membuat gadis cantik itu menangis?"

Gadis kecil tadi memandang ngeri kearah wanita berambut merah itu, dia menoleh pada Ibunya saat sang Ibu memeluknya dan tersenyum padanya. "Sudahlah, Kushina." Ibu gadis itu berujar, "Dia kesakitan."

"Tuh, Bibi Hikaru saja tahu kalau aku sakit.. jadi lepaskan, Kaa-san."

"Huh," Kushina melepaskan jewerannya di telinga sang putra dengan mendengus kesal karena anaknya memanfaatkan perkataan orang lain untuk minta di bela. "Biar tahu rasa. Lagian kenapa kau membuat Hinata-chan menangis? Lihat raut wajahnya, dia ketakutan." Kushina berkacak pinggang sambil memarahi anaknya.

Bibir sang bocah maju dan cemberut. "Aku tidak menakutinya, dia saja yang cengeng."

"Naruto!" bletak..

"Ittai.." lagi, Naruto mengiris sakit saat kepalanya di pukul sang Ibu.

"Sudahlah Kushina, jangan kasar begitu."

"Tapi dia membuat Hinata menangis, Hikaru." Wanita berambut indigo itu hanya menghela nafas dengan kelakuan kekanakan sahabatnya, "Sekarang, Naruto. Minta maaf sama Hinata-chan."

Naruto menggerutu dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dan minta maaf. "Maaf." Ucapnya pelan dengan wajah masih cemberut.

Hinata memandang Ibunya sesaat, ketika Ibunya tersenyum dan mengangguk, gadis kecil itu dengan ragu mengulurkan tangannya untuk menyambut uluran tangan Naruto. "Ti-tidak ap-apa." Jawabnya pelan.

Set.. cuph..

Ngiiiiiinggg...

Hikaru dan Kushina membeku saat Naruto menarik Hinata dan mengecup pipinya cepat. Setelah itu, Naruto nyengir lebar tanpa dosa. Berbeda dengan Hinata yang terpaku dan selanjutnya...

"Huuuuwaaa..."

...tangisan yang tadi gagal terjadi kini gadis kecil itu tunjukkan. Hikaru langsung tersadar dan segera memeluk putrinya, sementara Naruto yang awalnya nyengir lebar kini menoleh takut-takut pada Ibunya yang menatapnya dengan aura membunuh.

"Huuuuuwaaa..." giliran Naruto yang berteriak kencang karena telinganya kembali di jewer sang Ibu.

Saat itu, aku merasa penasaran dan begitu senang mengenalmu.

=====.=====

My Boy Friend(s) by Rameen

Naruto by Masasi Kishimoto

Uzumaki Naruto x Hyuuga Hinata

Warning : OOC, Au, typo, Mainstream, Don't Like Don't Flame

=====.=====

Sasuke – Hinata (5 tahun)...

Setelah lima bulan mengenal, akhirnya Hinata dan Naruto mampu berteman akrab. Pertemuan pertama mereka lima bulan lalu serasa terlupakan. Berawal dari keluarga Hyuuga yang pindah di samping rumah keluarga Namikaze, mereka bertemu, mengenal dan berteman.

Hinata yang awalnya merupakan gadis kecil yang pemalu, kini menjadi gadis yang riang dan ceria karena mungkin terpengaruh dengan sikap berisik Naruto. Gadis itu sekarang tidak akan malu lagi jika bertemu teman baru, kecuali jika orang dewasa yang menurutnya mengerikan.

Sekarang, dengan beberapa anak tetangga lainnya. Mereka bermain petak umpet di taman ujung komplek. Tidak terlalu jauh dari rumah mereka. Naruto yang saat itu terpilih jaga harus menutup matanya sementara temannya yang lain bersembunyi.

Termasuk Hinata yang kini berlari sambil melihat sekitar untuk mencari tempat bersembunyi. Saat dia melihat sebuah rumah besar dengan pagar terbuka, dia segera menyelinap dan berjongkok di balik pagar itu. Tidak menyadari jika ada orang lain yang melihatnya dari teras rumah.

Seorang bocah laki-laki berambut raven dan bermata onyx terdiam menatapnya. Mencoba berpikir kenapa gadis kecil itu bersembunyi di perkarangan rumahnya. Apa mungkin gadis itu di kejar anjing? Atau ada penjahat? Atau ada alien?

Pemikiran itu membuat onyx sang bocah melebar, dia mulai melangkah mendekat karena jika tiba-tiba alien atau apapun yang mengejar gadis itu datang, dia akan langsung menarik gadis itu masuk ke rumahnya. Tapi setelah lima langkah, dia berhenti. Kenapa dia harus menolong gadis itu? Lagipula, di film yang pernah dia tonton, tidak semua alien itu jahat kok. Ada yang baik juga.

Dia berpikir untuk mengabaikan gadis itu dan masuk rumah, tapi belum sempat dia berbalik, gadis itu sudah menoleh karena menyadari kehadirannya. Seperkian detik, pandangan mereka bertemu, membuat mereka saling terdiam dengan pikiran masing-masing.

Tapi selanjutnya, gadis itu mengisyaratkannya untuk diam dengan menaruh telunjuknya di bibir. Bocah tadi mengernyit bingung, sang gadis melirik sejenak keluar sebelum akhirnya berdiri dan menghampirinya.

"Hai, namaku Hinata. Kau siapa?" Hinata tanpa sungkan dan ragu mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan bocah itu. Sementara yang di ajak berkenalan hanya diam dan memandang uluran tangan itu dengan bingung. Hinata memiringkan kepalanya bingung, dia pikir bocah itu tidak mengerti dengan bersalaman, jadi Hinata langsung menarik tangan kanan bocah itu dan memaksanya bersalaman.

"Ini namanya bersalaman. Orang yang saling berkenalan harus bersalaman." Jelas Hinata dengan riang tanpa melihat jika bocah itu melebarkan matanya dan segera menarik tangannya cepat.

"Kau siapa?" akhirnya bocah tadi mengeluarkan suara.

Hinata tersenyum, "Kan sudah aku bilang, aku Hinata. Rumahku satu blok dari sini, lalu kau sendiri siapa? Kenapa aku tidak pernah melihatmu bermain bersama?"

Bocah tadi diam dan tidak menjawab.

"Sasuke?" Mereka menoleh saat seorang laki-laki berusia 12 tahun datang menghampiri dengan tersenyum. "Wah, apa kau punya teman sekarang? Siapa gadis cantik ini."

Hinata yang melihat Sasuke hanya diam akhirnya bersuara, "Namaku Hinata, salam kenal."

"Aku Itachi. Kau manis sekali ya." Itachi mengusap lembut rambut pendek Hinata sebelum menoleh pada Sasuke. "Ah, ini adikku dan namanya Sasuke." Hinata hanya mengangguk mendengarnya. "Nah Sasuke, kenapa kau tidak pergi bermain bersama Hinata-chan?"

Sasuke tersentak dan menatap kakaknya kaget, lalu menggeleng. "Aku... tidak mau!"

"Kenapa?" Hinata bertanya langsung.

"Karena aku ingin bermain di rumah saja bersama Itachi-nii."

Itachi hanya menghela nafas dan tersenyum. Dia tahu jika adiknya ingin bermain keluar setiap hari, tapi karena takut, akhirnya Sasuke menghabiskan waktu di rumah saja bersamanya. "Tidak apa," ucapnya dan membuat Sasuke menoleh, "Pergilah bermain, tidak perlu khawatir. Nii-chan yang akan mengatakannya pada Ayah nanti. Dia tidak akan marah."

Sasuke terdiam dan berpikir. "Sudah, jangan berpikir lagi." Itachi mendorong Sasuke mendekat ke Hinata, "Ajak Sasuke bermain bersama ya, Hinata-chan."

Hinata tersenyum dan mengangguk. "Ayo, Sasuke-kun." Dia langsung menarik tangan Sasuke dan berlari menjauh. Itachi hanya melambai saat Sasuke ikut berlari dengan sesekali menoleh padanya.

Setelah kedua bocah itu menghilang di balik pagar, Itachi menghela nafas dan berdiri. "Bermainlah Sasuke, Nii-chan tidak akan membiarkanmu hanya terkekang di rumah." Gumamnya pelan lalu kembali memasuki rumahnya karena sebentar lagi guru lesnya datang. Dia harus belajar agar Ayahnya tidak marah.

Sementara Hinata menarik Sasuke kearah taman tempat teman-temannya berkumpul.

"Hinata, kenapa kau keluar?" satu anak bertanya bingung. Mereka sedang bermain petak umpetkan. Seharusnya kalau Hinata tidak di temukan maka Naruto yang akan menjadi penjaganya lagi.

"Hehehe,, aku menang!" seru Naruto karena berhasil mendapatkan semua teman-temannya. Dia menoleh pada Hinata dan mengerutkan kening melihat Sasuke. "Hinata, dia siapa?"

Hinata tersenyum dan semakin menarik Sasuke, "Ini teman baru kita, namanya Sasuke." dan selanjutnya, untuk pertama kali Sasuke tersenyum di tengah orang-orang yang bisa dia sebut teman.

Dalam sekejab, aku bersyukur kau menarik tanganku.

=.=

=.=

Gaara – Hinata (6 tahun)...

"Hinata-chan, kau bermain saja di taman ya."

"Baik, Bu."

Hinata berlari kearah taman di samping rumah teman Ibunya dengan sebuah permen lolipop di mulutnya. Sang Ibu sedang ada arisan di sana, karena takut Hinata bosan, makanya Hikaru menyuruhnya bermain. Lagipula, Hikaru tidak lagi terlalu khawatir pada Hinata yang sekarang. Sejak berteman dengan Naruto, Hinata menjadi pribadi yang riang dan mudah berteman.

Hinata tersenyum senang saat melihat beberapa anak lainnya sedang bermain di sana, tanpa ragu dia menghampiri anak yang lainnya. Dia berhenti di dekat mereka dan membuat mereka menoleh menatapnya.

"Kalian bermain apa?" tanyanya setelah memegang permennya sejenak.

"Kau siapa?"

Jawaban yang tidak nyambung dengan pertanyaan. Tapi hal itu tidak membuat Hinata cemberut, dia justru tersenyum. "Aku Hinata." Dan dengan riang memperkenalkan diri. "Aku ke sini bersama Ibuku."

"Oh, Ibumu juga sedang arisan?" tanya seorang anak dan Hinata mengangguk. "Itu rumahku, dan Ibu menyuruhku bermain di sini agar tidak menganggu."

"Aku juga." Jawab anak lainnya.

Hinata merasa senang karena ternyata bukan hanya dirinya yang menjadi 'korban' Ibu-Ibu arisan. Dia menatap sekelilingnya dan melihat beberapa ayunan juga perosotan. Dia menatap bingung seorang anak yang duduk sendiri di salah satu bangku dengan ayunan.

"Itu siapa? Kenapa dia tidak bermain di sini?" rasa ingin tahu Hinata menular dari Naruto, bisa di katakan kalau saat ini, sepertiga sifat Hinata terpengaruh dari Naruto. Dari itu dia selalu bertanya apa yang membuatnya penasaran.

Tiga anak lainnya ikut melihat yang di tunjuk Hinata, lalu seorang anak menjawab. "Itu Sabaku," Hinata menoleh penasaran, "Dia itu seram, wajahnya seperti moster panda. Dia jarang keluar rumah dan sangat jarang bicara. Makanya kami tidak mau main dengannya."

Hinata mengerutkan keningnya. Bocah itu mirip monster panda? Bukankah panda itu lucu? Kenapa di sebut monter? "Tapi siapa tahu dia ingin main sama kalian. Kenapa tidak coba ajak saja."

"Kami tidak mau, kalau kau ingin main dengannya, main saja sana." Seorang anak menjawab ketus.

Membuat Hinata mengerjap sebelum kembali memasukkan permennya ke mulut. Dia menatap anak yang di sebut 'monter panda' itu lalu mulai melangkah mendekat. Tak perlu waktu lama sampai dia berhenti selangkah di depan anak itu.

Seorang anak laki-laki berambut merah menatapnya bingung dan terkejut. Tak menyangka jika akan ada yang menghampirinya. Mereka hanya saling melihat untuk beberapa saat sebelum Hinata tiba-tiba membungkuk dan membuat wajah mereka lebih dekat.

"Matamu hijau." Ucap Hinata lalu memiringkan kepalanya, "Aku juga suka warna hijau." Dia tersenyum lebar kemudian. Sedang kan anak itu masih diam menatapnya tanpa tahu harus melakukan apa.

Hinata mengeluarkan permennya sebentar lalu mengemutnya lagi, jade anak di depannya mengikuti gerak tangan Hinata hingga membuat gadis Hyuuga itu berpikir kalau anak itu ingin mencicipi permennya. Dia tersenyum, "Kau mau mencicipi permennya?" anak tadi menatapnya terkejut, "Ini enak loh dan juga manis."

Hinata mengeluarkan permennya dari mulut dan langsung memasukkan permen itu ke mulut anak di depannya. Membuat jade itu melebar beberapa saat.

"Bagaimana, enakkan? Oh ya, namaku Hinata." Hinata kembali menegakkan tubuhnya. "Kalau namamu siapa?"

Anak tadi mengatakan sesuatu tapi tidak jelas karena permen tadi masih di mulutnya, Hinata mengerutkan keningnya dan menarik permen tadi. "Siapa?" tanyanya lagi.

Anak itu menelan ludah sebelum menjawab. "Gaara." Dan Hinata tersenyum setelah mengembalikan permen itu ke mulut Gaara.

Padamu, pertama kalinya aku menyebut namaku untuk berkenalan dengan seorang teman.

=.=

=.=

Shikamaru – Hinata (8 tahun)...

Tap tap bruk..

Hinata menoleh saat seseorang duduk di sampingnya. Hari itu, Hinata dan ayahnya berkunjung ke rumah sepupunya. Karena tidak punya teman, Hinata memilih membaca komik di sebuah bangku di bawah pohon pinggir jalan.

Awalnya suasana sangat tenang, sampai seseorang yang kini duduk di sampingnya datang dan membuatnya penasaran. "Kau siapa?" tanyanya penasaran seperti biasa. "Kenapa kau ke sini?"

Anak itu menoleh dan menatapnya malas. "Aku sedang kabur."

"Kau penjahat?"

"Ck, aku kabur dari Ibuku."

"Kenapa kau kabur dari Ibumu?" suara Hinata melemah dan dia menunduk.

Anak itu hanya mengangkat alisnya bingung, pertama suara gadis itu terdengar ceria, lalu kenapa langsung terdengar murung? Batin anak itu bingung. "Ibuku cerewet, dia sedang marah-marah karena aku tidak mau belajar."

Hinata masih menunduk dan menutup buku komiknya. "Seharusnya kau senang karena Ibumu masih bisa memarahimu."

Sekali dengar, anak tadi sudah tahu jika mungkin gadis di sampingnya sudah tidak memiliki Ibu atau mungkin Ibunya pergi jauh. Dan anak itu tidak mau membahas lebih jauh.

Mereka hanya duduk diam di sana untuk beberapa saat. Sampai Hinata memilih untuk pergi, saat dia beranjak dan akan melangkah... anak tadi menarik tangannya dan membuatnya duduk lagi. "Komik yang kau baca itu judulnya apa?"

Hinata mengerjap dan melihat komiknya, "Penguin Paradise." Bacanya pelan.

Anak tadi meraih komik itu lalu membaringkan tubuhnya dengan kepala berbantalkan paha Hinata. Gadis Hyuuga itu sukses tercengang dengan wajah memerah. Kenapa anak ini tiba-tiba berbaring? Pikirnya.

Anak tadi membuka beberapa halaman komik dan membacanya sekali lewat tanpa niat, lalu dia menguap dan menutupkan komik itu ke mukanya.

Hinata hanya menganga tak percaya, "Kau... kabur karena ingin tidur?"

"Hm." Dan Hinata hanya bisa menghela nafas mendengarnya. Tak ada niat untuk memarahi anak itu ataupun berdiri pulang sesuai niatnya tadi. Dia hanya diam saja dan membiarkan anak itu tidur di pangkuannya. "Shikamaru."

"Ng?" Hinata berkedip bingung saat anak itu bersuara.

"Namaku Shikamaru." Jawabnya lagi.

Hinata mengangguk dan tersenyum walau wajah Shikamaru tertutup buku yang tidak mungkin melihat senyumnya, "Aku Hinata. Hyuuga Hinata." Dan selanjutnya gadis itu hanya bersenandung ringan sembari menunggu Shikamaru tidur.

Merepotkan, kenapa senandungmu begitu indah menemani tidurku?

=.=

=.=

Naruto – Gaara – Sasuke – Shikamaru – Hinata (13 tahun)...

"Aaarrgg... menyebalkan... menyebalkan... bagaimana bisa soal ulangan sesulit itu. Apa dia pikir kita ini mahasiswa universitas? Kita ini hanyalah anak SMP, kenapa soalnya susah sekali?"

Shikamaru menguap malas, Gaara berdecak kesal, sementara Sasuke menghela nafas dengan buku setebal dua ratus halaman di tangannya.

"Kenapa soalnya sus –" bletak.. "Ittaii... Teme, apa yang kau lakukan?"

Naruto mengusap kepalanya yang baru saja terkena pukulan Sasuke. Untung saja saat ini mereka sedang berada di kamar Naruto, kalau saja mereka berada di tempat umum, mungkin bukan hanya Sasuke yang memukulnya.

"Kau berisik, Dobe. Soal ulangan tadi sangat mudah. Otakmu saja yang beku."

"Aaaiishh.. sialan kau Teme. Tidak perlu memukul kan?"

Ceklek

Pintu terbuka dan terlihat Hinata beserta Kushina datang membawa minuman dan camilan. "Kenapa suaramu besar sekali Naruto? Kau tidak takut teman-temanmu menjadi tuli?" Kushina lebih dulu bersuara setelah meletakkan camilan di atas meja.

Naruto hanya memajukan bibirnya cemberut. "Makanya, besok-besok kau harus belajar lebih giat biar bisa dengan mudah menjawab ulangan." Yang lain hanya diam mendengar ocehan Kushina, salah sedikit, bisa-bisa ikut terkena ocehan. "Padahal Hinata-chan sudah mengajaknya belajar bersama setiap hari." Kushina masih menggerutu sambil melangkah keluar.

Hinata hanya terkikik geli setelah Kushina keluar, dia mendudukkan dirinya di samping Naruto. "Makanya belajar, jangan lebih suka main game."

"Hinata, kau sama saja." Naruto membuang muka dengan kesal. "Kalian tidak ada yang mau membantuku tadi."

"Kalau kau terus di bantu, itu bukan nilaimu sendiri."

"Gaara-kun benar, kau harus mendapatkan nilaimu sendiri, Naruto-kun." Hinata tersenyum dan menyodorkan segelas minuman untuk Naruto agar lebih tenang.

Naruto mengambil gelas itu dan meminumnya dengan cepat. "Kalau begitu kalian harus mengajari aku setiap hari dan sampai aku mengerti."

"Hoaamhh,, dan kenapa kami harus melakukan itu?" Shikamaru mencomot camilan yang ada.

"Karena aku bos di sini." Bletak.. "Temeeee,,, kau mau ngajak berkelahi ha?"

Sasuke menaruh bukunya dan memandangnya sinis, "Sejak kapan kau jadi bos? Dan kau kira kami sudi menjadi anak buahmu?"

Naruto semakin menekuk wajahnya kesal. Teman-temannya kejam. Terutama sahabat ravennya itu. Tak jarang Naruto selalu mengeluh sakit kepala kalau Sasuke sedang memegang buku. Tapi anehnya, kenapa dia masih bisa akrab dengan orang-orang aneh itu?

Ah, Naruto ingat. Hinatalah yang memperkenalkannya kepada ketiga temannya yang lain. Bermula dari Sasuke yang di ajaknya ke taman, Gaara yang dia kenal saat hari pertama mereka memasuki kelas satu SD. Lalu dua tahun selanjutnya Shikamaru dari kelas 2b yang tiba-tiba saja di kenalkan Hinata sebagai teman baru mereka.

Naruto sendiri hanya menerima saja semua teman yang Hinata ajak kenalan. Baginya, teman Hinata adalah temannya juga. Dia senang melihat Hinata senang saat mereka berkumpul bersama, apalagi saat Ibunya Hinata meninggal saat usia Hinata menaiki tujuh tahun. Dia sedikit murung dan diam. Tapi tidak berlangsung lama, karena Kushina serta teman-teman yang lain selalu menghiburnya.

Bahkan setelah dua bulan Shikamaru bergabung dengan mereka, Neji yang merupakan sepupu Hinata tinggal di rumah gadis itu. Membuat Hinata mempunyai teman lain di rumahnya. Yah, walau tak jarang Neji justru mengintimidasi mereka berempat saat menemui Hinata.

Bahkan Neji pernah hampir meminta Hiashi untuk menebang pohon yang menyambungkan kamar Naruto dan kamar Hinata karena Naruto sering bertamu tanpa ijin. Untunglah tidak jadi setelah Naruto berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Setelah di pikir-pikir, Naruto akan selalu kalah debat jika bersama sahabatnya itu. Ah, andai aku bisa menyuruh mereka suatu hal tanpa mereka bisa protes. Batin Naruto mulai berkhayal. Dan selanjutnya, selintas ide membuat Naruto tersenyum senang.

"Hei," dia memanggil membuat pandangan yang lain mengarah padanya, "Bagaimana... kalau kita bermain?"

"Main game apa?" senyum Naruto menghilang mendengar pertanyaan girang Hinata.

"Bukan main game Hinata, tapi yah... bisa di sebut begitu juga sih. Tapi yang jelas bukan playstation."

"Jadi apa?" Hinata bertanya lagi sementara yang lain masih setia diam mendengar.

"Begini," Naruto mengisyaratkan teman-temannya untuk mendekat yang menerima balasan delikan dari Sasuke, tapi setelah dipaksa akhirnya mereka mendekat seperti membicarakan sebuah rahasia. "Permainan yang seru dan hanya di ketahui kita saja. Permainan yang bisa kita mainkan sampai kapanpun dan akan adil dalam peraturannya. Bagaimana?"

Gaara mulai tertarik, bagaimanapun, Gaara merupakan seorang anak yang tertarik hal-hal menarik. "Permainan seperti apa?"

Naruto tersenyum mendengar respon Gaara, "Sederhana, satu orang memberi kuis yang harus di jawab oleh yang lain. Siapa yang berhasil menjawab, dia menang dan menjadi bos yang berhak menantang atau meminta sesuatu dari yang lainnya."

'Tantangan?' Sasuke dan Gaara membatin sama, mungkin kali ini ide Naruto memang seru, pikir mereka.

"Kalau tantangan atau permintaan yang di ajukan tidak di jalani?" kali ini Shikamaru yang bersuara.

"Dia akan mendapat hukuman. Jika dia juga tidak mau menjalani hukuman, maka dia keluar saja dari permainan. Dan karena ini permainan persahabatan kita berlima, sudah pasti semua harus ikut tanpa ada yang boleh protes."

Mereka saling pandang untuk beberapa saat, mencoba memikirkan apa yang akan mereka putuskan. Menerima atau menolak tawaran permainan 'unik' dari sahabat pirang mereka yang biasanya hanya menghasilkan ide konyol.

"Lalu, bos itu boleh meminta apa saja? Sampai kapan?" tanya Hinata lagi.

"Si bos hanya boleh meminta atau menantang satu hal setiap kali ia menang. Batasnya sampai dua minggu, setelah itu dia harus memberikan kuis lain yang di jawab oleh empat lainnya dengan waktu menjawab sampai tiga hari. Kuis bebas. Dengan begitu, tidak mungkin bos yang sama menjabat dua kali berturut-turut, pasti bergantian."

"Kalau kuisnya tidak terjawab?"

"Dia harus mencari kuis lain yang lebih mudah, karena permainan harus tetap berlanjut."

Dan lima menit kemudian. Satu kesepakatan muncul di antara lima sahabat itu. Satu kesepakatan tentang sebuah permainan konyol atau aneh yang membawa mereka pada suatu hubungan suatu hari nanti.

=.=

=.=

Dihari permintaan Hinata...

"Ikasama (kebohongan)."

"Baiklah kau menang."

"Jadi, aku mau meminta sesuatu."

"Apa?" tanya Sasuke mulai serius.

Hinata tersenyum penuh misteri dan mencondongkan tubuhnya dengan gestur berbisik. "Aku mau..." dia menggantung kata-katanya dan menatap sahabatnya satu persatu. Cukup ragu untuk mengatakannya, tapi bukankah sahabatnya adalah orang terdekatnya setelah keluarga? Tidak salahkan jika dia meminta hal itu pada sahabatnya. Setelah mengumpulkan keberanian, Hinata kembali bicara.

"Aku mau... punya pacar."

Keempat sahabatnya terdiam dan memandangnya dengan ekspresi yang tidak terbaca, bahkan Shikamaru pun ikut menatapnya dengan sedikit kaget. "Kau... mau apa?" Gaara mengulang pertanyaan. Siapa tahu mereka salah dengar atau salah mengerti. Hinata kan lemot, bisa saja yang di maksud Hinata berbeda dengan apa yang mereka perkirakan.

"Pacar. Aku mau punya pacar." Hinata langsung berubah sedikit merengek, "Kalian tahu pacarkan? Itu, seperti Ino dan Sai yang sedang pacaran. Aku juga mau."

Mereka menghela nafas dan mulai ke ekspresi masing-masing. "Tidak!" jawab mereka berempat bersamaan.

"Eh? Kenapa?"

"Kau itu polos, bagaimana kalau kau malah pacaran dengan laki-laki yang tidak benar?" Gaara mengawali.

"Makanya aku minta tolong pada kalian. Kalian saja yang mencarikan pacar untukku, dengan begitu kalian akan tahu dia baik atau tidak jika menjadi pacarku."

Sasuke mendesah, "Masalahnya, tidak ada yang kami percayai. Bahkan Neji bisa menghajar kami kalau kau dapat pacar yang tidak-tidak."

Hinata mengerucutkan bibirnya, "Aku sudah 18 tahun, kita sudah kelas tiga SMA. Aku bisa menjaga diri. Lagipula kalian akan selalu menjagaku kan?" Sasuke, Gaara, Shika, dan Naruto tertegun akan ucapan itu. Mereka akan selalu melindungi Hinata? Kenapa gadis itu begitu percaya? Tapi... tentu saja itu yang akan selalu mereka lakukan sampai Hinata mempunyai pasangan yang benar.

"Apa kau sudah minta ijin Neji?" Shikamaru bertanya.

"Ehm, itu... aku sudah bilang dan Neji-nii jawab boleh kok. Asal calon pacarku itu lolos dari seleksi kalian berempat."

Itu sih sama saja tidak boleh! Kata lainnya, Neji menolak secara halus. Ayolah, tidak ada yang bisa lolos dari seleksi mereka berempat dengan mudah, dan bisa di pastikan tidak akan ada yang mampu. Terkadang mereka berpikir kalau Hinata itu seorang putri, Neji raja, dan mereka para menteri penyeleksi hal-hal yang pantas untuk Hinata.

"Ya? Maukan mencarikannya untukku?"

"Tidak!" jawab Sasuke dan Gaara bersamaan.

Hinata cemberut. "Aku bos di sini jika kalian lupa. Dan itu permintaanku sebagai bos, jika kalian tidak menyanggupinya maka kalian harus di hukum." Kali ini suara itu terdengar mengancam. Hukuman yang di berikan Hinata tidak mengerikan sebenarnya hanya saja selalu terlalu 'unik' dan itu... merepotkan.

"Dan apa hukumannya?" Shikamaru menantang.

Hinata memandangnya tajam lalu menyeringai kecil, entah dari mana dia belajar hal itu. "Hukumannya, kalian tidak boleh ikut campur urusanku dan tidak boleh menegurku selama tiga bulan."

Itu sih cari mati! Tidak mencampuri urusan Hinata bisa di artikan mengijinkan segala bahaya mendekati Hinata. Apalagi gadis itu ceroboh, bahkan mungkin jika Hinata di suruh berenang di sungai, bukan tidak mungkin gadis itu akan hanyut kurang dari lima menit. Apalagi jika mereka melepaskan pengawasan tiga bulan?!

Hah, mereka menghela nafas menyerah yang membuat cengiran Hinata muncul. "Jadi...?"

"Tidak!" jawab Shika, Gaara, dan Sasuke masih tetap keukeuh.

Hinata membuang muka kesal dan melihat kearah Naruto yang hanya diam. "Ne, Naruto-kun.. kau mau membantuku agar punya pacarkan?"

Naruto menoleh dan menatapnya sejenak sebelum tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja, aku akan membuatmu punya pacar."

"Benarkah?" mata Hinata berbinar dan Naruto mengangguk lagi.

"Hoi.." teriak Sasuke dan Gaara bersamaan. "Apa-apaan itu. Kau mau mengajukan siapa sebagai pacar Hinata?"

Naruto berpikir sejenak sebelum menjawab mantap. "Seorang pemuda, berambut pirang, bermata biru, berkulit tan, dan merupakan orang yang bisa kalian percayai."

Mereka terdiam, apa itu?

"Maksudmu?" Hinata memiringkan kepalanya.

Naruto tersenyum dan menepuk kepala Hinata, "Uzumaki Naruto.. akan ku buat kau punya pacar yang bernama Uzumaki Naruto dengan ciri-ciri yang tadi."

Hinata berkedip berkali-kali dengan mulut menganga, "Kau yang menjadi pacarku?"

"Iya, bukankah kau hanya ingin punya pacar? Tidak ada kriteria khusus kan? Hanya asalkan bisa lolos seleksi kami berempat. Dan mudah saja bagiku melewati ketiga orang itu." Jawab Naruto mantap.

Sasuke, Gaara, dan Shika terdiam lalu saling pandang. Seolah sedang bicara tanpa suara. Dan...

.

.

"Baiklah!" setelah bicara tanpa suara dengan Gaara dan Shika, Sasuke membuka suara persetujuan. "Aku juga akan menjadi pacarmu, Hinata."

"Eh?" giliran Naruto dan Hinata yang kaget.

"Hm, aku juga." Timpal Gaara.

"Me too." Sela Shikamaru.

Naruto mengerutkan alisnya kesal, "Apa-apaan itu?"

Gaara menatap Naruto santai, "Kenapa? Bukankah itu hal yang bagus. Hinata meminta permintaan itu kepada kita berempat, jadi kita berempat harus mengabulkan permintaan Hinata dengan cara yang sama. Dan dengan kita berempat menjadi pacar Hinata adalah pilihan yang tidak salah."

Naruto menelan ludah dan terdiam. Dia memandang satu-persatu sahabatnya tidak percaya. "Hinata punya empat pacar? Bagaimana tanggapan orang lain."

"Sejak kapan kita perduli omongan orang lain yang berbicara negativ tentang kita, Dobe? Asalkan Hinata setuju, semua beres. Satu menjadi pacar, maka yang lain juga harus menjadi pacar. Itu pasal pertama dalam persahabatan kita, kebersamaan."

"Kecuali jika di sini ada yang melibatkan perasaan." Sela Shikamaru acuh tak acuh. Membuat Naruto tersentak dan menatapnya penuh kekagetan, selanjutnya Naruto hanya menunduk dan menarik nafas panjang sebelum akhirnya kembali bersikap biasa.

"Terserah saja!" jawabnya tak perduli.

"Nah, Hinata. Apa kau setuju memiliki empat orang pacar? Tentu saja kau harus adil mengatur jadwal kencan kami nantinya, tidak mungkin kita pergi kencan berlima kan?"

Hinata masih terdiam dan tidak menjawab perkataan Gaara. "Punya pacar empat..." dia bertanya bingung, "..memangnya boleh?"

Keempat sahabatnya terkekeh, Sasuke melihat Shika lalu bersuara. "Jadi, Shikamaru. Apa dalam undang-undang ada pasal yang melarang seseorang punya pacar lebih dari satu?"

"Setahuku sih tidak ada." Jawab Shikamaru cepat.

"Well, berarti itu sah." Lanjut Gaara.

"Jadi," Hinata menatap satu-persatu sahabatnya, "Sekarang aku punya empat pacar?" mereka mengangguk dan itu membuat Hinata tersenyum senang, "Gotcha! Jadi akhirnya aku punya pacar, dan pacarku tidak hanya satu tapi empat." Serunya dengan senang.

Membuat yang lain hanya menggeleng melihat kepolosan Hinata. Tapi mereka juga senang melihat Hinata senang seperti itu.

Dan, permainan pun di mulai. Sebuah permainan konyol yang membawa mereka pada suatu hubungan yang tak terduga. Tanpa mereka ketahui, satu orang mulai merasa ide permainan ini tidak seharusnya ada.

=.=

=.=

= to be continued =

=.=

[Spesial thanks to :

yudi arata : Aku publish empat fic loh kemaren jadi nggak perlu nunggu yang lain. Kalau fic yang belum kelar, entar aku kelarin perlahan-lahan sesuai moodnya. Hehehe...

SparkyuRindi : Iya, ini berchapter dan endingnya NH..

fdbnm7 : oke deh..

sukanyaanimesamakpop : oke..

LuluK-chan473 : hm, disini keempat pemuda keren itu jomblo kok makanya jadi pacar Hina... ficnya bakalan lanjut kok..

Aizen L sousuke : Kimochi apa ya?

ramenista : uhhh,, oke..

Yuukina Aoi : Iya, emang bakal jadi senjata maan tuan nantinya, tapi tidak sepenuhnya salah Hina... thanks

NH-chan : oke oke

Anggredta Wulan : Inikan fic NH, jadi jelas kalo akhirnya... NH... hahaha I love them..

BrotherHeart L : hahahaha juga..

N : oke N... :D

naruruhina : siiiippp..

Yeojachinguexo : Aku usahakan up kilat ya.. btw,,, nama kamu susah ya...

Baby-Damn : Harem ya? itu ide awal fic ini sebenarnya, tapi nggak sampai hati juga buat Hinata sesadis itu. jadi aku buat aja dia lemot yang nggak ngerti tentang itu... :D

wid-wid : Thanks doanya... semoga inspirasinya ngalir terus...

Daisy Uchiha : Oh ya? ku kira cerita gini mainstream soalnya kan tentang kisah cinta biasa... Tapi bagus deh kalau anti-mainstream..

Azu-chan NaruHina : Wah.. aku ucapin makasih loh, kenapa? Karena setiap review kamu di berbagai fic aku dengan kalimat panjang itu sukses bikin aku senyum. Merasa senang aja kalau ada yang reader yang review dan jelasin semua scene menurut pendapat reader... Makasih udah nunggu, nih aku lanjutin... :)

nata8 hyuga : Aww,, ternyata kamu juga suka ShikaHina ya... sama dong... aku juga selal greget dengan pair itu.. Sayang, fic dengan pair itu jarang di temukan... padahalkan seru si Jenius dengan si Pemalu.. ya kan? Di sini bakal aku bikin adil porsi mereka.. hehehe

Guest : Iya, minal aidin. Ini fic NH kok, jadi akhirnya tetap NH... HIDUP NH... #halah..

hanayou70 : hahaha juga

NastitiRandany : Iya di lanjut. Sai di sini udah jadi pacar Ino. Lumayanlah jadiin pair SaIno sebagai contoh untuk Hinata agar dia bisa belajar dikit-dikit dari pengalaman Ino..

.

Itu aja deh... Sekian dan Terima kasih... ]

Salam, Rameen