Suara desahan memenuhi ruangan bercat krem, desahan yang memekakkan telinga dari penghuni ruangan bercat krem. Suara itu semakin keras saat sesuatu yang dingin menyentuh kulit putihnya.
Tidak. Suara itu tidak berasal dari seorang gadis ataupun wanita, suara itu berasal dari seorang pemuda.
Bukan. Suara tenor milik pemuda itu bukanlah desahan penuh kenikmatan –pemuda itu masih suka dengan perempuan berdada besar. Suara itu terdengar kesakitan dan sedikit...
...lebay.
"Ssssh!" si pemilik suara tenor, Alfred, sedikit berjengit ketika kapas dingin menempel di telapak tangan Kirana yang terluka akibat hadiah kecil dari wakil kepala sekolah. Sebuah hadiah yang didapatkan berkat pertunjukan terjun bebas yang dilakukan oleh Kirana saat acara pembukaan berlangsung.
"Aw! Pasti sakit," Alfred menutup matanya seakan dia merasakan rasa perih yang diderita oleh Kirana.
Mendengar suara kesakitan nan-lebay yang meluncur dari bibir Alfred membuat perempatan siku di kepala Elizabeta muncul. "Diamlah, Al! Kirana saja tidak se-alay dirimu," bentak Elizabeta yang sudah selesai mengobati luka lecet di telapak tangan Kirana.
"Melompat dari lantai dua. Kau pikir dirimu itu superhero," ujar Elizabeta kesal, tangannya menutup kotak yang berisi obat-obatan dengan keras. Suara keras dari kotak obat yang ditutup kasar oleh Elizabeta dan suara keras yang keluar dari bibir merah muda Elizabeta membuat Kirana merapatkan kedua buah matanya.
"Setidaknya, berkat Kirana acara membosankan itu cepat selesai," suara sakarstik keluar dari si bungsu Jones yang berdiri di ambang pintu kamarnya. Suara itu membuat tiga pasang mata yang berbeda warna mengalihkan pandangannya.
"Oh, dan kakak tahu, perbuatan benar-benar menghibur teman-temanku. Syukurlah tidak ada yang sadar kalau kakak adalah kakakku. Asal kau tahu, perbuatanmu itu sangat memalukan," setelah berujar seperti itu, Maya menghilang di balik pintu kamarnya yang tertutup. Kirana dan Elizabeta hanya menatap pintu kamar yang tertutup itu, mereka tidak berkomentar akan perkataan kasar Maya.
"Kau tahu, jika aku tidak berbicara kepada kepala sekolah hukumanmu bisa lebih berat lagi," kata Elizabeta lalu menaruh kembali kotak putih yang berisi obat-obatan ke atas meja bertaplakan putih.
"Dengan menjadi pelayan? Jangan bercanda! Aku tidak sudi melakukannya!"ujar Kirana yang melipat kedua tangannya. Oh, ayolah, harga dirinya terlalu tinggi untuk menjadi seorang pelayan. Bagaimanapun Kirana adalah seorang lady bukan pelayan.
Elizabeta mendelik tajam ke arah Kirana, "Itu lebih baik daripada dikeluarkan dari sekolah!" kata Elizabeta yang tak kalah tingginya.
Melihat Kirana yang menunduk kemudian mengepalkan kedua telapak tangannya di atas paha, Elizabeta mengelus pelan kepala Kirana, "Maaf sudah membentakmu, tolong jangan lakukan hal yang membuat kami khawatir. Sampai kapanpun kamu adalah adikku tersayang. Bertahanlah selama seminggu."
Kirana menatap mata hijau lembut milik Elizabeta dan berkata, "Terima kasih, kak."
Elizabeta duduk di samping Kirana, dia memegang kedua pundak Kirana lalu berkata, "Jadi, ceritakan padaku kenapa kamu melompat dari balkon?"
Kirana terdiam, kedua tangannya terkepal erat, otaknya sedang memutuskan apakah dia harus menceritakan sebenarnya. Kirana tidak mungkin berkata kepada kedua kakaknya kalau dia melihat sepasang manusia yang Kirana rindukan berdiri di depan panggung dan ketika melihat mereka secara refleks tubuh Kirana bergerak menghampiri mereka.
Tidak. Tidak mungkin Kirana mengatakannya.
Kirana memejamkan erat matanya lalu berkata, "Tidak ada alasan khusus. Aku hanya ingin melakukannya saja."
Jawaban yang terlontar dari bibir Kirana cukup mengagetkan si sulung Jones. Elizabeta membuka mulutnya untuk menguliahi Kirana dengan cara menjadi seorang lady yang baik. Tetapi sebelum suara Elizabeta keluar, Alfred terlebih dahulu mengeluarkan suaranya.
"Jika kamu mengepalkan tanganmu seperti itu, luka di telapak tanganmu akan semakin parah, Kirana."
Baik Kirana maupun Elizabeta terkejut dengan ucapan Alfred. Kirana membuka telapak tangannya, dan seperti ucapan Alfred, luka di tangan Kirana semakin parah –tentu saja terasa semakin sakit.
"Astaga, tanganmu berdarah," ujar Elizabeta yang melihat darah yang mengalir dari tangan Kirana. Luka yang awalnya berupa lecet ringan kini bertambah parah akibat tertancap kuku milik Kirana.
"Tidak perlu mengobatinya," kata Kirana lalu berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari asrama khusus keluarga Jones.
"Kapan anak itu terbuka dengan kita?" ucap Alfred lirih.
"Entahlah, sudah 5 tahun berlalu tetapi tembok itu masih ada, sama seperti ketika kita bertemu dengannya untuk pertama kalinya," jawab Elizabeta yang matanya memandang jalan setapak dari balik jendela.
.
.
Hetalia © Hidekazu Himaruya
Dear, My Girl © Lena Lofiel
Dear, My Girls © KIM Hee Eun
Kuroshitsuji © Yana Toboso
Warning: AU, Human Name, OOC, OC, typo, sudut pandang berbeda-beda, reversed harem, dan masih banyak lagi.
Happy reading :D
.
.
Arthur Kirkland, putra bungsu dari keluarga Kirkland yang baru beberapa hari menginjakkan kakinya di negara milik ratu Victoria, tidak pernah menyangka bahwa hidupnya seperti roller coaster dalam satu hari hanya gara-gara seorang gadis-monyet- yang baru saja dia temui tadi pagi.
Berkeringat di tengah malam hari tentu saja bukan hobi dari tuan muda Arthur. Tetapi tidak untuk malam ini, dia harus rela berkeringat di malam hari untuk menemukan si gadis monyet itu. Seluruh asrama menjadi heboh saat mendengar anak ketiga keluarga Jones belum kembali dari jalan-jalan sorenya.
Arthur masih ingat betul, tadi sore dia bertemu dengan gadis monyet itu sedang berdiri di depan lukisan Cambridge Castle. Gadis monyet itu menatap lukisan yang beraliran realisme dengan tatapan yang sama seperti saat dia menatap patung yang ada di tengah-tengah kolam, sama seperti dia menatap dirinya sewaktu di atas podium. Tatapan yang memancarkan kerinduan sekaligus kesedihan yang mendalam.
Entah sihir apa yang membuat Arthur berjalan mendekati gadis monyet yang sibuk dengan dunianya sendiri. Arthur bahkan adalah orang pertama yang bersuara –Arthur tidak pernah seperti ini sebelumnya. Mereka sempat berbicara-bertengkar-sebentar sebelum akhirnya berpisah. Arthur berjalan menuju Notthingham Cottage dan Kirana menuju Ivy Cottage.
"Jam 11 lewat 20," kata Arthur yang melihat jam saku emas miliknya. Arthur menyimpan kembali jam saku miliknya lalu mengedarkan pandangannya. Cahaya lampu taman mempermudah dirinya melihat sekelilingnya. Arthur berdiri di sebuah jalan setapak lebar, di samping kanannya adalah pintu masuk gedung utama, di sebelah kirinya sebuah jalan besar yang berakhir pada pintu gerbang Hetalia Academy yang terkunci, di depannya adalah tempat lapang untuk berlatih berkuda, dan di belakangnya adalah asrama, tempat mereka berpisah.
Arthur menarik nafas dalam-dalam untuk mengatur sistem pernafasannya dan mengistirahatkan kakinya untuk sementara. Berlari selama 1,5 jam untuk mencari gadis monyet di area asrama membutuhkan stamina yang tidak sedikit.
Manik zamrud milik Arthur menyaksikan seseorang berlari ke arahnya. Ketika orang itu berdiri di depan Arthur dia berkata, "Aku tidak menemukannya," ujar pemuda yang memiliki netra sama seperti miliknya. Pemilik rambut coklat itu memiliki nasib yang sama seperti Arthur, nafasnya terengah-engah dan keringat bercucuran dari seluruh tubuhnya.
Suara pintu yang terbuka membuat dua pemuda dengan netra sama itu melihat ke arah gedung utama, "Aku tidak menemukannya," ujar si pembuka pintu.
Arthur hanya diam, membiarkan kedua orang yang baru saja menghampirinya mengatur nafas mereka. Suara jangkrik dan deru nafas cepat yang keluar dari hidung dua anak adam mengisi kebisuan diantara mereka.
Suara-suara tersebut bertambah dengan suara dari derap langkah kuda. Suara yang berasal dari tempat yang belum mereka periksa, gerbang Hetalia Academy yang tertutup rapat. Ketiga manusia yang memiliki tinggi berbeda itu melihat ke arah sumber suara, suara dari derap langkah kuda.
Beberapa meter dari tempat ketiga pemuda itu berdiri, kuda itu berhenti. Dari atas kuda itu turunlah dua orang manusia yang salah satunya adalah orang yang mereka cari.
"Kirana!" teriak Alfred lalu berlari kecil menghampiri Kirana begitupula dengan Antonio –dia juga berlari kecil ketika melihat Kirana berjalan ke arah mereka. Sementara Arthur hanya berjalan pelan, dia tidak melihat ke arah Kirana yang sedang diinterogasi oleh Alfred dan Antonio melainkan ke arah pemuda yang berdiri di belakang Kirana.
"Apa yang kau lakukan di sini, Ludwig Beilschmidt?" tanya Arthur dengan nada rendah.
"Lord. Panggil aku dengan sebutan Lord, Kirkland kecil," ujar pemuda berdarah Jerman yang berdiri di belakang Kirana.
Arthur tertawa sinis, "Kau hanyalah seorang earl dan aku seorang marquess. Jangan lupakan itu," kata Arthur dengan nada angkuhnya.
Ludwig hanya tersenyum geli mendengar perkataan dari Arthur, "Lady Kirana," panggilnya dan membuat Kirana menoleh ke arahnya.
Ludwig berlutut dan mencium tangan Kirana, "Denken Sie zurück an das, was er sagte," katanya lalu menaiki kuda hitamnya.
Dalam diamnya, Kirana berjalan melewati ketiga pemuda yang mati-matian mencari keberadaan dirinya. Dia tidak menjawab satupun pertanyaan yang keluar dari mulut Alfred maupun Antonio. Sambil merapatkan jas putih milik Ludwig, Kirana melangkahkan kakinya menuju asrama wanita. Kirana sangat membutuhkan bantal dan tempat tidurnya, tubuh dan pikirannya benar-benar lelah.
Berbeda dengan Kirana, ketiga anak adam itu hanya diam di tempatnya dan memandangi kepergian Kirana. Arthur sendiri masih mencerna kejadian barusan.
"Siapa dia?" pertanyaan retoris yang meluncur mulus dari mulut Arthur.
"Dia adikku," jawab Alfred, jawaban yang sudah diketahui oleh Arthur dan seisi akademi ini. Tetapi bukan itu yang ditanyakan oleh Arthur. Bukan. Pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh waktu.
"By the way, kau kenal dengan pemuda tadi?" tanya Antonio. Mereka bertiga mulai bergerak ke arah asrama.
"Ludwig Beilschmidt, Earl of Durham. Pengawal pribadi Ratu Victoria."
Alfred dan Antonio berhenti bergerak, mereka saling berpandangan. Perkataan yang keluar dari mulut Arthur cukup membuat mereka terkejut, bagi Alfred dan Antonio, ini adalah pertama kalinya mereka bertemu dengan orang kerajaan. Dan, oh, mereka cukup mengagumi Ludwig.
Lain Alfred dan Antonio, lain pula dengan Arthur. Pikirannya masih berkutat dengan kejadian barusan. Seorang pengawal pribadi ratu keluar dari istana adalah hal yang langka kecuali diperintah oleh ratu sendiri.
'Apa mungkin mereka tidak sengaja bertemu?' pikir Arthur yang semakin mendekati pintu kamarnya.
"Sudah ketemu?"
Suara alto yang tidak asing di telinga Arthur membuyarkan pikirannya. Dia menatap gadis yang berdiri di depan pintu kamarnya yang tertutup. Iris violet milik gadis yang berdiri di depan pintu kamar Arthur menatap tajam si pemilik kamar.
"Kembalilah ke asramamu, Natalia," ucap Arthur. Dia mendesak tubuh gadis bernama Natalia agar dia bisa membuka pintu kamarnya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku," sinis si pemilik rambut blond panjang.
"Ini sudah malam, apa kata orang lain jika melihat dirimu berada di kamar laki-laki pada malam hari."
"Baiklah, aku kembali ke kamarku," kata Natalia mengalah lalu berjalan melewati Arthur. Sebelum pergi, Natalia sempat mengecup bibir Arthur sekilas.
Arthur mendesah pelan, dia memijat pelan dahinya. 'Kepalaku sakit,' pikir Arthur yang melewati pintu kamarnya.
-DearMyGirl-
"Kirana tidak menjawab?"
Alfred menggeleng pelan kepalanya. Melihat jawaban dari Alfred, raut wajah Elizabeta semakin cemas. Elizabeta menghampiri pintu kamar Kirana dan mengetuknya, "Kirana, cepat keluar! Setidaknya makanlah sesuatu, kamu belum makan dari pagi."
Tidak ada jawaban dari Kirana. Semua usaha yang dilakukan oleh Alfred dan Elizabeta selama beberapa jam ini semuanya sia-sia. Tidak ada satupun orang yang berhasil membujuk Kirana.
Kehilangan kesabarannya, Maya bangkit dari duduknya kemudian menendang keras pintu kamar Kirana, "Hanya karena dimarahi lalu tidak mau keluar kamar seharian! Umurmu sudah 16 tahun, Kirana! Jadi berhentilah bersikap kekanak-kanakan!" teriak Maya lalu pergi mendekati pintu keluar.
"Mau kemana?" tanya Elizabeta yang melihat Maya berjalan menuju pintu keluar kamar mereka.
"Mengambil cake," jawab Maya lalu membanting pintu keluar kamar mereka.
Elizabeta tersenyum kecil, "Aku akan membantu Maya," katanya lalu berjalan mengikuti jejak Maya.
Alfred mengetuk pelan pintu kamar Kirana, "Mereka sudah pergi, keluarlah," ujar Alfred halus. Tetapi, tetap tidak ada jawaban dari Kirana.
Alfred menghela nafas, dia sudah kehabisan cara untuk membujuk Kirana keluar dari kamarnya. Meladeni seorang Kirana memang membutuhkan kesabaran yang panjang sekali. Sikap tomboy, keras kepala, dan seenaknya sendiri selalu membuat dirinya dan saudari-sudarinya terkena masalah. Tetapi, Alfred tidak bisa membenci Kirana.
Alfred sudah tertarik kepada Kirana saat melihatnya untuk pertama kalinya. Waktu itu salju turun cukup deras ketika ayah dan ibu Alfred membawa Kirana ke dalam rumahnya dan ketika melihat netra coklat muda milik Kirana, saat itulah Alfred tertarik kepada Kirana.
Rasa ketertarikan Alfred pada Kirana bukanlah rasa tertarik antara pria dan wanita, melainkan rasa tertarik yang lainnya. Alfred sendiri tidak mengerti dengan dirinya pada saat itu dan dia terus menanyakan pada dirinya sendiri tentang alasan ketertarikannya pada Kirana. Netra coklat muda milik Kirana memancarkan kelembutan tetapi sekaligus dingin membuat Alfred nyaman sekaligus takut, seakan ada dua orang yang berbeda di dalam tubuh mungil berbalut baju putih itu.
Semua pertanyaan Alfred terjawab pada malam itu, malam dimana salju turun cukup deras -sama seperti ketika Kirana datang kerumahnya untuk pertama kalinya. Alfred yang waktu itu melewati pintu kamar Kirana-yang terbuka sedikit-menyaksikan sebuah pemandangan yang tak pernah dilihatnya.
Menangis, Kirana sedang menangis sambil mengucapkan kata maaf berkali-kali. Tangan Kirana menggenggam erat kalung berbandul biru tua. Melihat Kirana yang sedang menangis, maka Alfred masuk ke dalam kamar Kirana lalu memeluknya. Pada saat itu, Alfred sadar bahwa Kirana bukanlah gadis ceria dan serampangan –seperti yang Alfred lihat selama 2 tahun mereka bersama, Kirana bersikap seperti itu untuk menutupi kesedihannya. Detik itu juga, Alfred berjanji pada dirinya sendiri untuk membuat Kirana untuk selalu tersenyum.
"Kirana," satu panggilan dan satu buah ketukan pintu, tetapi tidak ada jawaban.
"Kirana," satu paket bujukan kembali dilancarkan, tetapi hasilnya nihil.
"Kirana," satu buah paket bujukan yang terbuang sia-sia.
"Kir-" Sebuah tepukan di bahu Alfred menghentikan bujukannya.
"Ini untuk adikmu," ujar orang yang menepuk pundak Alfred. Orang itu menyodorkan sebuah keranjang yang isinya tertutupi oleh kain putih. Tercium aroma manis yang berasal dari keranjang yang ada di depan dada Alfred.
"Miss Eizabeta yang mempersilakanku masuk," ujar si pemilik netra emerald yang mengerti akan arti dari tatapan mata Alfred.
Pemuda setinggi 175 senti itu mengambil alih peran Alfred, peran untuk membujuk Kirana keluar kamarnya. "Biar aku yang membujuknya keluar," ujar pemuda itu dengan santai.
"Miss Elizabeta yang memintaku, jika tidak mana mungkin aku mau berurusan dengan hal seperti ini," ujar pemuda itu cepat.
"Silakan," jawab Alfred dengan senyum mengejek. Tentu saja, pemuda manja itu tidak akan berhasil membujuk Kirana keluar dari kamarnya. Dia bahkan tidak tahu betapa keras kepalanya Kirana. Alfred yakin, dia akan bernasib sama seperti dirinya –dicuekin oleh Kirana.
Pemuda yang membawa sekeranjang sesuatu yang berbau manis itu menarik nafasnya dalam-dalam, "Oi, gadis monyet! Cepat keluar dan makanlah sesuatu. Jika kau tak makan sesuatu, dadamu akan semakin rata lalu kau akan jadi perawan tua," kata pemuda itu dengan suara lantang.
Alfred? Oh, dia hanya speechless mendengar kata-kata yang not-so-gentleman dari pria yang sangat menjunjung tinggi kata gentleman itu.
Pintu terbuka kasar dan menampilkan Kirana yang memasih memakai baju tidurnya dan sepasang mata panda tercetak jelas di wajah Kirana. "Kamu mengganggu tidurku, tuan alis tebal! Kalau dadaku rata, memangnya kenapa? Masalah buatmu?"
Arthur tersenyum penuh kemenangan. Alfred hanya melongo tak percaya.
"Victoria Sponge dan Chelsea Bun."
Mendengar kata Victoria Sponge dan Chelsea Bun keluar dari bibir Arthur, kilat kemarahan di mata Kirana menghilang dan berganti dengan sinar mata bahagia. Lalu ia menyambar keranjang yang dibawa oleh Arthur dan mengambil beberapa piring dan garpu, lalu meletakkannya di atas meja bening yang terletak di depan sofa. Dalam duduknya, Kirana membuka kain putih yang menutupi makanan manis kesukaan Kirana.
"Darimana kamu mendapatkannya?" tanya Kirana. Setahu Kirana, tidak ada yang menjual dua jenis makanan yang terletak di dalam keranjang yang dibawa oleh Arthur. Kecuali handmade.
"Seorang gadis yang bernama Lily menitipkan keranjang ini padaku," jawab Arthur, badannya bersender pada dinding perapian yang terletak di dekat pintu kamar Kirana.
Kirana terdiam sebentar lalu mulai memasukkan potongan kecil Victoria Sponge yang berisi blueberry ke dalam mulutnya. Mata Kirana yang tadinya memancarkan sorot bahagia saat mendengar kata Victoria Sponge dan Chelsea Bun menghilang. Lidah Kirana pun tidak dapat merasakan kenikmatan dari sepotong Victoria Sponge, dia terlarut dalam pikiran dan perasaannya.
"Apa hubunganmu dengannya?"
"Nya?" tanya Kirana yang tidak mengerti dengan pertanyaan Arthur –yang entah kapan sudah berada di kursi merah kesukaan Elizabeta.
"Ludwig Beilschmidt."
"Kami baru pertama kali bertemu dan dia memiliki kuda yang indah jadi yah... aku meminjamnya," jawab Kirana lalu mengambil sepotong Chelsea Bun dan menggigitnya.
"Kau berkuda?" tanya Arthur penasaran. Anggukkan kepala Kirana menjawab pertanyaan Arthur.
"Lalu siapa Lily?" tanya Arthur lagi. Tatapan menyelidik diberikan oleh Arthur kepada Kirana.
Kirana meletakkan kembali garpu yang tertancap Chelsea Bun ke atas piringnya, dia menghela nafas pendek, "Itulah alasannya kenapa aku tidak ingin kemari," ujar Kirana lalu dia menoleh ke arah jendela yang terletak di belakangnya dan berkata. "Ich kann Kirana nicht wieder."
Arthur terdiam, bukannya dia tidak tahu dengan ucapan Kirana, dia sangat tahu –secara eksplisit. Bahasa Jerman dan Italia adalah keahlian Arthur. Akan tetapi, Arthur tidak mengerti dengan makna yang tersembunyi dibalik ucapan Kirana.
"Maksudmu?"
Kirana tersenyum, "Itu bukan urusanmu, alis tebal," jawab Kirana dan memberikan sepotong Chelsea Bun ke piring Arthur –tentu saja yang masih utuh.
Kirana kembali menikmati Chelsea Bun miliknya dan beberapa potong mini cake yang ada di dalam keranjang coklat muda yang dibawa oleh Arthur. Arthur sendiri larut dalam dunianya sendiri, roti yang diberikan oleh Kirana tidak dijamah sedikitpun. Alfred hanya berdiri di sudut ruangan mengamati interaksi Arthur dan Kirana.
"Aku akui kalau dada Kirana itu datar tetapi bisakah berhenti memberikan tatapan menelanjangi kepada Kirana, anak manja," setelah sekian lama terdiam dan mengamati, Alfred memutuskan untuk membuka suara tenornya.
Zambrud milik Arthur menyalang tajam ke pemuda yang bersandar pada pintu. "Dengar, aku tidak tertarik dengan gadis monyet berdada rata seperti dia," ujar Arthur sambil menunjuk Kirana.
Alfred menaikkan sebelah alisnya, "Aku melihatnya dengan mata kepalaku."
"Aku melihat kalungnya, git!"
Alfred semakin menatap Arthur tajam, "Kirana tidak pernah memakai kalung."
"Lalu itu apa?" protes Arthur sambil menunjuk ke kalung ehmdadarataehm milik Kirana.
Alfred melihat ke arah Kirana yang masih menikmati makanannya, dan seperti kata Arthur sebuah kalung berbandul permata biru tua tergantung manis di leher Kirana.
"Tak kusangka kamu memakai kalung itu lagi. Kupikir kamu tidak pernah memakainya," kata Alfred dari sudut ruangan. Kalung yang dipakai oleh Kirana menjawab alasan kenapa ada mata panda di wajah Kirana.
"Aku merindukan mereka," jawab Kirana lalu meletakkan garpu kecilnya.
Alfred mengambil nafas panjang lalu berjalan ke tempat dimana Kirana duduk lalu mengelus lembut rambut hitam Kirana. Lalu menarik kepala Kirana ke dada bidangnya.
Dan sepertinya Alfred dan Kirana melupakan keberadaan si pemilik mata zambrud yang menonton adegan keluarga bahagia.
-DearMyGirl-
Cambridge, 25 Agustus 1856.
Sudah tiga hari kegiatan belajar mengajar di Hetalia Academy berlangsung, itu berarti bahwa kurang dua hari lagi hukuman Kirana berakhir. Akan tetapi, hukuman Kirana semakin berat. Semakin mendekati akhir minggu ini, semakin banyak permintaan dari para senior untuk Kirana.
Sama seperti saat ini, Kirana sedang berada di paviliun taman yang ada di area sekolah bersama dengan kedua seniornya.
"Siang nanti tolong bawakan beberapa gulung benang wol untuk klub menyulam."
"Siang nanti, saya membantu di klub anggar, senior," tolak Kirana halus sambil menuangkan teh ke dalam cangkir porselin milik seniornya. Selesai menuangkan teh, "Saya permisi untuk ke kelas musik," pamit Kirana kepada seniornya halus dan siap beranjak dari tempat itu.
"Tunggu..." suara dari senior menghentikan perputaran tubuh Kirana. "...bawakan peralatan musik kita juga. Kita juga ada kelas musik."
"Baik senior," jawab Kirana dengan senyum bahagianya, namun dengan perempatan siku yang muncul di kepalanya.
Kirana mengikuti kedua orang seniornya dengan sumpah serapah yang dia lontarkan di dalam benaknya. Bukan hanya dua orang ini saja, tetapi setiap orang meminta tolong coretmenyuruhcoret kepada dirinya mendapatkan sebuah bonus berupa mantra kutukan yang terucap di dalam benaknya.
Terlalu asik mengucapkan mantra kutukan, Kirana tidak menyadari bahwa seseorang dengan sengaja menjegal kaki Kirana agar Kirana terjatuh dan menjatuhkan semua barang bawaannya.
Merasa keseimbangannya hilang dan barang bawaannya berserakan di lantai, Kirana mendongak untuk melihat pelaku yang membuatnya terduduk di lantai.
Hijau bertemu cokelat muda.
"Kau! Kau pasti sengaja melakukannya!" bentak Kirana yang sudah berdiri. Suara keras Kirana menarik perhatian dari seluruh anak yang ada di ruangan itu.
"Melakukan apa?" tanya si pelaku polos tetapi senyum mengejek terpatri halus di wajah tampannya.
"Membuatku terjatuh," desis Kirana. Matanya menyalang marah.
"Aku tidak melakukannya. Lagipula aku tidak mendorongmu," jawab si pelaku santai.
"Tongkatmu!" desis Kirana.
"Oh..." si pelaku mengangkat tongkatnya, "Kau saja yang ceroboh, nona bar-bar."
"Kau!" geram Kirana, tangannya mengepal erat dan bersiap untuk memukul si pelaku.
Sebelum niatnya terwujud, suara dentingan lembut piano terdengar di kelas musik.
"Membuat seorang lady marah bukanlah tindakan seorang gentleman, Arthur," ujar si pemain piano sambil tersenyum lembut.
Mendengar suara alto yang selalu menyapa telinganya yang mengisyaratkan untuk menghentikan aksi konyolnya, Arthur berjalan mendekati si pemilik suara alto dan duduk di sampingnya.
"Memang tidak ada yang bisa menolak pesona Annelle kita," kata senior yang meminta tolong kepada Kirana dengan tatapan memuja.
"Kenapa diam saja? Cepat ambil barang-barang kita," lanjutnya sinis kepada Kirana. Lalu mereka duduk di tempat duduknya.
Kirana tidak menjawab perkataan dari seniornya, dia menatap sepasang anak manusia yang duduk di balik grand piano berwarna hitam. Setelah beberapa detik terdiam, Kirana terduduk dan mengambil satu persatu kertas-kertas partitur yang terjatuh.
"Biarkan aku membantumu," suara yang muncul bersamaan dengan tangan putih yang mengambil kertas partitur yang dijatuhkan Kirana.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri," tolak Kirana halus, matanya masih terfokus dengan kertas-kertas yang berserakan di lantai marmer itu.
"Seorang lady seharusnya tidak melakukan hal seperti ini, vee~" kata orang bertangan putih itu. Suara wibawanya menghilang, berganti dengan suara yang sedikit kekanak-kanakan.
Vee~
Alis Kirana bertaut ketika mendengar kata terakhir dari orang itu. Kata-kata yang tak asing di telinga Kirana. Kirana mendongakan kepalanya sedikit sehingga dia dapat melihat si pemilik suara itu.
"Ini," kata orang itu sambil menyerahkan tumpukan kertas partitur yang tadinya berserakan di lantai.
"Jika kamu butuh sesuatu katakan saja padaku, cefnder," lanjutnya setelah tumpukan kertas ditangannya sudah berpindah tangan. Setelah berkata seperti itu orang itu berjalan menuju tempat duduknya sambil bersenandung kecil dan diiringi dengan tatapan tidak percaya dari Kirana. Lalu Kirana memberikan partitur yang ada di pelukannya ke pemilik asalnya dan duduk di tempatnya.
Sepanjang pelajaran musik berlangsung, Kirana hanya termangu sambil menatap langit. Pikirkannya berkelana ke dunia antah berantah, dia bahkan tidak menyadari kehadiran Antonio yang duduk di sebelahnya.
Sebuah baby blue eyes yang melintas di depan mata Kirana, mengembalikan pikiran Kirana kembali ke dunia nyata. Kirana menoleh ke kanan dan mendapatkan senyum lebar dari Antonio. Antonio menggerakkan mulutnya, dia tidak bersuara tetapi Kirana bisa tahu apa yang dikatakan oleh Antonio melalui gerakan mulutnya.
Jangan melamun, begitulah arti dari gerakan mulut Antonio. Kedua alis Kirana menekuk ke dalam, dia menggeleng pelan, memberi isyarat kepada Antonio bahwa dia tidak melamun.
Mulut Antonio bergerak lagi –tetapi tetap tidak bersuara. Aku punya sesuatu untukmu, itulah arti dari gerakan mulut Antonio. Dia-Antonio-mengeluarkan sesuatu dari kantung jas bagian dalam yang kemudian di berikan ke Kirana. Kirana menerima beberapa biji kelereng bening yang di dalamnya terdapat bunga baby blue eyes.
Sekali lagi, Antonio menggerakkan bibirnya. Hanya saja, untuk kali ini Kirana tidak tahu apa yang diucapkan oleh Antonio. Selesai menggerakkan mulutnya, bunga baby blue eyes yang tersimpan dalam kaca bening keluar dan berterbangan di depan mata Kirana.
Bunga-bunga biru yang melayang di udara membuat Kirana tersenyum bahagia. Antonio selalu tahu betapa sukanya Kirana terhadap bunga dan warna biru.
"Ehm.. jika kalian ingin berpacaran bukan di sini tempatnya, nona Kirana dan tuan Antonio."
Suara yang berasal dari depan kelas menghentikan aksi sulap Antonio dan mengundang perhatian dari seluruh manusia yang ada di ruangan itu. Berpuluh-puluh pasang mata memandangi dua sejoli yang duduk di belakang ruangan. Antonio hanya nyengir tanpa rasa bersalah sementara Kirana hanya menundukkan kepalanya, tetapi jika dilihat lebih dekat lagi, ada semburat kemerahan di wajahnya.
"Daripada beraksi di belakang, bukankah lebih baik kalian beraksi di depan. Sekarang maju dan tunjukkan keahlian kalian," titah sang guru sambil menunjuk pada grand piano hitam yang terletak di pojok depan ruang kelas.
Mau tak mau, suka tak suka, Antonio dan Kirana maju ke depan kelas diiringi dengan tatapan puluhan pasang mata dan beberapa bisik-bisik.
Setelah berada di depan kelas, sang guru berbicara sekali lagi, "Berikan permainan terbaik kalian, jika beruntung, salah satu dari kalian akan bermain di acara minum teh bulan depan. Silakan, nona Kirana."
Kirana terdiam. Tubuhnya tidak beranjak seinci pun. Netra coklat mudanya menatap ke seluruh ruangan kelas.
"Aku tidak mau bermain piano," suara lantang Kirana membuat para pendengarnya terkejut. Kemudian berlanjut dengan suara bisik-bisik yang bisa dikatakan tidak pelan dari penghuni kelas.
"Maaf, nona Kirana?" tanya sang guru untuk memastikan fungsi dari sistem pendengarannya apakah masih baik atau tidak.
"Aku tidak mau bermain piano, madam. Lagipula aku tidak memiliki bakat bermain musik," jawab Kirana santai.
"Tidak ada bakat bukan berarti tidak bisa, nona. Dengan usaha, pasti kau bisa bermain dengan bagus," kata sang guru.
Kirana menarik nafas dalam-dalam, "Kalau tidak bisa ya tidak bisa. Jangan memaksaku bermain piano!" nada suara Kirana meninggi.
"Cukup, nona Kirana! Sekarang keluar dari kelasku!" perintah dari guru musik yang merasa dipermalukan oleh Kirana.
Tanpa berkata apa-apa, Kirana keluar dari ruang kelas. Bersamaan dengan tertutupnya pintu ruang kelas,
"Aku tak menyangka kamu menolak bermain musik."
"Lovino," kata Kirana pada pemuda yang berdiri di sebelah kanannya.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Kirana.
Pemuda berambut coklat gelap -Lovino- menjauhkan bahunya dari tembok putih, "Menjemput adikku," jawabnya.
"Ludwig atau Gilbert bisa melakukannya," ujar Kirana.
"Mereka sudah punya tugas di London. Aku juga ingin menemuimu."
Coklat tua bertemu dengan coklat muda. Tidak ada yang saling berbicara melalui mulut. Kedua insan manusia itu berbicara melalui kedua bola mata mereka. Hanya saling menatap dan melepas rindu.
Tangan putih Lovino yang terbalut kain putih mengelus pelan pipi Kirana, "Pulanglah. Kita semua merindukanmu," kata Lovino lembut.
Kirana tertawa pelan sehingga membuat membuat Lovino menekukkan alisnya, "Pulang. Pulang katamu? Setelah aku memutuskan untuk menutup masa laluku, kau mengajakku pulang. Jangan bercanda," kata Kirana dingin.
"Dengarkan aku, An-"
"Jangan panggil nama itu, dia sudah mati lima tahun lalu di depan genangan darah orang tuanya!" sentak Kirana, dia tidak peduli jika suaranya akan terdengar sampai dalam kelas.
Kirana memeluk badannya sendiri, "Aku yakin, kalian tahu tentang malam itu dan kalian diam saja," kata Kirana pelan, bahunya bergetar karena menahan tangis.
Lovino memegang lengan Kirana dan memeluknya. Dia mengusap pelan rambut Kirana, "Maaf dan percayalah, kita sudah berusaha secepat mungkin," kata Lovino getir.
"Ayah, ibu, paman, bibi, mereka tewas di depan mataku, Lov. Terkadang aku berpikir, seharusnya aku mati saja pada waktu itu. Aku..." suara Kirana terputus oleh tangisannya.
"Aku juga merindukan mereka," ujar Lovino sedih. Matanya menerawang ke langit-langit.
Merasa Kirana sudah tenang, Lovino melepaskan pelukannya, dia mengangkat dagu Kirana lembut, "Dengarkan aku baik-baik, kamu bisa saja menutup matamu dan memaafkan mereka, tetapi aku tidak. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkan mereka," ujar Lovino, Kirana dapat melihat kesungguhan dari mata coklat terang milik Lovino
"Ayah ingin aku menjauhi mereka."
"Aku tidak akan memaksamu. Aku sudah menunggu selama lima tahun untuk menghentikan mereka. Aku tidak ingin tragedi lima tahun lalu terjadi lagi. Aku tidak ingin ada korban lebih banyak lagi. Mereka harus ditertibkan, Nes," kata Lovino. Mata Kirana terbelalak mendengarnya.
Lovino melepas tangannya dari dagu Kirana. "Pikirkan baik-baik perkataanku," ujarnya lalu memberikan sebuah kunci emas ke tangan Kirana.
Saat Lovino akan berkata Kirana sekali lagi, pintu kelas musik terbuka dan menampakkan sosok Antonio dengan seseorang yang mirip dengan Lovino.
"Aku pulang dulu, Ludwig dan Feli akan berada di sini. Jika kamu setuju, katakan saja pada mereka. Kita pergi, Fel," ujar Lovino yang melirik saudara kembarnya yang berdiri di belakang Antonio.
Kirana menggeser tubuhnya untuk memberikan ruang untuk Feliciano –saudara Lovino- keluar dari ruang kelas.
"Oh! Lov, sampaikan salamku dan maaf tidak bisa hadir di acara ulang tahun padanya," kata Kirana sedikit keras kepada dua saudara kembar yang sudah berjalan di lorong gedung utama.
"Baiklah vee~" kata Feliciano sambil melambaikan tangannya semangat.
"Love?" tanya Antonio, alisnya terangkat sebelah. Ada nada tak suka yang terselip di perkataannya.
"Namanya Lovino," terang Kirana. Antonio hanya membentuk o mulutnya.
"Lalu kenapa kamu keluar?" tanya Kirana. Mereka berdua berjalan melewati tembok-tembok putih dengan lukisan yang tergantung.
"Aku diusir gara-gara permainanku jelek. Kamu kan tahu, aku tidak mahir memainkan piano," balas Antonio, tentu saja senyum lebarnya terpasang manis di wajah tampannya.
Mendengar balasan Antonio, Kirana memelototi Antonio. "Oke.. oke.. aku sengaja melakukannya, aku bosan dengan kelas Madam Jean," kata Antonio yang memahami arti dari pelototan mata Kirana.
"Lagipula, aku berencana mempertunjukkan sulapku di acara minum teh bulan depan," lanjut Antonio.
"Oh, kamu mau jadi asistenku?" tanya Antonio.
"Hmm.. mm," jawab Kirana sambil mengangguk pelan.
"Aku akan ke tempat Alfred," kata Kirana sebelum mereka berpisah di pertigaan lorong.
.
.
"Al," panggil Kirana dari kejauhan.
"Oh, Kirana. Kemarilah, aku akan menceritakan sesuatu," kata Alfred, tubuhnya yang berbalut kain putih dikerubungi oleh tiga orang gadis.
"Cerita apa?" tanya Kirana yang sudah berdiri di samping meja yang diduduki oleh Alfred.
"Annelle," jawab Alfred. Dia bergeser sedikit untuk memberi tempat duduk pada Kirana, akan tetapi Kirana tetap berdiri sambil memicingkan matanya.
"Annelle dalam bahasa Yahudi berarti kesayangan Tuhan. Hanya saja, Annelle kita bukan berasal dari bahasa Yahudi, melainkan berasal dari nama putri Duke dan Duchess of Cambridge."
Tubuh Kirana sedikit menegang mendengar penjelasan dari Alfred.
"Maksudnya, nama Annelle digunakan untuk mengenang mendiang putri Duke dan Duchess of Cambridge?"
"Hmm.. bisa di katakan seperti itu," jawab Alfred. Alfred menaruh tangannya di dagunya. Wajahnya terlihat serius berpikir.
"Bukankah anak itu masih hidup," Kirana mengeluarkan suaranya.
"Kamu ini bodoh ya? Bukankah tidak ada yang selamat pada malam itu," kata seorang gadis bermata abu-abu sambil berkacak pinggang.
"Tidak ditemukan mayat anak kecil, jadi, yah... ada kemungkinan dia masih hidup," ujar Kirana sambil mengangkat pundaknya.
"Tidak.. tidak.. anak itu sudah tiada. Kudengar arwahnya selalu menangis setiap malam di daerah terlarang. Dia selalu memanggil nama kedua orangtuanya."
Kirana berdecih pelan, "Itu kan hanya rumor belaka. Tidak ada yang namanya hantu di dunia ini."
"Sudah.. sudah.. jangan bertengkar. Jika terjadi sesuatu pada kalian, aku akan melindungi kalian," kata Alfred dengan senyuman seribu megawattnya yang membuat para wanita meleleh seketika. Lalu, Alfred bangkit dari duduknya, "Aku akan latihan. Dukung aku," katanya sambil mengedipkan sebelah matanya dan mengambil helm yang terletak di sebelahnya.
"Floret," kata Alfred menaikkan sebelah alisnya ketika menerima sebuah pedang dari Kirana.
"Latihan."
Alfred tersenyum lebar, "Pilihan yang bagus."
"En Grade!" teriak sesorang dari pinggir lapangan.
"Prêts!"
"Allez!"
Dan suara teriakan manusia berganti dengan dentingan dari dua buah pedang yang saling beradu.
Maju. Mundur. Serang. Bertahan. Menusuk. Membelah.
Seperti itulah gerakan dari dua orang berpakaian khas anggar yang berada di dalam arena. Kirana memperhatikan gerakan dari kedua orang yang sedang berlatih kemahiran mereka bermain pedang. Matanya terus terpaku dengan gerakan kedua orang berjaket putih itu, tetapi tidak dengan pikirannya. Pikiran Kirana kembali ke masa delapan tahun lalu...
.
"Cepat berdiri dan serang aku!" perintah dari orang yang berdiri dihadapan Kirana. Orang itu tidak memakai baju pengaman yang biasanya digunakan saat bermain anggar. Tengan kanan orang itu membawa sebilah pedang tipis.
"Cepat berdiri!" perintah orang itu.
Kirana menatap mata abu-abunya yang berkilat marah dari balik helm putihnya. Nafas yang tadinya terengah-engah, kini kembali normal. Tangan Kirana memegang kembali pedang tipisnya, lalu mulai menyerang pria di hadapannya.
"Bagus. Serang terus, jangan biarkan musuhmu mengalahkanmu," kata pria itu bangga terhadap serangan yang dilakukan oleh Kirana.
Serangan demi serangan terus diluncurkan oleh Kirana, tetapi tidak ada satupun tusukan yang mengenai tubuh si pria.
"Cukup latihannya," suara lembut dari pinggir arena menghentikan permainan pedang sesi itu.
Seorang wanita berambut pirang terang dan bermata coklat muda tersenyum lembut kepada mereka. "Waktunya makan siang," katanya.
.
"Arrêt!" suara yang menandakan berhentinya permainan. Suara yang menyadakan Kirana dari lamunannya.
"Kemenangan ini untukmu, adikku tersayang," kata Alfred begitu terlepas dari helmnya, tidak menyadari bahwa tindakannya membuat hati para gadis yang mendengarnya terbakar oleh api cemburu.
"Lihatlah dia, tersenyum-senyum seperti orang bodoh," cibir gadis yang berdiri tak jauh dari Kirana.
"Bukankah dia memang bodoh, buktinya dia terjatuh dari balkon. Benar-benar memalukan," balas gadis yang satunya.
"Dia adalah noda untuk keluarga Jones."
SYUUT!
Sebuah pedang tipis melayang tepat di antara kedua gadis yang sedang bergosip membungkam mulutnya saat itu juga.
"Dengar, aku memang suka membuat para ladies bahagia. Tetapi, aku tidak suka jika ada yang menghina adikku tersayang," ujar Alfred dingin, mata biru terangnya sedikit menggelap karena marah.
Para gadis yang bergosip itu menelan ludahnya kasar-kasar, dan semakin kasar saat Kirana ada di dekat mereka. Kirana hanya diam dengan tenang di dekat mereka, kemudian mencabut pedang yang tertancap di dinding.
"Kamu merusak pedangnya, Al," kata Kirana sambil melihat ujung pedang tipis itu.
"Aku bisa membelinya lagi," jawab Alfred.
Kirana mengayunkan pedang itu, "Jika masih tajam, kamu tak perlu membeli baru lagi, Al."
Kirana mengelus-elus pedang tipis, "Oh, kalian mau membantuku untuk mengecek apakah pedang ini masih tajam atau tidak?" tanya Kirana ramah dengan senyum psikopatnya.
Kedua gadis itu yang ketakutan itu menutup matanya. Saat menutup matanya, mereka dapat mendengar suara Kirana, "Hahaha.. aku bercanda. Pedang ini memang sudah tumpul dari awal."
.
.
"Kau menyukai pedang?"
"Darimana kamu tahu?" tanya Kirana yang mengalihkan tatapannya dari pedang mengkilat ke sepasang alis tebal yang sedikit berkerut.
"Dari caramu menatapnya."
"Well, pedang salah satu dari tiga hal yang kusukai, selain kuda dan..."
"Dan?" alis tebal itu semakin berkerut penasaran.
"Bukan urusanmu. Katakan apa maumu? Kamu tidak mungkin ke sini hanya untuk berbincang denganku," ujar Kirana lalu meletakkan pedang yang ada ditangannya kembali ke tempatnya.
"Oh, bawakan buku ini ke kamarku. Aku ada urusan," kata pemuda yang menjunjung tinggi nilai gentleman. Dia meletakkan beberapa buah buku tebal ke tangan Kirana.
"Jika bukan karena hukuman, aku tidak mau melakukannya, tuan alis tebal."
"Justru karena kau sedang terkena hukuman. Hitung-hitung menambah jumlah pelayanku, nona dada rata."
Kirana berdecih, "Cepat pergi dari sini! Aku tidak dalam mood untuk berdebat," perintah Kirana.
"Tanpa kau perintah pun, aku akan pergi. Jangan lupakan bukuku," kata pemuda sebelum keluar dari ruangan tempat bermain anggar.
Kirana menarik nafasnya dalam-dalam lalu keluar dari ruangan itu. Sebelum keluar, dia berpamitan dengan Alfred terlebih dahulu dengan berteriak, kemudian melakukan tugas yang diberikan oleh tuan alis tebal.
Beberapa menit kemudian, Kirana sampai di depan ruang asrama Kirkland. Dia mengetuk pintu ruang asrama Kirkland, tetapi tidak ada jawaban. Karena tidak ada jawaban, Kirana membuka pintu ruangan yang tidak terkunci itu.
"Aku memba-"
Kata-kata Kirana tertelan saat melihat pemandangan yang tersaji di depannya. Kirana melihat Rod yang hanya menggunakan handuk putih yang melilit di pinggangnya untuk menutupi alat vitalnya. Air menetes dari ujung rambutnya turun ke leher lalu punggung dan berakhir di handuk putih.
Hanya saja, bukan tubuh setengah telanjang Rod yang membuat Kirana terdiam, melainkan sebuah tato yang ada di pundak Rod. Tato berbentuk lingkaran dengan lambang dua ekor ular yang melilit sebuah segitiga terbalik, kepalanya menghadap ke kanan dan ke kiri.
Lambang yang sama yang dilihat Kirana pada saat tragedi berdarah itu terjadi. Lambang milik orang-orang yang sudah menjungkir balikkan kehidupannya. Lambang yang membuat darah Kirana mendidih dan membuat kebenciannya muncul dipermukaan hanya dengan melihatnya.
.
.
TBC
.
.
Urutan gelar kebangsawanan Inggris dari yang tertinggi (pria/wanita): Duke/Duchess, Marquess/Marchioness, Earl(Count)/Countess, Viscount/Viscountess, dan Baron/Baroness
Denken Sie zurück an das, was er sagte: pikirkan kembali apa yang kukatakan –bahasa Jerman, terjemahan oleh google translate.
Ich kann Kirana nicht wieder: karena aku tidak bisa menjadi Kirana lagi –bahasa Jerman, terjemahan oleh google translate.
Cefnder: sepupu –Welsh, terjemahan oleh google translate.
26 Agustus adalah hari ulang tahun pangeran Albert, suami dari ratu Victoria.
En Grade, Prêts, Allez: aba-aba untuk memulai permainan anggar.
Arrêt: aba-aba yang menandakan berakhirnya permainan anggar.
Penjelasan untuk ruang asrama: asrama bukan hanya sekedar kamar tidur saja tetapi ada sebuah ruang kecil untuk bersantai. Kamar asrama dibagi berdasarkan nama keluarga.
.
.
Lena benar-benar berterima kasih buat yang sudah membaca, mereview, favorit, dan follow. Terutama untuk Hay Anime14 dan Dgrace.
