Yo! Mii disini *nongol ala tuyul* XDD
Yang ngarepin hot lemon, maaf mii gak bisa bikin itu..
Mii juga sebenernya gak yakin naro ni fic di rate m…
Tapi ada yang ngancem bakal ngutuk mii kalo mii turun rate..
Kan repot kalo mii dikutuk jadi cantik #plakk XDD
Yasudahlah, kebanyakan curcol nii..
Silahkan membaca..^^
Disclimer: Bleach punya Om Tite Kubo. Aku udah nagis-nangis gaje sambil ngesot-ngesot di kakinya om Tite tetep ga dikasih. Awas aja nanti malem bakal aku maling disclimernya. KHUKUKUKU *ketawa setan*
Warning: AU, OOC dan banyak banget yang lainnya, tapi yang penting yang nggak suka boleh nggak baca kok..
Backstreet©miisakura
.
Haah~.
Rukia menghela nafas panjang. Merilekskan kepalanya di meja disudut kantin. Campuran kerumitan antara memecahkan soal yang diberikan Kurotsuchi- sensei dan masalahnya dengan Ichigo membuatnya pusing sekarang. Rukia hanya berharap ada gempa dahsyat yang meruntuhkan laboratorium sensei nyentrik satu itu dan menguburnya hidup-hidup di sana. Itu akan membuat satu masalahnya selesai. Dan masalahnya dengan Ichigo… Pria jeruk itu menolak rencananya mentah-mentah. Rukia kembali mengingat perdebatannya dengan kekasihnya kemarin malam.
FLASBACK
"Ichi?"
"Ya?"
"Bagaimana kalau kita membuat bayi?"
"Bayi?" Tampaknya Ichigo belum sepenuhnya memproses arti kata itu.
"Ya. Bayi. Ayo kita buat bayi, Ichi."
"AP-APPAA?!"
"Bayi, Ichi. B.A.Y.I. Apa murid jenius sepertimu tidak mengerti apa arti kata itu?" Rukia mulai kesal dengan kelemotan otak kekasihnya itu.
"Apa yang kau pikirkan, Rukia?! Kita bahkan belum menikah! Bisa-bisanya kau mengajakku membuat bayi!" Ichigo histeris dengan ide kekasihnya satu itu. Mereka memang sering menghabiskan waktu di tempat tidur bersama-sama, tapi mereka hanya berpelukan dan berciuman, tak pernah melebihi itu. Tidak dapat dipungkiri, berada dalam satu ranjang berdua dengan Rukia dalam apartemennya sendiri membuat libidonya berada dalam posisi max. Kucing mana sih yang tidak ngiler melihat ikan asin goreng di depan matanya? Tapi Ichigo bukanlah tipe pria brengsek yang akan membiarkan orang yang dicintainya terluka hanya untuk memuaskan hasratnya. Disadari atau tidak, Rukia akan terluka jika dia melakukannya. Meski Rukia sendiri yang memintanya itu tetap akan melukai harga dirinya. Dan Ichigo tidak ingin kekasih mungilnya itu digunjingkan orang hanya karena permintaan konyolnya sendiri.
"Oh, ayolah, Ichi. Tidak perlu histeris begitu. Pasangan lain juga melakukannya. Aku pikir Nii-sama akan lebih mudah menyetujui hubungan kita jika kita punya bayi. Dia tidak akan tega memisahkan kita."
"Kau pikir masalahnya akan selesai sesederhana itu? Tidak, Rukia! Aku tidak akan menyentuhmu, kecuali kita sudah menikah!"
"Kumohon…" Rukia mengeluarkan jurus terakhir. Tatapan memelas dan mengiba ala Kuchiki Rukia yang tidak pernah bisa ditolak Kurosaki Ichigo.
Ichigo menghela nafas berat, sebelum kemudian menangkup wajah mungil Rukia. Memaksanya mencerna baik-baik perkataanya. "Dengarkan aku, Rukia. Kau adalah 'perempuan terhormat'. Dan aku tidak akan membiarkan gelar itu rusak, bahkan oleh diriku sendiri. Aku akan tetap menjadikanmu 'perempuan terhormat'. Dan aku tidak akan menyentuhmu sebelum namamu berubah menjadi Kurosaki Rukia. Kau mengerti?"
Dan Ichigo menutup paksa pembicaraan mereka hari itu.
END OF FLASHBACK
Ingatan itu membuat Rukia mendesah semakin panjang. Ini tidak akan mudah.
"WAAA!" Rukia menjerit terkejut karena mendapati wajah Rangiku yang terlalu dekat saat dia mengangkat kepalanya. "RAN-SENPAI!"
"Kau mengejutkanku, Rukia!" sahut Rangiku mundur selangkah saat Rukia tiba-tiba saja berteriak di depan wajahnya.
"Kau yang mengejutkanku, Ran-senpai! Jangan tiba-tiba muncul begitu!"
"Aku tidak tiba-tiba muncul, Ruru-chan. Aku sudah mencoba menegurmu berkali-kali. Tapi kau tidak menjawab, kelihatannya kau sedang tertimpa masalah besar. Lihat! Kerutanmu mulai muncul dimana-mana," jawab Rangiku santai dan tanpa permisi menyambar strawberry milkshake milik Rukia.
"Haahh~. Aku tidak peduli."
"Ada apa, Manis?" tanya Rangiku. Mencoba bersimpati pada wajah kusut yang ditunjukkan Rukia.
"Tidak. Hanya masalah kuliah," jawab Rukia setengah berbohong.
"Hei, Ran-senpai?" kata Rukia memecahkan keheningan yang tercipta lima menit sebelumnya karena mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Hmm?"
"Bagaimana cara menggoda seorang pria?"
"KYAAA! SELAMAT! SELAMAT!" teriak Rangiku heboh dan tiba-tiba menarik kepala Rukia menenggelamkannya dalan 'gua' pribadi miliknya.
"Ran…sen…pai…u…da…ra…" jerit Rukia terputus, teredam oleh ketebalan luar biasa 'gua' milik senpainya. Ia meronta-ronta berusaha melepaskan pelukan super Rangiku. "HUAHH! Ran-senpai, kau berencana membunuhku?!"
"Ah, maaf! Aku hanya terlalu senang karena akhirnya kau tertarik pada pria," katanya mengobral cengiran khasnya. "Kau tau, kau cukup menghkhawatirkanku, Rukia. Kupikir kau penyuka sesama jenis," lanjutnya. Bergidik ngeri terhadap kalimat terakhir yang dia ucapkan.
"Jangan bicara sembarangan, Senpai! Aku tidak mau mucul gosip!"
"Ya. Maka dari itu kau harus sesekali terlihat bersama pria. Apa perlu kutemani kau ke goukon? Acara seperti itu bagus untukmu" jawab Rangiku tenang, mengabaikan siku-siku yang mulai berkedut di dahi Rukia.
Rukia menghela nafas. Butuh kesabaran ekstra meghadapi sikap seenaknya senpainya ini. "Tidak. Terima kasih. Jadi, apa yang mesti kulakukan?"
" Pertama, perhatikan penampilanmu," kata Ranggiku melihat seksama Rukia seolah matanya adalah alat pemindai, menilai gaya berpakaian Rukia. "Tonjolkan kelebihan yang kau miliki."
"Aku mengerti. Itu sebabnya kau selalu memakai pakaian dengan potongan leher rendah. Sehingga kau bisa sangat menonjolkan 'kelebihan'mu. Begitu kan, Senpai?"
"Kau pintar, Rukia," jawabnya sembari terkikik geli, sama sekali tak terganggu dengan nada menyindir yang terselip pada kalimat Rukia. "Ah, iya. Kuingatkan padamu. Jangan gabungkan pakaian terbuka, rayuan dan alkohol. Itu kombinasi berbahaya yang akan membangkitkan sang 'junior'. Kau tidak akan tahu apa yang bisa mereka lakukan jika 'junior' sudah bangun. Untuk amatiran sepertimu lebih baik bermain aman. Kau yakin tidak mau kutemani 'berburu'?"
"Tidak. Terima kasih. Aku tidak mau 'berburu' bersamamu yang pasti akan lebih dilirik pria ketimbang aku. Jadi, biarkan aku 'berburu' sendiri."
"Ya, ya. Baiklah," kata Rangiku santai sama sekali tidak menyadari rencana berbahaya yang telah tersusun dalam kepala sahabat kecilnya.
.
Backstreet©miisakura
.
Rukia berdiri sembari memutar dirinya sendiri di depan cermin. Melihat dari berbagai sisi penampilannya hari ini, membuatnya sedikit mengutuk Tuhan karena tidak memberikan aset lebih padanya untuk menggoda seorang pria. Dia melirik bagian dada dan bokongnya. Kenapa bagian itu kecil sekali sih! Dia jadi berfikir untuk ikut mendaftar terapi pijat payudara dan bokong yang setiap minggu dilakukan Rangiku. Senpainya bilang terapi itu cukup efektif. Kenapa dia tidak ikut terapi itu lebih awal ya? Hasilnya kan akan sangat berguna untuk saat-saat seperti ini.
Hah~
Oke, tidak ada gunanya menggerutu terus. Setidaknya ia masih bisa menonjolkan kulit putih porselennya. Bahunya yang lembut, kakinya terbentuk indah dan halus meski ia akui itu agak pendek, dibalut dengan dress tube selutut membuatnya terlihat seperti boneka. Warna ungu pucat tube dressnya semakin membuat kulitnya bersinar-sinar. Rambutnya yang dijepit ke atas membuat leher jenjangnya yang putih dan mulus semakin terekspos. Kelihatannya pesonanya masih cukup bila digunakan untuk menjatuhkan seorang Kurosaki Ichigo.
Dia melirik kotak kue yang terbungkus rapi di meja di sampingnya. Ia telah berfikir semalaman tentang bagaimana cara memberi alkohol pada Ichigo tanpa disadari pria itu. Rukia tahu seumur hidupnya Ichigo tidak pernah secara sengaja mau menyentuh alkohol. Ichigo tahu pasti bahwa tubuhnya sangat tidak kompatibel dengan minuman itu. Setetes saja bisa membuatnya mabuk berat. Jadi, akan sangat tidak mungkin bagi Rukia untuk mengajak Ichigo minum secara terang-terangan.
Rukia memutuskan untuk membuat kue saja dengan menambahkan rum. Bahan tambahan untuk membuat kue itu lebih mudah tersamarkan bau dan rasanya dengan bahan kue lain. Bahan itu juga mengandung alkohol dengan kadar rendah yang ia rasa cukup membuat sang kekasih orange hilang kesadaran.
Setelah puas mematut dirinya di depan cermin, ia mengambil kunci dan kue buatannya itu dan melangkah menuju mobil porche ungu kesayangannya yang akan membawanya menuju apartemen sang kekasih yang akan memjadi saksi berhasil atau tidaknya rencananya hari ini.
.
Backstreet©miisakura
.
Ichigo begitu terkejut saat membukakan pintu apartemennya untuk tamu yang memencet bel. Ia tahu pasti kalau itu adalah Rukia. Namun yang tidak disangkanya adalah penampilan Rukia yang… yang begitu cantik. Tubuhnya yang dibalut dress ungu tube sebatas paha membuat kulit putih porselennya yang terekspos gemerlapan di bawah sinar lampu. Jantungnya tiba-tiba saja berdetak lebih kencang, memompa darahnya lebih cepat, menimbulkan semburat kemerahan di pipinya. Membuat Rukia tersenyum menang. Misi pertama berhasil.
"Hai, Ichi!" katanya sambil merengkuh leher sang kekasih untuk membuatnya menunduk dan mencium bibir manis si jeruk.
Ichigo terlihat lebih terkejut saat Rukia tiba-tiba saja menciumnya. Sentuhannya terasa mengandung aliran listrik berkali-kali lipat lebih kuat dari biasanya. Membuat 'junior'nya dalam tahap mengembang sekarang.
"Ah, iya. Aku membawakanmu coklat cake. Kau mau?" tanya Rukia yang sudah beranjak ke dapur. Mengejutkan Ichigo yang masih tenggelam dalam sensasi 'sentuhan listrik' Rukia. Dia harus menyingkirkan jauh-jauh pikirannya sekarang.
"Terima kasih," katanya setelah menerima sepotong coklat cake dari Rukia.
"Asal kau tahu saja, kue itu buatanku. Jadi, kau harus menghabiskannya," perintah Rukia.
"Benarkah? Oh, Tuhan tolong lindungi nyawa hambamu ini," jawab Ichigo memasang tampang seolah dia telah memenangkan undian tiket gratis jalan-jalan ke neraka. Membuat Rukia memajukan bibirnya, cemberut. Ichigo hanya terkikik dalam hati melihat tingkah laku kekasihnya itu.
"Kunyah dan telan saja!" kata Rukia setelah memasukkan sesendok potongan besar kue coklat itu ke dalam mulut Ichigo.
"Mmm… Ini enak, Rukia. Benarkah kau yang membuatnya?" jawab Ichigo mengambil sendok dari tangan Rukia dan memasukan potongan kue selanjutnya.
Rukia hanya tersenyum misterius melihat Ichigo yang begitu lahap memakan kue coklat buatannya. Sudah diduga, Ichigo tidak bisa menolak makanan apapun dalam bentuk coklat. Ya, Ichi. Kau harus makan yang banyak.
Kunyahan Ichigo mulai melambat saat potongan kelima telah masuk ke dalam mulutnya. Tubuhnya telah mendeteksi bahan asing yang masuk ke tubuhnya dan mulai bereaksi sekarang. Pandangannya mulai kabur. Ichigo menegerjap-ngerjapkan mata bermaksud menyingkirkan kabut tapi percuma. Kepalanya tiba-tiba saja terasa ringan dan berputar.
Ia pasrah saja saat seseorang memapahnya ke kamarnya. Seseorang dengan wangi lembut yang mencandu. Ia berusaha mengingat siapa orang tersebut, namun sepertinya ingatannya lenyap begitu saja. Rupa-rupanya bukan hanya matanya saja yang berkabut, pikirannya pun sudah dipenuhi kabut.
Rukia membaringkan Ichigo di ranjangnya. Dia memperhatikan dengan seksama wajah kekasihnya itu. Matanya terpejam menahan pusing, wajahnya terlihat memerah dan gelisah di bawah pengaruh alkohol.
"Maafkan aku, Ichi," bisik Rukia di telinga Ichigo. Ia merasa bersalah harus memaksa Ichigo seperti ini. Ia beringsut naik ke atas tubuh Ichigo dan mulai menyisir wajah Ichigo dengan bibirnya.
"Engh… Rukia?" Kelopak mata Ichigo terbuka, membuat sosok Rukia terpantul di ambernya. "Kau cantik, Rukia."
Rukia kemudian membungkam Ichigo dengan bibirnya. Mendorong lidahnya menerobos masuk ke dalam mulut Ichigo. Mengklaim kepemilikan. Tangannya tidak diam saja. Ia ikut bergulat dengan kancing-kancing kemeja Ichigo sebelum bergrilya di tubuh bidangnya setelah kemeja itu hilang entah kemana. Membuat pola-pola sensual yang mengandung listrik, memancing saraf-saraf 'junior' menegang.
Ichigo telah mengenyahkan akal sehat saat ia membalik posisi mereka hingga Rukia terjepit dibawah tubuhnya. Tanggannya merayap seperti ular ke balik punggung mencari-cari kaitan yang bisa membebaskan tubuh mungil itu dari balutan benang.
Ichigo sedang bereksplorasi pada dada Rukia yang telah polos saat tiba-tiba bunyi ponsel Rukia menyeruak diantara desahan-desahan. Nada panggilan yang sangat Rukia kenal, yang sengaja dibedakan dari nada panggila lain. Panggilan dari Nii-samanya.
GAWAT.
Rukia memutar otak cepat, berharap otaknya masih bisa bekerja dibawah pengaruh sensasi gila yang diberikan Ichigo. Apa yang harus dilakukannya sekarang?
Mengabaikan panggilan Nii-samanya? Itu akan memancing kecurigaan. Nii-samanya akan mengendus sesuatu yang tidak beres, dan akan menyelidiki seluruh kegiatannya. Rukia tidak suka pilihan itu. Itu akan membatasi ruang geraknya. Menyulitkannya untuk bertemu Ichigonya dan mereka akan ketahuan lebih cepat.
Menerimanya dalam keadaan seperti ini? Itu cari mati namanya. Ia beruntung jika mulut mereka bisa terkunci rapat di tengah kegiatan gila mereka. Tapi ia tak mau mengambil peluang minim tersebut, terlalu berbahaya.
"Ukh… ahh… Ichi, berhenti sebentar. Aku harus mengangkat telepon."
Rukia menarik-narik kepala Ichigo yang masih terkubur dalam lekukan dadanya. Tak ada respon. Ichigo masih hanyut menikmati kekenyalan mainan barunya.
Maafkan aku, Ichi.
DUAGHH.
Rukia menghantam perut Ichigo dengan lututnya, sukses membuat Ichigo terkapar pingsan. Ia lantas segera menyambar ponsel miliknya yang menjerit-jerit ribut.
"Moshi-moshi, Nii-sama."
"Keluarlah, Rukia."
"Ya?"
"Keluarlah. Aku di depan pintu apartemen sekarang."
Mati aku!
Tidak mungkin. Jangan bilang dia di sini sekarang. Oh, Tidak! Gawat! Gawat!
Hatinya terus menceracau, ketika ia memakai kembali pakaiannya dengan terburu-buru. Ia kemudian melangkah gentar ke depan pintu masuk Ichigo. Berkomat-kamit semoga Nii-samanya tidak benar-benar berada di balik pintu itu.
Namun, harapan Rukia hilang begitu saja ketika mendapati tatapan tajam nan dingin khas Kuchiki Byakuya saat pintu terbuka. Membuat kakinya melemas seketika. Ia tidak sanggup menatap mata kakaknya yang memancarkn semburat kekecewaan dan selipan kemarahan dibalik tatapan dinginnya saat melihatnya 'berantakan' di apartemen seorang laki-laki. Rambutnya kusut, pakaiannya berantakan, belum lagi bekas-bekas kismark Ichigo yang terpampang jelas di sepanjang leher dan dadanya. Nii-samanya pasti tahu apa yang telah mereka lakukan.
"Ukh, Rukia. Apa sih yang kau masukkan dalam kue coklat itu?"
Suara Ichigo berhasil mengoyak keheningan yang mencekam diantara kakak beradik itu. Membuat keduanya menoleh ke asal suara yang tengah berdiri limbung di depan pintu kamar.
Ichigo sudah setengah sadar, berdiri berpegangan pada dinding. Ia merasa kepalanya akan terbang. Ia bermaksud mencari sesuatu yang bisa menghilangkan putaran pada kepalanya. Namun begitu ia menemukan sosok Kuchiki di depan pintu rumahnya, kepalanya langsung terpancang kuat di tubuhnya. Isi perutnya yang tadinya sudah mencapai kerongkongan tertelan kembali. Kuchiki Byakuya dengan tatapan membunuh, Rukia dengan penampilan yang berantakan, dan dirinya yang bertelanjang dada.
Oh, Ichigo. Bersiaplah dicincang.
.
Backstreet©miisakura
.
Oh, Tuhan, tolong culik aku dan buang ke galaksi lain.
Ruang duduk di mansion Kuchiki itu hening seperti biasanya. Yang berbeda adalah aura neraka yang terasa berhembus di sana. Siapa pun pasti tidak akan mau mendekat sekarang, kecuali dua orang terdakwa yang terduduk kaku di bawah sorot tajam iris abu-abu. Mereka berusaha sekuat mungkin menahan kaki mereka untuk tidak melarikan diri dari tempat itu.
"Kau mencintai dia, Rukia?" Byakuya memecah keheningan, membuat Rukia mengangkat kepalanya.
"Ya, Nii-sama. Sangat," Rukia menjawab mantap. Menatap tajam kakaknya, mencoba bertarung pandangan dengan iris abu-abu itu. Byakuya menghela nafas melihat pancaran keyakinan dari iris violet adiknya. Ia harus menerima kenyataan bahwa ia telah kehilangan adiknya sekarang.
"3 hari lagi kalian menikah."
"APPA?!"
"Nii-sama?!"
"Aku sudah menyiapkan semuanya," kata Byakuya. Dia kemudian beranjak hendak meninggalkan dua orang yang masih terkejut itu sebelum kemudian berbalik, "Dan kau. Cobalah sakiti Rukia, maka kepalamu akan hilang terkubur di dasar samudra."
.
Backstreet©miisakura
.
Rukia berdiri di depan jendela kamar ichigo. Pernikahannya telah selesai beberapa jam yang lalu. Ya, sekarang dia sudah menjadi Kurosaki Rukia. Sedikit terkejut sebenarnya. Pernikahannya tadi jelas bukan hasil persiapan kilat 3 hari. Itu pasti sudah di rencanakan jauh-jauh hari. Kenapa kakaknya yang notabene menentang hubungannya dengan Ichigo sudah merencanakan pernikahannya dengan si jeruk itu? Apa kakaknya tahu kalau akhirnya mereka tetap menjalin hubungan secara diam-diam? Padahal mereka sudah menyembunyikannya serapat mungkin. Ah, ia lupa kalau kakaknya adalah seorang Kuchiki Byakuya. Intel Nii-samanya pasti langsung bergerak memata-matai, sesudah mereka bertengkar pertama kali karena alasan tak jelas Nii-samanya tidak menyukai Ichigo.
Rukia masih merenung saat merasakan tangan besar suaminya melilit pinggangnya dan beban tambahan di bahunya.
"Sedang memikirkan apa, Nyonya Kurosaki?"
"Tidak ada. Hanya sedikit terkejut dengan semua yang terjadi tiba-tiba."
"Ah, sayang sekali. Kukira kau sedang memikirkan Kurosaki kecil," jawab Ichigo menyeringai. "Kau tahu, aku bersedia mengabulkan permintaanmu sekarang."
Menilik dari seringaian mesum suami barunya itu, malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi mereka.
.
Backstreet©miisakura
.
"Ahh… hahh… Ichihhh… lebih cepattt…"
Byakuya menatap lekat-lekat gambar-gambar yang dimunculkan televisi besar di ruang pribadinya. Gambar-gambar yang minimal membuat wajah pria normal memerah itu tak sanggup merubah raut wajah tanpa ekspresinya. Alisnya malah semakin menekuk, menambah intensitas aura dingin yang dikeluarkannya. Tangannya memegang erat-erat pedang pusaka warisan turun temurun keluarganya. Matanya awas mengamati lekuk wajah si perempuan dalam gambar. Meneliti goresan rasa sakit yang mungkin muncul di pahatan sempurna gadis itu. Lihat saja! Jika itu tertangkap oleh mata elangnya, Byakuya berjanji akan menancapkan katana yang dipegangnya kepada laki-laki berambut oren dalam gambar yang merupakan pelaku utama.
Byakuya tadinya tidak setuju dengan hubungan yang dijalin adik kesayangannya dengan pemuda jeruk itu. Namun potongan percakapan si jeruk dan sang adik yang tertangkap kamera saat Rukia merengek padanya untuk membuat bayi dan ditolak mentah-mentah oleh si jeruk membuatnya sadar bahwa adiknya sudah mendapatkan pria yang tepat. Tapi hal itu tidak lantas membuatnya menyukai Kurosaki Ichigo. Lihat saja rambut orange menterengnya itu. Byakuya mempunyai keinginan terpendam untuk menumpahkan sekaleng cat hitam ke kepalanya. Bagaimana jika nanti keponakannya mewarisi rambut jeruk ayahnya, itu bisa menurunkan popularitas rambut indah sehitam malam kebanggaan keluarga Kuchiki. Dan kerutan permanen jeruk itu, bisa-bisa nanti keponakannya di jauhi hanya gara-gara wajah preman turunan ayahnya.
"Presdir, ini laporan kerjasama dengan Seiretei Company," kata Renji yang tiba-tiba masuk tanpa mengetiuk pintu. Matanya langssung menangkap tontonan 'biru' yang sedang dilihat sang Presdir. "Berniat membuat video mesum adikmu sendiri, eh, Presdir?" godanya.
Renji tersenyum senang menemukan titik hitam kecil dalam diri Byakuya. Ia sama sekali tak menyangka sang Presdir belum melepas secara penuh sang adik tercinta meski ia sudah menikah. Byakuya masih terus mengawasi tindak-tanduk pasangan muda itu lewat kamera CCTV yang dipasang Renji di setiap sudut apartemen pria landak itu karena sang putri Kuchiki sering melarikan diri kesana dulu. Renji tidak menyangka Byakuya belum melepas kamera itu. Obsesinya melindungi adik kecilnya benar-benar mencengangkan. Kakak gila mana lagi yang mau menonton malam pertama adiknya hanya untuk memastikan sang suami tidak membuat adik kebanggaannya kesakitan? Hanya Byakuya Kuchiki orangnya.
Wusshh! Jleb!
Sebuah pedang panjang melesat dan kemudian tertancap di dinding. Membuat Renji membeku, karena pedang tadi nyaris menyerempet tengkorak kepalanya.
"Abarai Renji, ulangi ucapanmu tadi," kata Byakuya tenang. Namun Renji bersumpah melihat sang Presdir telah menggenggam belati lain.
"GYAAA! Ampun, Presdir…!"
Dan ketenangan di mansion Kuchiki rusak karena teriakan Renji.
.
.
.
OWARI
Yeii.. selesai..
Mii jadi gak ngerasa punya utang lagi..
Bales repiuu dulu yak..
Purple-san: ah, terima kasih banyak..^^
Oda chan: huaaa… mama… lontongg…XDD nii updateannya say.. maaf kalo ga sesuai harapanmu.. makasii reviewnya..^^
Lola-san: ah, maaf… tadinya mii mw buat one shoot aja… tapi di teror imoutoku yang cantik jadi kupotong ^^… maaf.. mii gak fokusin ke lemon'a.. maaf ya kalo gak sesuai harapan..makasii sudah mereview..^^
Shinsi-san: aduh.. jangan dong.. c ichi ngamuk nanti XDD nii upadetannya.. makasii sudah mereview..^^
Voidy-senpai: ah… maaf senpai… mii memang gak fokusin ke lemon… bisa teler nanti buatnya XDD… yosh! Mii akan belajar lebih giat.. terima kasih masukkannya… makasii sudah mereview..^^love you too senpai..
Inai-chan: ah, terima kasih banyak^^
Buat yang lain mii bales lewat pm ya..
buat silent reader juga… terima kasih banyakk^^
